Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Desember 2014

Kirab Kebangsaan, Yenni Wahid dan Ridwan Kamil Hipnotis Ribuan Warga Pamanukan

Subang, Asli Muhammadiyah. Yenni Wahid tiba-tiba datang secara mengejutkan dalam acara kirab kebangsaan yang digelar oleh GP Ansor dan Taruna Merah Putih Kabupaten Subang, Sabtu (4/3). Kehadirannya menarik perhatian warga setempat yang menyaksikan kirab kebangsaan.

Sebelumnya, ribuan warga yang tergabung dalam Kirab Kebangsaan itu dilepas oleh Walikota Bandung Ridwan Kamil dan Ketua Umum Taruna Merah Putih Maruarar Sirait serta Ketua GP Ansor Kabupaten Subang Asep Alamsyah Heridinata di halaman Kantor Desa Rancasari dan berakhir di Bintang Fantasi Kecamatan Pamanukan, Subang.

Kirab Kebangsaan, Yenni Wahid dan Ridwan Kamil Hipnotis Ribuan Warga Pamanukan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kirab Kebangsaan, Yenni Wahid dan Ridwan Kamil Hipnotis Ribuan Warga Pamanukan (Sumber Gambar : Nu Online)


Kirab Kebangsaan, Yenni Wahid dan Ridwan Kamil Hipnotis Ribuan Warga Pamanukan

"Aduh, kirain siapa. Masya Allah mbak Yenni. Saya dulu pendukung Gus Dur," ujar salah seorang pedagang yang kebetulan melintasi jalan Ion Martasasmita, Pamanukan, Ahmad Ropii seraya menyalaminya.

Asli Muhammadiyah

Warga lainnya, Surti, memanggil-manggil nama putri Presiden Ke-4 RI KH. Abdurahman Wahid tersebut. Diikuti oleh warga lainnya, Yenni menjadi rebutan warga hanya untuk bersalaman dan foto selfi.

"Ada yang ngasih tahu, katanya itu anaknya Gusdur. Mumpung ada di sini, saya datangi saja. Alhamdulillah bisa bersalaman dan foto bersama," ujarnya.

Asli Muhammadiyah

Tak kalah dengan Yenni, Walikota Bandung Ridwan Kamil juga menjadi rebutan masyarakat. Hanya sekadar selfi dan bersalaman, Emil juga menanyakan kabar masyarakat Pantura Subang tersebut.

"Kumaha damang ibu (Gimana kabarnya ibu, sehat)," tanya Emil kepada masyarakat yang dijumpainya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam jalan sehat tersebut. "Ini sebagai wujud kebersamaan di tengah-tengah perbedaan," kata Emil.

Asep Alamsyah yang merupakan ketua pelaksana kegiatan tersebut mengatakan, Kirab Kebangsaan digelar atas kerja sama antara GP Ansor dan Taruna Merah Putih (TMP) Kabupaten Subang.

"Di hari ini kita kerahkan seluruh kader GP Ansor dan TMP untuk sukseskan kirab kebangsaan dengan tujuan menjalin kebersamaan dan persaudaraan sebagai kader penerus bangsa," kata Asep.

Dalam acara tersebut, ditampilkan juga beberapa kreatifitas anak muda dan sejumlah kesenian khas Subang. Saat tiba di garis finis, ketiga tokoh nasional dan Jawa Barat tersebut diarak dengan menaiki sisingaan sebagai kesenian khas Kabupaten Subang. (Ade Mahmudin/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75882/kirab-kebangsaan-yenni-wahid-dan-ridwan-kamil-hipnotis-ribuan-warga-pamanukan

Asli Muhammadiyah

Jumat, 09 Desember 2011

Presiden dan Wapres Bergantian Melayat

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melayat KH Dr Idham Chalid, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Ketua MPR/DPR periode 1972-1977 yang meninggal dunia pada usia 88 tahun Ahad (11/7) pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Ia datang didampingi oleh sejumlah pejabat negera seperti Menteri Sosial dan Menteri Agama.

Di rumah duka dekat pintu masuk sudah terpajang karangan bunga ucapan duka cita dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono.

Presiden dan Wapres Bergantian Melayat (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden dan Wapres Bergantian Melayat (Sumber Gambar : Nu Online)


Presiden dan Wapres Bergantian Melayat

Dari Jalan Fatmawati sampai ke rumah duka berjejer pula karangan bunga dari berbagai pejabat dan mantan pejabat negara seperti Akbar Tanjung dan Menteri Agama Suryadharma Ali.

Asli Muhammadiyah

Jenazah Idham Chalid dimakamkan di Pondok Pesantren Darul Quran milik keluarga di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Idham Chalid yang lahir di Setui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1922, selama 28 tahun memimpin Nadhlatul Ulama.

Asli Muhammadiyah

Ia juga pernah menjabat Wakil Perdana Menteri II pada era mantan Presiden Soekarno. Almarhum juga deklataror sekaligus pemimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Sementara itu, Wakil Presiden Boediono menilai, almarhum KH Idham Chalid yang merupakan mantan Ketua Umum PBNU itu adalah ulama sekaligus politisi yang menyejukkan.

"Beliau adalah ulama dan politisi yang menyejukkan. Itu pendapat saya," katanya usai melayat mantan KH Idham Chalid di rumah duka di kawasan Cipete Jakarta Selatan, Ahad (11/7) malam.

Wapres Boediono tiba di rumah duka sekitar pukul 20.00 WIB tanpa didampingi Ibu Herawati Boediono dan langsung menyampaikan ucapan belasungkawa kepada keluarga dan kerabat almarhum, yang antara lain diwakili salah satu putra KH Idham Chalid, Saiful Hadi yang juga Direktur Pemberitaan LKBN Antara.

Usai menyampaikan ucapan belasungkawa, Wapres langsung berdoa di samping jenazah, didampingi dan diikuti kerabat dan keluarga almarhum.

Setelah berdoa, Wapres menanyakan rencana pemakaman yang akan dilakukan Senin (12/7) di Komplek Pondok Pesabtren Darul Quran, Cisarua, Bogor, sekaligus menanyakan kerabat dan pejabat yang telah melayat dan akan melayat termasuk kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Senin (12/7) pagi ke rumah duka. (ant/mad)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/23741/presiden-dan-wapres-bergantian-melayat

Minggu, 13 November 2011

Belajar dari NU Australia-Selandia Baru

Pelan tapi pasti, kebanggan saya sebagai nahdliyin megembang kembali saat mengikuti Konfercab PCI NU Australia-Selandia Baru, 29-30 Agustus 2014. Perwakilan dari 5 negara bagian ikut hadir: Victoria (Melbourne), New South Wales (Sydney & Wollongong), South Australia (Adelaide), Western Australia (Perth), dan Australian Capital Territory (Canberra).

Sementara dari Selandia Baru dan Northern Territory (Darwin) berhalangan hadir dan di negara bagian Tasmania belum ada kepengurusan NU. Mereka rata-rata adalah calon master dan doktor dari berbagai kampus se-Australia. Sebagain lagi sudah menjadi warga tetap atau permanen residen.

Belajar dari NU Australia-Selandia Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari NU Australia-Selandia Baru (Sumber Gambar : Nu Online)


Belajar dari NU Australia-Selandia Baru

Konfercab ini istimewa. Pesertanya datang dengan biaya sendiri, menyediakan waktu di sela-sela kesibukan studi dan bekerja. Tak ada janji dari calon ketua yang akan mengganti biaya tiket, misalnya. Begitu pula panitia lokal di Melbourne berjibaku selama sekitar dua minggu untuk menjadi tuan rumah yang baik. Untuk apakah gerangan mereka melakukan ini semua? Saya menemukan satu jawaban yang mungkin tidak canggih: tabarrukan. Ngalap berkah dari para pendiri NU yang sudah visioner menghendaki NU sebagai lembaga yang mengglobal, sebagaimana diperlihatkan oleh lambangnya. Kalau Wahabi yang lahir di Saudi bisa mendunia, Ahmadiyah dari Pakistan bisa mendunia, kini ISIS dari Iraq juga mengguncang dunia, mengapakah NU yang sejak awal berlambang bola dunia tak bisa meraih capaian yang sama? Apa yang kurang dari NU sehingga masih gagap untuk menjadi bagian integral dari warga dunia?

Tiga dari Habib Aji

Ismail Fajrie Alatas memberikan jawaban yang jernih dan jenial. Dalam teleconference (29/8/14) sebagai prolog Konfercab, Habib Aji, demikian ia biasa disapa, menyampaikan tiga hal yang luput diperhatikan selama ini. Tiga hal yang tidak perlu dicari-cari karena sebenarnya melekat di dalam diri aktivis NU. Pertama, menjaga otoritas keilmuan sebagai ciri mandiri NU. Menjaga sanad keilmuan dan menyebarkannya kepada yang memerlukan. Otoritas keilmuan itu harus dijaga karena hanya dengan itulah nama NU masih layak dipergunakan. Menjadi berbahaya jika otoritas ini semakin tergerus dan setiap orang bisa mengklaim sebagai ulama. Bukankah dunia intelektual Barat itu kita hargai, hingga dikejar untuk kepentingan studi, karena mereka berhasil menjaga otoritas keilmuannya?

Asli Muhammadiyah

Implementasi dari sikap ini ialah menerapkan cara pengajaran ulama-ulama NU terdahulu, yaitu memberikan pengajian dengan membacakan kitab-kitab khas pesantren, misalnya kitab-kitab seperti Safinatun Naja, Sullamut Taufiq, Aqidatul Awam. Bukan hanya ceramah lepas yang baik pendakwah maupun pendengarnya susah mengingat-ingat kembali materinya. Kitab-kitab itu dibacakan kepada jamaah di lingkungan PCI NU dengan tidak lupa menjelaskan sanadnya. Dengan demikian, jamaah yang ikut mengaji akan merasa bangga karena mendapatkan ilmu yang sanadnya tersambung kepada ulama-ulama besar, para muallif penyebar berkah keilmuan itu.

Asli Muhammadiyah

Kedua, mulai bergabung dengan aliansi Aswaja internasional, misalnya dengan Tabah Foundation yang digerakkan oleh Habib Ali Aljufri (http://www.tabahfoundation.org/en) yang berpusat di Abu Dhabi. Lembaga ini menjadi thing tank kelas global yang memberikan sumbangsih pemikiran dari perspektif Aswaja, untuk kehidupan yang lebih baik di tingkat dunia. Menurut Habib Aji, intelektual dan cendekiawan NU yang alumni dari mancanegara, sangat ditunggu kiprahnya untuk ikut membesarkan lembaga tersebut. Untuk tingkat Australia, ia menyarankan agar mulai dibangun kegiatan bersama dengan pendatang Malaysia, Brunai, Pattani, yang memiliki tradisi yang sama dengan NU.

Ketiga, pandai-pandai menyikapi perkembangan sosial-media untuk memperluas dakwah dan tidak terjebak dalam budaya baru yang dilahirkan oleh setiap perangkat sosial-media itu. Inilah tantangan yang sulit tapi bukan berati tidak mungkin untuk dilakukan.

Paparan kandidat doktor di Michingan University itu menyadarkan aktivis NU di luar negeri untuk kembali pada dirinya sendiri, pada khazanah pesantren. NU dengan basis pesantren, menurutnya, mempunyai semua modal untuk menjadi bagian dari kegiatan dakwah di tingkat global. Tentu terpulang pada aktivis NU sendiri, apakah peluang yang sebenarnya terbuka itu mau diambil atau disia-siakan. Apakah cukup sebagai jago kandang yang beraninya hanya dengan pihak tertentu, atau mulai siap berekspansi menjajal tantangan dan peluang dari warga lokal dan pendatang dari manca negara.

Konfercab Paling Sukses

Saat Konfercab berlangsung, saya lebih banyak diam. Tugas resmi saya adalah bidang media dan publikasi, jadi memang harus lebih banyak menyimak dan mencatat dari pada bicara. Saya menyimak beragam pendapat kawan-kawan dari berbagai latar belakang. Kagum karena tidak semua bergenetika NU, tapi mau bergabung sebagai nahdliyyin.

Ada dua orang utusan yang berhasil membetot perhatian saya: Muhammad Khodafi dari Canberra dan Kiai Muhammad Mubarok Omo dari Perth, yang populer dengan sebutan Ustadz Mumu. Saya kagum dengan idealisme Khodafi saat mengelola majalah Santri yang diterbitkan oleh PP RMI. Rasanya, idealisme saya selama ini tak ada apa-apanya dibandingkan Khodafi. Saya bisa tetap idealis karena jauh dari godaan, sementara dia tetap teguh tak tergoyahkan di tengah godaan-rayuan di depan matanya. Saya membayangkan dari tangannya kelak masih akan lahir media NU atau pesantren yang berwibawa dan sukses secara keredaksian dan komersial.

Sementara Ajengan Mumu mengagumkan karena pengalaman panjangnya berdakwah di luar negeri, mulai dari Malaysia hingga Australia. Ia mau "turun gunung untuk menghadiri Konfercab dan bersedia menjadi Mustasyar dalam kepengurusan PCI NU 2014-2016. Tanpa ragu ia menyatakan sebagai nahdliyyin dan mengakui berasal dari keluarga nahdliyyin. Ternyata ia asli dari Sukahurip, Galunggung, Tasikmalaya. Tak jauh dari Kikisik. Masih ingat letusan gunung Galunggung 1982 dan misteri sebuah kampung yang lolos dari terjangan lahar? Ajengan Kikisik yang fenomenal itu ternyata masih terhitung kakeknya. Tak heran jika ia menyampaikan bahwa ajakan dzikir bisa menyatukan umat. "Ajakan berdzikir itu bisa meredam konflik internal di antara umat Islam, ujarnya. Ia bukan sedang berteori, tapi memaparkan pengalamannya selama ini. Pengalaman ajengan yang tak kehilangan lentong Sunda-nya itu layak dipraktikkan dalam berdakwah di semua negara bagian di Australia.

Diam-diam saya coba mencari-cari suasana khas NU jika mengadakan acara. Suasana ger-geran ala pesantren memang mulai mencairkan suasana. Tapi kekhasan itu saya temukan saat Ustadz Mumu memipin doa penutup acara pembukaan di KJRI. Ia hanya membacakan surat Al-Fatihah, tapi suaranya itu, mengingatkan saya ke dalam suasana riungan NU di tanah air. Ia memang seorang qari yang bersuara berat nan mantap. Suasana NU itu semakin kental saat ia memimpin tahlilan di penghujung seluruh rangkaian Konfercab. Lantunan ayat suci dengan suara merdunya di tengah-tengah tahlilan, benar-benar me-refresh semua rasa lelah, lahir dan batin.

Inilah Konfercab paling sukses selama ini, ujar Gus Nadir mengapresiasi seluruh panitia dan peserta. Posisi intelektual dengan dua gelar doktor ini memang sentral bagi PCI NU. Sosoknya dapat menjadi pemacu sekaligus penyeimbang laju roda organisasi. Tanpa segan ia menuangkan minuman bagi para peserta, atau mencarikan kursi bagi yang tidak kebagian tempat duduk. Tak mengherankan jika pakar demografi dari Macquarie University, Dr. Salut Muhidin, mengamini ajakannya untuk bergabung membesarkan PCI NU.

Fase Ketiga

Terpilihnya Tufel Musyadad, alumni IAIN Walisongo Semarang, menandai fase ketiga perkembangan PCI NU. Ia mendampingi Gus Nadir selaku Rais Syuriyah dan Ustad Mumu sebagai salah satu Mustasyar. Fase pertama ialah kelahiran dan peresmian keberadaan PCI NU Australia-Selandia Baru di Canberra pada 2005. Banyak organisasi massa cabang luar negeri yang berhenti pada fase ini. Fase kedua ialah penyesuaian susunan kepengurusan sesuai kebutuhan, pencarian bentuk program, dan penyesuaian gerak organisasi dengan lingkungan sekitar. Konflik dengan pihak tertentu merupakan bumbu dominan dalam fase ini. Tak sedikit ormas Islam yang terpaksa tiarap akibat deraan konflik internal ini. Lalu fase ketiga adalah fase konsolidasi, dimana tiga serangkai permanen residen menjadi figur sentral PCI NU. Sebelumnya, Ketua Tanfidziyah selalu dijabat oleh pelajar yang hanya memegang visa sementara.

Tantangan Tufel ialah mengawal PCI NU memasuki fase keempat, yaitu penguatan fondasi, yang ditandai dengan tampilnya seorang warga Australia, kelak di kemudian hari, sebagai pimpinan. Tidak harus bule, bisa saja ia adalah seorang Muslim Aborigin atau generasi kedua pedatang Indonesia yang sudah menjadi citizen. Namun, itu bukan hanya tugas alumni Stony Brook University, New York itu sendirian, melainkan tugas bersama-sama semua pengurus dan anggota PCI NU. Dengan tampilnya warga Australia sebagai pimpinan NU, maka dalil NU yashluh li kulli zaman wa makan menjadi sah adanya. Dan itulah bukti NU yang mendunia, yakni bergabungnya warga dunia ke dalam NU.

Dari Konfercab kali ini saya bisa mendapatkan gambaran yang nyaris utuh mengenai harapan perkembangan PCI NU ke depan. Potensi (kekuatan), tantangan, peluang, dan hambatan yang akan dihadapi terpapar melalui persidangan dan diskusi-diskusi kecil di luar acara resmi. Misalnya kegiatan non pengajian yang selama ini ditunggu-tunggu, dapat terwadahi dalam gagasan Gus Dur Memorial Lecture yang dilontarkan peneliti muda LIPI Muhammad Khoirul Muqtafa. Apalagi nama Gus Dur adalah jaminan mutu bagi dunia intelektual Australia.

PCI NU di seluruh dunia sesungguhnya merupakan aset besar NU. Menarik untuk melihat pertarungan di arena Muktamar NU XXXIII 2015 nanti. Apakah PCI NU akan mendapatkan perhatian besar dari induknya kembali atau lagi-lagi kurang dianggap penting. Dengan dukungan penuh dari PBNU, PCI NU memang akan leluasa bergerak secara terstruktur, sistematis, dan masif. Namun, dengan dukungan seadanya pun, ruang gerak PCI NU tidak harus terhambat. Justru hal itu bisa mendorongnya untuk menjadi otonom dan menumbuhkan dirinya sendiri hingga mencapai tahap kematangan, baik secara organisasi maupun program. Insyaallah.

Rasanya, dengan figur karismatik Nadirsyah Hosen, nyala api harapan dari PCI NU Australia-Selandia Baru akan awet dan tahan dari tiupan angin, bahkan dapat menyinari rumah induknya.

Kini, tepat waktunya untuk berkirim hadiah fatihah kepada semua pendiri NU, khususnya Mbah Ridwan Abdullah, sang pencipta lambang NU yang futuristik itu. Alfatihah

Iip Dzulkipli Yahya, penulis partikelir, saat ini tinggal di Clayton, Victoria, Australia.

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54272/belajar-dari-nu-australia-selandia-baru

Asli Muhammadiyah

Selasa, 10 Mei 2011

Masalah Al Qaeda Tak Sekadar Urusan Aparat Keamanan

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Masalah Al Qaeda tidak bisa dipandang sebagai persoalan eksklusif negara semata. Atau lebih sempit lagi, urusan aparat keamanan. Mungkin saja demikian bagi negara-negara nonmuslim. Namun tidak bagi negara-negara Islam, atau negara yang berpenduduk mayoritas muslim, seperti Indonesia.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum H Asad Said Ali dalam peluncuran buku karyanya, "Al Qaeda: Tinjauan Sosial-Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya" di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (26/9).

Masalah Al Qaeda Tak Sekadar Urusan Aparat Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Masalah Al Qaeda Tak Sekadar Urusan Aparat Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)


Masalah Al Qaeda Tak Sekadar Urusan Aparat Keamanan

Mantan Wakil Kepala BIN itu mengatakan, Al Qaeda adalah sebuah gerakan politik dengan ideologi jihad yang kuat, serta mempunyai jaringan global dan skill militer. Visi politiknya terumuskan dalam sebuah kalimat yang sederhana: menegakkan Islam dan melindungi kaum muslimin.

Kalimat demikian di telinga masyarakat kita terdengar biasa, tetapi karena dilandasi oleh ideologi yang agresif, maka maknanya berubah menjadi perang melawan peradaban, termasuk perang melawan kaum muslimin di luar Al Qaeda. Menurut pendapat saya, langkah Al Qaeda ini lebih banyak mudharat-nya daripada maslahat-nya bagi umat Islam, ujarnya.

Asli Muhammadiyah

Penyimpangan Makna Jihad

Asli Muhammadiyah

Menurut penerima gelar doktor honoriscausa dari Undip Semarang ini, esensi ideologi Al Qaeda adalah jihad, dan pembentukan khilafah Islamiyah adalah suatu yang mutlak. Dengan ideologi seperti itu, kaum jihadi menyalahkan pemaknaan para ulama yang telah menjadi ijma selama berabad-abad, yang mengartikan jihad dalam arti qital (perang) hanyalah salah satu jenis saja dari jihad. Sementara jihad yang lebih besar lagi adalah mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Al Qaeda menganggap jihad qital (perang) adalah fardhu ain, sebagai satu-satunya jihad yang berlaku mutlak sejak turunnya surat At Taubah. Sedangkan ayat-ayat lain, yang mengandung perintah jihad lainnya, telah terhapus. Ini berati, khususnya masalah jihad, Al Qaeda menganggap mayoritas umat Islam mengikuti ajaran yang salah, terangnya.

Kaum jihadi juga beranggapan bahwa pembentukan khilafah islamiyah adalah mutlak. Agama Islam tidak bisa dilaksanakan dengan sempurna jika tidak melalui Daulah Islamiyah (pemerintah Islam); demikian menurut pendapatnya.Terbentuknya Daulah Islamiyah akan menjadi menara api yang akan mengumpulkan kaum muslimin dari semua tempat menjadi satu kesatuan di bawah pemimpin khalifah.

Meskipun demikian, lanjut Asad, di kalangan Al Qaeda tidak ada kesatuan pandangan tentang apa yang dimaksud khilafah. Osama mengakui kekhalifahan ala Taliban. Kemudian juga mengakui kekhalifahan yang dideklarasikan oleh Abu Musab Al Zarqawi di Irak pada 2005. Sebaliknya, orang kedua Al Qaeda, Ayman Az Zawahiri, membayangkan bahwa kekhalifahan Islam yang dimaksud adalah model khilafah Usmaniyah di Turki.

Tidak hanya berhenti di situ. Doktrin kekhalifahan tersebut kemudian menghasilkan doktrin lanjutan lainnya yang menyeramkan. Yakni pengkafiran terhadap umat Islam yang tidak mendukung prinsip kekhalifahan tersebut. Padahal, umumnya para ulama berpendapat bahwa kata-kata khalifah atau khilafah yang terdapat dalam Al-Quran berarti kepemimpinan umat dalam arti yang luas, tidak berarti model pemerintahan, urai penulis buku Ideologi-ideologi Pasca Reformasi ini..

Konsekuensinya, kata Asad, dalam konsep ideologi Al Qaeda, yang dianggap musuh bukan hanya pemerintahan Barat, tetapi juga pemerintahan di negara-negara muslim seluruhnya. Dan atas dasar itu, Al Qaeda membagi musuh menjadi dua: musuh jauh dan musuh dekat.

Musuh jauh berarti AS/Barat. Sedangkan musuh dekat adalah pemerintah muslim di mana elemen-elemen Al Qaeda berada. Dalam pandangannya, musuh dekat lebih mudah dihancurkan sedangkan musuh jauh telah dihancurkan, paparnya.

Acara peluncuran ini diikuti bedah buku oleh pengamat politik dan pengaji Timur Tengah Fachri Ali, Rektor UIN Jakarta Komaruddin Hidayat, dan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar. Buku yang terdiri dari 8 bab ini merupakan buah pengamatnnya selama ini, termasuk pengalaman saat bertugas sebagai pejabat BIN di Timur Tengah pada 1982 sampai 1990. (Mahbib Khoiron)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54739/masalah-al-qaeda-tak-sekadar-urusan-aparat-keamanan

Asli Muhammadiyah

Senin, 12 Januari 2009

PMII UT Bojonegoro Pacu Mahasiswa Jadi Pengusaha

Bojonegoro, Asli Muhammadiyah. Setelah proses pemilihan berlangsung beberapa waktu lalu, Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Terbuka (UT) Bojonegoro resmi dilantik, Kamis (24/12/2015). Pengukuhan di Aula Kampus 2 PBI UT Bojonegoro itu juga dirangkai dengan seminar kewirausahaan.

Setidaknya ada sekitar 70 mahasiwa dari UT dan dari kampus lain di Kabupaten Bojonegoro yang terlibat dalam seminar tersebut. Sesuai tema pelantikan, seminar mengangkat tema "Membentuk Mahasiswa yang Aktif Dan Produktif dengan Menumbuhkan Karakter Entrepreneur".

PMII UT Bojonegoro Pacu Mahasiswa Jadi Pengusaha (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII UT Bojonegoro Pacu Mahasiswa Jadi Pengusaha (Sumber Gambar : Nu Online)


PMII UT Bojonegoro Pacu Mahasiswa Jadi Pengusaha

Ketua PK PMII UT Bojonegoro yang baru dilantik, Ika Arlina Safitri mengaku, PMII merupakan Organisasi Ekstra Kampus (Omek) yang mewadahi mahasiswa. Bagi mereka yang menginginkan pembelajaran lebih yang tidak di dapat di kampus.

Asli Muhammadiyah

"PMII bisa disebut second campus (kampus kedua), hal ini tidak lepas dari apa yang menjadi tujuan PMII," ujar mahasiswi semester 5 UT Bojonegoro itu.

Sementara itu Ketua PC PMII Bojonegoro Ahmad Dhilli Nasrulloh menjelaskan, PMII memberi wahana tidak hanya akademik namun juga ilmu lain yang tidak didapat di kampus. Hal ini dibuktikan dari seminar yang dilakukan PK PMII UT yang membahas tentang kewirausahaan.

Asli Muhammadiyah

Para peserta seminar yang mayoritas dari mahasiswa pendidikan guru diharapkan bisa menjadi pengusaha. "Diharapkan tidak hanya menjadi guru saja, tetapi memunculkan pengusaha baru ke depannya," ungkap lulusan STIE Cendekia Bojonegoro itu.

Hadir pula dalam seminar tersebut, sebagai narasumber yakni Moh. Mustofa dan Samsul Hadi. Banyak hal yang disampai kedua pemateri itu, termasuk kiat-kiat sukses menjadi seorang pengusaha.

"Indonesia sangat butuh pengusaha, karena rata-rata orang kaya itu muncul dari para pengusaha," terangnya kepada seluruh peserta seminar.

Hal senada juga disampaikan Samsul Hadi. Dalam materi yang disampaikan, rata-rata mahasiswa hari ini masih sering mengharapkan jadi pegawai, padahal mereka bisa juga menjadi bos.

"Bahwasanya setiap apa yang ada di dunia ini memiliki nilai jual, tak terkecuali sampah. Barang yang banyak orang menilai tidak ada nilainya, tetapi yang terpenting adalah bagaimana usaha kita membuat suatu itu lebih berharga," pungkas pengusaha sampah dari Bojonegoro itu. (M. Yazid/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/64524/pmii-ut-bojonegoro-pacu-mahasiswa-jadi-pengusaha

Asli Muhammadiyah

Kamis, 27 November 2008

Kebijakan Full Day School Dinilai Bias Kultur Masyarakat Urban

Jakarta, Asli MuhammadiyahRencana perpanjangan jam sekolah dasar dan menengah atau yang ramai disebut sebagai full day school yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menuai banyak protes dari berbagai kalangan. Buntutnya, melalui konferensi pers di Jakarta, Selasa (9/8), Muhadjir akan menarik kembali wacana penerapan kebijakan tersebut bila masyarakat keberatan.

Saya berterima kasih bila kebijakan ini memang dibatalkan. Tidak jadi diterapkan. Dan diganti kebijakan baru, kata Wakil Sekjen PBNU H Masduki Baidlowi, Selasa.

Kebijakan Full Day School Dinilai Bias Kultur Masyarakat Urban (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebijakan Full Day School Dinilai Bias Kultur Masyarakat Urban (Sumber Gambar : Nu Online)


Kebijakan Full Day School Dinilai Bias Kultur Masyarakat Urban

Mantan anggota DPR RI Komisi X ini mengingatkan, penerapan full day school bila jadi diterapkan akan memiliki implikasi yang sangat besar karena tak selaras dengan kondisi objektif di masyarakat. Menurutnya, ide ini bias sudut pandang masyarakat kota.

Mendikbud mengaku full day school terinspirasi dari Finlandia. Alasannya, untuk membangun karakter anak karena tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orang tua mereka masih belum pulang dari kerja. Muhadjir menilai, dengan begitu anak akan lebih banyak di sekolah ketimbang di swalayan atau mal.

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah

Masduki memandang, pemikiran itu sangat bias masyarakat urban. Padahal, di Tanah Air, antara desa dan kota di Indonesia memiliki perbedaan kultur yang cukup jauh, termasuk dalam hal pendidikan. Finlandia adalah negara maju yang tak memiliki problem kultural. Sebagaimana umumnya negara-negara di Eropa, antara kota dan desa di Finlandia kondisinya hampir sama. Nah, ini beda dengan Indonesia, ujarnya.

Di desa-desa, tambahnya, sampai saat ini sistem pendidikan pagi sekolah dan sore mengaji diniyah masih berlangsung dengan baik. Menurutnya, budaya ini bagus dalam memberi pendidikan agama dan karakter kepada anak.

Risiko Radikalisme

Masduki juga membalik argumen Mendikbud yang beralasan bahwa full day school akan menghindarkan anak dari pendidikan agama yang menyimpang di luar sekolah. Berdasarkan hasil penelitian oleh tim Departemen Agama (Kemenag, red) dan Diknas kira-kira dua tahun yang lalu, 30 persen anak-anak sekolah negeri baik SD, SMP, SMA, terutama yang SMAkarena fokus penelitian pada SMAmengidap paham radikal. Ini data penelitian, lho, paparnya.

Ia menjelaskan bahwa data tersebut adalah cambukan bagi Pemerintah dan bukti gagalnya pendidikan agama di sekolah. Sekolah, kata Masduki, sering tak memberi kepuasan belajar agama. Akibatnya, peserta didik mencari alternatif pendidikan agama dari rohis yang cenderung juga liar dan karenanya potensial memberi pengaruh ajaran radikalisme.

Jika begini, penerapan full day school seolah membiarkan ajaran radikal ini terlegitimasi (untuk berkembang) sementara madrasah diniyah yang berjalan selama ini terpaksa gulung tikar, paparnya.

Bila yang diinginkan adalah penguatan pendidikan karakter, Masduki mengusulkan agar Muhadjir melanjutkan program kurikulum yang dicanangkan Kemendikbud era kepemimpinan Mohammad Nuh. Baginya, kebijakan yang menghabiskan anggaran sekitar 700 miliar tersebut relevan karena memiliki semangat membangun akhlak. (Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70339/kebijakan-full-day-school-dinilai-bias-kultur-masyarakat-urban

Asli Muhammadiyah

Rabu, 22 November 2006

Mutawakkil: Pengurus NU Berada di Bawah Pengasuh Pesantren

Gresik, Asli Muhammadiyah. Ketua PWNU Jawa Timur KH Hasan Mutawakkil Alallah berpesan kepada berpesan kepada PCNU Bawean masa khidmat 2012-2017 untuk selalu dekat dengan pesantren.

Demikian disampaikannya di Bawean, Gresik, Senin (29/4) malam dalam acara pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bawean masa khidmat 2012 2017.

Mutawakkil: Pengurus NU Berada di Bawah Pengasuh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Mutawakkil: Pengurus NU Berada di Bawah Pengasuh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)


Mutawakkil: Pengurus NU Berada di Bawah Pengasuh Pesantren

Kita ini ada di bawahnya para pengasuh pesantren. Jangan sekali-kali kita merasa di atas mereka. Pengurus NU yang tidak dekat dengan pesantren sama halnya perawan yang tidak pernah mandi, ujarnya sambil tersenyum.

Asli Muhammadiyah

Ketua PWNU jatim dalam kesempatan itu, memaparkan manfaat menjadi pengurus NU. Bukan hanya manfaat di dunia fana ini tapi sampai akhirat, terangnya sembari memberi peringatan keras kepada siapapun untuk tidak menghina dan memperalat NU.

Pelantikan PCNU Bawean tadi malam tergolong istimewa. Semua semua masyayikh Bawean hadir baik dari jajaran musytasyar NU, Syuriah maupun tanfidziyah. Tak ketinggalan para pengurus lembaga dan badan otonom NU.

Selain itu tampak pula para caleg dari berbagai partai. Diantaranya adalah Zulfan Hasyim (caleg PKB), Muhajir (caleg PKB), H.Samwil ( ketua DPC Demokrat), H.Thoriqul Haq ( Caleg PKB Jawa Timur), Jamaludin dan Margareth (Caleg PKB Pusat) H Muntarifi (caleg PPP) Zubdaturrifah ( caleg PKB) dan Zulfa Ihsan (caleg Golkar).

Asli Muhammadiyah

Sementara itu Rais syuriah PCNU Bawean K Zubaidi Khumaili menjelaskan bahwa meskipun baru dilantik sekarang tetapi pengurus NU sudah bekerja sejak dipilih dalam konferensi.

Kantor NU Bawean sudah mulai kita rehab. Insya Allah segera bisa ditempati untuk melaksanakan program-program NU, tutur alumni Pesantren Sidogiri ini.

Dalam acara yang sama Mustasyar NU Bawean KH Abdul Aziz Ismail memperkenalkan para calon legislatif yang hadir. Mereka diminta berdiri supaya mulai dikenal oleh warga NU. Kalau nanti kalah jangan salahkan NU, tambahnya.

Acara pelantikan ini dibanjiri oleh ribuah muslimin dan muslimat Bawean. Mereka mengikuti acara demi acara sampai tuntas. Acara dibuka dengan istighotsah oleh K Sholihin dari Gelam dan tak ketinggalan music Ki Ganjur dari Sangkapura turut menghibur para undangan.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ali Asyhar

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44115/mutawakkil-pengurus-nu-berada-di-bawah-pengasuh-pesantren

Asli Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa admin situs Asli Muhammadiyah sangat membenci AdBlock karena dengan adanya iklan maka situs Asli Muhammadiyah bisa tetap berjalan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Tulisan
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Asli Muhammadiyah dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock