Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Januari 2018

Peristiwa Akhir Sya’ban 1393 H

Pada 27 September 1973 bertepatan dengan 29 Sya’ban 1393 H, terjadi keributan di gedung DPR RI Jakarta. Saat itu sedang diadakan Pembicaraan Tingkat II mengenai RUU Perkawinan. Aksi-aksi solidaritas terjadi di berbagai daerah yang berbuntut penahanan beberapa aktivis muslim. Antusias umat Islam mengikuti proses pembahasan RUU ini luas biasa, mungkin persis seperti suasana pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 ini. NU melaui PPP berhasil memegang kemudi dan memainkan peran yang sangat taktis berhadapan dengan PDI, Golkar dan ABRI.

RUU Perkawinan yang kemudian disahkan menjadi UU No 1 Tahun 1974 merupakan ketentuan Undang-Undang yang sangat penting terkait eksistensi umat Islam di Indonesia. Hukum perkawinan yang diterapkan di suatu negara menunjukkan sejauh mana negara ini mendasarkan hukum positifnya pada ajaran agama. Hukum perkawinan atau lebih luas hukum keluarga terkait erat dengan ketentuan agama di satu sisi, dan urusan negara di di sisi lainnya. Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim yang taat beragama ketika itu berhadapan dengan kelompok nasionalis sekuler. Saat itu bahkan terdengar pernyataan miring yang membuat geram umat Islam, bahwa “kita tidak bisa membuat kemajuan-kemajuan bila selalu memegang ajaran agama”.

Peristiwa Akhir Sya’ban 1393 H (Sumber Gambar : Nu Online)
Peristiwa Akhir Sya’ban 1393 H (Sumber Gambar : Nu Online)

Peristiwa Akhir Sya’ban 1393 H

Proses pembahasan RUU Perkawinan itu sebenarnya merupakan titik puncak dari perdebatan mengenai hukum perkawinan yang terjadi sejak zaman kolonial.? Perdebatan tidak hanya terjadi antara kelompok Islam(is) dengan kelompok sekuler di satu sisi tetapi juga dengan para aktivis gender. Beberapa point dalam ketentuan hukum keluarga Islam dinilai memberikan perlakukan tidk adil terhdap kaum perempuan, terutama terkait poligami, talak, perwalian dan pembagian harta warisan.

Masalah UU perkawinan menjadi perhatian penting ketika Kementerian Agama didirikan pascakemerdekaan. Pada Oktober 1950, Menteri Agama KH Wahid Hasyim membentuk Panitia Penyelidik Hukum Nikah, Talak dan Rujuk yang diketuai oleh Mr. Teuku Muhammad Hasan. Hasilnya disusun tiga RUU perwinan: 1)RUU perkawinan yang berifat khusus, 2)RUU perkawinan untuk umat islam, dan 3)RUU Perkawinan untuk umat Kristen.

Asli Muhammadiyah

Berikutnya, pada 1954, Menteri Agama KH Muhammad Ilyas mengajukan RUU Perkawinan khusus untuk umat Islam. Menteri Agama dari perwakilan NU ini memilih “mendahulukan pemenuhan kebutuhan umat Islam yang merupakan bagian terbesar dari rakyat Indonesia”. Namun RUU ini kandas karena DPR telah menandatangani RUU yang lebih bersifat umum di atas. RUU inisiatif ini ditandatangani oleh Ny. Sumantri dari Fraksi PNI.

Asli Muhammadiyah

Adanya dua RUU ini menyebabkan pembahasan RUU perkawian menemui jalan buntu. Pihak NU menegaskan bahwa bahwa dalam negara yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, seharusnya perkawinan diatur menurut ajaran agama, bukan semata-mata segi keperdataannya seperti ikatan perjanjian pada umumnya. Sementara pengusul RUU inisiatif mempertimbangkan aspirasi dari kelompok nonmuslim di parlemen serta para aktivis gender.

Pada masa Orde Baru, 31 Juli 1973, pemerintah mengajukan RUU Perkawinan yang baru. Bersamaan dengan itu, dua RUU yang pernah diajukan ke DPR dinyatakan dicabut kembali. Namun peristiwa ini memicu reaksi yang luar biasa di kalangan umat Islam. Ada sebelas point dalam RUU dari pemerintah itu yang dinilai bertentangan dengan ajaran Islam. RUU itu juga mirip sekali dengan RUU perkawinan yang diajukan oleh Ny. Sumantri. Apalagi ditemukan bahwa ada bagian dalam RUU dari pemerintah itu yang merupakan terjemahan saja dari Burgerlijk Wetboek dan Huwelijksordonantie Christen Indonesier pada zaman Belanda dulu.

Gelombang penolakan RUU Perkawinan terus mengemuka. Buya Hamka di harian KAMI, antara lain menulis bahwa RUU perkawinan yang diajukan oleh pemerintah itu telah memaksa Kaum Muslimin sebagai golongan mayoritas di negeri ini untuk meninggalkan syariat agamanya sendiri. Para pelajar Islam yang menggabunga diri dalam Badan Kontak Generasi Pelajar Islam membuat pernyataan tertulis dengan judul “Jangan Ganggu Aqidah Kami”. Pernyataan senada juga disampaikan secara perseorangan maupun kelompok kepada Presiden Soeharto dan kepada DPR. Institut Agama Islam? Yogyakarta juga memberikan catatan akademis terkait RUU itu.

Kemudian atas prakarsa Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Bisri Syansuri, pada 22 Agustus 1973, diadakan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama di Jombang yang menolak secara tegas RUU Perkawinan ini disertai dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits. Namun tidak hanya menolak, Munas Alim Ulama ini juga mengajukan beberapa usulan yang rinci terkait perubahan pasal demi pasal yang menjadi pegangan bagi Fraksi PPP di DPR RI.

Reaksi penolakan umat Islam itu pun membuat Presiden Soeharto gamang. Dalam peringatan Isra’Mi’rj di Masjid Istiqlal Jakarta ia menyampaikan pernyataan khusus bahwa, “tidak mungkin dan tidak masuk akal kalau pemerintah mengajukan RUU yang bertentangan dengan aspirasi dan pandangan masyarakat yang ada di Indonesia”.

Tibalah saat-saat yang ditunggu, yakni pemberian pemandangan umum oleh fraksi-fraksi di DPR dan tanggapan pemerintah, pada sesi Pembicaraan Tingkat II RUU Perkawinan, 17-18 Septembr 1973. Para aktivis Islam menyimak sidang dari balkon di sisi-sisi ruang sidang dalam suasana tegang. Tiga fraksi di DPR, yakni ABRI, Fraksi Golkar dan PDI cenderung “main aman” terhadap pembahasan RUU ini. Fraksi PDI yang paling disorot dalam pembahasan ini hanya menyampaikan pandangan normatif disertai imbauan agar masyarkat tenang dan menunggu proses sidang berlangsung.

Sementara itu fraksi PPP bersifat aktif menyampaikan catatan-catatan dan usulan perubahan beberapa pasal dalam RUU perkawinan. Salah satu bagian yang disoroti adalah bab dan pasal mengenai pertunangan yang antara lain menyebutkan bahwa ketika terjadi kehamilan dalam pertunangan itu, maka pria diharuskan kawin dengan wanita jika disetujui oleh pihak wanita. Kepada para aktivis gender, Fraksi PPP menegaskan bahwa peraturan tentang pertunangan itu justru merendahkan derajat wanita sebab merupakan perlindungan hukum terhadap pergaulan bebas yang hampir selalu merugikan kaum wanita.

Ketika memasuki pembacaan tanggapan pemerintah yang diwakaili oleh Menteri Agama, sidang tidak kondusif lagi. Pada saat pembicaraan mengenai pasal pertunangan, para aktivis Islam meneriakkan yel-yel menolak RUU perkawinan dari balkon-balkon sidang. Sidang dihentikan. Para anggota DPR dikawal keluar dari ruang sidang. Beberapa aktivis yang dianggap sebagai penggerak keributan itu ditahan.

Tidak untungnya, keributan di ruang sidang DPR yang berbuntut penahanan beberapa aktivis Islam itu memicu reaksi umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia sehingga dianggap menggangu “stabilitas politik dan pembangunan”. Penahanan para aktivis Islam itu sangat disesalkan dan memicu aksi solidaritas dari luar kota Jakarta. Umat Islam juga diserukan membacakan qunut nazilah untuk mereka yang ditahan oleh aarat keamanan. Peristiwa dalam Sidang DPR RI yang disebut sebagai “Peristiwa Akhir Sya’ban” itu menjadi titik balik bagi pemerintah dan Fraksi Golkar yan cukup dominan dengan 261 kursi ditambah 75 kursi ABRI. Sementara Fraksi PPP mempunyai 94 kursi dan PDI 30 kursi.

Namun kondisi itu dimanfaatkan dengan baik oleh PPP untuk mengadakan lobbying tingkat tinggi di luar gedung DPR. PPP terus mengadakan serangkaian pertemuan dengan pimpinan politik, meskipun manuver di luar sidang itu dinilai oleh para politisi PDI tidak sesuai dengan asas-asas demokrasi. PPP merasa bertanggungjawab terhadap kondisi itu dan ingin memperjuangkan agar UU Perkawinan dapat disahkan tetapi sesuai dengan ajaran Islam. Rais Aam Majelis Syuro PPP KH Bisri Syansuri dan Ketua Fraksi PPP KH Masjkur juga secara khusus menemui Presiden Soeharto dengan membawa hasil Munas Alim Ulama NU di Jombang.

Serangkaian lobbying yang telah dilakukan oleh PPP telah menghasilkan perumusan-perumusan baru di dalam RUU perkawinan yang “mau tidak mau” harus disetujui oleh para anggota DPR, terutama dari kalangan mayoritas Fraksi Golkar.

Menjelang penyelesaian RUU Perkawinan, ratusan pemuda pemudi yang menamakan diri Kesatuan Ummat Islam Indonesia melakukan aksi demonstrasi di depan gedung DPR RI dengan pengawalan ketat para petugas keamanan. Sementara para anggot fraksi lain terlihat tegang, para anggota Fraksi PPP terlihat tenang. KH Masjkur sendiri sebelumnya telah bertemu dengan beberapa pemimpin demonstran dan menyampaikan perkembangan terakhir dari hasil-hasil lobbying tingkat tinggi itu.

Pada 22 Desember 1973 dalam sidang paripurna yang dihadiri oleh 369 dari 460 anggota DPR yang ada, RUU perkawinan ditetapkan secara aklamasi. Kemudian pada 2 Januri 1974 RUU ini disahkan oleh presiden RI sebagai Undang-Undang Perkawinan yang diundangkan pada tanggal yang sama. UU ini terdiri dari 14 bab dengan 67 pasal. Sistematika bab tidak berbeda dengan RUU yang diajukan oleh? pemerintah, namun bab tentang pertunangan dan pengangkatan anak telah dihapus. Sementara rumusan pasal-pasalnya merupakan “refisi yang berat” dari RUU versi pemerintah.

Meskipun UU Perkawinan No 1 tahun 1974 diperuntukkan bagi seluruh warga negara Indonesia, tidak hanya diperuntukkan bagi umat Islam, namun rumusan-rumusannya dianggap telah memberikan “hak istimewa” terhadap hukum perkawinan Islam. Apalagi UU itu telah memberikan mandat yang jelas terhadap Pengadilan Agama yang “dimandulkan” sejak era kolonial. Sementara Pengadilan Agama sendiri adalah lembaga peradilan perdata yang khusus untuk umat Islam, terutama berkaitan dengan persoalan hukum keluarga. (A. Khoirul Anam)



*Disarikan dari Daniel S. Lev dalam Islamic Court in Indonesia: A Study in the Pollitical Bases of Legal Institution.


Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kajian Islam, Humor Islam Asli Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Pemkab Brebes Gelontorkan Rp 4 Miliar untuk Guru Ngaji

Brebes, Asli Muhammadiyah. Pemerintah Kabupaten Brebes menggelontorkan dana bantuan untuk guru ngaji sebesar Rp 4 Milyar. Bantuan tersebut diberikan sebagai tanda terima kasih kepada para guru ngaji yang telah mengabdi selama 1 tahun.  Pemkab memandang guru ngaji telah berjasa membangun rohani sehingga melahirkan generasi qurani.

Pemkab Brebes Gelontorkan Rp 4 Miliar untuk Guru Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Brebes Gelontorkan Rp 4 Miliar untuk Guru Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Brebes Gelontorkan Rp 4 Miliar untuk Guru Ngaji

Bantuan secara simbolis diberikan Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE dan Wakil Bupati Narjo pada saat pembinaan guru ngaji di Aula Kantor Kecamatan Brebes, Rabu (8/10).

Bupati beralasan, menjadi guru mengaji di masjid dan mushola yang kerap dilakoni para ustadz dan kiai NU didasari atas niat ikhlas, tanpa berharap imbalan atau lillahi taala. Namun atas keikhlasan tersebut justru menjadi perhatian Pemkab Brebes sehingga digulirkanlah dana stimulan bagi guru ngaji.

Asli Muhammadiyah

Dalam kata sambutannya, Bupati mengucapkan terima kasih kepada para guru ngaji yang dengan ikhlas telah meluangkan waktunya mencurahkan ilmu kepada umat Islam yang belajar membaca Al Quran. Dengan telaten para guru ngaji setiap hari mentransfer ilmunya di masjid, mushola maupun rumah masing-masing. “Bantuan yang tidak seberapa ini, mudah-mudahan menambah barokah,” kata Bupati.

Idza menjelaskan, pemberian bantuan sebagai realisasi dari program enam pilar pemerintah kabupaten Brebes. Sekaligus sebagai penghargaan kepada para ngaji sebagai bukti penyeimbang antara pembangunan jasmani dan pembangunan rohani.

Asli Muhammadiyah

Bantuan diberikan kepada 8000 guru ngaji se-Kabupaten Brebes. Kalau tahun lalu hanya 5000 orang, tahun 2014 bertambah menjadi  8000 orang. “Ini berarti ada penambahan 3000 orang atau Rp 1,5 Milyar,” paparnya.

Tiap orang, lanjutnya, mendapatkan bantuan Rp 500 ribu per tahun. Para guru yang mendapatkan stimulan berdasarkan usulan dari lebe (kaur kesra) di masing-masing desa atas persetujuan kepala desa. Mekanismenya, yang bersangkutan, dipilih secara selektif. Selanjutnya diserahkan kepada Kecamatan masing-masing untuk diusulkan kepada Bupati. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Humor Islam, Warta Asli Muhammadiyah

Sabtu, 13 Januari 2018

Liga Santri Nusantara Siap Digelar Akhir Mei

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) atau Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga akan menggelar Liga Santri Nusantara (LSN) pada akhir Mei mendatang. “Rencananya akan digelar sampai bulan Oktober,” papar H Abdul Ghoffar Rozin di gedung PBNU, Rabu, (6/4).

Ketua RMI itu menuturkan, ada empat maksud dan tujuan diselenggarakannya agenda ini. Pertama, pesantren memiliki kader yang melimpah. Laki-laki yang akrab disapa Gus Rozin tersebut mengatakan bahwa selama ini orang menganggap pesantren itu hanya mempersiapkan kader ulama, padahal pesantren juga merupakan tempat yang berpotensi untuk mempersiapkan para calon atlet atau olah ragawan.

“Kalau kita melihat ada Atep (pemain Persib Bandung), Bustomi (pemain Arema Cronus), dan temen-temen yang lain. Itu adalah produk pesantren. Ini yang sering tidak tercover di media” jelas laki-laki asal Pati tersebut. ?

Liga Santri Nusantara Siap Digelar Akhir Mei (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri Nusantara Siap Digelar Akhir Mei (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri Nusantara Siap Digelar Akhir Mei

Kedua, pesantren memiliki potensi yang besar untuk menghasilkan kader bangsa. Ia menerangkan bahwa selama ini pesantren hanya berfokus pada keilmuan dan kurang memperhatikan sektor olah raga secara serius.

“Yang ketiga, ini (LSN) adalah sumbangan pesantren terhadap bangsa ini untuk memperbaiki kaderisasi atletnya. Dalam hal ini, LSN lebih fokus pada sepak bola tentunya,” katanya.

Asli Muhammadiyah

Selanjutnya, kata Gus Rozin, semua olah raga menjunjung sportivitas. Maka dari itu, ia berharap adanya LSN ini bisa menerapkan nilai-nilai sportivitas yang selama ini sudah terbangun di pesantren ke dalam cabang olah raga sepak bola.?

“Pesantren dalam pendidikan cukup sportif. Sportif dalam artian ketika dia tidak mendapat dukungan (keuangan) dari pemerintah, sportif bahwa orang masuk ke pesantren itu tidak didasarkan pada standar pendidikan dimana dia lulus sebelumnya tapi dari kemampuannya,” ujar pengasuh Pesantren Maslakul Huda Pati tersebut.

Kalau tahun kemarin LSN diikuti sekitar dua ratusan pesantren, maka tahun ini LSN akan diikuti oleh seribu pesantren yang tersebar di 33 provinsi. “33 provinsi tersebut akan dibagi ke dalam 33 region. Kemudian mereka bertanding untuk menghasilkan 32 pemenang di masing-masing region, dan dari 32 pemenang tersebut bertanding untuk jadi yang terbaik,” pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Zunus).

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Humor Islam, Nahdlatul Ulama, Aswaja Asli Muhammadiyah

Minggu, 07 Januari 2018

Santri Ngonthel Bareng Kiai dan Bu Nyai

Blitar, Asli Muhammadiyah

Ragam cara dilakukan pondok pesantren dan sekolah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di Kabupaten Blitar untuk memperingati Hari Santri. Dari pantauan? Asli Muhammadiyah, hampir semua kecamatan di Kabupaten Blitar menggelar peringatan Hari Santri ini.

Ada yang menggelar upacara dengan mengenakan baju koko plus sarung dan kopiah serta sandal. Ada yang menggelar jalan santai dan sore dan ada keliling? dari kampung ke kampung.

Santri Ngonthel Bareng Kiai dan Bu Nyai (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Ngonthel Bareng Kiai dan Bu Nyai (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Ngonthel Bareng Kiai dan Bu Nyai

Misalnya yang diselenggarakan Pesantren Mambaul Hikam Mantenan Udanawu Blitar. Mereka kembali menggelar sepeda pancal dari kampung ke kampung. Seluruh santri dan siswa Diniyah Mambaul Hikam besarta? kiai, dewan asatidz dan asatidzah menggayuh sepeda onthel dari berbagai tipe. Mereka menampilkan beberapa tema, baik masalah ajakan memondok maupun masalah nasionalisme.

Asli Muhammadiyah

Mancal bareng dipimpin langsung Pengasuh Pesantren KH Diya’uddin Azam-zami beserta sang istri dan para putra-putrinya. Para pengurus Jam’iyahThoroqoh Naqshobadi Kholidiyah yang berpusat di pesantren tersebut juga tidak ketinggalan ambil bagian.

Asli Muhammadiyah

Sebelum berangkat, Gus Diya’panggilan akrabnya, memimpin doa. Kemudian mengajak para santrinya membaca Shalawat Nariyah dulu.

“Setelah baca Fatihah, ayo mari kita baca Shalawat Nariyah dulu,’’ ajak Gus Diya’, yang? selanjutnya langsung dilaksanakan bersama ratusan santrinya.

Setelah selesai bersepeda ria, untuk memberi semangat pada para santri, Gus Diya’ membagikan door prize dan hadiah sepeda gunung kepada para santri yang beruntung.

Sementara Yayasan Pondok Pesantren Darul Huda, Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar mengelar upacara bendera di halaman pondok. Upacara ini diikuti oleh seluruh siswa mulai dari MI, MTs, MA maupun SMK, Sabtu (22/10).

Hampir sama dengan Mambaul Hikam, seluruh santri Darul Huda juga mengenakan sarung dan baju gamis. Sementara santri putri mengenakan pakaian baju muslimah.

"Sebagai santri, kita harus menjaga tradisi-tradisi kesantrian dengan selalu berpegang teguh kepada ajaran Ahlus sunnah wal Jamaah sebab keberadaan santri terbukti dari zaman dahulu, mampu menjadi pondasi yang kuat bagi keutuhan bangsa," pesan Asyharul Muttaqin selaku pembina upacara.

Ia menambahkan, peran santri sangat besar dalam memperebutkan dan menjaga kemerdekaan Indonesia.

Usai upacara bendera, acara dilanjutkan dengan kirab sepanjang sekitar 5 km dengan berjalan kaki melewati jalan-jalan utama di desa Wonodadi.

"Darul Huda adalah sebuah pesantren salaf, yang berkembang menjadi pesantren modern. Sejak dahulu kami melahirkan santri-santri yang keberadaan mereka sangat dibutuhkan di tengah masyarakat," Kata Asyharul sambil kirab.

Meski cuaca mulai panas, namun seluruh peserta nampak antusias mengikuti acara tersebut.

"Alhamdulillah saya sangat senang? dan menikmati mengikuti acara ini. Tidak setiap hari juga kan kami dapat mengenakan pakaian seperti ini dalam proses pembelajaran," ujar Nurul Indah salah satu siswa SMK Darul Huda.

Hal yang sama juga dilakukan oleh keluarga besar MTs Ma’arif Udanawu Blitar. Sejak jam sekolah mereka menggelar upacara dalam rangka hari santri. ”Siapa lagi kalau bukan kita yang merayakan hari bahagia ini,’’ ungkap Kepala Sekolah MTs Ma’arif? Moh. Haidar.

Sebelumnya, Pemkab Blitar bersama dengan PCNU Kabupaten Blitar menggelar acara jalan sore bersama. Acara berlangsung di jalan PendapaKabupaten Blitar di Kanigoro yang diikuti tidak kurang dari 10 ribu perserta. Acara diawali dengan apel Banser se Blitar.

Setelah usai shalat magrib bersama acara dilanjutkan dengan membaca shoalat nariyah? yang dipimpin langsung oleh KH Sunhaji Nawal Karim Zubaidi dari pesantren Mambaul Hikam Mantenan yang sekaligus? pimpinan jamiyah shoalawat dan majlis ta’lim mughitsu almughits. Hadir pada acara tersebut Bupati Blitar H Rijanto beserta seluruh anggota Forpinda Kabupaten Blitar. Pengurus PCNU Kabupaten Blitar dan lainnya.

“Alhamdulillah pembacaan Shalawat Nariyah dan peringatan hari santri di Blitar sangat meriah dan sukses. Apalagi ditambah kehadiran Ki Ageng Ganjur dan Mbak Evie Tamala saat ini,’’ungkap Gus Dain panggilan akrabnya. (imam kusnin ahmad/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah RMI NU, Humor Islam Asli Muhammadiyah

Selasa, 26 Desember 2017

Indonesia Segara Bentuk Forum Perdamaian Timur Tengah

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Pemerintah Indonesia akan membentuk forum perdamaian yang bertujuan untuk melerai berbagi konflik yang terjadi di Palestina, Lebanon, maupun Irak. Rencananya forum tidak hanya melibatkan para pejabat negara-negara Islam namun juga para ulama yang berpengaruh di masing-masing negara yang sedang berkonflik.

Hal tersebut dikatakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Hasyim Muzadi yang juga Sekretaris Jenderal Konferensi Ulama dan Cendekiawan Dunia Islam (ICIS) usai bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia yang juga Sekretaris Jenderal Organisasi Koferensi Islam (OKI) Abdullah Ahmad Badawi di Hotel Sangril La Jakarta, Kamis (22/2).

Forum perdamain itu sebelumnya diusulkan Hasyim Muzadi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sebagai negara muslim terbesar di dunia Indonesia diharap melakukan upaya-upaya menyelesaikan konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Indonesia Segara Bentuk Forum Perdamaian Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Segara Bentuk Forum Perdamaian Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Segara Bentuk Forum Perdamaian Timur Tengah

”Saya bertemu Presiden 27 Januari lalu. Saya katakan, Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia kog ada konflik seperti itu diam saja. Lalu diambil inisiatif Pak Menteri Luar Negeri yang bertemu para pejabat negara Islam, lalu saya yang bertemu para ulamanya,” kata Hasyim.

Menurutnya, konflik antara Hamas dengan Fattah di Palestina tidak bisa diselesaikan oleh negara tetapi oleh para ulama yang berpengaruh di sana. Dikatakan konflik yang terjadi di Irak, misalnya, sebenarnya bukan antara sunni-syiah.

”Konflik itu itu sebenarnya bukan urusan kedua aliran itu, tapi mereka dikonflikkan oleh para agresor yang masuk di Irak itu supaya mereka dapat menang secarta gratis ga pakai pluru, cuma saya sedang berkeliling supaya tokoh-tokoh berat (ulama berpengaruh, red) bisa hadir. Kalau diwakilkan ya ga jadi apa-apa, jadi seminar tentang perdamaian saja,” katanya.

Asli Muhammadiyah

Pada 27 Februari ini hasyim akan meluncur ke Makkkah untuk menemui dengan pimpinan Rabithah Alam Islami, forum Internasional di Saudi Arabia, lalu ke Iran menemui Ali At-Tazkiri dan Rafsanjani, salah seorang pemimpin Syiah yang paling berpengaruh di Irak.

”Konflik-konflik yang terjadi di Timur Tengah terbukti tidak dapat dihadapi oleh negara saja tapi harus dengan ulama yang menggerakkan rakyat di situ. Seperti Nasrollah pemimpin Hisbullah di yang di lebanon itu kan pasukannya 10 kali lipat dibanding yang dipunyai pemerintah,” kata Hasyim.

Sementara itu kepada Badawi, Hasyim menyatakan, hubungan antara OKI dengan ICIS akan memperkuat hubungan negara-negara Islam dengan ulama setempat. Dikatakan Hasyim, hubungan itu penting karena tidak selalu keputusan negara Islam itu selaras dengan Ulama.

Asli Muhammadiyah

”Konflik-konflik yang ada di Timur Tengah tidak dapat dihadapi oleh negara saja tapi harus dengan ulama yang menggerakkan rakyat di situ. Lagi pula Hamas dan Fatah yang bertengkar itu kan organisasi-organisasi yang ada ulamanya," katanya. (nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Humor Islam Asli Muhammadiyah

Kamis, 21 Desember 2017

Suluk Maleman; Peradaban Mabuk

Pati, Asli Muhammadiyah. Gundul-gundul pacul-cul gembelengan, nyunggi-nyunggi wakul-kul gembelengan wakul glempang segone dadi sak latar. Tembang Gundul-gundul Pacul ditembangkan oleh Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa CakNun saat datang ke Suluk Maleman yang bertemakan Mampir Mabuk, Sabtu (15/4) hingga Ahad (16/4) pagi .?

Suluk Maleman; Peradaban Mabuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Suluk Maleman; Peradaban Mabuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Suluk Maleman; Peradaban Mabuk

Bukan tanpa alasan, Cak Nun menilai ada kesamaan hal yang terjadi antara tembang Gundul-gundul Pacul itu dengan tema yang dibawakan Suluk Maleman edisi ke-64 itu. Baginya para penguasa ibarat bocah gundul yang tengah nyunggi (membawa di kepala, Red) wakul itu.

Jika sang penguasa gembelengan atau diartikan mabuk baik secara tekstual maupun kontekstual maka yang terjadi juga akan sama. Wakulnya glempang. Padahal wakul yang berisi nasi itu bisa diartikan kesejahteraan maupun amanah dari rakyat.

“Padahal sekarang yang terjadi ini wakulnya glempang. Kedaulatannya glempang, akal pikiran bangsa ini glempang, termasuk budaya politik juga telah glempang,” ujar lelaki pimpinan Kiai Kanjeng itu.

Cak Nun pun menegaskan agar setiap individu dapat segera mencarikan solusi dan bukannya menambah masalah. Bahkan dalam mengambil penyelesaian masalah itupun juga harus hati-hati agar tidak menimbulkan permasalahan baru.

Asli Muhammadiyah

“Kita bisa belajar dari tembang e dayohe teko. Di situ diceritakan cara menangani masalah dengan cara yang kurang tepat dan justru menimbulkan masalah demi masalah baru. Seperti saat menambal tikar dengan jadah yang sudah busuk. Tentu itu akan membuat dayoh atau tamu menjadi tidak nyaman bahkan bisa saja marah,” ujar Cak Nun.

Meski begitu Cak Nun tetap mengisyaratkan agar umat Muslim tak perlu khawatir. Karena Allah telah menjamin dalam surat Alam Nasyrah bahwa dalam setiap kesulitan selalu disertakan kemudahan.

Asli Muhammadiyah

“Bahkan bukan sesudahnya namun berbarengan dengan kesulitan itu sendiri. Itu sudah jelas disebutkan,” ujarnya yang kemudian dilanjutkan dengan mengajak para hadirin membaca surat tersebut.

Sementara Anis Sholeh Ba’asyin menambahkan, dalam menghadapi zaman seperti saat ini agar masyarakat jangan mau dijadikan jangkrik aduan. Karena dalam fenomena jangkrik aduan itu jelas bahwa jangkriknya harus berkelahi mempertaruhkan hidup dan matinya sedangkan pengadunya tertawa cengingisan saat menggelitik jangkrik aduannya itu.

“Begitulah kalau mau menghancurkan Indonesia tinggal mengadu domba orang Islam dengan orang Islam dan sekarang itu tengah dilakukan,” tambahnya.

Penggagas Suluk Maleman tersebut juga menambahkan bahwa dalam era peradaban mabuk ini yang justru perlu diwaspadai adalah orang-orang yang sengaja yang memabukkan diri. Seperti halnya kecenderungan manusia untuk menjadi Tuhan.

“Banyak yang justru mudah melihat ketidak sempurnaan orang lain sedangkan ketidaksempurnaan diri sendiri tidak terlihat. Padahal tidak ada orang yang benar-benar sempurna,” ujarnya.

Kedatangan Cak Nun sebagai salah satu ulama sepuh di Indonesia ini rupanya mampu menarik perhatian ribuan warga masyarakat Pati dan sekitarnya. Bahkan mereka tetap khusyuk menikmati diskusi dan ngaji budaya yang digelar di rumah Adab Indonesia Mulia hingga Ahad sekitar pukul 03.30.

Apalagi dalam diskusi kali ini tak hanya menghadirkan Cak Nun namun juga Presiden Jancukers Sujiwo Tedjo dan Dr Ilyas sebagai narasumbernya. Presiden Jancukers itu juga sempat membawakan sejumlah lagu bersama Sampak GusUran yang tentu kian menghangatkan suasana. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah PonPes, Humor Islam Asli Muhammadiyah

Minggu, 17 Desember 2017

Tak Hanya Kaderisasi, PMII Bojonegoro Akan Fokus pada Tiga Hak Dasar Rakyat

Bojonegoro, Asli Muhammadiyah

Usai Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bojonegoro masa khidmah 2016 dikukuhkan beberapa waktu lalu, organisasi kemahasiswaan ini melaksanakan rapat kerja cabang (rakercab).

Dalam pembahasan program kerja di sekretariat PC PMII Graha Ulul Albab, Jalan Pondok Pinang Bojonegoro, Ahad (14/2), yang selesai hingga larut malam, para pengurus sepakat dan berkomitmen akan menyoroti tiga hak dasar di Kota Ledre, sebutan lain Bojonegoro.

Tak Hanya Kaderisasi, PMII Bojonegoro Akan Fokus pada Tiga Hak Dasar Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Hanya Kaderisasi, PMII Bojonegoro Akan Fokus pada Tiga Hak Dasar Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Hanya Kaderisasi, PMII Bojonegoro Akan Fokus pada Tiga Hak Dasar Rakyat

Ketua PC PMII Bojonegoro Ahmad Syahid mengungkapkan akan memaksimalkan amanah satu periode ini. Ia bersama pengurus yang lain akan menguatkan ujung tombak kaderisasi dan pisau analisa para kader PMII setempat. Ia berharap ini menjadi langkah taktis dan strategi untuk memajukan organisasi.

Asli Muhammadiyah

"Selain konsen kaderisasi dan penguatan ideologi, kepengurusan hari ini akan lebih fokus dengan isu-isu kebijakan pemerintah terkait tiga hak dasar kebutuhan rakyat," ungkapnya kepada Asli Muhammadiyah.

Asli Muhammadiyah

Tiga hak dasar yang dimaksud di antaranya pendidikan, kesehatan, dan pembangunan fisik. Bahkan pengurus telah berencana membuat kajian mendalam terkait migas di Bojonegoro dan tentunya aksi turun jalan. "Sehingga rakercab ini untuk mempertegas gagasan PMII dalam mempertajam intelektual dan gerakan jalanan satu tahun ke depan," terangnya.

Lulusan IKIP PGRI Bojonegoro itu juga merinci, pengurus saat ini akan berorientasi pada penajaman intelektual dan gerakan jalanan PMII di Bojonegoro. Diharapkan, PMII akan bersinergi dengan pihak kampus dalam menanamkan jiwa nasionalisme dan keagamaan mahasiswa, tanpa meninggalkan semangat untuk selalu mengontrol kebijakan pemerintah.

"Sudah saatnya kita kembali ke khittah. Khittah PMII adalah kaderisasi. Rakercab didesain dengan serius, berdasarkan hasil pra-rakercab sebelum pelantikan kemarin," jelas Syahid sapaan akrabnya.

Aktivis asal Tuban ini menambahkan, para pengurus benar-benar serius dalam mengemban amanah setahun ke depan. Hal itu terlihat dengan desain pelaksanaan rakercab yang berjarak sepekan dari pelantikan pengurus. Sebelum melaksanakan rakercab ini, PC PMII Bojonegoro menggelar pra-rakercab terlebih dahulu.

"Sehingga saat rakercab sudah ada bekal matang yang akan dibahas untuk mempertajam arah gerakan PMII satu tahun ke depan. Baik dalam konteks kaderisasi, analisa wacana dan distribusi kader PMII ke depanya," pungkasnya. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pendidikan, Humor Islam, News Asli Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa admin situs Asli Muhammadiyah sangat membenci AdBlock karena dengan adanya iklan maka situs Asli Muhammadiyah bisa tetap berjalan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Tulisan
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Asli Muhammadiyah dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock