Tampilkan postingan dengan label Sohih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sohih. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juli 2016

Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam

Sleman, Asli Muhammadiyah. Keberadaan pondok pesantren dalam rentang sejarahnya perlu selalu dibaca sebagai warisan dan juga kekayaan budaya-intelektual Nusantara. Oleh karena peran sejarah yang dimainkannya, dalam sejumlah aspek tertentu, pesantren perlu dipandang sebagai benteng pertahanan kebudayaan itu sendiri.

Demikian KH Jazilus Sakhok Ph.D yang akrab disapa Gus Sakhok membuka diskusi bersama tamu kunjungan dari APTEP (Asia Pasific Theologi Encounter Programe) di STAI Sunan Pandanaran, Yogyakarta, Jumat (8/05), pagi.

Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)


Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam

"Pesantren merupakan institusi pendidikan tertua di Indonesia yang bertujuan untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral dan nilai Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari" terang Gus Sakhok.

Asli Muhammadiyah

Ia menjelaskan, pesantren merupakan hasil pergulatan dan dialektika kebudayaan yang kreatif, antara tradisi, masyarakat, dan pola interaksi kiai-santri-kitab kuning. Karenanya keunikan pesantren juga terlihat pada sifat akulturatif yang menghargai kultur dan tradisi lokal secara halus dan kreatif, sehingga terhindar dari konflik.

"Salah satu unsur dari pesantren yang berperan penting dalam membentuk karakter Islam yang jauh dari karakteristik ekstrem dan radikal adalah kitab kuning. Kitab kuning adalah tradisi klasik warisan Wali Songo dan para ulama Nusantara. Kitab kuning itu mencermikan kelembutan Islam, sebab terdapat akulturasi budaya di dalamnya," imbuhnya.

Asli Muhammadiyah

Gus Sakhok mengatakan, kitab kuning difungsikan oleh kalangan pesantren sebagai rujukan dan paduan nilai-nilai universal dalam menyikapi perubahan zaman. Aspek dinamis yang diperlihatkan kitab kuning adalah adanya transfer pembentukan tradisi keilmuan tauhid-fiqih-sufisme yang didukung penguasaan ilmu-ilmu instrumental, seperti nahwu dan sharaf (adab).

"Karenanya, tanpa kitab kuning dalam pengertian yang lebih luas, tradisi intelektual di Indonesia agaknya sulit untuk keluar dari kecenderungan ekstremitas pemahaman keagamaan," pungkasnya. (Anwar Kurniawan/Mahbib)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59394/hasil-akulturasi-kitab-kuning-cerminkan-kelembutan-islam

Asli Muhammadiyah

Jumat, 03 Juni 2016

Ziarah Leluhur, Momen Bermaaf-maafan

Sumenep, Asli Muhammadiyah. Ziarah ke makam leluhur menjadi rutinitas tahunan sebagian besar warga Kampung Pangangson Desa Juruan Laok Kecamatan Batuputih Sumenep, sehabis shalat Idul Fitri. Bahkan, pada hari kedua lebaran, warga melakukan khataman al-Quran dan tahlil bersama di Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat.

"Ini tradisi warga sejak turun-temurun. Untuk rutinitas khataman ini telah berjalan sejak 9 tahun lalu," kata H Helmi Anshori, Koordinator Khataman al-Quran itu, Kamis (01/8).

Ziarah Leluhur, Momen Bermaaf-maafan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ziarah Leluhur, Momen Bermaaf-maafan (Sumber Gambar : Nu Online)


Ziarah Leluhur, Momen Bermaaf-maafan

H Helmi menjelaskan, kegiatan ini dalam rangka mengingat para leluhur yang telah tiada dengan mengirimi doa dan bacaan al-Quran.

Asli Muhammadiyah

Selain berziarah makam leluhur, mereka juga memanfaatkan waktu untuk bertemu dan bersilaturrahmi. Di TPU tersebut, mereka saling bersalam-salaman dengan para sanak famili yang telah lama tak jumpa.

Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang memanfaatkan momen itu untuk saling bermaafan dengan tetangga yang sehari-hari jarang ketemu serta famili yang telah lama merantau atau berkeluarga ke daerah lain.

Asli Muhammadiyah

"Dengan ini diharapkan kita mendapat barokah para leluhur, dan disini juga bisa menjadi media silaturrahim dengan para famili," pungkas alumni PP An-Nuqayah Guluk-guluk ini.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor : Abdul Hady JM

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/33771/ziarah-leluhur-momen-bermaaf-maafan

Senin, 06 Januari 2014

Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai

Jombang, Asli Muhammadiyah. Pelaksanaan Muktamar NU ke-33 di Jombang tinggal menghitung hari. Tidak sampai tiga pekan lagi, forum tertinggi di NU ini digelar. Berbagai persiapan sudah dilakukan. Termasuk konsolidasi panitia dan persiapan lokasi acara.

Demikian terlihat di alun-alun Jombang sejak Rabu (8/7). Berbagai alat berat untuk mendirikan tenda besar sudah didatangkan. Alat-alat itu diangkut dengan menggunakan beberapa truk besar.

Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)


Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai

"Truk-truk itu sempat parkir di alun-alun Jombang," kata Mukani, guru SMAN 1 Jombang yang berlokasi di utara alun-alun Jombang.

Mulai Rabu (8/7) pagi, pendirian tenda besar berwarna putih dimulai oleh puluhan pekerja. Letaknya di sisi selatan alun-alun. Sedangkan di sisi timur dan utara, dimulai pada Kamis (9/7) hari ini.

Asli Muhammadiyah

Menurut rencana, tenda-tenda itu akan digunakan sebagai lokasi pembukaan dan penutupan acara Muktamar NU ke-33. Sedangkan sidang komisi digelar di empat pondok pesantren, Tebuireng, Tambakberas, Denanyar, dan Peterongan.

Sebagai sekolah yang berdekatan dengan lokasi Muktamar NU, SMAN 1 Jombang juga siap menyukseskan Muktamar kali ini. Baliho besar sudah dipasang di timur pintu gerbang sejak sepekan lalu. Baliho besar itu bertuliskan Keluarga Besar SMAN 1 Jombang siap menyuksukseskan Muktamar NU Ke-33 di Jombang.

Asli Muhammadiyah

Menurut rencana, SMAN 1 Jombang juga ditempati peserta muktamar. "Puluhan kran air sudah disediakan di tempat parkir sebelah barat. Renovasi mushalla juga dipercepat agar sudah bisa digunakan saat Muktamar nanti," ujar Mukani.

Demi kenyamanan peserta dalam beribadah di mushalla, arah kiblat pun sudah diukur ulang. "Selasa (7/7) kemarin kita mengundang Ketua Lajnah Falakiyah MWCNU Diwek ustadz Abdul Majid untuk mengukur ulang arah kiblat mushalla di sekolah ini," pungkasnya. (Abu Jauhar/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/60780/pembangunan-tenda-muktamar-nu-dimulai

Selasa, 08 Januari 2013

Fasilitasi Jiwa Kewirausahaan Santri, Pesantren Al-Nahdlah Buka eLSAS Mart

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Direktur Pesantren Al-Nahdlah Depok KH Asrorun Niam Sholeh resmi membuka eLSAS Mart, sejenis minimarket, Ahad (23/4). Upacara ini menandai beroperasinya eLSAS Mart di lingkungan Pesantren Al-Nahdlah, Depok, Jawa Barat.

Katib Syuriyah PBNU ini menegaskan, di samping melayani kebutuhan para santri, eLSAS Mart ini juga berfungsi sebagai laboratorium kewirausahaan santri.

Fasilitasi Jiwa Kewirausahaan Santri, Pesantren Al-Nahdlah Buka eLSAS Mart (Sumber Gambar : Nu Online)
Fasilitasi Jiwa Kewirausahaan Santri, Pesantren Al-Nahdlah Buka eLSAS Mart (Sumber Gambar : Nu Online)


Fasilitasi Jiwa Kewirausahaan Santri, Pesantren Al-Nahdlah Buka eLSAS Mart

"Ini akan difungsikan sebagai laboratorium kewirausahaan santri Al-Nahdlah. Ke depan, di samping tafaqquh fid din, santri Al-Nahdlah siap menjadi interpreneur santri," kata Kiai Asrorun Niam seperti dalam rilisnya kepada Asli Muhammadiyah.

Kehadiran eLSAS Mart dimaksudkan sebagai wahana pengembangan kewirausahaan para santri. eLSAS Mart didirikan atas kemitraan pihak pesantren dan manajemen Alfamart. Di samping jual-beli, kerja sama Al-Nahdlah dan Alfamart juga bergerak pada bidang pelatihan kewirausahaan santri, melalui lini SDM dan bisnis center.

Asli Muhammadiyah

"Pendidikan kewirausahaan akan masuk dalam kurikulum Al-Nahdlah di bawah kemitraan dengan tim Alfamart," tegasnya.

Sebelum kehadiran eLSAS Mart, Al-Nahdlah sudah memiliki kawasan pusat bisnis Al-Nahdlah yang terdiri atas beberapa kios dan rumah sewa untuk menopang kegiatan sosial dan pendidikan. Semuanya berada di bawah Yayasan Lembaga Studi Agama dan Sosial (eLSAS Foundation). (Red Alhafiz K)

Asli Muhammadiyah

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77285/fasilitasi-jiwa-kewirausahaan-santri-pesantren-al-nahdlah-buka-elsas-mart

Senin, 19 Maret 2012

Khofifah: Pemerkosa Yuyun Dipengaruhi Miras dan Video Porno

Rejanglebong, Asli Muhammadiyah. Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa saat berada di Rejanglebong, Provinsi Bengkulu, Jumat, menilai bahwa tersangka pelaku pemerkosaan dan pembunuhan siswi SMP setempat berusia 14 tahun, Yuyun (14), akibat pengaruh minuman keras (miras) dan video porno.

"Tadi saya tanyakan kepada para terdakwa kenapa tindakan itu sampai mereka lakukan, dan mereka jawab karena mereka sering menonton video porno, serta di bawah pengaruh minuman keras oplosan," ujarnya usai bertemu tersangka pelaku pemerkosaan dan pembunuhan Yuyun di Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Rejanglebong, Bengkulu, Jumat.

Khofifah: Pemerkosa Yuyun Dipengaruhi Miras dan Video Porno (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Pemerkosa Yuyun Dipengaruhi Miras dan Video Porno (Sumber Gambar : Nu Online)


Khofifah: Pemerkosa Yuyun Dipengaruhi Miras dan Video Porno

Ia mengemukakan, tersangka pelaku yang tujuh di antara 14 orang masih berusia di bawah umur mengakses tontonan pornografi itu menggunakan telepon seluler (ponsel), dan para orangtua tidak mudah memonitor apa saja yang diakses anak-anaknya.

Berdasarkan survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), mencapai 97 persen anak-anak seumuran SMP dan SMA yang mengakses tautan porno, sedangkan 92 persen anak SD dan SMP juga sudah mengakses tautan pornogarfi.

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah

Oleh karena itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menutup banyak situs Internet yang membahayakan anak-anak Indonesia.

Selain itu, Khofifah mengemukakan, harus ada pula upaya penertiban peredaran minuman keras yang dapat memengaruhi orang berbuat kejahatan dan menyebabkan kematian bagi orang lain.

Ia menegaskan, akan segera menyampaikan masukan kepada Panitia Khusus DPR RI yang sedang membahas rancangan undang-undang (RUU) peredaran minuman beralkohol (Minol).

Pansus DPR RI, menurut Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) itu, harus melihat akibatnya dari segi kebahayaan dan kejahatan seksual, serta menyebabkan kematian sehingga harus ada aturan larangan peredarannya secara bebas.

"Kasus yang menimbulkan keprihatinan itu menjadi keprihatinan kita bersama, sehingga harus ada tindakan apa yang dilakukan pemerintah dalam menyiapkan regulasi khusus dan masyarakat juga harus menyiapkan proses proteksi yang bisa memberikan perlindungan terhadap semua bangsa, terutama perempuan dan anak-anak," ujarnya.

Terkait proses hukum tujuh terdakwa anak-anak yang sudah disidangkan dalam kasus pemerkosaan dan pembunuhan Yuyun, menurut Khofifah, jika nantinya divonis oleh pengadilan, maka diharapkan mereka akan menjalaninya bukan di lembaga pemasyarakatan, tapi lembaga pembinaan khusus anak (LPKA) karena ancamannya lebih dari tujuh tahun penjara.

Berkaitan dengan tersangka dewasa, dinilainya, dikenai pasal berlapis jika terbukti mengajak, berinisiatif dan lainnya.

Selain itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sudah memberikan inisiatif agar pelaku ini diberikan pemberatan hukuman, demikian Khofifah Indar Parawansa.

Yuyun (14) siswi kelas VII SMPN 5 Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejanglebong, menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan oleh 14 tersangka pada 2 April 2016.

Sebanyak 12 tersangka adalah warga satu desa dengan korban, dan salah seorang pelaku adalah kakak kelasnya, kini menjalani proses hukum. Adapun dua tersangka lainnya masih dalam pengejaran polisi. (Antara/Mukafi Niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67953/khofifah-pemerkosa-yuyun-dipengaruhi-miras-dan-video-porno-

Asli Muhammadiyah

Rabu, 11 Januari 2012

Menimbang Sejarah dan Ajaran Tarekat

Judul buku : Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat dalam Tasawuf

Penulis : K.H. A. Aziz Masyhuri

Cet. I : Juli 2011

Menimbang Sejarah dan Ajaran Tarekat (Sumber Gambar : Nu Online)
Menimbang Sejarah dan Ajaran Tarekat (Sumber Gambar : Nu Online)


Menimbang Sejarah dan Ajaran Tarekat

Tebal : xx+ 338 halaman (termasuk daftar pustaka)

Penerbit : IMTIYAZ Surabaya

Peresensi : Yusuf Suharto

Asli Muhammadiyah

Buku berjudul Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat dalam Tasawuf ini adalah salah satu karya penting Kiai Abdul Aziz Masyhuri dalam kajian tentang tarekat setelah bukunya Permasalahan Thariqah Hasil Kesepakatan Muktamar dan Musyawarah Besar Jamiyyah Ahlith Thariqah Al-Mutabarah Nahdlatul Ulama 1957-2005 diterbitkan pada 2006 lalu. Kiai Aziz terhitung sebagai kiai pesantren yang sangat produktif. Dalam buku berbahasa Indonesia yang ditulisnya terhitung ada 95 judul dari berbagai bidang ilmu. Dalam bahasa Arab, ikhtisarnya terhitung ada 21 judul, buku yang diedit dan disuntingnya ada 15 judul, sedangkan buku terjemahannya terhitung ada 7 judul.

Asli Muhammadiyah

Mengawali buku tentang aliran-aliran tarekat ini dinyatakan oleh Kiai Aziz bahwa Tarekat secara etimologis bermakna antara lain jalan, cara, metode, haluan, tiang teduhan. Sedangkan menurut istilah tasawuf berarti perjalanan seorang salik (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara menyucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan. Dalam kitab Jami al-Ushul fi al-Awliya tarekat bermakna laku tertentu bagi orang-orang yang menempuh jalan kepada Allah, berupa memutus atau meninggalkan tempat-tempat hunian dan naik ke maqom atau tempat-tempat mulia. Menurut al-Jurjany dalam al-Tarifat tarekat adalah metode khusus yang dipakai oleh salik menuju Allah melalui tahapan-tahapan atau maqamat. (hal. 1-2).

Istilah tarekat terkadang kemudian digunakan untuk menyebut suatu pembimbingan pribadi dan perilaku yang dilakukan oleh seorang mursyid kepada muridnya. Pengertian terakhir inilah yang lebih banyak banyak difahami oleh banyak kalangan ketika mendengar kata tarekat (hal. 2).

Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian. Pertama, ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi yang ditandai dengan adanya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah (hal. 2).

Mengutip kitab Maraqi al-Ubudiyah dikatakan bahwa tarekat bermakna melaksanakan kewajiban dan kesunnahan, meninggalkan larangan, menghindari perbuatan mubah yang tidak bermanfaat, sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari syubhat, apalagi dari keharaman, sebagaimana orang yang waraI, dan menjalani riyadlah, misalnya beribadah sunat pada malam hari, berpuasa sunat, dan tidak mengucapkan kata-kata yang tanpa

guna. (dalam buku, Permasalahan Thariqah Hasil Kesepakatan Muktamar dan Musyawarah Besar Jamiyyah Ahlith Thariqah Al-Mutabarah Nahdlatul Ulama 1957-2005, suntingan KH. A. Aziz Masyhuri)

Buku yang ditulis K.H. Abdul Aziz Masyhuri, seorang ulama pesantren yang mantan Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) ini menggunakan pendekatan wacana atas sejarah dan pengalaman bertarekat dari 22 tarekat dunia yang sebagian berkembang di Indonesia.

Sebagai kiai pesantren dan orang yang banyak terlibat dalam kegiatan bahtsul masail Nahdlatul Ulama, tentu saja menjadi dapat dimaklum, bahwa tarekat yang dituliskannya ini hanya mengambarkan tarekat yang diakui kemuktabarannya oleh Nahdlatul Ulama. Kiai yang dijuluki Martin van Brunessen seorang ahli Belanda pengamat NU dan Tarekat, sebagai Kiai Ahli Dokumentasi ini menyebut ada 43 atau 44 tarekat yang diakui Nahdlatul Ulama sebagai tarekat yang muktabar.

Sayang sekali, Kiai Aziz tidak memberikan alasan kenapa memilih 22 aliran tarekat, yang kenyataannya tidak semua dari 22 itu berkembang luas di Indonesia. Ke 22 tarekat yang ditulis dalam bukunya tersebut yaitu Tarekat Alawiyah, Aidrusiyah, Badawiyah, Chistiyah, Dasuqiyah, Ghazaliyah, Haddadiyah, Idrisiyah, Khalwatiyah, Malamathiyah, Maulawiyah, Naqsyabandiyah, Naqsabandiyah Haqqaniyah, Qadiriyah, Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Rifaiyah, Samaniyah, Sanusiyah, Suhrawardiyah, Syadziliyah, Syathariyah, Dan Tijaniyah. Namun barangkali alasan yang mungkin melandasi penulisan 22 tarekat itu adalah karena kepopulerannya atau telah tersebar luas di dunia Islam. Atau juga mungkin, Kiai Aziz masih berkehendak menuliskan jilid satunya, sembari menyiapakan jilid atau edisi lanjutan.

Namun, jika merujuk pada kemuktabaran tarekat sebagaimana ditetapkan dalam Nahdlatul Ulama, semestinya dilihat dari daftar ke 22 tarekat tersebut, jumlah yang pas adalah 21, bukan 22 tarekat. Karena Naqsabandiyah Haqqaniyah termasuk dalam aliran tarekat Naqsabandiyah. Pelabelan Haqqaniyah dalam daftar tarekat muktabar tidak dihitung. Namun maksud dicantumkannya Haqqaniyah dapat kita ketahui setelah Kiai Aziz membahas aliran tarekat ini.

Sebagai orang luar yang sekedar mengamati penulis agak kaget, karena ternyata tarekat Naqsabandiyah Haqqaniyah yang dihitung tersendiri oleh pengasuh al-aziziyah Denanyar ini ternyata dalam buku ini setelah dipuji tentang sejarah hidup pendirinya, yaitu Syaikh Nadhim Haqqani dan muridnya, Syaikh Hisyam Qabbani, kemudian dikritik dengan mengutip pandangan mufti Lebanon sebagai tarekat yang terputus sanadnya dan dinyatakan sesat. Dikatakan oleh Kiai Aziz dalam fasal bukunya di bawah judul Catatan Penting tentang Syaikh Nadzim Haqqani dan Syaikh Hisyam Qabbani Syaikh Nadzim, yang menyebut dirinya dengan al-Haqqani, seorang berkebangsaan Cyprus yang pernah dideportasi dari Lebanon atas perintah Mufti Lebanon pada waktu itu, Syaikh Hasan Khalid, dan dikecam karena kesesatannya oleh mufti Tripoli Lebanon; Thaha ash-Shabunji sebagaimana dikutip oleh majalah al-Afkar, Beirut, edisi 898, November 1999..mata rantai tarekat yang dibawa keduanya berasal dari seseorang yang bernama Abdullah Faiz Ad-Daghistani yang tinggal di Damaskus, padahal mufti Negara Daghisthan Sayyid Ahmad ibn Sulayman Darwisy Hajiyu mengatakan dalam surat yang diterbitkan oleh al-Idarah Ad-Diniyah Li Muslimi Daghisthan, bahwa mata rantai tarekat yang dibawa oleh Abdullah Ad-daghisthani tidaklah bersambung alias maqthu dan tarekat yang ia bawa adalah sesat (172-173).

Dicontohkan oleh Kiai Aziz kesesatan-kesesatan yang dilakukan oleh guru Syaikh Nadzim Haqqani, yaitu Syaikh Abdullah Ad-Daghistani dalam Washiyyah Mursyid az-zaman wa Ghauts al-Anam pada halaman 12, Seandainya seorang kafir membaca surah al-Fatihah walaupun sekali seumur hidup, maka dia tidak akan keluar dari dunia ini kecuali memperoleh sebagian dari inayah (pertolongan) tersebut, karena Allah tidak membedakan orang kafir, fasiq, mumin, ataupun muslim, semuanya sama.

Di samping memaparkan sejarah lengkap, kontroversi-kontroversi beberapa tarekat dalam pandangan Nahdlatul Ulama, buku ini secara memadai juga memaparkan pendefinisian tarekat, kemunculan golongan zuhud, sejarah perkembangan tarekat, ajaran khusus dan umum tarekat, dan berbagai ajaran-ajaran dalam tarekat yang diletakkan dalam bab pertama. Kemudian memaparkan karakteristik tarekat sufi, komposisi tarekat sufi, dan tata cara bertarekat dalam bab kedua. Kemudian menjelaskan pada bab ketiga tentang berbagai aliran tarekat yang dua puluh dua.

Ke depan rasanya kita harus menunggu karya kiai ahli dokumentasi ini untuk melengkapi ke 44 tareat secara keseluruhan bahkan juga tarekat atau yang khas Indonesia, misalnya Shalawat Wahidiyyah yang berpusat di Kediri dan Ngoro Jombang dan Shiddiqiyyah yang berpusat di Ploso Jombang yang pula diikuti sebagian nahdliyyin.

Buku ini menjadi lebih berbobot di samping isinya yang padat dengan jumlah halaman 323, juga karena diberi pengantar oleh tiga orang otoritatif, yaitu Rais Am Jamiyah Ahlith Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyah, Habib Muhammad Luthfie bin Ali bin Yahya, Ketua Umum PBNU, Dr. KH. Said Aqiel Siradj, M.A., dan Guru Besar Studi Perbandingan Masyarakat Muslim Kontemporer, Universitas Utrecht Belanda, Martin Van Bruinessen.

Sekretaris Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Jombang.

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/33731/menimbang-sejarah-dan-ajaran-tarekat

Asli Muhammadiyah

Selasa, 10 Mei 2011

Masalah Al Qaeda Tak Sekadar Urusan Aparat Keamanan

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Masalah Al Qaeda tidak bisa dipandang sebagai persoalan eksklusif negara semata. Atau lebih sempit lagi, urusan aparat keamanan. Mungkin saja demikian bagi negara-negara nonmuslim. Namun tidak bagi negara-negara Islam, atau negara yang berpenduduk mayoritas muslim, seperti Indonesia.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum H Asad Said Ali dalam peluncuran buku karyanya, "Al Qaeda: Tinjauan Sosial-Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya" di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (26/9).

Masalah Al Qaeda Tak Sekadar Urusan Aparat Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Masalah Al Qaeda Tak Sekadar Urusan Aparat Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)


Masalah Al Qaeda Tak Sekadar Urusan Aparat Keamanan

Mantan Wakil Kepala BIN itu mengatakan, Al Qaeda adalah sebuah gerakan politik dengan ideologi jihad yang kuat, serta mempunyai jaringan global dan skill militer. Visi politiknya terumuskan dalam sebuah kalimat yang sederhana: menegakkan Islam dan melindungi kaum muslimin.

Kalimat demikian di telinga masyarakat kita terdengar biasa, tetapi karena dilandasi oleh ideologi yang agresif, maka maknanya berubah menjadi perang melawan peradaban, termasuk perang melawan kaum muslimin di luar Al Qaeda. Menurut pendapat saya, langkah Al Qaeda ini lebih banyak mudharat-nya daripada maslahat-nya bagi umat Islam, ujarnya.

Asli Muhammadiyah

Penyimpangan Makna Jihad

Asli Muhammadiyah

Menurut penerima gelar doktor honoriscausa dari Undip Semarang ini, esensi ideologi Al Qaeda adalah jihad, dan pembentukan khilafah Islamiyah adalah suatu yang mutlak. Dengan ideologi seperti itu, kaum jihadi menyalahkan pemaknaan para ulama yang telah menjadi ijma selama berabad-abad, yang mengartikan jihad dalam arti qital (perang) hanyalah salah satu jenis saja dari jihad. Sementara jihad yang lebih besar lagi adalah mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Al Qaeda menganggap jihad qital (perang) adalah fardhu ain, sebagai satu-satunya jihad yang berlaku mutlak sejak turunnya surat At Taubah. Sedangkan ayat-ayat lain, yang mengandung perintah jihad lainnya, telah terhapus. Ini berati, khususnya masalah jihad, Al Qaeda menganggap mayoritas umat Islam mengikuti ajaran yang salah, terangnya.

Kaum jihadi juga beranggapan bahwa pembentukan khilafah islamiyah adalah mutlak. Agama Islam tidak bisa dilaksanakan dengan sempurna jika tidak melalui Daulah Islamiyah (pemerintah Islam); demikian menurut pendapatnya.Terbentuknya Daulah Islamiyah akan menjadi menara api yang akan mengumpulkan kaum muslimin dari semua tempat menjadi satu kesatuan di bawah pemimpin khalifah.

Meskipun demikian, lanjut Asad, di kalangan Al Qaeda tidak ada kesatuan pandangan tentang apa yang dimaksud khilafah. Osama mengakui kekhalifahan ala Taliban. Kemudian juga mengakui kekhalifahan yang dideklarasikan oleh Abu Musab Al Zarqawi di Irak pada 2005. Sebaliknya, orang kedua Al Qaeda, Ayman Az Zawahiri, membayangkan bahwa kekhalifahan Islam yang dimaksud adalah model khilafah Usmaniyah di Turki.

Tidak hanya berhenti di situ. Doktrin kekhalifahan tersebut kemudian menghasilkan doktrin lanjutan lainnya yang menyeramkan. Yakni pengkafiran terhadap umat Islam yang tidak mendukung prinsip kekhalifahan tersebut. Padahal, umumnya para ulama berpendapat bahwa kata-kata khalifah atau khilafah yang terdapat dalam Al-Quran berarti kepemimpinan umat dalam arti yang luas, tidak berarti model pemerintahan, urai penulis buku Ideologi-ideologi Pasca Reformasi ini..

Konsekuensinya, kata Asad, dalam konsep ideologi Al Qaeda, yang dianggap musuh bukan hanya pemerintahan Barat, tetapi juga pemerintahan di negara-negara muslim seluruhnya. Dan atas dasar itu, Al Qaeda membagi musuh menjadi dua: musuh jauh dan musuh dekat.

Musuh jauh berarti AS/Barat. Sedangkan musuh dekat adalah pemerintah muslim di mana elemen-elemen Al Qaeda berada. Dalam pandangannya, musuh dekat lebih mudah dihancurkan sedangkan musuh jauh telah dihancurkan, paparnya.

Acara peluncuran ini diikuti bedah buku oleh pengamat politik dan pengaji Timur Tengah Fachri Ali, Rektor UIN Jakarta Komaruddin Hidayat, dan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar. Buku yang terdiri dari 8 bab ini merupakan buah pengamatnnya selama ini, termasuk pengalaman saat bertugas sebagai pejabat BIN di Timur Tengah pada 1982 sampai 1990. (Mahbib Khoiron)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54739/masalah-al-qaeda-tak-sekadar-urusan-aparat-keamanan

Asli Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa admin situs Asli Muhammadiyah sangat membenci AdBlock karena dengan adanya iklan maka situs Asli Muhammadiyah bisa tetap berjalan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Tulisan
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Asli Muhammadiyah dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock