Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Januari 2018

Stok Buku Nikah Habis, LKKNU: Pemerintah Abai Melayani Warga

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Ketua Pengurus Pusat Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Sulthonul Huda menilai, kelangkaan buku nikah yang terjadi di beberapa daerah belakangan ini, seharusnya tidak terjadi. ?

Stok Buku Nikah Habis, LKKNU: Pemerintah Abai Melayani Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Stok Buku Nikah Habis, LKKNU: Pemerintah Abai Melayani Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Stok Buku Nikah Habis, LKKNU: Pemerintah Abai Melayani Warga

“Aneh saja, hal sepele seperti itu kok bisa terjadi,” komentarnya kepada Asli Muhammadiyah di gedung PBNU, Jalan Taman Amir Hamzah, Matraman, Jakarta, Selasa (12/11).

Menurut Sulthon, memang buku nikah hanya masalah administrasi, bukan subtansi dalam pernikahan. Tapi, lanjut Sulthon, hal sepele ini terjadi menunjukkan pemerintah abai dalam melayani kebutuhan warganya.“Pemerintah harus segera mengatasi masalah ini,” imbaunya.

Asli Muhammadiyah

Ia juga meminta kepada KUA di berbagai daerah yang kekurangan buku nikah dengan mengeluarkan surat nikah sementara, segera mengeluarkan buku nikah asli. “Surat nikah sementara tidak terlalu lama diberikan, seminggu atau paling lambat dua minggu,” pintanya.

Asli Muhammadiyah

Seperti diketahui, belakangan ini stok buku nikah di beberapa daerah kosong. Misalanya di Depok Jawa Barat. Akibatnya pasangan yang menikah selama 2 bulan terakhir,? terpaksa hanya puas dengan sehelai surat keterangan nikah sementara.

Provinsi-provinsi lain yang? mengalami kekurangan buku nikah dengan jumlah peristiwa nikah yang tinggi antara lain Jawa? Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Sumatera Utara, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara? Barat. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah News, Pendidikan Asli Muhammadiyah

Rabu, 27 Desember 2017

Malam Jumat itu, Kiai Sahal Berpamitan Lewat Mimpi

Salatiga, Asli Muhammadiyah. Salah satu kiai sepuh NU, KH Mahfud Ridwan pengasuh pondok pesantren Edi Mancoro Salatiga, sedang terbaring sakit. Ada cerita yang menarik, malam Jumat lalu, ia sempat bertemu Kiai Sahal dalam mimpi. Kiai Sahal berpamitan dengannya.

Kiai Mahfud adalah adalah juga seorang karib KH Abdurrahman Wahid. Kiai yang ramah dan bersahaja ini sudah di rawat di Rumah Sakit Puri Asih Salatiga sejak Rabu, 22 Januari 2014 lalu.



Malam Jumat itu, Kiai Sahal Berpamitan Lewat Mimpi (Sumber Gambar : Nu Online)
Malam Jumat itu, Kiai Sahal Berpamitan Lewat Mimpi (Sumber Gambar : Nu Online)

Malam Jumat itu, Kiai Sahal Berpamitan Lewat Mimpi

Menurut penuturan putranya, Muhammad Hanif Mahfud, pada mulanya Kiai Mahfud mengalami muntaber dan demam beberapa hari. Dokter menyarankan kiai untuk di rawat di Rumah Sakit. "Bapak demam selama beberapa hari, tapi setelah diperiksa dokter ada gejala stroke ringan, selaian juga paru-paru yang kembali kambuh," tuturnya.

Asli Muhammadiyah

Saat dijenguk oleh beberapa santri, Kiai Mahfud memaksakan diri untuk duduk sekalipun masih nampak lemah. Kiai didampingi ibu nyai, ini bertutur dengan suara yang sangat lirih namun jelas. Jarum infus masih menempel di lengan kanannya.

Bertemu Kiai Sahal

Asli Muhammadiyah

Sambil menahan nafas yang tersengal, dan mata menerawang, ia menuturkan pada saat malam Jumat yang lalu berjumpa dengan KH Sahal Mahfudh.

"Saya malam Jumat kemarin dijumpai Kiai Sahal, beliau bilang, aku thak dhisik yo, terusno anggonmu ngrumati arek-arek (Aku duluan yah, lanjutkan perjuanganmu membimbing santri-santri)," demikian ceritanya.

Sesaat setelah itu, ia terbangun. Sekitar jam dua dini hari, Jumat (24/1) ia mendengar kabar bahwa Kiai Sahal telah meninggal kesedihan mendalam dirasakannya kehilangan tokoh panuta warga nahdhiyin tersebut.

Semoga lekas sembuh, Kiai! Amien. (Fahsin M. Faal/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Cerita, News, Bahtsul Masail Asli Muhammadiyah

Minggu, 17 Desember 2017

Tak Hanya Kaderisasi, PMII Bojonegoro Akan Fokus pada Tiga Hak Dasar Rakyat

Bojonegoro, Asli Muhammadiyah

Usai Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bojonegoro masa khidmah 2016 dikukuhkan beberapa waktu lalu, organisasi kemahasiswaan ini melaksanakan rapat kerja cabang (rakercab).

Dalam pembahasan program kerja di sekretariat PC PMII Graha Ulul Albab, Jalan Pondok Pinang Bojonegoro, Ahad (14/2), yang selesai hingga larut malam, para pengurus sepakat dan berkomitmen akan menyoroti tiga hak dasar di Kota Ledre, sebutan lain Bojonegoro.

Tak Hanya Kaderisasi, PMII Bojonegoro Akan Fokus pada Tiga Hak Dasar Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Hanya Kaderisasi, PMII Bojonegoro Akan Fokus pada Tiga Hak Dasar Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Hanya Kaderisasi, PMII Bojonegoro Akan Fokus pada Tiga Hak Dasar Rakyat

Ketua PC PMII Bojonegoro Ahmad Syahid mengungkapkan akan memaksimalkan amanah satu periode ini. Ia bersama pengurus yang lain akan menguatkan ujung tombak kaderisasi dan pisau analisa para kader PMII setempat. Ia berharap ini menjadi langkah taktis dan strategi untuk memajukan organisasi.

Asli Muhammadiyah

"Selain konsen kaderisasi dan penguatan ideologi, kepengurusan hari ini akan lebih fokus dengan isu-isu kebijakan pemerintah terkait tiga hak dasar kebutuhan rakyat," ungkapnya kepada Asli Muhammadiyah.

Asli Muhammadiyah

Tiga hak dasar yang dimaksud di antaranya pendidikan, kesehatan, dan pembangunan fisik. Bahkan pengurus telah berencana membuat kajian mendalam terkait migas di Bojonegoro dan tentunya aksi turun jalan. "Sehingga rakercab ini untuk mempertegas gagasan PMII dalam mempertajam intelektual dan gerakan jalanan satu tahun ke depan," terangnya.

Lulusan IKIP PGRI Bojonegoro itu juga merinci, pengurus saat ini akan berorientasi pada penajaman intelektual dan gerakan jalanan PMII di Bojonegoro. Diharapkan, PMII akan bersinergi dengan pihak kampus dalam menanamkan jiwa nasionalisme dan keagamaan mahasiswa, tanpa meninggalkan semangat untuk selalu mengontrol kebijakan pemerintah.

"Sudah saatnya kita kembali ke khittah. Khittah PMII adalah kaderisasi. Rakercab didesain dengan serius, berdasarkan hasil pra-rakercab sebelum pelantikan kemarin," jelas Syahid sapaan akrabnya.

Aktivis asal Tuban ini menambahkan, para pengurus benar-benar serius dalam mengemban amanah setahun ke depan. Hal itu terlihat dengan desain pelaksanaan rakercab yang berjarak sepekan dari pelantikan pengurus. Sebelum melaksanakan rakercab ini, PC PMII Bojonegoro menggelar pra-rakercab terlebih dahulu.

"Sehingga saat rakercab sudah ada bekal matang yang akan dibahas untuk mempertajam arah gerakan PMII satu tahun ke depan. Baik dalam konteks kaderisasi, analisa wacana dan distribusi kader PMII ke depanya," pungkasnya. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pendidikan, Humor Islam, News Asli Muhammadiyah

Selasa, 12 Desember 2017

NU dan Terorisme Berkedok Islam

Oleh KH Abdurrahman Wahid. Dalam sebuah konfrensi internasional, penulis diminta memaparkan pandangannya mengenai terorisme yang tengah terjadi, seperti peledakan bom di Bali dan perbuatan-perbuatan lain yang serupa. Penulis jadi teringat pada penggunaan nama Islam dalam kerusuhan-kerusuhan di Ambon dan Poso, serta peristiwa terbunuhnya para ulama dalam jumlah besar dalam kasus “santet di Banyuwangi”. Tentu saja penulis menjadi terpengarah oleh banyaknya tindakan-tindakan yang dilakukan atas nama Islam di atas.

NU dan Terorisme Berkedok Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Terorisme Berkedok Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Terorisme Berkedok Islam

Tentu saja kita tidak dapat menerima hal itu, seperti halnya kita tolak tindak kekerasan di Irlandia Utara sebagai pertentangan agama protestan melawan Katolikisme. Begitu juga perusakan masjid Babri sebagai pertentangan orang-orang beragama Hindu melawan kaum muslimin di negeri India, walaupun yang bermusuhan memang jelas orang-orang beragama Islam di berbagai negeri tidak terlibat dalam pertikaian dengan tindakan kekerasan  seperti di negeri-negeri tersebut.

Dalam jenis-jeinis tindakan teroristik itu, para pemuda muslim jelas-jelas terlibat dalam terorisme  yang dipersiapkan . mereka mendapatkan bantuan keuangan dan latihan-latihan guna melakukan tindakan-tindakan tersebut. Belasan bulan persiapan teknis dan finansial dilakukan, sehingga tidak dapat ia disebut sebagai sesuatu yang bersifat spontanitas  belaka. Jika tidak terjadi secara spontan, sudah pasti hal itu merupakan tindakan terror yang memerlukan waktu lama untuk direncanakan dan dilaksanakan. Para pelaksana kegiatan teror itu menganggap diri mereka bertindak atas nama Islam. Dengan demikian, menjadi jelaslah arti hukum Islam bagi kehidupan mereka, yang terkadang hanya dianggap sebagai kegiatan ilmiah guna membahas kecilnya deskripsi yang dilakukan.

Asli Muhammadiyah

Suatu hal yang harus selaludiperhatikan, yaitu gerakan Islam apapun dan di manapun senantiasa terkait dengan pilihan berikut: gerakan mereka sebagai kultur atau sebagai lembaga  atau institusi. Yang mementingkan kultur, tidak begitu memperhatikan lembaga yang mereka dukung. Ambil contoh NU (Nahdlatul Ulama) dengan para anggota  atau pengikutnya. Perhatikan dengan seksama  “budaya NU” seperti tahlil, halal bi halal, dan mengikuti rukyah (melihat bulan) untuk menetapkan permulaan hari raya. Mereka tidak peduli dengan keadaan lembaga-organisasi yang mereka dukung, dipimpin oleh orang yang tepatkah atau tidak.

Karena itulah, ketika para aktivis muda Islam yang belakangan dikenal sebagai  “muslim radikal”, dan kemudian lagi dikenal sebagai para teroris yang memulai konflik di Ambon dan Poso, dan sebagian lagi meledakkan bom di Bali, mereka pun menghadapi pilihan yang sama, mementingkan budaya atau lembaga (institusi). Sebagian dari mereka melupakan  “warisan Islam” berupa proses penafsiran kembali “reinterpretasi”-yang sudah dipakai kaum muslmin ratusan tahun lamanya, guna memasukan perkembangan zaman ke dalam ajaran agama mereka. Sebagai akibat, mereka mengembangkan “cara hidup Islam” serba keras dan memusuhi cara-cara hidup lain, dan dengan demikian membuat Islam berbeda dari yang lain. Ini tampak ketika penulis suatu ketika memberikan ceramah kepada para calon dokter di si sebuah fakultas kedokteran. Para calon dokter lelaki dipisah tempat duduk mereka dari para calon dokter perempuan, dan pemisahan mereka itu ‘dijaga” oleh seorang bertubuh kekar yang lalu lalang di tengahnya. pertemuan NU pun tidak sampai sedemi

Asli Muhammadiyah

kian keadaannya, karena di tengah-tengah tidak ada ‘penjaga” yang bertubuh kekar dan bersifat galak  terhadap pelanggaran halangan yang mereka lakukan.

Sikap mementingkan lembaga (institusi) inilah, setidak-tidaknya lebih mementingkan institusi dari kultur- seperti diperlihatkan contoh di atas, menurut pendapat penulis adalah sumber dari terorisme yang berkedok Islam, jika Institusi atau lembaga ke –Islaman ditentang oleh sebuah cara hidup, seperti halnya sekarang cara hidup orang Islam ditantang oleh cara hidup “barat”, maka mereka pun merasa terancam dan bersikap ketakutan. Perasaan dan sikap itu ditutupi oleh tindakan garang kepada “sang penentang”, dan menganggap “budaya sendiri” sebagai lebih dari segala-galanya dari “sang penantang”.

Karena tidak dapat membuktikannya  secara pasti dan masuk akal, maka lalu diambil sikap keras, yang kemudian berujung pada terorisme, seperti meledakkan bom (di Bali) dan menculik para turis (seperti dilakukan kelompok Abu Sayyaf di Filipina  Selatan). Mereka lalu menggunakan kekerasan, sesuatu yang tidak diminta atau diperintahkan oleh Islam. Agama mereka menentukan hanya kalau diusir dari rumah-rumah mereka, baru diperkenankan melakukan tindaka kekerasan untuk membela diri (idza ukhriju min diyarihim).

Karena pendekatan institusional yang mereka pergunakan, maka mereka merasa “dikalahkan” oleh peradaban-budaya lain, yaitu “kebudayaan Barat modern”. Dilupakan umpamanya saja, bagaimana Saladin sebagai Sultan Mamalik “mengalahkan” Richard Berhati Singa (The Lion Heart) dengan mengirimkan dokter pribadinya untuk menyembuhkan anak raja Inggris  itu dalam perang salib. Dokter tersebut disertai anak Saladin yang dapat saja dibunuh, kalau dokter pribadi itu tidak dapat menyembuhkan anak Richard. Raja Inggris tersebut dengan demikian  mengetahui betapa luhur budi Saladin. Dari upaya itu akhirnya ia pulang ke negaranya dan menghentikan Perang Salib.

Demikian pula hubungan antara budaya Islam dan budaya-budaya lain, harus dikembangkan dalam pola menghargai mereka, dengan demikian akan tampak keluhuran Islam yang dipeluk saat ini paling tidak oleh 1/6 jumlah umat manusia. Karena itu, sejak dahulu penulis menolak penggunaan teroris untuk ‘mempertahankan Islam’. Tindakan seperti itu justru merendahkan Islam di mata budaya-budaya lain, termasuk budaya modern  di Barat yang telah membawakan keunggulan organisasi, pengetahuan, dan teknologi. Islam hanya dapat “mengejar ketertinggalan’ itu, jika ia menggunakan rasionalitas  dan sikap ilmiyah. Memang, rasionalitas Islam sangat jauh berbeda dari rasionalitas  lain, karena kuatnya unsur identitas  Islam itu. Rasionalitas Islam yang harus dibuktikan dalam kehidupan bersama tersebut, berintikan penggunaan unsur-unsur manusiawi, dengan segala pertimbangannya ditunjukkan kepada ‘sumber-sumber tertulis’ (adillah naqliyyah) dari Allah, seperti ungkapan-ungkapan Tuhan dalam al-Qur’an dan ucapan Nabi (al-Hadits). Karena itu, pengenalan tersebut tidak memerlukan tindak kekerasan  apa pun, yang hanya akan membuktikan  “kelemahan” Islam saja.karena itulah, kita harus memiliki sikap jelas mengutuk terorisme, siapa pun yang melakukannya. Apalagi kalau hal itu dilakukan oleh mereka yang tidak mengerti perkembangan Islam yang sebenarnya.

Padahal kaum muslimin sejak dahulu terbagi dua, yaitu yang menjadi warga berbagai gerakan Islam (al-munadzamah al-Islamiyyah) dan orang-orang Islam  kebanyakan (‘awam atau laymen). Kalau mayoritas warga berbagai  gerakan Islam saja tidak menyetujui penggunaan kekerasan (terorisme), apalagi kaum muslimin awam. Inilah yang sering dilupakan para teroris  itu dan harus diingat  oleh mereka yang ingin melakukan tindak kekerasan, apalagi terorisme, di kalangan para aktivis muslimin. Kalau hal ini tidak diingat , maka tentu saja mereka akan lambat laun berhadapan dengan “kaum awam” tersebut. Para terorisme  peledak bom di Bali  pada akhirnya berhadapan dengan Undang-Undang Anti terorisme, yang merupakan produk mayoritas kaum muslimin awam di negeri ini. Dari semula, NU bersikap tidak menyetujui tindak terorisme.

Dalam Muktamar tahun 1935 di Banjarmasin, ada pertanyaan  dalam “bathsul masail”; wajibkah kaum muslimin di kawasan Hindia Belanda mempertahankan kawasan itu, sedangkan mereka diperintah oleh kaum non-muslimin (para kolonialis Belanda)? Jawab Muktamar; wajib, karena kawasan itu  dahulunya memiliki kerajaan-kerajaan Islam, dan kini kaum muslimin dapat menerapkan ajaran-ajaran agama tersebut dengan bebas. Dictum pertama (mengenai kerajaan-kerajaan Islam di kawasan ini) diambil dari sebuah teks kuno, Bughyah al-Mustarsyidin, sedangkan dictum kedua hasil pemikiran (reinterpretasi) para ulama Indonesia sendiri, tetapi sebenarnya diungkapkan sarjana muslim kenamaan Ibn Taimiyyah, yang di negeri ini kemudian dikenal karena menjadi subjek disertasi doctor Nurcholis Madjid.

Keputusan Muktamar NU sepuluh tahun sebelum proklamasi kemerdekaan itu, meratakan jalan bagi pencabutan Piagam Jakarta dari Pembukaan UUD 1945 oleh para wakil organisasi-organisai Islam di negeri kita, seperti Muhammadiyah dan NU kalau pemimpin dari gerakan-gerakan Islam tidak mewajibkan, berarti negara yang didirikan itu tidaklah harus menjadi negara Islam. Kalau demikian, Islam tidak didekati secara kelembagaan dan institusional, melainkan dari sudut budaya. Selama “budaya” Islam masih ada di negeri ini, maka Islam tidak mengalami kekalahan dan tidak harus  “dipertahankan” dengan tindak kekerasan, seperti terorisme.

Islam memiliki cara hidupnya sendiri, yang tidak perlu dipertahankan dengan kekerasan, karena cukup dikembangkan dalam bentuk budaya. Dan inilah yang terjadi, seperti adanya MTQ, penerbitan-penerbitan Islam yang berjumlah sangat banyak, dan berbagai manifestasi ke-Islaman lain. Bahkan sekarang, wajah “kesenian Islam” sudah menonjol demikian rupa sehingga layar televise  pun menampung sekian banyak dari berbagai wajah seni Islam  yang kita miliki. Karena itu, Islam tidak perlu dipertahankan dari ancaman siapa pun karena ia memiliki dinamika tersendiri. Sebagai response atas “tekanan-tekanan” modernisasi, terutama dari “proses pem-Barata-an” yang terjadi, kaum muslimin di negeri inidapat mengambil atau menolak pilihan-pilihan mereka sendiri dari proses tersebut, mana yang mereka anut dan mana yang mereka buang. Karena itu, hasilnya juga akan berbeda-beda dari satu orang ke orang lain dan dari satu kelompok ke kelompok lain. Penerimaan beragam  atas proses itu akan membuat variasi sangat tinggi dari response tersebut, yang sesuai dengan firman Allah; “dan Ku-jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa untuk dapat saling mengenal (wa ja’alnakum syu’uban wa qabaila li ta’arafu)” (QS al-Hujurat [49]:13). Ayat itu jelas memerintahkan  adanya kebhinnekaan dan melarang eksklusivisme dari kalngan kaum muslimin manapun.

Sebenarnya diantara “kalangan terorisme” itu, terdapat juga mereka yang melakukan tindak kekerasan atas perintah-pesenan dari meraka yang tadinya memegang kekuasaan. Karena mereka masih ingin berkuasa, mereka menggunakan orang-orang itu atas nama Islam, untuk menghalangi proses-proses munculnya rakyat ke jenjang kekuasaan. Dengan demikian, kalangan-kalangan itu memiliki tujuan menghadang proses demokratisasi dan untuk itu sebuah kelompok kaum muslimin digunakan untuk membela kepentingan orang-orang tersebut atas nama Islam . sungguh sayang jika maksud itu berhasil dilakukan. Rasa-rasanya, NU berkewajiban menggagalkan rencana tersebut, dan karenanyabersikap konsisten untuk menolak tindak kekerasan dalam memperjuangkan “kepentingan Islam”.

Islam tiak perlu dibela sebagaimana juga halnya Allah. Kedua-duanya dapat mempertahankan diri terhadap gangguan siapa pun. Inilah yang dimaksudkan firman Allah; “Hari ini Ku-sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Ku-sempurnakan bagi kalian (pemberian) nikmat-Ku, dan Ku-relakan bagi kalian Islam sebagai agama (al-yauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu ‘alaikum nikmati wa radlitu lakum al-Islama dinan)’ (QS al_Maidah [5]:3) menunjuk dengan tepat mengapa Islam tidak perlu dipertahankan dengan tindakan apa pun, kecuali dengan melaksanakan cara hidup Islam itu sendiri. Sangat indah untuk diucapkan, namun sulit dilaksanakan, bukan?

*) Tulisan ini pernah dimuat di Duta Masyarakat, 12 April 2003

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah News, Pondok Pesantren, Pemurnian Aqidah Asli Muhammadiyah

Senin, 11 Desember 2017

IPNU-IPPNU Blora Gencar Makesta

Blora,Asli Muhammadiyah. Pengurus IPNU-IPPNU Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mulai 24 Mei 2013 gencar menggelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). Makesta pertama dilaksanakan PAC IPNU-IPPNU Randublatung, akan dibuka Ketua MWC NU Randublatung, KH Mahmud Salim.

IPNU-IPPNU Blora Gencar Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Blora Gencar Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Blora Gencar Makesta

Kegiatan yang bertempat di Madrasah Aliyah (MA) Maarif Randublatung itu, diikuti 62 orang. Mereka berasal dari seluruh ranting dan komisariat di PAC Randublatung. Mereka akan digembleng hingga Ahad besok.

Ketua PC IPNU Kabupaten Blora, Ulil Abshor mengatakan, Makesta dilaksanakan dalam upaya untuk untuk mendapatkan kader berkualitas. Kegiatan ini akan dilaksanakan secara bergilir di seluruh PAC, “Untuk putaran pertama, Makesta kami laksanakan di PAC Randublatung, dan untuk putaran selanjutnya, Makesta akan dilaksanakan oleh PAC Doplang,’’ ujarnya.

Asli Muhammadiyah

Menurutnya, mereka yang mengikuti kegiatan Makesta adalah kader IPNU-IPPNU usia pelajar usia SMP/MTs dan SMA/SMK/MA. Mereka secara khusus digembleng untuk memahami aswaja. Yakni, Islam rohmatal lil’alamin, “Kegiata ini bertujuan untuk menjaring pelajar baik putra maupun putri agar bisa belajar berjuang dan bertaqwa dalam satu ikatan IPNU-IPPNU,” tambahnya.

Kader-kader muda NU peserta Makesta ini digembleng dengan berbagai kegiatan yang tujuannya memperdalam dan memperkokoh kembali faham Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) sebagai upaya pengkaderan dalam organisasi NU dan sebagai salah satu bentuk aplikasi keorganisasian.

Asli Muhammadiyah

Selain itu, peserta juga dibekali berbagai materi seperti Aswaja, Kepemimpinan, Ke-NU-an, Ke-IPNU-an, Keorganisasian, Leadership, Management Diri dan Administrasi serta Organisasi. Selain itu peserta juga diberi beberapa materi non formal, “Makesta ini merupakan salah satu upaya IPNU-IPPNU untuk dapat ikut serta dalam pembangunan karakter generasi muda bangsa,” pungkasnya.

Redaktur      : Abdullah Alawi

Kontributor  : sholihin hasan

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah News, Kajian Islam, Pendidikan Asli Muhammadiyah

Sabtu, 02 Desember 2017

MATAN Jateng Deklarasi di Pesantren Sunan Gunung Jati Baalawi

Semarang, Asli Muhammadiyah. Ketua Pengurus Pusat Mahasiswa Ahlit Thoriqoh Almutabarah an-Nahdliyyah (MATAN) KH Dr Hamdani Muin melantik pengurus MATAN Jawa Tengah, Rabu (4/2). Deklarasi dan pelantikan yang berlangsung di pesantren Sunan Gunung Jati Balawi, Gunung Pati, Semarang ini, menjadi penutup rangkaian maulid Nabi dan haul para wali yang berlangsung sejak Ahad (1/2) kemarin.

MATAN yang berasas nasionalis-religius memiliki keinginan untuk mengembalikan cita-cita para pendiri. Mereka ialah ulama yang telah membantu kemerdekaan ini. "Kita tidak boleh melupakan masa lalu, bahwa negara ini tidak bisa lepas dari peran pesantren," ungkap Sekretaris Wilayah Jateng M Thoriq Husen. Sebagai contoh, Husen menyebutkan Kodam IV dengan nama Kodam Diponegoro yang termasuk dari kalangan santri.

MATAN Jateng Deklarasi di Pesantren Sunan Gunung Jati Baalawi (Sumber Gambar : Nu Online)
MATAN Jateng Deklarasi di Pesantren Sunan Gunung Jati Baalawi (Sumber Gambar : Nu Online)

MATAN Jateng Deklarasi di Pesantren Sunan Gunung Jati Baalawi

Saat dihubungi Asli Muhammadiyah, Husen menyataka bahwa pihaknya sebenarnya agak malu karena baru mengadakan pelantikan kepengurusan. Sebab kepengurusan wilayah Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, Jakarta dan di luar Jawa, sudah terbentuk.

Asli Muhammadiyah

Dosen Universitas Sains Al-Quran Wonosobo DR Muh Syakir diamanahkan sebagai Ketua MATAN Jateng. Husen yang masih kuliah di jurusan ilmu politik Universitas Wahid Hasyim merencanakan rapat kerja pada Mei mendatang.

“Kami pengurus akan mengawalinya dengan pemantapan organisasi terlebih dahulu sebelum raker nanti,” kata Husen.

Asli Muhammadiyah

Kantor sekretariat MATAN Jateng berlokasi di Pesantren Sunan Gunung Jati Balawi Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah. (M Zulfa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah News, Meme Islam,Attijani Asli Muhammadiyah

Jumat, 01 Desember 2017

Ahlussunnah wal Jamaah Sebagai Manhajul Fikr

Oleh Deni Gunawan



Ahlusunnah wal Jamaah atau yang sering disingkat Aswaja secara sederhana dapat diartikan sebagai kelompok yang mengikuti sunnah Nabi dan ajaran para sahabat Nabi yang merupakan santri nabi itu sendiri. Aswaja oleh sebagian orang sering dianggap sebagai madzhab, sebagian lainnya lagi menyebutnya sebagai manhajul fikr (metode berfikir). Untuk sementara saya memakai pengertian yang kedua (dengan berbagai peradabannya).

Ahlussunnah wal Jamaah Sebagai Manhajul Fikr (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahlussunnah wal Jamaah Sebagai Manhajul Fikr (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahlussunnah wal Jamaah Sebagai Manhajul Fikr

Aswaja sebagai manhajul fikr adalah respon para sahabat atas situasi umat yang kacau pada saat itu. tidak dapat dipungkiri bahwa kemunculan firqah-firqah (kelompok mazhab Islam) banyak dilatar? belakangi oleh situasi politik umat Islam saat itu.

Setelah wafatnya Nabi, para pemimpin Muslim harus menentukan bentuk umat seperti apa yang harus mereka pilih. Sebagian mungkin tidak percaya jika harus ada “negara” dengan demikian tidak perlu satu pimpinan untuk memimpin keseluruhan suku dan kelompok pada saat itu. Sementara sebagian yang lain seperti Abu Bakar dan Umar berpendapat bahwa umat harus memiliki satu pemimpin sebagaimana pada saat Nabi. Sementara sebagian yang lainnya lagi percaya bahwa Ali bin Abi Thalib yang paling berhak atas tampuk kepemimpinan setelah Nabi. Di Arab yang menganggap bahwa ikatan darah sangat sakral, kualitas pemimpin dipercaya akan diwariskan kepada keturunannya dan sebagian warga Muslim percaya bahwa Ali telah mewarisi sebagian kharisma khusus Muhammad.

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah

Pada akhirnya, walaupun kesalehan Ali tidak diragukan lagi, tetapi dia masih sangat muda dan belum berpengalaman. Dengan demikian, Abu Bakar dipilih menjadi khalifah pertama Nabi melalui suara mayoritas. Meski singkat, suasana politik dan kepemimpinan terbilang cukup stabil, hingga sampai pada masa Umar dan Utsman di mana situasi politik tidak stabil, yang membuat keduanya mati dibunuh. Hingga tiba pada masa kepemimpinan Ali sebagai klimaks dari situasi politik yang tidak stabil pada era sebelumnya.

Ali menghadapi situasi yang sulit, ia harus menghadapi kelompoknya sendiri, serta kelompok pemberontak lainnya yang tak suka dan puas dengan kepemimpinannya. Ali harus menghadapi Aisyah dalam perang Jamal. Lalu menghadapi Muawaiyah dalam perang Shiffin. Dalam situasi ini Muawiyah yang menyadari kekalahannya kemudian memainkan peran politiknya. Ia menancapkan Al-Qur’an di tombak sebagai bentuk perdamaian dengan Ali. Di pihak Ali terpecah dalam menyikapi ini, pada akhirnya terjadilah arbitrase di mana Muawiyah secara ambisius mengambil alih kekuasaan dari Ali. ?

Kelompok loyalis Ali kemudian terpecah. Mereka yang setia dengan Ali disebut Syiah dan kelompok yang semula setia pada Ali lalu keluar dari barisannya karena merasa tidak puas dengan arbitrase dan menganggap Ali telah berlaku khianat terhadap hukum Allah disebut sebagai Khawarij (ekstremis).

Situasi politik yang kacau, sementara masing-masing pihak saling tuding, menambah rumit kondisi umat. Barisan setia Ali merasa Ali-lah yang paling berhak atas kepemimpinan dan merasa telah dibohongi serta dikhianati oleh pihak Muawiyah. Sementara pihak Muawiyyah sebaliknya merasa Muawiyah adalah pemimpin yang sah dan arbitrase adalah keadaan yang sudah ditakdirkan oleh Allah untuknya sehingga tidak boleh digugat, yang menggugat berarti melawan Allah. Di sisi lain kelompok Khawarij menganggap kedua belah pihak adalah thagut dan telah kafir dari hukum Allah sehingga halal darahnya (dibunuh).

Khawarij menghendaki kedua orang tersebut harus diperangi, hal ini sesuai doktrin mereka “la hukma illa lillah”, tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Doktrin ini kerap kali digunakan oleh kelompok ekstremis dewasa ini. Pada dasarnya teks tersebut berbicara benar, namun interpretasi atas teks tersebut kemudian yang salah. Singkatnya, terjadilah konsfirasi untuk membunuh Ali dan Muawiyah yang pada akhirnya berhasil membunuh Ali, sedang Muawiyah lolos dari usaha pembunuhan tersebut.

Situasi yang kacau, saling menyalahkan, memfitnah dan membunuh saat itu memunculkan sekelompok orang yang memiliki pemikiran untuk menjaga peradaban dan keamanan umat. Bagi kelompok tersebut, situasi chaos jika tetap dibiarkan akan menyengserakan umat dan membawa umat pada kemunduran dan kehancuran. Karena hal itulah perlu usaha untuk menjaga kemananan dan menyelamatkan peradaban umat.

Cara berpikir demikianlah yang disebut dengan Aswaja sebagai manhajul fikr. Kata Aswaja sendiri memang belum ada pada masa Nabi ataupun masa awal kekhalifahan yang empat. Namun orang-orang yang memiliki cara berpikir ala Aswaja telah ada pada masa itu. Bagi kelompok Aswaja, situasi yang terjadi setelah wafat Nabi di Tsaqifah antara Abu Bakar, Umar dan beberapa tokoh sahabat yang lain adalah salah satu bentuk dari upaya ijtihad politik.

Dalam hal ini, ijtihad politik dipandang secara akomodatif, dimana hasil ijtihad yang benar maka berpahala dua, namun jika salah maka pahalanya satu. Dengan demikian kelompok yang berpikir dengan prinsip Aswaja ini melihat perdebatan panjang yang terjadi mengenai siapa yang paling berhak atas kepemimpinan setelah Nabi lebih bersifat terbuka, dinamis dan toleran. Cara berpikir di atas juga diterapkan dalam kasus arbitrase antara Ali dan Muawiyah, dan hal ini tentu berbeda dengan cara pandang kelompok Khawarij yang sangat ekstremis, kelompok Ali yang sangat sektarian dan begitu juga dengan kelompok Muawiyah.

Cara berpikir dengan prinsip Aswaja ini kemudian diadopsi oleh Nahdhatul Ulama (NU) di Indonesia. NU yang bermazhab Sunni memakai prinsip Aswaja dalam merumuskan kultur gerakan dan keagamaannya. Karena hal yang demikian pula NU seringkali dituding sebagai kelompok yang oportunis, hal ini bisa diterima karena mereka yang menganggap demikian tidak memahami NU dan keAswajaannya, padahal oportunisme dengan prinsip keAswajaan NU sangatlah berbeda.

Aswaja sebagai manhajul fikr adalah upaya dari cara berpikir yang bertujuan menjaga peradaban dan stabilitas keamanan manusia di muka bumi. Aswaja menolak cara-cara berpikir dan bertindak licik, kasar, merusak, intoleran serta hal-hal yang membawa pada chaos dan kemudharatan. Karena itu kelompok Aswaja, misalnya NU sebagai prototype Islam Aswaja di Indonesia sangat teguh menjaga tradisi sembari terus mengikuti perkembangan zaman (al-muhafazhatu alal qadimis-shalih wal akhdzu bil jadidil-ashlah). Tidak hanya itu, bahkan tidak hanya menjaga dan mengambil, Aswaja juga menghendaki produksi dan kreativitas setiap saat dalam hal-hal positif (al-ijad).

Konsep Aswaja oleh NU kemudian ditelurkan menjadi beberapa nilai, selain nilai kuliyah al-khamsah yang sudah diyakini sebelumnya dalam Islam secara kesuluruhan, nilai-nilai itu antara lain, tawasuth (moderat) seorang Muslim haruslah dapat bersikap moderat tidak timpang dalam menyikapi persoalan, tasamuh (toleran) seorang Muslim haruslah bersikap toleran dengan cara menghargai orang atau kelompok lain di luar dirinya sebagaimana ia menghargai diri dan kelompoknya sendiri, tawazun (imbang) seorang Muslim harus berimbang dan mampu menakar setiap persoalan sesuai timbangannya tidak curang dan zalim, dan taaddul (adil) seorang Muslim harus mengedepankan keadilan, keadilan harus diperjuangkan dan ditegakkan dalam segala hal dan kondisi dalam melihat persoalan apapun.

Penulis adalah aktivis PMII Cabang Jakarta Selatan



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Hikmah, News Asli Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa admin situs Asli Muhammadiyah sangat membenci AdBlock karena dengan adanya iklan maka situs Asli Muhammadiyah bisa tetap berjalan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Tulisan
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Asli Muhammadiyah dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock