Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Januari 2018

Terinspirasi Sang Ibu, Tiga Saudara Ini Aktif Berfatayat

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Tidak banyak yang tahu jika di Fatayat ada tiga bersaudara kandung yang aktif di organisasi perempuan NU ini. Mereka bertiga menjadi pengurus Fatayat di tempat maupun jenjang struktur yang berbeda. Ada yang di daerah, pusat, maupun mancanegara.

Terinspirasi Sang Ibu, Tiga Saudara Ini Aktif Berfatayat (Sumber Gambar : Nu Online)
Terinspirasi Sang Ibu, Tiga Saudara Ini Aktif Berfatayat (Sumber Gambar : Nu Online)

Terinspirasi Sang Ibu, Tiga Saudara Ini Aktif Berfatayat

Asli Muhammadiyah berhasil mewawancarai ketiganya di sela-sela Kongres ke-15 Fatayat NU di Surabaya. Tepatnya ketika sarapan pagi di Hall A Asrama Haji Sukolilo, Senin (21/9) jelang sidang komisi.

Siapa saja mereka? Pertama, Yuliana Mahdiyah Da’at Arina (Sekretaris PC FNU Jember). Kedua, Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah (Koordinator Advokasi Hukum dan Politik PP FNU), Ketiga, Ibanah Suhrowardiyah Shiam Mubarokah (Ketua PCI FNU Malaysia).

Asli Muhammadiyah

Ketiga perempuan cerdas nan enerjik ini merupakan putri pasangan KH Abdul Hamid Hidlir dan Nyai Hj Faiqotul Himmah asal Jember, Jawa Timur.

Asli Muhammadiyah

“Sebenarnya ada satu lagi. Kakak kami yang pertama, Eva Fahmadia Jilan Maulida, jadi Bendahara PCFNU Magelang. Sayangnya hari ini nggak bisa bersama kami di sini,” tambah Iklilah.

Menurut Iklilah, ibu mereka merupakan prototipe perempuan yang sukses menyiapkan kader Fatayat sejak dini. Kaderisasi di internal keluarga sangat efektif membentuk kader handal untuk masa depan.

“Buat saya, ibu kami adalah perempuan yang berhasil melakukan kaderisasi Fatayat. Karena kami semua bersaudara itu enam orang. Nomor 1 sampai 4 perempuan. Nomor 5 dan 6 lelaki. Nah, kebetulan keempat-empatnya aktif di Fatayat,” tuturnya.

Iik, sapaan akrabnya, bercerita, ibu mereka aktif di Fatayat sejak muda. Namun, ia tidak tahu persisnya kapan. “Yang jelas sejak kami masih kanak-kanak. Kebetulan memang adik kakek kami (KH Abdul Halim Siddiq) jadi Rais Aam Syuriah PBNU waktu itu, Mbah Ahmad Shiddiq,” ungkapnya.

Menurut Iik, sebenarnya ibu mereka tidak pernah mendorong para putrinya masuk ke Fatayat. “Karena kultur kami di NU ya, jadi aku tertarik aja aja masuk Fatayat. Kan waktu aliyah aku juga masuk IPPNU,” ujar bendahara LP Ma’arif ini.

Ibu, Sang Inspirator Sejati

Ketiga bersaudara ini sependapat bahwa ibu mereka menginspirasi anak-anaknya aktif di Fatayat. Bahkan, sejak kecil mereka sudah sering ikut ke acara pengajian Fatayat lantaran sang ibu seorang muballighah (penceramah agama).

Senada dengan Iik, Ibanah dan Rina merasa kenal Fatayat sejak kecil. “Perasaan, kami kenal Fatayat sejak kecil. Bahkan, kami yang masih kanak-kanak waktu itu juga hafal mars Fatayat. Padahal nggak ngerti maksudnya,” kata mereka bersamaan sembari tertawa riang.

Gambaran dan situasi kegiatan Fatayat sejak dari ibu mereka memang diramaikan oleh kehadiran anak kecil yang turut memeriahkan acara. “Jadi mungkin itu kaderisasi secara alamiah dan kultural ya,” ujar Rina menimpali.

Bagaimana ketiga srikandi asal Jember ini berfatayat? Simak cerita singkatnya berikut ini. (Baca: Dokter Gigi Pun Berfatayat Ria) (Musthofa Asrori/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Khutbah, Pondok Pesantren, Kiai Asli Muhammadiyah

Senin, 15 Januari 2018

Hubungan Umara-Ulama Tentukan Kondisi Bangsa

Cikura, Asli Muhammadiyah. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan bahwa salah satu penentu sebuah bangsa yang baik ada pada hubungan baik antara sesama ulama serta antara ulama dan umara. Hal itu disampaikan Menag saat memberikan sambutan pada pembukaan acara Ijtima Ulama ke-5 di Pondok pesantren At-Tauhidiyah, Tegal, Jawa Tengah, Senin (07/06) sebagaimana dilansir oleh situs kemenag.go.id.

Hubungan Umara-Ulama Tentukan Kondisi Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Hubungan Umara-Ulama Tentukan Kondisi Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Hubungan Umara-Ulama Tentukan Kondisi Bangsa

Dalam sambutannya, Menag menyampaikan bahwa kebutuhan mendasar dari setiap umat beragama adalah menjalankan hukum dan syariat agama yang diyakininya dalam kehidupan sehari-hari. Bagi Menag, hukum, sebagaimana masyarakat, senantiasa tumbuh dan berkembang sesuai kebutuhan masyarakat. “Kalau kita lihat sejarah, penerapan hukum Islam di Indonesia mengalami pasang surut sejak masa kolonialisme dan masa kemerdekaan hingga era reformasi,” papar Menag.

Membaca sejarah, Menag menyampaikan bahwa pada zaman kerajaan dan keslutanan di Nusantara, hukum Islam sudah memiliki eksistensinya sebagai hukum yang hidup pada masyarakat muslim, terutama hukum perkawinan.  Akulturasi hukum Islam dengan adat berjalan harmonis, seperti di beberapa daerah semisal, Aceh, Sulawesi, Minangkabau, dan Riau; hukum Islam diterima sederajat dengan hukum adat. 

Asli Muhammadiyah

“Hal ini dibuktikan dengan sebuah pepatah, adat basandi syara, syara basandi Kitabullah,” tandas Menag.

Asli Muhammadiyah

Dukungan untuk melaksanakan ajaran dan hukum Islam pada waktu itu bukan hanya dari para ulama, tetapi juga dari pengusaha politik, para raja dan sultan. Seperti tercatat dalam sejarah, kerajaan-kerajaan seperti kesultanan Aceh, Deli, Palembang, Gowa dan lainnya. Kerajaan-kerajaan tersebut telah menggunakan hukum Islam terutama hukum keluarga dan hukum perdata sebagai hukum positif di negerinya.

Dalam pemerintahan dan perundang-undangan, Lanjut Menag, banyak materinya diambil dari kitab fiqh yang dianggap representatif, dan mendorong lahirnya peraturan lain yang bersumber dari hukum fiqh, seperti UU No 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan PP No 28 tahun 1977 tentang perwakafan dan Undang-undang peradilan Agama.

“Selain itu, UU No 3 tahun 2006 tentang peradilan Agama, yang memberikan kewenangan baru di bidang ekonomi syariah, zakat dan infaq, selain perkawinan, kewarisan, hibah, wasiat, wakaf, dan shadaqoh,” tambah Menag.

Ketum MUI Din Syamsuddin menyampaikan Ijtima ini merupakan agenda 3 tahunan MUI khususnya komisi fatwa. Ijtima ulama pertama dilaksanakan di Jakarta, kedua, di Pondok Pesantren Gontor, ketiga, di Padang Panjang, ke empat di Ponpes Cipasung dan kelima di Ponpes At-Tauhidiyah, Tegal, Jateng. 

“Agenda 3 tahunan ini mempunyai maqam yang tinggi, dan fatwanya juga berada dalam maqam yang tinggi pula,” kata Din Syamsuddin.

Ijtima Ulama ini akan membahas tiga hal, yaitu: masalah-masalah kebangsaaan strategis, persoalan hukum kontemporer,  serta hubungan kelembagaan dan perundang-undangan. 

“Inilah pertanggungjawaban MUI terhadap permasalahan bangsa,” katanya.

Ketum MUI ini berharap, fatwa-fatwa yang dihasilkan ini nantinya menjadi pencerah dan pembimbing bagi ummat. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kiai Asli Muhammadiyah

Minggu, 14 Januari 2018

IPNU-IPPNU Unnes Rayakan Nisfu Sya’ban dengan Pelatihan Menulis

Semarang, Asli Muhammadiyah. Ketika banyak pihak terus mempersoalkan hukum merayakan nisfu sya’ban, IPNU-IPPNU Komisariat Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengadakan pelatihan kepenulisan, Selasa (2/6). Kegiatan ini dilaksanakan di gedung sekretariat NU Sekaran dan dihadiri oleh anggota PKPT IPNU-IPPNU Unnes.

“Di hari libur ini, kami mengadakan pelatihan kepenulisan dengan tujuan untuk menumbuhkan tradisi menulis bagi kader IPNU-IPPNU dan mengembangkan talenta mereka yang memiliki bakat minat di bidang jurnalistik,” tutur Farid Luthfi Assidiqi selaku ketua panitia.?

IPNU-IPPNU Unnes Rayakan Nisfu Sya’ban dengan Pelatihan Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Unnes Rayakan Nisfu Sya’ban dengan Pelatihan Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Unnes Rayakan Nisfu Sya’ban dengan Pelatihan Menulis

Kegiatan ini diisi dengan materi tentang pengenalan media dan pengelolaan web oleh Luthfi MK dari BPTIK Unnes serta materi tentang cara menulis berita oleh Moh Ichwan dari Asli Muhammadiyah.?

Asli Muhammadiyah

Luthfi MK sebagai pemateri pertama memaparkan tentang pentingnya kemauan menulis dengan keunggulan di bidang IT. Sedangkan pemateri kedua Moh Ichwan menggodog para peserta pelatihan kepenulisan tentang tata cara menulis berita yang baik dan menarik. Selain itu, para peserta langsung praktik membuat berita dengan tema pemblokiran situs-situs radikal.

Di akhir acara, Moh Ichwan berpesan kepada peserta tentang kunci agar bisa menulis dengan baik. “Harus banyak membaca dan berlatih menulis, rekan-rekanita bisa memulai dengan menulis status di media sosial. Jangan lagi membuat status yang alay tapi buatlah status yang dapat memberikan informasi dan inspirasi kepada pembacanya,” tandasnya. (Farid Luthfi/Fathoni)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Aswaja, Kiai Asli Muhammadiyah

Selasa, 02 Januari 2018

90 Persen Siswa Sekolah LP Ma’arif NU Lulus UN

Jakarta, Asli Muhammadiyah

90 persen siswa sekolah atau madrasah yang berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) pada Ujian Nasional (UN) tahun ini dinyatakan lulus.

“Berdasarkan laporan dari wilayah-wilayah, angka kelulusan Ujian Nasional siswa sekolah yang berada di bawah naungan Ma’arif mencapai 90 persen,” kata Ketua Umum PP LP Maarif NU, Najid Muchtar kepada wartawan di kantornya Jalan Taman Amir Hamzah, Matraman Timur, Jakarta, Kamis (29/6)

90 Persen Siswa Sekolah LP Ma’arif NU Lulus UN (Sumber Gambar : Nu Online)
90 Persen Siswa Sekolah LP Ma’arif NU Lulus UN (Sumber Gambar : Nu Online)

90 Persen Siswa Sekolah LP Ma’arif NU Lulus UN

Nadjid yang dalam kesempatan itu didampingi sejumlah pengurus PP LP Ma’arif NU, di antaranya Mamad Salamet dan Aceng Abdul Azis, menyatakan, data tersebut menunjukan bahwa jumlah siswa yang tidak lulus pada tahun ini masih cukup besar.

Ditambahkan Nadjid, sebagai lembaga yang bertanggungjawab dalam bidang pendidikan di lingkungan NU, LP Ma’arif NU, saat ini sedang berusaha mencari solusi untuk mengatasi para siswa yang dinyatakan tidak lulus, yang jumlahnya mencapai 10 persen. LP Ma’arif NU, katanya, tetap pada sikap semula, yaitu menuntut pemerintah untuk menyelenggarakan UN ulang.

”Sekarang kami sedang berpikir bagaimana mereka yang tidak lulus ini. Kami tetap pada sikap kami, yakni pemerintah harus menggelar UN ulang,” ungka Nadjid.

Asli Muhammadiyah

Banyaknya jumlah siswa yang tidak lulus, lanjut Nadjid, terutama yang berada dalam naungan LP Ma’arif NU, bukan semata kesalahan siswa, melainkan juga kesalahan pemerintah yang tidak memberikan fasilitas pendidikan merata pada setiap sekolah. Kualitas sekolah, katanya, tidak bisa disamaratakan.

“Ujian Nasional itu tidak adil. Banyak yang tidak lulus itu bukan kesalahan siswa. Kualitas sekolah tidak bisa disamaratakan, karena pemerintah belum memberikan fasilitas kepada sekolah. Jadi, Ujian Nasional ulang adalah jalan terbaik untuk mengatasi masalah ini,” jelasnya.

Najid menegaskan, sejak awal LP Ma’arif NU tidak setuju pada pelaksanaan Unas, jika itu untuk menjadi ukuran kelulusan siswa. Unas, kata Najid, seharusnya hanya dijadikan sebagai pengukur standar kualitas pendidikan, bukan untuk standar kelulusan.

”Inti pendidikan tidak hanya pada Ujian Nasional itu saja. Ada aspek-aspek lain yang harus dijadikan ukuran. Pihak sekolah sebenarnya yang punya hak untuk meluluskan siswa, karena sekolah yang memantau siswa setiap hari. Masa pemerintah nggak ikut mendidik, kok ikut meluluskan,” katanya. (rif)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kiai, Nusantara Asli Muhammadiyah

Senin, 25 Desember 2017

Akhirnya, Pemimpin ISIS Asia Tenggara Tewas di Marawi

Manila, Asli Muhammadiyah. Menteri Pertahanan Filipina, Senin (16/10), melaporkan Isnilon Hapilon, seorang gerilyawan ISIS, tewas dalam pertempuran merebut sebuah kota di Filipina yang dikuasai pemberontak.

Hapilon masuk dalam daftar "teroris yang paling dicari" Amerika Serikat. Para analis keamanan meyakini Hapilon sebagai pemimpin ISIS di Asia Tenggara. Ia ingin membangun kekhalifahan di sini karena ISIS menghadapi kekalahan di Irak dan Suriah.

Akhirnya, Pemimpin ISIS Asia Tenggara Tewas di Marawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhirnya, Pemimpin ISIS Asia Tenggara Tewas di Marawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhirnya, Pemimpin ISIS Asia Tenggara Tewas di Marawi

"Pasukan kami mampu menemukan Isnilon Hapilon dan Omar Maute. Mereka berdua terbunuh," kata Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana seperti dilansir kantor berita AFP. Omar adalah tokoh ISIS lain yang bersama Hapilon memimpin serangan di kota Marawi, Filipina selatan, Mei lalu.

Sebelumnya, pemerintah AS menawarkan hadiah 5 juta dollar AS untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Hapilon, pria 51 tahun yang menjadi pemimpin senior kelompok Abu Sayyaf yang berbasis di Filipina selatan. AS menyebut kelompok ini sebagai "organisasi teroris asing".

Asli Muhammadiyah

Lorenzana mengatakan, pasukan darat Filipina yang melakukan serangan terakhir terhadap militan di Marawi berhasil menewaskan Hapilon dan Omarkhayam Maute, Senin pagi.

Mayat kedua pria tersebut akan menjalani tes DNA menyusul tawaran hadiah dari pemerintah AS dan Filipina, tambahnya.

Asli Muhammadiyah

"Implikasi dari perkembangan ini adalah bahwa insiden Marawi sudah hampir berakhir dan kami mungkin akan mengumumkan penghentian pertempuran dalam beberapa hari," kata Lorenzana.

Militer Filipina mengatakan Hapilon bergabung dengan kelompok Maute pada 23 Mei untuk membuat kekacauan di Marawi. 

Pasukan bersenjata pro-ISIS menduduki sebagian daerah Marawi, kota Muslim Filipina yang mayoritas Katolik, juga pada 23 Mei. Sejak itu lebih dari 1.000 orang terbunuh dan 400.000 orang mengungsi.

Lorenzana menambahkan, tentara Filipina masih mengejar pemimpin militan Malaysia Mahmud Ahmad di zona pertempuran Marawi. Menurut pihak berwenang setempat, Ahmad dianggap membantu merencanakan serangan Marawi. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kiai Asli Muhammadiyah

Sabtu, 16 Desember 2017

Menaker: Kompetensi sebagai Kunci Masuk Dunia Kerja

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri? mendorong tenaga kerja Indonesia memiliki akses yang lebih baik untuk meningkatkan kompetensi.

Menaker: Kompetensi sebagai Kunci Masuk Dunia Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker: Kompetensi sebagai Kunci Masuk Dunia Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker: Kompetensi sebagai Kunci Masuk Dunia Kerja

"Kompetensi sangat penting untuk memasuki pasar kerja yang semakin kompetitif," kata Menaker Hanif saat menghadiri Dialog Bersama Menteri Ketenagakerjaan bertajuk Lets Do Something for Nation yang diselenggarakan oleh IPMI International Business School, Jumat (17/11).

Pada kesempatan tersebut, Menaker mendorong agar dunia usaha lebih terlibat dalam masalah pendidikan vokasi.

"Salah satu masalah dunia kerja adalah miss-match kompetensi. Untuk mengurangi itu, maka industri harus terlibat dalam proses pendidikan, sehingga lulusannya sesuai dengan kebutuhan industri," ujar Menaker.

Asli Muhammadiyah

Dijelaskan lebih lanjut oleh Menaker, keterlibatan industri bisa dari berbagai sektor, misalnya dalam membuat kurikulum. Menaker juga menghimbau supaya lembaga pendidikan? memperhatikan perkembangan teknologi yang semakin pesat.

"Karena perubahan teknologi, maka karakter pekerjaan juga berubah, sehingga keterampilan yang diperlukan juga berubah," tuturnya.

Dikatakan Menaker, perkembangan teknologi juga harus dimanfaatkan untuk mempermudah proses pembelajaran.

"Misalnya di BLK, proses pembelajaran di BLK 30% teori dan 70% praktik. Kedepannya, penyampaian teori tersebut akan dilakukan melalui e-learning, sehingga akan lebih efisien," jelas Hanif.

Asli Muhammadiyah

Selain itu, dalam upaya meningkatkan kompetensi di bidang ketenagakerjaan, Kementerian Ketenagakerjaan juga membangun Politeknik Ketenagakerjaan.

"Saya ingin membangun perguruan tinggi yang bisa memfasilitasi berbagai pihak yang ingin mendalami tentang ketenagakerjaan," jelas Hanif.

Dasar dari Politeknik Ketenagakerjaan, paparnya, adalah sertifikasi profesi, sehingga mahasiswa ada pengamannya jika terjadi hal-hal yang buruk, karena mereka sudah memiliki sertifikat kompetensi di setiap jenjang.

Sementara itu, CEO IPMI International Business School Jimmy M. Rifai Gani mengatakan, untuk meningkatkan kapasitas pekerja harus dilakukan bekerjasama antara pemerintah dengan berbagai pihak, salah satunya adalah para pengusaha.

"Cara paling cepat untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan cara meningkatkan kapasitas pekerja, dan disini diperlukan keterlibatan dunia usaha," kata Jimmy.

Dijelaskan Jimmy, daya saing pekerja Indonesia semakin membaik, dari rangking 41 di tahun 2016, saat ini menjadi rangking 36. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pesantren, Kiai, Sholawat Asli Muhammadiyah

Kamis, 14 Desember 2017

Pimpinan NU dan Pesantren Sambangi Santri Korban Kecelakaan

Jombang, Asli Muhammadiyah. Beberapa pengasuh pesantren, fungsionaris lembaga dan badan otonom NU di Jombang Jawa Timur melakukan kunjungan ke RSUD Jombang. Tujuannya adalah membesuk Ahmad Basroni (22), salah satu santri yang menjadi korban kecelakaan usai apel dan kirab peringatan Hari Santri Nasional (HSN), Sabtu (22/10) lalu.

Pimpinan NU dan Pesantren Sambangi Santri Korban Kecelakaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pimpinan NU dan Pesantren Sambangi Santri Korban Kecelakaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pimpinan NU dan Pesantren Sambangi Santri Korban Kecelakaan

Tampak bergabung Ketua PW LKKNU (Pengurus Wilayah Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama) Jatim, H Zahrul Azhar Asumnta (Gus Han), Sekretaris PCNU Jombang Muslimin Abdilla, Ketua PC GP Ansor Jombang Zulfikar Dawam Ikhwanto, Ketua Lazisnu (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah NU) Didin Ahmad Solahudin.?

Demikian juga pula puluhan aktivis NU setempat yang bersama rombongan membesuk santri Pondok Pesantren At-Tahdzib Ngoro tersebut di ruang Asoka RSUD Jombang.

"Kehadiran kami demi meringankan beban biaya perawatan selama di sini," kata Gus Han saat menyerahkan bantuan, Senin (24/10). Apalagi korban tercatat sebagai santri yatim piatu yang berasal dari Lampung, lanjutnya.

Asli Muhammadiyah

Tidak hanya membesuk korban, rombongan juga diterima Direktur RSUD Jombang. "Alhamdulillah kami diterima direktur, dan insyaallah seluruh beban pengobatan ditanggung oleh bupati atau RSUD," kata salah satu pengasuh di Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan ini.

Menurut Gus Han, "Kehadiran rombongan sebagai wujud kebersamaan dan perhatian para pengasuh pesantren kepada santri yang turut memeriahkan hari santri," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah Nasional, Kiai Asli Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa admin situs Asli Muhammadiyah sangat membenci AdBlock karena dengan adanya iklan maka situs Asli Muhammadiyah bisa tetap berjalan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Tulisan
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Asli Muhammadiyah dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock