Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Januari 2018

Merasuk ke Kehidupan, Menkominfo Ingatkan Dampak Penggunaan Smartphone

Jakarta, Asli Muhammadiyah - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengingatkan kehadiran digital yang masuk ke semua lini kehidupan.

“Digital tidak pandang bulu. Agama apapun, agama Islam sekalipun,” katanya saat menghadiri Peluncuran Aplikasi NU Mobile, Televisi NU Channel, Data Center, Arab Pegon, dan Mobil Halal Investigasi di halaman Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (17/11) malam.

Merasuk ke Kehidupan, Menkominfo Ingatkan Dampak Penggunaan Smartphone (Sumber Gambar : Nu Online)
Merasuk ke Kehidupan, Menkominfo Ingatkan Dampak Penggunaan Smartphone (Sumber Gambar : Nu Online)

Merasuk ke Kehidupan, Menkominfo Ingatkan Dampak Penggunaan Smartphone

Menurutnya, kehadiran digital menimbulkan banyak perubahan pada kehidupan. Dulu, katanya, qari dalam membaca Al-Qur’an itu membaca Al-Qur’an cetak, tapi sekarang qari tidak membawa Al-Qur’an cetak melainkan membacanya melalui ponsel.

Hal itu, menurutnya, sesuai dengan data yang menunjukkan bahwa penggunaan smartphone tidak terjadi perubahan. Dengan kata lain, aktivitas penggunaannya tetap tinggi, dari bangun sampai mau tidur.

Asli Muhammadiyah

“Jadi ini betul-betul merasuk ke kehidupan kita,” ujar pria kelahiran Bogor, Jawa Barat ini.

Oleh karena penggunaan yang sudah tak terbendung itu, Rudi pun mengingatkan tentang dampak positif dan negatif dari penggunaan smartphone.

Asli Muhammadiyah

Hadir pada peluncuran aplikasi ini Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum PBNU H Mochammad Maksum Machfoedz, Staf Kepresidenan Teten Masduki, Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani, Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud, Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faisal Zaini, Bendahara Umum PBNU H Ing Bina Suhendra, dan lain-lain. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ulama Asli Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Tim Sepakbola Pesantren Darul Quran Bengkel Taklukkan Pesantren Al-Mansuriah

Mataram, Asli Muhammadiyah - Tim keseblasan Pesantren Al-Mansuriah Bonder asuhan Ketua PWNU NTB TGH Achmad Taqiuddin Mansur ditaklukkan Pesantren Darul Quran Bengkel Labuapi Lombok Barat dengan skor 0-1. Pertandingan yang digelar? di lapangan TNI AU Rembige Kota Mataram,? Jumat (19/8) pagi berlangsung seru.

Pesantren Al-Mansuriah yang dijaga Ipan Dirgantara kebobolan lewat tendangan ringan? Kaspul.? Pemain dengan nomor punggung 9 ini membawa tim? Pesantren Darul Quran? Bengkel unggul hingga peluit panjang dibunyikan.

Tim Sepakbola Pesantren Darul Quran Bengkel Taklukkan Pesantren Al-Mansuriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Sepakbola Pesantren Darul Quran Bengkel Taklukkan Pesantren Al-Mansuriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Sepakbola Pesantren Darul Quran Bengkel Taklukkan Pesantren Al-Mansuriah

Tim ini sudah diprediksi oleh Satkorwil Banser Ansor NU NTB Murakib KH yang juga alumi Al-Mansuriah dari satu hari sebelum pertandingan. Karena Ketua PWNU NTB merupakan alumnus Pesantren Darul Quran Bengkel.

Asli Muhammadiyah

"Tidak akan menang Al-Mansuriah karena ibarat ibu sama anak," kata Abah Roket Sapaan akrabnya Murakib.

Menurut Abah Roket dengan nada canda, kalau pun menang, kita akan malu sama orang tua karena ibarat ibu dan anak menjadi berkah kalau pun kalah. (Hadi/Alhafiz K)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ulama Asli Muhammadiyah

Cara NU Mayangan Lestarikan Tradisi dan Budaya NU

Jombang, Asli Muhammadiyah 

Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang , Jawa Timur terus berupaya melestarikan tradisi dan budaya NU dengan rutin menggelar kegiatan lailatul ijtima. Kegiatan ini digelar setiap tanggal 15 penanggalan hijriah.

Kegiatan yang biasa dihadiri oleh warga NU se-ranting Mayangan ini membahas sejumlah persoalan, diantaranya ajakan untuk melestarikan khazanah kebudayaan NU, pembacaan kitab Sulamut Taufiq, Bahtsul Masail, Tahlilan, Istighosah, dan pembacaan sholawat nariyah.

Cara NU Mayangan Lestarikan Tradisi dan Budaya NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara NU Mayangan Lestarikan Tradisi dan Budaya NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara NU Mayangan Lestarikan Tradisi dan Budaya NU

"Kegiatan ini bertujuan melestarikan nilai-nilai kebudayaan lama yang baik namun tidak menutup kemungkinan untuk mengambil hal-hal baru yang lebih konstruktif dan lebih baik." Kata Ketua Tanfidziah NU Ranting Mayangan, kiai Abdul Karim Elmuna, Rabu (9/8).

Dijelaskan, acara seperti ini sudah berlangsung sejak G30S PKI pada Orde Lama hingga kini. Kegiatan lailatul ijtima inj dirasakan betul dapat mebentengi masyarakat agar tidak terseret arus zaman ke arah yang negatif. Dengan berkumpulnya para ulama, tokoh masyarakat, perangkat desa, kaum muda maka kemajuan desa bisa diwujudkan.

"Saya berharap teman-teman generasi muda juga semakin semangat untuk turut andil dalam kegiatan ini. Karena nanti mereka lah yang akan meneruskan perjuangan kami," tambahnya.

Asli Muhammadiyah

Pria yang juga pengasuh Pondok Ribath Darul Mansyur ini menuturkan pentingnya acara seperti ini dalam merespon serangan radikalisme dan kaum takfiri. Para ulama dan tokoh masyarakat harus terus mensosialisasikan bahaya radikalisme pada masyarakat agar tidak terjerumus dengan aliran radikal yang ingin menghancurkan Indonesia yang sudah tentram dan damai

Asli Muhammadiyah

"Menjaga NU dan NKRI adalah tanggungjawab bersama karena mustahil dilakukan oleh seorang diri. Menjaga NU adalah menjaga Indonesia." Pungkasnya.

Selain itu, Kiai Karim juga mengharapkan dilain waktu Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, wilayah dan pusat bisa berkunjung ke daerahnya. Dengan harapan dapat memotivasi masyarakat untuk mengikuti kegiatan rutinan tersebut.

"Kalau Kiai Said yang kesini pasti ramai dan meriah," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Cerita, Kajian, Ulama Asli Muhammadiyah

Minggu, 31 Desember 2017

Menteri PDT Ajak Santri berperan Entaskan Kemiskinan

Kediri, Asli Muhammadiyah. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini mengajak para santri untuk berperan serta dalam upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia. Nantinya, kontribusi para santri terhadap pengentasan kemiskinan ini akan diimplementasikan lewat program santri mengabdi.

"Tentu para santri sudah paham bahwa kemiskinan itu lebih dekat kepada kekufuran. Karena itu, saya mengajak para santri turut dalam upaya pengantasan kemiskinan di Indonesia," tegas Helmy saat menghadiri peringatan satu abad Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Ahad, (24/1).

Menteri PDT Ajak Santri berperan Entaskan Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri PDT Ajak Santri berperan Entaskan Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri PDT Ajak Santri berperan Entaskan Kemiskinan

Helmy menjelaskan, dalam program santri mengabdi itu, pihaknya akan bekerjasama dengan pesantren untuk mengirimkan santrinya di daerah-daerah tertinggal. "Santri yang akan lulus dari pesantren diminta untuk magang dan mengabdi kepada masyarakat dengan menjadi pendamping pemberdayaan ekonomi," tandasnya.

Asli Muhammadiyah

Helmy menambahkan, selama ini program magang santri Lirboyo sudah ada setiap tahunnya, namun lingkupnya masih di sekitar pesantren di Kediri. Dengan kerjasama yang dibangun Kementerian PDT dan Depnakertrans dengan Pesantren Lirboyo, nantinya santri-santri Lirboyo ini akan dikirim ke daerah-daerah tertinggal yang tersebar di seluruh nusantara.

Asli Muhammadiyah

"Jadi santri di zaman modern ini harus multifungsi, selain bisa berdakwah juga harus menjadi penggerak ekonomi mikro masyarakat," ujarnya.

Para ulama pada zaman dulu, kata Helmy, sudah berjuang keras untuk memperkuat perkeonomian masyarakat. Terbukti dengan berdirinya Nahdlatut Tujjar (kebangkitan pedagang), yang menjadi cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama (NU).

"Ini tugas para santri untuk meneruskan cita-cita ulama dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia," tukasnya.

Helmy memandang pentingya urgensi dakwah para santri di daerah tertinggal. Sebab, selain penguatan keagamaan di daerah tertinggal, santri juga bisa memberikan pendampingan dalam berbagai masalah yang dihadapi  masyarakat tertinggal.

"Santri harus keluar dari sarang dan berperan aktif untuk pembangunan bangsa di masa depan," pungkasnya.

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Lirboyo KH Idris Marzuki menyatakan, Pesantren Lirboyo yang sudah berusia satu abad sudah banyak pengalaman yang dialaminya. Namun, Pesantren Lirboyo masih mampu menjadi penjaga dalam moralitas bangsa.

"Alhamdulillah selama itu Lirboyo tidak pernah surut dalam upaya membangun bangsa," katanya.

Hadir dalam kesempatan itu, Ketua Dewan Syura PKB, yang juga Ketua Alumni Lirboyo KH Aziz Mansyur, Rektor Al-Ahqaf University of Yaman,Prof Abdullah Muhammad Baharun, KH Imam Yahya Mahrus dan KH Kafabihi Mahrus. (mad)Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ulama, Nasional, AlaNu Asli Muhammadiyah

Rabu, 27 Desember 2017

Tahun Kedua, KBIH NU Indramayu Jaring 340 Calhaj

Indramayu, Asli Muhammadiyah - Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Nahdlatul Ulama Kabupaten Indramayu, Jawa Barat menggelar upacara pembukaan manasik haji bagi calon jamaah haji tahun 2016 di Kantor PCNU Indramayu akhir pekan lalu. Acara tersebut diikuti ratusan calon jamaah haji, para pembimbing, pengurus PCNU Indramayu dan perwakilan Kemenag Indramayu.

Ketua PCNU Indramayu yang juga Ketua KBIH NU KH. Juhadi Muhammad menjelaskan, calon jamaah haji yang masuk dalam KBIH NU pada tahun 2016 ini berjumlah 340 orang yang tersebar di berbagai kecamatan di Kabupaten Indramayu.

Tahun Kedua, KBIH NU Indramayu Jaring 340 Calhaj (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Kedua, KBIH NU Indramayu Jaring 340 Calhaj (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Kedua, KBIH NU Indramayu Jaring 340 Calhaj

“Tahun 2016 ini KBIH Nahdlatul Ulama Indramayu merupakan tahun kedua sejak KBIH NU didirikan pada tahun 2015 yang lalu,” katanya melalui siaran pers yang diterima Jumat (25/3).

Asli Muhammadiyah

Ketua PCNU Indramayu menambahkan, antusiasme warga NU yang akan menunaikan ibadah haji pada tahun 2016 sangat tinggi terhadap kehadiran KBIH NU yang notabene milik NU.

Karenanya, PCNU optimis KBIH baru tersebut akan mampu bersaing dengan KBIH lain yang selama ini sudah eksis di Indramayu.

Asli Muhammadiyah

“Salah satu alasan kenapa NU mendirikan KBIH sendiri adalah karena permintaan dari warga NU. oleh karenanya kami menyakini KBIH milik NU ini akan maju dan berkembang serta mampu menghantarkan para calon jamaah haji menjadi haji yang mabrur,” ujar KH. Juhadi Muhammad.

Dikatakan, sampai saat ini kepengurusan KBIH NU sudah ada di beberapa kecamatan dan diharapkan pada tahun 2016 ini sebanyak 31 kecamatan yang ada di seluruh wilayah Kabupaten Indramayu.

“Kepengurusan KBIH NU diharapkan tahun ini sudah terbentuk semua di seluruh kecamatan sehingga pada tahun 2017 mendatang akan semakin banyak calon jamaah haji yang bergabung ke KBIH NU,” tutur Ketua PCNU.

Bimbingan manasik haji akan digelar sebanyak sepuluh kali pertemuan sampai dengan tanggal 22 Mei 2016 dengan berbagai materi yang sudah disiapkan. “Para pembimbing di KBIH NU memiliki kualifikasi yang sangat mumpuni, karena diisi oleh para kiyai yang memiliki basis keilmuan dan pengalaman lapangan di tanah suci, sehingga warga NU yang akan melaksanakan ibadah haji akan mampu menguasai manasik haji serta berbagai pengetahuan lainnya,” pungkas KH. Juhadi Muhammad.

Sementara itu Ketua PC Lakpesdam NU Indramayu yang juga menjadi Wakil Sekretaris KBIH NU, Iing Rohimin menjelaskan, hadirnya KBIH NU adalah untuk menjawab kebutuhan warga NU yang menginginkan adanya KBIH yang betul-betul dikelola oleh pengurus NU Indramayu serta memberikan keuntungan kepada PCNU secara keorganisasian.

“Di KBIH NU telah dibuat peraturan yang jelas terutama untuk kepentingan pengembangan PCNU dan seluruh MWC, sehingga ketika warga NU bergabung dengan KBIH ini jelas-jelas telah membantu pengembangan Nahdlatul Ulama di Kabupaten Indramayu,” ujar Iing. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Amalan, Pertandingan, Ulama Asli Muhammadiyah

Senin, 25 Desember 2017

Ketika Sufi Belajar dari Anjing

Dalam kitab Raudl al-Rayahin fi Hikayah al-Shalikhin, Imam Afifuddin Abdullah bin As’ad al-Yafi’i (696-768 H)menceritakan sekelompok sufi yang datang ke sebuah kota dan melihat seekor anjing mengikutinya. Diceritakan:

Ketika Sufi Belajar dari Anjing (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Sufi Belajar dari Anjing (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Sufi Belajar dari Anjing

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Asli Muhammadiyah

Seorang sufi berkata: Kami berada di sebuah kota. Suatu ketika kami keluar menuju gerbang kota tersebut. Seekor anjing mengikuti kami. Saat kami sampai di gerbang, kami melintasi bangkai hewan. 

Asli Muhammadiyah

Ketika anjing itu melihatnya, dia kembali ke dalam kota. Beberapa saat kemudian dia datang bersama sekitar dua puluh anjing lainnya mendekati bangkai hewan itu. Anjing-anjing itu memakannya.

Namun, anjing yang mengikuti kami itu hanya berdiri memandang dari kejauhan hingga teman-temannya selesai makan, memenuhi kebutuhannya dan pergi.

Kemudian anjing yang mengikuti kami itu mendekat dan memakan sisa-sisa daging di tulangbangkai itu dan apa yang tersisa darinya, lalu dia pergi. (Afifuddin Abi al-Sa’adat Abdullah bin As’ad al-Yafi’i al-Yamani, Raudl al-Rayahin fi Hikayah al-Shalihin, Kairo: Maktabah Taufiqiyyah, tt, hlm 147-148).

****

Belajar bisa dari mana saja. Semua yang ada di dunia ini adalah madrasah. Dari mulai dedaunan yang gugur, ikan yang berenang, hingga kisah Iblis yang menentang. Semuanya dapat dijadikan pelajaran, apalagi seekor anjing, yang namanya diharumkan dalam al-Qur’an, sahabat Ashab al-Kahfi yang membantu dan menolong mereka. Binatang yang diakui kemuliaannya oleh al-Qur’an (baca Q.S al-Kahfi [18]: 18).

Anjing yang mengikuti para sufi itu menampakkan kedermawanan, kesetia-kawanan dan akhlak yang baik. Dia tidak memakan bangkai hewan itu sendirian, mengenyangkan dirinya terlebih dahulu, baru memanggil teman-temannya. Dia bergegas kembali, memanggil teman-temannya dan membiarkan mereka makan terlebih dahulu, sedangkan dia memandang dari kejauhan. Setelah teman-temannya kenyang dan pergi, dia baru menghampiri bangkai itu dan memakan apa yang tersisa.

Tidak semua manusia dapat melakukan apa yang anjing itu lakukan. Mungkin sangat sedikit manusia yang dapat melakukannya. Manusia memiliki kerakusan di atas rata-rata, yang membuatnya bisa lebih mulia dari binatang—jika dapat mengendalikannya—atau lebih hina dari mereka. Binatang tidak pernah menimbun persediaan makanan atau harta benda, tapi manusia, meski telah berlimpah harta, untuk memenuhi gaya hidupnya masih butuh korupsi, berbohong dan menipu. Maka penting bagi manusia untuk belajar dari anjing dalam kisah di atas, yang menunggu kenyang demi teman-temannya.

Belajar sama saja dengan menuntut ilmu, hukumnya wajib bagi siapa saja. Memperhatikan cara alam semesta bekerja adalah belajar memperkaya persepsi, mengambil hikmah darinya, serta membuka banyak kemungkinan tentang kebenaran. Begitu beragamnya tafsir satu ayat al-Qur’an adalah bukti banyaknya kemungkinan tentang kebenaran. Wajar saja jika belajar selalu dikawinkan dengan kata “tiada akhir”, belajar tiada akhir, dari mulai buaian hingga masuk ke liang lahat. Karena ilmu Allah begitu luas, yang tidak akan habis dipelajari dari mulai dunia ini diciptakan sampai kiamat didengungkan.

Meski demikian, belajar tidak boleh serampangan. Imam Ibrahim bin Adham memberi saran:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Carilah ilmu untuk beramal, kebanyakan manusia telah keliru, sehingga menjadikan ilmunya setinggi gunung tapi amalnya sekecil debu.” (Abdul Wahab al-Sya’rani, Thabaqat al-Kubra, Kairo: Maktabah al-Tsaqah al-Diniyyah, 2005,  hlm 129)

Dengan kata lain, mencari ilmu harus bertujuan untuk menjadi pribadi yang lebih baik (beramal), bukan sekadar memperluas cakrawala pengetahuan. Pengetahuan tanpa amal tak ubahnya rumah megah tanpa orang, suwung. Amal harus dijadikan tujuan dalam menuntut ilmu. Tanpa amal, ilmu akan kurang manfaatnya. Sedangkan, “khairun-nâs anfa’uhum lin-nâs—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Apa yang dilakukan anjing dalam kisah di atas patut kita pelajari, kemudian memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika Nabi Sulaiman saja berkenan mendengar penjelasan dari burung hud-hud (baca Q.S. an-Naml: 22), kenapa kita enggan mengambil pelajaran dari kemurahan hati seekor anjing? Bukankah Kanjeng Rasul memerintahkan kita untuk bertafakkur atas semua ciptaan Allah? Dan anjing adalah salah satu ciptaanNya. Lalu kenapa kita harus membatasi diri? Rasulullah bersabda (H.R. Imam Abu Nu’aim):

? ? ? ? ? ? ? ?

“Berpikirlah tentang makhluk Allah, jangan berpikir tentang Allah (karena akal manusia tidak akan mampu).”

Hadits tersebut adalah pendorong bahwa kita harus mengambil pelajaran dari semua makhluk Allah. Setiap ciptaan Allah adalah buku yang harus dibaca, diambil manfaatnya, dan disebarkan kegunaannya.Sudahkah kita melakukannya? Wallahu a’lam..

Muhammad Afiq Zahara, alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ulama, Jadwal Kajian, Halaqoh Asli Muhammadiyah

Minggu, 24 Desember 2017

Bentengi Kader NU dari Ideologi Transnasional

Surabaya,Asli Muhammadiyah. Penguatan dan pengembangan ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) an-Nahdliyah, harus terus dilakukan secara intens. Sebab, di tengah percaturan ideologi global, ideologi transnasional atau mazhab berjenis kelamin lain kian santer menggempur ajaran dan tradisi Nahdlatul Ulama.

Itu setidaknya yang mendasari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya menggelar “Halaqah Aswaja" putaran kedua. Berlangsung 28-29 September 2013 lalu, di Rumah Makan Tamansari Surabaya, diikuti sedikitnya 270 peserta. Mereka berasal dari utusan Majelis Wakil Cabang (MWC) dan Ranting NU se-Kota Surabaya.

Bentengi Kader NU dari Ideologi Transnasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Bentengi Kader NU dari Ideologi Transnasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Bentengi Kader NU dari Ideologi Transnasional

Riadi Ngasiran, Seksi Publikasi dan Media Halaqah Aswaja NU, mengatakan, sebagai pusat kelahiran NU pada 31 Januari 1926, “Surabaya memiliki tanggung jawab ambil bagian dalam memelopori penguatan dan pemantapan ajaran Aswaja an-Nahdliyah,” kata Ketua Lesbumi PCNU Kota Surabaya, Kamis (03/10).

Asli Muhammadiyah

Hadir pada acara Halaqah yang berlangsung selama dua hari itu diantaranya, Direktur Aswaja Centre Jawa Timur KH Abdurrahman Navis dan Rais Syuriah PCNU Kota Surabaya KHA Dzul Hilmi Ghazali. Hadir juga KH Abdul Barri KH Mas Sulaiman, dan KH Salahuddin Azmi.

KH Abdurrahman Navis mengingatkan warga NU agar belajar dari perilaku dan tindakan para ulama NU terdahulu. “Para ulama terdahulu tidak pernah mencela pihak lain yang memperolok kita,“ kata Kiai Abdurrahman Navis.

Asli Muhammadiyah

Penguatan dan pemantapan terhadap ajaran Islam ala Ahlussunah waljamaah an-Nahdliyah menjadi tanggung jawab bersama. “Justru kita harus melakukan penguatan dan pemantapan. Baru kalau kita diserang, niscaya harus kita perkuat hujjah-hujjah kita, menghadapi situasi zaman kita sekrang,” ujar Kiai Navis yang juga wakil ketua PWNU Jawa Timur.

KH Dzul Hilmi Ghazali mengatakan, bahwa penguatan dan pemantapan terhadap ajaran Aswaja ala NU perlu terus-menerus dilakukan agar tidak mudah digoyahkan dengan paham dan aliran lain di luar NU.

”Bahwa aqidah, syari’ah/amaliyah ubudiyah serta akhlak Aswaja an-Nahdliyyah adalah benar adanya karena faham Aswaja dijamin kebenarannya serta keselamatannya oleh Rasulullah Saw. Sumber hukumnya Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas (sesuai AD/ART NU) harus dipahami dan diamalkan,” kata Kiai Dzul Hilmi.

Menurut imam Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya ini, memilih NU sebagai wadah atau wasilah untuk membentengi faham Aswaja adalah suatu pilihan yang benar dan tepat. Sebab, golongan Aswaja diikuti oleh mayoritas umat Islam seluruh dunia (sawadul a’dham).

Sejumlah pembahasan diketengahkan pada Halaqah Aswaja NU Kota Surabaya. Seperti, “Aswaja, Pemantapan Aqidah dan Amaliyah Aswaja” oleh Ustadz M Luqmanul Hakim dari Lembaga Bahtsul Masail PCNU Kota Surabaya, “Firqah-firqah dalam Islam” oleh Ustadz Muntaha dari LBM PCNU Kota Surabaya, “Bermadzhab, Keniscayaan Mengamalkan Ajaran Islam,” oleh KH Ahmad Asyhar Shofwan, Katib Syuriyah PCNU Kota Surabaya.

Dalam waktu dekat, sebagai kelanjutan dari Halaqah Aswaja NU Kota Surabaya putaran kedua, pada awal November depan akan dilakukan pelatihan kader Aswaja NU bagi generasi muda. “Kami berharap dengan pelatihan kader utama, akan jadi motor penggerak yang bisa membentengi NU dari serangan aliran dan faham lain di luar NU,” kata KH Ahmad Saiful Chalim AR, Ketua PCNU Kota Surabaya.

Dalam kesimpulannya, H Chalimi, Direktur Aswaja Center PCNU Kota Surabaya mengatakan, setiap kader dan pengurus NU semestinya mengelola serta mengurus organisasi secara proporsional untuk membesarkan dan mengharumkan NU. “Berpikir ilmiah, bertindak santun serta bijaksana dalam menangkis serangan-serangan dari firqah-firqah Islam serta pertarungan faham-faham (isme) lainnya,” kata Chalimi.

“Menjauhi sikap perilaku benalu, mencari popularitas semata-semata dan merecoki Nahdlatul Ulama untuk kepentingan-kepentingan pribadi, kelompok tertentu di dalam atau di luar NU,”imbuh dia, didampingi Teguh, sekretaris penyelenggara yang pernah dilatih di PBNU.

Selain itu, ada dua tambahan materi pembahasan. Yaitu “Pengantar Hukum dan Organisasi” oleh Muhammad Fadil SH, Ketua LPBH PCNU NU Kota Surabaya, dan “NU dan Peta Politik dan Aliran Dunia” oleh Abdul Quddus Salam MIP, Ketua Lakpesdam NU Kota Surabaya.

”Kemampuan dalam memahami hukum, setidaknya hukum sebagai pengantar, diharapkan agar memiliki kemampuan untuk melangsungkan peran kita, baik sebagai pribadi, masyarakat, maupun sebagai organisatoris,” kata M Fadil.

Hal ini, kata Fadil, setidaknya tentang pengetahuan atas hak dan kewajiban yang diatur dalam hukum. “Karena hal tersebut merupakan hal mendasar dalam memperjuangkan eksistensi kita, sesuai wilayah dimana kita berada. Sehingga dapat diperoleh suatu harapan, bahwa peserta yang tergabung dalam diskusi ini dapat memahami hukum setidak-tidaknya sebagai dasar-dasarnya,” tegasnya.

Akhirnya, Abdul Quddus Salam mengingatkan, NU harus menjalankan dengan penuh mekanisme organisasi secara benar, mulai dari Ranting, MWC, Cabang, Wilayah hingga Pengurus Besar. Bagi personalia pengurus harus dilakukan screening terlebih dahulu sebelum duduk sebagai pengurus.

”Para pengurus NU, di segala tingkatan, harus memberikan support bagi pengembangan dan pembentukan IPNU/IPPNU dan PMII. Selain itu, pengkaderan NU harus dilakukan sejak dini, setidaknya mulai tingkat SMP dan SMA,” tandasnya. (Abdul Hadi JM/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ulama, Pemurnian Aqidah Asli Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa admin situs Asli Muhammadiyah sangat membenci AdBlock karena dengan adanya iklan maka situs Asli Muhammadiyah bisa tetap berjalan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Tulisan
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Asli Muhammadiyah dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock