Ulama


info Ulama
Ulama bahasa
Ulama bahasa nasional
Ulama bahasa indonesia
Ulama belah bambu
Ulama busuk
Ulama berasal dari bahasa yunani yaitu
Ulama belanda
Ulama busuk sby
Ulama berasal dari kata
Ulama global
Ulama gus dur
Ulama golkar
Ulama gender
Ulama gorontalo
Ulama global amerika serikat
habib Ulama mp3
video Ulama full
Ulama gerakan non blok
rahasia Ulama terbaru
Ulama g 30 s pki
Ulama konfrontasi
Ulama kerajaan kutai
Ulama kampus
Ulama kerajaan majapahit
Ulama kotor
Ulama kerajaan tarumanegara
Ulama kompasiana
Ulama luar negeri indonesia
Ulama luar negeri bebas aktif
Ulama luar negeri indonesia adalah
Ulama liberal
Ulama yang membedakan warna kulit disebut
Ulama yang dianut bangsa indonesia
Ulama yang baik
Ulama yahudi
Ulama yang dianut bangsa indonesia adalah
Ulama merupakan
Ulama yaitu

Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Ulama. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Ulama. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Mei 2006

Indonesia Beruntung Miliki Ulama yang Nasionalis

Bandung, Asli Muhammadiyah. Gejolak peperangan di Timur Tengah dan sekitarnya hingga kini belum kunjung menemukan titik temu. Hal ini membuat Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj merasa prihatin melihat wilayah yang mayoritas memeluk agama Islam itu.

Afghanistan, Syiria, Somalia adalah Negara yang hampir seratus persen muslim, tetapi penduduknya terus mengalami perang saudara. Apalagi Syiria dan Iraq merupakan negara yang pernah menjadi pusat peradaban Islam, tetapi setiap hari bom meledak berbagai tempat, dari meledak di pasar, bahkan di masjid.

Indonesia Beruntung Miliki Ulama yang Nasionalis (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Beruntung Miliki Ulama yang Nasionalis (Sumber Gambar : Nu Online)


Indonesia Beruntung Miliki Ulama yang Nasionalis

Kondisi yang memalukan dan memilukan. Tidak jelas siapa melawan siapa, tujuannya apa, targetnya siapa. Kalau di Indonesia sudah jelas musuhnya, melawan terorisme dan narkoba sebagai musum bersama, ujar Kiai Said saat mengisi seminar tentang Optimalisasi Peran Mahasiswa NU di Kampus yang digelar oleh KMNU, di auditorium UPI Bandung, Jumat (22/1) lalu.

Asli Muhammadiyah

Menurut Kiai Said, di Indonesia sebelum NU lahir, sekitar tahun 1914 ulama ternyata sudah mempunyai visi untuk menyinergikan antara Islam dan wathaniyah (kebangsaan). Karenanya Islam saja atau wathaniyah saja belum tentu bisa mempersatukan umat.

Asli Muhammadiyah

Ulama kita sampai punya jargon hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman, red). Itu bukan hadis, makanya coba cari ulama Timur Tengah yang mengeluarkan jargon seperti itu pasti tidak ada, terangnya.

Alhamdulillah kita beruntung punya pemimpin ulama yang nasionalis, sampai-sampai mengeluarkan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 tentang membela tanah air hukumnya fardhu ain, sambungnya menceritakan tentang kisah KH Hasyim Asyari dan ulama-ulama lain yang berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia bersama para santri.

Lebih lanjut, Said Aqil menambahkan bahwa mayoritas ulama-ulama yang mencintai tanah air sudah ada jauh sebelum NU lahir pada tahun 1926, sehingga sampai kini perjuangannya diteruskan oleh-oleh ulama-ulama NU.

Sudah saatnya NU harus tampil di depan, Negara kita kalau tidak ada NU sudah wallahul muwafiq ila aqwamith thariq, tegasnya. (M. Zidni Nafi/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/65255/indonesia-beruntung-miliki-ulama-yang-nasionalis

Asli Muhammadiyah

Jumat, 19 April 2013

Selain Ulama Besar, Mereka Juga Seniman

Jakarta, Asli Muhammadiyah - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menjelaskan, ada banyak ulama besar di dalam sejarah peradaban Islam yang juga seorang seniman seperti peletak dasar mazhab Syafi’iyyah, Imam Syafi’i.

“Imam Syafi’i sebelum menjadi seorang ulama besar, penyair,” kata Kiai Said saat memberikan sambutan dalam acara Pameran Tunggal Seni Rupa Nabila Dewi Gayatri di Grand Syahid Jaya Hotel Jakarta, Senin (8/5).

Selain Ulama Besar, Mereka Juga Seniman (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Ulama Besar, Mereka Juga Seniman (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Ulama Besar, Mereka Juga Seniman

Kiai Said menambahkan, Sayyidina Ali bin Abi Tholib adalah juga seorang seniman sebelum menjadi seorang khalifah. “Sayyidina Ali sebelum jadi khalifah, penyair, seniman,” terangnya.

Asli Muhammadiyah

Kiai lulusan Ummul Quro Mekkah itu mengutip apa yang disampaikan oleh Dzun Nun Al Misri bahwa seni adalah suara kebenaran yang tidak bisa bohong dan bisa menghantarkan seseorang untuk menuju kepada Allah.

“Dengan seni seseorang bisa mencapai makrifat karena seni tidak bisa bohong,” ucapnya.

Lebih jauh, pengasuh Pesantren Luhur Al Tsaqafah itu memberikan apresiasi yang tinggi kepada Nabila Dewi Gayatri karena sudah melukis ulama-ulama Nusantara. Menurutnya, ini adalah bukti bahwa sang pelukis benar-benar cinta kepada ulama.

Asli Muhammadiyah

“Yang dilukis nggak komersil, nggak menarik, nggak nyahwati. Tapi karena Mbak Nabila cinta ulama, kagum dengan para ulama, maka yang dilukis ulama,” urainya.

Hadir dalam acara tersebut Kapolri Tito Karnavian, Ketua Fatayat NU Anggia Ermarini, Ketua PBNU Marsudi Syuhud, dan Robikin Emhas, dan sejumlah seniman.

Dalam pameran tersebut, ada empat puluh tujuh sosok kiai atau ulama yang dipamerkan. Sebagian besarnya adalah kiai-kiai NU mulai dari Hadratussyekh Hasyim Asyari sampai KH Said Aqil Siroj. (Muchlishon Rochmat/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Warta, Pertandingan, IMNU Asli Muhammadiyah

Senin, 01 Januari 2018

Inilah Bedanya Ulama Indonesia dengan Timur Tengah Menurut Ketum PBNU

Rembang, Asli Muhammadiyah. Ketua Umum Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mengatakan, di Timur Tengah tidak ada ulama yang nasionalis, sedangkan di Indonesia seorang ulama juga dikenal sebagai nasionalis.

Kiai asal Cirebon Jawa Barat ini kemudian menyebut beberapa nasionalis Timur Tengah yang bukan ulama, diantaranya Saddam Husain, dan Muammar Khadafi. Sementara dari kalangan ulama yang tidak nasionalis diantaranya, Hasan Banna dan pemikir sekaligus aktivis Islam politik Mesir, Muhammad Ghozali.

Inilah Bedanya Ulama Indonesia dengan Timur Tengah Menurut Ketum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Bedanya Ulama Indonesia dengan Timur Tengah Menurut Ketum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Bedanya Ulama Indonesia dengan Timur Tengah Menurut Ketum PBNU

"Mereka ulama besar tapi bukan nasionalis. Yang nasionalis bukan ulama," jelas Kiai Said saat peresmian Masjid Al-Amin, Desa Pamotan Kecamatan Pamotan Kabupaten Rembang, Selasa (17/5) kemarin.

Di Indonesia, lanjut kiai Said, Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari adalah ulama nasionalis. Begitu juga Kiai Wahab Chasbullah.?

"Sampai-sampai KH Hasyim Asyari mengatakan, membela tanah air fardlu ain. Setiap orang wajib (membela tanah air), sama dengan shalat. Siapa orang yang meninggal dalam rangka membela tanah air, mati sahid. Dan siapa yang membela dan memihak penjajah, boleh dibunuh. Walaupun kiai Hasyim tidak mengatakan kafir," ungkapnya.

"Dari sini KH Hasyim Asyari mempunyai jargon, hubbul wathon minal iman. Ini bukti betapa nasionalismenya ulama Indonesia," jelas alumus Universitas Umm al-Qura, Mekkah ini. (Aan Ainun Najib/Zunus)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah Santri, Jadwal Kajian, Cerita Asli Muhammadiyah

Senin, 08 Januari 2018

Penting Bagi Pelajar NU untuk Pahami Sejarah Peran Ulama

Brebes, NU Onlline. Pengasuh Pesantren al-Arifah Buntet Cirebon, KH Fariz Elt Haque Fuad Hasyim mengingatkan, bahwa bangsa yang besar jangan sampai melupakan sejarah, karena hal itu penting untuk dipahami. Terutama sejarah peran ulama dalam merebut dan mempertahankan NKRI. Ulama memiliki andil yang terbesar ? atas berdiri tegaknya NKRI.

Hal tersebut disampaikan KH Fariz pada Halalbihalal Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Songgom, Brebes di halaman Masjid Baitul Muttaqin Dukuh Tegalurung Nahdliyin desa Gegerkunci, Songgom, Senin (27/7) lalu.

Penting Bagi Pelajar NU untuk Pahami Sejarah Peran Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Penting Bagi Pelajar NU untuk Pahami Sejarah Peran Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Penting Bagi Pelajar NU untuk Pahami Sejarah Peran Ulama

Kang Fariz, demikian panggilan akrabnya, menunjukan bukti kalau peristiwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 merupakan hasil keputusan dari Rapat Besar Konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura, 21-22 Oktober di Surabaya. Puncaknya, atas fatwa KH Hasyim Asy’ari menggeloralah peristiwa pada 10 November di Surabaya yang dikenal sebagai Hari Pahlawan.?

Asli Muhammadiyah

“Atas fatwa dari KH Hasyim Asy’ari, seluruh Ulama dan Santri serta elemen masyarakat lainnya bahu membahu mempertahankan dan mengusir penjajah dari Bumi Pertiwi,” tegas Kang Fariz.?

Dia juga menerangkan, bahwa salah satu cara menghancurkan Indonesia adalah menjauhkan masyarakat dari Ulama. Masyarakat dijauhkan dari ilmu ulama, dibuat bodoh. agar bisa di propaganda oleh pihak lain yang tidak suka dengan keberadaan NKRI. Oleh karena itu. IPNU–IPPNU ? harus jadi garda terdepan mengawal Ulama.

Asli Muhammadiyah

Beliau juga berpesan, agar ukhuwah Islamiyah, wathoniyah, basyariyah, dan nahdliyah harus terus dipertahankan. “Insya Allah Indonesia menjadi negeri yang Baldatun Thoyibatun Warobbun Ghofur,” tandasnya.

Ketua PAC IPNU Kecamatan Songgom Imam Hadi Saputra menjelaskan, bahwa momentum halalbihalal ini dijadikan sebagai media untuk saling memafkan setelah ditempa 1 bulan lamanya berpuasa. Halalbihalal adalah tradisi Nahdlatul Ulama yang dicetuskan oleh KH Wahab Chasbullah yang merupakan Pahlawan Nasional untuk mempererat tali silaturahmi.?

“Acara Halalbihalal ini kita akan kembali fitri sebagai modal kita melaksanakan aktivitas kedepan yang lebih baik,” ujar Imam.

Turut Hadir dalam acara tersebut Ketua MWCNU Songgom Harun SAg, Camat Songgom Gunarto, Ketua PC IPNU Brebes Ferial, PC GP Ansor Brebes, Pembina, Alumni IPNU-IPPNU dan ratusan kader IPNU–IPPNU di Kecamatan Songgom. (Wasdiun/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kajian Sunnah, AlaSantri Asli Muhammadiyah

Sabtu, 11 Oktober 2014

Huruf Pegon, Pemersatu Ulama Nusantara

Sejarah perkembangan Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari tulisan. Terlebih tulisan Arab Pegon yang merupakan sarana untuk mentransfer ilmu agama dengan perantara dunia tulis-menulis.

Hal ini tidak menafikan adanya transfer ilmu dengan cara mendengarkan materi yang telah disampaikan oleh seorang ulama atau kiai yang mengajak kepada agama Allah dengan melalui lisan, entah dengan cara dakwah keliling atau dengan cara menyelenggarakan pengajian agama di surau-surau atau pesantren-pesantren.

Huruf Pegon, Pemersatu Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Huruf Pegon, Pemersatu Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Huruf Pegon, Pemersatu Ulama Nusantara

Transfer ilmu dengan tulisan dilakukan oleh ulama atau kiai dengan tujuan agar ilmu bisa lebih terjaga dan bisa dinikmati oleh orang banyak. Bukan orang yang hidup semasanya, namun generasi yang setelahnya juga bisa meneguk ilmu tadi. Para ulama atau kiai tadi menulis juga dikarenakan melihat kondisi kapasitas otak manusia yang tidak bisa luput dari salah dan lupa. Sehingga, perlu adanya pengabadian dengan cara menulis.

Dengan adanya tulisan Arab Pegon di kala itu, ilmu akan lebih terjaga dari perubahan dan penyimpangan. Bukti pentingnya adanya sebuah tulisan, banyak ulama Nusantara di kala itu yang meninggalkan sebuah karya, seperti Suluk Sunan Bonang (Head Book Van Bonang) yang dipercaya sebagai karya Sunan Bonang, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja-Raja Pasai, Risalah Tasawuf Hamzah Fansuri, karya kiai Rifai Kalisasak, karya kiai Shaleh Darat, dan lain-lain. Karya-karya ulama Nusantara ini kebanyakan ditulis dengan aksara Arab pegon, baik karya asli atau hasil dari terjemahan dari kitab-kitab yang berliteratur Arab.

Asli Muhammadiyah

Huruf Pegon berasal dari lafal Jawa pego, yang mempunyai arti menyimpang. Hal ini dikarenakan memang huruf Pegon ini menyimpang dari literatur Arab dan juga menyimpang dari literatur Jawa. Bagi yang pernah nyantri tentunya faham dengan huruf Pegon. Huruf-huruf pegon ini bisa dikatakan sebagai sebuah aksara yang nyleneh karena susunan atau tatanannya yang agak berbeda dengan bahasa aslinya (Arab bukan, Jawa juga bukan).

Asli Muhammadiyah

Arab Pegon ini disebut pula Arab Pego atau Arab Jawi. Yaitu, tulisan yang menggunakan huruf Arab atau huruf hijaiyah, akan tetapi dalam praktik bahasanya menggunakan bahasa Jawa atau bahasa daerah lainnya yang sesuai dengan selera orang yang ingin menggunakannya. Di suatu daerah, Arab Pegon juga disebut dengan Arab Melayu. Hal ini dikarenakan menggunakan bahasa Melayu atau Indonesia; atau bahasa lokal lain yang ditulis dengan huruf Arab.

Penamaan huruf Pegon sangatlah banyak. Di daerah Malaysia dinamakan huruf Jawi. Sedangkan di kalangan pesantren dinamai huruf Arab Pegon. Akan tetapi, untuk kalangan yang lebih luas, huruf Arab Pegon dikenal dengan istilah huruf Arab Melayu karena ternyata huruf Arab berbahasa Indonesia ini telah digunakan secara luas di kawasan Melayu mulai dari Terengganu (Malaysia), Aceh, Riau, Sumatera, Jawa (Indonesia), Brunei, hingga Thailand bagian Selatan. Maka tidak mengherankan, jika kita membeli produk-produk makanan di kawasan dunia Melayu (Malaysia, Thailand Selatan, Brunei, dan beberapa wilayah di Indonesia) dapat dipastikan terdapat tulisan Arab Pegon dalam kemasannya walaupun dengan bahasa yang berbeda. Bahasa tersebut disesuaikan dengan tempat atau Negara yang mengeluarkan produk-produk tersebut.

Huruf Arab Pegon ini mempunyai keunikan tersendiri. Jika dilihat dari kejauhan, tulisan Arab Pegon seperti tulisan Arab pada biasanya. Namun, kalau dicermati sebenarnya, susunannya atau rangkaian huruf-hurufnya bukan susunan bahasa Arab. Orang Arab asli tidak akan bisa membaca tulisan Arab Pegon. Seandainya mereka bisa membaca Arab Pegon, niscaya tidak sejelas dengan bacaan orang Jawa atau Melayu asli.

Mengenai siapa yang menemukan huruf Arab Pegon ada beberapa pendapat. Menurut suatu catatan, huruf Arab Pegon muncul sekitar tahun 1400 M yang digagas oleh RM. Rahmat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel di Pesantren Ampel Dentha Surabaya. Sedangkan menurut pendapat lain, penggagas huruf Arab Pegon adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Ada juga yang mengatakan bahwa huruf Arab Pegon ini ditemukan oleh Imam Nawawi Al-Bantani.

Sayangnya, huruf Arab pegon kini tidak lagi dikenal oleh masyarakat Islam secara luas. Padahal, menurut sejarahnya, huruf Arab Pegon telah digunakan secara luas oleh para penyiar agama Islam, ulama, penyair, sastrawan, pedagang, hingga politikus di kawasan dunia Melayu. Peran penjajah juga mempunyai pengaruh dalam menggrogoti berkurangnya pemahaman tentang huruf Arab Pegon. Sebab, pada masa penjajahan dalam pemerintahannya, tulisan yang digunakan untuk urusan negara adalah dengan menggunakan huruf Latin. Sedangkan huruf Arab Pegon terisolir di dunia pesantren. Keadaan ini berbeda dengan sebelum penjajah menginjakkan kakinya di bumi Nusantara.

Kongres bahasa yang diadakan di Singapura pada 1950-an juga telah memperkuat kedudukan huruf Romawi. Salah satu keputusan dalam kongres tersebut menghasilkan pembentukan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia yang mempelopori dan mengompori penggunaan abjad Romawi. Saat itulah hampir semua penerbit koran, majalah, dan buku dengan terpaksa mengganti aksara Arab pegon dengan huruf Romawi.

Pada tahun 2007 telah diselenggarakan Kongres Ijtima Ulama Nusantara ke 2 di Malaysia. Dalam kesempatan ini, ada ulama asal Indonesia (KH. Maimeon Zubair) telah menyampaikan betapa kelestarian tradisi salaf dalam tahap kritis. Beberapa ajaran salaf mulai terlupakan, salah satunya adalah Arab Pegon. Di tengah masyarakat, Arab Pegon mulai ditinggalkan secara perlahan.

KH. Maimeon Zubair dalam beberapa kesempatan tak henti-hentinya memotivasi beberapa pihak untuk senantiasa mentradisikan salaf, termasuk menghidupkan kembali Arab Pegon sebagai ikon salaf yang perlu dilestarikan.

Jika tradisi Arab Pegon ini terlupakan, maka orang Islam di Indonesia ini telah lupa akan sejarah masuknya Islam di Indonesia. Oleh karena itu, marilah kita menggali dan melestarikan Arab Pegon agar tidak hilang ditelan bumi. Banyak sekali ilmu-ilmu ulama atau kiai terdahulu yang bertuliskan dengan Arab Pegon. Jika bukan kita umat Islam yang melestarikan, lalu siapa?

*Penulis adalah Esais dan ketua Website PP. Al Anwar Sarang Rembang Jateng asal Pati.

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kyai, IMNU Asli Muhammadiyah

Sabtu, 11 November 2017

Kenapa Silaturrahim Alim Ulama di Sarang? Ini Penjelasan Kiai Said

Rembang, Asli Muhammadiyah. Pelaksanaan Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara digelar PBNU di Pesantren Al-Anwar Sarang, Kabupaten Rembang, pada Kamis (16/3) ? berlangsung lancar, meriah, dan penuh khidmat. Namun yang menjadi pertanyaan, kenapa acara tersebut digelar di Sarang?

Kenapa Silaturrahim Alim Ulama di Sarang? Ini Penjelasan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Silaturrahim Alim Ulama di Sarang? Ini Penjelasan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Silaturrahim Alim Ulama di Sarang? Ini Penjelasan Kiai Said

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj menjelaskan, acara tersebut dilaksanakan di Pesantren Al Anwar agar mendapatkan berkah. "Kenapa diadakan di Sarang? Agar kita bisa mengambil barokah. Karna Mbah Moen (KH Maimun Zubair) adalah kiai yang paling sepuh," jelas Kiai asal Cirebon itu.

Lebih lanjut, Kiai Said, memohon doa restu kepada para kiai sepuh NU agar ia dapat menjalankan tugasnya sebagai Ketua Umum PBNU dengan baik dan lancar. "Saya mohon doa (kepada para kiai) agar dalam menjalan tugas sebagai Ketum PBNU bisa lancar," pintanya.

Asli Muhammadiyah

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang KH Maimun Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen merasa senang atas terlaksananya acara pertemuan ulama di pondok pesantrennya. "Saya merasa gembira sekali dan bersyukur kepada Allah atas terlaksananya acara ini di sini," tutur Mbah Moen.

Dengan hadirnya para ulama di pondok pesantrennya, Mbah Moen berharap suatu saat nanti, santri-santrinya bisa menjadi penerus para ulama besar tersebut.?

"Saya berharap santri-santri di sini bisa meneruskan ulama-ulama," pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Hadits, Sunnah Asli Muhammadiyah

Senin, 23 Oktober 2017

KH Ahmad Dahlan: Ahli Falak Nusantara

Salah satu ulama Nusantara yang dikenal ahli dalam bidang ilmu falak adalah KH Ahmad Dahlan. Kiai Dahlan lahir di Termas Pacitan Jawa Timur 1862 dan wafat di Semarang 1911. Makam beliau berada di sisi timur Makam KH Sholeh Darat di Makam Bergota Semarang. Menyebut nama Ahmad Dahlan memang orang menjadi tertuju pada sosok pendiri Muhammadiyah. Dan ternyata dua sosok bernama yang sama itu, KH Ahmad Dahlan Termas dan KH Ahmad Dahlan Yogyakarta, sama-sama mengaji di Pondok Pesantren KH Sholeh Darat.

KH Ahmad Dahlan Termas (sebagian orang menyebut KH Ahmad Dahlan Semarang) merupakan putra dari Abdullah bin Abdul Mannan bin Demang Dipomenggolo I yang merupakan keturunan Ketok Jenggot punggawa Keraton Surakarta, tokoh cikal bakal berdirinya daerah Termas. Dipomenggolo I merupakan seorang santri ahli agama yang berdarah bangsawan yang mendirikan Pesantren Semanten. Salah satu putra Dipomenggolo bernama Mas Bagus Sudarso juga dikirim belajar agama di Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo. Di pesantren yang juga mengkaji budaya ini diasuh Bagus Burhan atau Ronggowarsito.

Kakak dari KH Ahmad Dahlan adalah KH Mahfudz Termas (1842-1920) dan adiknya bernama KH Dimyati Termas (wafat 1934). Tiga bersaudara ini memiliki keilmuan yang sangat luar biasa. Dunia pesantren sangat mengakui peran besar kakak-beradik ini dalam keilmuan-keilmuan agama Islam terutama paham ahlussunnah wal jama’ah.

KH Ahmad Dahlan: Ahli Falak Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ahmad Dahlan: Ahli Falak Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ahmad Dahlan: Ahli Falak Nusantara

Sosok KH Ahmad Dahlan yang sangat pandai tidak bisa dilepaskan dari kiprah keluarganya. Keluarga Termas memang sudah dikenal melahirkan ulama Nusantara yang sangat berkontribusi besar dalam dunia pesantren. Misalnya KH Mahfudz Termas dikenal sebagai ulama yang memiliki puluhan karya kitab dan spesialis di bidang hadits, telah mencetak murid yang menjadi ulama pesantren.?

Asli Muhammadiyah

Keahlian KH Ahmad Dahlan Termas dalam bidang ilmu falak ditandai dengan penyebutan namanya dengan sebutan KH Ahmad Dahlan Alfalaky. Kepandaiannya dalam ilmu agama, menjadikannya diambil sebagai menantu KH Sholeh Darat. Ia dinikahkan dengan putri KH Sholeh Darat bernama RA Siti Zahra dari jalur istri RA Siti Aminah binti Sayyid Ali. Dari pernikahan ini, pada tahun 1895, melahirkan anak bernama Raden Ahmad Al Hadi yang kelak ketika dewasa menjadi tokoh Islam di Jembrana Bali.

KH Ahmad Dahlan memulai pendidikannya dari para kiai yang ada di Termas kemudian melanjutkan belajar kepada kakaknya KH Mahfudz Termas yang ada di Makkah. Saat di tanah suci inilah KH Ahmad Dahlan bersahabat dengan ahli falak Syaikh Muhammad Hasan Asy’ari Bawean Madura (wafat 1921). Syaikh Muhammad Hasan Asy’ari mempunyai karya Kitab Muntaha Nataiji al Aqwal.



Asli Muhammadiyah

Dalam buku Materpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1320-1945 karya Zainul Milal Bizawie disebutkan bahwa KH Ahmad Dahlan dan Syaikh Muhammad Hasan Asy’ari berangkat menuju beberapa wilayah Arab dan menuju ke Al Azhar Kairo. Di Kairo keduanya berjumpa dengan dua ulama Nusantara: Syaikh Jamil Djambek dan Syaikh Ahmad Thahir Jalaludin. Selama di Kairo keduanya mengkhatamkan kitab induk ilmu falak karya Syaikh Husain Zaid Al Mishri, Al Mathla’ fi Al Sa’id fi Hisabi al Kawakib ‘ala Rashdi al Jadid yang ditulis awal abad 19.

Setelah selesai belajar di Arab, kemudian ia pulang ke tanah air. Berdasarkan saran dari kakaknya, sesampai di tanah air KH Ahmad Dahlan bersama dengan Syaikh Hasan Asy’ari diminta untuk belajar agama dengan KH Sholeh Darat di Semarang. Maka pesan itu dilaksanakan. KH Ahmad Dahlan mengaji dengan KH Sholeh Darat di Semarang. Dan sudah menjadi tradisi para ulama Nusantara, para santri yang sudah belajar di Arab tetap diminta belajar di Indonesia lagi, terutama dengan KH Sholeh Darat atau KH Cholil Bangkalan.

Karya-karya di bidang Falak yang dilahirkan oleh KH Ahmad Dahlan adalah: Tadzkiratu al Ikhwan fi Ba’dli Tawarikhi wal ‘Amali al Falakiyati (selesai ditulis 1901), Natijah al Miqat (selesai ditulis 1903) dan Bulughu al Wathar (selesai ditulis 27 Dzul Qa’dah 1320 di Darat Semarang). Ditengarai, masih banyak karya-karya KH Ahmad Dahlan yang sampai sekarang belum terlacak.?

Dalam kitab Tadzkiratu al Ikhwan fi Ba’dli Tawarikhi wal ‘Amali al Falakiyati ditegaskan oleh Zainul Milal Bizawie sebagai kitab hisab awal bulan pertama yang ditulis oleh ulama Nusantara. Ini menjawab atas dugaan selama ini bahwa kitab hisab awal bulan yang pertama ditulis adalah Sullam Nayyirin yang baru ditulis 1925. Pola kitab karya KH Ahmad Dahlan masih menggunakan angka Abajadun dengan memakai Zaij Ulugh Beik.



Kitab Natijah al Miqatberisi tentang kaidah ilmu falak tentang penggunaan rubu’ mujayyab dalam penentuan awal waktu shalat dan arah kiblat. Dalam kitab ini juga dirangkumkan pemikiran-pemikiran guru KH Ahmad Dahlan: Syaikh Husain Zaid Mesir, Syaikh Abdurrahman bin Ahmad Mesir, Syaikh Muhammad bin Yusuf Makkah dan KH Sholeh Darat. Kemudian pada tahun 1930, kitab Natijah al Miqatdisyarahi oleh Syaikh Ihsan Jampes (wafat 1952) dengan kitabnyaTashrihu al Ibarat.

Kitab Bulughu al Watharini merupakan kitab falak pertama yang ditulis ulama Nusantara dengan sistem haqiqi tahqiqi. Kitab ini selesai ditulis bersamaan dengan kitab Muntaha Nataij al Aqwal karya Syaikh Hasan Asy’ari Bawean. Induk kitab yang dirujuk dalam membuat Bulughu al Wathardan Muntaha Nataij al Aqwal berasal dari ilmu zaij kitab Al Mathla’ fi Al Sa’id fi Hisabi al Kawakib ‘ala Rashdi al Jadid karya Syaikh Husain Zaid Al Mishri.

Khazanah keilmuan falak yang dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan dan Syaikh Hasan Asy’ari Bawean ini yang turut serta mewarnai perkembangan ilmu falak di Pondok Pesantren. Dinamika keilmuan falak di dunia pesantren selalu merujuk pada kajian-kajian ilmiah ulama Nusantara yang mampu mengembangkan ilmu falak yang berasal dari Arab.

KH Ahmad Dahlan dalam kesehariannya, bersama keluarga menempati rumah di sekitar Masjid Agung Kauman Semarang. KH Ahmad Dahlan selain dikenal sebagai ulama, juga ahli dalam bidang dagang dan tergolong berekonomi kuat (punya banyak toko di Pasar Johar). Bekal itulah yang digunakan untuk berjuang membangun dakwah Islam di Kota Semarang. Dan sepeninggal KH Sholeh Darat pada tahun 18 Desember 1903, Pondok Pesantren Darat diasuh oleh KH Ahmad Dahlan.

Selama kurang lebih delapan tahun, KH Ahmad Dahlan menggantikan guru sekaligus mertuanya mendidik para santri yang belajar ilmu agama di Pondok Pesantren Darat. Dengan segala dedikasi penuh, para santri yang mengaji di Pondok tersebut diajar sebagaimana cara KH Sholeh Darat mendidik. Termasuk KH Ahmad Dahlan mengajarkan ilmu falak kepada para santri-santrinya dengan menggunakan tiga kitab falak yang ditulisnya.

Keahlian ilmu falak yang dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan tidak pernah lepas dari keahlian falak yang dimiliki oleh KH Sholeh Darat. Dalam beberapa kisah disebutkan bahwa KH Sholeh Darat yang merupakan guru dari ulama Jawa ini sangat tepat dalam menghitung waktu shalat dan penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawwal.?

Proses penegasan dalam penentuan waktu shalat dan Ramadhan ia tegaskan dalam beberapa karyanya. Termasuk keterbukaan KH Sholeh Darat dalam mengawal tradisi “Dugderan” di Kota Semarang sebagai bentuk kepedulian ilmu falak dan ilmu sosial. Dimana ketika masyarakat Semarang ingin menyambut kehadiran Ramadhan dirayakan dengan bunyi-bunyi bedug dan petasan, maka disebut dug der (dug bunyi bedug dan der bunyi petasan).

Keahlian falak yang dimiliki KH Sholeh Darat adalah ketika diminta menghitung jumlah palawija yang ada di dalam karung oleh Belanda. Dengan sangat cepat berdasar ilmu hitung falaknya, maka KH Sholeh Darat memberikan jawaban dengan tepat. Kekaguman Belanda pada prediksi jumlah isi palawija itulah yang menjadikan Belanda kagum dengan ilmu falak KH Sholeh Darat.

Putra KH Ahmad Dahlan yang bernama Raden Ahmad Al Hadi berdakwah menuju Loloan Timur Jembrana Bali adalah karena mendapatkan isyarat dari KH Cholil Bangkalan (1820-1925) selaku gurunya. Selain itu, setelah KH Ahmad Dahlan wafat, Ibunya menikah lagi dengan KH Amir dan pindah ke Simbang Kulon Pekalongan. Dengan bekal ilmu agama yang dimiliki itu, putra KH Ahmad Dahlan bernama Ahmad ini berdakwah ke Bali.?

Sebagaimana ayahnya, Raden Ahmad Al Hadi sangat senang dengan ilmu pengetahuan agama. Walaupun sejak kecil sudah dilatih berdagang di Pasar Johar Semarang, namun Raden Ahmad Al Hadi tetap semangat mengaji. Sehingga di usia 16 tahun ketika ia ditinggal wafat KH Ahmad Dahlan ia ikut belajar di Pondok Pesantren ayah tirinya, KH Amir. Setelah itu ia merantau dari pondok ke pondok hingga pernah belajar Makkah.

Sebagaimana dijelaskan oleh KH Fathur RA (anak kandung Raden Ahmad bin Ahmad Dahlan), bahwa Raden Ahmad sangat tinggi minat belajarnya. Pondok Pesantren yang dijadikan tempat mencari ilmu adalah: Pondok Pesantren Kaliwungu (berteman dengan KH Abul Choir selama dua tahun), Pondok Pesantren Buntet Cirebon (belajar ilmu silat), Pondok Pesantren Kiai Umar Sarang (belajar ilmu alat), Pondok Pesantren KH Munawwir Krapyak Yogyakarta (belajar Al Qur’an), Pondok Pesantren KH Dimyati Termas, Pondok Pesantren KH Idris Jamsaren Solo.

Setelah tamat dari Pondok Manbaul Ulum Jamsaren Solo dengan bekal Beslit dari Governoor Belanda Jawa Tengah, Raden Ahmad melanjutkan belajar ke Makkah dan Madinah berguru dengan pamannya sendiri, KH Mahfudz Termas.?

Sepulang dari Arab, Raden Ahmad masih mengaji dengan KH M Hasyim Asy’ari di Jombang (satu tahun) dan KH Cholil Bangkalan Madura (satu tahun). Saat di Bangkalan inilah ia bertemu dengan KH Kusairi Shiddiq (mertua KH Abdul Hamid Pasuruan). Perintah Kiai Cholil pada Raden Ahmad adalah menuju Bali bertemu dengan murid Kiai Cholil yang bernama Tuan Guru Haji Muhammad di Loloan Timur Jembrana Bali. Dan ia jalani hingga mendirikan Pondok Pesantren Manba’ul Ulum di Jembrana Bali. Nama “Manba’ul Ulum“ adalah tabarukan dengan almamaternya saat mondok di Jamsaren.Wallahu a’lam.





M. Rikza Chamami

Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang dan Dosen UIN Walisongo



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Lomba, AlaSantri Asli Muhammadiyah

Selasa, 13 September 2016

Ilmu Kanuragan Pagar Nusa di Bawah Kendali Ulama

Klaten, Asli Muhammadiyah. Ketua Umum (Plt) Pimpinan Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa, Ajengan Mimih Haeruman, hadir dalam pembukaan kegiatan Jambore I Pagar Nusa se-Soloraya dan DIY, yang diadakan oleh Pengurus Cabang Pagar Nusa Kabupaten Klaten, belum lama ini (21/10).

Dalam sambutannya, Ajengan Mimih menyampaikan bahwa nama Pagar Nusa itu bisa diartikan secara fleksibel, akan tetapi bermuara pada tujuanya yaitu menjadi pagarnya NU dan bangsa. Pagar Nusa ini lahir di tengah-tengah pesantren yang insyaallah selalu dibarokahi oleh para alim ulama. Tujuan utamanya yakni menjadi pagar NU dan bangsa, tegasnya.

Ilmu Kanuragan Pagar Nusa di Bawah Kendali Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Ilmu Kanuragan Pagar Nusa di Bawah Kendali Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)


Ilmu Kanuragan Pagar Nusa di Bawah Kendali Ulama

Ditambahkan dia, bahwasanya ilmu kanuragan dapat membuat orang memiliki sifat merasa lebih kuat dibandingkan yang lain. Pada umumnya seorang yang diberi didikan ilmu kanuragan, suwuk-suwuk, jampi-jampi, dan aurod akan menjadi sombong, kata dia.

Asli Muhammadiyah

Berbeda dengan yang diajarkan di Pagar Nusa, menurut dia, ilmu kanuragan tidak diajarkan untuk pamer kekuatan maupun ajang kesombongan. Di Pagar Nusa, dididik untuk selalu patuh kepada dawuh para ulama, sehingga semuanya akan secara otomatis sistem kendali ada di akhlak ulama, tutur dia.

Asli Muhammadiyah

Pada acara bertema Konstruksi Bela Negara Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Dalam Meneguhkan Perdamaian Dan Semangat Kebangsaan ini juga dihadiri para pendekar Pagar Nusa dari wilayah eks-Karesidenan Surakarta dan DIY.

Acara Jambore ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan peringatan Hari Santri di Klaten. Ketua PCNU Klaten, Mujibburrohman, mengatakan semangat resolusi jihad tidak hanya berlaku pada masa perjuangan mengusir penjajah, akan tetapi sampai hari kiamat. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72428/ajengan-mimih--ilmu-kanuragan-pendekar-pagar-nusa-di-bawah-kendali-akhlak-ulama

Selasa, 19 Agustus 2014

Kapolres Rembang: Nasionalisme Ulama Tidak Diragukan

Rembang, Asli Muhammadiyah. Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Rembang, Jawa Tengah AKBP Sugiarto memberikan apresiasi atas terselenggaranya acara Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara di Sarang Rembang.?

Kapolres Rembang: Nasionalisme Ulama Tidak Diragukan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolres Rembang: Nasionalisme Ulama Tidak Diragukan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolres Rembang: Nasionalisme Ulama Tidak Diragukan

“Kita sangat apresiasi (acara silaturahim tersebut),” katanya.?

Menurutnya, peran ulama dalam menjaga dan mengawal republik ini tidak diragukan lagi. Ia mengakui, dalam merebut kemerdekaan Indonesia, peran ulama tidak bisa diremehkan. “Nasionalisme dengan ulama itu tidak bisa dipisahkan,” jelasnya.

Di dalam mengamankan acara silaturahim tersebut, ia mengerahkan lima puluh dua personilnya. “Lima puluh dua,” jawabnya singkat.

Ia berharap, acara ini bisa meneguhkan kembali nasionalisme terhadap Indonesia karena akhir-akhir ini banyak kelompok yang secara terang-terangan anti Pancasila dan anti NKRI.

Asli Muhammadiyah

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan, orang sudah terang-terangan menghina pemerintah dan anti Pancasila. “Mengkritik pemerintah boleh, kalau menghina nggak boleh dong. Kalau mengina harus kita lawan,” jelas Kiai Said.

Ia menilai, lambang negara kita seperti pemerintah, polisi, hakim dan lainnya tidak boleh dihina. “Tetapi kalau mereka salah harus kita kritik. Ada aturannya lah, ada akhlaknya” katanya.

“Kalau kita tidak mau menghormati presiden kita, terus kita mau percaya kepada pemerintah siapa,” paparnya.

Asli Muhammadiyah

Dalam acara silaturahim Alim Ulama Nusantara tersebut, hadir juga Bupati Rembang Moch. Salim. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Berita Asli Muhammadiyah

Kamis, 03 Februari 2011

Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu

Nganjuk, Asli Muhammadiyah. Perjalanan hari ketiga Kirab Resolusi Jihad NU 2016 memasuki Kabupaten Nganjuk, Sabtu (15/10). Pondok Pesantren Miftahul Ula Nglawak Kertosono didatangi Tim Kirab. Tim kirab tiba di pesantren yang didirikan KH Abdul Kodir Al-Fatah dan telah berusia 92 tahun itu sekira pukul 22.00.

Wakil Bupati Nganjuk KH Abdul Wahid Badrus berkenan menyampaikan kata sambutan. Menurut Mustasyar PCNU Nganjuk ini, peringatan Hari Santri Nasional yang diisi salah satunya dengan Kirab Resolusi Jihad membuka mata pemerintah dan anak bangsa tentang semangat membela bangsa.

Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu (Sumber Gambar : Nu Online)


Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu

Semangat yang melahirkan Resolusi Jihad pada dasarnya timbul karena suatu bangsa yang memasuki wilayah bangsa lain pasti menimbulkan kerusakan di wilayah negara yang dimasukinya.

Asli Muhammadiyah

Kiai Wahid menyinggung hal tersebut seperti kisah Ratu Saba setelah menerima surat dari Nabi Sulaiman, di mana Ratu Saba bersabda Masuknya suatu bangsa ke sebuah negeri akan berbuat kerusakan di dalam negeri.

Kiai Wahid memandang resolusi tidak saja relevan pada masa perjuangan tahun 1945, tetapi kiranya menjadi semangat motivasi dan inspirator untuk menjadi manusia yang cinta kepada Indonesia, setia NKRI dan komitmen yang telah diputuskan dalam UUD 1945.

Di Indonesia ini ada satu buku karangan KH Saifudin Zuhri berjudul Orang-orang dari Pesantren. Dalam buku tersebut, digambarkan betapa para ulama mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap negara, saat terjadi cengkraman penjajahan dari Jepang dan Belanda. Dalam buku itu disebut pula peran para ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Asli Muhammadiyah

Kiai Wahid memandang peringatan Hari Santri Nasional, pelaksanaannya perlu didukung oleh pemerintah pada waktu mendatang. Karena itu ia berpesan kepada PBNU untuk mendorong pemerintah agar setiap Pemda di Indonesia menyelenggarakan peringatan Hari Santri, bukan hanya NU yang bergerak sendiri.

Pesan kedua, pantas sekali bahwa para kiai dan ulama kebih dihargai oleh negara. Memang beberapa ulama telah diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Namun nyatanya masih banyak Kiai dan ulama yang dipandang sebelah mata oleh negara.

Kepada generasi muda dan santri, ia berpesan kepada mereka agar mempelajari sejarah. Sosok seperti Gus Dur atau KH Saifudin Zuhri dan tokoh lainnya dapat dijadikan inspirasi dan motivasi untuk berbuat bagi bangsa dan negara.

Selanjutnya generasi muda juga harus berjuang demi agama dan NU. Dalam rangka itu, NU struktural dan kultural harus bersatu.

"Melalui NU struktural kita rajut kerja sama dengan pemerintah. Melalui NU kultural kita rajut kerja sama dengan masyarakat. Mari kita rajut untuk kehidupan yang lebih baik," pungkas Kiai Wahid.

Mengakhiri upacara penyambutan, KH Jamaludin Abdullah memimpin doa sebelum akhirnya tim meneruskan perjalanan ke Pesantren Lirboyo Kediri. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72025/ulama-nganjuk-harapkan-santri-hargai-para-pendahulu

Jumat, 15 Desember 2017

Kapolres Rembang: Nasionalisme Ulama Tidak Diragukan

Rembang, Asli Muhammadiyah. Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Rembang, Jawa Tengah AKBP Sugiarto memberikan apresiasi atas terselenggaranya acara Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara di Sarang Rembang.?

Kapolres Rembang: Nasionalisme Ulama Tidak Diragukan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolres Rembang: Nasionalisme Ulama Tidak Diragukan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolres Rembang: Nasionalisme Ulama Tidak Diragukan

“Kita sangat apresiasi (acara silaturahim tersebut),” katanya.?

Menurutnya, peran ulama dalam menjaga dan mengawal republik ini tidak diragukan lagi. Ia mengakui, dalam merebut kemerdekaan Indonesia, peran ulama tidak bisa diremehkan. “Nasionalisme dengan ulama itu tidak bisa dipisahkan,” jelasnya.

Di dalam mengamankan acara silaturahim tersebut, ia mengerahkan lima puluh dua personilnya. “Lima puluh dua,” jawabnya singkat.

Ia berharap, acara ini bisa meneguhkan kembali nasionalisme terhadap Indonesia karena akhir-akhir ini banyak kelompok yang secara terang-terangan anti Pancasila dan anti NKRI.

Asli Muhammadiyah

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan, orang sudah terang-terangan menghina pemerintah dan anti Pancasila. “Mengkritik pemerintah boleh, kalau menghina nggak boleh dong. Kalau mengina harus kita lawan,” jelas Kiai Said.

Ia menilai, lambang negara kita seperti pemerintah, polisi, hakim dan lainnya tidak boleh dihina. “Tetapi kalau mereka salah harus kita kritik. Ada aturannya lah, ada akhlaknya” katanya.

“Kalau kita tidak mau menghormati presiden kita, terus kita mau percaya kepada pemerintah siapa,” paparnya.

Dalam acara silaturahim Alim Ulama Nusantara tersebut, hadir juga Bupati Rembang Moch. Salim. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)?

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Santri, Khutbah, PonPes Asli Muhammadiyah

Senin, 15 Januari 2018

Hubungan Umara-Ulama Tentukan Kondisi Bangsa

Cikura, Asli Muhammadiyah. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan bahwa salah satu penentu sebuah bangsa yang baik ada pada hubungan baik antara sesama ulama serta antara ulama dan umara. Hal itu disampaikan Menag saat memberikan sambutan pada pembukaan acara Ijtima Ulama ke-5 di Pondok pesantren At-Tauhidiyah, Tegal, Jawa Tengah, Senin (07/06) sebagaimana dilansir oleh situs kemenag.go.id.

Hubungan Umara-Ulama Tentukan Kondisi Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Hubungan Umara-Ulama Tentukan Kondisi Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Hubungan Umara-Ulama Tentukan Kondisi Bangsa

Dalam sambutannya, Menag menyampaikan bahwa kebutuhan mendasar dari setiap umat beragama adalah menjalankan hukum dan syariat agama yang diyakininya dalam kehidupan sehari-hari. Bagi Menag, hukum, sebagaimana masyarakat, senantiasa tumbuh dan berkembang sesuai kebutuhan masyarakat. “Kalau kita lihat sejarah, penerapan hukum Islam di Indonesia mengalami pasang surut sejak masa kolonialisme dan masa kemerdekaan hingga era reformasi,” papar Menag.

Membaca sejarah, Menag menyampaikan bahwa pada zaman kerajaan dan keslutanan di Nusantara, hukum Islam sudah memiliki eksistensinya sebagai hukum yang hidup pada masyarakat muslim, terutama hukum perkawinan.  Akulturasi hukum Islam dengan adat berjalan harmonis, seperti di beberapa daerah semisal, Aceh, Sulawesi, Minangkabau, dan Riau; hukum Islam diterima sederajat dengan hukum adat. 

Asli Muhammadiyah

“Hal ini dibuktikan dengan sebuah pepatah, adat basandi syara, syara basandi Kitabullah,” tandas Menag.

Asli Muhammadiyah

Dukungan untuk melaksanakan ajaran dan hukum Islam pada waktu itu bukan hanya dari para ulama, tetapi juga dari pengusaha politik, para raja dan sultan. Seperti tercatat dalam sejarah, kerajaan-kerajaan seperti kesultanan Aceh, Deli, Palembang, Gowa dan lainnya. Kerajaan-kerajaan tersebut telah menggunakan hukum Islam terutama hukum keluarga dan hukum perdata sebagai hukum positif di negerinya.

Dalam pemerintahan dan perundang-undangan, Lanjut Menag, banyak materinya diambil dari kitab fiqh yang dianggap representatif, dan mendorong lahirnya peraturan lain yang bersumber dari hukum fiqh, seperti UU No 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan PP No 28 tahun 1977 tentang perwakafan dan Undang-undang peradilan Agama.

“Selain itu, UU No 3 tahun 2006 tentang peradilan Agama, yang memberikan kewenangan baru di bidang ekonomi syariah, zakat dan infaq, selain perkawinan, kewarisan, hibah, wasiat, wakaf, dan shadaqoh,” tambah Menag.

Ketum MUI Din Syamsuddin menyampaikan Ijtima ini merupakan agenda 3 tahunan MUI khususnya komisi fatwa. Ijtima ulama pertama dilaksanakan di Jakarta, kedua, di Pondok Pesantren Gontor, ketiga, di Padang Panjang, ke empat di Ponpes Cipasung dan kelima di Ponpes At-Tauhidiyah, Tegal, Jateng. 

“Agenda 3 tahunan ini mempunyai maqam yang tinggi, dan fatwanya juga berada dalam maqam yang tinggi pula,” kata Din Syamsuddin.

Ijtima Ulama ini akan membahas tiga hal, yaitu: masalah-masalah kebangsaaan strategis, persoalan hukum kontemporer,  serta hubungan kelembagaan dan perundang-undangan. 

“Inilah pertanggungjawaban MUI terhadap permasalahan bangsa,” katanya.

Ketum MUI ini berharap, fatwa-fatwa yang dihasilkan ini nantinya menjadi pencerah dan pembimbing bagi ummat. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kiai Asli Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

Resolusi Jihad Belum Tercantum, Buku Sejarah Harus Ditulis Ulang

Bawean, Asli Muhammadiyah - Ketua PCNU Bawean, Jawa Timur KH Fauzi Rouf menyatakan bahwa sejarah bangsa ini harus banyak berterima kasih kepada peran besar ulama dan santri, karena itulah sejarah harus ditulis ulang.

"Peran ulama dan santri sangatlah besar, sehingga melahirkan Resolusi Jihad. Namun, hal ini belum ditulis dalam buku-buku sejarah yang dipelajari para pelajar dan santri. Karena itu sejarah ini harus ditulis ulang," ujarnya di hadapan sekitar dua ribu santri dalam peringatan Hari Santri Nasional bertajuk Semarak Hari Santri 22 Oktober Resolusi Jihad NU, yang diselenggarakan PCNU Bawean di Pesantren Mambaul Falah, Bawean, Sabtu malam (22/10) melalui siaran pers.

Resolusi Jihad Belum Tercantum, Buku Sejarah Harus Ditulis Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)
Resolusi Jihad Belum Tercantum, Buku Sejarah Harus Ditulis Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)

Resolusi Jihad Belum Tercantum, Buku Sejarah Harus Ditulis Ulang

Sementara itu Direktur Aswaja NU Center Jombang, Yusuf Suharto yang didapuk sebagai penceramah puncak acara peringatan HSN menegaskan bahwa tidak ada hari pahlawan tanpa ada Resolusi Jihad.

Asli Muhammadiyah

"Hari Pahlawan 10 November itu adalah kelanjutan dan efek dari Resolusi Jihad 22 Oktober. Bung Tomo dan para pecinta kemerdekaan menyebarkan fatwa atau resolusi jihad ini ke seluruh penjuru negeri. Para ulama prihatin karena Indonesia akan kembali dijajah tentara sekutu dan Belanda.? Inilah di antara bukti nyata bahwa para santri dan ulama mencintai negeri ini, dan karenanya mempertahankan kemerdekaan yang merupakan kewajiban bersama," ujar Sekretaris Pergunu Jombang ini di hadapan para kiai jajaran PCNU, lembaga, banom, MWCNU dan santri seluruh Bawean.

Ia menambahkan, langkah para ulama dalam mengawal negeri ini dapat kita saksikan misalnya pada tahun 1916 Kiai Wahab Hasbullah mendirikan Nahdlatul Wathon yang artinya kebangkitan tanah air atau kebangkitan kebangsaan. Kemudian disusul dengan pemberian nama yang beragam di berbagai daerah agar tidak diketahui penjajah, misalnya di Gresik dinamai Farul Wathon (Elemen Bangsa), di Jombang dinamai Hidayatul Wathon Pencerah Bangsa).

“Inilah juga bukti kecintaan para kiai atas negeri ini. Pada tahun 1918 didirikan Nahdatut Tujjar (Kebangkitan para saudagar) yang merupakan bukti kemandirian para ulama dalam perjuangan kemerdekaan," ujarnya.

Asli Muhammadiyah

Karena itu, lanjutnya, kita harus bangga menjadi santri. Ustadz, dan ulama otomatis adalah santri. Dan santri diharapkan berperan seperti para ustadz dan kiai. Ia mengajak untuk menjadikan Hari Santri ini dengan berbuat nyata bagi bangsa ini. Mengisinya dengan menerapkan Islam moderat, Ahllussunnah wal Jamaah ala Nahdlatil Ulama."

Puncak acara ini dirangkai dengan pembacaan wasilah dan Shalawat Nariyah, menyanyikan lagu Indonesia Raya, mars santri, pembacaan Ikrar Santri, dan aneka tampilan kesenian santri. Doa dibacakan Mustasyar PCNU Bawean yang juga pengasuh Pesantren Mambaul Falah, Tambak Bawean, KH Abdul Aziz? Ismail. Sosok Kiai Abdul Aziz adalah kiai aktivis, terhitung sejak 1963 sudah terlibat dalam aktivitas dan gerakan NU. Untuk menggenapi keikutsertaan dalam muktamar dengan volume Sembilan kali, Kiai yang menyaksikan para kiai berkumpul di jalan Matraman (rumah Bu Nyai Sholihah Binti KH. Bisri Syansuri) ini menjadi saksi fatwa NU tentang pembubaran PKI.

?

Sementara itu pada pagi harinya, Sabtu pagi (22/10) bersama Direktur Aswaja NU Center Bawean, Kiai Syamsuddin, dan pengasuh Persantren Hasan Jufri, KH. Ali Asyhar, Yusuf juga mengisi peringatan hari santri di Pesantren Hasan Jufri Bawean. Dalam acara ini format acaranya berupa diskusi Tanya jawab seputar Aswaja, NU dan Hari Santri.

"Semula Hari Santri diusulkan pada satu Muharram, kemudian diubah menjadi 22 Oktober, karena momen 22 Oktober ini adalah yang paling tepat, di mana para santri mewujudkan gerakan secara massif dalam mempertahankan NKRI," ujarnya disusul dengan pembacaan bersama Shalawat Nahdhiyyah yang disusun oleh Kiai Abdul Wafi Paiton, yang dipimpin Kiai Syamsuddin.

Adapun terjemah shalawat itu adalah, "Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, yang dengan berkah bacaan shalawat ini, jadikanlah kami senang, rajin, dan semangat dalam berjuang menghidupkan dan meninggikan agama Islam serta menampakkan syiar-syiarnya menurut cara Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Ya Allah, teguhkanlah pendirian dan berikanlah kemenangan bagi warga Jamiyyah Nahdlatul Ulama (Nahdliyyin) untuk meninggikan Kalimatillah (agama Islam dan seluruh ajarannya)". (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pondok Pesantren, AlaNu Asli Muhammadiyah

Minggu, 26 Agustus 2012

NU DKI Berharap Konferensi Ulama Dunia Mampu Atasi Konflik Umat

Pekalongan, Asli Muhammadiyah. Wakil Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta KH Zuhri Yakub menilai Konferensi Ulama Internasional Bela Negara yang digagas Jamiyyah Ahlit Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) sangat bagus. Kegiatan ini juga baik sebagai bentuk penegasan sikap dukungan ulama terhadap penyelenggaraan negara yang menjamin hak-hak warga negara dalam penegakan keadilan dan hak-hak sipil yang merupakan tema penting agama.?

NU DKI Berharap Konferensi Ulama Dunia Mampu Atasi Konflik Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
NU DKI Berharap Konferensi Ulama Dunia Mampu Atasi Konflik Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

NU DKI Berharap Konferensi Ulama Dunia Mampu Atasi Konflik Umat

Demikian dikatakanya di sela-sela acara seminar Internasional di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (29/7). Seminar Internasional diikuti oleh delegasi ulama dari 40 negara. 69 ulama asal Timur Tengah dan beberapa mufti besar asal Amerika serta dihadiri ratusan ulama habaib dari Indonesia dengan agenda bahasan utama tentang masalah Bela Negara.

Dikatakan Zuhri Yakub, dalam konteks global saat ini, bela negara menjadi penegasan dan peneguhan gagasan kebangsaan di tengah ancaman global yang cenderung menampilkan dominasi negara-negara besar terhadap negara-negara berkembang. "Seminar Internasional dilaksanakan merupakan bukti betapa kaum Nahdliyyin memiliki kontribusi penting bagi tegaknya negara dari masa ke masa," ujar tokoh NU DKI ini.

Dijelaskan Kiai Zuhri, dalam panggung sejarah sudah terbukti seringkali kaum agamis utamanya para pengamal tarekat untuk tampil menjaga keutuhan kedaulatan wilayah dimana mereka tinggal sebagai respon perlawanan terhadap kesewenang-wenangan yang mengancam ? runtuhnya keadilan dan terabaikannya hak-hak sipil rakyat.

Asli Muhammadiyah

"Sejatinya tidak ada lagi kecurigaan terhadap kaum santri dan pengamal tarekat, bahkan sesungguhnya mereka bisa menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pemerintahan dan upaya mempertahankan negara dari ancaman pihak-pihak asing," ungkapnya.

Apalagi, lanjutnya, acara ini semakin bertambah nilainya dengan kehadiran hampir 69 tokoh ulama dari belahan dunia yang diharapkan mampu memberikan gagasan-gagasan baru dan menyegarkan untuk dapat memberikan formula ? jitu dalam menyelesaikan konflik dan persetruan serta menelurkan gagasan baru untuk meredam konflik internal dan ancaman eksternal. (Junaidi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah Humor Islam Asli Muhammadiyah

Rabu, 14 Juni 2017

Sufisme Syekh Yusuf al-Makassari

Oleh Munawir Aziz

Dalam catatan Lontara yang diwariskan kerajaan Gowa-Tallo, disarikan data bahwa Syekh Yusuf lahir pada 3 Juli 1628 M, tepat pada 8 Syawal 1036 H. Dengan demikian, Syekh Yusuf lahir setelah dua dekade pengisalaman kerajaan kembar Gowa-Tallo oleh ulama Minangkabau, yakni Syekh Abdul Makmur, disebut Datuk Ri Bandang.

Sufisme Syekh Yusuf al-Makassari (Sumber Gambar : Nu Online)
Sufisme Syekh Yusuf al-Makassari (Sumber Gambar : Nu Online)

Sufisme Syekh Yusuf al-Makassari

Catatan Lontara Riwayat Tuanta Salamaka ri Gowa, menyatakan bahwa ayah Syekh Yusuf ? bernama Gallarang Moncongloe, yang merupakan saudara dari Raja Gowa Sultan Alauddin Imangrang Daeng Marabbia, Raja Gowa yang beragama Islam. Sultan Alauddin menetapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan pada 1603 M. Ibu kandung Syaikh Yusuf, tak lain adalah Aminah binti Dampang Komara, keturunan bangsawan kerajaan Tallo, kerajaan kembar yang berdampingan dengan kerajaan Tallo.

Kisah perjuangan Syekh Yusuf dalam mempertahankan kedaulatan di bumi Nusantara menjadikan dirinya diasingkan di Ceylon (Srilangka) dan Afrika Selatan. Syekh Yusuf tidak hanya milik masyarakat Bugis, namun juga warga muslim Nusantara, Ceylon dan Afrika. Presiden Afrika Selatan, pada 1994, menetapkan Syaikh Yusuf sebagai pejuang kemanusiaan. Sementara, di negeri ini, Syekh Yusuf dianggap sebagai waliyullah yang menyambungkan sanad keilmuan, menggerakkan perjuangan melawan kolonialisme hingga mewariskan jejaring tarekat yang dianut keluarga dan muridnya hingga kini.

Pada masa hidupnya, Syaikh Yusuf membawa perubahan penting dalam perjuangan dakwah yang diembannya. Syaikh Yusuf dikenal di Kesultanan Banten, Tanah Bugis (Sulawesi Selatan), Ceylon (Sri Langka), dan Cape Town (Afrika Selatan). Dalam pengasingan di Ceylon dan Capetown, Syaikh Yusuf mengembangkan Islam dengan mengajar warga, hingga menjadi komunitas muslim di negeri tersebut. Jejak komunitas muslim dan keturunan Syaikh Yusuf di Ceylon dan Capetown masih dapat dilacak hingga kini.

Asli Muhammadiyah

Pada 2009, Syaikh Yusuf mendapatkan penghargaan Oliver Thambo, penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan. Penghargaan ini penting untuk mengenang sosok Syaikh Yusuf di dataran Afrika, atas jasa besarnya dan menjadi inspirasi warga. Presiden Afrika Selatan, Thabo Mbeki, menyerahkan penghargaan langsung kepada tiga ahli warisnya, di antaranya Andi Makmun dan Syachib Sulton. Wapres Jusuf Kalla menyaksikan langsung prosesi penyerahan penghargaan ini, di Union Building, Pretoria, Afrika Utara.

Dari bumi Bugis

Lahir di tanah Bugis, Syaikh Yusuf mendapat tempaan pendidikan Islam dari keluarga dan ulama di kampungnya. Beliau mengaji al-Quran kepada Daeng ri Tamassang. Setelah itu, ia berkelana ke pesantren Bontoala untuk mengaji ilmu-ilmu bahasa, semisal Nahwu, Sharaf, Balaghah, dan mantiq. Pada waktu itu, Syaikh Yusuf mengaji kepada ulama asal Yaman, Syed Baalawi bin Abdullah, yang dikenal sebagai al-allamah Tahir, pengasuh pesantren Bontoala. Setelah menamatkan belajar di Bontoala, Syaikh Yusuf melanjutkan mengaji kepada Syekh Jalaluddin Aidit, ulama asal Aceh yang mengembara ke Bugis. Di bawah asuhan Syekh Jalaluddin, di pesantren Cikoang, belajar selama beberapa tahun. Syekh Jalaluddin kemudian mengutus Syekh Yusuf untuk belajar ke tanah Hijaz, untuk mengaji lebih intens kepada ulama-ulama Haramain.

Tak lama berselang, pada 22 September 1644, Syaikh Yusuf berangkat menuju Hijaz, dengan menggunakan kapal penumpang. Pada waktu itu, transportasi laut dari kawasan timur Nusantara melalui Banten untuk menyusuri selat Malaka, hingga menembus ke kawasan pesisir Arab. Ketika singgah di Banten, Syaikh Yusuf berkenalan dengan putra mahkota kerajaan Banten, Abdul Fattah, yang merupakan putra Sultan Abu al-Mafakhir Abdul Kadir (1598-1650), penguasa kerajaan Banten.

Asli Muhammadiyah

Selain Banten, dalam perjalanannya, Syaikh Yusuf singgah di Aceh. Di kawasan Serambi Makkah ini, Syaikh Yusuf melakukan komunikasi dengan ulama dan pemimpin thariqah al-Qadiriyah di Aceh, Syaikh Muhammad Jilani bin Hasan bin Muhammad Hamid al-Raniry. Ketika singgah di Banten dan Aceh, Syaikh Yusuf menghabiskan waktu selama sekitar 5 tahun, untuk melakukan interaksi dengan ulama setempat.

Dalam perjalanan panjangnya, Syaikh Yusuf singgah di Yaman, atas saran dari gurunya selama di Acceh, Syaikh Muhammad Jilani. Di Yaman, Syaikh Yusuf berguru kepada Syaikh Abu Abdillah Muhammad Abdul Baqi (w. 1664), ulama terkenal di Yaman, khalifah tarekat an-Naqsyabandiyah. Syaikh Yusuf tidak berhenti di satu titik, di satu guru. Ia terus berupaya menyegarkan dahaga spritual, dahaga pengetahuannya. Dalam pengembaraannya, Syaikh Yusuf meneruskan perjalanan ke Bandara al-Zubaid, berguru ke Syed Ali al-Zubaidy (w. 1084), seorang muhaddits dan sufi. Dengan Syed Ali, Syaikh Yusuf mendapatkan ijazah thariqah dari silsilah keluarga al-Sadah al-Baalawiyah.

Perjalanan panjang di Yaman, diteruskan menembus Makkah untuk menunaikan ibadah Haji. Kemudian, Syaikh Yusuf menuju Madinah untuk ziarah ke makam Rasulullah Saw. Di kota ini, Syaikh Yusuf berguru kepada Syaikh Ahmad al-Qusysyi (w. 1661), Mullah Ibrahim al-Kawrany (w. 1690), dan Hassan al-Ajamy (w. 1701). Tiga ulama inilah, yang menjadi referensi keilmuan dan tradisi tasawuf yang menyambungkan jaringan ulama Nusantara dengan ulama Haramain.

Syaikh Yusuf masih belum puas dengan dahaga pengetahuan, dan kehausan akan guru yang mencerahkan. Ia terus berjalan menuju Syam (Damaskus) dan Turki. Di Syam, Syaikh Yusuf memperdalam pengetahuan, dan mengasah kepekaan bathin, kepada beberapa guru. Di antaranya, Syaikh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad al-Khalwaty al-Quraishi. Setelah berkelana Syam dan Turki, Syaikh Yusuf kembali ke Makkah, untuk mengaji dan mengajar. Ketika musim haji tiba, Syaikh Yusuf mengajar santri-santri Nusantara, terutama yang berasal dari kawasan Bugis. Di antara murid-muridnya, ialah Syaih Abu al-Fath Abdul Basir al-Darir (Tuan Rappang), Abdul Hamid Karaeng Karunrung dan Abdul Kadir Majeneng, merekalah yang kemudian meneruskan ajaran tarekat Khalwatiyyah Syaikh Yusuf di tanah Bugis.?

Sufisme Syekh Yusuf

Bagaimana sufisme Syekh Yusuf, yang diwariskan kepada keturunan dan pengikutnya? Dalam pandangan Syaikh Yusuf, Allah tidak ada yang menyerupai, tidak ada yang menandingi.

? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ?

“Sesungguhnya, Allah Taala disifati dengan ayat al-Quran al-Shura ayat II, yang bermaksud: Tiada Tuhan apapun yang menyerupai-Nya”.

Konsep tauhid Syekh Yusuf tidak lepas dari konsep tauhid ahl as-sunnah wal-jamaah yang menetapkan zat dan sifat bagi Allah, sebagaimana yang terkandung dalam al-Quran. Syaikh Yusuf menyebutnya sebagai um al-itiqad, induk dari keimanan. Baginya, ayat tersebut menegaskan bahwa dasar Tauhid yang sebenarnya mesti dipegangi dan diyakini. Bahwa, unsur-unsur ketauhidan yang mesti diyakini orang yang menjalani suluk (pendekatan), di antaranya:

(1) Tauhid al-Ahad, meyakini bahwa sesungguhnya Allah adalah wujud Qadim (tidak berpemulaan), qadim bi-nafsih (berdiri sendiri), muqawwim lighairih (mengadakan selain-Nya). Allah Maha Tunggal, tidak bermula wujud-Nya, tiada ujung-Nya, dan tiada serupa-Nya.

(2) Tauhid al-Afal, meyakini bahwa sesungguhnya Allah, pencipta segala sesuatu. Dialah yang memberi daya dan kekuatan dalam melaksanakan segala urusan. Allah berkehendak, dan semua kehendak manusia berada dalam kehendak Allah.

(3) Tauhid al-Maiyyah, meyakini bahwa sesungguhnya Allah bersama hamba-Nya, di manapun berada.

(4) Tauhid al-Ihatah, meyakini bahwa sesungguhnya Allah meliputi segala sesuatu.

Dimensi tasawuf Syaikh Yusuf bergerak dalam konsep keyakinan terhadap Allah, mengelaborasi konsep tauhid sebagai pintu masuk untuk mengenal dzat yang Maha Besar, Allah Maha Agung. Inilah jalan pembuka, yang disadari Syaikh Yusuf sebagai pelajaran awal bagi pengikutnya untuk mengenal Allah, mengenal Sang Pencipta.

Dalam risalah al-Futuhah al-Ilahiyyah, Syaikh Yusuf merinci rukun tasawuf dalam sepuluh perkara. Bagi Syaikh Yusuf rukun tasawuf ini, menjadi penting bagi salik untuk berada dalam garis perjalanan mendekat menuju-Nya. Sepuluh rukun tasawuf, yakni:

Pertama, Tahrid al-Tauhid, memurnikan ketauhidan kepada Allah, dengan memahami makna keesaan Allah, yang disarikan dari kandungan surat al-Ikhlas. Selain itu, meyakini Allah dengan menjauhi sifat tasybih dan tajsim.

Kedua, faham al-Simai, bermaksud memahami tata cara menyimak petunjuk dan bimbingan Syekh Mursyid dalam menjalani pendekatan diri, kepada Allah. Ketiga, Husn al-Ishra, bermaksud memperbaiki hubungan silaturahmi dan pergaulan. Keempat, Ithar al-Ithar, bermaksud mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri demi mewujudkan persaudaraan yang kukuh.

Kelima, tark al-ikhtiyar, bermaksud berserah diri kepada Allah tanpa itimad kepada ikhtiar sendiri. Keenam, surat al-wujd, memahami secara jernih hati nurani yang seiring kehendak al-Haq. Ketujuh, al-kahf an al-khawatir, bermaksud membedakan yang benar dan salah.

Kedelapan, khatrat al-safar, bermaksud melalukan perjalanan untuk mengambil itibar dan melatih ketahanan jiwa. Kesembilan, tark al-iktisab, bermaksud mengandalkan usaha sendiri, akan tetapi lebih bertawakkal kepada Allah setelah berusaha. Kesepuluh, tahrim al-iddihar, bermaksud tidak mengandalkan pada amal yang telah dilakukan, melainkan tumpuan harapannya kepada Allah.

Bagi Syaikh Yusuf, manusia yang sempurna (al-insan al-kamil) merupakan manusia yang sampai ke makam marifat. Bukan hanya manusia biasa yang berislam secara dangkal. Syaikh Yusuf memberi penekanan tentang hakikat marifat dalam kekhususan tingkatan manusia sebagai al-insan al-kamil. Manusia sempurna akan ingat Allah dalam segala urusan, kapanpun dan di manapun berada.

Syaikh Yusuf lahir pada 3 Juli 1628 M, di Gowa Sulawesi Selatan, dan wafat pada 23 Mei 1699 di Capetown, Afrika Selatan. Beliau sebagai pejuang, jembatan Ulama Nusantara dan Timur Tengah, serta sufi yang mengajarkan lautan ilmu kepada murid-muridnya. Alfaatihah.***

Penulis adalah esais dan peneliti, menulis beberapa buku tentang Islam Nusantara, aktif di Gerakan Islam Cinta, Twitter: @MunawirAziz

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Habib Asli Muhammadiyah

Kamis, 21 Desember 2017

Umat Bertanya, NU Jatim Menjawab

Kebangkitan masyarakat terhadap kesadaran beragama di abad ini cenderung meningkat, baik dalam aspek hukum, sosial budaya, politik, ekonomi, maupun pendidikan. Namun di balik kebangkitan tersebut menyisakan keprihatinan tersendiri, sebab kebangkitan agama oleh sebagian umat mengarah kepada pemahaman syariat secara tekstual dan literal, yakni merujuk langsung kepada teks al-Qur’an dan al-Hadis tanpa merujuk kepada kitab-kitab karya ulama yang otoritatif di bidangnya, sehingga berpotensi memunculkan pemahaman yang keliru. Lebih memprihatinkan lagi, dengan semakin familiarnya umat Islam dengan internet, masyarakat banyak merujuk “fatwa-fatwa” yang tidak jelas sumbernya. Tentu saja fenomena ini dapat mereduksi hakikat syariat Islam dan berakibat sesatnya umat.

Melihat fenomena di atas, ulama, santri serta cendekiawan muslim baik perorangan maupun melalui lembaga dituntut untuk responsif dan senantiasa pro aktif menampung serta mencarikan solusi dari setiap permasalahan yang timbul di tengah-tengah masyarakat dengan metode dan strategi yang tepat, sehingga kebangkitan kesadaran ber-Islam berbanding lurus dengan pemahaman Islam yang sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah pengikut ajaran ulama salafus shalih.

Umat Bertanya, NU Jatim Menjawab (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Bertanya, NU Jatim Menjawab (Sumber Gambar : Nu Online)

Umat Bertanya, NU Jatim Menjawab

Adalah Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PWNU Jatim, sebagai lembaga yang berkutat dalam ranah pengambilan keputusan tentang hukum-hukum Islam, baik yang terkait dengan permasalahan bidang akidah, masa’il fiqhiyyah, maupun tasawuf, menerbitkan dua jilid buku kumpulan hasil Bahtsul Masa’il. Jilid kesatu hasil Bahtsul Masa’il tahun 1979- 2009, sedangkan jilid kedua mulai 2009-2014 M. Isi buku jilid kesatu memuat kategori keputusan Bahtsul Masail waqi’iyah (faktual) saja, sedangkan jilid kedua selain memuat keputusan hukum waqi’iyyah, juga berisi hasil keputusan hukum maudhu’iyyah (tematik) dan qanuniyyah (perundang-undangan).

Asli Muhammadiyah

Hadirnya buku hasil Bahtsul Masail ini menjadi obat kerinduan semua fihak terhadap dokumen rumusan hukum Islam aktual yang akurat dan mu’tamad ala Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyyah yang merujuk kepada kutubul mu’tabarah. Sehingga masyarakat selain mudah dalam mencari jawaban hukum atas setiap permasalahan yang dihadapi, begitu juga buku ini sebagai alternatif pilihan yang dapat menyelamatkan umat Islam dari bahaya mengikuti “fatwa-‘fatwa” liar di luar arus utama Ahlussunnah Waljamaah, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Terkait dengan tema pembahasan, hampir seluruh aspek permasalahan umat terekam dalam buku ini. Buku satu berisi 19 tema meliputi akidah dan fikih madzhab, fikih taharah, shalat, al-Qur’an, doa dan bacaan, fikih jenazah dan kuburan, fikih zakat, puasa, haji dan umrah, muamalah, wakaf dan fasilitas umum, munakahat, akhlaq dan pendidikan, fikih makanan, medis, warisan, sosial, seni dan budaya, yustisi (peradilan) serta fikih siyasah politik kenegaraan dan kebangsaan. Buku kedua berisi 18 tema, yakni akidah dan fikih madzhab, fikih thaharah, shalat, bacaan al-Qur’an, fikih jenazah, zakat, haji dan umrah, fikih muamalah, wakaf dan fasilitas umum, fikih munakahat, akhlaq dan fikih tarbiyah, fikih makanan, medis, wasiat, sosial, seni budaya, yustisi (peradilan), serta fikih siyasah.

Asli Muhammadiyah

Menjawab Polemik Konsep Khilafah

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang memberikan kontribusi besar terhadap terbentuknya negara Indonesia, sekaligus menjadi penyokong utama absahnya konsep kebangsaan menurut perpektif syari’at Islam, dewasa mendapatkan tantangan besar dengan masuknya ide-ide Islam transnasional yang menggembar-gemborkan konsep khilafah dan memperjuangkan berlakunya syari’at Islam di bumi Indonesia. Kelompok Islam transnasional ini secara vulgar menolak konsep nasionalisme Indonesia karena dianggap tidak sesuai dengan konsep yang diajarkan Nabi Muhammad Saw.

Dalam menjawab polemik konsep khilafah dan formalisasi syariat ini, LBM NU Jatim menguraikan dalam buku jilid I halaman 706. Menurut keputusan musyawirin bahwa konsep khilafah dalam ketatanegaraan Islam tidak terdapat pijakan dalil nash, karena keberadaan sistem khilafah adalah bentuk ijtihadiyah. Sehingga hukum mengubah bentuk negara Indonesia dengan bentuk yang lain sebagaimana khilafah hukumnya tidak boleh selama akan menimbulkan mafsadah yang lebih besar. Sedangkan upaya mengubah dasar hukum negara diperbolehkan dengan syarat dengan menggunakan cara yang konstitusional. Dalam upaya penerapan syariat di Indonesia tepat jika digunakan dengan strategi tadrij (gradual).

Menjawab Polemik Konsep Salaf

Nahdlatul Ulama sebagai pengamal dan pengawal ideologi Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia juga mendapatkan resistensi begitu kuat dari faham-faham keagamaan yang mengklaim pengikut ulama salaf dan kemudian mendefiniskan dirinya sebagai kelompok Salafi. Kelompok ini berslogan mengembalikan pemahaman umat Islam kepada Al-Qur’an dan Hadis, sehingga amaliyah Nahdlatul Ulama yang mengikuti pemikiran ulama madzhab dianggap jauh dari perilaku ulama salaf. Untuk menyikapi hal tersebut, LBM NU Jatim dalam buku ini memberikan panduan yang tepat dalam berakidah. Dalam jilid I halaman 594 dijelaskan bahwa Islam memiliki tiga aspek yang dalam hal ini didasarkan kepada hadis Nabi saw. dari jalur riwayat Umar bin Khattab ra., yakni konsep Iman yang kemudian dielaborasi dalam ilmu tauhid, yang kedua aspek Islam yang kemudian direpresentasikan dalam ilmu fikih, serta aspek Ihsan yang kemudian tererabolari dalam ilmu tasawuf.

Dari tiga konsep ini, Ahlussunnah Waljamaah menyandarkan pada rumusan delapan Imam, yakni dalam ilmu tauhid berpegangan kepada Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi, dalam ilmu fikih bersandar pada Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali, sedangkan dalam ilmu tasawuf berpijak kepada pemikiran Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali.

Diharapkan dengan hadirnya buku himpunan hasil Bahtsul Masa’il LBM PWNU Jatim ini bisa memberikan panduan kepada umat Islam. Tentu saja hasil Bahtsul Masa’il ini telah melalui proses diskusi yang panjang dan melibatkan para pakar fikih yang kapabel dan kredibel dalam lingkungan Nahdlatul Ulama Jawa Timur. Keputusan yang disepakati dalam buku ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, sehingga sangat sangat layak dijadikan solusi bersyari’at, apalagi di tengah-tengah bermunculannya fatwa-fatwa perorangan maupun lembaga keagamaan di luar Ahlussunnah wal Jamaah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Judul : NU Menjawab Problematika Umat; Keputusan Bahtsul Masa’il PWNU Jawa Timur. Jilid I: 1979-2009 M. Jilid II: 2009-20014 M.

Penyusun: TIM PW LBM NU Jatim

Penerbit: PW LBM NU Jatim

Hal: jilid I; xxix + 936. Jilid II; xxi +850.

ISBN: 978-602-97112-9-5

Peresensi: Fathul Qodir (Pegiat Aswaja NU Jatim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Budaya, Pemurnian Aqidah Asli Muhammadiyah

Kamis, 23 November 2017

Hadapi Tahun Politik, Ulama-Umara Pati Rapatkan Barisan

Pati, Asli Muhammadiyah. Para ulama dan umara serta para pemangku kepentingan lainnya di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, merapatkan barisan dalam menghadapi tahun politik 2014. Pada tahun ini dipastikan semua pihak sibuk dengan urusan politik sehingga perhatian terhadap isu-isu sosial kemasyarakatan menjadi berkurang.

Hadapi Tahun Politik, Ulama-Umara Pati Rapatkan Barisan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Tahun Politik, Ulama-Umara Pati Rapatkan Barisan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Tahun Politik, Ulama-Umara Pati Rapatkan Barisan

Hal tersebut mengemuka dalam acara pertemuan dengan tema “Silaturrahim Ulama bersama Pemangku Kepentingan Kabupaten Pati” yang dihelat di Pesantren putri Roudloh At-Thahiriyyah Kajen-Margoyoso-Pati, Jawa Tengah (15/1), kemarin siang.

Perhelatan yang diisi dialog itu menghadirkan empat narasumber: Bupati Pati H Haryanto SH MM Msi, Komandan Kodim 0718 Pati Letkol Inf Hery Setiono, Kepala Polres Pati AKBP Dr Bakharuddin MS SIK Msi, dan Pengasuh Pesantren putri Roudloh At-Thahiriyyah KH A Muadz Thohir. Para narasumber diberikan waktu masing-masing 20 menit oleh moderator KH Minanurrahman MSi untuk presentasi.

Asli Muhammadiyah

Bupati Pati H Haryanto yang menjadi pembicara kunci mengatakan, perhelatan tersebut merupakan acara spesial lantaran undangan kepada seluruh peserta ditandatangani langsung oleh dirinya. Selain itu, juga diparaf oleh Kapolres, Dandim, serta KH A Muadz Thohir. Padahal, biasanya hanya diteken Sekretaris Daerah.

“Kondisi Pati yang memprihatinkan ini, baik fisik maupun nonfisik harus menjadi tanggung jawab bersama. Apa artinya bupati dan wakil bupati jika tidak didukung oleh seluruh komponen dan stakeholders lainnya. Yang jelas, membangun moral dan karakter masyarakat lebih sulit daripada infrastruktur,” kata bupati yang sangat religius tersebut.

Asli Muhammadiyah

Menurut KH A Muadz Thohir, acara tersebut diikuti setidaknya 250 orang terdiri dari para ulama dan tokoh masyarakat, perwakilan ormas keagamaan, seluruh SKPD Pemda Pati, jajaran Polres Pati, serta jajaran Komandan Distrik Militer 0718 Pati. “Selain itu, pimpinan DPRD Pati dan seluruh muspika se-kabupaten,” ujarnya.

Kiai flamboyan yang juga Musytasyar PCNU Pati ini berharap, kegiatan tersebut tak hanya didukung oleh para ulama, khususnya pengurus NU. Tetapi mereka juga harus turun tangan membenahi karut marut masyarakat yang sudah parah. “Saya sangat rindu situasi Pati 15 tahun silam yang sangat religius dan berdedikasi. Oleh karena itu, saya minta para kiai turut merapatkan barisan,” harapnya.

Pertemuan ulama-umara tersebut menghasilkan beberapa rekomendasi yang akan dijadikan acuan dasar dalam membangun Pati ke depan, khususnya dalam rangka turut menjaga keamanan menjelang hajatan demokrasi 2014 yang tinggal tiga bulan lagi. (Musthofa Asrori/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Daerah, News Asli Muhammadiyah

Sabtu, 02 Desember 2017

Kang Said: Kalau Mau Benar, Ikuti Ulama

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Umat Islam dituntut beragama secara benar. Kalau mau benar dalam meyakini dan mengamalkan agama, maka sebagai jalan satu-satunya mereka harus mengikuti bimbingan ilmu ulama.

Kang Said: Kalau Mau Benar, Ikuti Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Kalau Mau Benar, Ikuti Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Kalau Mau Benar, Ikuti Ulama

Demikian dikatakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang kerap disapa Kang Said dalam sambutan Pelatihan Aswaja dan Empat Pilar di Kantor PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Jum‘at (19/7) sore.

Al-Quran, kata Kang Said, memang pedoman utama umat Islam. Namun tidak semua perihal agama dijelaskan. Sesuatu yang tidak dijelaskan Al-Quran, diuraikan lebih lanjut oleh hadis Rasulullah SAW.

Asli Muhammadiyah

Perintah sembahyang misalnya. Al-Quran, sambung Kang Said, tidak menjelaskan berapa rakaat, perihal waktunya, dan pemilahan sembahyang wajib dan sunah. Semuanya diterangkan dalam hadis. Namun, hadis tidak menjelaskan persiapan sebagai syarat sembahyang dan apa saja yang dilakukan di dalamnya sebagai rukun sembahyang.

Saat itulah, lanjut Kang Said, ilmu ulama berperan. Pemuka agama di zaman tabi‘in bersama para santrinya berlomba-lomba menciptakan ilmu sebagai petunjuk beragama. Imam Syafi‘I antara lain menemukan ilmu Ushul Fiqh sebagai pedoman dalam memahami Al-Quran dan hadis untuk kebutuhan penetapan hukum agama.

Asli Muhammadiyah

Sementara para ulama lain merumuskan ilmu nahwu demi kepentingan struktur bahasa yang berkaitan dengan makna. Pada kesempatan lain, ulama menemukan ilmu tajwid sebagai pedoman membaca Al-Quran dengan benar agar “Alif Lam Mim” tidak dibaca “Alam”, tegas Kang Said.

“Jadi memahami Islam harus dengan ilmu (bayan aqli), tidak cukup Al-Quran (bayan Ilahi) dan hadis (bayan nabawi). Kalau ada orang menyerukan kembali ke Al-Quran dan hadis, maka ia orang bodoh. Karena, kita tidak mengalami zaman Rasulullah. Tanpa ilmu ulama yang terus berantai hingga Rasulullah dan para sahabatnya, kita tidak bisa beribadah apapun,” tutup Kang Said.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Olahraga Asli Muhammadiyah

Selasa, 26 Desember 2017

Indonesia Segara Bentuk Forum Perdamaian Timur Tengah

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Pemerintah Indonesia akan membentuk forum perdamaian yang bertujuan untuk melerai berbagi konflik yang terjadi di Palestina, Lebanon, maupun Irak. Rencananya forum tidak hanya melibatkan para pejabat negara-negara Islam namun juga para ulama yang berpengaruh di masing-masing negara yang sedang berkonflik.

Hal tersebut dikatakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Hasyim Muzadi yang juga Sekretaris Jenderal Konferensi Ulama dan Cendekiawan Dunia Islam (ICIS) usai bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia yang juga Sekretaris Jenderal Organisasi Koferensi Islam (OKI) Abdullah Ahmad Badawi di Hotel Sangril La Jakarta, Kamis (22/2).

Forum perdamain itu sebelumnya diusulkan Hasyim Muzadi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sebagai negara muslim terbesar di dunia Indonesia diharap melakukan upaya-upaya menyelesaikan konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Indonesia Segara Bentuk Forum Perdamaian Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Segara Bentuk Forum Perdamaian Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Segara Bentuk Forum Perdamaian Timur Tengah

”Saya bertemu Presiden 27 Januari lalu. Saya katakan, Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia kog ada konflik seperti itu diam saja. Lalu diambil inisiatif Pak Menteri Luar Negeri yang bertemu para pejabat negara Islam, lalu saya yang bertemu para ulamanya,” kata Hasyim.

Menurutnya, konflik antara Hamas dengan Fattah di Palestina tidak bisa diselesaikan oleh negara tetapi oleh para ulama yang berpengaruh di sana. Dikatakan konflik yang terjadi di Irak, misalnya, sebenarnya bukan antara sunni-syiah.

”Konflik itu itu sebenarnya bukan urusan kedua aliran itu, tapi mereka dikonflikkan oleh para agresor yang masuk di Irak itu supaya mereka dapat menang secarta gratis ga pakai pluru, cuma saya sedang berkeliling supaya tokoh-tokoh berat (ulama berpengaruh, red) bisa hadir. Kalau diwakilkan ya ga jadi apa-apa, jadi seminar tentang perdamaian saja,” katanya.

Asli Muhammadiyah

Pada 27 Februari ini hasyim akan meluncur ke Makkkah untuk menemui dengan pimpinan Rabithah Alam Islami, forum Internasional di Saudi Arabia, lalu ke Iran menemui Ali At-Tazkiri dan Rafsanjani, salah seorang pemimpin Syiah yang paling berpengaruh di Irak.

”Konflik-konflik yang terjadi di Timur Tengah terbukti tidak dapat dihadapi oleh negara saja tapi harus dengan ulama yang menggerakkan rakyat di situ. Seperti Nasrollah pemimpin Hisbullah di yang di lebanon itu kan pasukannya 10 kali lipat dibanding yang dipunyai pemerintah,” kata Hasyim.

Sementara itu kepada Badawi, Hasyim menyatakan, hubungan antara OKI dengan ICIS akan memperkuat hubungan negara-negara Islam dengan ulama setempat. Dikatakan Hasyim, hubungan itu penting karena tidak selalu keputusan negara Islam itu selaras dengan Ulama.

Asli Muhammadiyah

”Konflik-konflik yang ada di Timur Tengah tidak dapat dihadapi oleh negara saja tapi harus dengan ulama yang menggerakkan rakyat di situ. Lagi pula Hamas dan Fatah yang bertengkar itu kan organisasi-organisasi yang ada ulamanya," katanya. (nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Humor Islam Asli Muhammadiyah

Jumat, 07 Agustus 2009

Menteri Khofifah Rangkul Ulama Terkait Program Pengalihan Subsidi BBM

Depok, Asli Muhammadiyah. Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa merangkul para Ulama untuk mensosialisasikan program pengalihan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Terlebih lagi, pengurangan tersebut telah menimbulkan goncangan dan dampak bagi warga miskin.

Menurutnya, melalui Program Keluarga Harapan (PKH) diyakini menjadi penguat atas keberlanjutan mencapai kebutuhan dasar, seperti sekolah, ekonomi rumah tangga, serta layanan kesehatan. Terlebih lagi, di kalangan para Ulama biasa bersentuhan dan mengelola diniyah atau madrasah. Untuk itu, mereka bisa merespon dan memberikan data siswa di madrasah yang mungkin di lingkungannya tidak terdaftar formal dalam pendidikan atau di bawah umur 18 tahun.

Menteri Khofifah Rangkul Ulama Terkait Program Pengalihan Subsidi BBM (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Khofifah Rangkul Ulama Terkait Program Pengalihan Subsidi BBM (Sumber Gambar : Nu Online)


Menteri Khofifah Rangkul Ulama Terkait Program Pengalihan Subsidi BBM

"Tentunya, bisa diintegrasikan melalui Kementerian Agama. Harapannya, supaya dapat Kartu Indonesia Pintar supaya dapat dana operasional dan agar dapat dana tunjangan fungsional. Kategori itu kan sudah ada di Mendibud dan Menag. Kita dari Kemensos hanya approfal jumlahnya. Tapi, pendataannya di Dikbud dan Depag. Kalau yayasan langsung ke Kementerian Sosial atau mendapat rekomendasi dari Dinas Sosial tingkat 2,"ujarnya dalam Rapat Kerja Nasional Jamiyyatul Qurro wal Huffazh Nahdlatul Ulama dan Peresmian Gedung Al-Quran Centre, Al-Hikam, Beji.

Menurutnya, pada tahun 2015 alokasi untuk KIP sebesar 16,5 juta. Dengan jumlah tersebut, dia mengungkapkan bahwa Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta anggaran agar dinaikkan menjadi 20 juta dengan asumsi cakupannya diperluas. Padahal, tahun 2014 sebanyak 11,5 juta dan tak terserap sebesar 4,5 juta.

Asli Muhammadiyah

"Ini PR kita bagaimana agar bisa dipercepat. Saya mencontohkan, Menkumham saja minta untuk 160 ribu narapidana agar mendapat Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan dapat 30 ribu. Kalau dulu semuanya berbasis rumah tangga. Sekarang cakupannya luas sampai anak drop out dan anak terlantar,"paparnya.

Asli Muhammadiyah

Mimpi Khofifah

Dirinya berimpi saat berada di tim transisi, agar pendidikan Diniyah, Madrasah dan ustad bisa menjadi target. Terlebih lagi, peran dan posisinya sangat strategis. Yaitu mewujudkan Islam Rahmatan lil Alamin (Islam rahmat bagi alam semesta).

"Perannya agar bisa dirasakan sampai ke Asia. Mestinya ini kita tangkap dalam mewujudkan peradaban keemasan Islam Rahmatan lil Alami di Asia. Kalau teror bom, kan bukan dari Islam. Sebagai catatan peradaban Islam tampak di Pesantren yang menghadirkan Islam penuh damai," paparnya.

Dalam acara tersebut, selain para alim ulama juga tampak hadir Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifudin juga menjadi narasumber. (aan humaidi/mukafi niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/56040/menteri-khofifah-rangkul-ulama-terkait-program-pengalihan-subsidi-bbm

Asli Muhammadiyah