Santri


info Santri
Santri bahasa
Santri bahasa nasional
Santri bahasa indonesia
Santri belah bambu
Santri busuk
Santri berasal dari bahasa yunani yaitu
Santri belanda
Santri busuk sby
Santri berasal dari kata
Santri global
Santri gus dur
Santri golkar
Santri gender
Santri gorontalo
Santri global amerika serikat
habib Santri mp3
video Santri full
Santri gerakan non blok
rahasia Santri terbaru
Santri g 30 s pki
Santri konfrontasi
Santri kerajaan kutai
Santri kampus
Santri kerajaan majapahit
Santri kotor
Santri kerajaan tarumanegara
Santri kompasiana
Santri luar negeri indonesia
Santri luar negeri bebas aktif
Santri luar negeri indonesia adalah
Santri liberal
Santri yang membedakan warna kulit disebut
Santri yang dianut bangsa indonesia
Santri yang baik
Santri yahudi
Santri yang dianut bangsa indonesia adalah
Santri merupakan
Santri yaitu

Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Santri. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Santri. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Mei 2017

Inilah 11 Fakta Menarik Seputar Santri dan Pesantren

Jakarta, Asli Muhammadiyah - Tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional. Mau tahu apa saja fakta-fakta menarik seputar santri dan dunia pesantren? Berikut adalah 11 ulasannya khusus untuk anda.

1. Para santri ngetel (masak) sendiri?

Inilah 11 Fakta Menarik Seputar Santri dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah 11 Fakta Menarik Seputar Santri dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah 11 Fakta Menarik Seputar Santri dan Pesantren

Masak sendiri merupakan salah satu hal yang mendewasakan dalam dunia pesantren. Tempo dulu, ketika belum ada kompor, santri masak memakai kayu bakar. Ketika musim hujan tiba, tak jarang banyak hanger atau sandal jepit yang hilang. Ke mana hilangnya, ya, jelas ke tungku untuk memasak. Namun, sekarang jarang santri yang masak sendiri, seiring dengan perkembangan jaman. Jika mencari santri memasak di dapur, silakan cari pondok yang masih salaf.

2. Makan se-lengser bersama

Inilah yang membuat apapun makanannya akan enak terasa. Santri yang memasak, ketika sudah siap saji, makanan ditiriskan di lengser atau daun pisang. Kemudian dimakan secara bersama-sama oleh 5 - 10 orang. Meski nasi dan sayur masih panas, para santri tak peduli untuk melahapnya. Soal tangan gosong atau lidah terbakar, itu soal nanti. Masalahnya, kalau tidak berani ambil resiko itu, dijamin tidak kenyang karena kalah dengan yang lain.

Asli Muhammadiyah

3. Antri mandi

Pesantren yang jumlah santrinya ribuan, ketika pagi dan sore hari akan ada pemandangan menarik di kamar mandi atau kali (sungai). Satu kamar mandi, bisa antre tiga orang. Jika tak sabar, yang ngantri akan menggedor-gedor pintu. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya buang hajat dengan pintu digedor-gedor. Berbeda dengan kamar mandi, kalau mandi di sungai antrinya petelesan celana untuk santri putra. Sungguh menggelikan.

Asli Muhammadiyah

4. Terserang penyakit kulit

Penyakit kulit atau kudis, akrab bagi santri baru. Hal ini seakan menjadi "ujian" pertama bagi santri; apakah nantinya ia akan betah tinggal di pesantren atau tidak. Saking parahnya, santri yang terkena penyakit ini kadang sampai tak bisa duduk atau sulit jalan. Mau dibawa ke rumah sakit, dokter, tak jua sembuh-sembuh. Hanya waktu yang bisa menyembuhkannya, hingga badan kebal dan penyakit merasa bosan sendiri.Namun, itu dulu. Pesantren sekarang sudah banyak memiliki air bersih dan sanitasi yang memadahi.

5. Tidur di lantai berbantal pakaian kotor

Dulu tak ada ceritanya santri tidur di kasur. Tidurnya cukup merebahkan badan di lantai kamar, depan kamar atau serambi masjid. Untuk bantal, pakaian kotor dikumpulkan lalu dibungkus dengan sarung. Hal itu sudah lebih dari cukup menghilangkan kantuk karena kesibukan ngaji pagi, siang sampai malam.

6. Berebut IN atau jajanan

Sudah menjadi tradisi, ketika ada santri baru atau menerima wesel atau sehabis pulang selalu membawa aneka jajanan. Ketika si santri datang diantar orang-tua, seluruh anggota kamar akan bersikap dewasa dan melayani tamu dengan penuh penghormatan, seperti anjuran baginda nabi.?

Namun sejurus kemudian, ketika para tamu orang tua atau wali santri itu pulang, akan segera terjadi kegaduhan: berebut jajanan. Ini suatu tradisi yang lazim terjadi di pesantren-pesantren salaf, meski latar belakang santri adalah seorang yang mampu. Berebut I.N. atau jajanan ini menjadi suatu hal yang menarik dan menyenangkan.

7. Dikejar setoran

Setoran disini bukanlah setoran yang lazim terjadi antara sopir angkot dengan juragannya, namun setoran hafalan nadzaman dan syair-syair kitab. Biasanya, seminggu sekali para santri setoran hafalan tersebut kepada sang ustadz. Jika tidak memenuhi target, si santri akan ditazir dan lebih ekstrem lagi tak bisa naik kelas.

8. Mayoran

Istilah mayoran dewasa ini jarang terdengar. Ini adalah manifestasi kekompakan atau rasa syukur santri setelah mengkhatamkan kitab. Biasanya, ada pengurus kelas yang menariki iuran lalu dibelikan daging. Daging, merupakan barang mewah bagi santri yang dengan kultur pesantren salaf rata-rata menyuruh untuk hidup senderhana, riyadlah dan tirakat. Namun, sepertinya tradisi mayoran ini sekarang lekang oleh waktu karena makanan mewah sudah ada dimana-mana.

9. Tazir (hukuman)

Pesantren dimanapun memiliki peraturan. Jika ada santri yang melanggar, ia akan dihukum sesuai bobot pelanggarannya. Ada yang diceburkan ke kolam atau sunga, dicukur gundul atau dipajang di depan pesantren dengan mengalungkan papan bertuliskan kesalahannya. Ketika terjadi taziran ini, biasanya semua santri menonton dan menyoraki. Ini pelajaran sekaligus tes mental dan melatih tanggung jawab.

10. Berebut mencium tangan kiai

Pesantren salaf mengajarkan santri untuk memuliakan ilmu dan ahlinya. Salah satu bentuk memuliakan tersebut adalah bersalaman dan mencium tangan kiai. Ini terjadi di semua pesantren-pesantren salaf, kecuali pesantren modern. Selain itu, bersalaman dan mencium tangan kiai adalah sebuah upaya ngalap berkah agar mendapat ridla dari sang kiai.

11. Tirakat

Terakhir dalam tulisan ini, adalah tirakat. Para santri biasanya meminta ijazah kepada kiai akan amalan-amalan tertentu seperti: ngrowot (tidak makan nasi), puasa, shalat jamaah, manaqib, mujahadah, dalalil dll. Amalan tersebut merupakan metode salafiyyah yang menjadi perekat masuknya ilmu ke hati. Jadi, jangan heran kalau ada santri yang makannya nasi aking (oyek, thiwul) karena itu ia sedang menjalankan misi spiritual. Bahkan, di pesantren tertentu, banyak santri yang mengamalkan ilmu kanuragan sehingga tak mempan bacok.

Demikianlah 11 fakta menarik tentang santri di pesantren yang dapat saya rangkum. Semoga, ke depan para santri terus dapat berkiprah membangun masyarakat, negara dan bangsa dalam domain agama Islam yang rahmatan lil alamin. Selamat Hari Santri Nasional!. Kiriman dari Ahmad Naufa, Santri PP An-Nawawi Berjan Purworejo

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Amalan, Cerita Asli Muhammadiyah

Sabtu, 21 Januari 2017

Santri Didorong Budayakan Menulis untuk Tangkal Media Radikal

Jombang, Asli Muhammadiyah

Budaya menulis kini kian marak di kalangan santri, bukan hal yang tabuh lagi santri menjadi penulis. Hal inilah yang menjadi harapan besar dari Pusat Studi Pesantren (Center Of Pesantren Studies) agar muncul penulis-penulis handal dari kalangan santri.

?

Santri Didorong Budayakan Menulis untuk Tangkal Media Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Didorong Budayakan Menulis untuk Tangkal Media Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Didorong Budayakan Menulis untuk Tangkal Media Radikal

Jumat (6/5) pagi, alumnus workshop kepenulisan yang diadakan Pusat Studi Pesantren sekitar bulan yang lalu di Hotel Yusro Jombang menggelar pertemuan di Aula Madrasah Aliyah Idadiyah Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang.

Pada kesempatan tersebut, sejumlah santri dari berbagai pondok peantren yang beragam berdatangan untuk memantapkan skill kepenulisan santri. Mereka di antaranya beberapa pesantren asal Kabupaten Jombang, Mojokerto, Nganjuk, Madiun, Malang dan Gresik.

Ahsani, santri asal Al Islahiyah Singosari Malang mengatakan bahwa agenda kali ini adalah pengumpulan naskah dari para santri untuk disetorkan ke pihak Pusat Studi Pesantren dan akan dibukukan menjadi sebuah karya tulis santri.

Asli Muhammadiyah

"Karya ini meliputi puisi, esai, dan opini santri, yang akan diterbitkan oleh Pusat Studi Pesantren," tuturnya.

Sebelumnya, kata dia Pusat Studi Pesantren memberikan tempo waktu satu bulan untuk pengumpulan naskah tulisan karya masing-masing santri. Namun tak semuanya santri bisa menyelesaikan naskah tulisan yang berbentuk buku dalam jangka satu bulan. Hanya dua santri yang bisa merampungkan naskah tersebut dengan sempurna. Mereka adalah Faris santri asal Al Amin Mojokerto dan Exma santri asal Al urwatul Wustsqo Jombang.

Ia menambahkan bahwa misi perkumpulan para santri tersebut juga untuk menyuarakan nilai-nilai Islam Rahmatan Lil Alamin baik di media sosial maupun di media online. Pihaknya berkomitmen agar kabar berita media Islam tak dikuasai oleh golongan Islam radikal.

"Kaderisasi menulis harus tetap berlangsung di dunia santri, oleh sebab itu kami juga akan komitmen melakukan pelantihan menulis di pesantren kami masing-masing," tambahnya.

Asli Muhammadiyah

Project kedepan, para santri akan mempersiapkan program "Santri Exchange" yakni pertukaran santri lintas pesantren di Jawa Timur agar tradisi silaturahmi antar santri tetap lestari. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Habib, Amalan, Nahdlatul Ulama Asli Muhammadiyah

Kamis, 09 November 2017

Mesantren untuk Berpancasila

Oleh Agusdina Tauficqqurrohman Jalal



Pancasila yang menjadi falsafah hidup bangsa Indonesia, tentunya harus benar-benar ditanamkan dan dibumisasikan di setiap elemen Rakyat Indonesia. Walaupun terkadang rakyatpun yang akan menjadi korban ketidakpahaman akan pentingnya berpancasila. Berpancasila memang tidak segampang dengan menyebutan lima unsur dalam Pancasila, namun harus mengerti dengan kajian yang sangat dalam untuk memberikan kemerdekaan yang sejati.

Pancasila yang dirumuskan oleh para pendiri Indonesia tidak segampang membaca Pancasila di setiap hari dalam kegiatan upacara. Akan tetapi esensinya untuk menanamkan jati diri masyarakat Indonesia, bahwa Indonesia sejatinya adalah kaum berpahaman Pancasila.

Mesantren untuk Berpancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Mesantren untuk Berpancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Mesantren untuk Berpancasila

Kalau disentuh lebih dalam, Pancasila tidak lepas dari hasil karya kaum santri, yang setiap harinya harus hidup dengan kepahaman Islam ala Indonesia. Sebab, kaum santri mempunyai andil dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tentunya, kaum santri harus menjadi tameng Pancasila demi terwujudnya Indonesia yang lebih damai.

Kaum santri yang disebutkan di sini adalah kaum santri yang jiwa dan raganya hanya milik Indonesia. Dengan berpakaian sederhana dan ala kadarnya dengan menjunjung tinggi akhlaqul karimah. Akhlak yang menjadi nilau utama yang ditanamkan oleh santri itu hakikatnya untuk Pancasila. Kiai di pesantren memberikan pelajaran penting akan nilai-nilai Pancasila.

Tidak ada sejarahnya santri membangkang akan nilai-nilai Pancasila. Justru santri yang selama ini memang menjaga sepenuhnya nilai-nilai Pancasila. Dari semua elemen yang ada di pesantren, dimulai dari kiai, ibu nyai, dan santri, semuanya menjunjung tinggi kepancasilaan. Tidak ada satupun dari mereka yang menistakan nilai-nilai Pancasila.

Asli Muhammadiyah

Sekarang kita coba lihat dari bagaimana kiai dan santri bersikap untuk Indonesia. Mereka tidak segampang bersikap ketika Indonesia mengalami masalah. Selalu melakukan istikharah untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di Indonesia.

Bahkan yang lebih penting adalah santri merupakan pancasilais sejati. Sebab, hidup matinya hanya untuk mempertahankan Indonesia dari serangan manapun. Seorang pancasilais sejati tentunya harus benar-benar berindonesia, tidak ada judulnya seorang pancasialis merongrong terhadap NKRI.

Asli Muhammadiyah

Santri Pancasilais

Santri yang setiap harinya mengenakan sarung ala kadarnya dengan menjunjung tinggi akhlak dan ketawadhuan harus benar-benar menjadi tameng Indonesia dari serangan manapun. Sebab, Santri adalah istilah pelajar yang memang hanya ada di Indonesia, negara lain tidak punya istilah tersebut. Untuk itu Indonesia harus bangga dengan keberadaan santri di Indonesia.?

Santri Pancasilas tidak harus berkoar-koar dan tidak harus berorasi di mana-mana untuk mewujudkan Indonesia berpancasila. Kuncinya yaitu dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam berkehidupan bermasyarakat. Sebab, ketika santri turun jalan dan ikut berkoar-koar, akhirnya yang akan terjadi santri adalah direndahkan di mata masyarakat. Walaupun tujuannya untuk mendakwahkan Pancasila.

Sekarang akhirnya banyak permasalahan dikalangan umat Islam yang hidup di Indonesia yang tidak berpancasila. Hidupnya di Indonesia tetapi keyakinannya tidak berpancasila. Dimulai dari organisasi masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, itu mencerminkan bahwa nilai-nilai Pancasila belum tumbuh menjadi jati dirinya masyarakat Indonesia.

Apalagi tidak sedikit kaum remaja yang mulai ikut-ikutan dalam mendirikan negara khilafah. Yang arah dan tujuanya sangat kurang jelas dan itu hakikatnya merusak pola pikir remaja Islam. Remaja Islam tidak harus membaca buku Islam yang penulisnya saja tidak jelas, apakah dia pernah ngaji atau tidak. Khususnya mengaji di pesantren. Tidak sepeti santri yang tiap hari membaca kitab salaf yang mushonifnya pun sangat jelas dan tidak dipertanyakan lagi keilmuannya.

Kalau sudah remaja dan kaum muda tidak benar-benar menanamkan nilai-nilai Pancasila. Akhirnya yang terjadi sekarang ini, Pemerintah harus siap-siap untuk mencegah kaum anti-Pancasila yang mungkin pemerintah sudah mengetahuinya. Pencegahan tersebut tujuanya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Sekali lagi santri yang selalu menuruti perintah sang kiai, harus benar-benar untuk Indonesia. Serta tujuan akhirnya membantu Indonesia untuk menanamkan nilai-nilai kepancasilaan. Dari semua yang di pelajari di pesantren, santri harus ingat sejarah. Kaum santri ikut andil dalam pembentukan Republik Indonesia, apalagi dalam perumusan Pancasila dan UUD 1945 ada seorang kiai yang sangat alim kelimuanya ikut merumuskan Pancasila. Itu artinya, santri harus bangkit dan keluar dari gua petapaannya untuk mendukung dan menanamkan empat pilar kebangsaan. Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Undang–Undang Dasar dan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau yang sering disingkat PBNU. Wallahu a’lam !

Penulis adalah mahasiswa Sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon.

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Lomba Asli Muhammadiyah

Rabu, 02 Maret 2011

Hari Santri, PCNU Pekalongan Bersama Ribuan Santri-Pelajar Bersepeda Ria

Pekalongan, Asli Muhammadiyah. Pengurus harian PCNU Pekalongan bersama LP Maarif NU dan Robithoh Maahid Indonesia (RMI NU) Pekalongan menggelar acara Sepeda Santri. Arak-arakan sepeda bergerak menuju Gedung Serbaguna NU jalan Raya Karangdowo nomor 09 Kedungwuni kabupaten Pekalongan. Kegiatan yang diadakan dalam rangka memeriahkan Hari Santri ini, dilanjutkan dengan doa bersama dan istighotsah.

Kamis pagi para santri dan pelajar mulai berdatangan dari berbagai penjuru Kota Santri itu. Mereka terlihat antusias dengan mengenakan pakaian nyentrik ala santri. Sambil bersarung dan berpeci, mereka datang mengayuh sepeda yang telah dihiasi bendera dan berbagai atribut NU.

Hari Santri, PCNU Pekalongan Bersama Ribuan Santri-Pelajar Bersepeda Ria (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri, PCNU Pekalongan Bersama Ribuan Santri-Pelajar Bersepeda Ria (Sumber Gambar : Nu Online)


Hari Santri, PCNU Pekalongan Bersama Ribuan Santri-Pelajar Bersepeda Ria

Acara lalu dilanjutkan di dalam Gedung Serbaguna NU dan halaman dengan pembacaan Istighotsah yang dipimpin oleh tokoh NU Pekalongan Romo KH Failasuf Syubi yang sekaligus juga sebagai Mustasyar PCNU Pekalongan.

Asli Muhammadiyah

Ketua panitia KH Nur Alif Wasnadi menyampaikan, acara ini dihadiri tidak kurang dari 5000 santri dan pelajar sekabupaten Pekalongan. Atas nama panitia kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada para santri dan pelajar yang telah ikut memperingati Hari Santri pada tahun ini, tandasnya di awal sambutan panitia.

Asli Muhammadiyah

Wakil Ketua PCNU Pekalongan H Imronudin Ustman menyampaikan, kegiatan ini dilaksanakan merupakan bentuk rasa syukur atas penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri oleh Presiden Jokowi. Menurut H Imron, peringatan Hari Santri pada tahun ini adalah ajang sosialisasi bahwa saat ini santri telah diberikan kehormatan tersendiri oleh pemerintah, khususnya agar santri NU sekabupaten Pekalongan tumbuh rasa memilikinya dan ikut memeriahkan hari istimewanya tersebut.

Pada kesempatan itu hadir Ketua DPRD Pekalongan Hj Hindun, Kepala Kankemenag Pekalongan H Umar, Pengurus MWCNU sekabupaten Pekalongan serta para tokoh dan tamu undangan. (Murtadho/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/63013/hari-santri-pcnu-pekalongan-bersama-ribuan-santri-pelajar-bersepeda-ria

Asli Muhammadiyah

Rabu, 30 Agustus 2017

Mengaji Kitab Kuning, Mempertahankan Eksistensi Pesantren

Kediri, Asli Muhammadiyah. Kitab kuning identik dengan pesantren. Di Indonesia, kitab kuning digunakan sebagai buku wajib di pondok yang juga disebut kitab salaf, yang artinya klasik atau kuno.

Mengaji kitab kuning sudah menjadi aktivitas sehari-hari yang dilakukan para santri. Bukan hanya di bulan-bulan biasa, juga di bulan Ramadhan seperti saat ini. Libur panjang yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam aktivitas, dimanfaatkan untuk "ngaji kilatan". Disebut ngaji kilatan, kerena kegiatan ini berlangsung hanya Ramadhan, dan pengkajian kitab pun dikebut.

Mengaji Kitab Kuning, Mempertahankan Eksistensi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengaji Kitab Kuning, Mempertahankan Eksistensi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengaji Kitab Kuning, Mempertahankan Eksistensi Pesantren

Sampai saat ini memang belum ada kajian khusus tentang asal kitab kuning. Kitab yang identik dengan kitab gundul (karena memang tidak ada harakatnya) ini sudah ada sejak dulu. Dan, di Indonesia, kitab ini menjadi acuan dalam kegiatan pengajian di pondok-pondok salaf.

Asli Muhammadiyah

Kitab kuning tidak dapat dipelajari dalam waktu instan. Karena kitab ini tidak ada harakatnya, membuat pendalaman kitab berlangsung dalam rentang yang cukup lama, sampai bertahun-tahun.

Para santri harus memahami isi kitab kuning, dengan belajar Tata Bahasa Arab, seperti Ilmu Nahwu, Ilmu Shorrof, sampai Ilmu Mantiq, dan sejumlah cabang ilmu lainnya. Ilmu itu masih dasar, dan harus didalami dengan mengikuti kajian kitab yang dipimpin oleh pengasuh ataupun santri senior lainnya.

Asli Muhammadiyah

Metode pengajian di pondok biasanya berlangsung dengan cara tatap muka. Pengasuh ataupun santri senior membacakan naskah bahasa arab lengkap dengan artinya sesuai dengan bahasa di pondok itu berada.

Para santri lalu memanfaatkan alat tulis dengan ujung pena kecil menuliskan makna yang telah diajarkan oleh pengasuh ataupun santri senior yang membacakan kitab saat itu. Dulu, para santri memanfaatkan alat tulis dengan mata pena yang dicelupkan pada tinta China yang diberi pelepah daun pisang agar meresap, tapi karena dianggap sudah tidak efisien, akhirnya para santri memilih memanfaatkan bolpoin dengan mata pena lebih kecil, yang biasanya banyak dimanfaatkan oleh para arsitektur.

Di Kediri, terdapat sebuah pondok pesantren yang pengasuhnya menggunakan metode baru untuk mempelajari kitab. Adalah di Pondok Pesantren dan Madrasah Spesial Fiqih "Hidayatut Thullab" di Dusun Petuk, Desa Pohrubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Pondok ini didirikan oleh KH Ahmad Yasin Asymuni. Beliau memberikan gagasan untuk memberikan makna bahasa Jawa dari kitab-kitab yang dipelajari para santri. Tujuannya, tak lain untuk memudahkan para santri memahami kitab dan mempercepat proses belajar.

KH Ahmad Yasin Asymuni merupakan salah satu pengasuh pondok pesantren yang cukup aktif menghasilkan karya. Selain sebagai salah seorang pencetus dan yang memprakarsai penerbitan kitab dengan makna Bahasa Jawa tersebut, beliau juga cukup produktif.

Sejumlah penghargaan diberikan kepadanya. Atas usahanya memprakarsai penerbitan kitab dengan makna Bahasa Jawa, pada 2004 beliau didatangi oleh para orientalis dari Chicago, AS dan memberinya gelar sebagai profesor. Ia juga mendapatkan penghargaan dari Kementerian Agama atas jasanya dalam bidang keilmuan/akademik sebagai penulis produktif dalam kajian kitab di pesantren pada 2 Januari 2011 lalu.

Kitab bermakna di pondok ini populer dengan sebutan "Kitab Bimana Pethuk". Seluruh penanganan kitab ini seperti pencetakan dan pendistribusian dikelola oleh koperasi pondok dan didistribusikan ke seluruh pesantren di Indonesia.

Bukan hanya itu, beberapa di antaranya juga didistribusikan ke luar negeri, seperti ke Malaysia, Mesir, dan sejumlah negara lainnnya. Sejak 1993 sampai sekarang, ada 188 kitab yang dipublikasikan. Mayoritas kitab-kitab ini dilengkapi dengan makna berbahasa Jawa.

Pengasuh memimpin sendiri pemaknaan kitab kuning itu. Ia dibantu oleh santri yang tulisannya bagus dan bertugas mencatat semua uraiannya di samping naskah utama. Catatan pinggir itu kemudian diselaraskan lagi dengan isi kitab, agar tidak terjadi kesalahan pemaknaan.

Pengasuh berharap dengan pemaknaan itu, akan memudahkan para santri untuk belajar. Dengan kitab yang sudah diberi makna, para santri bisa lebih cepat belajar dan bisa segera mempelajari kitab lainnya, sehingga ilmu yang didapat juga lebih banyak.

"Mayoritas pengasuh sendiri yang memberikan makna, tapi masih dibantu dengan santrinya," kata Fuad Hasyim, pengurus di pondok itu.

Sebenarnya, upaya pemaknaan kitab kuning di pondok tersebut telah dimulai sejak pertengahan 1990. Saat ini, sudah terdapat 188 kitab yang dihasilkan oleh pengasuh dan mayoritas dilengkapi dengan makna Bahasa Jawa. Seluruh kitab itu dicetak dan didistribusikan ke seluruh pesantren di Indonesia lewat koperasi pondok.

Satu kitab, rata-rata dicetak sampai 25 ribu eksemplar. Tiap tahun rata-rata pengasuh membuat 10 judul kitab baru. Khusus untuk Ramadhan, permintaan kitab yang terbanyak adalah "nukilan". Kitab ini dibuat oleh pengasuh sendiri, yang diambil dari berbagai macam kitab ditulis ulang oleh beliau.

Sementara itu, para santri di pondok ini bukan hanya berasal dari wilayah Kediri saja. Banyak para santri berasal dari luar Jawa Timur, seperti dari Sumatera, Kalimantan, dan sejumlah daerah lain di Indonesia.

Kurikulum di pondok ini juga berbeda dengan kurikulum di pesantren pada umumnya, yaitu lebih singkat dan padat. Khusus di tingkat aliyah yang lebih konsetrasi pada ilmu fikih atau "takhassush fiqh".

Di pondok ini, selain bisa mempelajari ilmu agama secara mendalam dan matang dengan kuriklum tinggi, para santri juga bisa mendapatkan ijazah formal (SMP/SMA) melalui wajar Dikdas sembilan tahun dan kejar paket. Ijazah di pondok ini juga bisa dimanfaatkan untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi agama di seluruh Indonesia.

Belajar Mandiri

Para santri di pondok ini selain belajar agama juga diberi keterampilan sebagai bekal mereka di masa depan. Beragam program diberikan sebagai upaya belajar mandiri, misalnya untuk santri putri diberi keterampilan menjahit, sedangkan santri putra diberi keterampilan belajar elektronik, otomotif, pertanian, maupun peternakan.

Pengurus pondok Fuad Hasyim mengatakan untuk program peternakan, ada sekitar tiga kolam yang sudah dimiliki. Satu di antara kolam itu ukurannya cukup besar mampu menampung ikan sampai 30 ribu ekor.

"Kolammnya diisi ikan manggasius dan sudah panen kemarin. Saat ini belum diisi kembali," tuturnya.

Ia mengatakan, para santri memang dilibatkan untuk mengurus beberapa unit usaha dari pondok, tapi tidak semua santri. Hal itu dilakukan, agar para santri konsentrasi belajar.

Selain mandiri dengan diberi bekal keterampilan, para santri juga dilatih mandiri menjadi seorang pendakwah. Pondok memberikan program istigasah dan dialog interaktif. Pengasuh pondok, KH Ahmad Yasin Asymuni menjadi tokoh sentral istighotsah dan dialog interaktif Hidayatut Thullah (IDI-HIT).

Abidin, pengurus pondok lainnya mengatakan terdapat kegiatan dakwah yang dilakukan di dalam pesantren dilakukan setiap dua pekan sekali, lalu kegiatan IDI-HIT setiap satu bulan sekali, merupakan kegiatan di luar pondok dilakukan berpindah-pindah, serta istigasah Hidayatut Thullab (IS-HIT) yang merupakan lokasi silaturahmi alumni pondok.

"Pengasuh merupakan tokoh sentral kegiatan itu, tapi biasanya santri yang diserahi tanggung jawab," tukasnya.

Ia merasa dengan program itu, ilmu yang selama ini dipelajari di pondok lebih mengena. Selama ini, mereka belajar, diskusi tentang ilmu mereka, tapi hanya di lingkungan pondok. Dengan terjun ke masyarakat langsung, ilmu mereka menjadi lebih bermanfaat.

Di pondok ini memang terkenal dengan salaf. Namun, saat ini pondok sudah mulai membuka pondok khusus anak untuk putra dan putri tepatnya pada 2010 lalu dengan program pendidikan SD-plus, yaitu sekolah dasar plus diniyah dengan kegiatan ekstra seperti belajar membaca kitab suci Al Quran dan mengaji.

Para santri di pondok anak juga berasal dari berbagai macam deerah di Jatim. Ada sekitar 50 santri anak yang sudah tinggal di tempat itu, dan mereka dibimbing oleh sekitar sembilan ustaz yang juga santri di pondok. 

Walaupun membuka untuk program pendidikan SD-plus, Abidin meyakinkan eksistensi pondok pesantren akan tetap terjaga. Bukan hanya mempertahankan kitab kuning sebagai buku wajib di pondok, juga mengajarkan ilmu agama, memperbaiki akhlak, serta mengajarkan tata cara beribadah yang sesuai tuntunan agama.

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber  : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pendidikan, Ulama Asli Muhammadiyah

Selasa, 19 Desember 2017

Hari Santri Nasional, Mengembalikan Sejarah Bangsa

Oleh Zainul Milal Bizawie

Setahun yang lalu Pemerintah telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. 22 Oktober menjadi ingatan sejarah tentang Resolusi Jihad, bukti nyata adanya keterkaitan antara santri dengan tegaknya Indonesia. Hari Santri adalah wujud penghormatan kepada sejarah pesantren, sejarah perjuangan para kiai dan santri.

Hari Santri Nasional, Mengembalikan Sejarah Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri Nasional, Mengembalikan Sejarah Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri Nasional, Mengembalikan Sejarah Bangsa

Sejarah mencatat para santri mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut. Karenanya, para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa yang lain melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan. 22 Oktober menjadi penanda adanya keterkaitan antara santri dengan tegaknya Indonesia dengan munculnya para pahlawan bangsa. Sebagaimana diketahui hari Pahlawan adalah 10 November yang menandai adanya perlawanan terhebat rakyat Indonesia terhadap Belanda.

Dengan ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional dapat dijadikan penanda terjadinya peristiwa 10 November tidak dapat dilepaskan dari peran para santri. Karenanya, 20 hari sejak 22 Oktober hingga 10 November dapat dijadikan momentum para santri dengan khidmat mengenang sekaligus memperingatinya jasa para santri yang telah berjuang bagi tegaknya Indonesia. Perlu dicatat, munculnya Resolusi jihad tidaklah secara instan tanpa ijtihad bertahap yang cukup panjang. Ijtihad tersebut tidak hanya melewati satu dua generasi, akan tetapi menjalur ke belakang sampai titik masuknya Islam di bumi Nusantara. Resolusi Jihad adalah hasil dari proses panjang pasang surut perjuangan ulama-ulama sebelumnya.

Asli Muhammadiyah

Melalui penetapan HSN, diharapkan terjadi sinergi antara pemerintah dan santri untuk mendorong komunitas santri ke poros peradaban Indonesia. Santri tidak hanya sebagai penonton ataupun obyek dalam dialektika sosial budaya ekonomi politik Indonesia. Pesantren sebagai lembaga dakwah, lembaga pendidikan tafaqquh fiddin terus kiranya berkontribusi dan mencetak ulama, agen perubahan yang menjadi garda terdepan dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lebih dari itu, pesantren kiranya dapat berperan lebih besar dalam mempromosikan gerakan anti narkoba, gerakan anti radikalisme, gerakan santri amar makruf nahi munkar, hingga pada santri yang melek dunia perbankan, melek sain dan teknologi.

Hari Santri adalah wujud dari kewajiban negara dan pemimpin bangsa, memberikan penghormatan kepada sejarah pesantren, sejarah perjuangan para kiai dan santri. Kontribusi pesantren kepada negara ini, sudah tidak terhitung lagi. Hari Santri Nasional dapat dijadikan sebagai pemaknaan sejarah Indonesia yang genuine dan authentic yang tidak terpisahkan dari episteme bangsa. Indonesia tidak hanya dibangun dengan senjata, darah dan air mata, tetapi berdiri karena keikhlasan dan perjuangan para santri religius yang berdarah merah putih. Selain itu, ditetapkannya hari santri sebagai bukti otentik, Indonesia dapat menjadi model dunia tentang hubungan Islam dan negara, sekaligus meneguhkan persatuan umat Islam yang telah terafiliasi dan menyejarah dalam ormas Islam dan parpol yang berbeda,perbedaan melebur dalam kesantrian yang sama.

Asli Muhammadiyah

Mensenyawakan Hubungan Islam dan Negara

Syekh Hasyim As’yari menyadari bahwa secara kultural, gerakan Islam dan nasionalis berbeda satu dari yang lain, tetapi dari sudut ideologi berupa kebutuhan akan kemerdekaan, adalah satu bangsa. Pada tahun 1933, Syekh Hasjim Asy’ari memerintahkan putranya, Kiai Wahid Hasjim yang baru pulang dari Tanah Suci Mekkah untuk mempersiapkan Muktamar NU ke-9 di Banjarmasin (Borneo Selatan), dimana akan dibahas tentang kebangsaan. Dalam Muktamar tersebut salah satu masalah yang diajukan kepada Muktamar berbunyi wajibkah bagi kaum muslimin untuk mempertahankan kawasan Kerajaan Hindia Belanda, padahal diperintah orang-¬orang non¬muslim? Muktamar yang dihadiri oleh ribuan orang ulama itu, menjawab bahwa wajib hukumnya secara agama, karena adanya dua sebab, pertama, karena kaum muslimin merdeka dan bebas menjalankan ajaran Islam. Kedua, karena dahulu di kawasan tersebut telah ada Kerajaan Islam.

Jadi, sesungguhnya negara Indonesia adalah dar Islam karena telah pernah dikuasai sepenuhnya oleh orang Islam. Walaupun pernah direbut oleh kaum penjajah kafir (Belanda), tetapi nama negari Islam masih selamanya. Negeri ini pernah mengenal adanya kerajaan-kerajaan Islam, penduduknya sebagian masih menganut dan melaksanakan ajaran Islam, dan Islam sendiri tidak sedang dalam keadaan diganggu atau diusik. Negara Indonesia dapat dikategorikan sebagai darul Islam (daerah Islam), bukan daulah Islamiyyah (pemerintahan Islam), karena mayoritas penduduk di wilayah ini beragama Islam dan dapat melaksanakan syari’at Islam dengan bebas dan secara terang-terangan. Keputusan tersebut merujuk dari kitab Bughyatul Mustarsyidin (hal. 254) karangan Sayed Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar atau dikenal dengan Syekh Ba’lawi.

Mengenai cita-cita Indonesia sebagai negara bangsa sebagaimana yang dirumuskan oleh para aktivis pergerakan itu dianggap sudah memenuhi aspirasi umat Islam, karena di dalamnya ada jaminan bagi umat Islam untuk mengajarkan dan menjalankan agamanya secara bebas. Dengan demikian umat Islam tidak perlu membuat negara lain yang berdasarkan syariat Islam, karena negara yang dirumuskan telah memenuhi aspirasi Islam (Muním Dz, 2012). KH Ahmad Siddiq (Rosis Am PBNU 1984-1991) menegaskan bahwa kata dar Islam bukanlah sistem politik atau ketatanegaraan, tetapi sepenuhnya istilah keagamaan (Islam), yang lebih tepat diterjemahkan wilayatul Islam (daerah Islam) bukan negara Islam. Motif utama dirumuskannya pendapat ini adalah bahwa di wilayah Islam, maka kalau ada jenazah yang identitasnya tidak jelas non Muslim, maka harus diperlakukan sebagai Muslim. Di wilayah Islam, semua penduduk wajib memelihara ketertiban masyarakat, mencegah perampokan dan sebagainya.

Meskipun demikian, untuk membangun masyarakat Islam, penjajah harus disingkirkan. Inilah mengapa ketika mempersiapkan negara bangsa, saat pertama kali datang Laksamana Maeda Pimpinan tertinggi tentara Jepang 1943, menanyakan siapa yang bisa menjadi pemimpin tertinggi negeri ini untuk diajak berunding dengan Jepang. Dengan tegas Syekh Hasyim Asy’ari menjawab bahwa yang pantas memimpin bangsa ini ke depan adalah Soekarno, seorang tokoh nasionalis terkemuka. Karena itu juga, ketika umat Islam sudah memiliki kemampuan untuk jihad perang, maka Syekh Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad sebagai bentuk dari menjaga Indonesia sebagai dar Islam. Inilah yang menjadi landasan, karena Indonesia adalah dar Islam dalam bentuk NKRI, sehingga berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) yang diusung Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia (DI-TII) dianggap sebagai negara dalam negara dan dalam hukum fiqh disebut bughat (pemberontak) yang harus diperangi.

Ijatihad politik bahwa bentuk NKRI sebagai dar Islam ini merupakan karya besar para santri, yang selama ini diperjuangkan oleh para ulama sejak dahulu yang terus merawat semangat anti kolonial. Deklarasi kebangsaan yang dicetuskan tahun 1936 itu memiliki pengaruh cukup kuat dalam merumuskan setiap langkah mengawal negara hingga saat ini. Sehingga kemudian menjelma menjadi karakter dasar Islam Nusantara itu sendiri. Keputusan tahun 1936 tersebut tidak atas pertimbangan ideologis, tapi dengan kebebasan dan fiqhiyah (Gus Dur, 1989). Pandangan soal tokoh yang layak memimpin bangsa Indonesia juga menunjukkan bahwa Islam tidak perlu diideologikan dalam negara. Islam tidak perlu diideologikan, negara itu ideologinya nasionalistik, ideologi yang nasionalistik itu adalah Pancasila. Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia telah disepakati dan diterima sebagai pedoman hidup bersama yang mengikat semuanya dalam menjalankan hidup bermasyarakat, beragama dan bernegara. Maka menjadi penting memahami pancasila dan hubungannya dengan Indonesia sebagai dar Islam.

Oleh karena itu, penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syariat agamanya. Jadi dalam hal ini, Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama. (Muktamar NU XXVII tahun 1984 di Situbondo, Munas NU tahun 2012 di Cirebon).

Ijtihad politik tersebut adalah warisan secara bersambung melalui sanad dan jejaring ulama santri yang makin meneguhkan Islam Nusantara dalam komitmen kebangsaan yang tinggi. Sebagai pewaris ajaran Ahlusunnah yang telah berabad-abad dikembangkan oleh para wali di Nusantara ini, komitmen kebangsaannya juga berdasarkan pada pelestarian warisan budaya Islam ini. Kenusantaraan atau keindonesiaan yang multi etnis, multi budaya dan multi bahasa ini buat Islam Nusantara adalah anugerah besar yang tiada tara. Islam hadir di Nusantara justru memperkaya dan memperkuat nilai kenusantaraan ini. Untuk membangun keindonesiaan itu Islam Nusantara mengembangkan sikapnya yang tawasuth (moderat), tawazun (seimbang) dan tasamuh (toleran), ketiganya merupakan prinsip jalan tengah yang disebut Al Qur’an sebagai (ummatan wasathan) dan bentuk ummat seperti itu juga digambarkan oleh Al Qur’an sebagai khoiro ummah (sebaik-baik masyarakat).

Zainul Milal Bizawie, penulis buku "Laskah Ulama-Santri dan Resolusi Jihad" dan "Masterpiece Islam Nusantara"



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ulama, Sunnah Asli Muhammadiyah

Minggu, 31 Desember 2017

Menteri PDT Ajak Santri berperan Entaskan Kemiskinan

Kediri, Asli Muhammadiyah. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini mengajak para santri untuk berperan serta dalam upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia. Nantinya, kontribusi para santri terhadap pengentasan kemiskinan ini akan diimplementasikan lewat program santri mengabdi.

"Tentu para santri sudah paham bahwa kemiskinan itu lebih dekat kepada kekufuran. Karena itu, saya mengajak para santri turut dalam upaya pengantasan kemiskinan di Indonesia," tegas Helmy saat menghadiri peringatan satu abad Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Ahad, (24/1).

Menteri PDT Ajak Santri berperan Entaskan Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri PDT Ajak Santri berperan Entaskan Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri PDT Ajak Santri berperan Entaskan Kemiskinan

Helmy menjelaskan, dalam program santri mengabdi itu, pihaknya akan bekerjasama dengan pesantren untuk mengirimkan santrinya di daerah-daerah tertinggal. "Santri yang akan lulus dari pesantren diminta untuk magang dan mengabdi kepada masyarakat dengan menjadi pendamping pemberdayaan ekonomi," tandasnya.

Asli Muhammadiyah

Helmy menambahkan, selama ini program magang santri Lirboyo sudah ada setiap tahunnya, namun lingkupnya masih di sekitar pesantren di Kediri. Dengan kerjasama yang dibangun Kementerian PDT dan Depnakertrans dengan Pesantren Lirboyo, nantinya santri-santri Lirboyo ini akan dikirim ke daerah-daerah tertinggal yang tersebar di seluruh nusantara.

Asli Muhammadiyah

"Jadi santri di zaman modern ini harus multifungsi, selain bisa berdakwah juga harus menjadi penggerak ekonomi mikro masyarakat," ujarnya.

Para ulama pada zaman dulu, kata Helmy, sudah berjuang keras untuk memperkuat perkeonomian masyarakat. Terbukti dengan berdirinya Nahdlatut Tujjar (kebangkitan pedagang), yang menjadi cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama (NU).

"Ini tugas para santri untuk meneruskan cita-cita ulama dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia," tukasnya.

Helmy memandang pentingya urgensi dakwah para santri di daerah tertinggal. Sebab, selain penguatan keagamaan di daerah tertinggal, santri juga bisa memberikan pendampingan dalam berbagai masalah yang dihadapi  masyarakat tertinggal.

"Santri harus keluar dari sarang dan berperan aktif untuk pembangunan bangsa di masa depan," pungkasnya.

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Lirboyo KH Idris Marzuki menyatakan, Pesantren Lirboyo yang sudah berusia satu abad sudah banyak pengalaman yang dialaminya. Namun, Pesantren Lirboyo masih mampu menjadi penjaga dalam moralitas bangsa.

"Alhamdulillah selama itu Lirboyo tidak pernah surut dalam upaya membangun bangsa," katanya.

Hadir dalam kesempatan itu, Ketua Dewan Syura PKB, yang juga Ketua Alumni Lirboyo KH Aziz Mansyur, Rektor Al-Ahqaf University of Yaman,Prof Abdullah Muhammad Baharun, KH Imam Yahya Mahrus dan KH Kafabihi Mahrus. (mad)Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ulama, Nasional, AlaNu Asli Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

Resolusi Jihad Belum Tercantum, Buku Sejarah Harus Ditulis Ulang

Bawean, Asli Muhammadiyah - Ketua PCNU Bawean, Jawa Timur KH Fauzi Rouf menyatakan bahwa sejarah bangsa ini harus banyak berterima kasih kepada peran besar ulama dan santri, karena itulah sejarah harus ditulis ulang.

"Peran ulama dan santri sangatlah besar, sehingga melahirkan Resolusi Jihad. Namun, hal ini belum ditulis dalam buku-buku sejarah yang dipelajari para pelajar dan santri. Karena itu sejarah ini harus ditulis ulang," ujarnya di hadapan sekitar dua ribu santri dalam peringatan Hari Santri Nasional bertajuk Semarak Hari Santri 22 Oktober Resolusi Jihad NU, yang diselenggarakan PCNU Bawean di Pesantren Mambaul Falah, Bawean, Sabtu malam (22/10) melalui siaran pers.

Resolusi Jihad Belum Tercantum, Buku Sejarah Harus Ditulis Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)
Resolusi Jihad Belum Tercantum, Buku Sejarah Harus Ditulis Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)

Resolusi Jihad Belum Tercantum, Buku Sejarah Harus Ditulis Ulang

Sementara itu Direktur Aswaja NU Center Jombang, Yusuf Suharto yang didapuk sebagai penceramah puncak acara peringatan HSN menegaskan bahwa tidak ada hari pahlawan tanpa ada Resolusi Jihad.

Asli Muhammadiyah

"Hari Pahlawan 10 November itu adalah kelanjutan dan efek dari Resolusi Jihad 22 Oktober. Bung Tomo dan para pecinta kemerdekaan menyebarkan fatwa atau resolusi jihad ini ke seluruh penjuru negeri. Para ulama prihatin karena Indonesia akan kembali dijajah tentara sekutu dan Belanda.? Inilah di antara bukti nyata bahwa para santri dan ulama mencintai negeri ini, dan karenanya mempertahankan kemerdekaan yang merupakan kewajiban bersama," ujar Sekretaris Pergunu Jombang ini di hadapan para kiai jajaran PCNU, lembaga, banom, MWCNU dan santri seluruh Bawean.

Ia menambahkan, langkah para ulama dalam mengawal negeri ini dapat kita saksikan misalnya pada tahun 1916 Kiai Wahab Hasbullah mendirikan Nahdlatul Wathon yang artinya kebangkitan tanah air atau kebangkitan kebangsaan. Kemudian disusul dengan pemberian nama yang beragam di berbagai daerah agar tidak diketahui penjajah, misalnya di Gresik dinamai Farul Wathon (Elemen Bangsa), di Jombang dinamai Hidayatul Wathon Pencerah Bangsa).

“Inilah juga bukti kecintaan para kiai atas negeri ini. Pada tahun 1918 didirikan Nahdatut Tujjar (Kebangkitan para saudagar) yang merupakan bukti kemandirian para ulama dalam perjuangan kemerdekaan," ujarnya.

Asli Muhammadiyah

Karena itu, lanjutnya, kita harus bangga menjadi santri. Ustadz, dan ulama otomatis adalah santri. Dan santri diharapkan berperan seperti para ustadz dan kiai. Ia mengajak untuk menjadikan Hari Santri ini dengan berbuat nyata bagi bangsa ini. Mengisinya dengan menerapkan Islam moderat, Ahllussunnah wal Jamaah ala Nahdlatil Ulama."

Puncak acara ini dirangkai dengan pembacaan wasilah dan Shalawat Nariyah, menyanyikan lagu Indonesia Raya, mars santri, pembacaan Ikrar Santri, dan aneka tampilan kesenian santri. Doa dibacakan Mustasyar PCNU Bawean yang juga pengasuh Pesantren Mambaul Falah, Tambak Bawean, KH Abdul Aziz? Ismail. Sosok Kiai Abdul Aziz adalah kiai aktivis, terhitung sejak 1963 sudah terlibat dalam aktivitas dan gerakan NU. Untuk menggenapi keikutsertaan dalam muktamar dengan volume Sembilan kali, Kiai yang menyaksikan para kiai berkumpul di jalan Matraman (rumah Bu Nyai Sholihah Binti KH. Bisri Syansuri) ini menjadi saksi fatwa NU tentang pembubaran PKI.

?

Sementara itu pada pagi harinya, Sabtu pagi (22/10) bersama Direktur Aswaja NU Center Bawean, Kiai Syamsuddin, dan pengasuh Persantren Hasan Jufri, KH. Ali Asyhar, Yusuf juga mengisi peringatan hari santri di Pesantren Hasan Jufri Bawean. Dalam acara ini format acaranya berupa diskusi Tanya jawab seputar Aswaja, NU dan Hari Santri.

"Semula Hari Santri diusulkan pada satu Muharram, kemudian diubah menjadi 22 Oktober, karena momen 22 Oktober ini adalah yang paling tepat, di mana para santri mewujudkan gerakan secara massif dalam mempertahankan NKRI," ujarnya disusul dengan pembacaan bersama Shalawat Nahdhiyyah yang disusun oleh Kiai Abdul Wafi Paiton, yang dipimpin Kiai Syamsuddin.

Adapun terjemah shalawat itu adalah, "Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, yang dengan berkah bacaan shalawat ini, jadikanlah kami senang, rajin, dan semangat dalam berjuang menghidupkan dan meninggikan agama Islam serta menampakkan syiar-syiarnya menurut cara Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Ya Allah, teguhkanlah pendirian dan berikanlah kemenangan bagi warga Jamiyyah Nahdlatul Ulama (Nahdliyyin) untuk meninggikan Kalimatillah (agama Islam dan seluruh ajarannya)". (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pondok Pesantren, AlaNu Asli Muhammadiyah

Rabu, 27 Oktober 2010

Upacara Kemerdekaan, Santri Al-Wafa’ Kenakan Sarung dan Batik

Bandung, Asli Muhammadiyah. Puluhan santri pesantren Al-Wafa’, Cileunyi kabupaten Bandung, Jawa Barat, menggelar upacara peringatan hari kemerdekaan Ke-70 RI, Senin (17/8) pagi. Dalam upacara ini, para santri laki-laki mengenakan baju batik, bersarung, dan mengenakan peci. Sedangkan santri perempuan mengenakan batik, rok, dan kerudung.

Upacara Kemerdekaan, Santri Al-Wafa’ Kenakan Sarung dan Batik (Sumber Gambar : Nu Online)
Upacara Kemerdekaan, Santri Al-Wafa’ Kenakan Sarung dan Batik (Sumber Gambar : Nu Online)

Upacara Kemerdekaan, Santri Al-Wafa’ Kenakan Sarung dan Batik

Inspektur upacara Ustadz Asep Qomaruddin dalam sambutannya mengingatkan santri-santri supaya mengetahui bahwa para pahlawan Indonesia dahulu mengorbankan dirinya bahkan nyawanya untuk membela dan mempertahankan Indonesia.

“Untuk itu, sebagai kaum yang berpendidikan, marilah para santri untuk giat belajar dalam rangka berpartisipasi mewujudkan kesejahteran da kedaulatan bangsa Indonesia,” tutur Pembina pesantren Al-Wafa’ ? itu.

Asli Muhammadiyah

Firman Abdullah salah seorang santri mengemukakan, sebagai bagian dari wujud nasionalisme santri, upacara memakai batik merupakan ciri pakaian khas Indonesia, sedangkan sarung merupakan identitas santri.

“Dengan memakai pakaian seperti itu diharapkan santri-santri semakin mencintai negaranya beserta kebudayaan yang ada,” ujar santri asal Palangkaraya itu kepada Asli Muhammadiyah seusai upacara yang berlangsung di halaman setempat.

Asli Muhammadiyah

Selain mengadakan upacara kemerdekaan, santri-santri pesantren Al-Wafa’ juga menggelar berbagai perlombaan dalam rangka menyemarakkan Dirgahayu Ke-70 Kemerdekaan Indonesia. Tidak hanya lomba untuk para santri, anak-anak di sekitar pesantren juga dilibatkan untuk mengikuti perlombaan yang disediakan. (M Zidni Nafi’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Anti Hoax Asli Muhammadiyah

Rabu, 04 Juni 2008

Dedi Mulyadi: Santri Jangan Ngumpul

Bekasi, Asli Muhammadiyah. Budayawan Dedi Mulyadi mengingatkan santri adalah orang-orang yang berakhlak mulia. 

Hal itu disampaikan Dedi pada Gebyar Hari Santri Nasional sekaligus Hari Sumpah Pemuda, Sabtu (28/10) malam di Stadion Mini Tambun, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Dedi Mulyadi: Santri Jangan Ngumpul (Sumber Gambar : Nu Online)
Dedi Mulyadi: Santri Jangan Ngumpul (Sumber Gambar : Nu Online)

Dedi Mulyadi: Santri Jangan Ngumpul

Pada puncak peringatan HSN yang diadakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bekasi, Dedi juga mengajak masyarakat Kabupaten Bekasi untuk menanamkan nilai-nilai agama sejak dini. 

“Untuk pelajaran agama, kalau bisa ustad-ustad diperdayakan dengan cara mengajar di Sekolah Dasar (SD), dan mengajari kitab kuning,” kata pria yang juga Bupati Purwakarta.

Menurutnya, jika sejak kecil tidak diberikan pengalaman ilmu agama, dan baru didapatkan ketika kuliah, seseorang akan merasa paling benar.

Asli Muhammadiyah

Ia juga berpesan karena tugas NU itu adalah menjadi benteng NKRI, keterlibatan santri harus lebih luas dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia, apalagi sekarang adalah abad kebangkitan para santri.

“Santri jangan pada ngumpul (terpusat di satu titik). (Santri) disebar ke semua (wilayah), agar Republik ini diisi oleh para santri,” terangnya.

Kabag Kesra Kabupaten Bekasi, Iyan Supriatna yang mewakili Bupati Bekasi menuturkan, bicara soal Hari Santri Nasional Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi mendukung penuh. Terlebih, pada hari H (22 Oktober 2017)  Bupati Bekasi, Neneng Hasanah Yasin juga sudah mengadakan peringatan Hari Santri Nasional di Masjdi At Taqwa, Babelan.

Asli Muhammadiyah

“Bicara HSN beliau (Bupati Bekasi, Neneng Hasanah Yasin) mendukung penuh. Apalagi dibidang keagamaan, beliau sangat mendukung sekali,” ucap mantan Camat Tambun Selatan ini. 

Tema peringatan HSN PCNU 2017 Kabupaten Bekasi adalah Membangun Santri Mandiri yang Menghargai Keberagamaan untuk Membangkitkan Peradaban Bangsa Menuju NKRI Hebat. Sejumlah agenda telah dijalankan berupa seminar, perlombaan, dan upacara.

Lomba baca kitab kuning ‘Keaswajaan dan Kebangsaan dihelat di Pondok Pesantren Nurul Hud  Desa Cikarageman Kecamatan Setu, 7-8 Oktober 2017. Berikutnya Lomba Seni Hadroh dan Marawis di Pondok Pesantren Al Fath Jalen Desa Jejalen Kecamatan Tambun Selatan, 7-8 Oktober 2017. Sementara Lomba Seni Pencak Silat dan Futsal di Pondok Pesantren An-Nadwah, Desa Lambang Sari Kecamatan Tambun Selatan, pada 14-15 Oktober 2017.

Ketua PanitiaHSN PCNU Kabupaten Bekasi KH Sholahuddin Al Hadi mengatakan hari santri adalah hari untuk memperingati peran besar kaum kiai dan santri dalam perjuangan melawan penjajah bangsa asing, bertepatan dengan resolusi jihad Mbah KH Hasyim pada tanggal 22 Oktober.

Di Bekasi semangat serupa dipelopori oleh KH. Noer Ali dan KH. Nawawi Cibarusah.

“Saya berharap dengan adanya perlombaan ini dapat menumbuhkan rasa kecintaan kita terhadap tradisi pesantren, dan membumihanguskan prasangka yang tidak baik bagi dunia pesantren, khususnya di Kabupaten Bekasi,” ujarnya.

Selain itu, Seminar Kebangsaan Santri Mandiri NKRI Hebat digelar 21 Oktober 2017 di Auditorium Hotel Win Bekasi Timur. Acara saat itu dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Mantan Ketua Umum GP Ansor H. Nusron Wahid.

Puncak acara HSN 2017  Kabupaten Bekasi, ditandai dengan Upacara Hari Santri, serta pembagian hadiah lomba di Stadion Wibawa Mukti (Stadion Tambun) pada tanggal 28 Oktober 2017. Momentum tersebut dihadiri antara lain Habib Luthfi bin Yahya, Sastro Al- Ngatawi, dan Iwan Fals. (Ron/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Sunnah, News, Khutbah Asli Muhammadiyah

Minggu, 07 Januari 2018

Santri Ngonthel Bareng Kiai dan Bu Nyai

Blitar, Asli Muhammadiyah

Ragam cara dilakukan pondok pesantren dan sekolah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di Kabupaten Blitar untuk memperingati Hari Santri. Dari pantauan? Asli Muhammadiyah, hampir semua kecamatan di Kabupaten Blitar menggelar peringatan Hari Santri ini.

Ada yang menggelar upacara dengan mengenakan baju koko plus sarung dan kopiah serta sandal. Ada yang menggelar jalan santai dan sore dan ada keliling? dari kampung ke kampung.

Santri Ngonthel Bareng Kiai dan Bu Nyai (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Ngonthel Bareng Kiai dan Bu Nyai (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Ngonthel Bareng Kiai dan Bu Nyai

Misalnya yang diselenggarakan Pesantren Mambaul Hikam Mantenan Udanawu Blitar. Mereka kembali menggelar sepeda pancal dari kampung ke kampung. Seluruh santri dan siswa Diniyah Mambaul Hikam besarta? kiai, dewan asatidz dan asatidzah menggayuh sepeda onthel dari berbagai tipe. Mereka menampilkan beberapa tema, baik masalah ajakan memondok maupun masalah nasionalisme.

Asli Muhammadiyah

Mancal bareng dipimpin langsung Pengasuh Pesantren KH Diya’uddin Azam-zami beserta sang istri dan para putra-putrinya. Para pengurus Jam’iyahThoroqoh Naqshobadi Kholidiyah yang berpusat di pesantren tersebut juga tidak ketinggalan ambil bagian.

Asli Muhammadiyah

Sebelum berangkat, Gus Diya’panggilan akrabnya, memimpin doa. Kemudian mengajak para santrinya membaca Shalawat Nariyah dulu.

“Setelah baca Fatihah, ayo mari kita baca Shalawat Nariyah dulu,’’ ajak Gus Diya’, yang? selanjutnya langsung dilaksanakan bersama ratusan santrinya.

Setelah selesai bersepeda ria, untuk memberi semangat pada para santri, Gus Diya’ membagikan door prize dan hadiah sepeda gunung kepada para santri yang beruntung.

Sementara Yayasan Pondok Pesantren Darul Huda, Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar mengelar upacara bendera di halaman pondok. Upacara ini diikuti oleh seluruh siswa mulai dari MI, MTs, MA maupun SMK, Sabtu (22/10).

Hampir sama dengan Mambaul Hikam, seluruh santri Darul Huda juga mengenakan sarung dan baju gamis. Sementara santri putri mengenakan pakaian baju muslimah.

"Sebagai santri, kita harus menjaga tradisi-tradisi kesantrian dengan selalu berpegang teguh kepada ajaran Ahlus sunnah wal Jamaah sebab keberadaan santri terbukti dari zaman dahulu, mampu menjadi pondasi yang kuat bagi keutuhan bangsa," pesan Asyharul Muttaqin selaku pembina upacara.

Ia menambahkan, peran santri sangat besar dalam memperebutkan dan menjaga kemerdekaan Indonesia.

Usai upacara bendera, acara dilanjutkan dengan kirab sepanjang sekitar 5 km dengan berjalan kaki melewati jalan-jalan utama di desa Wonodadi.

"Darul Huda adalah sebuah pesantren salaf, yang berkembang menjadi pesantren modern. Sejak dahulu kami melahirkan santri-santri yang keberadaan mereka sangat dibutuhkan di tengah masyarakat," Kata Asyharul sambil kirab.

Meski cuaca mulai panas, namun seluruh peserta nampak antusias mengikuti acara tersebut.

"Alhamdulillah saya sangat senang? dan menikmati mengikuti acara ini. Tidak setiap hari juga kan kami dapat mengenakan pakaian seperti ini dalam proses pembelajaran," ujar Nurul Indah salah satu siswa SMK Darul Huda.

Hal yang sama juga dilakukan oleh keluarga besar MTs Ma’arif Udanawu Blitar. Sejak jam sekolah mereka menggelar upacara dalam rangka hari santri. ”Siapa lagi kalau bukan kita yang merayakan hari bahagia ini,’’ ungkap Kepala Sekolah MTs Ma’arif? Moh. Haidar.

Sebelumnya, Pemkab Blitar bersama dengan PCNU Kabupaten Blitar menggelar acara jalan sore bersama. Acara berlangsung di jalan PendapaKabupaten Blitar di Kanigoro yang diikuti tidak kurang dari 10 ribu perserta. Acara diawali dengan apel Banser se Blitar.

Setelah usai shalat magrib bersama acara dilanjutkan dengan membaca shoalat nariyah? yang dipimpin langsung oleh KH Sunhaji Nawal Karim Zubaidi dari pesantren Mambaul Hikam Mantenan yang sekaligus? pimpinan jamiyah shoalawat dan majlis ta’lim mughitsu almughits. Hadir pada acara tersebut Bupati Blitar H Rijanto beserta seluruh anggota Forpinda Kabupaten Blitar. Pengurus PCNU Kabupaten Blitar dan lainnya.

“Alhamdulillah pembacaan Shalawat Nariyah dan peringatan hari santri di Blitar sangat meriah dan sukses. Apalagi ditambah kehadiran Ki Ageng Ganjur dan Mbak Evie Tamala saat ini,’’ungkap Gus Dain panggilan akrabnya. (imam kusnin ahmad/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah RMI NU, Humor Islam Asli Muhammadiyah

Kamis, 16 November 2017

5000 Santri Gelar Upacara Hari Pahlawan Nasional

Malang, Asli Muhammadiyah. Cendekiawan besarung sejumlah 5000 memadati Lapangan Pesantren Annur II, Bululawang, Malang, Selasa (10/11). Santri yang berbaris rapi dengan sarung hijau itu mengikuti upacara Peringati Hari Pahlawan Nasional.

Tak sulit mengondisikan ribuan santri untuk tertib mengikuti Upacara Hari Pahlawan yang pertama kali diadakan ini. Pasalnya para santri sudah digembleng disiplin sebelumnya dalam berbagai aktivitas seperti sholat berjama’ah, kajian kitab kuning, hingga tahajud bersama.

5000 Santri Gelar Upacara Hari Pahlawan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
5000 Santri Gelar Upacara Hari Pahlawan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

5000 Santri Gelar Upacara Hari Pahlawan Nasional

“Jadi untuk Upacara Peringatan Hari Pahlawan ini, para santri sudah terlatih untuk tertib sesuai intruksi Inspektur Upacara yaitu Gus Ahmad Zinuddin,” kata Gus Helmi Yahya pada Asli Muhammadiyah.

Asli Muhammadiyah

Gus Helmy menjelaskan, kami tidak menuntut para santri berjuang bak pahlawan terdahulu yang harus membayar kemerdekaan dengan darah. Diakui atau tidak, dulu dan sekarang ladang perjuangannya jelas berdeda. Untuk para santri, cukup menjadi santri yang bermanfaat, berbakti pada negara, menjalankan agama yang toleran itu sudah mewarisi semangat perjuangan para pahlawan. Menjaga kemerdekaan dengan benar, dengan beragama yang penuh kasih sesuai tindak tanduk para wali songo, Islam Nusantara.

Asli Muhammadiyah

Dengan upacara seperti ini, semangat juang para pahlawan bisa kita kenang dan kita renungkan. Dan itu bisa diserap santri untuk memiliki semangat yang sama dan diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari untuk terus berbuat baik dan produktif dalam karya.

Ketika ditanya kenapa upacara dengan memakai sarung? Gus Helmy menjawab dengan santai. Menurutnya, sarung adalah identitas santri, dan untuk upacara tidak harus menanggalakkan identitas santri, karena yang substansi adalah perenungan dan mentransformsikan semangat para pahlawan untuk masa depan bangsa.

Suasana mendung kota Malang mengiringi khidmatnya upacara. Tak pelak, tak ada satupun dari santri dan pengurus yang pingsan karena kepanasan. Tak kurang dari dua jam berjalannya upacara, para santri kembali beraktivitas seperti semula. Upacara berjalan lancar dan tidak memakan waktu lama. Tak lama setelah itu Malang diguyur hujan angin dan petir. (Diana Manzila/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Nasional, Ahlussunnah, Tokoh Asli Muhammadiyah

Rabu, 22 November 2017

Mewarisi Semangat Pahlawan Santri

Malang, Asli Muhammadiyah. Selama ini perjuangan para kiai-santri tidak mendapat ruang dalam narasi sejarah kebangsaan. Buku-buku sejarah yang ditulis oleh akademisi, tidak memihak pada sejarah pergerakan komunitas santri. Itulah yang mengilhami Munawir Aziz, Wakil Sekretaris Lembaga Talif wan Nasyr (LTN) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk menulis buku tentang kisah-kisah perjuangan para pahlawan dari pesantren.

Mewarisi Semangat Pahlawan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Mewarisi Semangat Pahlawan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Mewarisi Semangat Pahlawan Santri

Narasi ini tercermin dalam bedah buku Pahlawan Santri yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang, Rabu (5/10) di Perpustakaan Universitas Negeri Malang. Bedah buku ini menghadirkan Munawir Aziz (periset dan penulis buku) dan Joko Saryono (Guru Besar Universitas Negeri Malang).

Munawir Aziz mengungkapkan bahwa sudah saatnya sejarah pesantren mendapat ruang dalam narasi sejarah di negeri ini. "Momentum penetapan Hari Santri, pada 22 Oktober 2016 lalu menjadi refleksi yang tepat untuk menjelaskan posisi santri dalam perjuangan kebangsaan," ungkap Munawir. Penulis buku ini, menjelaskan bahwa menulis sejarah santri, berarti mengokohkan identitas, menguatkan mental dan konstruksi komunitas.

"22 Oktober 1945 merupakan titik sejarah Resolusi Jihad, yang digelorakan Kiai Hasyim Asyari. Resolusi Jihad inilah yang menggerakkan perjuangan arek-arek Jawa Timur, pada 10 November 1945, yang dikenal sebagai Hari Pahlawan," terang Munawir, yang telah beberapa buku bertema Islam Nusantara.

Asli Muhammadiyah

Pada sisi lain, Munawir mengungkapkan ? bahwa sosok-sosok kiai yang menjadi simpul perjuangan kemerdekaan, layak disebut sebagai pahlawan. "Banyak sekali kiai yang layak disebut sebagai pahlawan bangsa. Mereka menjadi simpul perjuangan kebangsaan dari Aceh, hingga kawasan Indonesia timur.

Prof Joko Saryono menambahkan bahwa status pahlawan yang dibutuhkan adalah legitimasi. "Memang secara formal administratif, ada beberapa hal yang menjadi syarat tokoh layak dianugrahi gelar pahlawan. Namun, bagi saya, yang paling penting adalah legitimasi bagi para tokoh sebagai pahlawan bagi masyarakatnya. Apa artinya gelar tanpa legitimasi," jelas Joko Saryono.

Asli Muhammadiyah

Lebih lanjut, Saryono mengungkapkan bahwa narasi dalam buku Pahlawan Santri, menjelaskan tentang suara-suara kaum santri, dalam konsep the others atau liyan. "Penting untuk menyuarakan aspirasi komunitas santri, dalam lingkup sebagai the Others/Liyan. Senada dengan gagasan pasca kolonial yang dikembangkan Spivak," ungkap Saryono.

Bedah buku Pahlawan Santri merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Nahdlatul Ulama dan komunitas pesantren dalam rangka Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2016. (Muiz/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Olahraga, Sholawat Asli Muhammadiyah

Minggu, 20 Mei 2012

Sambut Hari Santri, 800 Santri Futuhiyyah Ikuti Istighosah

Demak, Asli Muhammadiyah. Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional, yang jatuh 22 Oktober, Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak, Jawa Tengah, menyelenggarakan kirab dan istighosah bersama.

Sambut Hari Santri, 800 Santri Futuhiyyah Ikuti Istighosah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Hari Santri, 800 Santri Futuhiyyah Ikuti Istighosah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Hari Santri, 800 Santri Futuhiyyah Ikuti Istighosah

Kirab diikuti lebih dari 500 santri dari Pondok Pesantren Futuhiyyah, Pesantren Al Amien, dan Pesantren Al Mubarok, Sabtu (17/10), dengan rute mengelilingi desa Mranggen dan Brumbung. Sementara malam harinya, istighosah digelar bersama sekitar 800 santri putra dan putri.

Kegiatan ini dilepas oleh Gus H Abdulloh Fahim Hakim dan Gus H. Abdul Majid Ridwan selaku wakil pengasuh. Abdullloh Fahim menyampaikan, kegiatan semacam ini penting dilaksanakan untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa pada tanggal 22 Oktober telah ditetapkan oleh pemerintah menjadi Hari Santri Nasional. Menurutnya, momentum ini juga bisa dimanfaatkan untuk memasyarakatkan pesantren dan memesantrenkan masyarakat.

Asli Muhammadiyah

Istighosah dipimpin oleh Ahmad Dliyauddin Al Hafidz. H. Ahmad Faizurrahman Hanif, selaku wakil pengasuh yang turut hadir mengatakan bahwa tanggal 22 Oktober merupakan hari yang sangat bersejarah bagi santri, di mana pada hari itu para santri terlibat berperang dalam membela Negara.

“Harapannya, dengan diadakan kegiatan semacam ini di samping (sebagai sarana) kirim doa buat para pahlawan pendahulu, juga untuk mengingatkan santri agar sungguh-sungguh dalam belajar, supaya dapat membela negara melalui ilmu yang dimilikinya,” tuturnya. (Abdus Shomad/Mahbib)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Makam, Pesantren Asli Muhammadiyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Santri: Generasi Millennial-Vertikal

Oleh Aswab Mahasin

“Berpikirlah maka engkau akan laik”

Saya tertarik mengangkat tema ini diawali dari beberapa pemberitaan Asli Muhammadiyah mengenai “generasi millennial”. Kurang lebih ada dua pemberitaan, Pertama, cletukan dari Haidar Bagir, kalau Rasulullah menghormati generasi millennial, dan Kedua, adu guyon antara Gus Yaqut dan Tsamara Amany.

Santri: Generasi Millennial-Vertikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri: Generasi Millennial-Vertikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri: Generasi Millennial-Vertikal

Rasa penasaran muncul, apa sih generasi millennial? Maklum, saya tidak begitu kekinian. Saya hanya sering mendengar dan membaca konten-konten berita mengenai generasi millennial (tapi belum begitu memahami arti dari millennial itu sendiri), setelah saya telusuri lebih dalam—ternyata, generasi millennial adalah kajian dan wacana ilmiah cukup menarik dipergunjingkan.

Mari kita bedah dulu apa dan siapa generasi millennial? Generasi Millennial sebagai pengganti istilah “generasi Y”—lazim disebut millennials. Istilah millennial generation peletak batu pertamanya adalah dua pakar sejarah dan penulis Amerika William Strauss dan Neil Howe. Millennials juga dalam beberapa sumber ialah kelompok demografi setelah generasi X (Gen X). Tidak ada batasan waktu awal dan akhir dari generasi ini. Peneliti biasanya menggunakan ukuran dari kelahiran awal 1980-an sampai tahun 2000-an sebagai akhir dari kelahiran kaum millennial ini. Artinya, generasi millennial rata-rata berusia 13 – 35 tahun. Apakah Anda termasuk?

Asli Muhammadiyah

William Strauss dan Neil Howe adalah peneliti sejarah Amerika Serikat, menurutnya, sejarah Amerika merupakan rangkaian dari biografi generasi 1584, bisa dilihat dari karyanya bertajuk Generations dan dikembangkan pada karya selanjutnya The Fourth Turning. Dalam hal ini, kita tidak akan membahas masalah tersebut panjang lebar. Tidak sedikit juga peneliti mengkritisi Strauss dan Howe, corak teorinya terlalu mengedepankan pandangan umum (makro), tapi kecolongan pada peristiwa khusus (mikro). seperti; faktor keluarga, faktor pendidikan non-formal, dan sejenisnya. Dua sejarawan itu sempat sukses dalam memprediksi perilaku generasi millennial. Selain itu, Strauss dan Howe pun mempunyai keberhasilan dalam meramalkan peta politik dan ekonomi di Amerika yang membuat teorinya menjadi “tenar”.

Sekarang kita tinggalkan Strauss dan Howe. Di Indonesia istilah millennials sedang ngetrend. Stempel generasi millennial biasanya disematkan kepada mereka yang terlalu sibuk dengan “alam maya”, sekaligus dianggap sebagai generasi instan. Generasi yang ingin maju tapi tidak mau bersusah payah. Tidak ada yang salah dengan tudingan itu. Internet, smartphone, dan barang semacam gadget tidak bisa dipungkiri dewasa ini telah menjadi kebutuhan dasar. Lumrah mereka gandrung dengan perkembangan teknologi. Hanya saja, meminjam istilahnya Gus Nadirsyah Hosen, “Smartphone tidak lantas membuat kita menjadi pintar”. Kita kadang terjebak. Kalau boleh saya tambahkan, kecerdasan atau kepintaran kita dikalahkan oleh smartphone.

Asli Muhammadiyah

Sebagai buktinya, muncul istilah “yang dekat berasa jauh, dan yang jauh berasa dekat”. Inilah, pergaulan sosial kita terbatasi oleh kepintaran gadget sehingga kita terlihat bodoh di sekitar teman, saudara, bahkan keluarga kita sendiri.

Bagaimana kabar santri di tengah arus gelombang ini? Apa kabar? Kita sama-sama tahu, di pesantren, santri tidak diperbolehkan membawa gadget (hp, tablet, dan sejenisnya), terkecuali laptop (mungkin). Gerak aktivitas santri berselancar di dunia maya dibatasi oleh aturan-aturan yang mengikat. Bagi santri kedapatan membawa handphone, handphone-nya akan disita keamanan—baru akan dikembalikan ketika orang tuanya datang atau santri mau pulang (mudik). Ada lagi pesantren yang memberikan aturan, boleh membawa seperangkat gadget tapi hanya difungsikan pada saat hari libur, selebihnya dititipkan pengurus.

Aturan tersebut, bukan berarti pesantren dan santri menutup diri dari dunia luar, tidak! Santri masih punya kesempatan berselancar, ketika sekolah, ketika di ruang komputer, ketika hari libur menonton tv di kantin, atau ketika dia pulang ke rumah. Tujuannya untuk apa aturan tersebut? Agar para santri fokus dalam belajar, mengaji, menghapal, dan mengikuti aktivitas pondok.

Kita tahu sendiri, efek dari gadget cukup mengkhawatirkan walaupun di sisi lain mempunyai manfaat tinggi. Namun, berbeda cerita ketika berada di lingkungan pesantren. Oleh kiai—kita ditekankan untuk belajar istiqamah dan terlepas dari hal-hal yang membuat kita malas dan tidak fokus. Kiai selalu berpesan, “belajar dulu saja yang rajin, nanti dunia akan ikut dengan sendirinya.” Telah jelas, santri oleh kiai tidak disuruh untuk instan, melainkan harus ada usaha yang sungguh-sungguh, berbeda dengan karakter generasi millennial yang didefinisikan pada umumnya.

Dalam hal ini, santri termasuk generasi millennial (jika ditilik dari usianya), rata-rata usia santri 13-20 tahun, darahnya masih darah muda. Di sinilah peran pesantren, mendidik santrinya untuk menjadi “generasi millennial-vertikal”. Maksudnya, generasi yang selalu berhubungan dengan Tuhannya (Hablum Minallah), menjauhi larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya. Rasulullah berpesan, “Tiada sesuatu yang lebih disukai Allah daripada seorang pemuda yang beratobat,” (HR Ad-Dailami).

Tidak hanya itu, santri juga di didik menjadi “generasi millennial-horizontal”, di mana dalam pesantren kita diajarkan kebersamaan, persaudaraan, dan menghomati orang lain (Hablum Minannas). Di pesantren kita selalu diingatkan, saudara yang bukan seiman adalah saudara dalam kemanusiaan. Tidak pandang bulu, apapun madzhab, golongan, agama, budaya, dan negaranya. Menghormati manusia jelas merupakan sebuah anjuran agama.

Sudah jelas sekarang, di sinilah letak kesalahan dari dua sejarawan di atas tadi, pergolakan zaman tidak melulu berimbas pada seluruh generasi millennial. Faktor-faktor seperti pesantren harus diperhatikan juga dalam menimbang sebuah wacana. Mungkin secara umum, kita kena imbas dari zaman, namun secara prinsip terdasar, santri tetap sama tingkah dan perilakunya. Kenapa? Perkembangan zaman hanya ngiming-ngimingi kita dalam hal teknologi (itu yang paling dominan).

Sedangkan teknologi sendiri, dalam kajian budaya merupakan lapisan terluar dan paling sedikit nilai budayanya. Teknologi hanya mengandung nilai kegunaan. Dengan itu, walaupun teknologi masuk secara besar-besaran, tidak akan mengubah hakikat dari karakter tradisi kita. Kita pasti bisa menilai mana nilai terluar dan mana nilai terdalam. Jadi, teknologi hanya mengubah pola perilaku, kebiasaan hidup, dan cara berkomunikasi. Buktinya apa?

Buktinya, kita bisa lihat di pesantren, bagaimana santri beraktivitas. Sama sekali tidak mencirikan generasi millennial (yang didefinisikan di pergaulan kita). Itulah bedanya, generasi millennial tok dengan generasi millennial-vertikal (horizontal akan ikut dengan sendirinya). Kenapa? “millennials-vertikal” berbanding lurus dengan “millennials-horizontal”.

Oleh sebab itu, menghadirkan generasi millennial-vertikal harus terus digiatkan, tugas ini tidak hanya dibebankan pada pesantren, melainkan seluruh elemen masyarakat, khususnya orang tua, guru, dan tokoh masyarakat untuk terus mengingatkan kepada pemuda (anak/anak didiknya), fungsikan segala sesuatunya dengan baik, gunakan pikiran sehat maka akan laik (sehat spiritual, sehat sosial, sehat intelektual, dan sehat emosional). Yang penting jangan terlibat “isu-isu murahan yang berharga mahal itu” (hoaks).

Rasulullah SAW bersabda, “Pergunakanlah yang lima sebelum datang masa yang lima; Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa kosongmu sebelum datang masa sibukmu dan masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu,” (HR Hakim).

*) Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Olahraga Asli Muhammadiyah

Jumat, 31 Oktober 2014

Santri BPUN Ansor Surabaya Berjejaring dengan Santri Lain Kota

Surabaya, Asli Muhammadiyah. Jumat (29/5) malam, sebanyak 69 santri peserta Pesantren Kilat (Sanlat) Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Surabaya, tampak bahagia. Bertempat di pesantren An-Nur jalan Karah Agung 9 Surabaya, mereka saling bertegur sapa melalui Video Conference dengan para santri lain di 11 kota di Indonesia.

Santri BPUN Ansor Surabaya Berjejaring dengan Santri Lain Kota (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri BPUN Ansor Surabaya Berjejaring dengan Santri Lain Kota (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri BPUN Ansor Surabaya Berjejaring dengan Santri Lain Kota

Video Conference itu digelar di Kantor PP GP Ansor di Jakarta. Hadir dalam acara tersebut Menristek Dikti M Nasir, Mendikbud Anies Baswedan, dan Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid.

Peserta Sanlat yang aktif melakukan video conference itu berasal dari Surabaya, Jombang, Malang, Ngawi, Kudus, Semarang, Karanganyar, Yogyakarta, Cirebon, Bandung, Serang, dan Pontianak.

Asli Muhammadiyah

Para santri itu saling berkenalan setelah menyimak arahan dan motivasi dari M Nasir, Anies Baswedan, dan Nusron Wahid.

Koordinator Sanlat BPUN Surabaya Abdus Salam mengatakan, para peserta Sanlat BPUN Surabaya ini telah mengikuti bimbingan intensif dalam rangka persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri, sejak Senin (11/5) lalu, dan berlangsung selama satu bulan.

Asli Muhammadiyah

Program Sanlat BPUN adalah hasil kerja sama GP Ansor dan Yayasan Mata Air. Program ini, menurut Salam, bertujuan mengantarkan sebanyak mungkin kader muda NU bisa kuliah di PTN favorit di Indonesia.

Didampingi para pembina Arif, Syafril, dan Anas, Salam menegaskan, para peserta tidak hanya diberikan bimbingan selam sebulan, mereka juga akan terus dipantau hingga sukses masuk PTN.

"Setelah sukses masuk PTN, nanti kita juga kawal. Sehingga mereka diharapkan menjadi bibit-bibit kader NU di kampus," tegas Wakil Ketua GP Ansor Jawa Timur ini.?

Salam menambahkan, selama sebulan selain dibekali sejumlah materi oleh para tutor, para peserta juga mengikuti pengajian kitab, berjamaah, dan aktivitas keagamaan lainnya seperti para santri di pesantren pada umumnya.

"Ya, mereka jadi santri sementara selama sebulan. Maka itu namanya santri kilat, jadi pengasuhnya juga kiai kilat," ujarnya berkelakar.

"Jadi, saya ini juga kiai, tapi kiai kilat," selorohnya seraya tersenyum. (Abdul Hady JM/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kiai, Pondok Pesantren, Pahlawan Asli Muhammadiyah

Minggu, 20 Juni 2010

Pesantren Almanar Wajibkan Santri Bikin “Blog”

aat jam istirahat Pesantren Almanar Azhari sedang berlangsung, para siwa menarik nafas sejenak setelah mendapat pelajaran di kelas dan akan dilanjutkan lagi setelah istirahat usai.

Siswa-siswa terlihat asyik bercengkerama di beranda kelas, masjid, dan di saung-saung yang berada di lokasi pesantren yang beralamat Jalan Raya Limo Pelita No 10 Depok, Jawa Barat ini. Akan tetapi di antara santri-santriwati terebut, ada dua santri yang sedang asyik berinternet-ria di pojok ruangan, di salah satu kelas: M Satrio Khalifah Ardhy dan Reza Anugrah Putra.

Yang menarik, kedua siswa tersebut sedang membuka blog mereka masing-masing. Satrio yang memiliki alamat blog, www.str21.blogspot ini menjelaskan dia sering mengunduh berita-berita yang terjadi di sekelilingnya. Saya ingin berbagi informasi dengan orang lain melalui dunia maya, tutur siswa Kelas 2 SMA yang berasal dari Bekasi ini.

Selain itu, lanjutnya, dia juga sering memberi catatan terhadap apa yang terjadi di Indonesia dan dunia international, terutama dunia Islam. Di blog, saya memberi catatan tentang gempa Tasik dan bagaimana perjuangan rakyat Palestina, katanya sambil menunjukkan isi blog-nya tersebut kepada Pelita.

Pesantren Almanar Wajibkan Santri Bikin “Blog” (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Almanar Wajibkan Santri Bikin “Blog” (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Almanar Wajibkan Santri Bikin “Blog”

Menurut siswa berkaca-mata yang juga hafal empat juz Al-Quran ini, jika betul-betul menguasai, blog bisa dimanfaatkan untuk mencari duit. Makanya, blog harus diisi dengan hal-hal yang baik, ucap santri yang juga berperan sebagai administrator blog Organisasi Siswa Almanar Azhari (Osama) ini: www.osama2009-2010.blogspot.com.

Sama halnya dengan Reza Anugrah Putra, siswa Kelas 3 SMP. Santri yang telah memiliki blog, www.hackod3.co.cc, sejak Kelas 1 ini berdalil saat ini tidak seorang pun bisa lepas dari sains dan teknologi, termasuk internet. Saya isi blog, seputar informasi, tips, dan trik yang berkaitan dengan dunia internet, tutur santri yang telah hafal lima juz Al-Quran ini.

Asli Muhammadiyah

***

PESANTREN Almanar Azhari sepertinya memang berbeda dengan pesantren pada umumnya. Head Master Pesantren Almanar Azhari Nurcholis Suhaimi, MA menuturkan di pesantren yang dipimpinnya tersebut setiap santri dan guru diwajibkan memiliki blog. Makanya, setiap siswa harus memiliki laptop dan semua lokasi pesantren merupakan area free hot spot, tutur alumnus Pesantren Modern Ar-Rasyid, Jawa Timur ini.

Asli Muhammadiyah

Nurcholis mengakui, pada awalnya kebijakan pesantren tersebut mendapat penentangan dari sejumlah orangtua murid. Para orangtua khawatir, anak mereka justru menggunakan internet untuk hal-hal yang tidak baik. Kita tegaskan, pesantren akan mencetak santri yang ahli membuat virus dan membobol password, tapi mempunyai moralitas tinggi, tandasnya.

Hal ini tentu sejalan dengan visi besar Pesantren Almanar Azhari: menjadikan lembaga pendidikan yang dapat menciptakan siswa-siswi yang memiliki kualitas intelektual tinggi serta mempunyai moral, akhlak, dan budi pekerti yang luhur.

Nurcholis tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya yang menguasai dunia maya justru berasal dari orang yang tidak bertanggungjawab. Pesantren berkomitmen akan menghiasi internet dengan ayat-ayat Al-Quran dan wacana keislaman. Dari itu, setiap bada Maghrib dan Subuh, para siswa akan menghafal Al-Quran. Bada Subuh, terangnya, setoran hafalan. Sedangkan bada Maghrib tambah hafalan. Satu hari setiap siswa harus hafal setengah halaman.

Teknologi sebenarnya netral. Tergantung si penggunanya, tutur alumnus Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini berdalil.

Nurcholis menjelaskan penguasaan sains dan teknologi merupakan satu dari lima pilar yang dimiliki Pesantren Almanar Azhari. Sedangkan empat pilar lainnya adalah hafal Al-Quran, menguasai Bahasa Arab dan Inggris, memahami dengan benar ilmu syariah Islamiyyah, dan berakhlakul karimah.

Untuk mencapai lima target tersebut, Pesantren Almanar memadukan sistem pendidikan kepesantrenan (pendidikan Islam), kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, dan kurikulum international. Kurikulum tersebut diterapkan untuk jenjang SMP dan SMA.

Sementara untuk kurikulum pesantren, tuturnya, santri akan mengkaji berbagai kitab yang telah disusun tim Almanar Azhari yang berpedoman pada pelajaran Islamic studies (al-ulum as syariyyah) dari Alazhar University Cairo Mesir.

Pelajarannya meliputi, tafsir, fiqh, ushul fiqh, hadits, tauhid, faraid, dan tahfizh Al-Quran dengan menggunakan sistem talaqqi: pertemuan anatara ustadz dan guru, paparnya. Untuk ilmu fiqh, empat aliran mazhab semua diajarkan. Sementara akidahnya adalah ahlu sunnah wal jamaah.

Selain itu, Pesantren Almanar juga berkerja sama dengan Cambridge University, Inggris. Kerja sama dengan Cambridge University, katanya melanjutkan, meliputi pelajaran, matematika, kimia fisika, biologi, dan Bahasa Inggris. Materi soal ujian berasal dari Cambridge. Lulusan Almanar akan menerima Sertifikat Cambridge, tutur alumnus Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Karena menerapkan sistem perpaduan, Pesantren Almanar tidak membedakan antara pelajaran agama dan umum. Nurcholis mencontohkan, jika belajar tentang biologi, planet, ekosistem misalnya, para pengajar juga akan memberikan penjelasan perspektif Islam. Jadi ada internalisasi nilai-nilai Islam dalam sains, ucapnya.

***

UNTUK menunjang keberhasilan dan kenyamanan santri dalam belajar, siswa Pesantren Almanar memang tidak banyak. Setiap kelas hanya memiliki 25 murid. Setiap tahun pihak pesantren hanya menerima 100 siswa baru: 50 SMP dan 50 SMA yang dibagi dalam dua kelas. Yang menarik, di luar kelas, satu pengasuh akan mendampingi enam murid.

Para santri juga dilengkapi dengan berbagi fasilitas penunjang, mulai dari berbagai laboratorium, perpustakaan, sarana olahraga dan kesehatan, hingga kolam renang. Semua ruangan ber-AC Tentu semua ini tidak mudah dan murah, aku Nurcholis. Perlu kekonsistenan dan kedisisplinan.

Pendiri Pesantren Almanar Azhari KH Manarul Hidayat mengakui bahwa lembaga pendidikan yang didirikannya tersebut hanya bisa diakses oleh siswa yang memiliki IQ tinggi dan berasal dari keluarga yang mampu.

Akan tetapi, buru-buru ia menambahkan, 10 persen dari jumlah santri harus berasal dari keluarga yang tidak mampu: keluarga miskin atau anak yatim. Jadi ada subsidi silang. Sayarat yang pertama tetap: harus pintar, kata Kiai Manarul Hidayat. Ini tidak bisa ditawar. (Zul Hidayat/Pelita)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Hikmah, Nasional, Lomba Asli Muhammadiyah

Selasa, 27 Agustus 2013

136 Santri Tahfizh Dilepas Menag Belajar ke Turki

Jakarta, Asli Muhammadiyah



Sebanyak 136 santri penghafal Al-Quran (Tahfidz) Pesantren Sulaimaniyyah kembali dilepas Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin untuk belajar di Turki. Menag melepas mereka dalam sebuah upacara wisuda santri di Aula HM Rasyidi Gedung Kemenag Jl MH Thamrin No 6 Jakarta, Selasa (11/7).

136 Santri Tahfizh Dilepas Menag Belajar ke Turki (Sumber Gambar : Nu Online)
136 Santri Tahfizh Dilepas Menag Belajar ke Turki (Sumber Gambar : Nu Online)

136 Santri Tahfizh Dilepas Menag Belajar ke Turki

Dalam laporannya, Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin mengatakan, program ini merupakan kerja sama Ditjen Pendis Kemenag dengan Yayasan Pusat Persatuan Kebudayaan Islam Indonesia-Turki (UICCI-United Islamic Cultural Centre of Indonesia-Turkey).

“Kerja sama ini didasari atas komitmen bersama Kementerian Agama dan UICCI ? untuk mencetak kader kiai dan ulama yang mempunyai kapasitas pemahaman Al-Qur’an secara mumpuni,” kata Kamaruddin.

Menurut dia, sesuai nota kesepahaman bersama dari dua belah pihak, santri program ini akan mengikuti proses pembelajaran selama dua tahun di pesantren-pesantren Sulaimaniyah yang tersebar di Indonesia. Setelah itu, dilakukan seleksi ulang terhadap mereka untuk menentukan siapa yang akan lanjut belajar di Turki selama dua tahun.?

“Kerja sama ini sudah berjalan selama tujuh tahun. ? Hingga tahun 2017, jumlah pesantren Sulaimaniyyah di Indonesia sebanyak 29 pesantren dengan jumlah santri 1.700 santri,” paparnya.?

Asli Muhammadiyah

Dari jumlah itu, lanjut Kamaruddin, santri yang sedang belajar di Turki total 325 santri. “120 santri sudah selesai dari Turki dan sekarang tersebar di pesantren-pesantren Sulaimaniyah di Asia Pasifik,” sambungnya.?

Asli Muhammadiyah

Sementara itu, Direktur PD Pontren Ahmad Zayadi mengatakan, program tersebut menjadi bagian dari upaya dan komitmen Ditjen Pendidikan Islam untuk menjadikan Pendidikan Islam-Indonesia sebagai destinasi pendidikan Islam dunia ke depan. Kemenag sejak 2015 telah menetapkan Program 10.000 Hafizh dan Hafizhah di Pesantren.

“Program tahfizh diselenggarakan di sejumlah pesantren di Indonesia dan Turki. Diharapkan, setiap peserta tahfizh dalam kurun waktu dua tahun mampu menuntaskan hafalan Al Quran 30 juz dan pemahaman keagamaan yang baik,” harap Zayadi.

Wisuda Hafidz Al Quran ini dihadiri para pejabat Eselon I dan II Ditjen Pendidikan Islam, pihak UICCI Turki, serta para wali santri beserta keluarga besar masing-masing. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Bahtsul Masail Asli Muhammadiyah

Rabu, 29 Agustus 2012

NU Bandar Lampung Siap Semarakkan Hari Santri 2017

Bandar Lampung, Asli Muhammadiyah. Ketua PCNU Bandar Lampung Ichwan Aji Wibowo mengajak kepada seluruh Warga Nahdliyin untuk menyemarakkan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2017 dengan berbagai bentuk kegiatan.

Bentuk kegiatan konkret yang bisa dilakukan diantaranya mengawali Bulan Oktober ini dengan menyosialisasikan dan mempublikasikan segala hal terkait dengan HSN diberbagai media khususnya di media sosial.

NU Bandar Lampung Siap Semarakkan Hari Santri 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bandar Lampung Siap Semarakkan Hari Santri 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bandar Lampung Siap Semarakkan Hari Santri 2017

"Mari viralkan momen penting Hari Santri Nasional dengan menshare tulisan-tulisan, logo, pamflet, dan apa saja tentang HSN, maksimalkan teknologi dan fasilitas yang ada untuk mewarnai dan menguasai medsos dengan HSN 2017," katanya Pria yang akrab disapa Aji ini, Ahad (1/10).

Ia juga mengingatkan bahwa Hari Santri Nasional sejatinya bukanlah harinya para santri saja. Namun Hari Santri adalah harinya Nahdliyin dimana pada hari tersebut Negara mengakui peran penting NU dalam perjuangan mempertahankan NKRI.

"Kita semua tahu hari tersebut adalah hari dimana dikeluarkanya Resolusi Jihad yang merupakan hasil ijtihad para ulama nahdliyin dipimpin KH Hasyim Asyari dalam menghadapi agresi militer penjajah yang hendak menduduki kota Surabaya," ujar Ketua SC HSN 2017 Provinsi Lampung ini.

Asli Muhammadiyah

Resolusi jihad inilah yang memicu perlawanan rakyat utamanya para santri, dan mayoritas Nahdliyin dalam sebuah pertempuran yang melibatkan massa yang begitu masif, sangat heroik, dan membakar semangat jihad demi mempertahankan negeri dan tanah air.

Peperangan antara masyarakat sipil dengan tentara NICA yang tak berimbang secara persenjataan inilah yang menurutnya merupakan wujud ramuan antara Nasionalisme dengan Agama.

"Selamat Memasuki Bulan Santri Nasional. Kepada seluruh warga Nadliyin, santri, dan kader mari kita semarakkan hari santri ini sebagai momentum betapa pentingnya NU harus tetap besar dan eksis di Negeri ini. Karena NU telah sanggup merumuskan hubungan antara keislaman dan keindonesian agar negeri ini tetap Indonesia," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah Fragmen Asli Muhammadiyah

Sabtu, 25 Maret 2017

Selama Ramadhan, Pesantren Tremas Kirimkan 104 Santri Dakwah ke Desa

Pacitan, Asli Muhammadiyah - Selama bulan Ramadhan, Pesantren Tremas Kabupaten Pacitan menerjunkan sedikitnya 104 santri. Mereka merupakan santri lulusan Madrasah Aliyah Salafiyah Muadalah yang diwisuda sepekan lalu (27/5). Mereka akan melaksanakan tugas wajib Dakwah Bil Hal selama satu bulan penuh.

Mereka disebar ke tiap desa di seluruh wilayah kecamatan di Pacitan dan beberapa daerah di Wonogiri seperti Giritontro, Pracimantoro, Paranggupito, Baturetno, Karangtengah, dan Ngadirojo. Satu santri menempati satu masjid atau mushala. Mereka akan berdakwah di tempat-tempat terpencil yang masih minus pengetahuan agamanya.

Selama Ramadhan, Pesantren Tremas Kirimkan 104 Santri Dakwah ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Selama Ramadhan, Pesantren Tremas Kirimkan 104 Santri Dakwah ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Selama Ramadhan, Pesantren Tremas Kirimkan 104 Santri Dakwah ke Desa

Rais Ma’hadiyah Pesantren Tremas KH Achid Turmudzi mengatakan, para santri dakwah bil hal telah dibekali dengan berbagai keilmuan dan kemampuan sehingga mereka benar-benar siap diterjunkan untuk belajar bermasyarat.

Asli Muhammadiyah

“Karena itu anak-anak harus siap mental. Kepada siapapun harus siap mental. Jangan menjadi orang yang minder,” pesan Kiai Achid saat acara pelepasan program dakwah bil hal, Sabtu (4/6) pagi.

Selama di daerah, mereka akan menjalankan tugas antara lain menjadi imam shalat lima waktu, tarawih, memberikan ceramah dan pengajian, mengurus pelaksanaan zakat fitrah dan bersosialisasi dengan masyarakat. Mereka juga akan melayani pertanyaan masyarakat perihal permasalahan agama.

Asli Muhammadiyah

Lebih luas Kiai Achid mengatakan, melalui program dakwah bil hal ini para santri membawa dua buah misi dari pesantren Tremas, yaitu misi belajar bermasyarakat dan misi mengenalkan dunia pesantren kepada masyarakat luas.

“Selain belajar bermasyarakat, kalian harus ikut menyuarakan dan mengajak kepada masyarakat untuk lebih mengenal pesantren. Kalian harus mendorong masyarakat untuk memasukkan putra-putrinya ke pesantren,” katanya.

Selama berada di tempat Dakwah Bil Hal, pesan Kiai Achid, para santri harus tetap menjaga nama baik pesantren Tremas, dengan selalu bertutur kata yang baik dan berakhlak yang baik.

“Kalau kalian bisa mengajak satu orang saja untuk menjadi baik, maka itu merupakan tiket bagi kalian, dan itu merupakan sebuah keberhasilan,” pungkasnya.

Ketua Panitia Ustadz Joko Margiono mengatakan, program Dakwah bil Hal dimulai sejak tanggal 28 Sya’ban hingga tanggal 2 Syawwal 1437 H. Selama berada di tempat dakwah para santri diminta untuk aktif berkomunikasi dengan tuan rumah dan koordinator masing-masing wilayah dakwah.

“Pesan kami, selalu berkomunikasi yang baik. Sebab mereka belum sepenuhnya mengenal kalian,” jelasnya.

Program wajib Dakwah Bil Hal bagi lulusan pesantren Tremas telah dilakukan sejak awal tahun 2000. Program itu sebagai wahana melatih santri agar kelak dapat benar-benar siap terjun dan mengabdi kepada masyarakat di daerah asal masing-masing.

Tantangan yang sering dihadapi santri antara lain, mereka ditempatkan di sebuah desa yang letak geografisnya jauh dari keramaian, dan? kurangnya sarana transportasi serta komunikasi yang memadai. Namun demikian mereka harus tetap siap menghadapinya. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Makam, Hikmah Asli Muhammadiyah