Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Desember 2017

Hari Santri Nasional, Mengembalikan Sejarah Bangsa

Oleh Zainul Milal Bizawie

Setahun yang lalu Pemerintah telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. 22 Oktober menjadi ingatan sejarah tentang Resolusi Jihad, bukti nyata adanya keterkaitan antara santri dengan tegaknya Indonesia. Hari Santri adalah wujud penghormatan kepada sejarah pesantren, sejarah perjuangan para kiai dan santri.

Hari Santri Nasional, Mengembalikan Sejarah Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri Nasional, Mengembalikan Sejarah Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri Nasional, Mengembalikan Sejarah Bangsa

Sejarah mencatat para santri mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut. Karenanya, para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa yang lain melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan. 22 Oktober menjadi penanda adanya keterkaitan antara santri dengan tegaknya Indonesia dengan munculnya para pahlawan bangsa. Sebagaimana diketahui hari Pahlawan adalah 10 November yang menandai adanya perlawanan terhebat rakyat Indonesia terhadap Belanda.

Dengan ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional dapat dijadikan penanda terjadinya peristiwa 10 November tidak dapat dilepaskan dari peran para santri. Karenanya, 20 hari sejak 22 Oktober hingga 10 November dapat dijadikan momentum para santri dengan khidmat mengenang sekaligus memperingatinya jasa para santri yang telah berjuang bagi tegaknya Indonesia. Perlu dicatat, munculnya Resolusi jihad tidaklah secara instan tanpa ijtihad bertahap yang cukup panjang. Ijtihad tersebut tidak hanya melewati satu dua generasi, akan tetapi menjalur ke belakang sampai titik masuknya Islam di bumi Nusantara. Resolusi Jihad adalah hasil dari proses panjang pasang surut perjuangan ulama-ulama sebelumnya.

Asli Muhammadiyah

Melalui penetapan HSN, diharapkan terjadi sinergi antara pemerintah dan santri untuk mendorong komunitas santri ke poros peradaban Indonesia. Santri tidak hanya sebagai penonton ataupun obyek dalam dialektika sosial budaya ekonomi politik Indonesia. Pesantren sebagai lembaga dakwah, lembaga pendidikan tafaqquh fiddin terus kiranya berkontribusi dan mencetak ulama, agen perubahan yang menjadi garda terdepan dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lebih dari itu, pesantren kiranya dapat berperan lebih besar dalam mempromosikan gerakan anti narkoba, gerakan anti radikalisme, gerakan santri amar makruf nahi munkar, hingga pada santri yang melek dunia perbankan, melek sain dan teknologi.

Hari Santri adalah wujud dari kewajiban negara dan pemimpin bangsa, memberikan penghormatan kepada sejarah pesantren, sejarah perjuangan para kiai dan santri. Kontribusi pesantren kepada negara ini, sudah tidak terhitung lagi. Hari Santri Nasional dapat dijadikan sebagai pemaknaan sejarah Indonesia yang genuine dan authentic yang tidak terpisahkan dari episteme bangsa. Indonesia tidak hanya dibangun dengan senjata, darah dan air mata, tetapi berdiri karena keikhlasan dan perjuangan para santri religius yang berdarah merah putih. Selain itu, ditetapkannya hari santri sebagai bukti otentik, Indonesia dapat menjadi model dunia tentang hubungan Islam dan negara, sekaligus meneguhkan persatuan umat Islam yang telah terafiliasi dan menyejarah dalam ormas Islam dan parpol yang berbeda,perbedaan melebur dalam kesantrian yang sama.

Asli Muhammadiyah

Mensenyawakan Hubungan Islam dan Negara

Syekh Hasyim As’yari menyadari bahwa secara kultural, gerakan Islam dan nasionalis berbeda satu dari yang lain, tetapi dari sudut ideologi berupa kebutuhan akan kemerdekaan, adalah satu bangsa. Pada tahun 1933, Syekh Hasjim Asy’ari memerintahkan putranya, Kiai Wahid Hasjim yang baru pulang dari Tanah Suci Mekkah untuk mempersiapkan Muktamar NU ke-9 di Banjarmasin (Borneo Selatan), dimana akan dibahas tentang kebangsaan. Dalam Muktamar tersebut salah satu masalah yang diajukan kepada Muktamar berbunyi wajibkah bagi kaum muslimin untuk mempertahankan kawasan Kerajaan Hindia Belanda, padahal diperintah orang-¬orang non¬muslim? Muktamar yang dihadiri oleh ribuan orang ulama itu, menjawab bahwa wajib hukumnya secara agama, karena adanya dua sebab, pertama, karena kaum muslimin merdeka dan bebas menjalankan ajaran Islam. Kedua, karena dahulu di kawasan tersebut telah ada Kerajaan Islam.

Jadi, sesungguhnya negara Indonesia adalah dar Islam karena telah pernah dikuasai sepenuhnya oleh orang Islam. Walaupun pernah direbut oleh kaum penjajah kafir (Belanda), tetapi nama negari Islam masih selamanya. Negeri ini pernah mengenal adanya kerajaan-kerajaan Islam, penduduknya sebagian masih menganut dan melaksanakan ajaran Islam, dan Islam sendiri tidak sedang dalam keadaan diganggu atau diusik. Negara Indonesia dapat dikategorikan sebagai darul Islam (daerah Islam), bukan daulah Islamiyyah (pemerintahan Islam), karena mayoritas penduduk di wilayah ini beragama Islam dan dapat melaksanakan syari’at Islam dengan bebas dan secara terang-terangan. Keputusan tersebut merujuk dari kitab Bughyatul Mustarsyidin (hal. 254) karangan Sayed Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar atau dikenal dengan Syekh Ba’lawi.

Mengenai cita-cita Indonesia sebagai negara bangsa sebagaimana yang dirumuskan oleh para aktivis pergerakan itu dianggap sudah memenuhi aspirasi umat Islam, karena di dalamnya ada jaminan bagi umat Islam untuk mengajarkan dan menjalankan agamanya secara bebas. Dengan demikian umat Islam tidak perlu membuat negara lain yang berdasarkan syariat Islam, karena negara yang dirumuskan telah memenuhi aspirasi Islam (Muním Dz, 2012). KH Ahmad Siddiq (Rosis Am PBNU 1984-1991) menegaskan bahwa kata dar Islam bukanlah sistem politik atau ketatanegaraan, tetapi sepenuhnya istilah keagamaan (Islam), yang lebih tepat diterjemahkan wilayatul Islam (daerah Islam) bukan negara Islam. Motif utama dirumuskannya pendapat ini adalah bahwa di wilayah Islam, maka kalau ada jenazah yang identitasnya tidak jelas non Muslim, maka harus diperlakukan sebagai Muslim. Di wilayah Islam, semua penduduk wajib memelihara ketertiban masyarakat, mencegah perampokan dan sebagainya.

Meskipun demikian, untuk membangun masyarakat Islam, penjajah harus disingkirkan. Inilah mengapa ketika mempersiapkan negara bangsa, saat pertama kali datang Laksamana Maeda Pimpinan tertinggi tentara Jepang 1943, menanyakan siapa yang bisa menjadi pemimpin tertinggi negeri ini untuk diajak berunding dengan Jepang. Dengan tegas Syekh Hasyim Asy’ari menjawab bahwa yang pantas memimpin bangsa ini ke depan adalah Soekarno, seorang tokoh nasionalis terkemuka. Karena itu juga, ketika umat Islam sudah memiliki kemampuan untuk jihad perang, maka Syekh Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad sebagai bentuk dari menjaga Indonesia sebagai dar Islam. Inilah yang menjadi landasan, karena Indonesia adalah dar Islam dalam bentuk NKRI, sehingga berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) yang diusung Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia (DI-TII) dianggap sebagai negara dalam negara dan dalam hukum fiqh disebut bughat (pemberontak) yang harus diperangi.

Ijatihad politik bahwa bentuk NKRI sebagai dar Islam ini merupakan karya besar para santri, yang selama ini diperjuangkan oleh para ulama sejak dahulu yang terus merawat semangat anti kolonial. Deklarasi kebangsaan yang dicetuskan tahun 1936 itu memiliki pengaruh cukup kuat dalam merumuskan setiap langkah mengawal negara hingga saat ini. Sehingga kemudian menjelma menjadi karakter dasar Islam Nusantara itu sendiri. Keputusan tahun 1936 tersebut tidak atas pertimbangan ideologis, tapi dengan kebebasan dan fiqhiyah (Gus Dur, 1989). Pandangan soal tokoh yang layak memimpin bangsa Indonesia juga menunjukkan bahwa Islam tidak perlu diideologikan dalam negara. Islam tidak perlu diideologikan, negara itu ideologinya nasionalistik, ideologi yang nasionalistik itu adalah Pancasila. Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia telah disepakati dan diterima sebagai pedoman hidup bersama yang mengikat semuanya dalam menjalankan hidup bermasyarakat, beragama dan bernegara. Maka menjadi penting memahami pancasila dan hubungannya dengan Indonesia sebagai dar Islam.

Oleh karena itu, penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syariat agamanya. Jadi dalam hal ini, Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama. (Muktamar NU XXVII tahun 1984 di Situbondo, Munas NU tahun 2012 di Cirebon).

Ijtihad politik tersebut adalah warisan secara bersambung melalui sanad dan jejaring ulama santri yang makin meneguhkan Islam Nusantara dalam komitmen kebangsaan yang tinggi. Sebagai pewaris ajaran Ahlusunnah yang telah berabad-abad dikembangkan oleh para wali di Nusantara ini, komitmen kebangsaannya juga berdasarkan pada pelestarian warisan budaya Islam ini. Kenusantaraan atau keindonesiaan yang multi etnis, multi budaya dan multi bahasa ini buat Islam Nusantara adalah anugerah besar yang tiada tara. Islam hadir di Nusantara justru memperkaya dan memperkuat nilai kenusantaraan ini. Untuk membangun keindonesiaan itu Islam Nusantara mengembangkan sikapnya yang tawasuth (moderat), tawazun (seimbang) dan tasamuh (toleran), ketiganya merupakan prinsip jalan tengah yang disebut Al Qur’an sebagai (ummatan wasathan) dan bentuk ummat seperti itu juga digambarkan oleh Al Qur’an sebagai khoiro ummah (sebaik-baik masyarakat).

Zainul Milal Bizawie, penulis buku "Laskah Ulama-Santri dan Resolusi Jihad" dan "Masterpiece Islam Nusantara"



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ulama, Sunnah Asli Muhammadiyah

Sabtu, 09 Desember 2017

“GP Ansor Bukan Organisasi Kemarin Sore”

Kencong-Jember, Asli Muhammadiyah. Puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-79 GP Ansor Kencong Jember diadakan dalam bentuk Apel Kebangsaan. Apel yang dipusatkan di Alun-alun kota Puger itu diikuti 300 anggota Ansor dan 250 anggota Banser serta ratusan warga nahdliyyin, Ahad (23/6).

Kegiatan yang dirangkai dengan pelantikan 6 PAC dan 53 Pimpinan Ranting se Cabang Kencong tersebut diawali dengan kirab panji-panji Ansor dan Banser keliling kota Puger, dilanjutkan dengan penampilan atraksi pencak silat dan gebyar shalawat.

“GP Ansor Bukan Organisasi Kemarin Sore” (Sumber Gambar : Nu Online)
“GP Ansor Bukan Organisasi Kemarin Sore” (Sumber Gambar : Nu Online)

“GP Ansor Bukan Organisasi Kemarin Sore”

Tampil juga menghibur masyarakat kota Puger, tim Paduan Suara anak-anak Pesantren Kilat (Bimbingan Pasca Ujian Nasional) yang melantunkan lagu-lagu penyemangat GP Ansor, seperti Mars Ansor, Yaah Lalwathan dan Pusaka Ulama.

Asli Muhammadiyah

Dalam sambutannya, Bupati Jember, yang diwakili oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Pemkab Jember, H. Wiji Prastyo, menyampaikan apresiasi kepada Ansor, khususnya Ansor Kencong yang selalu tampil di Garda Depan dalam Perjuangan membela tanah air.

Asli Muhammadiyah

“Ansor bukanlah organisasi kemarin sore. Ansor adalah organisasi yang lahir sebelum bangsa ini lahir, dan perjuangan Ansor tak lapuk oleh hujan dan tak lekang karena panas,” jelas Kakesbangpol yang kader NU tersebut di lapangan kota Puger yang diguyur hujan gerimis.

Selain para tokoh NU dan para ulama se kota Puger, hadir juga Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Timur, ketua PC GP Ansor Banyuwanagi, para ketua Badan Otonom NU, kader Ansor yang menjadi anggota DPRD, yaitu Agus Widianto, ketua Fraksi PAN DPRD Jember dan HM Imam Ghozaly Aro, anggota DPRD Jawa Timur dan sejumlah undangan lainnya.

KH Khoir Zad Maddah, Rais Syuriyah PCNU Kencong dalam amanahnya menyampaikan agar GP Ansor selalu berada dalam garis perjuangan ulama NU, yaitu islam ala ahlissunnah wal jamaah.

Pesan Gus Ya’ (panggilan akrab KH Khoir Zad) tersebut mempertegas instruksi kepada kader Ansor, agar persoalan aliran menyimpang yang selama ini mengganggu kerukunan warga NU dan umat Islam kota Puger selalu menjadi fokus perhatian Ansor. 

Sementara itu, Abd. Rohim, ketua PC GP Ansor dalam laporannya menyampaikan berbagai program kegiatan dalam rangka Harlah 79 GP Ansor, yang meliputi berbagai kegiatan, Seminar, Gebyar Shalawat, Bahtsul Masail, Pelatihan Koperasi Syariah, Sanlat, Turnamen Tenes Meja, dan ditutup dengan Apel Kebangsaan di Alun-Alun Kota Puger.

“Pokoknya sejak April 2013 sampai jelang malam Nisfu Sya’ban sore ini Ansor Kencong benar-benar bergerak,” tutup ketua cabang yang akan mengakhiri Masa Khikmadnya tahun depan ini.

Red: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kiai, PonPes, Sunnah Asli Muhammadiyah

Rabu, 29 November 2017

Beri Nama Anak di Hari Ketujuh

Kelahiran seorang anak merupakan kebahagian tersendiri bagi pasangan suami istri. Saking bahagianya mereka sudah mempersiapkan segala kebutuhannya jauh-jauh hari sebelum kelahiran, semisal pakaian, tempat tidur, peralatan mandi, dan nama calon anaknya.

Perihal pemberian nama, Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk menamai anak dengan nama yang bagus. Bahkan, Beliau melarang untuk menamainya dengan nama yang bermakna negatif.

Beri Nama Anak di Hari Ketujuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Beri Nama Anak di Hari Ketujuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Beri Nama Anak di Hari Ketujuh

Dalam beberapa keluarga, ihwal pemberian nama terbilang sakral. Antara pasangan suami dan istri bisa berdebat panjang mengenai nama yang akan diberikan kepada jabang bayi. Namun keduanya tidak perlu terburu menamai anaknya di hari pertama kelahiran.

Asli Muhammadiyah

Mengapa? Sebab dalam sebuah riwayat justru dianjurkan untuk menamai anak pada hari ketujuh, bukan sewaktu anak keluar dari rahim ibunya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Asli Muhammadiyah

“Adalah sunah menamai anak pada hari ketujuh terhitung dari hari kelahiran. Adapun dalilnya ialah riwayat al-Tirmidzi yang bersumber dari Amar bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, bahwasanya Nabi SAW memerintahkan untuk menamai anak pada hari ketujuh.”

Anjuran hadis di atas tentunya tidak bersifat memaksa atau berupa kewajiban. Sebab itu, Imam Nawawi memahami anjuran Nabi Muhammad SAW ini sebagai sebuah sunah. Tradisi ini sebenarnya sudah berlaku di sebagian masyarakat kita. Biasanya mereka menamai anaknya ketika sudah masuk tujuh hari dan sekaligus mengadakan aqiqah. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Sunnah, Kiai, AlaSantri Asli Muhammadiyah

Sabtu, 11 November 2017

Kenapa Silaturrahim Alim Ulama di Sarang? Ini Penjelasan Kiai Said

Rembang, Asli Muhammadiyah. Pelaksanaan Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara digelar PBNU di Pesantren Al-Anwar Sarang, Kabupaten Rembang, pada Kamis (16/3) ? berlangsung lancar, meriah, dan penuh khidmat. Namun yang menjadi pertanyaan, kenapa acara tersebut digelar di Sarang?

Kenapa Silaturrahim Alim Ulama di Sarang? Ini Penjelasan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Silaturrahim Alim Ulama di Sarang? Ini Penjelasan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Silaturrahim Alim Ulama di Sarang? Ini Penjelasan Kiai Said

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj menjelaskan, acara tersebut dilaksanakan di Pesantren Al Anwar agar mendapatkan berkah. "Kenapa diadakan di Sarang? Agar kita bisa mengambil barokah. Karna Mbah Moen (KH Maimun Zubair) adalah kiai yang paling sepuh," jelas Kiai asal Cirebon itu.

Lebih lanjut, Kiai Said, memohon doa restu kepada para kiai sepuh NU agar ia dapat menjalankan tugasnya sebagai Ketua Umum PBNU dengan baik dan lancar. "Saya mohon doa (kepada para kiai) agar dalam menjalan tugas sebagai Ketum PBNU bisa lancar," pintanya.

Asli Muhammadiyah

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang KH Maimun Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen merasa senang atas terlaksananya acara pertemuan ulama di pondok pesantrennya. "Saya merasa gembira sekali dan bersyukur kepada Allah atas terlaksananya acara ini di sini," tutur Mbah Moen.

Dengan hadirnya para ulama di pondok pesantrennya, Mbah Moen berharap suatu saat nanti, santri-santrinya bisa menjadi penerus para ulama besar tersebut.?

"Saya berharap santri-santri di sini bisa meneruskan ulama-ulama," pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Hadits, Sunnah Asli Muhammadiyah

Jumat, 25 Agustus 2017

PCNU Brebes: IPNU Harus Kembangkan Sayap

Brebes, Asli Muhammadiyah



Ketua Pengurus Cabang NU Brebes, Jawa Tengah KH Athoillah Syatori, di hari lahir Ikatan Pelajar NU (IPNU) ke-63, meminta IPNU agar lebih meningkatkan kualitas dan mengembangkan sayapnya. Kualitas pendidikan para pelajar NU dibuktikan dengan peningkatan ilmu dan IPNU dikepakkan sayapnya hingga ke sekolah-sekolah umum.

PCNU Brebes: IPNU Harus Kembangkan Sayap (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Brebes: IPNU Harus Kembangkan Sayap (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Brebes: IPNU Harus Kembangkan Sayap

“Sudah bukan putra lagi, tetapi kembali ke pelajar, maka fokus IPNU pada penignkatan kualitas pendidikan,” ucap Athoillah saat berbincang dengan Asli Muhammadiyah di Hotel Anggraeni Jatibarang Brebes, Kamis (23/2) kemarin.?

Pelajar NU harus lebih baik, lanjutnya, paling tidak, mampu memberikan motivasi pada pelajar lain untuk belajar lebih giat sehingga meningkatkan kualitas pelajar NU. Sebab, keberhasilan seseorang salah satunya terkait dengan ilmu yang dimilikinya.

Athoillah menyarankan agar IPNU melakukan pembinaan rutin, terutama di pendidikan formal, di sekolah sekolah, baik di lingkungan LP Ma’arif maupun sekolah umum.

Asli Muhammadiyah

Atho melihat, pelajar NU di sekolah umum belum digarap maksimal. “Saya sering memberikan pembinaan pada IPNU agar bisa menginventarisir pelajar NU yang ada di sekolah umum, bila perlu membentuk komisariat,” ungkapnya.

Menurutnya, kini banyak kepala sekolah negeri berlatar belakang NU. Pengurus IPNU tidak usah ewuh pekewuh bersilaturahim ke sekolah-sekolah. Kalau tidak berani melangkah sejauh itu, maka IPNU akan stagnan. Kalau IPNU masuk di sekolah Maarif sudah biasa, termasuk dipesantern, di dua tempat tersebut tinggal ditingkatkan kualitasnya.?

Sebab, bagaimanapun IPNU adalah kader pengganti estafet kepemimpinan di NU maka pengkaderannya tidak boleh terputus kalau bisa kembangkan sayapnya.?

Asli Muhammadiyah

Dalam pandangan Athoillah, perkembangan IPNU sudah cukup bagus, pengurus IPNU sudah melakukan inovasi dalam kegiatannya. Hanya perlu dorongan terkait dengan administrasi yang benar dan jelas. Satu contoh, data pelajar di Brebes belum terekam secara pasti, belum ada data base. Misal 30 ribu pelajar NU perlu dibekali ketrampilan apa, maka bisa diselesaikan pada periodesasi tertentu.?

Selain itu, yang perlu digarap diera bonus demografi, IPNU harus bisa mencapai zaman keemasan. Menurutnya, tergantung pada faktor pendidikan dan kesehatan. Untuk itu IPNU perlu mengambil peran terhadap kedua persoalan tersebut.?

Bicara pendidikan, karena tidak semua warga NU orang kaya maka perlu diciptakan yang mengarah pada pendidikan ketrampilan. Sehingga ketika tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi maka sudah punya skill untuk mandiri. Garaplah keterampilan, agar IPNU lebih bagus dan bisa mengambil hati generasi muda atau pelajar lainnya.

Bidang kesehatan, lanjutnya, pengurus IPNU hendaknya menjadi motivator dan dinamisator bidang kesehatan masyarakat.?

Dua hal ini bisa menjadi program prioritas yang bisa digarap IPNU. Bila berdampak masalah pendanaan maka bisa menggandeng pihak ketiga seperti dengan perusahaan dan OPD. Tidak harus memakai dana, IPNU menyediakan orangnya, dinas tertentu yang menyediakan dana. Untuk itu, bangunlah kemampuan berkomunikasi, dengan perjuangan, pendidikan yang dilandasi ketakwaan. (Wasdiun/Abdullah Alawi) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Sunnah, Kiai Asli Muhammadiyah

Senin, 03 Juli 2017

PBNU Instruksikan Nahdliyin Baca Qunut Nazilah dan Hizib Nashor untuk Palestina

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus melakukan upaya solidaritas, baik lahir maupun batin untuk Palestina. Setelah menggalang dukungan umat Islam Indonesia, NU mengintruksikan kepada Nahdliyin dan bangsa Indonesia untuk membaca Qunut Nazilah dan Hizin Nashor sebagai bentuk solidaritas untuk Palestina.

Instruksi yang tertuang dalam surat Nomor 1693/C.I.34/12/2017 pada Selasa (19/12/2017) ini sebagai bentuk ikhtiar lanjutan setelah kecaman, penolakan, dan diplomasi dari sejumlah negara tidak direspon baik oleh Amerika Serikat.

PBNU Instruksikan Nahdliyin Baca Qunut Nazilah dan Hizib Nashor untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Instruksikan Nahdliyin Baca Qunut Nazilah dan Hizib Nashor untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Instruksikan Nahdliyin Baca Qunut Nazilah dan Hizib Nashor untuk Palestina

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan, ikhtiar batin ini harus dilakukan setelah mencermati perkembangan terkahir terkait isu Palestina.

“Dimana protes negara-negara di dunia belum mampu menghasilkan kebijakan unilateral Amerika Serikat,” ujar Kiai Said, Selasa (19/12) di Jakarta.

Asli Muhammadiyah

Maka dari itu, sambung Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur Jakarta Selatan ini, PBNU menginstruksikan kepada seluruh kepengurusan NU di semua tingkatan dan kepada pimpinan pondok pesantren, masjid, dan musholla untuk membacakan qunut nazilah dan hizib nashor.

“Ditujukan sebagai wujud solidaritas perjuangan warga Palestina,” tandas Kiai Said. (Fathoni)







Asli Muhammadiyah



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Sunnah, Ahlussunnah Asli Muhammadiyah

Jumat, 26 Mei 2017

BMTNU Jombang Optimalkan Pendirian Sejumlah Cabang

Jombang, Asli Muhammadiyah

Baitul Maal wat Tamwil (BMTNU) Jombang pusat terus mengoptimalkan pendirian-pendirian cabang BMTNU di sejumlah kecamatan di Jombang. Hal ini merupakn upaya warga nahdliyin setempat untuk menjembatani perekonomian masyarakat.Gambar sisip 1

BMTNU Jombang Optimalkan Pendirian Sejumlah Cabang (Sumber Gambar : Nu Online)
BMTNU Jombang Optimalkan Pendirian Sejumlah Cabang (Sumber Gambar : Nu Online)

BMTNU Jombang Optimalkan Pendirian Sejumlah Cabang

Sebelumnya, 2 cabang BMTNU sudah berdiri dan beroperasi di masing-masing kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) terkait. Yaitu di Kecamatan Bareng sebagai cabang perdana BMTNU Jombang, kemudian disusul Kecamatan Kesamben pada Bulan Februari lalu.

Sekretaris BMTNU Jombang pusat, Muhammad Muchlis Irawan menyatakan bahwa pada tahun 2016 ini, pihaknya menargetkan dua hingga tiga pendirian cabang BMTNU di kecamatan-kecamatan tertentu. "Insyaallah pada tahun ini ada dua sampai tiga cabang lagi berdiri," katanya kepada Asli Muhammadiyah saat dihubungi, Jumat (19/3).

Sesuai dengan kebijakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang untuk mendirikan lembaga keuangan sebagai strategi kesejahteraan warga nahdliyin, juga sebagai upaya mengembangkan dan memperkuat kelembagaan NU.

Selama dua periode dipimpin KH Isrofil Amar, memang ada target untuk mendirikan satu BMT di tingkat kabupaten dan tiga di MWCNU. Namun melihat rencana dan upaya pengurus BMTNU pusat tampak akan melebihi target tersebut. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah Sunnah Asli Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa admin situs Asli Muhammadiyah sangat membenci AdBlock karena dengan adanya iklan maka situs Asli Muhammadiyah bisa tetap berjalan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Tulisan
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Asli Muhammadiyah dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock