Sejarah


info Sejarah
Sejarah bahasa
Sejarah bahasa nasional
Sejarah bahasa indonesia
Sejarah belah bambu
Sejarah busuk
Sejarah berasal dari bahasa yunani yaitu
Sejarah belanda
Sejarah busuk sby
Sejarah berasal dari kata
Sejarah global
Sejarah gus dur
Sejarah golkar
Sejarah gender
Sejarah gorontalo
Sejarah global amerika serikat
habib Sejarah mp3
video Sejarah full
Sejarah gerakan non blok
rahasia Sejarah terbaru
Sejarah g 30 s pki
Sejarah konfrontasi
Sejarah kerajaan kutai
Sejarah kampus
Sejarah kerajaan majapahit
Sejarah kotor
Sejarah kerajaan tarumanegara
Sejarah kompasiana
Sejarah luar negeri indonesia
Sejarah luar negeri bebas aktif
Sejarah luar negeri indonesia adalah
Sejarah liberal
Sejarah yang membedakan warna kulit disebut
Sejarah yang dianut bangsa indonesia
Sejarah yang baik
Sejarah yahudi
Sejarah yang dianut bangsa indonesia adalah
Sejarah merupakan
Sejarah yaitu

Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Sejarah. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Sejarah. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 November 2017

Ketika Wali Songo Tidak Dianggap Sejarah

Salah satu yang menyemangati Agus Sunyoto menyusun Atlas Wali Songo adalah ketika ia membuka Ensiklopedia Islam terbitan Ikhtiar Baru van Hoeve. Dalam ensiklopedi yang berjilid-jilid itu ternyata Wali Songo, tokoh-tokohnya, dan karya tidak dicantumkan. Artinya Wali Songo dianggap bukan bagian dari sejarah Islam Nusantara.

Padahal para penyebar Islam di Indonesia yang datang belakangan dituliskan secara panjang lebar. “Yang muncul dalam Ensiklopedia Islam itu malah tiga serangkai yang membawa faham Wahabi ke Indonesia: Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piabang,” kata Agus Sunyoto pada Peluncuran Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto di PBNU Jakarta, Juli 2012 lalu.

Sementara khazanah kebudayaan Islam Nusantara pada zaman Wali Songo seperti karya sastra, seni musik, seni rupa, seni pertunjukan, seni suara, desain, arsitektur, filsafat, tasawuf, hukum, tata negara, etika, ilmu falak, sistem kalender, ilmu pengobatan yang lahir dan berkembang pada masa Wali Songo tidak disinggung.

Bukan hanya “orientalis” yang mencampakkan sejarah Wali Songo. Yang agak lucu, aspek kesejarahan Wali Songo ini juga digugat secara terang-terangan dalam berbagai karya tulis para akademisi dari kampus-kampus Islam yang memakai nama Wali Songo dan tokoh-tokohnya sebagai nama kampus mereka.

Ketika Wali Songo Tidak Dianggap Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Wali Songo Tidak Dianggap Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Wali Songo Tidak Dianggap Sejarah

Mengapa Wali Songo tidak dianggap sejarah, hanya dianggap sekedar mitos dan bukan fakta? Apakah ada upaya-upaya sistematis untuk menghilangkan Wali Songo dan ajaran-ajarannya dari sejarah peradaban umat Islam? Silakan menyusun sendiri jawaban untuk pertanyaan itu.

Atlas Wali Songo yang disusun selama bertahun-tahun itu bermaksud untuk menghadirkan Wali Songo sebagai fakta sejarah. Dengan dilengkapi berbagai bukti sejarah, buku ini telah menjawab berbagai keraguan para sejarawan konvensional.

Asli Muhammadiyah

Dan barangkali usaha Agus Sunyoto tidak sia-sia. Tak kurang, arkeolog kenamaan dari Universitas Indonesia Mundardjito dalam pengantar buku itu memberikan apresiasi yang cukup positif terhadap karyanya. Harian umum Kompas (6/7/2012) juga tak segan mengebut Atlas Wali Songo sebagai buku pertama yang menuliskan Wali Songo sebagai fakta sejarah.

Paling tidak, sekarang ini, para para peziarah yang datang ke makam para tokoh Wali Songo setiap waktu dan silih berganti tidak hanya berhadapan dengan mitos dan kisah-kisah karomah, tetapi juga warisan luhur berupa khazanah, karya-karya, ajaran-ajaran dan metode dakwah dari para penyebar Islam Nusantara itu.

?

A. Khoirul Anam

Serial ini ditulis dalam rangka menyambut kegiatan Pengajian dan Bedah Buku Atlas Walisongo untuk memperingati Harlah NU dan Maulid Nabi Muhammad SAW di halaman PBNU, Jakarta, 31 Januari dan 1 Februari 2013.

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Aswaja, Meme Islam Asli Muhammadiyah

Jumat, 13 Oktober 2017

Mun’im DZ: Sejarah Harus Ditulis Secara Proporsional

Surabaya, Asli Muhammadiyah. Wakil Sekjen PBNU H Abdul Mun’im DZ menyampaikan ceramahnya dalam Sarasehan Nasional Kritik Film Senyap dan Sejarah PKI yang digelar Direktorat Sejarah Kemendikbud Jatim dan Masyarakat Sejarawan Indonesia Jatim di Surabaya, Sabtu (30/5) kemarin.

Menurut Mun’im simpati kepada para korban PKI jangan sampai melupakan kekejamannya. "Sejarah harus ditulis secara proporsional,” kata penulis buku Benturan NU-PKI 1948-1965 ini.

Mun’im DZ: Sejarah Harus Ditulis Secara Proporsional (Sumber Gambar : Nu Online)
Mun’im DZ: Sejarah Harus Ditulis Secara Proporsional (Sumber Gambar : Nu Online)

Mun’im DZ: Sejarah Harus Ditulis Secara Proporsional

Terkait penyebaran film bertajuk “Senyap” atau The Look of Silence yang antara lain berkisah tentang kisah hidup para keluarga eks PKI, menurut Mun’im, film ini malah mengacaukan sejarah.

Asli Muhammadiyah

“Film ini lemah secara sinematografi karena alurnya jauh dari skenario yang dimaui sendiri, tak ada pendalaman peristiwa, tak ada ketegangan,” katanya.

Asli Muhammadiyah

Secara historiografi, tambahnya, film Senyap lemah karena hanya menampakkan penggalan sejarah yang tak tersambung satu sama lain. Film karya sutradara Amerika Serikat Joshua Oppenheimer ini tidak layak disebut film tapi reportasi jurnalistik yang gagal, katanya.

“Satu-satunya kekuatan film ini hanyalah karena mendapatkan dukungan politik dunia internasional,” kata Mun’im DZ dalam sarasehan yang dihadiri sejarawan Unesa Surabaya Prof Aminuddin Kasdi, Ketua Umum Masyarakat Sejarawan Indonesia Restu gunawan dan beberapa saksi sejarah peristiwa 1965. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ulama,Attijani Asli Muhammadiyah

Selasa, 19 Desember 2017

Hari Santri Nasional, Mengembalikan Sejarah Bangsa

Oleh Zainul Milal Bizawie

Setahun yang lalu Pemerintah telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. 22 Oktober menjadi ingatan sejarah tentang Resolusi Jihad, bukti nyata adanya keterkaitan antara santri dengan tegaknya Indonesia. Hari Santri adalah wujud penghormatan kepada sejarah pesantren, sejarah perjuangan para kiai dan santri.

Hari Santri Nasional, Mengembalikan Sejarah Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri Nasional, Mengembalikan Sejarah Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri Nasional, Mengembalikan Sejarah Bangsa

Sejarah mencatat para santri mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut. Karenanya, para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa yang lain melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan. 22 Oktober menjadi penanda adanya keterkaitan antara santri dengan tegaknya Indonesia dengan munculnya para pahlawan bangsa. Sebagaimana diketahui hari Pahlawan adalah 10 November yang menandai adanya perlawanan terhebat rakyat Indonesia terhadap Belanda.

Dengan ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional dapat dijadikan penanda terjadinya peristiwa 10 November tidak dapat dilepaskan dari peran para santri. Karenanya, 20 hari sejak 22 Oktober hingga 10 November dapat dijadikan momentum para santri dengan khidmat mengenang sekaligus memperingatinya jasa para santri yang telah berjuang bagi tegaknya Indonesia. Perlu dicatat, munculnya Resolusi jihad tidaklah secara instan tanpa ijtihad bertahap yang cukup panjang. Ijtihad tersebut tidak hanya melewati satu dua generasi, akan tetapi menjalur ke belakang sampai titik masuknya Islam di bumi Nusantara. Resolusi Jihad adalah hasil dari proses panjang pasang surut perjuangan ulama-ulama sebelumnya.

Asli Muhammadiyah

Melalui penetapan HSN, diharapkan terjadi sinergi antara pemerintah dan santri untuk mendorong komunitas santri ke poros peradaban Indonesia. Santri tidak hanya sebagai penonton ataupun obyek dalam dialektika sosial budaya ekonomi politik Indonesia. Pesantren sebagai lembaga dakwah, lembaga pendidikan tafaqquh fiddin terus kiranya berkontribusi dan mencetak ulama, agen perubahan yang menjadi garda terdepan dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lebih dari itu, pesantren kiranya dapat berperan lebih besar dalam mempromosikan gerakan anti narkoba, gerakan anti radikalisme, gerakan santri amar makruf nahi munkar, hingga pada santri yang melek dunia perbankan, melek sain dan teknologi.

Hari Santri adalah wujud dari kewajiban negara dan pemimpin bangsa, memberikan penghormatan kepada sejarah pesantren, sejarah perjuangan para kiai dan santri. Kontribusi pesantren kepada negara ini, sudah tidak terhitung lagi. Hari Santri Nasional dapat dijadikan sebagai pemaknaan sejarah Indonesia yang genuine dan authentic yang tidak terpisahkan dari episteme bangsa. Indonesia tidak hanya dibangun dengan senjata, darah dan air mata, tetapi berdiri karena keikhlasan dan perjuangan para santri religius yang berdarah merah putih. Selain itu, ditetapkannya hari santri sebagai bukti otentik, Indonesia dapat menjadi model dunia tentang hubungan Islam dan negara, sekaligus meneguhkan persatuan umat Islam yang telah terafiliasi dan menyejarah dalam ormas Islam dan parpol yang berbeda,perbedaan melebur dalam kesantrian yang sama.

Asli Muhammadiyah

Mensenyawakan Hubungan Islam dan Negara

Syekh Hasyim As’yari menyadari bahwa secara kultural, gerakan Islam dan nasionalis berbeda satu dari yang lain, tetapi dari sudut ideologi berupa kebutuhan akan kemerdekaan, adalah satu bangsa. Pada tahun 1933, Syekh Hasjim Asy’ari memerintahkan putranya, Kiai Wahid Hasjim yang baru pulang dari Tanah Suci Mekkah untuk mempersiapkan Muktamar NU ke-9 di Banjarmasin (Borneo Selatan), dimana akan dibahas tentang kebangsaan. Dalam Muktamar tersebut salah satu masalah yang diajukan kepada Muktamar berbunyi wajibkah bagi kaum muslimin untuk mempertahankan kawasan Kerajaan Hindia Belanda, padahal diperintah orang-¬orang non¬muslim? Muktamar yang dihadiri oleh ribuan orang ulama itu, menjawab bahwa wajib hukumnya secara agama, karena adanya dua sebab, pertama, karena kaum muslimin merdeka dan bebas menjalankan ajaran Islam. Kedua, karena dahulu di kawasan tersebut telah ada Kerajaan Islam.

Jadi, sesungguhnya negara Indonesia adalah dar Islam karena telah pernah dikuasai sepenuhnya oleh orang Islam. Walaupun pernah direbut oleh kaum penjajah kafir (Belanda), tetapi nama negari Islam masih selamanya. Negeri ini pernah mengenal adanya kerajaan-kerajaan Islam, penduduknya sebagian masih menganut dan melaksanakan ajaran Islam, dan Islam sendiri tidak sedang dalam keadaan diganggu atau diusik. Negara Indonesia dapat dikategorikan sebagai darul Islam (daerah Islam), bukan daulah Islamiyyah (pemerintahan Islam), karena mayoritas penduduk di wilayah ini beragama Islam dan dapat melaksanakan syari’at Islam dengan bebas dan secara terang-terangan. Keputusan tersebut merujuk dari kitab Bughyatul Mustarsyidin (hal. 254) karangan Sayed Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar atau dikenal dengan Syekh Ba’lawi.

Mengenai cita-cita Indonesia sebagai negara bangsa sebagaimana yang dirumuskan oleh para aktivis pergerakan itu dianggap sudah memenuhi aspirasi umat Islam, karena di dalamnya ada jaminan bagi umat Islam untuk mengajarkan dan menjalankan agamanya secara bebas. Dengan demikian umat Islam tidak perlu membuat negara lain yang berdasarkan syariat Islam, karena negara yang dirumuskan telah memenuhi aspirasi Islam (Muním Dz, 2012). KH Ahmad Siddiq (Rosis Am PBNU 1984-1991) menegaskan bahwa kata dar Islam bukanlah sistem politik atau ketatanegaraan, tetapi sepenuhnya istilah keagamaan (Islam), yang lebih tepat diterjemahkan wilayatul Islam (daerah Islam) bukan negara Islam. Motif utama dirumuskannya pendapat ini adalah bahwa di wilayah Islam, maka kalau ada jenazah yang identitasnya tidak jelas non Muslim, maka harus diperlakukan sebagai Muslim. Di wilayah Islam, semua penduduk wajib memelihara ketertiban masyarakat, mencegah perampokan dan sebagainya.

Meskipun demikian, untuk membangun masyarakat Islam, penjajah harus disingkirkan. Inilah mengapa ketika mempersiapkan negara bangsa, saat pertama kali datang Laksamana Maeda Pimpinan tertinggi tentara Jepang 1943, menanyakan siapa yang bisa menjadi pemimpin tertinggi negeri ini untuk diajak berunding dengan Jepang. Dengan tegas Syekh Hasyim Asy’ari menjawab bahwa yang pantas memimpin bangsa ini ke depan adalah Soekarno, seorang tokoh nasionalis terkemuka. Karena itu juga, ketika umat Islam sudah memiliki kemampuan untuk jihad perang, maka Syekh Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad sebagai bentuk dari menjaga Indonesia sebagai dar Islam. Inilah yang menjadi landasan, karena Indonesia adalah dar Islam dalam bentuk NKRI, sehingga berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) yang diusung Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia (DI-TII) dianggap sebagai negara dalam negara dan dalam hukum fiqh disebut bughat (pemberontak) yang harus diperangi.

Ijatihad politik bahwa bentuk NKRI sebagai dar Islam ini merupakan karya besar para santri, yang selama ini diperjuangkan oleh para ulama sejak dahulu yang terus merawat semangat anti kolonial. Deklarasi kebangsaan yang dicetuskan tahun 1936 itu memiliki pengaruh cukup kuat dalam merumuskan setiap langkah mengawal negara hingga saat ini. Sehingga kemudian menjelma menjadi karakter dasar Islam Nusantara itu sendiri. Keputusan tahun 1936 tersebut tidak atas pertimbangan ideologis, tapi dengan kebebasan dan fiqhiyah (Gus Dur, 1989). Pandangan soal tokoh yang layak memimpin bangsa Indonesia juga menunjukkan bahwa Islam tidak perlu diideologikan dalam negara. Islam tidak perlu diideologikan, negara itu ideologinya nasionalistik, ideologi yang nasionalistik itu adalah Pancasila. Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia telah disepakati dan diterima sebagai pedoman hidup bersama yang mengikat semuanya dalam menjalankan hidup bermasyarakat, beragama dan bernegara. Maka menjadi penting memahami pancasila dan hubungannya dengan Indonesia sebagai dar Islam.

Oleh karena itu, penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syariat agamanya. Jadi dalam hal ini, Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama. (Muktamar NU XXVII tahun 1984 di Situbondo, Munas NU tahun 2012 di Cirebon).

Ijtihad politik tersebut adalah warisan secara bersambung melalui sanad dan jejaring ulama santri yang makin meneguhkan Islam Nusantara dalam komitmen kebangsaan yang tinggi. Sebagai pewaris ajaran Ahlusunnah yang telah berabad-abad dikembangkan oleh para wali di Nusantara ini, komitmen kebangsaannya juga berdasarkan pada pelestarian warisan budaya Islam ini. Kenusantaraan atau keindonesiaan yang multi etnis, multi budaya dan multi bahasa ini buat Islam Nusantara adalah anugerah besar yang tiada tara. Islam hadir di Nusantara justru memperkaya dan memperkuat nilai kenusantaraan ini. Untuk membangun keindonesiaan itu Islam Nusantara mengembangkan sikapnya yang tawasuth (moderat), tawazun (seimbang) dan tasamuh (toleran), ketiganya merupakan prinsip jalan tengah yang disebut Al Qur’an sebagai (ummatan wasathan) dan bentuk ummat seperti itu juga digambarkan oleh Al Qur’an sebagai khoiro ummah (sebaik-baik masyarakat).

Zainul Milal Bizawie, penulis buku "Laskah Ulama-Santri dan Resolusi Jihad" dan "Masterpiece Islam Nusantara"



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ulama, Sunnah Asli Muhammadiyah

Selasa, 07 November 2017

Agus Sunyoto: Ada Usaha Sistematis Untuk Menghilangkkan Walisongo

Perjuangan Walisongo merupakan fakta sejarah dalam penyebaran Islam di Nusantara, khususnya pulau Jawa. Keberhasilannya yang gemilang tak lepas dari strategi mereka melalui jalur kultural. Tak ada pertumpahan darah dan inkuisisi.

Karena itulah perjuangannya selalu dikenang. Makamnya selalu diziarahi oleh segenap muslim. Tapi perjuangan sembilan ulama tersebut, dianggap sepi oleh sekelompok orang. Hal itu terbukti dengan absennya Walisongo dari Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve.

Agus Sunyoto: Ada Usaha Sistematis Untuk Menghilangkkan Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)
Agus Sunyoto: Ada Usaha Sistematis Untuk Menghilangkkan Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)

Agus Sunyoto: Ada Usaha Sistematis Untuk Menghilangkkan Walisongo

Agus Sunyoto sebagai salah seorang sejarawan Nusantara merasa kuatir dengan kondisi ini. Menurutnya, lambat-laun sejarah Walisongo bisa hilang dari ingatan orang, atau bisa jadi dianggap dongeng belaka.

Kekuatiran Wakil Ketua Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi-NU) ini membuahkan buku berjudul “Walisongo Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan” setebal 282 halaman.

Asli Muhammadiyah

Ketika Agus Sunyoto berkunjung ke kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Rabu, (15/2)  Abdullah Alawi dari Asli Muhammadiyah berhasil mewawancarainya seputar penulisan buku itu. Berikut petikannya.

Belum lama ini mas Agus menulis buku Wali Songo, Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan. Apa tujuan menulis buku itu?.

Asli Muhammadiyah

Awalnya ketika saya membaca buku Ensiklopedi Islam terbitan Van Hoeve itu. Ternyata entri Walisongo tidak ada. Demak itu hanya disinggung dua. Kesultanan Demak dan masjid Demak. Itu pun singkat sekali. Yang muncul malah tiga serangkai Wahabi yang membawa faham Wahabi ke Indonesia. Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piabang sebagai pembawa ajaran Islam.

Reputasi orang itu dalam sejarah perjuangan menyebarkan Islam itu bagaimana? . Yang menimbulkan pecahnya Perang Paderi. Reputasi apa? Orang yang berbeda pandangan dipateni (dibunuh, red).

Kalau kita baca Ensiklopedi Islam itu, secara tidak langsung, kita diarahkan untuk menganggap bahwa Islam yang disebarkan Nusantara itu oleh Wahabi. Begitu, ya? . Iya. Dan itu yang dimasukkan. Itu kan golongan Sumatera Tawalib. Orang sana itu, madrasah-madrasah Wahabi itu, Persis itu masuk, al-Irsyad itu masuk. Resulusi Jihad itu nggak ada. Komite Hijaznya NU itu nggak ada.

Efeknya bagi masyarakat itu apa, Pak?. Ya lambat-laun Walisongo dianggap nggak pernah ada. Islam yang ada sekarang itu dianggap ahistori.

Indikasi apa itu mas?. Kita tinggal menunggu dua puluh tahun lagi. Kalau Walisongo itu sudah tidak ditulis di ensiklopedi, dua puluh tahun lagi, sudah jelas dianggap dongeng. Tidak ada kenyataannya. Tidak diakui. Eksistensinya tidak diakui.

Itu memang sistematis?. Iya sistematis. Ada usaha sistematis untuk menghilangkkan Walisongo.

Tujuan mereka itu apa?. Ya, mereka kan menganggap Walisongo itu tidak sefaham dengan mereka dan mereka membikin seolah-olah yang membawa (Islam) ke sini adalah Wahabi. Tapi itu artinya Islam baru berkembang 1803. Sebelum itu, nggak ada Islam berarti. Itu pemalsuan sejarah. Pemalsuan sejarah yang tidak cerdas!

Apa karena tipikal Walisongo yang menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya? Dan itu bersebrangan dengan faham mereka? . Iya. Mereka kan kalau perlu, semua yang bersebrangan faham dengan mereka kan dibunuh saja. Bahwa faham merekalah yang benar. Karena mereka menghalalkan segala cara. Kalau bukan golongan mereka, ya disingkirkan. Sayangnya mereka minoritas.

Dalam sejarah, Islam yang diterima di masyarakat itu selalu pendekatan budaya. Tidak cuma Walisongo. Di Sumatera ada tokoh Aria Damar. Dia kan asalnya penganut Shiwa Budha. Dakwah Islam di Palembang dan sekitarnya itu, ketika yang dakwah itu orang yang dari Arab Said Syarif Hidayatullah itu, itu nggak ada orang yang mau menerima.

Said Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati?. Bukan, mertuanya Ario Damar. Nah, ketika Ario Damar yang mengajak kepada orang-orang yang menganut Budha, baru mereka berkenan mengikuti Islam.

Strateginya bagaimana? Seperti Walisongo juga? . Iya.

Pendekatan budaya juga?. Iya. Begini, semua orang nggak mau ketika yang menyebarkan Islam itu Syarif Hidayatullah. Kenapa? Palembang itu pusatnya Sriwijaya beratus-ratus tahun. Di situ Budha. Bagaimana caranya bisa Islam? Baru bisa setelah Ario Damar yang menganut Shwa Budha itu memeluk Islam dan mengajak orang. Tetap dengan pendekatan kultural. Apa dengan mengajarkan ilmu, pertanian, kesenia. Banyak. Ario Damar itu kan raja muda di sana. Mesti lewat budaya, macam-macam.

Di daerah lain juga mesti yang diterima itu dengan pendekatan budaya? Sulawesi, Kalimantan juga? . Iya. Contohnya di Jawa. Sunan Ampel itu datang dari Campa, Vietnam. Dia nggak begitu paham budaya Jawa. Menikah dengan orang Jawa, melahirkan anak: Sunan Bonang, misalnya. Dia dididik sebagai keluarga bangsawan Jawa. Dari keluarga ibunya kan. Karena itu dia bisa menulis tembang macam-macam. Sunan Ampel nggak bisa. Nggak ada warisannya karena memang bukan orang Jawa.

Jadi, orang pribumi yang berkreasi?. Iya. Orang pribumi.

Mas, Kelebihan buku ini, menurut mas Agus sendiri dibanding dengan buku-buku lain yang menulis Walisongo.. Buku-buku Walisongo itu kan ditulis dalam bentuk dongeng, cerita-cerita, legenda. Nah, saya masukkan inskripsi-inskripsi yang ada di makam-makam, misalnya makam Malik Ibrahim, ada. Atau prasatinya. Kapan tokoh itu, siapa tokoh itu? Bukan berdasarkan dongeng.

Setiap makam itu ada inskripsinya ya? . Nggak. Nggak setiap makam ada. Tapi beberapa makam ada inskripsinya.

Itu kan ensiklopedi yang terbit tahun 1995, kenapa baru direspon sekarang?. Karena ngak tahu. Belum pernah baca itu. Baru tahun tahun 2010.

Bagaiamana ketemunya Van Hoeve  sama Wahabi? Persinggungannya itu? . Mungkin aja Van Hoeve nggak paham. Karena dia cuma penerbit. Orang-orang yang menulisnya. (Agus Sunyoto menyebutkan para penulisnya)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Syariah, Ahlussunnah Asli Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

Resolusi Jihad Belum Tercantum, Buku Sejarah Harus Ditulis Ulang

Bawean, Asli Muhammadiyah - Ketua PCNU Bawean, Jawa Timur KH Fauzi Rouf menyatakan bahwa sejarah bangsa ini harus banyak berterima kasih kepada peran besar ulama dan santri, karena itulah sejarah harus ditulis ulang.

"Peran ulama dan santri sangatlah besar, sehingga melahirkan Resolusi Jihad. Namun, hal ini belum ditulis dalam buku-buku sejarah yang dipelajari para pelajar dan santri. Karena itu sejarah ini harus ditulis ulang," ujarnya di hadapan sekitar dua ribu santri dalam peringatan Hari Santri Nasional bertajuk Semarak Hari Santri 22 Oktober Resolusi Jihad NU, yang diselenggarakan PCNU Bawean di Pesantren Mambaul Falah, Bawean, Sabtu malam (22/10) melalui siaran pers.

Resolusi Jihad Belum Tercantum, Buku Sejarah Harus Ditulis Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)
Resolusi Jihad Belum Tercantum, Buku Sejarah Harus Ditulis Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)

Resolusi Jihad Belum Tercantum, Buku Sejarah Harus Ditulis Ulang

Sementara itu Direktur Aswaja NU Center Jombang, Yusuf Suharto yang didapuk sebagai penceramah puncak acara peringatan HSN menegaskan bahwa tidak ada hari pahlawan tanpa ada Resolusi Jihad.

Asli Muhammadiyah

"Hari Pahlawan 10 November itu adalah kelanjutan dan efek dari Resolusi Jihad 22 Oktober. Bung Tomo dan para pecinta kemerdekaan menyebarkan fatwa atau resolusi jihad ini ke seluruh penjuru negeri. Para ulama prihatin karena Indonesia akan kembali dijajah tentara sekutu dan Belanda.? Inilah di antara bukti nyata bahwa para santri dan ulama mencintai negeri ini, dan karenanya mempertahankan kemerdekaan yang merupakan kewajiban bersama," ujar Sekretaris Pergunu Jombang ini di hadapan para kiai jajaran PCNU, lembaga, banom, MWCNU dan santri seluruh Bawean.

Ia menambahkan, langkah para ulama dalam mengawal negeri ini dapat kita saksikan misalnya pada tahun 1916 Kiai Wahab Hasbullah mendirikan Nahdlatul Wathon yang artinya kebangkitan tanah air atau kebangkitan kebangsaan. Kemudian disusul dengan pemberian nama yang beragam di berbagai daerah agar tidak diketahui penjajah, misalnya di Gresik dinamai Farul Wathon (Elemen Bangsa), di Jombang dinamai Hidayatul Wathon Pencerah Bangsa).

“Inilah juga bukti kecintaan para kiai atas negeri ini. Pada tahun 1918 didirikan Nahdatut Tujjar (Kebangkitan para saudagar) yang merupakan bukti kemandirian para ulama dalam perjuangan kemerdekaan," ujarnya.

Asli Muhammadiyah

Karena itu, lanjutnya, kita harus bangga menjadi santri. Ustadz, dan ulama otomatis adalah santri. Dan santri diharapkan berperan seperti para ustadz dan kiai. Ia mengajak untuk menjadikan Hari Santri ini dengan berbuat nyata bagi bangsa ini. Mengisinya dengan menerapkan Islam moderat, Ahllussunnah wal Jamaah ala Nahdlatil Ulama."

Puncak acara ini dirangkai dengan pembacaan wasilah dan Shalawat Nariyah, menyanyikan lagu Indonesia Raya, mars santri, pembacaan Ikrar Santri, dan aneka tampilan kesenian santri. Doa dibacakan Mustasyar PCNU Bawean yang juga pengasuh Pesantren Mambaul Falah, Tambak Bawean, KH Abdul Aziz? Ismail. Sosok Kiai Abdul Aziz adalah kiai aktivis, terhitung sejak 1963 sudah terlibat dalam aktivitas dan gerakan NU. Untuk menggenapi keikutsertaan dalam muktamar dengan volume Sembilan kali, Kiai yang menyaksikan para kiai berkumpul di jalan Matraman (rumah Bu Nyai Sholihah Binti KH. Bisri Syansuri) ini menjadi saksi fatwa NU tentang pembubaran PKI.

?

Sementara itu pada pagi harinya, Sabtu pagi (22/10) bersama Direktur Aswaja NU Center Bawean, Kiai Syamsuddin, dan pengasuh Persantren Hasan Jufri, KH. Ali Asyhar, Yusuf juga mengisi peringatan hari santri di Pesantren Hasan Jufri Bawean. Dalam acara ini format acaranya berupa diskusi Tanya jawab seputar Aswaja, NU dan Hari Santri.

"Semula Hari Santri diusulkan pada satu Muharram, kemudian diubah menjadi 22 Oktober, karena momen 22 Oktober ini adalah yang paling tepat, di mana para santri mewujudkan gerakan secara massif dalam mempertahankan NKRI," ujarnya disusul dengan pembacaan bersama Shalawat Nahdhiyyah yang disusun oleh Kiai Abdul Wafi Paiton, yang dipimpin Kiai Syamsuddin.

Adapun terjemah shalawat itu adalah, "Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, yang dengan berkah bacaan shalawat ini, jadikanlah kami senang, rajin, dan semangat dalam berjuang menghidupkan dan meninggikan agama Islam serta menampakkan syiar-syiarnya menurut cara Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Ya Allah, teguhkanlah pendirian dan berikanlah kemenangan bagi warga Jamiyyah Nahdlatul Ulama (Nahdliyyin) untuk meninggikan Kalimatillah (agama Islam dan seluruh ajarannya)". (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pondok Pesantren, AlaNu Asli Muhammadiyah

Rabu, 11 Januari 2012

Menimbang Sejarah dan Ajaran Tarekat

Judul buku : Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat dalam Tasawuf

Penulis : K.H. A. Aziz Masyhuri

Cet. I : Juli 2011

Menimbang Sejarah dan Ajaran Tarekat (Sumber Gambar : Nu Online)
Menimbang Sejarah dan Ajaran Tarekat (Sumber Gambar : Nu Online)


Menimbang Sejarah dan Ajaran Tarekat

Tebal : xx+ 338 halaman (termasuk daftar pustaka)

Penerbit : IMTIYAZ Surabaya

Peresensi : Yusuf Suharto

Asli Muhammadiyah

Buku berjudul Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat dalam Tasawuf ini adalah salah satu karya penting Kiai Abdul Aziz Masyhuri dalam kajian tentang tarekat setelah bukunya Permasalahan Thariqah Hasil Kesepakatan Muktamar dan Musyawarah Besar Jamiyyah Ahlith Thariqah Al-Mutabarah Nahdlatul Ulama 1957-2005 diterbitkan pada 2006 lalu. Kiai Aziz terhitung sebagai kiai pesantren yang sangat produktif. Dalam buku berbahasa Indonesia yang ditulisnya terhitung ada 95 judul dari berbagai bidang ilmu. Dalam bahasa Arab, ikhtisarnya terhitung ada 21 judul, buku yang diedit dan disuntingnya ada 15 judul, sedangkan buku terjemahannya terhitung ada 7 judul.

Asli Muhammadiyah

Mengawali buku tentang aliran-aliran tarekat ini dinyatakan oleh Kiai Aziz bahwa Tarekat secara etimologis bermakna antara lain jalan, cara, metode, haluan, tiang teduhan. Sedangkan menurut istilah tasawuf berarti perjalanan seorang salik (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara menyucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan. Dalam kitab Jami al-Ushul fi al-Awliya tarekat bermakna laku tertentu bagi orang-orang yang menempuh jalan kepada Allah, berupa memutus atau meninggalkan tempat-tempat hunian dan naik ke maqom atau tempat-tempat mulia. Menurut al-Jurjany dalam al-Tarifat tarekat adalah metode khusus yang dipakai oleh salik menuju Allah melalui tahapan-tahapan atau maqamat. (hal. 1-2).

Istilah tarekat terkadang kemudian digunakan untuk menyebut suatu pembimbingan pribadi dan perilaku yang dilakukan oleh seorang mursyid kepada muridnya. Pengertian terakhir inilah yang lebih banyak banyak difahami oleh banyak kalangan ketika mendengar kata tarekat (hal. 2).

Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian. Pertama, ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi yang ditandai dengan adanya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah (hal. 2).

Mengutip kitab Maraqi al-Ubudiyah dikatakan bahwa tarekat bermakna melaksanakan kewajiban dan kesunnahan, meninggalkan larangan, menghindari perbuatan mubah yang tidak bermanfaat, sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari syubhat, apalagi dari keharaman, sebagaimana orang yang waraI, dan menjalani riyadlah, misalnya beribadah sunat pada malam hari, berpuasa sunat, dan tidak mengucapkan kata-kata yang tanpa

guna. (dalam buku, Permasalahan Thariqah Hasil Kesepakatan Muktamar dan Musyawarah Besar Jamiyyah Ahlith Thariqah Al-Mutabarah Nahdlatul Ulama 1957-2005, suntingan KH. A. Aziz Masyhuri)

Buku yang ditulis K.H. Abdul Aziz Masyhuri, seorang ulama pesantren yang mantan Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) ini menggunakan pendekatan wacana atas sejarah dan pengalaman bertarekat dari 22 tarekat dunia yang sebagian berkembang di Indonesia.

Sebagai kiai pesantren dan orang yang banyak terlibat dalam kegiatan bahtsul masail Nahdlatul Ulama, tentu saja menjadi dapat dimaklum, bahwa tarekat yang dituliskannya ini hanya mengambarkan tarekat yang diakui kemuktabarannya oleh Nahdlatul Ulama. Kiai yang dijuluki Martin van Brunessen seorang ahli Belanda pengamat NU dan Tarekat, sebagai Kiai Ahli Dokumentasi ini menyebut ada 43 atau 44 tarekat yang diakui Nahdlatul Ulama sebagai tarekat yang muktabar.

Sayang sekali, Kiai Aziz tidak memberikan alasan kenapa memilih 22 aliran tarekat, yang kenyataannya tidak semua dari 22 itu berkembang luas di Indonesia. Ke 22 tarekat yang ditulis dalam bukunya tersebut yaitu Tarekat Alawiyah, Aidrusiyah, Badawiyah, Chistiyah, Dasuqiyah, Ghazaliyah, Haddadiyah, Idrisiyah, Khalwatiyah, Malamathiyah, Maulawiyah, Naqsyabandiyah, Naqsabandiyah Haqqaniyah, Qadiriyah, Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Rifaiyah, Samaniyah, Sanusiyah, Suhrawardiyah, Syadziliyah, Syathariyah, Dan Tijaniyah. Namun barangkali alasan yang mungkin melandasi penulisan 22 tarekat itu adalah karena kepopulerannya atau telah tersebar luas di dunia Islam. Atau juga mungkin, Kiai Aziz masih berkehendak menuliskan jilid satunya, sembari menyiapakan jilid atau edisi lanjutan.

Namun, jika merujuk pada kemuktabaran tarekat sebagaimana ditetapkan dalam Nahdlatul Ulama, semestinya dilihat dari daftar ke 22 tarekat tersebut, jumlah yang pas adalah 21, bukan 22 tarekat. Karena Naqsabandiyah Haqqaniyah termasuk dalam aliran tarekat Naqsabandiyah. Pelabelan Haqqaniyah dalam daftar tarekat muktabar tidak dihitung. Namun maksud dicantumkannya Haqqaniyah dapat kita ketahui setelah Kiai Aziz membahas aliran tarekat ini.

Sebagai orang luar yang sekedar mengamati penulis agak kaget, karena ternyata tarekat Naqsabandiyah Haqqaniyah yang dihitung tersendiri oleh pengasuh al-aziziyah Denanyar ini ternyata dalam buku ini setelah dipuji tentang sejarah hidup pendirinya, yaitu Syaikh Nadhim Haqqani dan muridnya, Syaikh Hisyam Qabbani, kemudian dikritik dengan mengutip pandangan mufti Lebanon sebagai tarekat yang terputus sanadnya dan dinyatakan sesat. Dikatakan oleh Kiai Aziz dalam fasal bukunya di bawah judul Catatan Penting tentang Syaikh Nadzim Haqqani dan Syaikh Hisyam Qabbani Syaikh Nadzim, yang menyebut dirinya dengan al-Haqqani, seorang berkebangsaan Cyprus yang pernah dideportasi dari Lebanon atas perintah Mufti Lebanon pada waktu itu, Syaikh Hasan Khalid, dan dikecam karena kesesatannya oleh mufti Tripoli Lebanon; Thaha ash-Shabunji sebagaimana dikutip oleh majalah al-Afkar, Beirut, edisi 898, November 1999..mata rantai tarekat yang dibawa keduanya berasal dari seseorang yang bernama Abdullah Faiz Ad-Daghistani yang tinggal di Damaskus, padahal mufti Negara Daghisthan Sayyid Ahmad ibn Sulayman Darwisy Hajiyu mengatakan dalam surat yang diterbitkan oleh al-Idarah Ad-Diniyah Li Muslimi Daghisthan, bahwa mata rantai tarekat yang dibawa oleh Abdullah Ad-daghisthani tidaklah bersambung alias maqthu dan tarekat yang ia bawa adalah sesat (172-173).

Dicontohkan oleh Kiai Aziz kesesatan-kesesatan yang dilakukan oleh guru Syaikh Nadzim Haqqani, yaitu Syaikh Abdullah Ad-Daghistani dalam Washiyyah Mursyid az-zaman wa Ghauts al-Anam pada halaman 12, Seandainya seorang kafir membaca surah al-Fatihah walaupun sekali seumur hidup, maka dia tidak akan keluar dari dunia ini kecuali memperoleh sebagian dari inayah (pertolongan) tersebut, karena Allah tidak membedakan orang kafir, fasiq, mumin, ataupun muslim, semuanya sama.

Di samping memaparkan sejarah lengkap, kontroversi-kontroversi beberapa tarekat dalam pandangan Nahdlatul Ulama, buku ini secara memadai juga memaparkan pendefinisian tarekat, kemunculan golongan zuhud, sejarah perkembangan tarekat, ajaran khusus dan umum tarekat, dan berbagai ajaran-ajaran dalam tarekat yang diletakkan dalam bab pertama. Kemudian memaparkan karakteristik tarekat sufi, komposisi tarekat sufi, dan tata cara bertarekat dalam bab kedua. Kemudian menjelaskan pada bab ketiga tentang berbagai aliran tarekat yang dua puluh dua.

Ke depan rasanya kita harus menunggu karya kiai ahli dokumentasi ini untuk melengkapi ke 44 tareat secara keseluruhan bahkan juga tarekat atau yang khas Indonesia, misalnya Shalawat Wahidiyyah yang berpusat di Kediri dan Ngoro Jombang dan Shiddiqiyyah yang berpusat di Ploso Jombang yang pula diikuti sebagian nahdliyyin.

Buku ini menjadi lebih berbobot di samping isinya yang padat dengan jumlah halaman 323, juga karena diberi pengantar oleh tiga orang otoritatif, yaitu Rais Am Jamiyah Ahlith Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyah, Habib Muhammad Luthfie bin Ali bin Yahya, Ketua Umum PBNU, Dr. KH. Said Aqiel Siradj, M.A., dan Guru Besar Studi Perbandingan Masyarakat Muslim Kontemporer, Universitas Utrecht Belanda, Martin Van Bruinessen.

Sekretaris Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Jombang.

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/33731/menimbang-sejarah-dan-ajaran-tarekat

Asli Muhammadiyah

Rabu, 22 November 2017

Mewarisi Semangat Pahlawan Santri

Malang, Asli Muhammadiyah. Selama ini perjuangan para kiai-santri tidak mendapat ruang dalam narasi sejarah kebangsaan. Buku-buku sejarah yang ditulis oleh akademisi, tidak memihak pada sejarah pergerakan komunitas santri. Itulah yang mengilhami Munawir Aziz, Wakil Sekretaris Lembaga Talif wan Nasyr (LTN) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk menulis buku tentang kisah-kisah perjuangan para pahlawan dari pesantren.

Mewarisi Semangat Pahlawan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Mewarisi Semangat Pahlawan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Mewarisi Semangat Pahlawan Santri

Narasi ini tercermin dalam bedah buku Pahlawan Santri yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang, Rabu (5/10) di Perpustakaan Universitas Negeri Malang. Bedah buku ini menghadirkan Munawir Aziz (periset dan penulis buku) dan Joko Saryono (Guru Besar Universitas Negeri Malang).

Munawir Aziz mengungkapkan bahwa sudah saatnya sejarah pesantren mendapat ruang dalam narasi sejarah di negeri ini. "Momentum penetapan Hari Santri, pada 22 Oktober 2016 lalu menjadi refleksi yang tepat untuk menjelaskan posisi santri dalam perjuangan kebangsaan," ungkap Munawir. Penulis buku ini, menjelaskan bahwa menulis sejarah santri, berarti mengokohkan identitas, menguatkan mental dan konstruksi komunitas.

"22 Oktober 1945 merupakan titik sejarah Resolusi Jihad, yang digelorakan Kiai Hasyim Asyari. Resolusi Jihad inilah yang menggerakkan perjuangan arek-arek Jawa Timur, pada 10 November 1945, yang dikenal sebagai Hari Pahlawan," terang Munawir, yang telah beberapa buku bertema Islam Nusantara.

Asli Muhammadiyah

Pada sisi lain, Munawir mengungkapkan ? bahwa sosok-sosok kiai yang menjadi simpul perjuangan kemerdekaan, layak disebut sebagai pahlawan. "Banyak sekali kiai yang layak disebut sebagai pahlawan bangsa. Mereka menjadi simpul perjuangan kebangsaan dari Aceh, hingga kawasan Indonesia timur.

Prof Joko Saryono menambahkan bahwa status pahlawan yang dibutuhkan adalah legitimasi. "Memang secara formal administratif, ada beberapa hal yang menjadi syarat tokoh layak dianugrahi gelar pahlawan. Namun, bagi saya, yang paling penting adalah legitimasi bagi para tokoh sebagai pahlawan bagi masyarakatnya. Apa artinya gelar tanpa legitimasi," jelas Joko Saryono.

Asli Muhammadiyah

Lebih lanjut, Saryono mengungkapkan bahwa narasi dalam buku Pahlawan Santri, menjelaskan tentang suara-suara kaum santri, dalam konsep the others atau liyan. "Penting untuk menyuarakan aspirasi komunitas santri, dalam lingkup sebagai the Others/Liyan. Senada dengan gagasan pasca kolonial yang dikembangkan Spivak," ungkap Saryono.

Bedah buku Pahlawan Santri merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Nahdlatul Ulama dan komunitas pesantren dalam rangka Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2016. (Muiz/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Olahraga, Sholawat Asli Muhammadiyah

Senin, 08 Januari 2018

Penting Bagi Pelajar NU untuk Pahami Sejarah Peran Ulama

Brebes, NU Onlline. Pengasuh Pesantren al-Arifah Buntet Cirebon, KH Fariz Elt Haque Fuad Hasyim mengingatkan, bahwa bangsa yang besar jangan sampai melupakan sejarah, karena hal itu penting untuk dipahami. Terutama sejarah peran ulama dalam merebut dan mempertahankan NKRI. Ulama memiliki andil yang terbesar ? atas berdiri tegaknya NKRI.

Hal tersebut disampaikan KH Fariz pada Halalbihalal Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Songgom, Brebes di halaman Masjid Baitul Muttaqin Dukuh Tegalurung Nahdliyin desa Gegerkunci, Songgom, Senin (27/7) lalu.

Penting Bagi Pelajar NU untuk Pahami Sejarah Peran Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Penting Bagi Pelajar NU untuk Pahami Sejarah Peran Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Penting Bagi Pelajar NU untuk Pahami Sejarah Peran Ulama

Kang Fariz, demikian panggilan akrabnya, menunjukan bukti kalau peristiwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 merupakan hasil keputusan dari Rapat Besar Konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura, 21-22 Oktober di Surabaya. Puncaknya, atas fatwa KH Hasyim Asy’ari menggeloralah peristiwa pada 10 November di Surabaya yang dikenal sebagai Hari Pahlawan.?

Asli Muhammadiyah

“Atas fatwa dari KH Hasyim Asy’ari, seluruh Ulama dan Santri serta elemen masyarakat lainnya bahu membahu mempertahankan dan mengusir penjajah dari Bumi Pertiwi,” tegas Kang Fariz.?

Dia juga menerangkan, bahwa salah satu cara menghancurkan Indonesia adalah menjauhkan masyarakat dari Ulama. Masyarakat dijauhkan dari ilmu ulama, dibuat bodoh. agar bisa di propaganda oleh pihak lain yang tidak suka dengan keberadaan NKRI. Oleh karena itu. IPNU–IPPNU ? harus jadi garda terdepan mengawal Ulama.

Asli Muhammadiyah

Beliau juga berpesan, agar ukhuwah Islamiyah, wathoniyah, basyariyah, dan nahdliyah harus terus dipertahankan. “Insya Allah Indonesia menjadi negeri yang Baldatun Thoyibatun Warobbun Ghofur,” tandasnya.

Ketua PAC IPNU Kecamatan Songgom Imam Hadi Saputra menjelaskan, bahwa momentum halalbihalal ini dijadikan sebagai media untuk saling memafkan setelah ditempa 1 bulan lamanya berpuasa. Halalbihalal adalah tradisi Nahdlatul Ulama yang dicetuskan oleh KH Wahab Chasbullah yang merupakan Pahlawan Nasional untuk mempererat tali silaturahmi.?

“Acara Halalbihalal ini kita akan kembali fitri sebagai modal kita melaksanakan aktivitas kedepan yang lebih baik,” ujar Imam.

Turut Hadir dalam acara tersebut Ketua MWCNU Songgom Harun SAg, Camat Songgom Gunarto, Ketua PC IPNU Brebes Ferial, PC GP Ansor Brebes, Pembina, Alumni IPNU-IPPNU dan ratusan kader IPNU–IPPNU di Kecamatan Songgom. (Wasdiun/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kajian Sunnah, AlaSantri Asli Muhammadiyah

Sabtu, 21 Maret 2015

Sambut Harlah, PMII Kota Pontianak Siapkan Agenda Besar

Pontianak, Asli Muhammadiyah. Dalam rangka  menyambut  hari lahir (Harlah) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang ke-53 tahun, PMII Kota Pontianak siap menggelar berbagai macam kegiatan pada 17 April 2013 depan. 

Sambut Harlah, PMII Kota Pontianak Siapkan Agenda Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Harlah, PMII Kota Pontianak Siapkan Agenda Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Harlah, PMII Kota Pontianak Siapkan Agenda Besar

Harlah ini merupakan sebagai salah-satu bentuk mengenang jasa-jasa para Pendiri dan Pejuang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). terutama para pejuang yang memprakarsai beradanya PMII di Kota Pontianak, Kalimantan Barat hingga PMII eksis menjadi Organisasi Pergerakan Mahasiswa terbesar serta mampu berkontribusi yang nyata terhadap Agama, Nusa dan Bangsa. 

Demikian disampaikan Ketua PMII Kota Pontianak Abdul Ghani, Ahad (3/3). Dikatakan, pihaknya sudah membentuk Panitia Harlah di Sekret PMII Kota Pontianak, pada Rabu (27/2) malam kemarin.

Asli Muhammadiyah

Ada beberapa agenda untuk menyambut Harlah ke-53 PMII, antara lain lomba karya tulis ilmiyah tingkan pelajar dan mahasiswa se-kota Pontianak, seminar nasional dan peluncuran Buku Sejarah PMII di Kalbar.

Asli Muhammadiyah

“Dari awal mula PMII masuk ke Kalbar hingga pada saat ini, itu semua akan tertulis dibuku sejarah PMII Kalbar nantinya, yang sudah lama saya Rekomendasi kepada Ihya Ulumuddin sebagai kordinator penulisan Buku sejarah PMII Kalbar dan tinggal nanti sahabat Ihya tinggal menambah tim lagi jikalau dipandang perlu dalam proses percepatan penggarapan Buku Sejarah PMII di Kalbar," kata Abdul Ghani.

Sementara itu Ihya Ulumuddin, koordinator Departeman Kajian Keilmuan dan Pengembangan Intelektual (DKKPI) PC PMII kota Pontianak mengatakan, agenda terbesar DKKPI pada kepengurusan sahabat Abdul Ghani adalah pembuatan Buku sejarah PMII di Kalimantan Barat. 

“Mengapa hal itu penting bagi kami? Saat ini belum ada Buku khusus sejarah ke-PMII-an di Kalimantan Barat. Oleh karenanya kami dari Koordinator DPPKI, PC PMII kota Pontianak memberanikan diri untuk menulisnya, agar kader-kader dan Sahabat PMII Kalbar tahu siapa-siapa pelopornya PMII, serta seluk beluk perjuangannya hingga sampai ke Kalimantan Barat, bukti kecil cinta terhadap PMII, tahu siapa-siapa yang ada di PMII itu," kata Ihya

Ghani Menambahkan, kepanitiaan lebih baik dibentuk jauh-jauh hari agar kegiatan yang diagendakan pada harlah nanti tidak dadakan. 

"Perlunya dibentuk kepanitian mulai dari sekarang, agar panitia lebih mempersiapkan keperluan-keperluan yang dibutuhkan di Acara Harlah nanti, sehingga ketika hari H semuanya berjalan sesuai rencana," paparnya   

Abdul Aziz yang ditunjuk sebagai Panitia Harlah PMII yang ke-53 ini menuturkan, dalam agenda-agenda kegiatan nanti, pihaknya juga akan undang alumni-alumni PMII, tokoh-tokoh NU kota Pontianak, Rektor/Ketua Kampus, dan Sahabat PMII lainnya, baik di Komisariat dan Rayon.

“Sementara dalam acara lomba Karya Tulis Ilmiah dan Seminar Nasional nantinya kita akan libatkan dari Organisasi-organisasi Internal Kampus di Kota Pontianak Khususnya, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Pontianak, Universitas Muhammadiyah (UNMUH) Pontianak, Universitas Tanjungpura (UNTAN), Politehnik Negeri Pontianak (POLNEP), Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP-PGRI) Pontianak dan Beberapa Kampus lainnya, baik itu dari BEM kampus, Bem Fakultas, HMJ, dan UKM. Kita juga akan undang pelajar swasta maupun negeri dan santri-santri di kota Pontianak untuk berpartisipasi dalam acara kami ini,” tambah Aziz. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Firman

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ubudiyah Asli Muhammadiyah

Senin, 26 Maret 2012

Sejarah Laskar Santri saat Susun Program Pertempuran Lawan NICA

Ketika Penjajah Jepang (Nippon) menggulirkan program latihan militer untuk para santri, KH Abdul Wahid Hasyim dan KH Muhammad Hasyim Asyari tidak serta merta menolak. Mereka justru bersifat kompromi meskipun ditentang oleh beberapa santrinya.

Sikap kompromi Mbah Hasyim saat murni untuk tujuan lebih lebih besar. Di sinilah visi luar biasa Mbah Hasyim akhirnya dapat disadari oleh para santri yang dulu tidak sependapat dengannya. Beberapa sikap Mbah Hasyim Asyari yang kompromis terhadap penjajah Jepang yaitu program penggandaan hasil panen dan latihan militer santri oleh Jepang.

Sejarah Laskar Santri saat Susun Program Pertempuran Lawan NICA (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Laskar Santri saat Susun Program Pertempuran Lawan NICA (Sumber Gambar : Nu Online)


Sejarah Laskar Santri saat Susun Program Pertempuran Lawan NICA

Masyarakat akhirnya menyadari bahwa hasil panen yang tadinya memang untuk kepentingan Jepang berperan penting dalam memakmurkan negeri sehingga kerja keras membangun negeri lewat pertanian harus terus dilakukan. Sedangkan latihan militer santri oleh tentara Jepang sangat menguntungkan kaum santri sebagai bekal menghadapi tentara Sekutu dan NICA yang hendak kembali menguasai Indonesia.

Apabila di zaman Jepang, aktivitas NU terfokus pada perjuangan membela kemerdekaan agama dan bangsa, maka di masa revolusi (1945-1949) lebih diperhebat lagi. Nahdlatul Ulama (NU) sadar betul bahwa perjuangan masih dalam proses. Meskipun kemerdekaan sudah diraih, namun pertahanan dan keamanan harus terus dijaga.

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah

Terbukti ketika Jepang menyerah di tangan Sekutu. NICA (Belanda) melancarkan agresi keduanya dengan membonceng tentara sekutu. Sebetulnya ketika NICA (Netherlands East Indies Civil Administration) dibentuk di Australia pada tahun 1944, Laskar Santri telah menyadari potensi ke depannya sehingga perlu terus menjaga keamanan negara dengan menyusun program pertempuran.

Program pertempuran tersebut memang disusun setelah Mbah Hasyim mengeluarkan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini secara simultan mejadi mesin penggerak bangsa Indonesia dan santri di seluruh Indonesia untuk melawan pasukan sekutu dan NICA yang ingin kembali menjajah Indonesia.

KH Zainul Arifin sebagai Panglima Tertinggi Hizbullah bersama Laskar Sabilillah megerahkan pasukannya dan siap berjuang jiwa dan raga untuk mempertahankan Indonesia. Singkat cerita, Fatwa Resolusi Jihad Mbah Hasyim mengusir pasukan sekutu dan NICA lewat perjuangan hidup dan mati laskar santri dan bangsa Indonesia.

Belajar dari itulah Markas Tertinggi Hizbullah dan Sabilillah menyusun program pertempuan satu tahun (Desember 1945-Desember 1946). Program itu terdiri dari empat pokok sasaran yang harus segera dilaksanakan oleh setiap markas daerah dan kabupaten.

Keempat pokok itu: pertama, memperkuat tentara Islam; kedua, menghimpun dana untuk keperluan jihad fi sabilillah; ketiga, pemusatan tenaga alim ulama dan kiai sakti; keempat, pembentukan Dewan Pimpinan Pertempuran terdiri dari wakil-wakil markas: Sabilillah, Hizbullah, Ulama, TRI, Partai Masyumi, dan GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia).

(Fathoni Ahmad)

Dari (Fragmen) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72232/sejarah-laskar-santri-saat-susun-program-pertempuran-lawan-nica

Asli Muhammadiyah

Minggu, 11 Desember 2016

Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Kedasyatan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya tidak bisa dilepaskan dari Resolusi Jihad, Perintah Perang, yang dikeluarkan oleh Hadratush Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari pada Tanggal 22 Oktober 1945. Pernyataan Perintah Perang itu disampaikan oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari di depan Presiden Soekarno di Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, beberapa hari sebelum pecah Perang 10 November 1945.

Ihwal pertemuan bersejarah itu diungkapkan oleh Ki Setyo Oetomo Darmadi, adik pahlawan PETA Soepriyadi, di Blok A, Jakarta, Ahad, 7 November 2010.

Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945

Menurut mantan anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang akrab dipanggil Ki Darmadi, Bung Karno menemui Kiai Haji Hasyim Asy’ari ditemani oleh Residen Jawa Timur Soedirman, ayah Kandung Mantan Gubernur Jawa Timur Basofi Soedirman. Dalam pertemuan bersejarah di Pondok Pesantren Tebu Ireng itu, kedua pemimpin tersebut membahas situasi politik terkait kedatangan Pasukan Sekutu dibawa Komando Inggris, yang membawa serta penjajah Belanda.

Asli Muhammadiyah

“Kiai, dipundi (despundi, bhs Jawa: bagaimana: RED.), bahasa Bung Karno, Inggris datang niku(itu: Jawa), gimana umat Islam menyikapinya? “ tanya Presiden Soekarno kepada Rois Akbar NU, yang akrab dengan panggilan Mbah Hasyim.

Asli Muhammadiyah

Mendapat pertanyaan atas sikapnya dengan kedatangan pasukan Sekutu, yang berdalih mengambil alih kekuasaan dari Jepang, lawan Perang Dunia Kedua yang sudah dikalahkan, yang berarti juga menafikan Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, Mbah Hasyim pun menjawab dengan tegas.

“Lho Bung, umat Islam jihad fisabilillah (berjuang di jalan Allah: RED.) untuk NKRI, ini Perintah Perang !” kata Rois Akbar Nahdlatul Ulama Hadratush Syaikh Kia Haji Hasyim Asy’ari, menjawab pertanyaan, sekaligus permintaan bantuan dari Presiden Soekarno dalam menghadapi ancaman pasukan Sekutu.

Pasukan AFNEI mulai mendarat di Jakarta pada Tanggal 29 September 1945 dibawa pimpinan Letnan Jenderal Sir Philip Christison. AFNEI berkekuatan 3 divisi: Divisi ke-23 dibawa Komando Mayor Jenderal D.C Hawthorn, menguasai daerah Jawa Barat; Divisi ke-5 dibawa Komando Mayor Jenderal E.C.Mansergh, menguasai daerah Jawa Timur; dan Divisi ke-26 dibawah Komando Mayor Jenderal H.M. Chambers, menguasai daerah Sumatera. Adapun Brigade ke-49 dibawa pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S.Mallaby yang mendarat di Surabaya merupakan bagian Divisi ke-23 pimpinan Mayjen D.C Hawthorn. Ketiga divisi itu bertugas mengambil alih kekuasaan Indonesia dari Jepang, yang berarti tidak mengakui Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Menurut Ki Darmadi, seruan jihad melawan pasukan sekutu yang dikeluarkan Kiai Haji Hasyim Asy’ari itulah yang dikenal sebagai Resolusi Jihad. “Lalu Kiai Hasyim Asy’ari meminta Bung Tomo supaya teriak Allahu Akbar untuk menggerakkan para pemuda. Jasa utama Bung Tomo itu karena diperintah Kiai Haji Hasyim Asy’ari jadi orator perang,” ungkap Ki Darmadi terkait ihwal munculnya pekik Allahu Akbar yang dikumandangkan Bung Tomo melaui radio-radio.

Terkait pertanyaan kenapa Bung Karno menemui Mbah Hasyim Asy’ari, adik Pahlawan Nasional Soepriyadi, yang lahir di Kediri pada 17 Maret 1930 silam ini menjawab, “Tujuannya supaya Kiai Hasyim Asy’ari yang memiliki pengaruh besar di kalangan umat Islam itu menggerakkan jihad. Lalu ada yang hendak mengenyampingkan, kenapa Bung Karno tidak ke BKR (TKR: RED)? Saya punya jawaban. Karena jauh sebelum itu, saat pasukan PETA terbentuk, semua komandan batalyonnya itu ulama. Dan yang punya pengaruh besar terhadap para ulama, dan santri itu kan Kiai Haji Hasyim Asy’ari,” terang Ki Darmadi.

Di antara para ulama yang memegang kendali komando terhadap pasukan PETA, salah satu cikal bakal BKR itu, adalah Panglima Divisi Suropati, Kiai Imam Sujai, Divisi Ranggalawe dengan Panglimanya Jatikusumo, wakilnya adalah Soedirman, ayah kandung Basofi Soedirman, mantan gubernur Jawa Timur. Termasuk di Jawa Barat, komandan resimennya seorang ulama yang berjuluk Singa Bekasi, Kiai Haji Noor Ali.

“Jadi pilihan Bung Karno menemui Kiai Hasyim Asy’ari itu sudah tepat, karena yang bisa menggerakkan umat Islam ya, Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Terbukti sebelum Inggris masuk seluruh komandan batalyon PETA itu ulama,” tandas Ki Darmadi.

Presiden Soekarno memang datang ke orang yang tepat, lanjut Ki Darmadi, dampak perangnya pun luar biasa, seperti digambarkan dalam buku berjudul : Api Neraka di Surabaya. “Pertempuran di Surabaya itu bagaikan neraka bagi pasukan Sekutu. Orang bisa mati-matian berperang, itu karena perintah jihad tadi,” terang Ki Darmadi.

Pelaku dan saksi sejarah lainnya, yaitu Tokoh dan sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) Kiai Haji Muchit Muzadi beberapa tahun lalu mengatakan, Hari Pahlawan 10 November itu tak bisa dilepaskan dengan Resolusi Jihad NU, yang dicetuskan para ulama di Bubutan, Surabaya pada 22 Oktober 1945.

“Proklamasi yang diucapkan Bung Karno dan Bung Hatta merupakan tantangan kepada tentara Sekutu yang saat itu berkuasa setelah Jepang menyerah,” kata Kiai yang akrab dipanggil dengan Mbah Muchit ini. Pernyataan salah seorang santri Hadratus Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari ini kian menegaskan, bahwa Deklarasi Resolusi Jihad 21-22 Oktober 1945 merupakan kelanjutan dari hasil pertemuan Bung Karno dengan Mbah Hasyim.

Segera setelah itu, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. Pada Tanggal 28 Oktober 1945, pasukan sekutu dibawa Brigadir Jenderal Mallaby mengambil alih lapangan udara Morokrembangan, dan beberapa gedung penting kantora jawatan kereta api, pusat telepon dan telegraf, termasuk Rumah Sakit Darmo.

Pertempuran besar tak terhindarkan antara 6 ribu pasukan Inggris dengan 120 ribu pemuda Indonesia yang terdiri dari para santri, dan tentara. Akibat kalah jumlah Mallaby meminta bantuan Hawthorn agar pihak Indonesia menghetikan pertempuran. Hawthorn pun meminta Soekarno agar mau membujuk panglima-panglimanya di Surabaya menghentikan pertempuran. Terjepit pasukan sekutu itu digambarkan dalam buku Donnison “The Fighting Cock” sebagai “Narrowly escape complete destraction” alias hampir musnah seluruhnya”, kalau tidak dihentikan Soekarno – Hatta dan Amir Syarifuddin.

Jenderal Sekutu Tewas

Karena tidak mau belajar, dari kekalahan pertama, Brigjen Mallaby pun tewas dalam pertempuran yang pecah pada Tanggal, 30 Oktober 1945. Panglima AFNEI Letjen Philip Sir Christison pun mengirim pasukan Divisi ke-5 dibawa Komando Mayor Jenderal E.C.Mansergh, jenderal yang terkenal karena kemenangannya dalam Perang Dunia II di Afrika saat melawan Jenderal Rommel, jenderal legendaris tentara Nazi Jerman. Mansergh membawa 15 ribu tentara, dibantu 6 ribu personel brigade45 The Fighting Cock dengan persenjataan serba canggih, termasuk menggunakan tank Sherman, 25 ponders, 37 howitser, kapal Perang HMS Sussex dibantu 4 kapal perang destroyer, dan 12 kapal terbang jenis Mosquito.

Dengan mesin pembunuhnya itu, Mansergh mengultimatum rakyat Surabaya, untuk bertekuk lutut alias menyerah, yang berarti mengakui Indonesia belum merdeka.

”Ultimatum Sekutu itu pun tak digubris sehingga terjadilah pertempuran 10 November 1945 dengan korban yang tidak sedikit, bahkan para santri dari Kediri, Tuban, Pasuruan, Situbondo, dan sebagainya banyak yang menjadi mayat dengan dibawa gerbong KA,” kata Mbah Muchit.

Kiai Kelahiran Tuban Jatim pada 1925 itu menambahkan, semangat dan tekad untuk merdeka itu merupakan semangat yang dipupuk melalui Resolusi Jihad NU yang digagas para ulama NU di Jalan Bubutan, Surabaya.”Tapi, terus terang, semuanya itu tidak tercatat dalam sejarah, karena ulama NU itu memang tidak ingin menonjolkan diri, sebab mereka berbuat untuk bangsa dan negara demi ridlo dari Allah SWT, bukan untuk dicatat dalam sejarah,” katanya.

Dampak perlawanan itu sepertinya tidak pernah terpikir oleh pasukan Sekutu, yang mengultimatum, agar seluruh pemuda, dan pasukan bersenjata bertekuk lutut. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

“Kenapa bisa begitu? Karena sebenarnya yang fanatik melbu suwargo (Bhs Jawa: masuk surga: RED.) itu kan Islam, jadi sudah tidak mikir apa-apa lagi. Mana ada Jenderal Sekutu tewas dalam Perang Dunia Kedua, itu kan hanya terjadi di Surabaya, di Indonesia, dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby,” kata Ki Darmadi menandaskan.

David Welch menggambarkan dasyatnya pertempuran itu dalam bukunya, Birth of Indonesia (hal. 66),“Di pusat kota pertempuran adalah lebih dasyat, jalan-jalan diduduki satu per satu, dari satu pintu ke pintu lainnya. Mayat dari manusia, kuda-kuda, kucing-kucing serta anjing-anjing bergelimangan di selokan selokan. Gelas - gelas berpecahan, perabot rumah tangga, kawat-kawat telephon bergelantungan di jalan-jalan dan suara pertempuran menggema di tengah gedung-gedung kantor yang kosong. Perlawanan Indonesia berlangsung dalam dua tahap, pertama pengorbanan diri secara fanatik, dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman, dan kemudian dengan cara yang lebih terorganisir dan lebih efektif, mengikuti dengan cermat buku-buku petunjuk militer Jepang”

Pertempuran berlangsung dengan ganas selama 3 minggu. Pada akhir bulan November 1945 seluruh kota telah jatuh ke tangan sekutu. Namun semangat perlawanan oleh para pejuang Indonesia yang masih hidup tak bisa dipadamkan. Para santri, dan tentara mengikuti ribuan pengungsi yang melarikan diri meninggalkan Surabaya dan kemudian mereka membuat garis pertahanan baru mulai dari Mojokerto di Barat hingga ke arah Sidoarjo di Timur. Beberapa versi menyebut, korban dari pihak Republik Indonesia mencapai 20 ribu, bahkan ada yang menyebut 30 ribu jiwa.

Pelaku dan Saksi Sejarah

Pertanyaan, kemudian muncul, bagaimana membuktikan bahwa peristiwa Pertemuan Bung Karno dengan Rais Akbar Kiai Haji Hasyim Asy’ari itu benar? Mendapat pertanyaan ini Ki Setyo Oetomo Darmadi, menjelaskan posisinya. Menurutnya, Inggris datang ke Surabaya itu jauh sebelum meletus Perang 10 November 1945.

“Setelah meletus Pemberontakan PETA yang dipimpin Soepriyadi, saya dan ayah saya sekeluarga ditahan oleh penjajah Jepang, setelah Proklamasi Kemerdekaan, yaitu pada Tanggal 25 Agustus kami sekelurga dibebaskan. Usia saya saat itu 15 tahun, lalu masuk BKR. Karena saya Adiknya Soepriyadi, saya bisa kenal sama kiai-kiai, di antaranya Pak ud (KH Jusuf Hasyim), Pak Baidlowi, lalu bapaknya Pak Rozi Munir, yaitu Pak Munasir. Dan kebetulan saya masih familinya Bung Karno, jadi saya tahu ada pertemuan Bung Karno dengan Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Hasil pertemuan itu juga disampaikan oleh Bung Karno kepada para anggota BKR,” ungkap Ki Darmadi menjawab, asal sumber kesaksian.

Seruan Resolusi Jihad yang disampaikan di depan Presiden Soekarno oleh Rois Akbar Kiai Haji Hasyim Asy’ari merupakan peristiwa sejarah yang terpendam, dan hanya menjadi sejarah lisan. Namun, peristiwa tersebut bukan isapan jempol. Saat penulis meneliti sejumlah arsip Kabinet Presiden di Arsip Nasional, Cilandak, Jakarta Tahun 2001, penulis menemukan indeks tentang Resolusi Jihad. Namun saat saya pesan untuk saya baca, ternyata bagian pelayanan arsip tersebut menyatakan arsip sudah kosong, alias hilang.(Abdullah Taruna)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah AlaSantri, Tokoh, AlaNu Asli Muhammadiyah

Rabu, 20 Desember 2017

Dalam Sejarah, Fiqih dan Seni Tidak Terpisahkan

Surabaya, Asli Muhammadiyah. Pengurus Wilayah Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) Jawa Timur melangsungkan sarasehan sastra dan budaya bertema "Fikih, Seni dan Sastra" di kantor PWNU Jawa Timur, Surabaya, Jumat (25/9), dengan menghadirkan KH Abdurrahman Nafis dan Muhammad Al-Fayyadl sebagai narasumber dan Riadi Ngasiran sebagai moderator.

Dalam Sejarah, Fiqih dan Seni Tidak Terpisahkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalam Sejarah, Fiqih dan Seni Tidak Terpisahkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalam Sejarah, Fiqih dan Seni Tidak Terpisahkan

KH Abdurrahman Nafis, mengemukakan bahwa dalam sejarahnya, sastra sering menjadi bagian tidak terpisahkan bagi awal dikenalkannya Islam. "Dan Nabi Muhammad dengan mukjizat yang diterimanya berupa al-Quran, telah mampu mengalahkan karya sastra masyarakat Arab saat itu," katanya.

Para pemimpin Quraisy saat itu, yakni Umar bin Khattab serta Amr bin Hisyam dibuat tidak berdaya dengan kandungan ayat Al-Quran. "Bahkan, Umar bin Khattab bisa terenyuh saat putrinya, Siti Hafshah membaca ayat al-Quran, sehinggga berkenan menjadi muslim," kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini.

Asli Muhammadiyah

Kiai Nafis, sapaan akrabnya, kemudian menggambarkan bagaimana awal mula islamisasi di Indonesia yang lebih menggunakan cara damai, termasuk dengan menggunakan seni sebagai media dakwahnya.

Asli Muhammadiyah

"Para Wali Songo telah berhasil mengislamkan khususnya masyarakat Jawa lewat pendekatan seni," terangnya. Lahirnya seni wayang, tembang dan syair dengan tema agama sebagai bukti bahwa seni demikian menjadi media yang sangat efektif untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat, lanjutnya.

Sebelumnya, masih menurut Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini, para ulama pengarang kitab telah menemukan disiplin ilmu yang membahas tentang kaidah sastra lewat ilmu balaghah, arudh, dengan berbagai varian yang dimiliki.

Pertemuan antara fikih dan sastra akhirnya melahirkan definisi dan batasan yang menjelaskan tentang seni islami. "Ada 4 batasan yang telah digariskan para fuqaha terhadap seni," kata Kiai Nafis yang juga dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Pertama adalah, seni yang dilahirkan tidak memgandung kemusyrikan. "Yang kedua, seni islami adalah yang tidak mengandung maksiat," katanya. Sedangkan ketiga adalah jangan sampai menimbulkan fitnah, dan terakhir yakni seni harus mengandung amar makruf nahi munkar, imbuhnya.

Sering Terjadi Ketegangan

Muhammad Al-Fayyadl justru mencatat akhir-akhir ini sering terjadi ketegangan di akar rumput antara santrawan dan para fuqaha. "Bahkan pernah saya saksikan, pagelaran seni di salah satu kampung justru dihentikan lantaran dianggap tidak islami," kata alumnus Master "Philosophie et Critiques Contemporaines de la culture" Université Paris VIII, Prancis tersebut.

Padahal di awal Muktamar NU, para kiai sangat terbuka dengan masalah kesenian. "Ini mengisyaratkan bahwa hubungan antara kesenian dan agama menduduki porsi terpenting dalam perhatian ulama," kata Gus Fayyadl, sapaan akrabnya.

Dalam perjalanannya, kendati persoalan kesenian kontemporer kemudian kerap menjadi bahasan dalam forum bahtsul masail NU, tapi dalam pandangan dosen UGM ini, rumusannya secara konseptual masih jauh dari komprehensif dan meyakinkan.

Kedua narasumber sepakat bahwa harus selalu dilakukan dialog terbuka antara para pegiat seni dengan aktifis bahtsul masail agar ditemukan titik temu bagi sejumlah permasalahan seni mutaakhir yang tentunya sarat dengan dinamika dan inovasi. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Lomba, Pahlawan, Khutbah Asli Muhammadiyah

Rabu, 22 Maret 2017

Indonesia Kehilangan Pak Misbach

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Aktivis Lesbumi dan sutradara serta penulis skenario kondang Misbach Yusa Biran pulang ke Rahmatullah pada pukul tujuh tadi di Eka Hospital, Serpong, Tangerang, Banten, Rabu (11/4).



Indonesia Kehilangan Pak Misbach (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Kehilangan Pak Misbach (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Kehilangan Pak Misbach

Aktor senior Alex Komang berduka atas kepergian Misbach Yusa Biran. "Kita kehilangan tokoh besar. Pengabdian Pak Misbach pada sejarah film nasional tak akan dilupakan. Almarhum menulis, menyutradarai, mendokumentasi, mendidik dan mewarnai film Indonesia," kata Alex.

"Saya murid di kelas semacam kursus penulisan skenario. Beliau disiplin sekali mendidik murid-muridnya, sehingga hampir membuat saya tidak lulus," kenang Alex yang sedang sibuk menyiapkan Musyawarah Film Nasional besok siang, di PBNU.

"Alex, sini duduk sebentar. Lalu almarhum membenahi tata cara menulis. Memberi catatan, bicara etika menulis," lanjutnya.

Asli Muhammadiyah

Alex mengaku menghormati keluarga almarhum. "Ya, semua istri saya kenal baik, dan menghormatinya," ujarnya. Almarhum meninggalkan satu istri, Nani Widjaja yang juga aktris terkenal, serta empat orang anak.

"Pak Misbach itu sineas yang sekarang ini jarang kita temui, karena beliau juga seorang aktivis," pungkas Alex.

Misbach lahir di Lebak-Banten, 11 September 1933. Almarhum aktif di kesenian sejak di sekolahan tahun 50an. Karir perfilmannya dimulai dengan bekerja di Perusahaan Film Nasional pimpinan Usmar Ismail.

Asli Muhammadiyah

Film berjudul Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1967) besutannya mendapat penghargaan untuk kategori Sutradara Terbaik. Sementara skenarionya yang diberi penghargaan tertinggi dalam FFI berjudul Menjusuri Djedjak Berdarah.

Selain seorang seniman, ia juga tercatat sebagai peneliti di sejarah film Indonesia. Karyanya antara lain Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa ini.

Bukunya yang sangat berguna bagi para sineas adalah Teknik Menulis Skenario Film Cerita (2007). Di dunia sastra, cerpen-cerpen almarhum sangat dihormati. Keajaiban di Pasar Senen (1971), Oh, Film (1973) adalah buku cerpen yang jadi bahan perbincangan.

Karya Jusa Biran yang tidak bandingnya, dalam sejarah perfilman nasional, adalah Sinematek Indonesia yang berdiri tahun 1975. Sinematek adalah satu-satunya lembaga yang mendokumentasikan film nasional.

Kiprah Misbcah di Lesbumi awalnya karena diajak para seniornya di dunia film, yakni Djamaluddin Malik, Usmar Ismail, dan Asrul Sani. Tapi belakangan, seperti kesaksiannya di buku Lesbumi, ia memimpin Lesbumi Jakarta hingga menjadi Lesbumi yang paling aktif. "Saya masuk Lesbumi karena ingin memerjuangkan Islam," tulis almarhum.

"Kita kehilangan Pak Misbach, NU kehilangan, Lesbumi Kehilangan, film kehilangan. Indonesia Kehilangan Pak Misbach," ujar Alex Komang datar.

 

Penulis: Hamzah Sahal

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Doa, Nahdlatul, Hadits Asli Muhammadiyah

Minggu, 16 Juli 2017

Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Puluhan Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia meramaikan acara malam apresiasi seni yang diselenggarakan oleh Omah Aksoro dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pijar STAINU Jakarta, Rabu malam (23/12) di Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat. Berbagai karya seni dipentaskan, seperti halnya puisi, cerpen, akustik, musikalisasi puisi, dan stand up comedy.

Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni

Ketua panitia, Ibnu Athoillah mengatakan, diselenggarakannya kegiatan kali ini dimaksudkan sebagai tempat ekspresi mahasiswa mengembangkan bakat yang dimilikinya. “Mahasiswa memang membutuhkan banyak tempat berekspresi, tidak hanya menyoal tentang hiruk-pikuk akademik dan perkuliahan saja,” katanya.

Mengambil tema ‘Rabun Sastra, Buta Sejarah’ Athok mengatakan kepada seluruh yang hadir untuk tidak melupakan dunia sastra dalam belajar. Meskipun secara makna sastra memiliki banyak penafsiran yang berbeda, akan tetapi pada dasarnya sastra mampu membaca sejarah dengan kaca mata yang lain.

Asli Muhammadiyah

“Ambil saja Pramoedya Ananta Toer yang menulis sejarah dalam bentuk sastra tetraloginya, kita disajikan epik sejarah yang enak dibaca alurnya,” tambahnya.

Di kesempatan yang sama, Pembantu Ketua (Puka) III Bidang Kemahasiswaan STAINU Jakarta Ahmad Nurul Huda mengatakan, kegiatan malam apresiasi seni menjadi warna tersendiri kegiatan mahasiswa di luar perkuliahan. Kelompok kajian seperti Omah Aksoro mungkin bisa dicontoh mahasiswa untuk membentuk kelompok-kelompok kecil untuk melakukan kegiatan yang sama.

Asli Muhammadiyah

“Saya senang dengan kegiatan kali ini, dan saya dukung sepenuhnya sekaligus berharap bisa rutin digelar, kalau perlu tiap bulan,” katanya.

Lebih ramai lagi karena juga ada penampilan dari kampus di luar STAINU Jakarta dan UNU Indonesia. Acara ditutup dengan penampilan dari Kaprodi Psikologi Any Rufaedah yang menyanyikan lagu kemesraan dari Iwan Fals.

Turut memeriahkan dalam kegiatan ini wakil sekretaris LTN PBNU yang juga dosen STAINU Jakarta dan UNU Indonesia, Faris Alnizar; Ketua LP3M STAINU Jakarta, Fatkhu Yasik; dan civitas akademika, Amsar Dulmanan, Muhammad Nurul Huda, Ahmad Dzakirin serta para alumni STAINU Jakarta. (Faridurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Habib Asli Muhammadiyah

Selasa, 26 Juni 2012

Benarkah KH Ali Mustafa Yaqub Penganut Paham Wahabi? (1)

Oleh Muhammad Ali Wafa

Keluarga besar Darus-Sunnah baru saja menyelenggarakan Haul Ke-1 KH Ali Mustafa Yaqub, pendiri sekaligus pengasuh Darus-Sunnah sejak 1997 hingga 2016. Peringatan wafat ini sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan liar seputar sosok beliau yang acapkali dituduh sebagai Wahabi oleh segelintir orang.

Tuduhan ini semakin lantang disuarakan ketika tulisan beliau yang berjudul Titik Temu Wahabi-NU mengemuka di media massa dan kemudian dikembangkan menjadi sebuah buku dengan judul yang sama.

Benarkah KH Ali Mustafa Yaqub Penganut Paham Wahabi? (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah KH Ali Mustafa Yaqub Penganut Paham Wahabi? (1) (Sumber Gambar : Nu Online)


Benarkah KH Ali Mustafa Yaqub Penganut Paham Wahabi? (1)

Banyak sebenarnya tuduhan tidak berdasar yang dialamatkan kepada almarhum. Namun di antara sekian itu tuduhan Wahabi adalah yang paling terkenal. Benarkah beliau Wahabi? Pertanyaan ini akan dijawab dalam tulisan singkat ini untuk mengenang satu tahun wafatnya beliau.

Asli Muhammadiyah

Sebagaimana lazim diketahui banyak orang bahwa Wahabi adalah kelompok yang anti dan membidahkan tahlil, maulid, dan peringatan kematian seperti haul. Niscaya, jika almarhum Kiai Ali Mustafa adalah Wahabi, beliau akan secara tegas menolak dan membidahkan tradisi itu melalui pernyataan-pernyataan dan tulisan-tulisan beliau. Namun sampai akhir hayat, tidak ada satupun pernyataan dan tulisan beliau yang menolak tradisi tersebut. Ini bukti bahwa beliau bukan Wahabi seperti yang dituduhkan.

Asli Muhammadiyah

Sebaiknya, sebelum menuduh Wahabi, kenali dulu sosok dan sepak terjang beliau dari dekat. Dari keluarga besar, santri, sahabat karib, dan tradisi yang berjalan di pesantren beliau, Darus-Sunnah. Bukan dari tulisan, pernyataan, atau buku-buku orang yang tidak mengenal beliau dari dan secara dekat. Jika membaca beliau dari sumber sekunder ini, maka kemungkinan besar akan terjadi banyak penyimpangan karena ketegasan dan sikap moderat beliau yang seringkali disalahtafsirkan atau sengaja dicatut oleh kelompok-kelompok tertentu untuk kepentingan mereka.

Memperkuat uraian ini, tradisi-tradisi yang diwariskan oleh almarhum Kiai Ali di Darus-Sunnah akan menjelaskan bahwa tuduhan Wahabi terhadap beliau tidak benar dan omong kosong semata. Sebab tradisi tahlil, maulid, dan peringatan kematian yang dianggap bidah justru hidup dan semarak di Darus-Sunnah.

Yasinan dan Tahlilan

Di Darus-Sunnah, tradisi Yasinan dan Tahlilan dilaksanakan rutin sepekan sekali, yaitu setiap Kamis selepas shalat Maghrib berjamaah (malam Jumat) sampai Isya. Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan semata, lebih dari itu Yasinan dan tahlilan adalah program pesantren yang harus dilaksanakan setiap pekannya. Meski demikian, tradisi ini tidak wajib dilaksanakan oleh setiap santrinya. Karena secara hukum, tradisi Yasinan dan tahlilan bukan syariat wajib yang harus dilaksanakan oleh para santri di Darus-Sunnah.

Program Yasinan dan tahlilan adalah sarana bagi para santri untuk beramal kebajikan. Bagi yang malaksanakan, akan mendapatkan pahala dan bagi yang meninggalkan tidak akan mendapat dosa. Yasinan dan tahlilan termasuk amalan sunah karena isinya adalah bacaan Al-Quran, zikir, dan bacaan doa untuk orang yang telah meninggal sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW, sahabat-sahabatnya, dan tabiin.

Karena itu, di masa hidup beliau, jika pada malam Jumat di Darus-Sunnah tidak terdengar suara santri yang Yasinan dan tahlilan, almarhum akan bertanya kenapa tidak ada Yasinan dan tahlilan. Tidak sampai di situ saja, almarhum bahkan menegur dan memperingatkan agar hal tersebut tidak diulangi lagi. Kiai Ali menekankan agar Yasinan dan tahlilan dibaca setiap pekan. Seandainya beliau seorang Wahabi, tentu tradisi Yasinan dan tahlilan tidak akan beliau anjurkan apalagi sampai menjadi program pesantren.

Tradisi Maulid

Banyak penjelasan yang menyebutkan bahwa maulid adalah salah satu bidah terbesar dalam tradisi umat Islam. Menurut mereka, berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih, tradisi Maulid tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, dan para tabiin. Mereka menambahkan, tradisi Maulid adalah tradisi bidah yang diwariskan oleh orang-orang syiah pada abad IV Hijriyah. Wahabi termasuk kelompok yang secara tegas menolak tradisi Maulid dengan landasan-landasan tersebut.

Ada dua argumen untuk menepis tuduhan Wahabi terhadap almarhum Kiai Ali dalam kasus Maulid. Pertama, seandainya KH Ali Mustafa Yaqub seorang Wahabi, beliau akan mengamini argumentasi sejarah ini. Namun ternyata beliau tidak mengakui sejarah Maulid yang berlandaskan pada tradisi syiah. Beliau sering menjelaskan bahwa sejarah tradisi Maulid yang diikuti oleh Ahlussunnah wal Jamaah khususnya di Indonesia adalah tradisi Maulid yang digagas oleh Shalahuddin Al-Ayyubi dalam memerangi pasukan Salib pada abad ke-7 Hijriyah. Beliau sering mengatakan, Tentang sejarah Maulid baca penjelasan Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Hawi lil Fatawi.

Kedua, KH Ali Mustafa Yaqub dikenal sebagai ahli hadits sangat tegas dan tidak kenal kompromi dalam masalah akidah dan ibadah. Beliau akan berkata apa adanya jika ada penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di masyarakat. Jika Maulid adalah tradisi bidah, tentu dengan tegas dan tanpa kompromi beliau akan menyampaikan hal tersebut. Namun sampai ujung usianya, beliau tidak pernah menyatakan maulid itu bidah. Justru menurut beliau, Maulid adalah tradisi baik yang patut dilestarikan. Karena dalam tradisi Maulid, terdapat shalawat dan pujian-pujian kepada Rasulullah SAW yang tak ada henti-hentinya dikumandangkan.

Semakin tidak berdasar menuduh beliau Wahabi karena di Darus-Sunnah sendiri tradisi Maulid ini juga dilaksanakan rutin setiap sepekan sekali untuk santri (setiap malam Jumat) dan sebulan sekali untuk Mahasantri (setiap awal bulan malam Jumat). Bahkan dalam moment tertentu seperti wisuda, Maulid oleh beliau dijadikan sebagai sambutan penghormatan untuk menyambut tamu-tamu undangan. Lebih dari itu, saat tradisi Maulid belum hidup di Darus-Sunnah, setahun sebelum wafat, beliau menyampaikan; Saya rindu tradisi pesantren seperti pembacaan Maulid Dibai walaupun hanya satu kali dalam sebulan. Atas dasar inilah kemudian tradisi Maulid Nabi dihidupkan di Darus-Sunnah.

Seandainya beliau seorang Wahabi, tentu beliau tidak akan merindukan tradisi pesantren yang bernama Maulid. Seandainya maulid itu bidah dan diharamkan, tentu ahli hadits seperti beliau adalah orang pertama yang akan pasang badan menolak dan menentang pelaksanaan Maulid. Namun faktanya, justru beliau sangat merindukan tradisi Maulid. Hingga akhirnya, sampai sekarang, tradisi itu terus berlanjut di Darus-Sunnah. (bersambung...)

*) Penulis adalah santri dan pengajar di Pesantren Luhur Darus-Sunnah

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77124/benarkah-kh-ali-mustafa-yaqub-penganut-paham-wahabi-1

Asli Muhammadiyah

Kamis, 26 Maret 2015

Garda Bangsa Jatim Desak Pemerintah Proses Gelar Pahlawan Gus Dur

Surabaya, Asli Muhammadiyah. Dewan Koordinasi Wilayah (DKW) Garda Bangsa Jawa Timur, mendesak Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono untuk mempercepat proses penganugerahan gelar pahlawan nasional terhadap KH Abdurrahman wahid (Gus Dur).?

"Gus Dur adalah tokoh yang sangat layak mendapat gelar pahlawan,"kata Wakil Ketua DKW Garda Bangsa Jatim, Thoriqul Haq, saat membacakan tuntutan, di JMP Surabaya, Jumat (9/10) sore.

Garda Bangsa Jatim Desak Pemerintah Proses Gelar Pahlawan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Garda Bangsa Jatim Desak Pemerintah Proses Gelar Pahlawan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Garda Bangsa Jatim Desak Pemerintah Proses Gelar Pahlawan Gus Dur

Selain DKW Garda Bangsa, tuntutan tersebut juga didukung oleh DPW PPKB, DPW Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (Gemasaba), dan IKA PMII Surabaya. Dalam aksi tersebut, mereka mengenakan kaos bergambar Gus Dur.

Asli Muhammadiyah

Thoriq mengatakan, Gus Dur sebenarnya telah memenuhi 6 syarat untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional sebagaimana diisyaratkan dalam pasal 25 UU Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

"Semua syarat sudah terpenuhi, tapi mengapa peresmian Gus Dur sebagai pahlawan nasional kembali tertunda dengan alasan yang tidak jelas,?" tanya Thoriq yang juga sekretaris DPW PKB Jatim ini.

Asli Muhammadiyah

Bukan hanya. DKW Garda Bangsa Jatim juga mendesak pemerintah agar mengakui serta memasukkan sejarah tentang Resolusi Jihad NU menjadi bagian dari dokumen resmi sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia.?

Menurut Thoriq, peran dan kiprah ulama Nahdlatul Ulama (NU) sangat besar dalam peristiwa pertempuran sengit Arek-arek Suroboyo dalam mengusir Sekutu Belanda, pada 10 November 1945.

"Peran dan kiprah (tokoh) NU dalam resolusi jihad sebagai cikal bakal perjuangan arek-arek Suroboya pada peristiwa 10 November lenyap begitu saja dari buku-buku sejarah bangsa Indonesia. Ini sangat ironis sekali," tegasnya.

Acara ini diawali dengan mengirim doa bersama kepada Gus Dur dan para pahlawan yang telah gugur. Seusai membacakan tuntutan, mereka menggelar tabur bunga di atas Jembatan Merah.?

Ketua DPW Gemasaba Jatim Salim Asyhuri, menambahkan, sebagai kota industri terbesar saat itu, Surabaya menjadi pusat pergerakan para ulama NU, sehingga para ulama NU memili peran sentral dalam pertempuran melawan penjajah, termasuk saat peristiwa 10 November meletus di Surabaya.?

"Sejarah penting bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peristiwa 10 November," ujar Salim yang juga Mantan Ketua Umum PC PMII Surabaya ini.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Hady JM

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah News, Doa, Kajian Asli Muhammadiyah

Minggu, 16 April 2017

PB PMII: Mendukung Kemerdekaan Palestina Adalah Jihad Fi Sabilillah

Jakarta, Asli Muhammadiyah

Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indoenesia (PMII), Aminuddin Maruf mengapresiasi atas terselenggaranya KTT Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam (KTT OKI) 2016, yang digelar di Indonesia atas inisiasi Presiden Jokowi, yang khusus membahas berdirinya Negara Palestina.

"Kami mengapresiasi hal itu dan mendukung dengan sepenuh hati upaya pemerintah Indonesia untuk mendorong berdirinya Negara palestina," ujar Aminuddin melalui rilis yang diterima Asli Muhammadiyah, Senin (7/3).

PB PMII: Mendukung Kemerdekaan Palestina Adalah Jihad Fi Sabilillah (Sumber Gambar : Nu Online)
PB PMII: Mendukung Kemerdekaan Palestina Adalah Jihad Fi Sabilillah (Sumber Gambar : Nu Online)

PB PMII: Mendukung Kemerdekaan Palestina Adalah Jihad Fi Sabilillah

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia sebagai organisasi mahasiswa islam terbesar di indonesia, imbuh Amin, merupakan bagian dari komponen intelektual muda Islam Indonesia yang memiliki tangung jawab memperjuangkan cita-cita kemerdekaan sebagaimana termaktub dalam konstitusi, tentunya kami sangat mendukung hal itu.?

"Bagi kami, mendukung berdirinya Negara Palestina merdeka adalah final. PMII siap berjihad fi sabilillah untuk bersama-sama memperjuangkan hal itu," tegasnya.

Menurut Amin, Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia, dan sebagai negara demokrasi ketiga terbesar di dunia, Indonesia memiliki tanggung jawab untuk menciptakan perdamaian dunia.?

Asli Muhammadiyah

"Perdamaian abadi, yang tidak lagi ada penjajahan, dimana pun, kapan pun dan Atas nama apapun. Kekerasan dan penjajahan di atas dunia harus di hapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan keadilan," papar Amin.

Masih menurut Amin, Indonesia juga memiliki tanggung jawab sejarah, sejarah Indonesia yang berdiri sebagai negara yang merdeka sangat jelas dalam pembukaan konstitusi negara ini.?

"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan". Ini adalah tanggung jawab sejarah Indonesia berdiri," tandasnya. (Red: Fathoni)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Sejarah, Ahlussunnah Asli Muhammadiyah

Kamis, 31 Januari 2013

Pidato Lengkap Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Muhammad ath-Thayyib di Indonesia

Yang terhormat

Yang terhormat, Rektor UIN Jakarta,

Hadirin sekalian

Pidato Lengkap Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Muhammad ath-Thayyib di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pidato Lengkap Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Muhammad ath-Thayyib di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pidato Lengkap Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Muhammad ath-Thayyib di Indonesia

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Saya memulai ceramah saya dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah yang telah memberikan kesempatan kepada saya serta rombongan, baik dari Al-Azhar maupun dari Majelis Al-Hukama Muslim, untuk mengunjungi Republik Indonesia dan bertemu dengan rakyatnya yang sangat baik, terutama dengan saudara-saudara kami seagama. Mereka adalah umat Islam yang sangat menghargai Mesir, hal itu tercermin dalam kuatnya hubungan antara kedua belah pihak sepanjang sejarah umat Islam dimana keduanya berpegang teguh pada aqidah dan akhlaq Islam yang mulia.

Asli Muhammadiyah

Mungkin saya tidak berlebihan jika saya memuji bangsa Indonesia dengan mengatakan bahwa Indonesia telah Allah pilih sebagai negeri tempat menyebarkan Islam sebagai agama yang menyerukan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat serta menjaga orisinalitas dengan tetap menerima segala hal baru yang keduanya dipadukan secara baik dalam individu maupun masyarakat Indonesia.

Asli Muhammadiyah

Bangsa Indonesia juga telah mampu menyingkap khazanah keislaman yang suci serta nilai-nilai hukum Islam dan akhlaknya dengan mewujudkan nilai keadilan, persamaan, sikap terbuka pada orang lain serta memotivasi untuk memiliki sumber-sumber kekuatan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menyandarkan diri pada Allah semata, disertai usaha yang optimal sehingga kekuatan materi dan rohani tetap tercapai secara bersamaan.

Untuk itu, kemampuan bangsa Indonesia memadukan antara ilmu, iman dan amal telah menjadikan Indonesia mampu melakukan lompatan-lompatan sehingga menjadi salah satu negara termaju di kawasan Asia. Bahkan Indonesia telah menjadi macan Asia. Indonesia juga telah menjadikan Islam sebagai agama untuk membangun kehidupan dunia dan mencapai kebahagiaan ukhrawi, bahkan merupakan agama kemanusiaan secara universal.

Indonesia juga telah mampu membantah bohongnya tuduhan yang disampaikan oleh musuh-musuh Islam bahwa Islam adalah agama kemalasan dan tidak produktif sehingga masyarakatnya tidak maju bahkan Islam dianggap sebagai agama yang menghambat kemajuan ekonomi dan politik. Saat ini Indonesia telah menjadi model Negara Muslim yang dapat dibanggakan oleh umat Islam seluruh dunia, karena Indonesia telah mampu mencapai kemajuan ekonomi yang luar biasa terutama di Asia Tenggara.

Indonesia memeluk agama Islam melalui perantara para pedagang muslim. Kawasan Nusantara telah Allah jadikan berhati lembut dan sangat tertarik kepada Islam, karena ajaran dan akidah Islam yang sangat jelas toleran dan penuh keadilan. Selain itu kawasan Nusantara merupakan kawasan di Asia yang pertama kali menerima Islam yang dari waktu ke waktu Islam terus mengalami kemajuan di kawasan Nusantara sehingga Indonesia menjadi negara muslim terbesar dunia, dan mereka juga merupakan bangsa yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta al-Qur’an dan ajarannya.

Adapun terkait hubungan antara bangsa Indonesia dan Mesir seperti disampaikan para sejarawan bahwa hubungan tersebut telah dimulai beberapa abad yang lalu melalui hubungan dagang, pendidikan dan kebudayaan, dimana saat itu banyak para jamaah haji Indonesia yang sengaja datang ke Mesir untuk menuntut ilmu di Al-Azhar. Para sejarawan Eropa mencatat bahwa pada pertengahan abad ke 19 M telah dimulai kedatangan mahasiswa pelajar Indonesia di Al-Azhar yang menuntut ilmu dari para ulama Al-Azhar di Mesir.

Indonesia di Al-Azhar, tinggal di asrama-asrama yang di sebut dengan ruwak Jawa. Selain itu banyak penerbit Mesir yang menerbitkan berbagai karya ulama Indonesia. Pelajar Indonesia di Mesir juga banyak terpengaruh oleh gerakan-gerakan pembaharuan Mesir terutama yang dilkukn oleh Sheikh Mohammad Abduh dan para muridnya, ditambah dengan gerakan kebangsaan yang dipimpin oleh Mustafa Kamel serta para tokoh nasional Mesir lainnya saat itu.

Saat ini ada sekitar 5000 pelajar dan mahasiswa Indonesia yang belajar di Al-Azhar di antara mereka ada yang menapatkan beasiswa. Saat ini setiap tahun Al-Azhar memberikan 20 beasiswa kepada mahasiswa Indonesia selain itu setiap tahun Al-Azhar mengirim guru bahasa Arab ke sekolah sekolah di Indonesia dengan jumlah 31 orang.

Hadirin yang saya hormati,

Zaman kita sekarang ini menghadapi berbagai macam persoalan dan krisis yang sangat serius, terutama di bidang politik ekonomi dan lingkungan hidup. Persoalan seperti ini yang paling banyak terjadi terutama di dunia ketiga yang mengancam keamanan kesehatan, masyarakat serta Negara tersebut. Selain itu kita juga menghadapi ancaman hilangnya rasa perdamaian yang diikuti oleh menyebar luasnya kekacauan dan kegelisahan serta dominasi kekuatan pihak tertentu yang menguasai orang-orang lemah. Hal yang lebih buruk lagi hal seperti itu terwujud dengan banyaknya kejahatan dalam bentuk peperangan serta penumpahan darah mengatasnamakan agama, terutama dengan mengatasnamakan agama Islam dengan sengaja menyematkan sifat teroris pada Agama Islam, di mana pada saat yang bersamaan tidak ada satupun agama samawi yang disifati dengan sifat teroris. Tentu saja penyifatan ini merupakan sebuah kedzaliman dan menipu akal serta pemahaman yang benar serta tuduhan ini sangat bertentangan dengan realitas dan sejarah umat Islam. Sebab banyak pemeluk agama lain yang justru banyak menggunakan kekerasan dan tindakan kejahatan yang menggunakan atas nama agama mereka, hal ini sebagaimana diakui oleh mereka sendiri baik oleh para tokohnya ataupun oleh para pemeluk biasa. Jika tidak percaya silahkan jelaskan apa yang terjadi dengan perang salib di dunia timur Islam serta perang atas nama agama di Eropa, ditambah dengan pengadilan-pengadilan yang menjatuhkan vonis pada penganut agama Yahudi dan umat Islam. Tidakkah semua tindakan dan peperangan ini merupakan salah satu bentuk terorisme dan kejahatan yang merusak tata nilai kemanusiaan sepanjang sejarah?

Ada orang yang mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan tersebut merupakan kesalahan sejarah yang telah terjadi sudah sangat lama dan tidak ada pengaruh apapun pada kehidupan kita hari ini. Jika seperti itu silahkan anda dalami apa yang disebut dengan perang salib dua, di mana peperangan ini telah menjadi pintu masuk konflik panjang di dunia arab dan dunia Islam. Bahkan seorang penulis Amerika: John Fifer, menulis buku yang berjudul Perang salib II: perang barat dan penjajahan baru terhadap Islam. Tentu saja saya di sini tidak dapat menjelaskan secara detail apa yang dijelaskan oleh penulis tersebut tetapi saya ingin menekankan bahwa tindakan melanggar batas di luar ketentuan Islam yang dilakukan oleh sebagian kecil penganutnya di mana tindakan ini sangat ditentang oleh para ulama Islam serta para pemikirnya bahkan orang awam pun tidak dapat menerimanya, sikap melanggar batas tersebut juga ada pada pemeluk agama lain dimana para pelakunya dijanjikan akan mendapatkan surga.

Saya tegaskan bahwa dengan membaca kembali sejarah perbandingan terorisme, jelaslah bahwa umat Islam merupakan umat yang paling adil dan objektif di mana mereka dapat membedakan antara agama dan sikap sebagian pengikutnya. Umat Islam menilai peperangan yang dilakukan oleh orang barat terhadap Islam sebagian peperangan orang Eropa terhadap orang Islam dan tidak menuduh agama yang dianut oleh orang Eropa sebagai landasan ideologis tejadinya peperangan tersebut. Hal ini untuk membedakan antara nilai-nilai agama dengan perilaku para pemeluknya yang menjual belikan agamanya, dengan harga yang sangat murah. Hal ini merupakan salah satu wujud penghormatan umat Islam terhadap keyakinan agama lain mekipun umat Islam di seluruh penjuru dunia banyak ditindas dan selalu disingkirkan. Hanya saja kita tidak mungkin berdiam diri atas sikap yang menyududkan umat Islam, pembunuhan massal terhadap umat Islam seperti yang terjadi di Myanmar di tengah-tengah diamnya masyarakat dan media internasional, padahal mereka mengaku sebagai masyarakat yang sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan tanpa membedakan antara muslim dan non-muslim.

Kita juga tidak mungkin berdiam diri terhadap apa yang saat ini menimpa masjidil aqsa yang merupakan kiblat pertama umat Islam dan tempat isra’ mi’raj Rasulullah, dari penjajahan dan penghinaan yang dilakukan oleh Negara lain sehingga sangat menghinakan nilai-nilai dan peninggalan umat Islam. Jika seperti ini dunia barat banyak meneriakkan terhadap segala sesuatu sikap permusuhan yang menimpa orang Kristen di timur, padahal mereka di dunia timur bisa hidup dengan damai dan berdampingan dengan umat Islam, mereka juga berdiam diri terhadap setiap permusuhan yang menimpa umat Islam menghancurkan para wanita dan anak-anak mereka. Untuk itu saya katakan jika lembaga-lembaga keagamaan di barat yang sangat besar membolehkan dirinya untuk menyuruh umatnya dalam menyikapi peristiwa-peristiwa tersebut, maka saya juga harus memainkan peran saya untuk menyeru mereka yang memiliki akal dan perasaan di seluruh dunia untuk menyelesaikan problem serta sikap permusuhan umat non-muslim kepada umat Islam baik di timur maupun di barat. Hal ini saya lakukan demi mewujudkan perdamaian dan nilai-nilai kemanusiaan baik di timur maupun di barat.

Hadirin sekalian,

Sesungguhnya Allah SWT tidak pernah menurunkan agama untuk memecah belah umat manusia, tidak juga untuk memberikan kemadharatan dan rasa takut kepada umat manusia tetapi Dia menurunkan agama sebagai cahaya petunjuk dan rahmah serta kasih sayang. Dimana umat Islam merupakan makhluk yang sangat jauh dari berbagai tindakan yang berbau terorisme serta tindakan-tindakan kekerasan pertumpahan darah serta menyia-nyiakan manusia.

Saya secara pribadi tidak pernah menemukan satu buku pun dalam agama lain di dunia ini yang mengancam setiap pelaku kejahatan terorisme dan pertumpahan darah dengan hukuman yang sangat berat sebagaimana terdapat dalam kitab suci umat Islam. Dimana Islam mengancam pelaku kejahatan dengan siksaan yang sangat berat, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan demikian, bagaimana mungkin Islam dijuluki sebagai agama teroris, padahal Islam adalah agama yang diproklamirkan oleh Rasulnya bahwa Islam adalah yang menjamin setiap manusia merasa aman dan selamat dari tindakan dan perkataan tetangganya. Rasulullah bersabda, Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram meneteskan darah, merampas harta dan kehormatan. Islam juga tidak hanya melarang pembunuhan dan penetesan darah, bahkan Islam juga melarang sikap menakut-nakuti orang lain meskipun hanya bercanda. Oleh karena itu, saya tidak mungkin, dan tidak masuk akal, agama ini dituduh sebagai agama terorisme dan haus kekerasan padahal Rasulnya disebut sebagai pembawa kasih

sayang kepada seluruh umat manusia.

Al-Qur’an sendiri mengajarkan bahwa kata kasih sayang yang disebut berulang-ulang dalam al-Qur’an dan diikuti dengan kata-kata kejujuran, keadilan, amanah, memaafkan dan memenuhi janji berkali-kali bahkan kata kasih sayang yang diajarkan Islam disebut dalam Alquran, bukti lain adalah bahwa kasih sayang yang diajarkan oleh Islam tidak hanya untuk sesama muslim tetapi harus berlaku untuk seluruh umat di seluruh dunia, baik makhluk hidup maupun benda mati. Jika Anda memperhatikan sejarah nabi Muhammad maka Anda akan terkejut dengan perilaku beliau yang sangat penuh dengan nilai-nilai cinta kasih yang terwujud dalam perilakunya baik kepada manusia, hewan maupun makhluk lainnya.

Untuk itu saya berharap agar seluruh hadirin dapat memperbandingkan antara akhlak dan nilai luhur yang diajarkan oleh Islam bahkan pada saat terjadi peperangan dalam bentuk sikap adil kepada musuh, dilarang membunuh wanita, orang tua serta anak kecil. Sikap ini membuktikan bahwa Islam sangat menekankan nilai-nilai kasih sayang meskipun kepada musuh. Oleh sebab itu sangat tidak masuk akal jika saat ini dengan sangat serampangan Islam dihukumi sebagai agama penyebar kekerasan. Jika saat ini ajaran agama Islam dikotori dengan perilaku sebagian umatnya yang berani melakukan pembunuhan meneteskan darah umat Islam dan umat lainnya dengan menilai perbuatan ini sebagai jihad di jalan allah demi menegakkan Negara Islam, mengkafirkan orang-orang yang berseberangan dengan mereka, ini merupakan tindakan yang tidak diajarkan oleh Islam bahkan Islam sangat menentang perbuatan tersebut. Untuk itu Al-Azhar mengemban amanat yang sangat besar untuk menyapaikan pesan ini sebab kami akan ditanya dihadapan Allah di hari kiamat untuk selalu mengingatkan dan memperbaiki sikap serta pemikian sebagian kecil pemeluk agama islam yang menyimpang, bahwa sikap-sikap tersebut bukan bagian dari ajaran Islam, dimana ini sangat merusak citra Islam serta nilai-nilainya yang sangat suci, serta membuka pintu kepada para musuh Islam untuk menghina Islam dan merendahkannya. Untuk itu Al-Azhar menyeru para pemuda yang terpengaruh pemikiran-pemikiran yang menyimpang tersebut agar mereka segera sadar dan kembali kepada jalan yang benar serta mengingatkan bahwa perilaku mereka yang bersikap ekstrim merupakan perilaku yang sangat dilarang Islam. Untuk itu dalam rangka mengemban amanah mengingatkan umat Islam, terutama para pemuda tersebut, saya serukan kepada mereka yang mengotori agama ini agar segera kembali dan menyesali tindakan mereka, dan segera bertaubat kepada Allah SWT atas tindakan yang telah mengotori ajaran agama Islam. Di sini saya juga ingin mengingatkan diri saya dan para ulama umat di mana kita semua akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kiamat untuk menghabiskan segala daya upaya untuk saling menasehati dalam rangka menjaga keutuhan umat serta kemurnian akidah mereka dari ajaran-ajaran yang ekstrim serta tindakan-tindakan bodoh sebagian kecil pelakunya. Kita juga perlu mengingat perlunya segera menanamkan fikih yang penuh kemudahan dalam rangka memerangi fikih ekstrim dengan terus berupaya mengantisipasi upaya westernisasi dan penghancuran identitas umat Islam serta ajaran agamanya, secara bersungguh-sungguh. Kita juga perlu untuk memperbaiki sitem pendidikan dalam menanamkan fikih penuh kemudahan menerima orang lain secara berdampingan berdasarkan al-Qur’an dan sunah dengan menghindarkan berbagai perbedaan kecil dalam hal-hal yang bersifat tidak prinsipil.

Saya juga menyeru agar umat ini banyak meminta fatwa kepada para ahli ilmu mendalam yang menganut paham sunni, serta dari mereka yang menguasai temuan-temuan moderan di abad ini. Mereka juga perlu segera sadar banyaknya tantangan yang dihadapi oleh umat Islam, di mana fanatisme terhadap golongan telah menjadi hal utama menjadi penyebab perpecahan umat, sehingga para musuhnya dengan mudah dapat memecah belah umat Islam dan menyebarkan kebencian kepada umat Islam.

Terakhir tidak ada yang dapat kita lakukan saat ini kecuali berpegang teguh pada al-Qur’an dan sunnah untuk menghindarkan perpecahan umat. Selain itu kita sekalian sebagai ulama umat ini perlu megingat kembali peringatan dari Rasulullah SAW yang menyerupakan umat akhir zaman ini sebagai menu makanan yang dapat disantap dengan mudah dan diperebutkan oleh para musuh Islam, untuk itu kita harus benar-benar sadar akan peringatan nabi ini untuk menghindarkan perpecahan yang menjadikan umat islam sebagai umat yang hanya menjadi objek umat lain dan tanpa daya upaya. Kita perlu memaksimalkan segala daya upaya yang kita miliki untuk memaksimalkan segala sumber daya yang kita miliki untuk memperbaiki kondisi umat agar lebih baik, sehingga jika ini benar-benar kita laksanakan maka umat Islam akan mendapatkan kejayaan sebagaimana kejayaaan yang pernah dialami masa lalu. Semoga ini menjadi pengingat bagi kita semua.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh



* Pidato disampaikan dalam Orasi Perdamaian dan Kemanusiaan di Auditorim Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa 23 Februari 2016; naskah transkripsi dan terjemahan ini dikirim ke Asli Muhammadiyah oleh Zaenal Muttaqin



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kiai, Ubudiyah, Warta Asli Muhammadiyah