Sunnah


info Sunnah
Sunnah bahasa
Sunnah bahasa nasional
Sunnah bahasa indonesia
Sunnah belah bambu
Sunnah busuk
Sunnah berasal dari bahasa yunani yaitu
Sunnah belanda
Sunnah busuk sby
Sunnah berasal dari kata
Sunnah global
Sunnah gus dur
Sunnah golkar
Sunnah gender
Sunnah gorontalo
Sunnah global amerika serikat
habib Sunnah mp3
video Sunnah full
Sunnah gerakan non blok
rahasia Sunnah terbaru
Sunnah g 30 s pki
Sunnah konfrontasi
Sunnah kerajaan kutai
Sunnah kampus
Sunnah kerajaan majapahit
Sunnah kotor
Sunnah kerajaan tarumanegara
Sunnah kompasiana
Sunnah luar negeri indonesia
Sunnah luar negeri bebas aktif
Sunnah luar negeri indonesia adalah
Sunnah liberal
Sunnah yang membedakan warna kulit disebut
Sunnah yang dianut bangsa indonesia
Sunnah yang baik
Sunnah yahudi
Sunnah yang dianut bangsa indonesia adalah
Sunnah merupakan
Sunnah yaitu

Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Sunnah. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Sunnah. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juni 2012

Benarkah KH Ali Mustafa Yaqub Penganut Paham Wahabi? (1)

Oleh Muhammad Ali Wafa

Keluarga besar Darus-Sunnah baru saja menyelenggarakan Haul Ke-1 KH Ali Mustafa Yaqub, pendiri sekaligus pengasuh Darus-Sunnah sejak 1997 hingga 2016. Peringatan wafat ini sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan liar seputar sosok beliau yang acapkali dituduh sebagai Wahabi oleh segelintir orang.

Tuduhan ini semakin lantang disuarakan ketika tulisan beliau yang berjudul Titik Temu Wahabi-NU mengemuka di media massa dan kemudian dikembangkan menjadi sebuah buku dengan judul yang sama.

Benarkah KH Ali Mustafa Yaqub Penganut Paham Wahabi? (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah KH Ali Mustafa Yaqub Penganut Paham Wahabi? (1) (Sumber Gambar : Nu Online)


Benarkah KH Ali Mustafa Yaqub Penganut Paham Wahabi? (1)

Banyak sebenarnya tuduhan tidak berdasar yang dialamatkan kepada almarhum. Namun di antara sekian itu tuduhan Wahabi adalah yang paling terkenal. Benarkah beliau Wahabi? Pertanyaan ini akan dijawab dalam tulisan singkat ini untuk mengenang satu tahun wafatnya beliau.

Asli Muhammadiyah

Sebagaimana lazim diketahui banyak orang bahwa Wahabi adalah kelompok yang anti dan membidahkan tahlil, maulid, dan peringatan kematian seperti haul. Niscaya, jika almarhum Kiai Ali Mustafa adalah Wahabi, beliau akan secara tegas menolak dan membidahkan tradisi itu melalui pernyataan-pernyataan dan tulisan-tulisan beliau. Namun sampai akhir hayat, tidak ada satupun pernyataan dan tulisan beliau yang menolak tradisi tersebut. Ini bukti bahwa beliau bukan Wahabi seperti yang dituduhkan.

Asli Muhammadiyah

Sebaiknya, sebelum menuduh Wahabi, kenali dulu sosok dan sepak terjang beliau dari dekat. Dari keluarga besar, santri, sahabat karib, dan tradisi yang berjalan di pesantren beliau, Darus-Sunnah. Bukan dari tulisan, pernyataan, atau buku-buku orang yang tidak mengenal beliau dari dan secara dekat. Jika membaca beliau dari sumber sekunder ini, maka kemungkinan besar akan terjadi banyak penyimpangan karena ketegasan dan sikap moderat beliau yang seringkali disalahtafsirkan atau sengaja dicatut oleh kelompok-kelompok tertentu untuk kepentingan mereka.

Memperkuat uraian ini, tradisi-tradisi yang diwariskan oleh almarhum Kiai Ali di Darus-Sunnah akan menjelaskan bahwa tuduhan Wahabi terhadap beliau tidak benar dan omong kosong semata. Sebab tradisi tahlil, maulid, dan peringatan kematian yang dianggap bidah justru hidup dan semarak di Darus-Sunnah.

Yasinan dan Tahlilan

Di Darus-Sunnah, tradisi Yasinan dan Tahlilan dilaksanakan rutin sepekan sekali, yaitu setiap Kamis selepas shalat Maghrib berjamaah (malam Jumat) sampai Isya. Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan semata, lebih dari itu Yasinan dan tahlilan adalah program pesantren yang harus dilaksanakan setiap pekannya. Meski demikian, tradisi ini tidak wajib dilaksanakan oleh setiap santrinya. Karena secara hukum, tradisi Yasinan dan tahlilan bukan syariat wajib yang harus dilaksanakan oleh para santri di Darus-Sunnah.

Program Yasinan dan tahlilan adalah sarana bagi para santri untuk beramal kebajikan. Bagi yang malaksanakan, akan mendapatkan pahala dan bagi yang meninggalkan tidak akan mendapat dosa. Yasinan dan tahlilan termasuk amalan sunah karena isinya adalah bacaan Al-Quran, zikir, dan bacaan doa untuk orang yang telah meninggal sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW, sahabat-sahabatnya, dan tabiin.

Karena itu, di masa hidup beliau, jika pada malam Jumat di Darus-Sunnah tidak terdengar suara santri yang Yasinan dan tahlilan, almarhum akan bertanya kenapa tidak ada Yasinan dan tahlilan. Tidak sampai di situ saja, almarhum bahkan menegur dan memperingatkan agar hal tersebut tidak diulangi lagi. Kiai Ali menekankan agar Yasinan dan tahlilan dibaca setiap pekan. Seandainya beliau seorang Wahabi, tentu tradisi Yasinan dan tahlilan tidak akan beliau anjurkan apalagi sampai menjadi program pesantren.

Tradisi Maulid

Banyak penjelasan yang menyebutkan bahwa maulid adalah salah satu bidah terbesar dalam tradisi umat Islam. Menurut mereka, berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih, tradisi Maulid tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, dan para tabiin. Mereka menambahkan, tradisi Maulid adalah tradisi bidah yang diwariskan oleh orang-orang syiah pada abad IV Hijriyah. Wahabi termasuk kelompok yang secara tegas menolak tradisi Maulid dengan landasan-landasan tersebut.

Ada dua argumen untuk menepis tuduhan Wahabi terhadap almarhum Kiai Ali dalam kasus Maulid. Pertama, seandainya KH Ali Mustafa Yaqub seorang Wahabi, beliau akan mengamini argumentasi sejarah ini. Namun ternyata beliau tidak mengakui sejarah Maulid yang berlandaskan pada tradisi syiah. Beliau sering menjelaskan bahwa sejarah tradisi Maulid yang diikuti oleh Ahlussunnah wal Jamaah khususnya di Indonesia adalah tradisi Maulid yang digagas oleh Shalahuddin Al-Ayyubi dalam memerangi pasukan Salib pada abad ke-7 Hijriyah. Beliau sering mengatakan, Tentang sejarah Maulid baca penjelasan Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Hawi lil Fatawi.

Kedua, KH Ali Mustafa Yaqub dikenal sebagai ahli hadits sangat tegas dan tidak kenal kompromi dalam masalah akidah dan ibadah. Beliau akan berkata apa adanya jika ada penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di masyarakat. Jika Maulid adalah tradisi bidah, tentu dengan tegas dan tanpa kompromi beliau akan menyampaikan hal tersebut. Namun sampai ujung usianya, beliau tidak pernah menyatakan maulid itu bidah. Justru menurut beliau, Maulid adalah tradisi baik yang patut dilestarikan. Karena dalam tradisi Maulid, terdapat shalawat dan pujian-pujian kepada Rasulullah SAW yang tak ada henti-hentinya dikumandangkan.

Semakin tidak berdasar menuduh beliau Wahabi karena di Darus-Sunnah sendiri tradisi Maulid ini juga dilaksanakan rutin setiap sepekan sekali untuk santri (setiap malam Jumat) dan sebulan sekali untuk Mahasantri (setiap awal bulan malam Jumat). Bahkan dalam moment tertentu seperti wisuda, Maulid oleh beliau dijadikan sebagai sambutan penghormatan untuk menyambut tamu-tamu undangan. Lebih dari itu, saat tradisi Maulid belum hidup di Darus-Sunnah, setahun sebelum wafat, beliau menyampaikan; Saya rindu tradisi pesantren seperti pembacaan Maulid Dibai walaupun hanya satu kali dalam sebulan. Atas dasar inilah kemudian tradisi Maulid Nabi dihidupkan di Darus-Sunnah.

Seandainya beliau seorang Wahabi, tentu beliau tidak akan merindukan tradisi pesantren yang bernama Maulid. Seandainya maulid itu bidah dan diharamkan, tentu ahli hadits seperti beliau adalah orang pertama yang akan pasang badan menolak dan menentang pelaksanaan Maulid. Namun faktanya, justru beliau sangat merindukan tradisi Maulid. Hingga akhirnya, sampai sekarang, tradisi itu terus berlanjut di Darus-Sunnah. (bersambung...)

*) Penulis adalah santri dan pengajar di Pesantren Luhur Darus-Sunnah

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77124/benarkah-kh-ali-mustafa-yaqub-penganut-paham-wahabi-1

Asli Muhammadiyah

Senin, 13 November 2017

Menghormati Perbedaan Pendapat atas Puasa Bulan Rajab

Alhamdulillah saat ini, kita semua memasuki bulan mulia Rajab. Sebagaimana yang jamak kita jumpai, sebagian besar umat Islam di Dunia memuliakannya dengan berpuasa sebagaimana yang pernah dilakukan oleh panutan junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Kita jumpai pula sebagian kelompok yang mengingkari puasa di bulan mulia Rajab dengan berbagai alasan pendapatnya.

Bagi saya, kedua kelompok yang memiliki pemahaman bahwa puasa di bulan Rajab adalah hukumnya sunnah, ataupun kelompok yang memiliki pemahaman bahwa puasa di bulan Rajab adalah bidah, maka keduanya semua dianggap telah memasuki wilayah ijtihad. Antara membolehkan dan melarang. Dalam hal ini yang perlu ditekankan adalah saling menghormati antar kedua kelompok tersebut. Bahwa keduanya sama-sama memasuki sabda Nabi SAW: "Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala." (HR Muslim)

Hadits tersebutlah yang menjadi dalil, semenjak Rasulullah SAW bersabda sampai saat ini dapat kita simpulkan: Rasulullah telah menetapkan bahwa di dalam agama ini memiliki pintu ijtihad yang senantiasa terbuka untuk menghasilkan hukum yang belum pernah dibahas secara jelas dalam alQuran dan asSunnah. Adanya kesempatan ijtihad tersebut, secara tidak langsung juga membuka pintu lain yaitu ikhtilaf (perbedaan). Tidak lain adalah karena; ketika Allah SWT telah mempersilahkan hambaNya untuk berijtihad, maka tidak dapat dipungkiri pula telah mempersilahkan hambaNya untuk berikhtilaf pula dalam persoalan tersebut.

Ketika Allah SWT telah mensyariatkan wilayah ijtihad dan membuka wilayah ikhtilaf, namun perlu diketahui bersama bahwa ikhtilaf tersebut adalah ikhtilaf taawuni (berbeda namun tetap berdampingan saling membantu), bukan ikhtilaf yang menjadikan perpecahan serta permusuhan antara ummat. Ikhtilaf yang muncul karena ijtihad (antara dua golongan) sama-sama mendapatkan pahala semuanya. Baik ijtihad tersebut benar ataupun tidak. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh sabda Rasulullah SAW di atas. Apakah keterangan ini masih memunculkan syak atau keraguan wahai saudaraku? apakah masih diantara kita yang meragukan sabda Rasulullah SAW?!

Menghormati Perbedaan Pendapat atas Puasa Bulan Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)
Menghormati Perbedaan Pendapat atas Puasa Bulan Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)

Menghormati Perbedaan Pendapat atas Puasa Bulan Rajab

Hakikat keberadaan ijtihad dan ikhtilaf perlu senantiasa dipahami terus-menerus keberadaannya, sebagaimana telah dipahami oleh generasi ummat muslimin terdahulu. Tidak lain supaya tidak menimbulkan fitnah antar muslim dalam beragama. Karena kesalahan memahami tersebut akan menjadikan kita senantiasa berada dalam ikhtilaf permusuhan, bukan ikhtilaf perdamaian. Sering kita jumpai bersama perbedaan pendapat yang menjadikan antara kelompok saling bermusuhan dengan sama-sama memegang teguh pendapat masing-masing. Padahal, hal tersebut telah bertentangan dengan hikmah Ilahiyyah yang telah diletakkan di dalam Islam, yaitu adanya Ittifaq (kesepakatan) dan Ikhtilaf (perbedaan) dalam Ijtihad.

Dari pemahaman tersebut, seyogyanya bagi kita untuk bersikap tasamuh (toleran) dalam menghadapi perbedaan hasil ijtihad antara kelompok. Sudah sepatutnya bagi kita untuk menjaga lisan kita dari ucapan ataupun klaim yang tidak baik, seperti: menyalahkan, menyesatkan, membidahkan atau mengufurkan. Karena hal tersebut sekali lagi mengingkari Ijtihad kelompok lain, yang mana pintu Ijtihad senantiasa terbuka sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Lebih-lebih yang harus menjadi teladan adalah apa yang telah dikatakan oleh Imam Syafii rodliyallahu anhu: "Pendapatku benar, namun mengandung kemungkinan salah, pendapat yang lain salah, namun mengandung kemungkinan benar".

Kebetulan, saya adalah termasuk kelompok sebagian besar muslimin yang meyakini kebenaran Ijtihad bahwa puasa di bulan mulia Rajab adalah sunnah hukumnya. Itulah Ijtihad kami. Ketika kami berijtihad, dan ijtihad kami salah, dan ketika kalian berijtihad dan benar, tetap kami mendapatkan pahala satu dan Allah telah memuliakan kalian dengan dua pahala. Lantas apa yang menjadikan kalian ingkar sedangkan diantara kita sama-sama mendapatkan pahala dan perbedaan diantara kita adalah hikmah Ilahiyyah yang telah ditetapkan adanya oleh Rosulallah shollallahu alaihi wasallam? Kalau kita telah mengetahui bahwa di dunia ini ada salah dan benar, maka tidak perlu lagi diperdebatkan. Cukup sama-sama berijtihad, dan bukankah perkara ijtihadi pasti memiliki konsekuensi untuk adanya ikhtilaf?

Asli Muhammadiyah

Untuk itu, orang yang merasa sudah dalam posisi benar harus dapat menerima bahwa dirinya bisa jadi dalam posisi yang salah. Begitupula orang yang dinilai salah bisa jadi dalam posisi yang benar. Perlu kita ingat bersama bahwa Rahmat Kasih sayang Allah SWT sangatlah luas dan mempersilahkan kita untuk berada disemua wilayah rahmatNya. Lantas mengapa perlu dipersempit lagi rahmatNya?

Barangkali perlu kita ingat kembali bahwa, bahwa diantara kaidah agama Islam yang tidak ada perbedaan antara ulama adalah: bahwa prinsip dasar dalam hukum atas persoalan yang berbeda terdapat hukum yang berbeda pula. Bisa jadi suatu perkara mubah beralih menjadi haram lantaran ditempuh dengan jalan haram, begitupula perkara mubah bisa menjadi mandub bahkan wajib ketika wasilah perkara tersebut adalah perkara mandub atau wajib. Semua perkara -yang belum disinggung secara jelas dalam alQuran dan asSunnah- dihukumi sesuai dengan jalan atau wasilah yang berkaitan dengan persoalan tersebut.

Ketika seseorang beramal dalam satu perkara dan tidak terdapat hukum di dalam syariat mengenai nash qothi atas amalan tersebut, maka kita lihat kembali wasilah dan ghoyah (hasil akhir) atas amal tersebut. Ketika hasil akhirnya adalah bertentangan dengan syariat; yakni terdapat mashiyat, mengandung kemungkaran, maka perkara mubah menjadi harom. Adapun ketika kita pandang suatu amalan baru yang belum dikenal baik dizaman shohabat atau tabiin dan generasi setelahnya, namun setelah kita menyaksikan dan memandangnya menghasilkan perkara yang positif, didalamnya terkandung perkara yang diridloi oleh Allah SWT baik terkait dengan perkara mandub atau wajib, maka perkara mubah tersebut akan berubah menjadi sunnah atau wajib. Pengambilan hukum seperti itu telah disepakati oleh para Ulama semuanya sebagaimana yang telah dibahas dalam perkara adDzaroi. Terlebih puasa di bulan mulia Rajab, selain memiliki dalil yang kuat berupa nash sunnah, juga telah menjadi amalan turun menurun dari ulama salaf.

Asli Muhammadiyah

Daripada itu, seyogyanya ketika kita melihat apa yang dilakukan oleh masyarakat baik dari amalan atau aktifitas mereka yang berbeda-beda, maka yang kita kedepankan adalah melihat hasil akhir atas aktifitas mereka. Apakah hasil akhir amalan tersebut sesuai dengan warna ketaatan atau warna kemashiyatan?

Selamat berpuasa di bulan mulia Rajab. Semoga kita semua diberi keberkahan di bulan mulia ini, dan diberi keberkahan umur dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Amien. Wallahu Warosuluh alam.

?

Taufiq Zubaidi, Warga NU Sudan

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Warta, Fragmen, Quote Asli Muhammadiyah

Senin, 11 Desember 2017

Yang Mengatakan Maulid Bidah Perlu Belajar Agama Lagi

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan, kelahiran Nabi Muhammad SAW atau dikenal dengan istilah Maulid Nabi merupakan peristiwa besar yang perlu dikenang dan diperingati oleh umat Islam di seluruh dunia.

Yang Mengatakan Maulid Bidah Perlu Belajar Agama Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)
Yang Mengatakan Maulid Bidah Perlu Belajar Agama Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)

Yang Mengatakan Maulid Bidah Perlu Belajar Agama Lagi

Ia menyampaikan taushiyahnya di hadapan habib, tokoh masyarakat Betawi dan ratusan jamaah yang menghadiri peringatan Maulid Nabi di Masjid Jami’ Al-Ilyas, Kampung Pulo Nangka Barat, Jakarta Timur, Ahad (20/1) malam. Masjid ini merupakan bagian dari Pondok Pesantren Al-Kenaniyah yang saat ini dipimpin oleh KH Hambali Ilyas.

Menurut Kang Said, panggilan akrab KH Said Aqil Siroj, Nabi Muhammad dilahirkan di tengah dunia yang jahiliyah. Di sebelah barat ada kerajaan Romawi, dan di sebelah timur ada kerajaan Persia. Mereka bisa dikatakan maju dalam hal pengetahuan tapi jahiliyah atau bodoh dalam hal akhlak.

Asli Muhammadiyah

“Romawi memperlakukan budak lebih hina dari binatang. Para budak diadu sebagai gladiator. Ketika ada yang mati mereka bersorak gembira. Sementara orang Persia memperlakukan perempuan sangat rendah. Kalau ada anak perempuan lahir langsung dibunuh. Anak bisa mengambil ibunya sendiri untuk dinikahi jika ayahnya mati,” kata Kang Said.?

Asli Muhammadiyah

Peringatan atas anugerah kelahiran Nabi Muhammad SAW bisa dilakukan dengan membaca shalawat sebanyak-banyaknya sembari mengingat kembali dan mencontoh berbagai teladan beliau, terutama akhlak yang mulia.

Menurut Kang Said, peringatan Maulid Nabi merupakan sunnah taqririyah. Disampaikannya, ada tiga macam sunnah atau hadits nabi. Pertama berupa perkataan nabi (qouliyah). Kedua berupa perbuatan nabi (fi’liyah). Sementara sunnah taqririyah adalah perbuatan sahabat yang diketahui oleh nabi dan dibenarkan oleh beliau.

“Ada orang memuji-muji nabi dengan syair, mengagungkan nabi, dan beliau tidak melarang. Beliau malah menghadiahkan selimut tidurnya kepada orang tersebut; yakni selimut bergaris yang disebut sebagai burdah,” kata Kang Said sembari bercerita panjang lebar tentang Abu Said Al-Busiri dan shalawat Burdahnya.

Kang Said yang dikenal sangat kuat hapalannya itu sempat memukau hadirin saat melantunkan berbagai macam shalawat berikut nama pengarang dan tahun kelahiran dan wafatnya, serta merunut silsilah Nabi Muhammad SAW sampai kepada Nabi Adam AS tanpa membaca teks.

Menyikapi beberapa kalangan yang sinis dan mengatakan maulid nabi sebagai amalan bid’ah, Kang Said meminta jamaah untuk tidak usah menghiraukannya. Menurutnya, mereka yang suka mengatakan bid’ah itu biasanya belum belajar ilmu agama secara mendalam.

“Yang mengatakan Maulid Nabi itu bid’ah berarti dia masih perlu belajar agama lagi. Silakan datang ke NU atau belajar lagi di pesantren,” kata kang Said.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pertandingan, Bahtsul Masail Asli Muhammadiyah

Jumat, 10 Juni 2016

Tiru Rasulullah Bukan Sekadar Jenggot, Tapi Akhlak

Jakarta,Asli Muhammadiyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, memelihara jenggot termasuk salah satu sunnah Rasulullah SAW sehingga kaum muslim boleh mengamalkannya. Tapi yang ditiru jangan hanya jenggotnya saja, melainkan akhlaknya.

Wali-wali Allah, para sufi, kiai-kiai NU seperti Hadrotusyekh Hasyim Asy’ari juga berjenggot, tapi mereka mengikuti akhlak Rasulullah. “Konsekuensinya, orang berjenggot, harus pula berusaha mengikuti perilaku Rasulullah,” katanya di gedung PBNU, Jakarta, Selasa malam (15/9).

Tiru Rasulullah Bukan Sekadar Jenggot, Tapi Akhlak (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiru Rasulullah Bukan Sekadar Jenggot, Tapi Akhlak (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiru Rasulullah Bukan Sekadar Jenggot, Tapi Akhlak

Kiai asal Cirebon ini menegaskan, percuma saja jika jenggot sekadar asesoris, tapi akhlaknya jauh dari akhlak Islam, tidak mengikuti akhlak Rasul. Karena misi yang paling subtansi dari Rasulullah adalah membangun akhlak.

Asli Muhammadiyah

Jika berjenggot malah menjadikan sombong, merasa paling benar, paling Islam, paling mengikuti sunnah Rasul, itu berarti bertolak belakang dengan sifat Rasululllah.

Asli Muhammadiyah

Lebih lanjut ia menjelaskan, ketika memelihara jenggot, syaraf pendukung kecerdasan otak, teratarik habis oleh jenggot. Karenanya jenggot mengurangi kecerdasan. ?

Menurut dia, kecerdasannya itu akan turun ke hati. Artinya orang berjenggot panjang adalah simbol dari hati yang sudah arif, bersih, sudah tidak lagi memikirkan harta dunia, kedudukan, dan ikhlas lillahi ta’ala.

“Ulama sufi dan wali semuanya berjenggot, kecerdasan pindah dari otak ke hati,” jelasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Olahraga, Habib, Khutbah Asli Muhammadiyah

Senin, 11 Desember 2017

IPNU dan IPPNU Jambesari Tunjuk Pemimpin melalui Musyawarah

Bondowoso, Asli Muhammadiyah. Konferensi anak cabang IPNU dan IPPNU Jambesari kabupaten Bondowoso masa Periode 2015-2017 menetapkan Abdur Rohim dan Anis sebagai pemimpin pelejar NU Jambesari dua tahun ke depan. Forum yang berlangsung di MI Mistahul Ulum 01 Desa Pecanganom ini, menunjuk kedua melalui mekanisme musyawarah.

IPNU dan IPPNU Jambesari Tunjuk Pemimpin melalui Musyawarah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU dan IPPNU Jambesari Tunjuk Pemimpin melalui Musyawarah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU dan IPPNU Jambesari Tunjuk Pemimpin melalui Musyawarah

Musyawarah ini melibatkan 9 ranting IPNU dan IPPNU, Ahad (8/11). Mereka adalah pengurus pelajar NU di desa Krujugan lor, desa Jambesari, desa Pejagan, desa Sumber Jeruk, desa Sumber Anyar, desa Pucanganom, desa Jambeanom, desa Tegal Pasir dan desa Pengarang.

Ketua IPNU masa khidmah 2013-2015 Moh Andy menjelaskan bahwa selama menjadi pengurus selama kurang lebih 2 tahun ia telah melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di antaranya Lakmud, Makesta, pondok ramadhan, lomba-lomba, seminar-seminar dan pembinaan-pembinaan yang nantinya bisa dilanjutkan untuk pengurus selanjutnya.

Asli Muhammadiyah

"Alhamdulillah telah terbentuk 4 komasariat di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA) Al-Imam, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Aziz dan SMK Al-Fulqron, “ kata Andy.

Asli Muhammadiyah

Ketua IPNU Bondowoso Ahmad Juhadi berpesan agar pemimpin IPNU dan IPPNU Jambesari ke depan dapat mengembangkan amanah dengan baik dan bekerja sama pastinya.

Sebelum konferensi dimulai, peserta musyawarah terlebih dahulu membaca sholawat Nariyah bersama-sama yang dipimpin oleh Wakil Rais Syuriyah MWCNU Jambesari Ustadz Samsul.

Ustadz Samsul berpesan agar IPNU dan IPPNU dapat menjadi kader NU sekaligus ? kader bangsa yang akan meneruskan perjuangan generasi tua nantinya. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kajian Sunnah, Quote Asli Muhammadiyah

Senin, 11 Desember 2006

Lakukan Penyegaran, Aswaja NU Center Jatim Kuatkan Kelembagaan

Surabaya, Asli Muhammadiyah. Kepengurusan Aswaja Center PWNU Jatim menyelenggarakan rapat bersama sekaligus melakukan evaluasi terhadap program yang selama ini dilaksanakan. Sejumlah nama dan program baru diluncurkan sebagai jawaban atas tantangan yang kian kompleks.

"Kita ingin melakukan penguatan Ahlus Sunnah wal Jamaah sesuai yang digariskan Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari," kata KH Abdurrahman Navis, Sabtu (3/9). Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Islam Aswaja adalah tidak melakukan tatharruf tasyaddudi yakni yang terlalu keras atau ekstrem seperti kalangan fundamentalis.

Lakukan Penyegaran, Aswaja NU Center Jatim Kuatkan Kelembagaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakukan Penyegaran, Aswaja NU Center Jatim Kuatkan Kelembagaan (Sumber Gambar : Nu Online)


Lakukan Penyegaran, Aswaja NU Center Jatim Kuatkan Kelembagaan

"Demikian juga Aswaja bukanlah kelompok yang tatharruf tasahhuli atau kalangan yang cenderung memudahkan syariat seperti kalangan liberal," ungkapnya. Dan tentu Aswaja juga bukan kelompok Syiah dan sejenisnya, lanjut dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Asli Muhammadiyah

Menurut Wakil Ketua PWNU Jatim tersebut, inilah yang kemudian dikenal sebagai fikrah nahdliyah yakni kerangka berpikir yang didasarkan pada ajaran Aswaja yang dijadikan landasan berpikir NU untuk menentukan arah perjuangan.

Secara lebih rinci, Pengasuh Pesantren Nurul Huda Surabaya ini mengemukakan bahwa dalam merespon persoalan, baik yang berkenaan dengan masalah keagamaan maupun kemasyarakatan, NU memiliki manhaj Aswaja dengan ciri khas. "Dalam bidang aqidah atau teologi, mengikuti manhaj dan pemikiran Abu Hasan Al-Asyari dan Abu Mansur Al-Maturidi," jelasnya.

Asli Muhammadiyah

Sedangkan dalam bidang fiqih bermazhab kepada salah satu Al-Madzahibil Arbaah yakni Imam Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali. "Dan untuk bidang tasawuf, mengikuti Imam Al-Junaid Al-Baghdadi dan Abu Hamid Al-Ghazali," katanya di aula PWNU Jatim.

Untuk dapat menjabarkan fikrah nahdliyah tersebut, PW Aswaja NU Center telah membentuk sejumlah divisi. Pertama adalah uswah atau usaha sosialisasi Aswaja yang merupakan usaha menyosialisasikan dan menyebarkan paham Aswaja NU lewat media cetak, elektronik, pengajian, lailatul ijtima, khatbah Jumat, dan sebagainya.

"Demikian juga ada biswah yakni bimbingan dan solusi Ahlussunnah wal Jamaah," katanya. Divisi ini menfasilitasi pengurus Syuriyah NU secara berkala untuk membimbing dan memberikan solusi kepada masyarakat tentang paham Aswaja, baik secara langsung, melalui telpon ataupun media lain, jelasnya.

Yang ketiga adalah divisi dakwah yakni daurah kader Ahlussunnah wal Jamaah yang mengadakan pelatihan kader Aswaja secara berkala untuk mencetak kader loyal.

"Selanjutnya adalah kiswah atau kajian Islam Ahlussunnah wal Jamaah," ungkapnya. Dalam praktiknya, divisi ini melakukan kajian Islam Aswaja ditinjau dari berbagai disiplin ilmu dalam bentuk halaqah, seminar atau forum ilmiah lain dengan menghadirkan nara sumber dari berbagai ahli, terangnya.

Dan yang terakhir adalah makwah, yakni maktabah Ahlussunnah wal Jamaah dengan membuka perpustakaan di kantor PWNU untuk menyediakan kitab dan buku bacaan tentang Aswaja.

Kelima divisi ini telah dilakukan penyegaran personil. "Ini demi kian meningkatkan khidmah kita dalam memasyaratkan Aswaja," tandas Kiai Navis.

Sejumlah darah baru hadir pada koordinasi ini. Ada perwakilan dari UIN Sunan Ampel, Unesa, Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Unair, ITS serta kampus lain. "Diharapkan kehadiran para aktivis kampus ini akan kian menyebarkan Aswaja An-Nahdliyah di seluruh lapisan masyarakat," pintanya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70957/lakukan-penyegaran-aswaja-nu-center-jatim-kuatkan-kelembagaan

Asli Muhammadiyah

Kamis, 15 Desember 2016

Sebar Materi Khotbah, GP Ansor-Lazisnu Kudus Ajak Warga Infaq-Zakat

Kudus, Asli Muhammadiyah - Dalam momentum Ramadhan ini, Pimpinan Cabang GP Ansor bersama Lembaga Amal zakat Infaq Shadaqah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Kudus menyebarkan ratusan materi khotbah Jumat kepada para khotib masjid-masjid di wilayah setempat. Materi khotbah ini berisi penjelasan pentingnya berinfak dan berzakat.

Ketua Lazisnu Kudus Syaroni Suyanto mengatakan, materi khotbah ini dimaksudkan memberikan kesadaran kepada warga akan pentingnya mengeluarkan zakat maupun infaq. Terlebih lagi, bulan Ramadhan ini menjadi momentum yang tepat untuk berbagi mengeluarkan zakat /infaq.

Sebar Materi Khotbah, GP Ansor-Lazisnu Kudus Ajak Warga Infaq-Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebar Materi Khotbah, GP Ansor-Lazisnu Kudus Ajak Warga Infaq-Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebar Materi Khotbah, GP Ansor-Lazisnu Kudus Ajak Warga Infaq-Zakat

"Saya berharap para khotib bisa membacakan materi khutbah ini sehingga warga semakin terketuk akan kewajiban berzakat dan berkenan berinfaq," ujarnya kepada Asli Muhammadiyah di Kantor Lazisnu Jalan Pramuka nomor 20, Kudus, Kamis (24/6).

Asli Muhammadiyah

Materi khotbah ini merupakan hasil kajian bersama Lazisnu dan Aswaja Center GP Ansor Kudus dalam rangka menumbuhkan semangat berinfak di kalangan warga masyarakat. "Naskah khotbah dibuat kiai muda Aswaja Center GP Ansor, sedangkan Lazisnu yang proses cetaknya," katanya.

Asli Muhammadiyah

Sementara Ketua GP Ansor Kudus H Sarmanto Hasyim mengatakan, Aswaja Center GP Ansor akan terus melakukan kajian-kajian yang berhubungan ubudiyah maupun amaliyah warga NU. Tujuannya memberikan pencerahan pencerahan keagamaan kepada umat NU agar tetap pada koridor Islam Aswaja An-Nahdliyah.

"Banyak Kiai muda di Aswaja Center yang siap melaksanan program kajian keislaman melalui akan forum-forum internal maupun mimbar-mimbar masjid seperti khotbah Jumat. Kiai muda Ansor akan berupaya menerbitkan naskah-naskah khotbah yang konstekstual untuk menyuarakan ajaran-ajaran Islam Aswaja An-Nahdliyah," tegasnya.

Dalam materi yang disebar itu, terdapat penjelasan-penjelasan dan dalil ajakan berzakat-berinfak. Di antaranya, hikmah melaksanakan zakat dan shadaqah adalah bisa untuk menolong orang lemah. Berzakat-shadaqah bisa menyucikan jiwa seseorang yang menunaikan dari dosa-dosa dan Allah akan memberi kenikmatan harta yang melimpah ruah kepada orang kaya tersebut. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Khutbah, Sunnah Asli Muhammadiyah

Sabtu, 11 November 2017

Kenapa Silaturrahim Alim Ulama di Sarang? Ini Penjelasan Kiai Said

Rembang, Asli Muhammadiyah. Pelaksanaan Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara digelar PBNU di Pesantren Al-Anwar Sarang, Kabupaten Rembang, pada Kamis (16/3) ? berlangsung lancar, meriah, dan penuh khidmat. Namun yang menjadi pertanyaan, kenapa acara tersebut digelar di Sarang?

Kenapa Silaturrahim Alim Ulama di Sarang? Ini Penjelasan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Silaturrahim Alim Ulama di Sarang? Ini Penjelasan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Silaturrahim Alim Ulama di Sarang? Ini Penjelasan Kiai Said

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj menjelaskan, acara tersebut dilaksanakan di Pesantren Al Anwar agar mendapatkan berkah. "Kenapa diadakan di Sarang? Agar kita bisa mengambil barokah. Karna Mbah Moen (KH Maimun Zubair) adalah kiai yang paling sepuh," jelas Kiai asal Cirebon itu.

Lebih lanjut, Kiai Said, memohon doa restu kepada para kiai sepuh NU agar ia dapat menjalankan tugasnya sebagai Ketua Umum PBNU dengan baik dan lancar. "Saya mohon doa (kepada para kiai) agar dalam menjalan tugas sebagai Ketum PBNU bisa lancar," pintanya.

Asli Muhammadiyah

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang KH Maimun Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen merasa senang atas terlaksananya acara pertemuan ulama di pondok pesantrennya. "Saya merasa gembira sekali dan bersyukur kepada Allah atas terlaksananya acara ini di sini," tutur Mbah Moen.

Dengan hadirnya para ulama di pondok pesantrennya, Mbah Moen berharap suatu saat nanti, santri-santrinya bisa menjadi penerus para ulama besar tersebut.?

"Saya berharap santri-santri di sini bisa meneruskan ulama-ulama," pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Hadits, Sunnah Asli Muhammadiyah

Senin, 24 Mei 2010

Untuk Apa Diadakan Kenduri Lebaran Ketupat?

Kudus, Asli Muhammadiyah - Semarak Hari Raya Idul Fitri di kalangan masyarakat Jawa Tengah bisa dibilang menarik. Pasalnya, masyarakat tidak hanya merayakan pada tanggal 1 Syawal untuk bermaaf-maafan dengan saudara dan teman saja, tetapi pada 8 Syawal dirayakan pula sebagai Lebaran Ketupat.

Sebagaimana yang terjadi di desa Papringan, kabupaten Kudus, Jawa Tengah, hampir seluruh warga pada hari sebelumnya memasak ketupat untuk di konsumsi secara khusus pada hari lebaran ketupat.

Untuk Apa Diadakan Kenduri Lebaran Ketupat? (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Apa Diadakan Kenduri Lebaran Ketupat? (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Apa Diadakan Kenduri Lebaran Ketupat?

Selain dikonsumsi sendiri, ketupat dilengkapi dengan kuah khas yang telah matang dijuga dibagikan ke rumah-rumah tetangga dan puncaknya dimakan bersama oleh sebagian warga di setiap masjid dan musholla pada pagi hari tanggal 8 syawal tersebut.

Asli Muhammadiyah

Menurut Syuriah Ranting NU desa Papringan Kiai Solkhin, kenduri ketupat pada tanggal 8 Syawal merupakan bentuk majelis tasyakuran dan doa usai menunaikan kewajiban rukun Islam yakni puasa dan ibadah sunnah lainnya pada bulan Ramadhan.

“Makanya, ulama dahulu membuat acaraselametan (tasyakuran), diisyaratkan dengan kupat (ketupat) dan lepet (panganan ketan yang dibungkus daun kelapa),”tuturnya saat membuka ritual kenduri ketupat yang berlangsung di masjid Al-Junaid, Rabu (13/7) pagi.

Asli Muhammadiyah

Adapun kegunaan kenduri ketupat, lanjut Kiai Solkhin, untuk menyimbolkannasi yang ada di dalam ketupat jangan sampai keluar dari bungkusnya yang tersusun dari janur atau daun pohon kelapa.

“Sama juga dengan diri kita untuk membungkus raga dan nyawa yang sudah bersih jangan sampai terkena noda-noda dosa pada tahun-tahun yang akan datang,” terangnya memaknai dibalik tujuan kenduri ketupat.

Mengenaikalimat ja’alanallahu wa iyyakum minal a’idin wal faizin wa taqabbalallahu wa minna wa minkum taqqabal ya karim, ini merupakan istilah buatan ulama dahulu yang sering dipakai banyak kalangan pada momen Idul Fitri. Doa ini mempunyai arti, semoga dijadikan Allah termasuk orang yang kembali fitrah, baik itu raga maupun nyawa supaya bersih dari dosa.

Ia menambahkan keterangan tentang kalimat doa lainnya yakni wa antum bi khoirin fi kulli ‘am, yang mempunyai artipada tahun-tahun yang akan datang, mudah-mudahan kita selalu dalam keadaan baik.

“Sebagian ulama menafsiri kalimat tersebut sebagai doa supaya tahun depan dapat bertemu kembali dengan hari raya Idul Fitri,” jelasnya dihadapan puluhan warga yang masing-masing sudah membawa ketupat beserta kuah yang ditaruh rapi dalam wadah.

Sementara itu, Kiai Solkhin menilai pahala kenduri ketupat tersebut tidak hanya bisa dinikmati oleh diri sendiri, tetapi bisa pula niat diberikan kepada orang yang sudah meninggal. “Kita diberikan juga kepada ahli kubur. Semoga selalu mendapatkan maghfirah dari Allah,” pungkasnya. (M. Zidni Nafi’/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ulama, Quote, Pertandingan Asli Muhammadiyah

Senin, 02 Desember 2013

Ini Alasan NKRI Harga Mati bagi NU

Surabaya, Asli Muhammadiyah. Mengapa Nahdlatul Ulama kukuh menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia? atau NKRI dan tidak bisa ditawar? Bahkan siapa saja yang berkeinginan mengubahnya, akan berhadapan dengan NU.

Ini Alasan NKRI Harga Mati bagi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Alasan NKRI Harga Mati bagi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Alasan NKRI Harga Mati bagi NU

Hal inilah yang menjadi pembahasan dalam diskusi rutin PW Aswaja NU Center Jawa Timur, Sabtu (2/5). Narasumber yang dihadirkan adalah KH Ahmad Azhar Shofwan yang juga Ketua PW Lembaga Bahtsul Masail NU Jawa Timur.

Bagi Kiai Azhar, setidaknya ada tiga alasan mendasar yang akhirnya menjadikan NU tetap berkomitmen untuk menjadikan NKRI sebagai harga mati. Bagi NU, negara bukanlah sebagai tujuan. "Selama negara bisa menjamin bagi terlindunginya lima hal pokok atau ushulul khams, maka sudah seharusnya keberadaan negara didukung," katanya.

Asli Muhammadiyah

Kelima hal pokok tersebut adalah terjaganya akal, agama, harta, keturunan serta jiwa atau nyawa. Sehingga, tujuan hakiki dari sebuah negara adalah maslahah ammah atau kemaslahatan publik, tanpa harus mempersoalkan bentuk dari negara yang ada, lanjutnya.

Pertimbangan kedua adalah, secara substantif keberadaan NKRI sesuai dengan syariat. "Karena dalam praktiknya, masyarakat muslim atau warga negara bisa menjalankan syariat Islam secara penuh," katanya.

Asli Muhammadiyah

Kiai Azhar, memerinci bahwa selama ini banyak undang-undang atau peraturan di negara Indonesia yang bisa mengakomodir pelaksanaan syariat Islam. "Seperti berlakunya undang-undang perkawinan, waris, zakat, juga pengelolaan fakir dan miskin," katanya. Bahkan untuk yakng terakhir ini yakni penanganan fakir miskin di tanah air sesuai dengan tatanan yang disyariatkan dalam Islam, lanjutnya.

"Yang ketiga adalah NU menyadari akan kebhinekaan dari bangsa Indonesia, karenanya menghadapi keberagaman itu harus dihadapi dengan arif agar kemajemukan yang ada bisa terjaga dengan baik," terangnya. Karenanya, NKRI menjadi solusi terbaik bagi upaya menebarkan rasa aman dan damai, tanpa harus ada pihak yang diciderai.

Dalam pandangan pengasuh bahtsul masail di sejumlah media ini, bagi NU formalisasi syariah apalagi dalam bentuk negara tidaklah penting. "Yang lebih penting adalah bagaimana rasa aman dan nyaman dalam menjalankan syariat bisa terlindungi dengan baik oleh negara," tandasnya.

Di akhir pemaparannya, Gus Azhar mengemukakan bahwa titik tekan sebuah negara adalah bagaimana hukum Islam dapat teraplikasi secara penuh dalam kehidupan sehari-hari, tanpa mempersoalkan status negaranya.

Diskusi ini merupakan kegiatan mingguan yang diselenggarakan PW Aswaja NU Center Jawa Timur. Para peserta adalah utusan dari pengurus setempat dan juga dihadiri masyarakat umum yang ingin mendalami masalah keaswajaan dalam banyak sudut pandang.

"Untuk Sabtu depan, kami akan menghadirkan Ustadz Maruf Khozin dengan tema bahasan seputar ijtihad ulama NU dalam menerima Pancasila dan demokrasi," kata Ustadz Ahmad Muntaha, AM, koordinator Kajian Islam ala Ahlus Sunnah wal Jamaah atau Kiswah. Kegiatan dilangsungkan di perpustakaan PWNU Jatim dari jam 14.00 hingga 16.00 WIB. (Syaifullah/Abdullah)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Meme Islam Asli Muhammadiyah

Jumat, 22 Desember 2017

Kesederhanaan Jadi Kekuatan Pesantren

Jember, Asli Muhammadiyah - Pondok pesantren yang bertebaran di Nusantara ini secara umum kondisinya masih sederhana. Namun kesederhaan itu, sungguh menjadi kekuatan tersendiri. Santri tidak hanya siap hidup mandiri, tapi juga lebih unggul dalam daya tahan hidup dibanding dengan yang lain. Pola hidup sederhana, dan dengan fasilitas hidup yang terbatas serta harus berbagi dengan sesama telah membentuk karakter santri menjadi kuat fisik dan mentalnya.

Demikian disampaikan Wakil Sekretaris PCNU Jember Moch Eksan saat mengisi pengajian di Lembaga Pendidikan Miftahul Arifin, Dusun Sumberpinang, Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, Jember, Rabu (17/5) malam.

Kesederhanaan Jadi Kekuatan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesederhanaan Jadi Kekuatan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesederhanaan Jadi Kekuatan Pesantren

Menurutnya, fisik santri memiliki daya imunitas atas berbagai serangan penyakit. Sebab, mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan yang kurang sehat sekalipun.

"Sistem sanitasi yang kurang baik, air dan asrama yang di bawah standar kesehatan lingkungan, justru membentuk antibodi untuk melawan penyakit."

Asli Muhammadiyah

Sementara dari sisi mental, lanjutnya, para santri terus-menerus digembleng dengan serangkaian kegiatan ibadah dan pembelajaran agama selama 24 jam penuh. Kegiatan tersebut tentu saja menempa santri memiliki kesehatan mental yang prima.

Asli Muhammadiyah

"Jiwanya selalu ingat kepada Allah, biasa hidup mandiri, dan daya imunitasnya tinggi. Itulah kelebihan dari kesederhaan santri," tambahnya.

Walaupun demikian, pesantren harus selalu berbenah. Inovasi dan kreasi perlu terus dikembangkan. Terutama dalam meningkatkan kompetensi dan? keterampilan. Salah satunya adalah dengan cara mengembangkan metode pembelajaran yang lebih partisipatif.

"Saya kira pesantren pasti terus berusaha menyempurnakan apa yang telah ada,"? pungkasnya. (Aryudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kajian Sunnah, Hikmah, Aswaja Asli Muhammadiyah

Senin, 27 November 2017

Ketua NU Aceh Ungkap 3 Alasan NU Berdiri

Aceh Singkil, Asli Muhammadiyah. Ketua PWNU Provinsi Aceh Tgk. H. Faisal Ali mengungkapkan, ada tiga alasan yang melatarbelakangi lahirnya NU, yaitu motif agama, motif nasionalisme dan motif mempertahankan faham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

NU lahir, kata dia, bertujuan membentengi umat Islam, khususnya di Indonesai, agar tetap teguh pada ajaran Islam dengan mengikuti faham sunnah nabi, sahabat dan ulama salaf, sehingga tidak tergiur dengan ajaran Islam sempalan dan sesat.

Ketua NU Aceh Ungkap 3 Alasan NU Berdiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua NU Aceh Ungkap 3 Alasan NU Berdiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua NU Aceh Ungkap 3 Alasan NU Berdiri

Ia menjelaskan hal itu pada pelantikan Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kabupaten Aceh Singkil priode 2014-2019. Acara yang digelar di depan Kantor Bupati Aceh Singkil, Selasa (18/11) tersebut dihadiri oleh ratusan pengurus mulai ranting dan banom-banom NU  Kabupaten Aceh Singkil.

Asli Muhammadiyah

Turut hadir Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Tgk. H. Nurruzzahri Yahya (Waled Nu), Bupati Aceh Singkil H. Safriadi, SH, Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Provinsi Aceh Tgk. H. Faisal Ali, Sekretaris Tanfidziyah PWNU Aceh Asnawi M. Amin, S.Ag dan tokoh-tokoh NU yang ada di Kabupaten Aceh Singkil.

Asli Muhammadiyah

Bupati Aceh Singkil H. Safriadi, S.H dalam sambutannya, mengajak seluruh warga NU, untuk memiliki andil besar dalam penegakan syariat Islam dan membangun kemaslahatan umat yang sangat diperlukan saat ini, khususnya dalam pembentukan moral dan akhlak manusia ke jalan yang diridhoi Allah SWT. (Indra/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Olahraga Asli Muhammadiyah

Minggu, 17 Agustus 2014

Kongres Fatayat NU Soroti 2 Juta Anak Perokok

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Salah satu isu kesehatan yang disorot dalam Kongres XIV Fatayat NU di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Kamis hingga Senin (1-6/7), adalah soal rokok di kalangan anak.

Saat ini jumlah perokok di Indonesia sekitar 60 juta orang. Menurut data Kementerian Kesehatan, hampir 2 juta dari para perokok itu adalah anak Indonesia yang berusia 7-18 tahun dan merokok rata-rata dua batang setiap hari.

Kongres Fatayat NU Soroti 2 Juta Anak Perokok (Sumber Gambar : Nu Online)
Kongres Fatayat NU Soroti 2 Juta Anak Perokok (Sumber Gambar : Nu Online)

Kongres Fatayat NU Soroti 2 Juta Anak Perokok

Berdasarkan fakta itu, Fatayat mendorong pemerintah mengambil kabijakan yang tegas untuk mengurangi perokok dengan membatasi iklan rokok dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya merokok, terutama bagi anak-anak dan perempuan.

Asli Muhammadiyah

Demikian disampaikan Ketua Panitia Muzaenah Zein dalam konferensi pers mengenai hasil Kongres XIV Fatayat di kantor PBNU, Jakarta, Senin (5/7) kemarin.

Asli Muhammadiyah

Secara khusus, Kongres Fatayat NU juga prihatin dengan maraknya kekerasan  terhadap anak dalam bentuk penculikan dan pemerkosaan di Indonesia yang kian hari kian massif. Padahal, anak sebagai investasi masa depan harus mendapatkan perlindungan dari negara.

”Sebagaimana kita ketahui, kekerasan terhadap anak terus meningkat. Angka kekerasan terhadap anak meneapai 1.998 kasus pad a tahun 2009. Untuk mengantisipasi masalah tersebut, sudah saatnya pemerintah meningkatkan penegakan hukum untuk melindungi generasi bangsa tersebut,” kata Muzaenah.

Menurutnya, Undang-Undang Perlindungan Anak sesunguhnya sudah cukup tegas memberikan sanksi terhadap pelaku kekerasan, namun di tingkat lapangan, penegakan hukum masih cukup lemah.

”Kongres Fatayat NU mendesak kepada aparat kepolisian untuk melakukan tindakan tegas, baik mengusut kasus-kasus penculikan maupaun melakukan upaya-upaya pencegahan,” tambahnya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kajian Sunnah, Tokoh Asli Muhammadiyah

Rabu, 04 Juni 2008

Dedi Mulyadi: Santri Jangan Ngumpul

Bekasi, Asli Muhammadiyah. Budayawan Dedi Mulyadi mengingatkan santri adalah orang-orang yang berakhlak mulia. 

Hal itu disampaikan Dedi pada Gebyar Hari Santri Nasional sekaligus Hari Sumpah Pemuda, Sabtu (28/10) malam di Stadion Mini Tambun, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Dedi Mulyadi: Santri Jangan Ngumpul (Sumber Gambar : Nu Online)
Dedi Mulyadi: Santri Jangan Ngumpul (Sumber Gambar : Nu Online)

Dedi Mulyadi: Santri Jangan Ngumpul

Pada puncak peringatan HSN yang diadakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bekasi, Dedi juga mengajak masyarakat Kabupaten Bekasi untuk menanamkan nilai-nilai agama sejak dini. 

“Untuk pelajaran agama, kalau bisa ustad-ustad diperdayakan dengan cara mengajar di Sekolah Dasar (SD), dan mengajari kitab kuning,” kata pria yang juga Bupati Purwakarta.

Menurutnya, jika sejak kecil tidak diberikan pengalaman ilmu agama, dan baru didapatkan ketika kuliah, seseorang akan merasa paling benar.

Asli Muhammadiyah

Ia juga berpesan karena tugas NU itu adalah menjadi benteng NKRI, keterlibatan santri harus lebih luas dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia, apalagi sekarang adalah abad kebangkitan para santri.

“Santri jangan pada ngumpul (terpusat di satu titik). (Santri) disebar ke semua (wilayah), agar Republik ini diisi oleh para santri,” terangnya.

Kabag Kesra Kabupaten Bekasi, Iyan Supriatna yang mewakili Bupati Bekasi menuturkan, bicara soal Hari Santri Nasional Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi mendukung penuh. Terlebih, pada hari H (22 Oktober 2017)  Bupati Bekasi, Neneng Hasanah Yasin juga sudah mengadakan peringatan Hari Santri Nasional di Masjdi At Taqwa, Babelan.

Asli Muhammadiyah

“Bicara HSN beliau (Bupati Bekasi, Neneng Hasanah Yasin) mendukung penuh. Apalagi dibidang keagamaan, beliau sangat mendukung sekali,” ucap mantan Camat Tambun Selatan ini. 

Tema peringatan HSN PCNU 2017 Kabupaten Bekasi adalah Membangun Santri Mandiri yang Menghargai Keberagamaan untuk Membangkitkan Peradaban Bangsa Menuju NKRI Hebat. Sejumlah agenda telah dijalankan berupa seminar, perlombaan, dan upacara.

Lomba baca kitab kuning ‘Keaswajaan dan Kebangsaan dihelat di Pondok Pesantren Nurul Hud  Desa Cikarageman Kecamatan Setu, 7-8 Oktober 2017. Berikutnya Lomba Seni Hadroh dan Marawis di Pondok Pesantren Al Fath Jalen Desa Jejalen Kecamatan Tambun Selatan, 7-8 Oktober 2017. Sementara Lomba Seni Pencak Silat dan Futsal di Pondok Pesantren An-Nadwah, Desa Lambang Sari Kecamatan Tambun Selatan, pada 14-15 Oktober 2017.

Ketua PanitiaHSN PCNU Kabupaten Bekasi KH Sholahuddin Al Hadi mengatakan hari santri adalah hari untuk memperingati peran besar kaum kiai dan santri dalam perjuangan melawan penjajah bangsa asing, bertepatan dengan resolusi jihad Mbah KH Hasyim pada tanggal 22 Oktober.

Di Bekasi semangat serupa dipelopori oleh KH. Noer Ali dan KH. Nawawi Cibarusah.

“Saya berharap dengan adanya perlombaan ini dapat menumbuhkan rasa kecintaan kita terhadap tradisi pesantren, dan membumihanguskan prasangka yang tidak baik bagi dunia pesantren, khususnya di Kabupaten Bekasi,” ujarnya.

Selain itu, Seminar Kebangsaan Santri Mandiri NKRI Hebat digelar 21 Oktober 2017 di Auditorium Hotel Win Bekasi Timur. Acara saat itu dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Mantan Ketua Umum GP Ansor H. Nusron Wahid.

Puncak acara HSN 2017  Kabupaten Bekasi, ditandai dengan Upacara Hari Santri, serta pembagian hadiah lomba di Stadion Wibawa Mukti (Stadion Tambun) pada tanggal 28 Oktober 2017. Momentum tersebut dihadiri antara lain Habib Luthfi bin Yahya, Sastro Al- Ngatawi, dan Iwan Fals. (Ron/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Sunnah, News, Khutbah Asli Muhammadiyah

Minggu, 01 Mei 2016

Hukum Menerima THR dari Non-Muslim

Assalamu ‘alaikum wr. wb. Pak ustadz, saya adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta, dan tinggal beserta anak-istri di sebuah rumah yang sederhana. Kami memiliki tetangga non-muslim yang berkecukupan dan sangat baik. Setiap menjelang lebaran tetangga saya yang non-muslim itu membagi-bagikan sarung, sirup, dan sembako bahkan uang kepada kami yang muslim.

Dia selalu bilang: “Ini THR dari kami, mohon diterima dengan baik meski seadanya”. Saya sering kali ragu untuk menerimanya karena yang memberikan adalah orang non-muslim. Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana hukumnya menerima THR dari orang non-muslim? Mohon kiranya pak ustadz memberikan penjelasan hukumnya. Atas penjelasannya saya ucapkan terimakasih. Dedy/Jakarta          

Jawaban

Hukum Menerima THR dari Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Menerima THR dari Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Menerima THR dari Non-Muslim

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Setelah mencermati pertanyaan di atas, kami berkesimpulan bahwa THR yang diberikan orang non-muslim tersebut pada dasarnya masuk dalam kategori hadiah. Karena pemberian tersebut tanpa konpensasi. Maka sebelum menjawab pertanyaan tersebut kami akan menjelaskan sedikit tentang hukum memberikan hadiah.

Asli Muhammadiyah

Pada dasarnya hukum memberikan hadiah adalah sunnah, karena hadiah bisa memberikan efek positif. Yaitu menumbuhkan welas-asih dan menjauhkan permusuhan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh al-Qurthubi.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?

Asli Muhammadiyah

“Hukum hadiah itu disunnahkan, dan hadiah itu bisa mewariskan kasih sayang dan menghilangkan permusuhan. Imam Malik telah meriwayatkan dari ‘Atha` bin Abdillah al-Khurasani, ia berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda, Hendaknya kalian saling bersalaman maka kedengkian akan sirna, dan hendaknya kalian saling memberi hadiah maka kalian akan saling menyayangi satu sama lainnya dan permusuhan akan sirna”.(Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an, Kairo-Dar al-Kutub al-Mishriyyah, cet ke-2, 1384 H/1964 M, juz, 13, h. 199).

Sampai disini sebenarnya tidak ada persoalan. Namun kemudian muncul persoalan sebagaimana pertanyaan di atas. Yaitu, bagaimana jika yang memberikan hadiah adalah orang non-muslim?

Imam Bukhari pakar hadits terkemuka dan hadits riwayatnya diakui paling shahih di antara riwayat-riwayat ahli hadits yang lainya, dalam kitab Shahih-nya menulis bab khusus mengenai qabul al-hadiyah min al-musyrikink (kebolehan menerima hadiah dari non muslim).

Dalam bab ini Imam Bukhari menyuguhkan beberapa hadits yang menunjukkan kebolehan menerima hadiah dari non-muslim. Di antaranya adalah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? --? ?

“Said berkata, dari Qatadah dari Anas ra, sesungguhnya Ukaidira Dumah pernah memberikan hadiah kepada Nabi saw”. (HR. Bukhari).

Hadits lain yang juga bisa dijadikan dasar hukum kebolehan menerima hadiah dari orang non-muslim adalah hadits riwayat at-Tirmidzi yang mengisahkan bahwa Salman al-Farisi pernah memberikan hadiah kepada Rasulullah saw berupa ruthab (kurma basah). Pada saat Salman al-Farisi memberikan hadiah tersebut, ia belum masuk Islam. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Zainuddin al-‘Iraqi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Di dalam hadits tersebut mengandung pengertian kebolehan menerima hadiah dari orang kafir. Sebab, Salman al-Farisi ketika memberikan hadiah kepada Rasulullah saw belum masuk Islam. Ia masuk Islam setelah mengentahui tiga tanda kenabian yaitu penolakan Rasulullah saw terhadap shadaqah (zakat), memakan hadiah, dan khatam an-nubuwwah. Hanya saja Salman al-Farisi ra melihat khatam an-nubuwwah setelah Rasulullah saw menerima hadiahnya”. (Zainuddin al-‘Iraqi, Tharh at-Tatsrib fi Syrah at-Taqrib, Bairut-Mu`assah at-Tarikh al-‘Arabi, tt, juz, 4, h. 40).

Penjelasan singkat ini jika ditarik ke dalam kontesk pertanyaan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum menerima THR dari orang non-muslim adalah boleh sebagaimana bolehnya menerima hadiah dari orang non-muslim.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan, semoga bermanfaat. Dan saran kami adalah hargailah pemberian orang lain meski tidak seiman, hormati keyakinan orang lain, balasalah perbuatan baik orang lain dengan kebaikan pula. Karena, tiada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)         

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pesantren, IMNU Asli Muhammadiyah

Senin, 08 Januari 2018

Penting Bagi Pelajar NU untuk Pahami Sejarah Peran Ulama

Brebes, NU Onlline. Pengasuh Pesantren al-Arifah Buntet Cirebon, KH Fariz Elt Haque Fuad Hasyim mengingatkan, bahwa bangsa yang besar jangan sampai melupakan sejarah, karena hal itu penting untuk dipahami. Terutama sejarah peran ulama dalam merebut dan mempertahankan NKRI. Ulama memiliki andil yang terbesar ? atas berdiri tegaknya NKRI.

Hal tersebut disampaikan KH Fariz pada Halalbihalal Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Songgom, Brebes di halaman Masjid Baitul Muttaqin Dukuh Tegalurung Nahdliyin desa Gegerkunci, Songgom, Senin (27/7) lalu.

Penting Bagi Pelajar NU untuk Pahami Sejarah Peran Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Penting Bagi Pelajar NU untuk Pahami Sejarah Peran Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Penting Bagi Pelajar NU untuk Pahami Sejarah Peran Ulama

Kang Fariz, demikian panggilan akrabnya, menunjukan bukti kalau peristiwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 merupakan hasil keputusan dari Rapat Besar Konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura, 21-22 Oktober di Surabaya. Puncaknya, atas fatwa KH Hasyim Asy’ari menggeloralah peristiwa pada 10 November di Surabaya yang dikenal sebagai Hari Pahlawan.?

Asli Muhammadiyah

“Atas fatwa dari KH Hasyim Asy’ari, seluruh Ulama dan Santri serta elemen masyarakat lainnya bahu membahu mempertahankan dan mengusir penjajah dari Bumi Pertiwi,” tegas Kang Fariz.?

Dia juga menerangkan, bahwa salah satu cara menghancurkan Indonesia adalah menjauhkan masyarakat dari Ulama. Masyarakat dijauhkan dari ilmu ulama, dibuat bodoh. agar bisa di propaganda oleh pihak lain yang tidak suka dengan keberadaan NKRI. Oleh karena itu. IPNU–IPPNU ? harus jadi garda terdepan mengawal Ulama.

Asli Muhammadiyah

Beliau juga berpesan, agar ukhuwah Islamiyah, wathoniyah, basyariyah, dan nahdliyah harus terus dipertahankan. “Insya Allah Indonesia menjadi negeri yang Baldatun Thoyibatun Warobbun Ghofur,” tandasnya.

Ketua PAC IPNU Kecamatan Songgom Imam Hadi Saputra menjelaskan, bahwa momentum halalbihalal ini dijadikan sebagai media untuk saling memafkan setelah ditempa 1 bulan lamanya berpuasa. Halalbihalal adalah tradisi Nahdlatul Ulama yang dicetuskan oleh KH Wahab Chasbullah yang merupakan Pahlawan Nasional untuk mempererat tali silaturahmi.?

“Acara Halalbihalal ini kita akan kembali fitri sebagai modal kita melaksanakan aktivitas kedepan yang lebih baik,” ujar Imam.

Turut Hadir dalam acara tersebut Ketua MWCNU Songgom Harun SAg, Camat Songgom Gunarto, Ketua PC IPNU Brebes Ferial, PC GP Ansor Brebes, Pembina, Alumni IPNU-IPPNU dan ratusan kader IPNU–IPPNU di Kecamatan Songgom. (Wasdiun/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kajian Sunnah, AlaSantri Asli Muhammadiyah

Selasa, 26 Desember 2017

Mau UTS, KMNU FMIPA UGM Adakan Khotmil Qur’an

Yogyakarta, Asli Muhammadiyah. Menandai terbentuknya Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Fakultas MIPA UGM, Sabtu (11/10), diselenggarakan acara khotmil Qur’an dan do’a bersama menjelang Ujian Tengah Semester (UTS).

Mau UTS, KMNU FMIPA UGM Adakan Khotmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Mau UTS, KMNU FMIPA UGM Adakan Khotmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Mau UTS, KMNU FMIPA UGM Adakan Khotmil Qur’an

“Acara ini bertujuan melestarikan tradisi khataman Al Qur’an dan mensyiarkannya di lingkungan kampus UGM,” kata Hamim selaku panitia.

Acara ini juga diisi dengan tausyiah dari Malik Khidir, mahasiswa berprestasi UGM yang meraih medali emas pada kontes robot Internasional di Boston, AS, tahun 2013.

Asli Muhammadiyah

“Kalau mempunyai keinginan atau hajat, selain dengan ikhtiar dhohir, kita juga harus ikhtiar batin, seperti dzikir, sholawat, tirakat, dan lain-lain,” terang Malik Khidir, Mahasiswa Elektronika dan Instrumentasi FMIPA UGM yang juga santri di pesantren Al Barokah, Yogyakarta.

Asli Muhammadiyah

Acara ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta Al Qur’an dan secara khusus dapat menjadi titik awal masifisasi dakwah aswaja di tiap fakultas. Sejauh ini, KMNU UGM sedang merintis cabang-cabang di tiap fakultas di UGM sebagai sarana syiar ahlussunah wal jama’ah agar lebih massif dan berkembang. (mukhanif yasin/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kajian Sunnah, Jadwal Kajian Asli Muhammadiyah

Jumat, 26 Mei 2017

BMTNU Jombang Optimalkan Pendirian Sejumlah Cabang

Jombang, Asli Muhammadiyah

Baitul Maal wat Tamwil (BMTNU) Jombang pusat terus mengoptimalkan pendirian-pendirian cabang BMTNU di sejumlah kecamatan di Jombang. Hal ini merupakn upaya warga nahdliyin setempat untuk menjembatani perekonomian masyarakat.Gambar sisip 1

BMTNU Jombang Optimalkan Pendirian Sejumlah Cabang (Sumber Gambar : Nu Online)
BMTNU Jombang Optimalkan Pendirian Sejumlah Cabang (Sumber Gambar : Nu Online)

BMTNU Jombang Optimalkan Pendirian Sejumlah Cabang

Sebelumnya, 2 cabang BMTNU sudah berdiri dan beroperasi di masing-masing kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) terkait. Yaitu di Kecamatan Bareng sebagai cabang perdana BMTNU Jombang, kemudian disusul Kecamatan Kesamben pada Bulan Februari lalu.

Sekretaris BMTNU Jombang pusat, Muhammad Muchlis Irawan menyatakan bahwa pada tahun 2016 ini, pihaknya menargetkan dua hingga tiga pendirian cabang BMTNU di kecamatan-kecamatan tertentu. "Insyaallah pada tahun ini ada dua sampai tiga cabang lagi berdiri," katanya kepada Asli Muhammadiyah saat dihubungi, Jumat (19/3).

Sesuai dengan kebijakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang untuk mendirikan lembaga keuangan sebagai strategi kesejahteraan warga nahdliyin, juga sebagai upaya mengembangkan dan memperkuat kelembagaan NU.

Selama dua periode dipimpin KH Isrofil Amar, memang ada target untuk mendirikan satu BMT di tingkat kabupaten dan tiga di MWCNU. Namun melihat rencana dan upaya pengurus BMTNU pusat tampak akan melebihi target tersebut. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah Sunnah Asli Muhammadiyah

Selasa, 30 Mei 2017

Nilai-nilai Islami dalam Sepak Bola

Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun



Sepak bola selalu menarik perhatian jutaan manusia di muka bumi ini. Sampai-sampai, di luar negeri, khususnya negara-negara Eropa, sepak bola sudah seperti agama.

Nilai-nilai Islami dalam Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)
Nilai-nilai Islami dalam Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)

Nilai-nilai Islami dalam Sepak Bola

Di Indonesia sendiri, sepak bola menjadi salah satu cabang olahraga yang paling populer. Ia dimaninkan di gang-gang kumuh, sawah, halaman sekolah, halaman madrasah, dan atap gedung di Jakarta oleh anak-anak kecil, sampai dimainkan pemain profesional di GBK.

Menariknya, meski ini adalah sebuah olahraga, di dalam sepak bola ada nilai-nilai Islami yang patut kita pegangi. Seperti apakah nilai-nilai Islami dalam sepak bola itu? Berikut analisis dan penafsirannya.

Asli Muhammadiyah

Pertama, taat hukum atau aturan. Meski sepak bola bersifat lomba: tim mana yang paling bisa menyarangkan golnya terbanyak ke gawang lawan, dialah juaranya, tetapi tidak boleh semau-maunya. Hukum ini wajib ditaati oleh semua pemain, layaknya hukum agama harus ditaati pemeluknya atau hukum negara yang harus ditaati warganya.

Asli Muhammadiyah

Jika hukum ini dilanggar, maka wasit akan memberi sanksi: kartu kuning dan kartu merah yang berakibat diusirnya pemain dari lapanhan. Sangsi ini perlu untuk menegakkan peraturan, dengan tujuan semua pemain aman, tidak saling mencederai, dan demi kondusifitas permainan. Pun dalam Islam, hampir sama: semua hukumnya ada untuk menjaga harmoni manusia: akal, keturunan, jiwa, harta dan kehormatan.

Kedua, sportivitas. Dalam bahasa agama, sportif itu adalah kebajikan - mendekati sunnah, yaitu jika tidak dilakukan tidak apa-apa. Misalnya, ketika bola ada di kaki tim A, kemudian ada salah satu pemain tim B yang cidera, maka tim A akan membuang bola itu keluar lapangan. Ketika wasit memberikan bola itu ke tim B untuk memulai, maka demi sportifitas, bola tidak langsung dibawa oleh tim B, melainkan diberikan kepada tim A.

Contoh lagi. Apabila ada pemain yang menjatuhkan lawannya, maka ia mengulurkan tangannya, membantunya berdiri dan melanjutkan permainan. Sungguh, suatu pemandangan yang elok, bagaimana dengan musuh bisa menunjukkah sikap hormat, bertarung dengan terhormat.

Sportivitas ini, jika dipupuk menjadikan adil dalam bertindak dan bersikap. Bukankah ini cara yang dilakukan Shalahuddin Al-Ayyubi, Khalid bin Walid dan Thariq bin Ziyard dalam berbagai pembebasannya di medan laga? Dengan musuh pun masih bisa bijaksana.

Ketiga, keindahan. Dalam hadis disebutkan, innallaaha jamiilun yuhibbul jamaal (Allah Maha Indah dan suka dengan yang indah-indah). Lebih dari sekadar permainan dengan aturan, sportivitas dan menang-kalah, sepak bola menghadirkan keindahan. Keindahan sepak bola bisa karena cantiknya skema permainannya, penyelamatan kipernya, gocekan pemainnya - semisal Christiano Ronaldo - dan atau gol-golnya yang indah. Keindahan tak memiliki agama, ia bisa lahir dari mana saja, termasuk sepak bola. Jadi, sepak bola bisa juga dikatakan seni.

Keempat, bahasa universal. Sepak bola menjadi bahasa universal yang bisa menyatukan. Hal ini mengingat sepak bola tidak melihat dari Suku, Agama dan Ras (SARA), melainkan amalnya, perbuatannya, penampilannya, kontribusinya dan spiritnya. Bukan dari agamanya, sukunya apalagi kegantengannya.? Kita melihat bagaimana ukhuwwah basyariyyah (persausaraan sesama manusia), terjalin di sepak bola.

Konon juga, sepak bola ampuh untuk meredam konflik horisontal yang terjadi di masyarakat. Untuk hal ini, ada baiknya pemerintah khususnya menteri terkait perlu mencoba dalam menangani konflik-konflik, selain dengan ceramah, seminar dan lobi-lobi, yaitu dengan menggelar turnamen sepak bola di daerah konflik. Dengan digelarnya sepak bola, semua akan menyatu dan kembali jadi manusia, terutama ketika yang dinanti tiba: gooolll.

Kelima, menyehatkan badan. Al-aqlus salim fil jismis salim, akal yang sehat itu terdapat dalam tubuh yang sehat. Dalam bahasa Latin, kita kenal ini dengan istilah men sana in corpore sano. Para pemain-pemain terbaik di Real Madrid, Chelsea, Dortmund, Menchester United, PSV Eindoven, Inter Milan sampai PSS Sleman itu, tentu selalu melatih fisik mereka untuk tetap fit, agar badan bugar dan penampilan di pertandingan maksimal.

Keenam, sejatinya tak ada juara. Khusus hal ini, kalaupun ada, tak bisa kekal. Kemarin, misalnya, Indonesia menang melawan Thailand di kandang sendiri, semalam tadi kalah di kandang Thailand. Juara hari ini belum tentu juara esok hari. Pun kalah hari ini bisa menang lusa nanti.

Dalam hidup, tak ada juara abadi. Generasi muda dan pesaing selalu datang silih berganti. Ini mengajarkan agar kita tidak boleh sombong ketika meraih sesuatu, karena sesuatu itu pada akhirnya akan hilang.

Pun demikian dalam Islam. Orang hidup di dunia ini selalu dinamis, tidak statis. Hari ini kafir, bisa jadi kelak mukmin, seperti fakta yang terjadi pada khalifah Umar bin Khattab. Juga sebaliknya, hari ini mukmin, shaleh, bisa jadi kelak berubah. Kisah Ki Barseso telah mengabarkannya. Harta, pangkat, jabatan, fisik dan apa yang kita punya, hakikatnya adalah titipan dari-Nya. Suatu saat akan diambil kembali oleh-Nya.

Ketujuh, misteri dalam sepak bola. Yah, misteri. Semua pemain bisa berusaha menciptakan gol. Tetapi, kadang dengan hanya sepersekian senti, bola itu melesat menjauhi gawang. Bahkan, sekelas pemain dunia pun pernah mengeksekusi penati gagal. Tak ada pemain yang merayakan gol sebelum ia menciptakan. Artinya, ia tidak tahu apakah tendangan atau sundulannya gol atau tidak, sebelum bola itu masuk ke gawang.

Di level yang terakhir ini, dalam term Islam kita mengenal dengan tawakkal. Sesudah berusaha, kita tak boleh memastikannya. Hanya Allah-lah yang dapat memastikannya. Ini mengapa, bila hendak janji - sebagai etika dan keyakinan - kita diajari untuk mengucapkan Insya Allah, jika Allah menghendaki. Karena, jika Allah belum menghendaki, apapun bisa terjadi. Pun sebaliknya: jika Allah berkehendak, ia bisa terjadi yang kadang dengan sebab yang tak terprediksi.

Penulis adalah kader muda NU, penikmat sepak bola.



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Daerah, Tegal, Tokoh Asli Muhammadiyah

Rabu, 12 April 2017

Sukseskan Perhelatan, Panitia Daerah Bekerja Total

Surabaya, Asli Muhammadiyah. Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) setempat bertekad kuat menyiapkan berbagai hal yang berkaitan dengan kesuksesan Muktamar Ke-33 NU yang bakal berlangsung di Jombang, Jatim, 1-5 Agustus 2015.

Sukseskan Perhelatan, Panitia Daerah Bekerja Total (Sumber Gambar : Nu Online)
Sukseskan Perhelatan, Panitia Daerah Bekerja Total (Sumber Gambar : Nu Online)

Sukseskan Perhelatan, Panitia Daerah Bekerja Total

Sekretaris Panitia Daerah (Panda) Muktamar Ke-33 NU H Thoriqul Haq mengaku hampir setiap sore ia dan ketua panitia daerah, H Saifullah Yusuf, hadir di sekretariat Panda Muktamar Ke-33 yang berada di lantai dasar Gedung PWNU Jatim untuk melangsungkan rapat dan koordinasi.

Menurutnya, indikator kesuksesan tersebut antara lain keberhasilan Jawa Timur dalam menjadi tuan rumah yang baik. "Para peserta harus merasa nyaman dan aman selama mengikuti prosesi muktamar," tandas alumnus pasca sarjana sebuah kampus di Malaysia ini, Jumat (20/2) petang.

Asli Muhammadiyah

Sejumlah pejabat penting di Pemerintah Provinsi Jawa Timur dipercaya sebagai Panitia Daerah (Panda) Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama. Kendati tugas sebagai pejabat publik demikian  berat, namun mereka berkomitmen akan menyukseskan muktamar.

Asli Muhammadiyah

Sekadar diketahui, Ketua Panitia Daerah (Panda) Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jawa Timur adalah H Saifullah Yusuf. Gus Ipul, sapaan akrabnya sekarang sedang menjabat Wakil Gubernur Jawa Timur. Ia juga menjadi salah seorang Ketua PBNU.

Demikian juga Sekteratis Panda, H Thoriqul Haq. Mantan Presiden BEM Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini tengah menjabat Ketua Komisi C DPRD Jawa Timur.

"Gus Ipul dan saya telah meminta izin kepada atasan masing-masing terkait kepercayaan dari PWNU Jatim untuk menjadi Panitia Muktamar," tandas Gus Thoriq, sapaan H Thoriqul Haq. Karenanya, beberapa tugas telah didelegasikan kepada sejumlah orang kepercayaan untuk diselesaikan, lanjutnya.

Hal-hal terkait dengan kewenangan fraksi dan komisi di gedung wakil rakyat telah dipasrahkan kepada orang lain yang telah disetujui partai dan anggota di komisi setempat. "Namun untuk kebijakan yang bersifat strategis, tetap harus atas koordinasi dengan saya," tandas pria kelahiran Lumajang ini.

Tidak hanya kedua orang ini yang menjadi Panda Muktamar. Sejumlah nama wakil rakyat juga tercatat sebagai suksesor permusyawarahan tertinggi di NU ini.

Foto: H Saifullah Yusuf dan H Thoriqul Haq saat rapat di Panda Muktamar

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pendidikan, Sunnah, Berita Asli Muhammadiyah