Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Januari 2018

Cara NU Mayangan Lestarikan Tradisi dan Budaya NU

Jombang, Asli Muhammadiyah 

Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang , Jawa Timur terus berupaya melestarikan tradisi dan budaya NU dengan rutin menggelar kegiatan lailatul ijtima. Kegiatan ini digelar setiap tanggal 15 penanggalan hijriah.

Kegiatan yang biasa dihadiri oleh warga NU se-ranting Mayangan ini membahas sejumlah persoalan, diantaranya ajakan untuk melestarikan khazanah kebudayaan NU, pembacaan kitab Sulamut Taufiq, Bahtsul Masail, Tahlilan, Istighosah, dan pembacaan sholawat nariyah.

Cara NU Mayangan Lestarikan Tradisi dan Budaya NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara NU Mayangan Lestarikan Tradisi dan Budaya NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara NU Mayangan Lestarikan Tradisi dan Budaya NU

"Kegiatan ini bertujuan melestarikan nilai-nilai kebudayaan lama yang baik namun tidak menutup kemungkinan untuk mengambil hal-hal baru yang lebih konstruktif dan lebih baik." Kata Ketua Tanfidziah NU Ranting Mayangan, kiai Abdul Karim Elmuna, Rabu (9/8).

Dijelaskan, acara seperti ini sudah berlangsung sejak G30S PKI pada Orde Lama hingga kini. Kegiatan lailatul ijtima inj dirasakan betul dapat mebentengi masyarakat agar tidak terseret arus zaman ke arah yang negatif. Dengan berkumpulnya para ulama, tokoh masyarakat, perangkat desa, kaum muda maka kemajuan desa bisa diwujudkan.

"Saya berharap teman-teman generasi muda juga semakin semangat untuk turut andil dalam kegiatan ini. Karena nanti mereka lah yang akan meneruskan perjuangan kami," tambahnya.

Asli Muhammadiyah

Pria yang juga pengasuh Pondok Ribath Darul Mansyur ini menuturkan pentingnya acara seperti ini dalam merespon serangan radikalisme dan kaum takfiri. Para ulama dan tokoh masyarakat harus terus mensosialisasikan bahaya radikalisme pada masyarakat agar tidak terjerumus dengan aliran radikal yang ingin menghancurkan Indonesia yang sudah tentram dan damai

Asli Muhammadiyah

"Menjaga NU dan NKRI adalah tanggungjawab bersama karena mustahil dilakukan oleh seorang diri. Menjaga NU adalah menjaga Indonesia." Pungkasnya.

Selain itu, Kiai Karim juga mengharapkan dilain waktu Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, wilayah dan pusat bisa berkunjung ke daerahnya. Dengan harapan dapat memotivasi masyarakat untuk mengikuti kegiatan rutinan tersebut.

"Kalau Kiai Said yang kesini pasti ramai dan meriah," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Cerita, Kajian, Ulama Asli Muhammadiyah

Kamis, 04 Januari 2018

Belajar Toleransi dari Italia

Italia adalah negara penuh peradaban. Bukan hanya olahraga sepak bolanya yang melegenda, tetapi keagamaan dan budaya tetap dijaga. Banyak kota-kota di Italia yang menjadi landmark atau brand iconic dunia, salah satunya adalah Pisa yang terkenal dengan menaranya yang miring. Orang biasa menyebutnya menara miring Pisa.

Roma yang merupakan sumber peradaban kuno juga dikenal sebagai kerajaan Romawi Kuno. Colloseum yang sering kita baca sebagai tempat diadunya para gladiator sampai mati, juga istana dan benteng Kaisar Nero yang terkenal sangat sadis. Roma sampai hari ini masih menyimpan rapi bukti-bukti sejarahnya. Dahulu kota ini terkenal dengan Imperium Romawi. Banyak benteng kokoh sebagai tembok pertahanan.

Belajar Toleransi dari Italia (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Toleransi dari Italia (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Toleransi dari Italia

Sebagai warga Indonesia, saya berbangga dengan Indonesia. Di kota Roma ini, Indonesia memiliki kantor di pusat kota yang strategis. Tidak banyak negara yang dapat memiliki atau menempati kantor sebagai kedutaan di Via Campania, Kota Roma ini, karena mungkin saja di sekitar gedung di sini sudah tidak boleh lagi dimiliki sendiri.

Asli Muhammadiyah

Selain Indonesia yang kantor kedutaannya berkedudukan di Via Compania, adalah Amerika Serikat dan Jepang yang kantor kedutaannya di zona yang tak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan ini.

Toleransi di Itali, terlihat? seperti di Milan, Roma, dan Vatikan yang tampak sangat damai. Sering adanya undangan dialog keagamaan dari Vatikan untuk Muslim di Roma agar menjaga keharmonisan, kerukunan antarumat beragama, dan keutuhan kebangsaan. Begitu yang diceritakan oleh Adnan kepada saya.

Asli Muhammadiyah

Adnan adalah seorang staf KBRI yang juga ahli hukum Islam. Kepada saya, ia banyak menjelaskan toleransi di Roma. Banyak pemuka agama di Vatikan yang bahkan lebih tahu tentang hukum-hukum dalam keislaman dibandingkan umat Islam sendiri di sini. Sebagai Muslim seharusnya kita termotivasi untuk mempelajari keislaman lebih banyak, dengan menyediakan waktu untuk membaca dan belajar Al-Qur’an.

“Sebagai Muslim yang minoritas, yang berada di negara dengan mayoritas Katolik, haruslah tetap berbuat baik, sopan santun, dan berakhlak baik,” kata Adnan.

Ia pun menyarankan kepada saya setiap menyampaikan ceramah Ramadhan tidak menyentuh masalah-masalah yang berbau politik, apalagi masalah-masalah hubungan negara yang diplomatik. Tidak memberikan keterangan-keterangan yang memancing kerisauan umat Islam. Apalagi di sini background mereka berbeda-beda.

***

Lebaran di Italia tidak semegah dan semeriah di kampung halaman, Indonesia. Takbiran pun dibatasi, menghormati tetangga yang sedang istirahat. Begitu juga dengan izin mengadakan keramaian kepada polisi setempat. Jangan tanyakan tentang takbir keliling di Italia, itu jelas tidak ada.

Beruntung bagi diaspora Muslim Indonesia di Roma, karena KBRI menyelenggarakan shalat Idul Fitri di halaman wisma dan difasilitasi oleh Nadwah Ukhuwah Roma (NUR) yang bekerja sama dengan Dompet Dhuafa.

Saya berkesempatan mengimami dan memberikan khutbah Idul Fitri. Saya sampaikan judul khutbah, “Menjadi Manusia Ramadhan yang Mandiri dan Rabbani”. Judul itu sengaja saya pilih yang berisi uraian bagaimana pemantapan tauhid kita bersama.

Karena suasana lebaran masuk musim panas, ini jadi ujian juga, terutama ujian pandangan. Panasnya menyengat, karena suhu di Roma pada akhir bulan Juni ini mencapai 31 derajat.

Bagi penduduk Italia, ini waktunya berlibur. Sekolah libur tiga bulan lebih. Yang punya uang banyak bisa liburan ke luar negeri. Yang uangnya pas-pasan liburan di pantai sekitar Italia. Bagi saya ini agak aneh. Saat? panas mereka ke pantai berjemur. Saat musim dingin mereka ke gunung. Bukannya malah tambah panas ketika musim panas, dan tambah dingin ketika musim dingin?

Diaspora Indonesia, terutama para mahasiswa ada yang pulang kampung ke Indonesia. Karena musim panas ini, adalah libur panjang di Italia. Libur bulan Juni hingga pertengahan September.

Para pekerja di Italia ada yang bisa mengambil cuti, ada juga yang tidak bisa mengambil cuti, tergantung bidang pekerjaannya. Mereka yang bisa ambil cuti, bisa jalan-jalan menikmati indahnya pemandangan alam Italia. Italia juga terkenal dengan batu alamnya. Granit, marmer, keramik, semuanya terunggul di dunia. Batu alam Italia terkenal kokoh dan cantik. Marmer dan bebatuan Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah, sebagian besar berasal dari Italia.

Banyak lokasi yang bisa dikunjungi di Italia saat libur lebaran. Colloseum di Roma, tempat para gladitor diadu dengan hewan sampai mati. Pantheon, gereja tua yang dibangun pada tahun 27 Masehi. Trevi Fountain, air mancur yang mitosnya pengunjung akan balik ke Roma jika melempar koin ke dalam kolamnya. Menara miring Pissa, termasuk gereja-gereja besar di sekitar Roma. Eldumo di Milan. Stadion-stadion sepak bola Sansiro, Turino, Olimpico. Begitu juga wisata? sejarah? di Napoli, Kampung Pompeyy. Ada juga wisata air Venesia.

Sayangnya saya tidak bisa menyusuri keindahan Venesia dan Pompeyy. Padahal keduanya adalah wisata terkenal di Italia yang bisa dijadikan sebagai wahana tadabbur alam. Venesia adalah wisata kampung air yang dapat dibilang terbaik di dunia. Pompeyy adalah kampung yang penduduknya berbuat maksiat dan langsung diazab dengan lahar panas gunung Vesuviius di Napoli.

Menurut orang-orang yang sudah sampai ke sana, Irwanda, staff KBRI salah satunya, sisa-sisa sejarahnya masih utuh. Kerangka mereka terlhat seperti berbuat maksiat waktu dulu. Memang letaknya sangat jauh dari kota Roma. Membutuhkan waktu 7-8 jam perjalanan dengan bus atau 5-6 jam dengan kereta. Harus kuat fisik juga menyusuri keindahannya.

Mengisi liburan dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah sebagai tambahan wawasan dan pengetahuan memang penting, sebagai bentuk membaca kebesaran ciptaan Allah yang memang harus dijadikan pelajaran.

Tetapi, lebih penting lagi, karena suasana masih dalam Idul Fitri adalah mengunjungi orangtua, kerabat, teman, dan keluarga. Itu yang lebih utama, sebagaimana Rasulullah bersabda, “Siapa yang mau diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, sambunglah silaturrahmi,” (HR Muslim).

H Khumaini Rosadi, anggota Tim Inti Dai dan Media Internasional (TIDIM) LDNU, dan Dai Ambassador Cordofa 2017 dengan penugasan ke Roma, Italia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Cerita, Tegal, Bahtsul Masail Asli Muhammadiyah

Senin, 01 Januari 2018

Inilah Bedanya Ulama Indonesia dengan Timur Tengah Menurut Ketum PBNU

Rembang, Asli Muhammadiyah. Ketua Umum Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mengatakan, di Timur Tengah tidak ada ulama yang nasionalis, sedangkan di Indonesia seorang ulama juga dikenal sebagai nasionalis.

Kiai asal Cirebon Jawa Barat ini kemudian menyebut beberapa nasionalis Timur Tengah yang bukan ulama, diantaranya Saddam Husain, dan Muammar Khadafi. Sementara dari kalangan ulama yang tidak nasionalis diantaranya, Hasan Banna dan pemikir sekaligus aktivis Islam politik Mesir, Muhammad Ghozali.

Inilah Bedanya Ulama Indonesia dengan Timur Tengah Menurut Ketum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Bedanya Ulama Indonesia dengan Timur Tengah Menurut Ketum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Bedanya Ulama Indonesia dengan Timur Tengah Menurut Ketum PBNU

"Mereka ulama besar tapi bukan nasionalis. Yang nasionalis bukan ulama," jelas Kiai Said saat peresmian Masjid Al-Amin, Desa Pamotan Kecamatan Pamotan Kabupaten Rembang, Selasa (17/5) kemarin.

Di Indonesia, lanjut kiai Said, Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari adalah ulama nasionalis. Begitu juga Kiai Wahab Chasbullah.?

"Sampai-sampai KH Hasyim Asyari mengatakan, membela tanah air fardlu ain. Setiap orang wajib (membela tanah air), sama dengan shalat. Siapa orang yang meninggal dalam rangka membela tanah air, mati sahid. Dan siapa yang membela dan memihak penjajah, boleh dibunuh. Walaupun kiai Hasyim tidak mengatakan kafir," ungkapnya.

"Dari sini KH Hasyim Asyari mempunyai jargon, hubbul wathon minal iman. Ini bukti betapa nasionalismenya ulama Indonesia," jelas alumus Universitas Umm al-Qura, Mekkah ini. (Aan Ainun Najib/Zunus)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah Santri, Jadwal Kajian, Cerita Asli Muhammadiyah

Sabtu, 30 Desember 2017

OJK Berharap NU Bantu Pahamkan Masyarakat soal Jasa Keuangan

Jakarta, Asli Muhammadiyah

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Haddad mengatakan bahwa perluasan jasa keuangan akan menyejahterakan umat. Hal ini membutuhkan sebuah organisasi yang mempunyai jamaah hingga ke kalangan bawah. NU mempunyai potensi tersebut. Sebab itu, OJK berharap NU dapat membantu memahamkan jasa keuangan ini.

Hal ini disampaikan Muliaman dalam kegiatan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara OJK dan PBNU, Senin (29/2) di Gedung PBNU Jakarta. (Baca:? PBNU-OJK Teken MoU 3 Sektor Pengembangan Jasa Keuangan)

OJK Berharap NU Bantu Pahamkan Masyarakat soal Jasa Keuangan (Sumber Gambar : Nu Online)
OJK Berharap NU Bantu Pahamkan Masyarakat soal Jasa Keuangan (Sumber Gambar : Nu Online)

OJK Berharap NU Bantu Pahamkan Masyarakat soal Jasa Keuangan

“NU bisa bergerak melalui lembaga ekonomi NU, koperasi pesantren untuk bisa mengedukasi lebih jauh dan mendalam kepada masyarakat mengenai berbagai fasilitas jasa keuangan,” ujar Muliaman.

Menurutnya, koperasi pesantren bisa menjadi sarana edukasi keuangan yang strategis karena pesantren secara luas dapat memberdayakan peran ekonomi masyarakat. Dia juga berharap pola pikir masyarakat terkait jasa keuangan perlu diubah melalui edukasi tersebut.

Asli Muhammadiyah

“Semoga MuO ini dapat menjadi kendaraan untuk mewujudkan jasa keuangan yang lebih berkualitas sehingga kesejahteraan masyarakat bisa juga terwujud,” ucap Muliaman.

Dalam hal ini, OJK juga mendorong inklusi keuangan. Jadi jasa keuangan tidak bersifat eksklusif, tetapi masyarakat bisa mengaksesnya secara luas. Karena itu, menurut Muliaman, Bank tidak harus membuka kantor, tetapi memanfaatkan agen-agen yang bisa dijadikan perantara bank agar masyarakat mudah dalam memanfaatkan jasa keuangan.

Kegiatan ini dihadiri oleh Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini, dan pengurus PBNU lain. Adapun dari OJK Ketua Dewan Komisioner dan jajaran pejabat OJK lain. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah Cerita, Budaya Asli Muhammadiyah

Rabu, 27 Desember 2017

Malam Jumat itu, Kiai Sahal Berpamitan Lewat Mimpi

Salatiga, Asli Muhammadiyah. Salah satu kiai sepuh NU, KH Mahfud Ridwan pengasuh pondok pesantren Edi Mancoro Salatiga, sedang terbaring sakit. Ada cerita yang menarik, malam Jumat lalu, ia sempat bertemu Kiai Sahal dalam mimpi. Kiai Sahal berpamitan dengannya.

Kiai Mahfud adalah adalah juga seorang karib KH Abdurrahman Wahid. Kiai yang ramah dan bersahaja ini sudah di rawat di Rumah Sakit Puri Asih Salatiga sejak Rabu, 22 Januari 2014 lalu.



Malam Jumat itu, Kiai Sahal Berpamitan Lewat Mimpi (Sumber Gambar : Nu Online)
Malam Jumat itu, Kiai Sahal Berpamitan Lewat Mimpi (Sumber Gambar : Nu Online)

Malam Jumat itu, Kiai Sahal Berpamitan Lewat Mimpi

Menurut penuturan putranya, Muhammad Hanif Mahfud, pada mulanya Kiai Mahfud mengalami muntaber dan demam beberapa hari. Dokter menyarankan kiai untuk di rawat di Rumah Sakit. "Bapak demam selama beberapa hari, tapi setelah diperiksa dokter ada gejala stroke ringan, selaian juga paru-paru yang kembali kambuh," tuturnya.

Asli Muhammadiyah

Saat dijenguk oleh beberapa santri, Kiai Mahfud memaksakan diri untuk duduk sekalipun masih nampak lemah. Kiai didampingi ibu nyai, ini bertutur dengan suara yang sangat lirih namun jelas. Jarum infus masih menempel di lengan kanannya.

Bertemu Kiai Sahal

Asli Muhammadiyah

Sambil menahan nafas yang tersengal, dan mata menerawang, ia menuturkan pada saat malam Jumat yang lalu berjumpa dengan KH Sahal Mahfudh.

"Saya malam Jumat kemarin dijumpai Kiai Sahal, beliau bilang, aku thak dhisik yo, terusno anggonmu ngrumati arek-arek (Aku duluan yah, lanjutkan perjuanganmu membimbing santri-santri)," demikian ceritanya.

Sesaat setelah itu, ia terbangun. Sekitar jam dua dini hari, Jumat (24/1) ia mendengar kabar bahwa Kiai Sahal telah meninggal kesedihan mendalam dirasakannya kehilangan tokoh panuta warga nahdhiyin tersebut.

Semoga lekas sembuh, Kiai! Amien. (Fahsin M. Faal/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Cerita, News, Bahtsul Masail Asli Muhammadiyah

Selasa, 19 Desember 2017

Atraksi Menakjubkan Pendekar NU di Depan Ulama Mancanegara

Jakarta, Asli Muhammadiyah

Suasana hening ketika tiga pendekar Pencak Silat NU Pagar Nusa memasuki area panggung International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Senin (9/5). Semua sorot mata tertuju ke depan.

Atraksi Menakjubkan Pendekar NU di Depan Ulama Mancanegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Atraksi Menakjubkan Pendekar NU di Depan Ulama Mancanegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Atraksi Menakjubkan Pendekar NU di Depan Ulama Mancanegara

Di tengah kesunyian itu ketiganya memperagakan jurus-jurus, hingga tiga rekannya yang lain menyusul dengan membawa tiga butir kelapa hijau berikut nampan dan mejanya. Seorang dari mereka kemudian tampak seperti mengisikan kekuatan pada kelapa, lalu mendekati meja. Dan tiba-tiba... “Wushshsh...”

Meja kosong bekas tempat tiga butir kelapa itu melayang-layang seolah ada yang menggotongnya. Seorang pendekar yang bertugas memegangnya pun berlari terseret mengikuti ayunan meja bertaplak hitam itu. Sontak, ruangan ramai dengan gemuruh tepuk tangan hadirin dari kalangan ulama dalam negeri dan mancanegara.

Asli Muhammadiyah

Tamu undangan luar negeri dalam forum internasional yang diinisiasi PBNU ini antara lain datang dari? Sudan, Libia, Aljazair, India, Rusia, Maroko, Thailand, Inggris, Senegal, Lithuania, Spanyol, Yunani, Korea Selatan, Yordan, Pakistan, Malaysia, Tunisia, Saudi Arabia, dan lain-lain.

Tak berhenti di situ, tiga pendekar menampilkan atraksi ekstremnya. Masing-masing menguliti kelapa hanya dengan gigi. Di sela pemandangan tak wajar itu, seorang dari keenam pesilat tersebut maju ke depan dengan membawa borgol.

Asli Muhammadiyah

Apakah borgol itu asli?

Borgol disodorkan kepada hadirin. Beberapa ulama luar negeri memeriksa keasliannya dan memastikan bahwa tiada rekayasa, sebelum akhirnya dua belenggu besi itu mengunci dua pergelangan tangan pendekar Pagar Nusa. Dengan berdiri setengah posisi kuda-kuda, sang pendekar berkomat-kamit sembari mempraktikkan beberapa jurus tangan. Sejenak kemudian ia berteriak, “Allaaaaahu akbar...”

“Prakkkk...” Borgol rangkap dua pun pecah berkeping-keping begitu kedua tangan direnggangkan. Gedung yang berada di kompleks Gelora Bung Karno itu kembali riuh dengan aplaus ratusan peserta Isomil. Beberapa orang terlihat mengabadikannya dengan foto dan video.

Suasana atraksi berakhir dengan kejutan saat ketiga pendekar yang dari awal unjuk kesaktian gigi memecah batok kelapa masing-masing. Di dalam tempurung kelapa ternyata terdapat bendera Indonesia, bendera Nahdlatul Ulama, dan bendera berlogo Isomil.

Entah bagaimana proses masuknya ketiga kain itu, yang jelas suara riuh tepuk tangan terdengar semakin keras. Semua tampak bahagia menyaksikan ketiga bendera tersebut dibentangkan. “Ini pemandangan yang keren,” ujar salah seorang peserta. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Bahtsul Masail, Cerita, Nahdlatul Asli Muhammadiyah

Minggu, 10 Desember 2017

Pusat Studi Pesantren Adakan The Asia Interfaith Forum 2017 di Bogor

Bogor, Asli Muhammadiyah. Pusat Studi Pesantren (Center for Pesantren Studies) menggelar The Asia Interfaith Forum 2017 di Bogor, Jawa Barat, (16-19/10). Kegiatan yang mengangkat tema Religious Radicalism dan Terrorism: Challenge, Respon, and Action ini diikuti oleh para aktivis perdamaian dan akademisi.

Pusat Studi Pesantren Adakan The Asia Interfaith Forum 2017 di Bogor (Sumber Gambar : Nu Online)
Pusat Studi Pesantren Adakan The Asia Interfaith Forum 2017 di Bogor (Sumber Gambar : Nu Online)

Pusat Studi Pesantren Adakan The Asia Interfaith Forum 2017 di Bogor

Forum akademisi dan para aktivis dari lima negara (Indonesia, Bangladesh, Malaysia, dan Singapura, Kamboja) ini duduk bersama untuk merumuskan aksi dalam menanggulangi radikalisme agama yang sampai saat ini menjadi duri bagi terwujudnya perdamaian dunia.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Pusat Studi Pesantren (PSP), Ahmad Ubaidillah, Senin (16/10) sesaat sebelum membuka forum berbahasa Inggris ini. Dalam pandangan Ubaidillah, peran para aktivis perdamaian tersebut penting dalam memberikan masukan berdasarkan pengalaman nyata yang sudah dilakukan.

“Forum ini terbatas dengan maksud agar fokus dan mendalam untuk merumuskan langkah bersama berdasarkan best practice yang sudah dilakukan di masing-masing negara,” ujar Ubaidillah.

Karena kegiatan ini bukan hanya forum aksi, tetapi juga forum akademisi dari berbagai latar belakang, harapan Ubaidillah, dari kegiatan ini muncul inisiatif untuk melakukan studi bersama di masing-masing negara.

Asli Muhammadiyah

“Bisa melakukan riset bersama sehingga networking ini memungkinkan kita tidak harus mendatangi negara-negara dimaksud untuk melakukan studi,” jelasnya.

Berangkat dari proyeksi tersebut, ia berharap forum ini menghasilkan output terutama dalam upaya penanggulangan radikalisme agama di media sosial dan dunia maya secara umum.  Karena selama ini, media sosial menjadi alat propaganda nyata dalam menyebarkan radikalisme agama.

“Radikalisme tantangan bersama, bukan hanya peran negara, tetapi juga civil society,” kata Ubaidillah.

Asli Muhammadiyah

Sebagai jebolan pesantren dan warga NU, Ubaidillah tidak memungkiri peran dan idealisme pesantren dalam menguatkan paham keagamaan moderat telah mampu menciptakan harmonisasi sosial di masyarakat.

Menurutnya, pesantren juga lembaga yang selama ini konsisten mempertahankan tradisi dan budaya yang berkembang di masyarakat. Sehingga kegiatan ini juga diarahkan untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke mancanegara sebagai bagian dari elemen penting dalam menanggulangi radikalisme agama.

“Pesantren bisa menjadi prototipe atau contoh best practice bagi mereka dalam memberikan asupan berharga dalam memahami dan mempraktikkan agama dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Ubaidillah.

Pada sesi terakhir, para aktivis perdamaian dunia tersebut akan diajak mengunjungi Kampung Budaya Sunda untuk memperkenalkan kearifan lokal (local wisdom) yang secara kultur banyak memberikan pelajaran penting bagi dunia. 

Selain menghadirkan para aktivis NGO dan sejumlah akademisi, Pusat Studi Pesantren juga menghadirkan pihak Kedutaan Besar Amerika Serikat, Gurjit Singh dan Aurelia Agustine. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Cerita Asli Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa admin situs Asli Muhammadiyah sangat membenci AdBlock karena dengan adanya iklan maka situs Asli Muhammadiyah bisa tetap berjalan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Tulisan
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Asli Muhammadiyah dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock