Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Januari 2018

Terinspirasi Sang Ibu, Tiga Saudara Ini Aktif Berfatayat

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Tidak banyak yang tahu jika di Fatayat ada tiga bersaudara kandung yang aktif di organisasi perempuan NU ini. Mereka bertiga menjadi pengurus Fatayat di tempat maupun jenjang struktur yang berbeda. Ada yang di daerah, pusat, maupun mancanegara.

Terinspirasi Sang Ibu, Tiga Saudara Ini Aktif Berfatayat (Sumber Gambar : Nu Online)
Terinspirasi Sang Ibu, Tiga Saudara Ini Aktif Berfatayat (Sumber Gambar : Nu Online)

Terinspirasi Sang Ibu, Tiga Saudara Ini Aktif Berfatayat

Asli Muhammadiyah berhasil mewawancarai ketiganya di sela-sela Kongres ke-15 Fatayat NU di Surabaya. Tepatnya ketika sarapan pagi di Hall A Asrama Haji Sukolilo, Senin (21/9) jelang sidang komisi.

Siapa saja mereka? Pertama, Yuliana Mahdiyah Da’at Arina (Sekretaris PC FNU Jember). Kedua, Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah (Koordinator Advokasi Hukum dan Politik PP FNU), Ketiga, Ibanah Suhrowardiyah Shiam Mubarokah (Ketua PCI FNU Malaysia).

Asli Muhammadiyah

Ketiga perempuan cerdas nan enerjik ini merupakan putri pasangan KH Abdul Hamid Hidlir dan Nyai Hj Faiqotul Himmah asal Jember, Jawa Timur.

Asli Muhammadiyah

“Sebenarnya ada satu lagi. Kakak kami yang pertama, Eva Fahmadia Jilan Maulida, jadi Bendahara PCFNU Magelang. Sayangnya hari ini nggak bisa bersama kami di sini,” tambah Iklilah.

Menurut Iklilah, ibu mereka merupakan prototipe perempuan yang sukses menyiapkan kader Fatayat sejak dini. Kaderisasi di internal keluarga sangat efektif membentuk kader handal untuk masa depan.

“Buat saya, ibu kami adalah perempuan yang berhasil melakukan kaderisasi Fatayat. Karena kami semua bersaudara itu enam orang. Nomor 1 sampai 4 perempuan. Nomor 5 dan 6 lelaki. Nah, kebetulan keempat-empatnya aktif di Fatayat,” tuturnya.

Iik, sapaan akrabnya, bercerita, ibu mereka aktif di Fatayat sejak muda. Namun, ia tidak tahu persisnya kapan. “Yang jelas sejak kami masih kanak-kanak. Kebetulan memang adik kakek kami (KH Abdul Halim Siddiq) jadi Rais Aam Syuriah PBNU waktu itu, Mbah Ahmad Shiddiq,” ungkapnya.

Menurut Iik, sebenarnya ibu mereka tidak pernah mendorong para putrinya masuk ke Fatayat. “Karena kultur kami di NU ya, jadi aku tertarik aja aja masuk Fatayat. Kan waktu aliyah aku juga masuk IPPNU,” ujar bendahara LP Ma’arif ini.

Ibu, Sang Inspirator Sejati

Ketiga bersaudara ini sependapat bahwa ibu mereka menginspirasi anak-anaknya aktif di Fatayat. Bahkan, sejak kecil mereka sudah sering ikut ke acara pengajian Fatayat lantaran sang ibu seorang muballighah (penceramah agama).

Senada dengan Iik, Ibanah dan Rina merasa kenal Fatayat sejak kecil. “Perasaan, kami kenal Fatayat sejak kecil. Bahkan, kami yang masih kanak-kanak waktu itu juga hafal mars Fatayat. Padahal nggak ngerti maksudnya,” kata mereka bersamaan sembari tertawa riang.

Gambaran dan situasi kegiatan Fatayat sejak dari ibu mereka memang diramaikan oleh kehadiran anak kecil yang turut memeriahkan acara. “Jadi mungkin itu kaderisasi secara alamiah dan kultural ya,” ujar Rina menimpali.

Bagaimana ketiga srikandi asal Jember ini berfatayat? Simak cerita singkatnya berikut ini. (Baca: Dokter Gigi Pun Berfatayat Ria) (Musthofa Asrori/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Khutbah, Pondok Pesantren, Kiai Asli Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

Tiga Poin Penting Adanya Peringatan Hari Santri

Sragen, Asli Muhammadiyah - Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sragen KH Agus Budiharto mengungkapkan, ada tiga poin penting, pada momentum Peringatan Hari Santri Nasional (HSN).

“Pertama, bahwa santri merupakan bagian tak terpisahkan dari para pejuang kemerdekaan bangsa,” kata dia, pada peringatan HSN 2016, di Lapangan Alun-alun Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Sabtu (22/10).

Tiga Poin Penting Adanya Peringatan Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Poin Penting Adanya Peringatan Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Poin Penting Adanya Peringatan Hari Santri

Sejarah mencatat, proses berdirinya bangsa Indonesia, mulai dari sebelum mencapai kemerdekaan, hingga sesudahnya, tidak lepas dari jasa dan kontribusi kaum santri.

Asli Muhammadiyah

Kedua, lanjutnya, kaum santri dianggap sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa dalam menumpas kemungkaran di negara ini. Sedangkan yang ketiga, keberadaan pondok pesantren dan santri dianggap sebagai lembaga dan komunitas yang memiliki komitmen tinggi terhadap bangsa dan negara.

“Komitmen ini terwujud, baik dalam perjuangan mengisi kemerdekaan melalui pendidikan maupun melalui kiprah nyatanya di masyarakat,” ujar dokter yang juga mubaligh asal Gemolong, Sragen, itu.

Asli Muhammadiyah

Agus menambahkan, seorang santri selain harus bisa mengaji, semestinya juga tidak meninggalkan kewajiban mereka mengenyam pendidikan bangku sekolah. “Santri itu harus lengkap, sekolah dan mengaji,” kata dia.

Puncak peringatan HSN 2016, dipusatkan di Alun-alun Kabupaten Sragen. Acara tersebut diikuti ribuan peserta dari berbagai elemen masyarakat, tak terkecuali para pengasuh pesantren dan tokoh NU di Sragen. Turut hadir dalam kesempatan itu, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pendidikan, Khutbah Asli Muhammadiyah

Minggu, 07 Januari 2018

Gus Mus: Mbah Shobib adalah Wali

Jepara, Asli Muhammadiyah?

Pengasuh pesantren Raudlatul Thalibin Leteh, Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri yang rawuh pada Haul ke-8 Simbah Shobiburrohman bin Simbah H. Anwar di desa Menganti Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Kamis (30/3) kemarin memberikan kesaksian bahwa Mbah Shobib adalah wali.?

Menurut Kiai yang kerap disapa Gus Mus itu kesaksian ia lontarkan karena Mbah Shobib termasuk orang yang istiqamah.?

Gus Mus: Mbah Shobib adalah Wali (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Mbah Shobib adalah Wali (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Mbah Shobib adalah Wali

“Saya adalah orang yang sering ketemu dengan beliau baik di pengajian-pengajian maupun saat beliau datang ke kediaman saya,” terang kiai kelahiran Rembang tahun 1944 ini.?

Mbah Shobib, kata Gus Mus saat bepergian ke mana pun selalu mengenakan jas yang lumayan besar ukurannya. Di dalam jasnya memiliki saku. Dan di dalam saku tersebut sudah berisi uang.?

Asli Muhammadiyah

Nominal uangnya, lanjutnya beda-beda tergantung kepada siapa uang itu diberikan. “Kalo untuk njenengan 50.000. Kalo untuk saya ya 100.000,” jelasnya sembari menunjuk salah seorang peserta pengajian.?

Saat masih hidup, Mbah Shobib terbilang sering ke kediaman Gus Mus. “Beliau pinarak sejenak sembari udud di rumah saya kemudian pamit ke dapur,” imbuhnya.?

Asli Muhammadiyah

Di dapur, urai Kiai yang juga budayawan itu sangat memperhatikan pekerja dapur. Sebab orang yang bekerja di dapur merupakan orang yang berkeringat untuk melayani tamu.?

Setelah bertemu orang dapur seraya memberikan uang, Mbah Shobib pinarak lagi ke sejenak dan terakhir hendak ketemu dengan sesepuh-sesepuh pondok.?

Alhasil kebiasaan untuk memberikan uang kepada siapa pun yang ditemui Mbah Shobib itu membuat santri-santri Gus Mus sangat menanti-nantikan kehadiran beliau.?

“Saya adalah orang pertama di dunia yang memarahi Mbah Shobib sebab kebiasaan itu membuat santri tamak juga merusak mental mereka,” sebutnya sembari disambut tawa hadirin.?

Kesempatan itu ia juga bercerita Mbah Shobib sering nambani atau nyuwok orang sakit tetapi beliau mengenalkan dirinya dengan nama Mustofa Bisri Rembang.?

“Sehingga yang dapat gula kopi malah saya,” ungkapnya disambut tawa lagi oleh jamaah.?

Kiai yang memperoleh tanda kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Jokowi 2015 lalu itu menegaskan dirinya menyebut wali Mbah Shobib karena keistiqamahannya. Apalagi kata para sufi, al istiqamah khair min alfi karamah, istiqamah lebih utama dari 100 keramat.?

Wali imbuh Gus Mus bisa diidentifikasi. “Wali bukan yang bisa terbang di atas comberan, atau yang bisa menggandakan uang tetapi karena istiqamahnya,” paparnya.?

Rais Aam PBNU 2014-2015 itu mengakui semasa hidupnya Mbah Shobib tidak pernah takut apalagi sedih. Ia meyakinkan orang yang masih takut dan susah tidak tergolong wali Allah.?

Di samping itu, tatkala terjadi geger Jepara (agenda 5 tahunan), Mbah Shobib juga tidak merasa takut. “Mergo istiqamah Mbah Shobib ora nduwe wedi ora nduwe susah (karena istiqamah Mbah Shobib tak kenal takut dan tak kenal susah),” pujinya.?

Apa yang ada pada diri Mbah Shobib sesuai dengan firman Allah bahwa wali Allah tidak punya rasa takut juga tidak merasa susah.?

Agar menjadi wali, alumnus Universitas Al-Azhar itu berpesan kepada jamaah agar selalu istiqamah dan jangan berlebih-lebihan dalam segala hal. Misalnya menunaikan ibadah puasa jika sudah waktunya berbuka maka untuk menyegerakan berbuka.?

“Lakukan hal apa pun dengan sedengan, sederhana dan jangan berlebihan,” pungkas Gus Mus. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Khutbah Asli Muhammadiyah

Sabtu, 30 Desember 2017

Mahasiswa yang Dikirim PBNU Berikan Ceramah pada Mauludan di KBRI Libya

Tripoli, Asli Muhammadiyah
Tidak ketinggalan, masyarakat Indonesia di Libya juga turut merayakan maulid Nabi Muhammad SAW. Perayaan maulid tersebut diprakarsai oleh KBRI untuk Libya. Seluruh warga negara Indonesia baik masyarakat atau mahasiswa mengikuti acara tersebut di aula KBRI.

Acara yang berlangsung pada tanggal 22 April 2005 ini, dikemas dalam pengajian umum dengan menghadirkan Muballigh dari mahasiswa baru yang didelegasikan oleh PBNU pada tahun 2004 lalu.

Idris Sholeh, Gus Idris dalam sambutannya tentang hikmah maulid Nabi Muhammad SAW mengupas tentang sejarah perayaan maulid Nabi "Dalam catatan sejarah, ada yang mengatakan bahwa maulid nabi pertama kali diperkenalkan seorang penguasa Dinasti Fatimiyah (909-117 M). Hal ini secara tidak langsung dimaksudkan sebagai sebuah takid (penegasan) kepada publik, bahwa dinasti ini betul-betul keturunan Nabi Muhammad SAW. Setidaknya ada dimensi politis dalam kegiatan tersebut," tandasnya.

Disamping itu, Gus Idris mengatakan bahwa Islam tersebar tidaklah dengan kekerasan; "Saya masih ingat, Mahatma Gandhi mengatakan bahwa Islam datang bukan dengan pedang atau perang melainkan Islam diterima oleh umat manusia karena sifat bisathoh (kesederhanaan) Nabi Muhammad, maka sepatutnyalah kita meniru dan mengamalkan kesederhanaan hidup Nabi Muhammad SAW dalam pola kehidupan kita sehari-hari," lanjut pria kelahiran Cirebon ini.

Dalam kesempatan ini, duta besar RI; Bpk. H. Nawawi Hasbi mengaharapkan agar tali ukhuwah antar masyarakat Indonesia di Libya semakin kuat .

Perayaan maulid ini dihibur oleh nasyid Tripoli-Voice. Lantunan nasyid yang diiringi ala-alat musik Arab ini menarik perhatian hadirin pengajian umum. Masyarakat Indonesia benar-benar terhibur. Tripoli-Voice adalah kelompok nasyid mahasiswa Indonesia di Libya yang sering sekali tampil dan diundang oleh masyarakat Libya untuk mengisi dalam beberapa acar atau even.

Maulid Nabi di KBRI, kemudian dilanjutkan dengan sholat Jumat bersama di Mushollah KBRI. Tampil sebagai bilal dan khotib Jumat adalah dari pihak mahasiswa. Kemudian setelah sholat jumat selesai, dilanjutkan dengan acara ramah tamah atau makan siang.

Maulid Nabi Muhammad juga dirayakan di kampus Islamic Call College. Perayaan itu berlangsung selama 2 hari pada tanggal 24-25 April 2005. Pada malam pertama Maulid Nabi (tanggal 24 April 2005), diisi dengan pentas seni Qasidah-Maulid.

Pentas seni diikuti oleh semua mahasiswa dengan menampilkan beberapa qasidah-maulid yang biasa dibaca di negara mereka masing-masing. Dari pantauan, yang tampil dalam pentas tersebut adalah mahasiswa dari negara : Tanzania, Syiria, Chad, Nigeria, Mali, Niger, Philipina, Senegal, Ghana, Sahl al-Aaj (Pantai Gading), Bukina Faso dan Indonesia.

Dari sekian peserta, yang sangat menarik adalah penampilan mahasiswa Tanzania. Mereka membawakan qasidah-qasidah dari Kitab al-Daibai yang mengingatkan kembali para mahasiswa Indonesia akan kehidupan pesantren di Indonesia. Mendengarkan lagu-lagu qasidah dari mahasiswa Tanzania tersebut merupakan kenikmatan yang tak bisa dibahasakan. Tak karuan, banyak penonton yang sampai mencucurkan air mata.

Pada tanggal 25 April lagi perayaan maulid Nabi diisi dengan diskusi tentang sirah Nabi Muhammad SAW. Tampil sebagai pembicara adalah Dr. Siddiq Basyir.

Kontributor Libya : Iwan Zainil Ghulam     

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Khutbah Asli Muhammadiyah

Mahasiswa yang Dikirim PBNU Berikan Ceramah pada Mauludan di KBRI Libya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa yang Dikirim PBNU Berikan Ceramah pada Mauludan di KBRI Libya (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa yang Dikirim PBNU Berikan Ceramah pada Mauludan di KBRI Libya

Rabu, 20 Desember 2017

Dalam Sejarah, Fiqih dan Seni Tidak Terpisahkan

Surabaya, Asli Muhammadiyah. Pengurus Wilayah Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) Jawa Timur melangsungkan sarasehan sastra dan budaya bertema "Fikih, Seni dan Sastra" di kantor PWNU Jawa Timur, Surabaya, Jumat (25/9), dengan menghadirkan KH Abdurrahman Nafis dan Muhammad Al-Fayyadl sebagai narasumber dan Riadi Ngasiran sebagai moderator.

Dalam Sejarah, Fiqih dan Seni Tidak Terpisahkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalam Sejarah, Fiqih dan Seni Tidak Terpisahkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalam Sejarah, Fiqih dan Seni Tidak Terpisahkan

KH Abdurrahman Nafis, mengemukakan bahwa dalam sejarahnya, sastra sering menjadi bagian tidak terpisahkan bagi awal dikenalkannya Islam. "Dan Nabi Muhammad dengan mukjizat yang diterimanya berupa al-Quran, telah mampu mengalahkan karya sastra masyarakat Arab saat itu," katanya.

Para pemimpin Quraisy saat itu, yakni Umar bin Khattab serta Amr bin Hisyam dibuat tidak berdaya dengan kandungan ayat Al-Quran. "Bahkan, Umar bin Khattab bisa terenyuh saat putrinya, Siti Hafshah membaca ayat al-Quran, sehinggga berkenan menjadi muslim," kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini.

Asli Muhammadiyah

Kiai Nafis, sapaan akrabnya, kemudian menggambarkan bagaimana awal mula islamisasi di Indonesia yang lebih menggunakan cara damai, termasuk dengan menggunakan seni sebagai media dakwahnya.

Asli Muhammadiyah

"Para Wali Songo telah berhasil mengislamkan khususnya masyarakat Jawa lewat pendekatan seni," terangnya. Lahirnya seni wayang, tembang dan syair dengan tema agama sebagai bukti bahwa seni demikian menjadi media yang sangat efektif untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat, lanjutnya.

Sebelumnya, masih menurut Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini, para ulama pengarang kitab telah menemukan disiplin ilmu yang membahas tentang kaidah sastra lewat ilmu balaghah, arudh, dengan berbagai varian yang dimiliki.

Pertemuan antara fikih dan sastra akhirnya melahirkan definisi dan batasan yang menjelaskan tentang seni islami. "Ada 4 batasan yang telah digariskan para fuqaha terhadap seni," kata Kiai Nafis yang juga dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Pertama adalah, seni yang dilahirkan tidak memgandung kemusyrikan. "Yang kedua, seni islami adalah yang tidak mengandung maksiat," katanya. Sedangkan ketiga adalah jangan sampai menimbulkan fitnah, dan terakhir yakni seni harus mengandung amar makruf nahi munkar, imbuhnya.

Sering Terjadi Ketegangan

Muhammad Al-Fayyadl justru mencatat akhir-akhir ini sering terjadi ketegangan di akar rumput antara santrawan dan para fuqaha. "Bahkan pernah saya saksikan, pagelaran seni di salah satu kampung justru dihentikan lantaran dianggap tidak islami," kata alumnus Master "Philosophie et Critiques Contemporaines de la culture" Université Paris VIII, Prancis tersebut.

Padahal di awal Muktamar NU, para kiai sangat terbuka dengan masalah kesenian. "Ini mengisyaratkan bahwa hubungan antara kesenian dan agama menduduki porsi terpenting dalam perhatian ulama," kata Gus Fayyadl, sapaan akrabnya.

Dalam perjalanannya, kendati persoalan kesenian kontemporer kemudian kerap menjadi bahasan dalam forum bahtsul masail NU, tapi dalam pandangan dosen UGM ini, rumusannya secara konseptual masih jauh dari komprehensif dan meyakinkan.

Kedua narasumber sepakat bahwa harus selalu dilakukan dialog terbuka antara para pegiat seni dengan aktifis bahtsul masail agar ditemukan titik temu bagi sejumlah permasalahan seni mutaakhir yang tentunya sarat dengan dinamika dan inovasi. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Lomba, Pahlawan, Khutbah Asli Muhammadiyah

Minggu, 17 Desember 2017

Inilah Nama-Nama Kiai Usulan Calon Ahwa PWNU Jatim

Jombang, Asli Muhammadiyah. Meski menjadi pengawal sistem Ahlul halli Wal Aqdi (Ahwa) Rais Syuriyah PWNU Jatim menolak untuk dimasukkan dalam usulan nama-nama calon Ahwa.

Inilah Nama-Nama Kiai Usulan Calon Ahwa PWNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Nama-Nama Kiai Usulan Calon Ahwa PWNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Nama-Nama Kiai Usulan Calon Ahwa PWNU Jatim

"Jawa Timur merupakan penggagas sistem Ahwa ini, karenanya saya sendiri tidak etis jika dimasukkan dalam usulan yang kita sodorkan ke panitia," tutur KH Miftahul Akhyar di Media Center Muktamar ke 33 NU, Rabu (5/8).

Kiai Mif biasa dipanggil mengaku PWNU Jatim sudah menyetor nama nama calon untuk masuk sebagai Ahwa. Para kiai yang diusulkan diantaranya adalah, KH Makruf Amin, KH Nawawi Abdul Jalil, KH Anwar Mansur Kediri, KH Subadar dan KH Ali Mashuri (Gus Ali). 

Asli Muhammadiyah

"Saya tidak hafal, karena sejak awal untuk Ahwa ini kita tidak menyebut nama. Dan baru kemarin kita sodorkan," imbuhnya mengatakan.

Asli Muhammadiyah

Nama nama kiai yang diusulkan ini, lanjutnya dinilai memiliki kriteria sebagai calon Ahwa, yakni  faqih atau alim, muaddin atau mengerti agama, muharrik atau mampu mendinamisasi organisasi atau sebagai penggerak organisasi, kemudian memiliki kharisma dan mutawarrik atau wirai.

"Wirai ini adalah bukan hanya soal haram yang  tidak mau, subhab saja tidak mau beliau ini. Dan juga tidak wira-wiri atau menjadi calo politik," tandasnya.

Mengapa KH Muchit Muzadi tidak masuk? Rais PWNU ini mengatakan, sudah meminta ijin akan mengusulkan kakak kandung KH hasyim Muzadi ini. Namun yang bersangkutan menolak.

"Beliau tidak diusulkan, karenan beliau tidak mau," jawabnya.

Terkait beberapa pengurus Cabang NU Jawa Timur yang tidak mendukung sistem Ahwa ini KH Miftahul Ahyar meminta maaf kepada seluruh pengurus NU yang sama-sama mendorong dan memperjuangkan Ahwa.

”Mohon maaf, semuanya. Sebagai penggagas dan pendorong sistem Ahwa ternyata Jawa Timur sendiri ada yang lolos," ujarnya seraya meminta PCNU patuh terhadap keputusan dan kesepatan bersama.

"Di NU itu kan yang diutamakan adalah ketaatan, karenanya kita minta cabang cabang sepaham lah," tandasnya.

KH Miftahul Akhyar juga meminta kepada panitia untuk benar-benar transparan terkait tabulasi nama nama calon Ahwa yang diusulkan PWNU dan PCNU.

"Janjinya panitia akan transparan soal tabulasi nama-nama calon Ahwa, kita harapkan mereka betul betul transparan," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ulama, Khutbah Asli Muhammadiyah

Jumat, 15 Desember 2017

Kapolres Rembang: Nasionalisme Ulama Tidak Diragukan

Rembang, Asli Muhammadiyah. Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Rembang, Jawa Tengah AKBP Sugiarto memberikan apresiasi atas terselenggaranya acara Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara di Sarang Rembang.?

Kapolres Rembang: Nasionalisme Ulama Tidak Diragukan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolres Rembang: Nasionalisme Ulama Tidak Diragukan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolres Rembang: Nasionalisme Ulama Tidak Diragukan

“Kita sangat apresiasi (acara silaturahim tersebut),” katanya.?

Menurutnya, peran ulama dalam menjaga dan mengawal republik ini tidak diragukan lagi. Ia mengakui, dalam merebut kemerdekaan Indonesia, peran ulama tidak bisa diremehkan. “Nasionalisme dengan ulama itu tidak bisa dipisahkan,” jelasnya.

Di dalam mengamankan acara silaturahim tersebut, ia mengerahkan lima puluh dua personilnya. “Lima puluh dua,” jawabnya singkat.

Ia berharap, acara ini bisa meneguhkan kembali nasionalisme terhadap Indonesia karena akhir-akhir ini banyak kelompok yang secara terang-terangan anti Pancasila dan anti NKRI.

Asli Muhammadiyah

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan, orang sudah terang-terangan menghina pemerintah dan anti Pancasila. “Mengkritik pemerintah boleh, kalau menghina nggak boleh dong. Kalau mengina harus kita lawan,” jelas Kiai Said.

Ia menilai, lambang negara kita seperti pemerintah, polisi, hakim dan lainnya tidak boleh dihina. “Tetapi kalau mereka salah harus kita kritik. Ada aturannya lah, ada akhlaknya” katanya.

“Kalau kita tidak mau menghormati presiden kita, terus kita mau percaya kepada pemerintah siapa,” paparnya.

Dalam acara silaturahim Alim Ulama Nusantara tersebut, hadir juga Bupati Rembang Moch. Salim. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)?

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Santri, Khutbah, PonPes Asli Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa admin situs Asli Muhammadiyah sangat membenci AdBlock karena dengan adanya iklan maka situs Asli Muhammadiyah bisa tetap berjalan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Tulisan
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Asli Muhammadiyah dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock