Tokoh


info Tokoh
Tokoh bahasa
Tokoh bahasa nasional
Tokoh bahasa indonesia
Tokoh belah bambu
Tokoh busuk
Tokoh berasal dari bahasa yunani yaitu
Tokoh belanda
Tokoh busuk sby
Tokoh berasal dari kata
Tokoh global
Tokoh gus dur
Tokoh golkar
Tokoh gender
Tokoh gorontalo
Tokoh global amerika serikat
habib Tokoh mp3
video Tokoh full
Tokoh gerakan non blok
rahasia Tokoh terbaru
Tokoh g 30 s pki
Tokoh konfrontasi
Tokoh kerajaan kutai
Tokoh kampus
Tokoh kerajaan majapahit
Tokoh kotor
Tokoh kerajaan tarumanegara
Tokoh kompasiana
Tokoh luar negeri indonesia
Tokoh luar negeri bebas aktif
Tokoh luar negeri indonesia adalah
Tokoh liberal
Tokoh yang membedakan warna kulit disebut
Tokoh yang dianut bangsa indonesia
Tokoh yang baik
Tokoh yahudi
Tokoh yang dianut bangsa indonesia adalah
Tokoh merupakan
Tokoh yaitu

Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Tokoh. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Tokoh. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Maret 2015

Memahami Islam dan Gerakannya (Bagian II)

Oleh? M Kholid Syeirazi

Gerakan Islam yang berkembang di Indonesia tidak terlepas dari konfigurasi dan dinamika harakah Islam di Timur Tengah. Di bagian pertama tulisan ini telah dijelaskan anatomi dan genealogi kelompok Islam garis keras, yang bermuasal dari ortodoksi Imam Ahmad Ibn Hanbal, absolutisme Ibn Taymiyyah, dan salafisme Muhammad Ibn Abdul Wahab. Selain itu bersumber juga dari Dinasti Saudi, neo-fundamentalisme Ikhwan al-Muslimun serta Jama’ati Islami dan pecahan-pecahannya. Teror dan kekerasan bersampul Islam sebagian besar bersumber dari tafsir Islam ortodoks dan kaku ala Ibn Taymiyyah dan pengikutnya. Tentu saja tidak semua penganut salafi Wahabi dan Ikhwan adalah pelaku teror dan kekerasan, tetapi hampir semua gerakan teror dan kekerasan modern bersumber dari epsitemologi Islam radikal-fundamentalistik yang dikembangkan Ibn Taymiyyah pada ke-13 dan penerusnya.?

Ada benang merah yang menalipusarkan gerakan Wahabi di abad ke-18 dengan al-Ikhwan al-Muslimun di abad ke-20 dan al-Qaedah serta ISIS di abad ke-21. Tafsir Islam yang kaku, letterlijk, puritan, cenderung hitam putih dan melihat sesuatu secara oposisi biner melandasi perilaku ekstrem-fundamentalistik para pemeluk salafisme dari abad ke-13 hingga kini. Para pengikutnya yang mulai menjamur di Tanah Air menggemakan jargon: “Kembali kepada Qur’an dan Hadis,” tetapi hanya sedikit sekali yang mengerti apa isi Qur’an dan Hadis. Kembali kepada Qur’an dan Hadis itu seringkali ditafsirkan secara simplistis sebagai menjiplak persis apa yang ada pada masa Rasulullah dan menyebut selebihnya sebagai bid’ah.?

Manhaj Islam Moderat

Memahami Islam dan Gerakannya (Bagian II) (Sumber Gambar : Nu Online)
Memahami Islam dan Gerakannya (Bagian II) (Sumber Gambar : Nu Online)

Memahami Islam dan Gerakannya (Bagian II)

Nahdhatul Ulama (NU), embrio kelahirannya adalah Komite Hijaz, dibentuk pada 1925 sebagai reaksi keras atas rencana rezim Wahabi dinasti Saud memugar makam Rasulullah dan situs-situs bersejarah Islam karena dianggap sumber kultus dan kemusyrikan. Para ulama mengirim delegasi, dipimpin KH Abdul Wahab Hasbullah, murid Hadlratus Syeikh Hasyim Asy’ari yang paling cemerlang di Tebuireng, Jombang. Kepada Raja Ibn Saud, delegasi menyampaian lima permohonan, antara lain meminta Raja menjamin kebebasan beramaliyah dalam empat madzhab di Tanah Haram dan tidak ada penggusuran terhadap makam Nabi dan para sahabat.?

Untuk mendukung legalitas komite, pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926M dibentuklah secara resmi jam’iyyah Nahdlatul Ulama, organisasi Islam beraliran Ahlussunnah Waljama’ah. Hadlratus Syeikh Hasyim Asy’ari, Rais Akbar NU, menyusun Qânûn Asâsi, di dalamnya berisi salah satunya tentang definisi Ahlussunnah Waljam’ah, yang kemudian dielaborasi oleh KH Bisri Mustofa, ayahnda KH Mustofa Bisri (Gus Mus).?

Asli Muhammadiyah

Ahlussunnah Waljama’ah didefinisikan sebagai kelompok Islam bermadzhab, yang mengikuti manhaj para tokoh dalam tauhid, fiqih, dan tasawuf: yaitu mengikuti pandangan Abu Hasan al-Asy’ari (873-935 M) dan Abu Mansur al-Maturidi ? (853-944 M) dalam akidah; mengikuti salah satu di antara empat imam madzhab yaitu Imam Abu Hanifah (700-767 M), Imam Malik bin Anas (713-795 M), ? Imam Muhammad ibn Idris al-Syafi’i (767-820 M), dan Imam Ahmad bin Hanbal (780-855 M) dalam fiqih; dan mengikuti Junaid al-Baghdadi (830-910 M) dan Abu Hamid al-Ghazali (1058-1111 M) dalam tasawuf.?

Semangat dari kelahiran Nahdlatul Ulama adalah menjalankan paham keagamaan moderat yang bersendikan prinsip tawassuth yang meliputi sikap tawâzun (proporsional), i’tidâl (tidak berat sebelah), dan iqtishâd (tidak berlebihan/ifrâth). Prinsip-prinsip ini diyakini sebagai intisari ajaran Islam. Al-qur’an secara tegas menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan (umat tengah/moderat). Dalam hadisnya, Rasulullah menyatakan: “Aku diutus untuk menyampaikan agama tegak lurus dan toleran (bu’itstu bil hanafiyyah al-samhah). Beliau juga mencela kelompok-kelompok ekstrem dalam beragama. Dalam sahih Muslim, Rasulullah diriwayatkan bersabda: “Halakal mutanatthi’ûn, halakal mutanatthi’ûn” (Hancurlah orang-orang ekstrem, hancurlah orang-orang ekstrem). Dalam rangka menjunjung prinsip-prinsip tawasutthiyyah inilah jam’iyyah NU didirikan. Tokoh-tokoh yang dirujuk NU sebagai nisbat paham Ahlussunnah Waljama’ah adalah ulama yang pada masanya menolak ekstremitas.?

Empat ahli fiqih yang kelak membentuk madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali adalah para tokoh yang hidup di puncak-puncak keemasan dinasti Abbasiyah, khususnya pada periode tujuh kekuasaan kekhilafahan antara al-Mahdi (775-785 M) dan al-Mutawakkil (847-861 M). Pada periode ini, umat Islam mengenyam dinamika ilmu pengetahuan yang didukung Khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M). Para ulama dan filsuf merayakan kebebasan intelektual dengan penggalakan penerjemahan buku-buku asing, termasuk filsafat Yunani. Pendirian Baitul Hikmah (Home of Wisdom) oleh Khalifah al-Ma’mun mengukuhkan Baghdad sebagai mercusuar kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Pengaruh dari gerakan penerjemahan buku-buku asing telah membawa kemajuan bukan hanya di bidang ilmu pengetahuan umum, tetapi juga di bidang ilmu pengetahuan agama. Pada masa dinasti Abbasiyah, telah berkembang dua jenis tafsir, tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir bi al-ra’yi. Jelas sekali bahwa tafsir bi al-ra’yi sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan.?

Asli Muhammadiyah

Empat imam madzhab yang dijadikan rujukan definisi Aswaja ala NU adalah tokoh-tokoh moderat yang tidak bermadzhab dengan cara ekstrem. Semua tidak mempertentangkan ‘aql (rasio) dengan naql (teks), meski ada kecenderuang penonjolan ke salah satu. Imam Abu Hanifah yang hidup di Kufah, kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang telah maju, lebih menonjolkan ‘aql daripada naql dalam proses istinbâth al-ahkâm. Sementara Imam Malik bin Anas yang hidup di Madinah yang kaya sumber naqliyyah, lebih banyak menonjolkan naql (hadis) ketimbang ‘aql. Pendapat dua tokoh mazhab ini ditengahi oleh Imam Syafi’i yang mendudukkan ‘aql dan naql dalam neraca yang seimbang. Moderatisme Imam Syafi’i inilah yang diikuti NU. Imam Ahmad bin Hanbal, diantara empat imam madzhab, adalah yang paling tekstualis. Kepada para muridnya, dia memerintahkan agar berpegang kepada hadis Nabi dan pemahaman para sahabat. Ini dilakukan dalam rangka menjaga dan memurnikan ajaran Islam dari kebudayaan serta adat istiadat non-Arab. Disamping empat imam madzhab itu, karena kebebasan intelektual dilindungi pemerintahan Bani Abbas, banyak para mujtahid lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan madzhab sendiri. Di antaranya adalah Madzhab al-Tsawri (didirikan oleh Abu Abdillah Sufyan ibn Masruq al-Tsawry--65-161 H), Madzhab Ibn ‘Uyaiynah(didirikan oleh Abu Muhammad Sufyan ibn ‘Uyaiynah), Madzhab al-Awza’iy (didirikan oleh Abd al-Rahman ibn Amr al-Awza’iy), Madzhab al-Thabary (didirikan oleh Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Khalid ibn Ghalib al-Thabary—224-310 H), dan Madzhab al-Zhahiry (didirikan oleh Abu Sulayman Dawud ibn ‘Ali al-Zhahiry—202-270 H). Akan tetapi, karena pengikutnya tidak berkembang atau tidak ditopang oleh kekuasaan, pemikiran dan mazhab itu hilang seiring berlalunya zaman.

Dalam hal teologi, Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi ? juga merupakan tokoh yang menampik keekstreman teologis seperti yang ditunjukkan oleh kaum Khawarij dan Mu’tazilah. Al-Asy’ari tidak menolak rasio karena dia sebelumnya pengikut Mu’tazilah dan banyak sekali terpengaruh logika Yunani. Tetapi, dia tidak mengagungkan rasio sebagai instrumen tunggal penemu kebenaran. Al-Asy’ari juga menengahi konflik aliran Qadariyah dan Jabariyah dengan memperkenalkan teori kasab. Keluar dari perdebatan lama antara kaum Khawarij dan Murji’ah, al-Asy’ari berpendapat mukmin pelaku dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa selain kufur. Al-Asy’ari juga memperkenalkan ta’wil sebagai jalan tengah dari dua pandangan ekstrem kaum Mujassimah (antropomorfis) dan kaum Musyabbihah. Doktrin-doktrin teologi al-Maturidi yang mencakup akal dan wahyu, perbuatan manusia, kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, sifat Tuhan, melihat Tuhan, kalam Tuhan, perbuatan manusia, pengutusan Rasul dan dosa besar juga merefleksikan struktur berpikir (manhajul fikr) dialektis yang menolak ekstremitas.

Dalam bidang tasawuf, al-Baghdadi adalah tokoh yang berhasil memadukan dzauq tasawuf dengan syariah. Al-Baghdadi merupakan perintis aliran tasawuf yang bersendikan syariah. Praksis sufistik al-Baghdadi tidak ditempuh dengan cara meninggalkan dunia, karena beliau juga adalah seorang pedagang. Teori zuhud al-Baghdadi dinilai paling manusiawi. Karena fitrah manusia goncang di antara imanensi dan transendensi, bimbang di antara makhluk langit dan ? makhluk bumi, tasawuf tidak boleh ditempuh dengan cara meninggalkan dunia, sebab dunia adalah taman sari akhirat. Al-Ghazali merupakan tokoh penting lain yang mencoba membangun jembatan antara syariat dan hakikat, hukum (fiqih) dan etika (tasawuf) dalam magnum opus-nya, Ihyâ Ulum al-Dîn.

Dalam semangat menegakkan prinsip tawasutthiyyah inilah NU dibentuk untuk menentang gerakan purifikasi Islam yang tidak toleran dari dinasti Wahabi Saudi. Selain untuk menyelamatkan aset-aset dan peninggalan Islam yang berharga, terutama makam Nabi, para ulama membela keragaman tafsir atas Islam sebagaimana diwakili oleh para ulama madzhab. Keragaman tafsir Islam dan manifestasinya harus dipertahankan karena Qur’an dan Hadis, dua sumber otoritatif Islam, adalah kitab yang terbuka terhadap tafsir dan nalar yang berkembang dalam sejarah. Sikap ini membuat NU menjelma menjadi organisasi Islam dengan khazanah intelektual yang sangat kaya. NU mewarisi berjilid-jilid kitab tafsir Qur’an, kitab-kitab hadis, fiqih, kalam, dan sebagainya. Dalam pandangan NU, sumber Islam bukan hanya Qur’an, tetapi juga hadis, terutama yang diseleksi oleh Imam Bukhari (810-870 M), Imam Muslim (821-875 M), Imam Abu Dawud (817-888 M), Imam Turmudzi (824-892 M), Imam Ibn Majah (824-887 M), dan Imam An-Nasa’i (839-915 M).?

Karena semangat NU adalah mewarisi khazanah Islam klasik yang berkembang pada abad ke-7 hingga 13 M, NU merujuk kepada tokoh-tokoh yang hidup pada masa di mana kebebasan ijtihad diakui. Sebagaimana telah disebutkan di atas, empat tokoh madzhab fiqih, dua tokoh kalam, dan dua tokoh tasawuf tersebut adalah bintang-bintang yang bersinar terang di era kejayaan Bani Abbasiyah yang menghargai keterbukaan sikap dan kebebasan berpikir. Selain mereka, masih berjejer tokoh-tokoh yang sumbangan intelektualnya terhadap peradaban dunia tidak diragukan seperti Jabir ibn Hayyan (721-815 M) bapak ilmu kimia modern; al-Fazari (w. 796/806 M) dan al-Farghani (w. 870 M), keduanya ahli matematika dan astronomi yang banyak dirujuk para penulis Eropa; al-Kindi (801-873) filsuf Muslim pertama yang banyak sekali menerjemahkan karya-karya Yunani;al-Khawarizmi (780-850 M) pencipta ilmu aljabar/algoritma; al-Farabi (874-950 M) ? ahli filsafat, logika, ilmu jiwa, etika, dan kenegaraan; al-Mas’udi (896-956) ahli ilmu geografi; Ibn Miskawaih (932-1030) ahli etika dan ilmu jiwa; Ibn Sina (980-1037 M) dan al-Razi (1149-1209 M), keduanya ahli ilmu kedokteran dan filsafat yang nyaris tiada bandingannya dalam sejarah; al-Haitsami (w. 1039 M) pakar ilmu optik; dan Ibn Rushd ? (1126-1198 M) yang di Eropa terkenal dengan Averroes. Tanpa sumbangan pemikiran tokoh terakhir ini, demikian tulis para sarjana, Eropa masih tetap akan dibekap abad kegelapan (the dark age).?

Semangat keterbukaan inilah yang diwariskan ketika penguasa Dinasti Abbasiyah (pada waktu al-Ma’mun) mengirim juru dakwah pada sekitar abad ke-9 ke Nusantara. Juru dakwah yang dikirim adalah ahli agama yang beraliran Aswaja dan bermadzhab Syafi’i ke wilayah Sumatera Utara. Pada tahun 839 M, berdiri kerajaan Islam pertama di Indonesia, yaitu Kerajaan Perlak. Khalifah yang berkuasa pada waktu itu adalah al-Mu’tashim Billah. Dapat dipastikan bahwa agama Islam telah masuk jauh sebelum kerajaan itu berdiri, sebab ketika kerajaan itu berdiri sebagian besar penduduknya telah cukup lama memeluk Islam. Pada 1042 M berdiri kerajaan Islam Samudera-Pasai dan pada tahun 1025 berdiri kerajaan Islam Aceh. Kesultanan Samudera-Pasai pada masa Sultan al-Malikus Shaleh menganut paham Aswaja dan beraliran Syafi’i.?

Islam masuk ke Pulau Jawa diperkirakan pada akhir abad ke-14 atau awal abad ke-15. Pada saat itu, dengan dukungan Walisongo, Raden Fatah mendirikan kerajaan Demak. Berkat metode dakwah yang ditempuh Walisongo, Islam berkembang pesat sehingga dalam waktu yang relatif singkat, hampir seluruh masyarakat Jawa memeluk agama Islam. Islam kemudian menyebar ke wilayah lain yang ditandai oleh berdirinya beberapa kerajaan Islam di Ternate, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Pada abad ke-16, Islam telah menjadi agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk yang kelak bernama Indonesia. Metode dakwah yang dikembangkan Walisongo, terutama Sunan Kalijogo, dilestarikan oleh para ulama yang mendirikan pesantren sebagai pusat penyebaran dakwah Islam.?

Adalah nikmat yang harus disyukuri bahwa Islam datang di Indonesia dengan pendekatan budaya. Islam tidak datang melalui kampanye militer dan konflik kekerasan terhadap para penganut agama dan budaya lokal. Kearifan Hindu-Budha yang telah mengguyur Nusantara lebih dari 300 tahun justru berhasil disisihkan Wali Sanga dengan strategi budaya, yang adaptif dan mengayomi tradisi lokal. Wali Sanga menjalankan pendekatan substansialisasi Islam, tidak memerangi bentuk tetapi menyusupkan isi. Beberapa bentuk kebudayaan yang telah ada dipertahankan, tetapi isi dan maknanya diubah dengan pesan-pesan dakwah. Pendekatan sintesis kreatif ini secara sempurna ditunjukkan oleh model dakwah Sunan Kalijaga, yang menciptakan istilah-istilah kejawen tetapi sebenarnya berisi Islam, seperti Sekaten, Dalang, jimat Kalimosodo, dan sebagainya. Hasilnya, proses Islamisasi yang telah berlangsung sejak pertengahan abad ke-15 mengalami akselerasi yang luar biasa sehingga penduduk kepulauan Nusantara, kecuali sebagian kecil saja, telah berhasil diislamkan seluruhnya pada abad ke-16.

Setelah Terusan Suez dibuka pada tahun 1869, terjadi kontak langsung antara umat Islam di Indonesia dan dunia lain, baik melalui jamaah haji maupun para pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di negeri Arab. Kontak ini menyebabkan masuknya paham lain, terutama Wahabisme. Mereka datang dengan tangan terkepal dan wajah muram, menuding Muslim yang menjalankan Islam dengan budaya sebagai pelaku bid’ah, syirik, dan kafir. Padahal, tanpa budaya, mungkin nenek moyang kita masih memeluk agama Hindu-Budha. Mereka ingin menggusur budaya lokal, diganti dengan budaya Arab. Bagi mereka, Arab adalah Islam, Islam adalah Arab. Menyinggung Arab berarti menghina Islam. Simbol-simbol Arab adalah pertanda surga, melecehkan Arab dekat dengan neraka. Jika ada tulisan Arab diinjak atau digunakan sebagai kostum pekerja seni yang “kafir”, bisa dituding melecehkan Islam karena tulisan Arab adalah huruf al-Qur’an. Banyak orang bangga menggunakan jubbah dan merasa sudah berislam secara kaffah. Jelas ini salah kaprah, tetapi sedang mewabah. Wahabisme telah sukses membuat banyak orang Islam rabun mata sehingga tidak bisa membedakan agama dengan budaya. Padahal, mengutip Gus Dur, “Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur menjadi budaya Arab, bukan untuk (mengganti) ‘aku’ menjadi ‘ana,’ ‘sampeyan’ jadi ‘antum’, dan ‘sedulur’ menjadi ‘akhi’… Kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajarannya, bukan budaya Arabnya.”

Agar semakin tidak gagal paham, setiap orang Islam harus mempelajari Islam (tafaqquh fid dîn) dari sumber yang terpercaya, sanad ilmunya sahih dan bisa dipertanggungjawabkan, metodologinya teruji dan layak diikuti.?



Sekjen Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Nahdlatul Asli Muhammadiyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Ini Testimoni Para Tokoh Nasional tentang Gus Dur

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Perhelatan Haul Gus Dur setiap tahun selalu menyedot antusiasme luar biasa dari masyarakat, berbagai organisasi, para tokoh berbagai agama dan keyakinan, hingga tokoh nasional, tak terkecuali di Haul Ke-6 Gus Dur 2015, Sabtu (26/12) malam. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, selain di Ciganjur, Haul juga digelar di beberapa tempat seperti Tebuireng Jombang, Surabaya, Kudus, dan daerah-daerah lain.

Haul Ke-6 Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan menghadirkan tokoh nasional, pejabat, seniman, ulama, dan ribuan masyarakat dari berbagai penjuru.?

Ini Testimoni Para Tokoh Nasional tentang Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Testimoni Para Tokoh Nasional tentang Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Testimoni Para Tokoh Nasional tentang Gus Dur

Tokoh-tokoh tersebut diantaranya, Rais Aam PBNU, KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, Pengasuh Pesantren Al-Hikam, KH Hasyim Muzadi, Wakil Ketua Umum PBNU 2010-2015, H As’ad Said Ali, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Menteri Agama, H Lukman Hakim Saifuddin, Menko Kemaritiman, Rizal Ramli, Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, Rais Aam JATMAN, Habib Luthfi bin Yahya, dan tokoh-tokoh lainnya.

Asli Muhammadiyah

Dalam testimoni yang berhasil dihimpun Asli Muhammadiyah, KH Maruf Amin mengatakan, Gus Dur itu buku bacaan yang tak ada habisnya. “Beliau yang merintis dinamisasi pemikiran kritis di lingkungan NU, tetapi sangat menguasai instrumen fiqh dan ushul fiqh. Bahkan beliau sangat menguasai Al-Hikam yang disebut kaada al-hikamu an-yakuna quraanan,” ujar Kiai yang juga Ketua Umum MUI Pusat ini.

Asli Muhammadiyah

KH Said Aqil Siroj juga menuturkan, Gus Dur mengajari dirinya untuk memahami ilmu ahwal, kondisi di sekitar kita. “Gus Dur memang tampaknya menganggap enteng masalah, tapi sebenarnya beliau berusaha menyelesaikan masalah itu dengan tepat. Termasuk juga dalam mendistribusikan tugas kepada yang lain,” ungkap Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Kemudian, penulis buku Al-Qaeda, H Asad Said Ali menjelaskan, Gus Dur tak hanya seorang kiai, tetapi juga guru politik yang senantiasa teguh menjaga nilai-nilai kemanusiaan sebagai tujuan utama. “Gus Dur merupakan guru politik yang mengajari saya untuk bisa bersikap loyal sekaligus kritis kepada pemimpin,” jelas As’ad.

Lalu, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam testimoninya mengenang masa pencalonanannya di Pilkada Gubernur Bangka Belitung (Babel) yang didukung Gus Dur. “Dulu saya berucap kepada Gus Dur, Keturunan Tionghoa nggak bisa jadi Gubernur Gus. Beliau langsung menimpali, siapa bilang? Jadi Presiden juga bisa,” kenang Ahok. Dia pun tidak memungkiri bahwa jabatan Gubernurnya saat ini tak lepas dari berkah dan inspirasi Gus Dur.

Senada dengan yang lain, Menag H Lukman Hakim Saifuddin memaparkan tiga jasa utama Gus Dur . “Pertama, sejak tahun 70-an, Gus Dur mampu mengangkat kembali nilai-nilai tradisi dan institusi pesantren. Kedua, tokoh terdepan dalam menyelesaikan debat hubungan Islam dan Pancasila. Ketiga, mengingatkan dan memahamkan kita bahwa kemajemukan Indonesia adalah Sunnatullah, bukan kelemahan melainkan anugerah dari Allah,” terang Menag.

Sementara itu, Menko Kemaritiman yang juga Menteri Perkonomian di era Presiden Gus Dur, Rizal Ramli juga menuturkan dalam testimoninya bahwa dirinya banyak belajar dari Gus Dur. “Beliau mengerem rasionalitas saya dan mengajarkan hal-hal yang beyond rationality,” ungkap Rizal.

Menurutnya, kharisma Gus Dur juga sangat besar. Tidak ada pemimpin di Indonesia setelah Bung Karno yang pengaruh dan pendukungnya sebesar Gus Dur. “Mendiang Ben Anderson mengunjungi makam-makam para Presiden RI, dan membuktikan bahwa Gus Dur adalah pemimpin yang paling dicintai rakyatnya,” jelasnya.?

Setiap tahun, tak kurang dari 3 juta orang berziarah ke makam Gus Dur di pemakaman keluarganya di Pesantren Tebuireng Jombang. Dari jumlah tersebut, kotak amal yang disediakan Pesantren juga menghasilkan sedekah milyaran rupiah dari para peziarah. Saat ini hasil sedekah tersebut dikelola oleh Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) dan dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan sosial keagamaan dan kemasyarakatan.

Momentum bersatu

Di sesi terakhir testimoni, Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN), Habib Luthfi bin Yahya menjelaskan, ikan di laut tidak terpengaruh akan keasinan air laut. Bahkan saat dimasak ikan laut harus diasinkan. Begitulah seharusnya Indonesia. Berbeda namun bisa bersatu.

“Percuma haul-haul melulu jika masih begitu-begitu saja. Pasca haul kita harus bisa belajar dan meneladani Gus Dur. Semestinya teriakan takbir memunculkan rumah sakit, sekolah, madrasah, dan pesantren. Bukan malah dipakai untuk hal-hal buruk,” tuturnya.

Gus Dur, tambahnya, tidak hanya sekadar menikmati harmonisasi musik klasik. Melaluinya ia menunjukkan arti penting dari demokrasi. Sunan Kudus melarang memotong sapi. Hal tersebut membuat Pangeran Poncowati tertarik belajar Islam hingga memberikan kerajaannya untuk Sunan.

Mursyid Thariqah asal Pekalongan ini menerangkan, wali itu mampu berdakwah walau sudah meninggal. Buktinya? Banyak orang-orang berdoa dan mengaji di makam mereka. “Gus Dur meninggal saja mampu mengayomi umat muslim dan non-muslim. Bagaimana ketika hidup?” jelasnya.

“Amplop yang ada di Gus Dur itu mengalir pindah. Tak jarang Gus Dur harus menambal uang transport sendiri. Salah satu karomah Gus Dur, sampai sekarang beliau masih ramai diziarahi,” ungkapnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Habib, Pondok Pesantren, Sholawat Asli Muhammadiyah

Selasa, 25 September 2012

Pembukaan Muskerwil NU Jatim Bertabur Tokoh

Jombang, Asli Muhammadiyah. Suasana halaman Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang Jawa Timur ramai oleh banyak tokoh. Tenda berukuran besar menutup pintu halaman depan kantor pesantren. Sejumlah tokoh penting di Jawa Timur berkenan hadir memadati area Muskerwil.

Tokoh yang tampak hadir pada pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) Pertama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur masa khidmat 2013-2018 di kursi depan, Rais Syuriyah PWNU Jatim KH Miftachul Akhyar, Ketua PWNU Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah (Ketua), Gubernur Jatim H Soekarwo beserta wakilnya, Saifullah Yusuf.

Pembukaan Muskerwil NU Jatim Bertabur Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembukaan Muskerwil NU Jatim Bertabur Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)


Pembukaan Muskerwil NU Jatim Bertabur Tokoh

Sementara jajaran pimpinan PPBU yang tampak hadir Ketua Majlis Pegasuh KH Hasib Wahab Chasbullah, KH Ketua Umum Yayasan M Irfan Sholeh, Bupati Jombang Ec Nyono Suharli Wihandoko bersama wakilnya, Hj Mundjidah Wahab.

Kecuali itu, sejumah pejabat di tingkat provinsi berkenan datang memenuhi undangan Muskerwil di samping sejumlah kiai dan tokoh cabang NU di tingkatan kota dan kabupaten se-Jawa Timur.

Asli Muhammadiyah

Sebenarnya, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dijadwalkan hadir. Namun ia tengah menyiapkan acara penyambutan tamu dari Jordania yang akan berkunjung ke PBNU, tandas Ketua PBNU Saifullah Yusuf, Selasa (25/2).

Asli Muhammadiyah

Pembukaan Muskerwil berlangsung di tengah hujan cukup lebat sejak menjelang Magrib. Bahkan sejumlah pintu masuk sempat tergenang air. Rombongan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur juga harus disambut dengan payung menuju dalem kasepuhan.

Hujan diluar perkiraan, kata Ketua PC Fatayat NU Jombang Ema Ummiyyatul Chusnah. Ning Ema rela menunggu undangan sembari membawa payung. Pakaian sejumlah kiai dan gus di PPBU juga terlihat basah lantaran harus terlibat dalam mengatur jalan menuju dalem kasepuhan.

Semua pimpinan daerah dan kiai diterima di sini, tandas dr H Edy Labib Patriadin.

Namun saat pembukaan jam 19.30 WIB dimulai, hujan reda. Para undangan dan peserta Muskerwil memasuki ruangan utama. Sejumlah kiai dan tokoh memberikan sambutan dan pengarahan pada acara yang akan berlangsung hingga Kamis (27/2).

Hadirnya para tokoh, kiai dan ulama serta pejabat merupakan kebanggan bagi pesantren kami, tandas KH Hasib Wahab Chasbullah. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/50434/pembukaan-muskerwil-nu-jatim-bertabur-tokoh

Asli Muhammadiyah

Jumat, 09 November 2012

Kiai Said Masuk Jajaran Tokoh Islam Berpengaruh Dunia, Kalahkan Presiden Mesir

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj masuk menjadi jajaran tokoh paling berpengaruh di dunia. Ia Menduduki urutan ke 20. Posisi ini lebih tinggi daripada beberapa presiden di negara Muslim seperti presiden Mesir Abdul Fatah Al-Sisi yang berada di urutan (21), Sultan Muhammadu Saadu Abubakar III, Nigeria (Sultan of Sokoto) (21), Sheikh Tamim bin Hamad (28), President Mahmoud Abbas. Ulama populer Dr Yusuf Al Qaradawi berada di urutan 31.

Penghargaan ini sudah diselenggarakan untuk ke-8 kali yang meliputi para pimpinan negara, tokoh agama, tokoh politik, sosial, budaya, akademisi, pengusaha, ilmuwan, seniman, atlet. tokoh ekstremis Muslim juga dimasukkan.

Kiai Said Masuk Jajaran Tokoh Islam Berpengaruh Dunia, Kalahkan Presiden Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Masuk Jajaran Tokoh Islam Berpengaruh Dunia, Kalahkan Presiden Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)


Kiai Said Masuk Jajaran Tokoh Islam Berpengaruh Dunia, Kalahkan Presiden Mesir

Presiden Joko Widodo sebagai orang yang memimpin negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia berada di urutan ke 13. Tokoh Indonesia lainnya yang masuk dalam jajaran tokoh berpengaruh 50 besar adalah Din Syamsuddin (41), Habib Luthfi bin Yahya (45).

Asli Muhammadiyah

Berikut urutan tokoh berpengaruh 50 besar

1. HE Professor Dr Sheikh Ahmad Muhammad Al-Tayyeb, Egypt (Grand Sheikh of the Al-Azhar University, Grand Imam of AlAzhar Mosque

Asli Muhammadiyah

2. HM King Abdullah II ibn Al-Hussein, Jordan (King of the Hashemite Kingdom of Jordan and Custodian of the Holy Sites of Jerusalem)

3. HM King Salman bin Abdul-Aziz Al-Saud, Saudi Arabia (King of Saudi Arabia, Custodian of the Two Holy Mosques)

4. HE Grand Ayatollah Hajj Sayyid Ali Khamenei, Iran (Supreme Leader of the Islamic Republic of Iran)

5. HM King Mohammed VIMorocco, King of Morocco, His Majesty Amir al-Muminin)

6. HE Justice Sheikh Muhammad Taqi Usmani, Pakistan (Leading Scholar of Islamic Jurisprudence)

7. HE Grand Ayatollah Sayyid Ali Hussein Sistani, Iraq (Marja of the Hawza, Najaf, Iraq)

8. HE Recep Tayyip Erdogan, Turkey (President of the Republic of Turkey)

9. HE Sheikh Abdullah Bin Bayyah, Mauritania (President of the Forum for Promoting Peace in Muslim Societies)

10. Amir Hajji Muhammad Abd Al Wahhab, Pakistan (Amir of Tablighi Jamaat, Pakistan)

11. HM Sultan Qaboos bin Said Aal Said, Oman (Sultan of Oman)

12. HH General Sheikh Mohammed bin Zayed Al-Nahyan, United Arab Emirates (Crown Prince of Abu Dhabi and Deputy Supreme Commander of the UAE Armed Forces)

13. HE President Joko Widodo, Indonesia (President of Indonesia)

14. Prince Muhammad bin Naif bin Abdul-Aziz Al-Saud and Prince Muhammad bin Salman bin Abdul-Aziz Al-Saud Saudi Arabia

15. HE Sheikh Abdul-Aziz ibn Abdullah Aal Al-Sheikh, Saudi Arabia (Grand Mufti of the Kingdom of Saudi Arabia)

16. Sheikh Ahmad Tijani bin Ali Cisse, Senegal (Leader of the Tijaniyya Sufi Order

17. HE President Muhammadu Buhari, Nigeria (President of Nigeria)

18. HE Sheikh Dr Ali Gomaa, Egypt (Former Grand Mufti of the Arab Republic of Egypt)

19. Sheikh Salman Al-Ouda, Saudi Arabia, (Saudi Scholar and Educator)

20. Dr KH Said Aqil Siradj, Indonesia, (Chairman of Indonesias Nahdlatul Ulama)

21. HE President Abdel Fattah Saeed Al-Sisi, Egypt

22. Amirul Muminin Sultan Muhammadu Saadu Abubakar III, Nigeria (Sultan of Sokoto)

23. Mufti Muhammad Akhtar Raza Khan Qaadiri Al-Azhari, India (Barelwi Leader and Spiritual Guide)

24. HE Mohammad bin Mohammad Al-Mansour, Yemen (Imam of the Zaidi Sect of Shia Muslims)

25. Habib Umar bin Hafiz, Yemen (Director of Dar Al Mustafa, Tarim, Yemen)

26. HE Sheikha Munira Qubeysi, Syria (Leader of the Qubeysi Movement)

27. Rached Ghannouchi, Tunisia (Tunisian Politician))

28. HH Emir Sheikh Tamim bin Hamad, Qatar (Emir of Qatar)

29. Dr Amr Khaled, Egypt (Preacher and Social Activist)

30. HE. President Mahmoud Abbas, Palestinian Territories (President of the Palestinian National Authority)

31. Sheikh Dr Yusuf Al Qaradawi, Qatar (Head of the International Union of Muslim Scholars)

32. HM Queen Rania Al-Abdullah, Jordan (Queen of the Hashemite Kingdom of Jordan)

33. Sheikh Hamza Yusuf Hanson, United States of America, (Teacher and Co-founder of Zaytuna College, USA)

34. Moez Masoud, Egypt

35. Seyyed Hasan Nasrallah, Lebanon, (Secretary General of Hezbollah)

36. Habib Ali Zain Al Abideen Al-Jifri, United Arab Emirates (Director General of the Tabah Foundation, UAE)

37. HRH Shah Karim Al-Hussayni, France (The Aga Khan IV, 49th Imam of Ismaili Muslims)

38. HE Sheikh Ibrahim Salih, Nigeria (The Grand Mufti of Nigeria)

39. Maulana Mahmood Madani, India (Leader and Executive Member of Jamiat Ulema-e-Hind, India)

40. Professor Dr Seyyed Hossein Nasr, United States of America (Philosopher & University Professor)

41. Professor Dr M Din Syamsuddin, Indonesia (former Chairman of Muhammadiyah, Indonesia)

42. HH. Amir Sheikh Mohammed bin Rashid Al-Maktoum, United Arab Emirates

43. Sheikh Usama al-Sayyid Al-Azhari, Egypt

44. Khaled Mashal, Palestinian Territories, (Leader of Hamas)

45. Habib Luthfi bin Yahya, Indonesia (Preacher)

46. Abdul-Malik Al-Houthi, Yemen (Leader of the Houthi Movement)

47. Mustafa Hosny Egypt, (Preacher)

48. Hodjaefendi Fethullah Glen, Turkey (Turkish Muslim Preacher)

49. Sheikh Mahmud Effendi, Turkey

50. Dr Aref Ali Nayed, Libya

(Mukafi Niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71870/kiai-said-masuk-jajaran-tokoh-islam-berpengaruh-dunia-kalahkan-presiden-mesir

Asli Muhammadiyah

Rabu, 14 Mei 2014

Memoar Tokoh NU yang Terlupakan Dibedah di UIN Surabaya

Surabaya, Asli Muhammadiyah



Sejarah bangsa Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran para tokoh Nahdlatul Ulama. Organisasi ulama-santri ini berhasil membentuk citra dan cerita yang positif tentang bagaimana andil umat Islam dalam menegakkan bangsa dan Negara. Melihat pentingnya konstribusi tersebut, maka para pegiat literasi yang tergabung dalam Komunitas Baca Rakyat (Kobar) bekerjasama dengan Pustaka Tebuireng menggelar seminar dan bedah buku berjudul Membuka Ingatan: Memoar Tokoh NU yang Terlupakan bertempat di gedung B lantai 3 Twin Tower UIN Sunan Ampel Surabaya.?

Acara yang digelar pada hari Selasa (11/04) ini, dihadiri langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng yang sekaligus didapuk sebagai narasumber utama yaitu KH Shalahudin Wahid (Gus Sholah). Adapun narasumber kedua adalah KH Muhibin Zuhri selaku ketua PCNU Kota Surabaya, sementara itu Prof Masdar Hilmy mendapatkan tempat sebagai narasumber ketiga.?

Memoar Tokoh NU yang Terlupakan Dibedah di UIN Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Memoar Tokoh NU yang Terlupakan Dibedah di UIN Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Memoar Tokoh NU yang Terlupakan Dibedah di UIN Surabaya

Dalam paparannya, Gus Sholah menyatakan bahwa buku ini ditulis dalam rangka mengangkat kembali figur NU yang patut diteladani. Menurutnya ada beberapa hal yang perlu diikuti.

“Terutama motivasinya untuk maju, untuk mengembangakan diri, disiplin diri, tanggung jawab, integritas dan yang paling penting beliau semua adalah negarawan,” terangnya saat menyampaikan materi.

Gus Sholah menambahkan bahwa para sosok yang diangkat dalam buku ini adalah seseorang yang secara sukses terbukti mampu menghidup-hidupi NU, bukan hidup di dalam NU.

Asli Muhammadiyah

Pernyataan ini, diperkuat oleh KH Muhibin Zuhri yang mengatakan bahwa para aktvis NU tempo dulu adalah orang-orang yang telah selesai urusan perutnya. “Para aktifis dulu adalah ? orang yang mapan, sehingga menjadi aktifis merupakan suatu pelarian dari segala hal yang mereka miliki. Karena, aktivis yang belum selesai masalah perutnya, biasanya justru masuk organisasi ? untuk menyelesaikan perutnya,” ujarnya dalam seminar tersebut.

Direktur Museum NU ini juga mengungkapkan bahwa buku ini penting karena banyak mengangkat tokoh yang semuanya merupakan pemimpin besar, karena mampu menginspirasi. Hal ini juga ditegaskan oleh Prof Masdar Hilmy yang menyatakan bahwa buku ini memberikan kontribusi sangat bagus bagi generasi muda untuk mengenal siapa saja yang mendedikasikan hidupnya untuk NU, Nusa dan bangsa.?

Asli Muhammadiyah

“Informasi yang dimuat dalam buku ini adalah jembatan antar generasi. Buku ini adalah media yang sangat penting untuk mengenalkan figur-figur yang punya nilai dalam hidupnya, yang bisa kita teladani, sehingga bisa kita buat sebagai kaca benggala untuk diri kita,” terangnya.

Acara yang digelar oleh Kobar ini semakin semarak karena dihadiri oleh para tokoh, antara lain Hj Farida Syaifudin (istri Gus Sholah), Prof.Abdul A’la (rektor UIN Sunan Ampel), Prof Husein Aziz (Direktur Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel), Prof Ridwan Natsir, Prof Ali Haidar dan para akademisi dari Surabaya, Jombang, Sidoarjo dan sekitarnya. (Eka Wahyudi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Internasional, Doa, Makam Asli Muhammadiyah

Senin, 30 Juni 2014

Lembaga Kebudayaan Jabal Beri Gusdurian Lampung Sila Pramiti

Tanggamus, Asli Muhammadiyah? . Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Teater Jabal Lampung mengapresiasi positif kinerja penggiat Gusdurian Lampung, Gatot Arifianto dalam menyuarakan perdamaian dan keragaman dengan memberikan piagam penghargaan Sila Pramiti.

Ajengan Teater Jabal, WD Fatchurrochman Syam, di Tanggamus, Jumat (20/11) menjelaskan, piagam bernomor : TJL.08.06/OT.01/013 / 2015 itu berarti tingkah laku bijaksana, berasal dari dua kata Sansekerta.

Lembaga Kebudayaan Jabal Beri Gusdurian Lampung Sila Pramiti (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Kebudayaan Jabal Beri Gusdurian Lampung Sila Pramiti (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Kebudayaan Jabal Beri Gusdurian Lampung Sila Pramiti

"Kami menilai kinerja menyerukan perdamaian, penghormatan atas perbedaan dan keragaman dilakukan saudara Gatot Arifianto di sejumlah titik itu puitik, tapi bukan fiksi, itu suatu laku nyata," kata Fatchurrochman.

Asli Muhammadiyah

Pada 2012, bersama para jurnalis, akademisi, aktivis, dan budayawan di daerah itu, Gatot menyumbang tulisan yang dihimpun dalam buku "Merajut Jurnalisme Damai di Lampung". Buku diterbitkan bersama oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung dan Indepth Publishing tersebut adalah ikhtiar bersama untuk mengembangkan perspektif jurnalisme damai atau "peace journalism" di Lampung khususnya dan negeri ini secara umum, saat menghadapi reportase peristiwa konflik sosial di tengah masyarakat yang masih terus mencuat.

"Gatot juga menggagas kegiatan-kegiatan merangkul berbagai pihak seperti Riungan Kebangsaan digelar di Waykanan dan Bandarlampung yang memiliki jarak tempuh sekitar 220 kilometer. Karena itu, atas energi, keringat dan partisipasinya menyuarakan keragaman di Bumi ruwai Jurai ini, kami berikan penghargaan Sila Pramiti," ujar dia lagi.

Penyerahan piagam penghargaan Sila Pramiti dilakukan disela Festival Bhineka Tunggal Ika digelar dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional 2015 dihelat di pelataran Sanggar Teater Jabal, beralamat di Jalan Raya Gunung Tiga no 134 Kecamatan Pugung Kabupaten Tanggamus, Jumat (20/11) malam.

Asli Muhammadiyah

Penyerahan Sila Pramiti dilakuan oleh Kasat Binmas Polres Tanggamus AKP Djoko Sarianto kepada Gatot didampingi Kapolsek Pugung AKP Irfansyah Panjaitan, disaksikan Pengasuh YPI PP Nurul Falah KH Junaedi AR, pengurus Lesbumi Lampung Kiswanto, tokoh agama Katholik dari Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Romo Yosef Wiyoto, tokoh adat Lampung Buya Sayuti Ibrahim, tokoh adat Sunda Suhadi AR, peneliti Ahmad Sumadi, Ketua IPNU Kabupaten Tanggamus M Taufik A Rahman, Ketua IPNU Kabupaten Pringsewu Turmudji, Kepala Desa Gunung Tiga Sayuti dan para hadirin. (Wahidun/Abdullah Alawi)

Lembaga Kebudayaan Jabal Beri Gusdurian Lampung Sila Pramiti



Tanggamus, Asli Muhammadiyah ?

Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Teater Jabal Lampung mengapresiasi positif kinerja penggiat Gusdurian Lampung, Gatot Arifianto dalam menyuarakan perdamaian dan keragaman dengan memberikan piagam penghargaan Sila Pramiti.

Ajengan Teater Jabal, WD Fatchurrochman Syam, di Tanggamus, Jumat (20/11) menjelaskan, piagam bernomor : TJL.08.06/OT.01/013 / 2015 itu berarti tingkah laku bijaksana, berasal dari dua kata Sansekerta.



"Kami menilai kinerja menyerukan perdamaian, penghormatan atas perbedaan dan keragaman dilakukan saudara Gatot Arifianto di sejumlah titik itu puitik, tapi bukan fiksi, itu suatu laku nyata," kata Fatchurrochman.



Pada 2012, bersama para jurnalis, akademisi, aktivis, dan budayawan di daerah itu, Gatot menyumbang tulisan yang dihimpun dalam buku "Merajut Jurnalisme Damai di Lampung". Buku diterbitkan bersama oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung dan Indepth Publishing tersebut adalah ikhtiar bersama untuk mengembangkan perspektif jurnalisme damai atau "peace journalism" di Lampung khususnya dan negeri ini secara umum, saat menghadapi reportase peristiwa konflik sosial di tengah masyarakat yang masih terus mencuat.



"Gatot juga menggagas kegiatan-kegiatan merangkul berbagai pihak seperti Riungan Kebangsaan digelar di Waykanan dan Bandarlampung yang memiliki jarak tempuh sekitar 220 kilometer. Karena itu, atas energi, keringat dan partisipasinya menyuarakan keragaman di Bumi ruwai Jurai ini, kami berikan penghargaan Sila Pramiti," ujar dia lagi.



Penyerahan piagam penghargaan Sila Pramiti dilakukan disela Festival Bhineka Tunggal Ika digelar dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional 2015 dihelat di pelataran Sanggar Teater Jabal, beralamat di Jalan Raya Gunung Tiga no 134 Kecamatan Pugung Kabupaten Tanggamus, Jumat (20/11) malam.



Penyerahan Sila Pramiti dilakuan oleh Kasat Binmas Polres Tanggamus AKP Djoko Sarianto kepada Gatot didampingi Kapolsek Pugung AKP Irfansyah Panjaitan, disaksikan Pengasuh YPI PP Nurul Falah KH Junaedi AR, pengurus Lesbumi Lampung Kiswanto, tokoh agama Katholik dari Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Romo Yosef Wiyoto, tokoh adat Lampung Buya Sayuti Ibrahim, tokoh adat Sunda Suhadi AR, peneliti Ahmad Sumadi, Ketua IPNU Kabupaten Tanggamus M Taufik A Rahman, Ketua IPNU Kabupaten Pringsewu Turmudji, Kepala Desa Gunung Tiga Sayuti dan para hadirin. (Wahidun/Abdullah Alawi).

?

?

?

?

Lembaga Kebudayaan Jabal Beri Gusdurian Lampung Sila Pramiti

Tanggamus, Asli Muhammadiyah?

Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Teater Jabal Lampung mengapresiasi positif kinerja penggiat Gusdurian Lampung, Gatot Arifianto dalam menyuarakan perdamaian dan keragaman dengan memberikan piagam penghargaan Sila Pramiti.

Ajengan Teater Jabal, WD Fatchurrochman Syam, di Tanggamus, Jumat (20/11) menjelaskan, piagam bernomor : TJL.08.06/OT.01/013 / 2015 itu berarti tingkah laku bijaksana, berasal dari dua kata Sansekerta.

"Kami menilai kinerja menyerukan perdamaian, penghormatan atas perbedaan dan keragaman dilakukan saudara Gatot Arifianto di sejumlah titik itu puitik, tapi bukan fiksi, itu suatu laku nyata," kata Fatchurrochman.

Pada 2012, bersama para jurnalis, akademisi, aktivis, dan budayawan di daerah itu, Gatot menyumbang tulisan yang dihimpun dalam buku "Merajut Jurnalisme Damai di Lampung". Buku diterbitkan bersama oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung dan Indepth Publishing tersebut adalah ikhtiar bersama untuk mengembangkan perspektif jurnalisme damai atau "peace journalism" di Lampung khususnya dan negeri ini secara umum, saat menghadapi reportase peristiwa konflik sosial di tengah masyarakat yang masih terus mencuat.

"Gatot juga menggagas kegiatan-kegiatan merangkul berbagai pihak seperti Riungan Kebangsaan digelar di Waykanan dan Bandarlampung yang memiliki jarak tempuh sekitar 220 kilometer. Karena itu, atas energi, keringat dan partisipasinya menyuarakan keragaman di Bumi ruwai Jurai ini, kami berikan penghargaan Sila Pramiti," ujar dia lagi.

Penyerahan piagam penghargaan Sila Pramiti dilakukan disela Festival Bhineka Tunggal Ika digelar dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional 2015 dihelat di pelataran Sanggar Teater Jabal, beralamat di Jalan Raya Gunung Tiga no 134 Kecamatan Pugung Kabupaten Tanggamus, Jumat (20/11) malam.

Penyerahan Sila Pramiti dilakuan oleh Kasat Binmas Polres Tanggamus AKP Djoko Sarianto kepada Gatot didampingi Kapolsek Pugung AKP Irfansyah Panjaitan, disaksikan Pengasuh YPI PP Nurul Falah KH Junaedi AR, pengurus Lesbumi Lampung Kiswanto, tokoh agama Katholik dari Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Romo Yosef Wiyoto, tokoh adat Lampung Buya Sayuti Ibrahim, tokoh adat Sunda Suhadi AR, peneliti Ahmad Sumadi, Ketua IPNU Kabupaten Tanggamus M Taufik A Rahman, Ketua IPNU Kabupaten Pringsewu Turmudji, Kepala Desa Gunung Tiga Sayuti dan para hadirin. (Wahidun/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah News, Berita, Aswaja Asli Muhammadiyah

Senin, 03 Januari 2011

NU dan Kebangkitan Nasional

Oleh Fathoni Ahmad

Dalam sejarah pergerakan nasional, tidak ada yang memungkiri bahwa kebangkitan bangsa Indonesia dari belenggu kolonialisme erat korelasinya dengan peran generasi muda. Sebab itu, kesadaran demikian harus tertanam kuat pada diri para anak bangsa untuk memajukan Indonesia setelah para orang tua dulu berhasil membangkitkan sendi-sendi nasionalisme melalui perjuangan dengan taruhan jiwa dan raga. Paradigma ini bila perlu diinternalisasikan ke alam bawah sadar sehingga setiap ancaman apapun yang berpotensi memecah belah persatuan dan sikap nasionalisme secara otomatis tertolak pada diri generasi muda sebagai tulang punggung eksistensi kemajuan bangsa dan negara.Kebangkitan Nasional perlu diarahkan pada tantangan-tantangan yang terkait nasionalisme. Semangat inilah yang terus dijaga oleh Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial kegamaan (jam’iyyah diniyyah ijtima’iyah) terbesar di Indonesia bahkan pada level dunia dengan terus memberdayakan generasi muda melalui wadah pelajar maupun pemuda. Di titik inilah perjuangan NU hingga kini tidak hanya bergerak sebagai organisasi keagamaan, melainkan memperkuat basis sosial kemasyarakatan sehingga tercipta bangsa dan negara yang kokoh seperti yang telah dilakukan oleh para ulama pendirinya.

NU yang direpresentasikan oleh kalangan pesantren mampu melahirkan sebuah pergerakan nasional di mana para santri atau golongan muda saat itu berkomitmen memperkuat diri demi melepaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan. Peran kalangan dan ulama pesantren begitu nyata dalam membangun pondasi kekuatan bangsa secara embrionik melalui perkumpulan para pemuda dengan komitmen cinta tanah air yang berhasil dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah beberapa tahun setelah dr Soetomo mendirikan organisasi pemuda bernama Budi Oetomo pada 20 Mei 1908 sebagai titik pijak kebangkitan nasional.

NU dan Kebangkitan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Kebangkitan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Kebangkitan Nasional

Semangat Abdul Wahab muda sekitar tahun 1914 setelah pulang dari menuntut ilmu di Mekkah merasa tidak bisa memaksimalkan seluruh kemampuan berpikir dan bergeraknya saat menjadi salah satu bagian dari Syarikat Islam (SI) dengan tokoh utamanya Haji Oemar Said Tjokroaminoto (1883-1934 M). Kiai Wahab merasa tidak puas jika belum mendirikan organisasi sendiri. Karena dalam pandangannya, SI terlalu mengutamakan kegiatan politik, sedangkan dirinya menginginkan tumbuhnya nasionalisme di kalangan pemuda melalui kegiatan pendidikan.

Singkatnya pada tahun 1916, KH Wahab Chasbullah berhasil mendirikan perguruan Nahdlatul Wathan dengan bantuan beberapa kiai lain dengan dirinya menjabat sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan). Sejak saat itulah Nahdlatul Wathan dijadikan markas penggemblengan para pemuda. Mereka dididik untuk menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air. Bahkan setiap hendak dimulai kegiatan belajar, para murid diharuskan terlebih dahulu menyayikan lagu perjuangan dalam bahasa Arab yang kini populer, yakni? Yalal Wathan yang juga dikenal dengan judul Syubbanul Wathan.

Semangat nasionalisme Kiai Wahab yang berusaha terus diwujudkan melalui wadah pendidikan juga turut serta melahirkan organisasi produktif seperti Tashwirul Afkar. Selain itu, terlibatnya Kiai Wahab di berbagai organisasi pemuda seperti Indonesische Studieclub, Syubbanul Wathan (pemuda cinta tanah air), dan kursus masail diniyyah bagi para ulama muda pembela madzhab tidak lepas dari kerangka tujuan utamanya, yakni membangun semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang sedang terjajah. Kiai Wahab telah membuktikan diri bahwa internalisasi semangat nasionalisme sangat efektif diwujudkan melalui ranah pendidikan. Hal ini dilakukan dengan masif di berbagai pesantren sehingga peran kalangan pesantren sendiri diakui oleh dr Soetomo (Bung Tomo) sebagai lembaga yang sangat berperan dalam membangun keilmuan yang kokoh bagi bangsa Indonesia sekaligus dalam pergerakan nasional untuk mewujudkan kemerdekaan.

Dalam salah satu sumber historis, Bung Tomo berkata: “Sebelum gopermen Hindia Belanda membuka sekolahnja, pada waktoe itoe, pesantrenlah jang mendjadi soember pengetahoean, mendjadi mata air ilmoe bagi bangsa kita boelat-boelatnja”. ? Selain itu dia juga memberikan pernyataan jelas terkait nasionalisme yang terus dibangun oleh kalangan pesantren. Bung Tomo berkata: “Pesantren adalah konservatorium nasionalisme dan patriotisme Indonesia. Andai tidak ada pesantren, andai kata tokoh-tokoh Indonesia hanya mendapatkan pendidikan Barat, kiranya sulit mengajak mereka untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.”?

Asli Muhammadiyah

Semacam testimoni dr Soetomo tersebut bukan isapan jempol belaka. Tokoh-tokoh ulama dan kiai tidak hanya menginspirasi kalangan pesantren, tetapi juga memberikan spirit (ruh) perjuangan kepada para tokoh nasional seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Jenderal Soedirman, Bung Tomo, dan lain sebagainya. Tokoh perjuangan dari kalangan nasionalis itu secara mantap menjadikan ulama sebagai pelabuhan berpikir dan bertindak dalam melakukan perjuangan kemerdekaan saat itu, terutama kepada KH Muhammada Hasyim Asy’ari yang kerap kali menjadi tempat meminta pendapat bagi para pemuda pergerakan nasional dalam melawan menjajah.?

Bahkan Kiai Hasyim Asy’ari merumuskan ‘dalil’ bahwa mencintai tanah air adalah sebagian dari iman, hubbul wathani minal iman yang berhasil membuat bangsa Indonesia tergerak untuk bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Artinya, memperjuangkan kemerdekaan rakyat dari belenggu penjajah sama dengan menegakkan agama. Karena di tanah air Indonesia yang merdeka inilah, nilai-nilai agama Islam bisa tumbuh dan berkembang.

Dari sekilas riwayat perjuangan para kiai dan kalangan pesantren di atas, telah membuktikan bahwa lahirnya NU pada tahun 1926 yang digagas para ulama Nusantara saat itu tidak hanya bertujuan membangun pondasi paham keagamaan yang kuat di tengah masyarakat dengan paham Islam yang moderat dan inklusif, tetapi juga didorong oleh semangat nasionalisme yang berusaha diterapkan kepada para pemuda melalui sistem pendidikan pesantren.

Asli Muhammadiyah

Tantangan generasi muda kini

Para bapak pendiri bangsa (founding fathers) telah berkorban jiwa dan raga demi memperjuangkan dan menegakkan kemerdekaan bagi bangsa dan negara Indonesia. Perjuangan yang bermula dengan memberdayakan para pemuda memberikan pelajaran bagi generasi muda sekarang bahwa kemajuan negeri yang telah 71 tahun merdeka ini ada di pundak para anak bangsa. Di titik inilah kebangkitan nasional yang telah lama direngkuh harus diwujudkan dengan berbagai macam kemajuan bangsa sehingga mewujudkan kesejahteraan dan keadilan.

Seorang dr Soetomo bersama perkumpulan dokter muda di STOVIA yang notabene sekolah Barat, justru tidak melunturkan rasa nasionalisme. Begitu juga dengan Soekarno, Hatta, dan beberapa tokoh nasionalis lain yang juga memperoleh pendidikan ala Barat. Mendapat pendidikan ala Barat justru membuat mereka berpikir bahwa kemajuan dan kebebasan yang serasa lezat didapat oleh Barat, juga berhak diperoleh bangsa Indonesia.?

Generasi muda bebas berkiprah dan memperoleh pendidikan di berbagai belahan dunia asal tidak alpa dengan kondisi bangsa dan tanah airnya. Berangkat dari pemikiran para founding fathers tersebut, anak bangsa baik di dalam maupun yang sedang mengenyam pendidikan di luar negeri hendaknya tidak membawa mental inlander dengan mengagung-agungkan kemajuan bangsa lain dengan mengolok-olok negerinya sendiri tanpa bergerak melakukan apapun. Justru kemajuan bangsa lain secara teknologi dan tatanan sosial-kemasyarakatan harus membuat mereka bergerak berupaya melakukan perubahan meskipun berawal dari lingkup masyarakat lokal.

Selain itu, potensi dan kekayaan Indonesia, baik dari sisi alam, budaya, tradisi, kearifan lokal, dan lain-lain harus mampu dimanfaatkan para generasi muda untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa di kancah dunia global. Apalagi dewasa ini banyak media yang dapat digunakan untuk mempromosikan pesona Indonesia kepada masyarakat internasional termasuk karakter Islam yang ramah, moderat, toleran, dan mau berbaur dengan berbagai bangsa yang kini sedang mengalami stigma negatif oleh sebagian masyarakat global karena aksi terorisme.

Di titik inilah penulis ingin menyampaikan secara gamblang tantangan nasionalisme yang banyak tereduksi pada diri para generasi muda Indonesia yang sebagian asyik dengan mental intoleransi dan paham radikal tanpa memahami harmoni persatuan bangsa Indonesia yang justru terbangun dari kemajemukan dengan tali ikat Pancasila. Tentu ironis dan miris ketika nasionalisme dibenturkan dengan keyakinan agama. Karena jelas para pendiri bangsa ini dapat menyatukan berbagai agama, suku, bangsa, dan lain-lain di tanah air dengan tali nasionalisme.?

Bangsa Indonesia patut prihatin ketika ada sebagian anak bangsa yang menolak hormat pada bendera Merah Putih dengan dalih syirik. Padahal para pahlawan bangsa ini bertaruh jiwa dan raga untuk dapat mengibarkan dwi tunggal tersebut. Tentu dengan logika sederhana saja ketika mereka juga menghormati orang tua, apakah hal itu berarti mereka juga menyembah orang tua? Tentu tidak, karena menghormati benda dan Tuhan ada caranya masing-masing. Jangan sampai dengan propaganda kelompok-kelompok tertentu dengan paham transnasional (bukan dari Indonesia) dibungkus agama yang jauh dari nilai-nilai Islam dan Pancasila membuat persatuan dan nasionalisme bangsa menjadi pudar. Jagalah agamamu, untuk Indonesiamu. Selamat Hari Kebangkitan Nasional!

Fathoni Ahmad, Pengajar di STAINU Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pendidikan, Warta, Halaqoh Asli Muhammadiyah

Kamis, 18 Februari 2016

Selamat, Atlas Wali Songo Buku Terbaik 2014

Jakarta,Asli Muhammadiyah. Buku "Atlas Wali Songo" karya Agus Sunyoto yang diterbitkan Pustaka Iiman dinobatkan sebagai "Buku Terbaik Nonfiksi Dewasa 2014" versi Islamic Book Fair. Penobatan digelar di Gelora Bung Karno, Sabtu malam (1/3).

Buku karya Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama tersebut, menyisihkan nominasi lainnya yaitu Cak Nur, Banyak Jalan Menuju Tuhan karya Budhy Munawar Rachman (Mizan), Hijama or Oxidant Drainage Therapy (ODT) karya Azib Susiyanto, Sy (Gema Insani), Kaidah Tafsir karya Quraish Shihab (Lentera Hati), The New World Order karya Jagad A.Purbawati (Pustaka Al-kautsar).

Selamat, Atlas Wali Songo Buku Terbaik 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Selamat, Atlas Wali Songo Buku Terbaik 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

Selamat, Atlas Wali Songo Buku Terbaik 2014

Penganugerahan buku tersebut diserahkan Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Pusat Setia Dharma Madjid kepada Agus Sunyoto.

Asli Muhammadiyah

Dalam sambutannya, Agus Sunyoto mengatakan, penulisan buku Atlas Wali Songo banyak mengalami hambatan sampai tertunda sekitar 3 tahun, “Alhamdulillah dan mendapat pengakuan di Islamic Book Fair,” katanya.

Asli Muhammadiyah

Ia menerangkan, buku Atlas Wali Songo memaparkan tokoh-tokoh penyebar Islam yang rela meninggalkan tempat tinggal, kampung halaman, harta benda, dan negara, datang ke Indonesia, hanya untuk menyebarkan Islam. “Tokoh-tokoh ini, bukan tokoh-tokoh fiktif, namun benar-benar ada,” tegasnya.

Ketua Dewan Juri, KH Nasaruddin Umar mengatakan, Atlas Wali Songo menyisihkan ratusan buku lain yang diajukan panitia. Kemudian dibaca dewan juri selama 4 bulan. Lalu ditentukan 10 besar buku terbaik.

”Penilaian isi, proses pemilihan buku, betul-betul bukan penilaian sesaat dan dangkal, tapi berdasarkan proses yang ketat,” tegas Wakil Menteri Agama RI ini pada pidato pertanggungjawaban dewan juri.

Selain kategori itu, Islamic Book Fair juga menobatkan kategori lain, yaitu nonfiksi anak, fiksi anak, fiksi dewasa, buku terjemahan, dan tokoh perbukuan. Kemudian, tahun ini ditambah dua kategori lagi, yaitu kategori ilustrasi dan design cover.

Islamic Book Fair 2014 telah dimulai 28 Februari dan akan berlangsung sampai 9 maret 2014, di Gelora Bung Karno, Senaya, Jakarta. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Fragmen Asli Muhammadiyah

Kamis, 26 Oktober 2017

Ramadhan, PCINU Turki Adakan Ziarah ke Kota Para Sufi

Konya, Asli Muhammadiyah. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki mengadakan rangkaian kegiatan ziarah dalam rangka Safari Ramadhan 2017 di Kota Konya, Turki Sabtu dan Ahad 3–4 Juni 2017. Dalam kegiatan ini, Nahdliyin di Turki menjadikan kota Konya sebagai tempat refleksi ziarah ke makam para tokoh sufi di bumi Usmani.

Ramadhan, PCINU Turki Adakan Ziarah ke Kota Para Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, PCINU Turki Adakan Ziarah ke Kota Para Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, PCINU Turki Adakan Ziarah ke Kota Para Sufi

Ngabuburit kumpul bersama untuk mendengar tausiyah, membaca Surat Yasin dan doa dipimpin langsung oleh Katib Syuriyah PCINU Turki Agung Yanuar Anggoro. Nahdliyin dari beberapa kota hadir seperti Ridho Ashidqie yang jauh-jauh datang dari ibu kota Turki, Ankara.?

Sayyid Burhanuddin Tirmidzi, Maulana Jalaluddin Rumi, Syaikh Syamsuddin Yusuf (Ate?baz Veli), dan Syaikh Shadraddin Al Qonawi adalah beberapa nama tokoh sufi besar yang diziarahi makamnya pada kegiatan ini. Sambil menanti adzan Maghrib Ketua LDNU Turki Deo Adinda Pramadhan menjelaskan tentang hubungan di antara tokoh–tokoh tersebut. Sayyid Burhanuddin Tirmidzi adalah guru dari Rumi dan Syaikh Syamsuddin Yusuf adalah murid dari Rumi dan sedangkan Syaikh Shadraddin Al Qanawi adalah sahabat Rumi, ungkap Deo yang sedang menyelesaikan studi teologi Islam di Universitas ?nönü, Turki.?

Sejak kecil Syaikh Shadraddin Al Qonawi telah yatim dan tumbuh dengan tubuh yang sangat lemah, mudah sakit, dan hanya diasuh oleh ibundanya seorang hingga kemudian sang ibunda dinikahi oleh Syaikh al Akbar Ibnu Arabi. Maka tak heran jika Al Qonawi menjadi tokoh besar dalam dunia tasawuf. Ia murid utama dan khalifah sekaligus anak tiri dari Syaikh al Akbar Ibnu Arabi. Dialah salah satu tokoh penting yang menyebarkan ajaran–ajaran Ibnu Arabi.?

Asli Muhammadiyah

“Ia seangkatan dengan Rumi. Awalnya ia tidak menyukai Rumi tetapi pada akhirnya menjadi sahabat yang baik. Keduanya saling belajar dan menghormati, dan keduanya menjadi sumber rujukan para ulama dalam dunia sufisme,” tambah ? Deo.?

Dalam Safari Ramadhan yang diikuti dan dimeriahkan oleh pengurus syuriyah dan tanfidziyah PCINU Turki (2016 – 2018) ini, Nahdliyin di Turki diajak untuk terus menjaga hubungan komunikasi dan silaturahmi satu sama lain.?

“Karena meskipun sekarang sudah tidak lagi hidup di lingkungan keluarga, madrasah, dan pesantren tradisional seperti di Indonesia tetapi tetap ada NU di sini, di hati dan di kehidupan kita,” ujar Aeni Nahdiyati, mahasiswi baru alumni Krapyak. ? Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah Ubudiyah Asli Muhammadiyah

Kamis, 09 Agustus 2007

Fatayat NU Lampung Kaji Pemikiran Gus Dur

Bandarlampung, Asli Muhammadiyah. Pimpinan Wilayah Fatayat NU Provinsi Lampung mengkaji pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam Dialog Kebangsaan yang akan diselenggarakan pada 10 Maret 2013 mendatang di Hotel Marcopolo Bandarlampung. Sejumlah tokoh nasional dijadwalkan hadir.

Fatayat NU Lampung Kaji Pemikiran Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Lampung Kaji Pemikiran Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Lampung Kaji Pemikiran Gus Dur

Beberapa nara sumber yang diundang diantaranya putri Gus Dur Yeni Wahid, Anggota DPR RI Effendi Choiri, tokoh NU Lampung Alzier Danis Tabrani, dan Rektor IAIN Raden Intan Bandarlampung Muhammad Mukri.

Menurut Rida Budiyanti, Ketua PW Fatayat NU Lampung, acara ini diharapkan dapat melestarikan pemikiran Gus Dur sebagai Bapak Bangsa dalam rangka mewujudkan kehidupan yang rukun, damai, toleran dan demokratis.

Asli Muhammadiyah

“Sosok Gus Dur sangatlah menarik dan multi tafsir. Beliau tidak saja dikenal sebagai seorang yang sukses memimpin NU, tetapi juga seorang tokoh sentral demokrasi, tokoh pembaru Islam, tokoh agama, tokoh budaya, politik, intelektual terkemuka, penganjur pluralisme dan pembela minoritas,” katanya di Bandarlampung, Selasa (5/3).

Dialog kebangsaan yang akan dibuka secara resmi oleh Gubernur Lampung ini juga merupakan usaha dalam pemeliharaan kerukunan dan pemberdayaan masyarakat untuk mendorong agar kerukunan di masyarakat mengalami penguatan, sehingga masyarakat semakin berdaya untuk menghadapi berbagai macam kecenderungan kemungkinan terjadinya konflik.

Asli Muhammadiyah

Kegiatan ini rencananya akan dihadiri oleh keluarga besar NU Provinsi lampung dan segenap pecinta Gus Dur yang diperkirakan berjumlah 1000 orang.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Muhammad Faizin

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Aswaja Asli Muhammadiyah

Sabtu, 02 Oktober 2010

Sistem Politik Indonesia Belum Beri Peluang untuk Kaum Muda

Jakarta, Asli Muhammadiyah

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Idy Muzayad mencurigai ada sebuah kekuatan besar yang berupaya menghambat generasi muda Indonesia untuk tampil. Menurutnya, hal itu dapat dibuktikan dengan belum adanya sistem politik nasional yang memberikan peluang bagi kaum mudanya untuk memimpin.

“Dalam Undang-undang No.32 tahun 2003 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan, untuk menjadi kepala daerah sekurang-kurang harus berumur 30 tahun. Sementara, untuk menjadi calon legislatif, seseorang harus sudah berumur 21 tahun,” terang Idy saat memberikan pengantar pada Dialog Publik yang digelar di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (1/3)

Sistem Politik Indonesia Belum Beri Peluang untuk Kaum Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Sistem Politik Indonesia Belum Beri Peluang untuk Kaum Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Sistem Politik Indonesia Belum Beri Peluang untuk Kaum Muda

Dialog bertajuk “Refleksi dan Proyeksi Hak Politik Pemuda Indonesia-Kepemimpinan Nasional Kaum Muda: Mengapa Tidak?” itu menghadirkan sejumlah narasumber. Antara lain, Yudi Latif (Pembantu Rektor Universitas Paramadina), Ismet Hasan (Ketua Masyarakat Profesional Madani), Hasanudin Yusuf (Ketua Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia) dan Ara Sirait (Anggota DPR RI Fraksi PDIP).

Ditegaskan Idy, sistem politik semacam itu, jelas akan memutus proses regenerasi kepemimpinan di negeri ini. Sehingga keberadaan aturan tidak adil dan diskriminatif itu akan menjadi sebuah bentuk upaya pelambanan pemunculan kalangan muda. “Patut dipertanyakan pula, ada kesengajaan dari para tetua bangsa ini untuk menjaga hegemoni dan status quo mereka untuk bertengger di jajaran elit Republik ini,” pungkasnya.

Senada dengan Idy, Yudi Latif berpendapat, sistem politik di Indonesia saat ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap watak dasarnya. Ia menjelaskan, dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, kaum muda selalu memegang peran penting. Perubahan-perubahan politik di negeri ini mesti digerakkan oleh kaum muda.

“Era 1920-an, muncul nama-nama Soekarno, Mohamad Hatta, Soetan Sjahrir, Mohamad Natsir dan lain-lain. Merekalah yang menjadi penggeraka perubahan di negeri ini hingga masa-masa kemerdekaan. Begitu juga dalam perjalanan bangsa ini selanjutnya,” terang Yudi.

Asli Muhammadiyah

Jika saat ini terjadi kemandegan proses regenerasi, menurut Yudi, setidaknya hal itu disebabkan oleh sistem politik Orde Baru yang dipimpin Soeharto terlalu lama berkuasa. Akibatnya, saat reformasi bergulir dan sistem politik menjadi sangat terbuka, tampillah tokoh-tokoh politik nasional yang pada dasarnya sudah tak lagi layak menjadi pemimpin.

“Saat reformasi, terjadi kegaduhan politik. Tokoh-tokoh muda yang saat Soeharto berkuasa tak diberi kesempatan kemudian mereka tampil. Tapi saat itu mereka sudah tidak muda lagi. Tokoh-tokoh seperti Amien Rais, Gus Dur (Abdurrahman Wahid-Red), Megawati Soekarno Putri, dan lain-lain, saat itu usia mereka sudah di atas 60-an,” jelas Yudi.

Asli Muhammadiyah

Akibatnya, lanjut Yudi, sistem politik di negeri ini seakan tak mempunyai semangat untuk maju. Menurutnya, pemimpin-pemimpin yang muncul tidak memiliki daya dobrak yang dahsyat. “Tidak ada lagi pemimpin yang berani lantang berkata; Amerika, Go To Hell (ucapan Soekarno-Red). Tidak ada pemimpin yang tegas menyatakan perlawanan terhadap neo-kolonialisme, terhadap Amerika Serikat” tandasnya.

Terputusnya proses regenerasi bangsa ini, tambah Yudi, juga dikuatkan dengan amburadulnya sistem pendidikan nasional, terutama setelah reformasi. Pendidikan di negeri ini, katanya, tidak saja sangat mahal, melainkan juga sudah tak ada lagi harapan bagi rakyat miskin untuk memperoleh pendidikan.

“Kalau dulu (Orde Baru) ada yang namanya sekolah inpres yang merupakan satu-satunya harapan bagi rakyat miskin untuk memperoleh pendidikan. Sekarang sudah tidak ada lagi,” tegas Yudi. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Hadits, Olahraga, Cerita Asli Muhammadiyah

Jumat, 13 Januari 2017

Ulama Maroko Baca Fatihah untuk Tokoh Perempuan NU

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Kiprah tokoh perempuan NU almarhumah Mahsusoh Ujiati begitu membekas di benak Guru Besar Universitas Ibnu Thufail Maroko Prof Dr Mariam Ait Ahmed. Prestasi salah seorang pendiri IPPNU ini dinilai patut diapresiasi.

“Mari kita bacakan surat al-Fatihah kepada beliau. Al-Fatihah…” pinta Porf Mariam di sela kuliah umum yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Agama Islam NU (STAINU) Jakarta di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (12/11) malam.

Ulama Maroko Baca Fatihah untuk Tokoh Perempuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Maroko Baca Fatihah untuk Tokoh Perempuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Maroko Baca Fatihah untuk Tokoh Perempuan NU

Menurut dia, Mahsusoh adalah pedamping Dubes RI untuk Maroko Tosari Wijaya yang baik. “Subhanallah, ketika dibangun hubungan Indonesia dan Maroko dikirimlah wanita yang sangat mulia mendampingi seorang duta besar,” katanya sambil menahan air mata.

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah

Mahsusoh dianggap berjasa dalam menghubungkan Indonesia dan Maroko. Salah seorang pimpinan Muslimat NU ini termasuk ibu yang selalu mengayomi, terutama bagi para mahasiswa yang ada di Maroko.

“Beliau mempunyai hati yang mulia, sehingga kedatangannya ke Maroko membawa bendera cinta. Beliau memberikan cinta kepada para mahasiswa,” sanjung Ketua Organisasi Persaudaraan Maroko-Indonesia ini .

Dalam acara Pekan Budaya di Maroko September lalu, Mahsusoh yang wafat pada 21 Desember 2011 itu mendapat anugerah penghargaan sebagai pejuang muslimah hubungan Indonesia-Maroko dari Jamiyyah Sidi Thalhah, bersamaan dengan acara mengenang al-Wali Sidi Thalhah, tokoh kemerdekaan Maroko.

 

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis    : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Makam, Kiai Asli Muhammadiyah

Selasa, 12 September 2017

1000 Jalan Mencintai Gus Dur

Oleh Nasukha

Suatu hari di awal tahun 2010, penulis pulang kampung di daerah Banyumas, Jawa tengah. Sesaat setelah sampai di rumah, penulis bertemu dengan tetangga yang kebetulan seorang yang aktif dalam jamaah pengajian ibu-ibu. Dengan agak serius, ibu itu berkata, ”Mas, kiamat sudah dekat ya, ko banyak orang alim yang meninggal?” Saya-pun berujar, ”Siapa yang meninggal”? Ibu itu menyebutkan salah seorang kyai lokal yang baru meninggal dan dengan tegas menyebut: Gus Dur.

Sementara itu, pada hari meninggalnya Gus Dur, penulis menyaksikan sendiri seorang pengasuh pesantren di Yogyakarta mengibarkan bendera setengah tiang di halaman masjid selama 7 hari. Entah karena pengaruh instruksi presiden atau tidak yang jelas ini memberikan kesan mendalam tentang penghormatan kiai tersebut kepada sosok Gus-Dur.

Dua peristiwa diatas tiba-tiba muncul dalam memori peringatan 7 tahun meninggalnya Sang Guru Bangsa itu. Ingatan itu beriringan dengan banyaknya orang, organisasi atau lembaga yang mencoba meneruskan cita-cita Gus Dur. Gagasan Gus Dur layaknya gagasan orang hebat lainnya terus dikaji, didiskusikan dan disebarluaskan di berbagai tempat. Namun seperti halnya Gus Dur yang multitalenta, beragam pula cara orang untuk mengenal dan meneruskan pemikirannya. ? ?

1000 Jalan Mencintai Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
1000 Jalan Mencintai Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

1000 Jalan Mencintai Gus Dur

Barangkali Gus Dur merupakan salah satu manusia di negeri ini yang dikenal memiliki banyak sisi. Selain sebagai Presiden Indonesia ke-4, Gus Dur adalah seorang ulama, kolumnis, politisi, aktivis dan pemikir Islam. Maka spektrum kehidupan kehidupannya dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Seseorang dapat menilainya sebagai cucu ulama besar yang menjadi ketua organisasi Islam terbesar di Indonesia.?

Ia juga bisa dilihat sebagai aktivis yang getol memperjuangkan HAM, pluralisme dan demokrasi. Selain itu, ia juga seorang tokoh politik dengan manuver dan komentar yang banyak dinantikan. Dalam hal ini, Gus Dur menjadi manusia super komplet yang membedakannya dengan banyak tokoh lain di negeri ini. Entah butuh puluhan atau ratusan tahun lagi, manusia seperti Gus Dur dapat lahir kembali.

Asli Muhammadiyah

Salah satu sisi Gus Dur yang sangat menonjol adalah kepemimpinannya di Nahdlatul Ulama. Hampir 14 tahun ia menjadi ketua di organisasi islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Selama itu, ia memiliki peran yang tak sedikit dalam lintas sejarah NU. Setidaknya ada 4 peran utama Gus Dur pada saat memimpin Nahdlatul Ulama. Pertama, Gus Dur bersama tokoh-tokoh muda NU pada tahun 1983 merumuskan formulasi kembali ke khitah.?

Dengan gagasan NU, NU kembali menjadi kekuatan civil society yang disegani. Kedua, Gus Dur menjadi simbol perlawanan NU terhadap rezim orde baru yang otoriter. Hal ini pula yang membawa Gus Dur menjadi salah satu tokoh demokrasi. Ketiga, pemikiran dan gagasan Gus Dur yang mampu menginspirasi anak muda NU untuk tampil progresif ? dan tranformatif. Keempat, memperkenalkan dunia NU dan pesantren ke khalayak umum. ?

Sekompleks apapun peran pribadi seorang Gus Dur, ia tetaplah orang pesantren yang memimpin NU. Sehingga mayoritas masyarakat NU pasti akan menempatkan Gus Dur pada posisi yang sangat dihormati, yaitu seorang kiai, ulama. Sebagai kiai, Gus Dur adalah seorang alim yang ditunggu wejangan dan nasihatnya.?

Maka Gus Dur-pun banyak berkeliling ke pelosok-pelosok untuk memberikan ceramah. Pengajiannya di daerah-daerah selalu dihadiri banyak orang. Sebagai contoh, pada pertengahan tahun 2002, Gus Dur pernah berceramah di dekat rumah penulis. Saat itu ribuan orang hadir bahkan banyak anak-anak yang bolos sekolah demi bisa ikut pengajian.?

Asli Muhammadiyah

Apalagi dalam diri Gus Dur mengalir darah biru kiai, sehingga posisi ini menempatkannya semakin dihormati oleh masyarakat NU. Tak mengherankan tak sedikit orang yang megakui Gus Dur sebagai wali, orang yang dikasihi Allah SWT. Tentu kita sudah sering mendengar tentang sebutan ‘Wali Gus Dur’ yang dipopulerkan banyak orang juga tentang makamnya yang terus diziarahi orang setiap waktu.?

Hal ini menegaskan posisi Gus Dur yang berada dalam hati banyak masyarakat apalagi warga NU. Kedekatan ini dengan jelas dapat dilihat saat Gus Dur dipaksa turun sebagai Presiden ? oleh MPR, maka banyak masyarakat yang “berani mati” untuk membela Gus Dur. Meskipun pada akhirnya Gus Dur sendiri yang menolak pembelaan terhadap dirinya tersebut. Ekspresi orang-orang ini tentu tak berlebihan mengingat kecintaan dan pernghormatan yang sedemikian tinggi kepadanya. ?

Dalam peringatan 1000 Hari wafatnya Gus Dur, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menyampaikan bahwa para penerus Gus Dur dapat meniru Gus Dur dari sudut yang dipahaminya. Gus ? Dur bisa diteladani dari sikap kesederhanaanya, kecintaan terhadap ilmu atau tingkat kepercayaan dirinya yang sangat tinggi dalam menegakan kebenaran. Masing-masing berhak meneladani Gus Dur semampunya.

Demikian halnya cara orang mencintai Gus Dur. Sudah mafhum bagi kita banyak politikus yang membawa platform nilai-nilai Gus Dur dalam berpolitik. Terlepas dari idealisme, tentu ini bagian dari cara mencintai Gus Dur. Ada yang rajin mengkaji, menulis dan menyebarkan gagasan Gus Dur dalam berbagai isu. Tentu tujuannya merawat gagasan ? tersebut agar tetap relevan sepanjang waktu.?

Sejumlah seniman menunjukkan cinta kepada Gus Dur, dengan mengabadikannya dalam bentuk patung dan lukisan. Bahkan ada pula yang mengisahkannya dalam bentuk komik atau ada juga yang mengumpulkan kisah-kisah humor yang terkait dengan Gus Dur. Sementara itu, ribuan orang rajin meziarahi makamnya seraya berharap berkah dari kealimannya. Semua cara-cara tersebut adalah bentuk ekspresi kecintaan kepada Sang Guru Bangsa.?

Sebagaimana ibu jamaah pengajian tadi yang mengaitkan meninggalnya Gus Dur dengan semakin dekatnya hari kiamat, maka banyak orang memiliki pandangan yang hampir sama, mengimaginasikan Gus Dur sebagai manusia ‘alim, khoriqul ‘adah dan luar biasa. Informasi yang penulis dapatkan, ? beberapa pesantren di Cilacap-mungkin juga ditempat lain- memasukan nama Gus Dur dalam susunan tawassul saat acara tahlilan.

Hal-hal demikian juga merupakan contoh ekspresi kecintaan terhadap Gus Dur. Mereka barangkali tidak mengenal tentang ‘Pribumisasi Islam’. ‘Pesantren sebagai Subkultur’ dan elemen pemikiran Gus Dur lainnya, akan tetapi mereka mengaktualisasikan kecintaan kepada Gus Dur dengan caranya sendiri sesuai dengan pemahaman masing-masing.?

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa kecintaan terhadap Gus Dur tidak hanya milik kelompok tertentu. Cinta kepadanya adalah cinta berbagai manusia dengan beragam warna yang merasa kehilangan setelah kepergiannya. Cinta itu diekspresikan dalam berbagai cara, dengan 1000 jalan. Lahul fatihah...?

Penulis adalah Pecinta Gus Dur, Kader IPNU Yogyakarta, Pendidik di Kabupaten Kaur, Bengkulu.

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah News, Lomba Asli Muhammadiyah

Minggu, 02 Agustus 2015

Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Para tokoh, baik dari lingkungan NU maupun non-NU, silih berganti mengunjungi rumah duka keluarga H Slamet Effendy Yusuf di perumahan Citra Grand Cibubur, Kamis (3/12).

Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dan Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi tiba dalam waktu yang hampir bersamaan untuk memberi penghormatan kepada mendiang Slamet Effendy. Mereka bersalaman dan menyapa satu sama lain.

Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy

Kiai Said dan jajaran pengurus PBNU lainnya juga memberikan penghormatan dan menyampaikan  pesan terakhir sebelum jenazah diberangkatkan menuju Pesantren Tahfidzul Qur’an di Purwakarta Purwakarta, pesantren yang diasuhnya. 

Asli Muhammadiyah

Sejumlah menteri juga hadir seperti Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dakhiri, Menteri Agraria dan Tata Ruang Fery Mursidan Baldan, dan Kapolda Metro Jaya Tito Karnavian. 

Hadir pula Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Mantan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Fuad Bawazier, dan lainnya. 

Asli Muhammadiyah

Dalam pesan di watsapp, jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka pukul 12 siang, tetapi dimajukan menjadi sekitar 11.30 mengingat permintaan keluarga di Purwokerta agar pemberangkatan jenazah dipercepat sebagaimana dikatakan oleh Isfah Abidah Aziz, wakil sekjen PBNU yang merupakan mantan staffnya di DPR RI. Akibatnya, beberapa pelayat tidak sempat bertemu dengan jenazah, apalagi jalan Alternatif Cibubur yang padat merayap.

Sebelum pulang, Hidayat Nur Wahid sempat menanyakan soal pelaksanaan tahlil. Ketika dijelaskan bahwa tahlil akan diselenggarakan selama tujuh hari di masjid An Nahdlah PBNU, ia berjanji untuk menyempatkan diri untuk hadir.(Mukafi Niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Nasional Asli Muhammadiyah

Minggu, 09 Juni 2013

‘Sopir’ Itu Bernama Kiai Wahab Chasbullah

Tidak ada yang meragukan kemampuan KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) dalam setiap lini kehidupan bangsa dan agama. Kiai yang dikenal ahli di bidang Ushul Fiqih ini menjadi motor penggerak umat Islam Indonesia, terutama kalangan pesantren dalam menghadapi penjajah bersama Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dan kiai-kiai lain.

Dalam pergerakan nasional, Kiai Wahab berjasa menumbuhkan dan mewariskan sikap nasionalisme dalam diri bangsa Indonesia hingga saat ini. Madrasah Nahdlatul Wathan yang dibentuknya sekitar tahun 1916 untuk membentuk generasi muda cinta tanah air membuahkan warisan manis bagi persatuan bangsa Indonesia berdasar keyakinan agama para pemeluknya. Sejak dulu, para ulama pesantren menekankan bahwa cinta tanah air dan menjaga negara adalah kewajiban agama.

‘Sopir’ Itu Bernama Kiai Wahab Chasbullah (Sumber Gambar : Nu Online)
‘Sopir’ Itu Bernama Kiai Wahab Chasbullah (Sumber Gambar : Nu Online)

‘Sopir’ Itu Bernama Kiai Wahab Chasbullah

(Baca: Mengungkap Kurikulum Madrasah Nahdlatul Wathan Kiai Wahab)

Besarnya jasa dan peran Kiai Wahab Chasbullah dalam membawa setiap pergerakan keagamaan dan kebangsaan ke arah persatuan dan kedaulatan bangsa membuatnya disebut sebagai seorang ‘sopir’, pengemudi, pengendali. Meskipun dirinya juga pernah menjadi sopir beneran ketika membawa para kiai ke sebuah kota di Banyumas, Jawa Tengah.

Riwayat Kiai Wahab menjadi sopir diceritakan oleh KH Saifuddin Zuhri (Berangkat dari Pesantren, 1984). Peristiwa tersebut terjadi tahun 1932 ketika Saifuddin Zuhri berusia 14 tahun. Ia melihat sebuah mobil merek Chevrolet berisi ulama-ulama besar di antaranya Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari dan KH Bisri Syansuri.

Asli Muhammadiyah

Mobil merek terkemuka pada zamannya hingga di era sekarang itu datang dari jurusan Cirebon, Jawa Barat dan singgah di kota kecil kelahiran Saifuddin Zuhri, Sokaraja, Banyumas untuk melantik berdirinya cabang NU. Kedatangan mobil yang membawa para tokoh besar NU dan bangsa Indonesia itu membuat antusiasme tinggi masyarakat Banyumas kala itu karena yang mengemudikannya adalah Kiai Wahab sendiri dengan setelan sarung dan sorbannya.

Pemandangan tersebut menggambarkan bahwa Kiai Wahab adalah ‘sopir’, pengemudi NU yang di dalamnya berkumpul tokoh-tokoh ulama seperti Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Abdullah Faqih, dan Kiai Bisri Syansuri. Juga ‘sopir’ politik yang mengemudikan kebijaksanaan politik Partai Masyumi yang di dalamnya duduk para politisi intelektual seperti Dr Sukiman, Mr. Yusuf Wibisono, Mr. Kasman Singadimedjo, Muhammad Natsir, Mr. Muhamad Roem, Mr. Syafruddin Prawiranegara, dan lain-lain.

Asli Muhammadiyah

Kiai Wahab telah memegang kendali politik Partai Masyumi yang semula anti persetujuan Renville untuk duduk di Kabinet Hatta yang salah satu programnya melaksanakan Persetujuan Renville. Sebagian besar pimpinan pusat Partai Masyumi kala itu menolak pinangan Hatta agar ada dari Masyumi yang duduk di kabinetnya. Namun, Kiai Wahab mampu memberikan pemikiran brilian bahwa justru umat Islam hanya akan jadi penonton jika tidak ada perwakilan yang duduk dalam pemerintahan.

(Baca: Debat KH Wahab Chasbullah soal Perjanjian Renville)

Dengan diantar oleh garis politik Kiai Wahab, Partai Masyumi mendukung para tokohnya duduk di dalam Kabinet Hatta. Mereka terdiri dari Dr Sukiman, Muhammad Natsir, Mr. Syafruddin Prawiranegara, dan Kiai Masykur. Secara berurutan, masing-masing duduk sebagai Menteri Dalam Negeri, Menteri Penerangan, Menteri Kemakmuran, dan Menteri Agama.

Dari ‘sopir’ mobil para kiai, Kiai Wahab lalu mengemudikan NU yang beranggotakan banyak ulama kala menjadi Rais Aam menggantikan Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari setelah sebelumnya juga banyak menginisiasi dan menggerakkan banyak organisasi dan perkumpulan. Kiai Wahab juga mengemudikan Partai Masyumi yang beranggotakan banyak tokoh-tokoh politik dan intelektual dengan menjadi pimpinan tertinggi, Ketua Majelis Syuro. Kedudukan Kiai Wahab tersebut sebagai pengambil keputusan terakhir kebijakan politik Partai Masyumi. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kiai, Ulama, Makam Asli Muhammadiyah

Senin, 27 November 2017

Aliansi Nahdliyin-Marhaenis

Dalam urusan sosial-politik, NU mengembangkan prinsip ukhuwah wathoniyah atau solidaritas kebangsaan. Karena itu sejak awal tokoh NU seperti Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Chasbullah bekerjasama dengan para tokoh nasionalis penggerak kebangkitan nasional, seperti Dr Sutomo, Muhammad Yamin, termasuk Bung Karno sendiri. Ketika masa kemerdekaan, kelompok nasionalis ada dalam PNI, sementara NU juga menjadi parpol tersendiri, tetapi hubungan keduanya sangat erat. Tahun 1950-an, hubungan ini terjalin semakin intensif.

Kerjasama Nahdliyin dengan kelompok nasionalis zaman pergerakan nasional tahun 1920-an itu kemudian berlanjut pada masa Revolusi Kemerdekaan. Dalam menghadapi masa peralihan dari penjajahan Belanda ke Penjajahan Jepang itu, kerjasama semakin erat. Sebab? kedua kelompok yang sama-sama non kooperatif dengan Belanda itu justru mendapatkan angin pada masa Jepang. Saat itulah keduanya leluasa bergerak menyiapkan kemerdekaan Indonesia, baik menyiapkan tentara nasional dengan membentuk tentara Pembela tanah Air (PETA) serta Hizbullah dan Sabilillah, yang sebagian besar komandannya adalah dari kaum santri. Kerjasama dua kelompok itu kemudian bisa mempercepat Proklamasi.

Ketika Belanda hendak merebut kembali negeri ini, dua kelompok itu bersatu padu menghadapi penjajah. Kerjasama ini semakin erat ketika di tengah gejolak revolusi itu ada sekelompok orang PSI dan PKI melakukan pemberontakan terhadap RI. Dengan tegas NU mendukung RI Pimpinan Bung Karno dan menyerukan segera melenyapkan pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 itu. Pada saat bersamaan sekelompok Islam modernis yang puritan dan radikal mendirikan Darul Islam (DI) bahkan kemudian membentuk Tentara Islam Indonesia (TII) dalam rangka mendirikan Negara Islam Indonesia (NII), sebagai tandingan dari NKRI, maka dengan tegas NU menolak gagasan yang dipimpin oleh Kartosuwiryo yang mengaku sebagai amirul mukminin atau pemimpin umat Islam. Untuk menegaskan komitmennya pada NKRI justru NU mengukuhkan Presiden Soekarno sebagai amirul mukminin yang sebenarnya, yakni sebagai waliyul amri (tokoh yang mendapatkan amanah) menjalankan pemerintahan.

Pada awal Orde Baru terjadi penyederhanaan partai politik, NU dikumpulkan dengan kelompok modernis eks Masyumi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pertamanya kerjasama ini berjalan lancar, walaupun NU dengan bermodal 18,6 persen suara,? sementara Masyumi (Parmusi) hanya 7,3 persen, tapi pimpinan PPP? dipegang Parmusi HMS Mintardja, seorang tokoh Masyumi, demi ukhuwah Islamiyah tadi NU menerima keputusan tidak adil itu. Tetapi Pergantian ketua PPP dari Mintardja ke HJ Naro juga dari Parmusi (Masyumi) tidak dilakukan secara demokratis melalui Muktamar, melainkan diserahkan begitu saja. Ini yang membuat NU kecewa terhadap perilaku politik Masyumi itu.

Aliansi Nahdliyin-Marhaenis (Sumber Gambar : Nu Online)
Aliansi Nahdliyin-Marhaenis (Sumber Gambar : Nu Online)

Aliansi Nahdliyin-Marhaenis

Langkah selanjutnya Naro sebagai kelompok kecil Masyumi menyingkirkan para elit politik NU dari PPP, para pendiri seperti HM Yusuf Hasyim, Khalik Ali, KH Saifuddin Zuhri, Mahbub Djunaidi satu per satu disingkirkan. Mereka juga dihapus sebagai daftar calon DPR. Calon DPR didominasi kelompok Masyumi pimpinan Naro. Tentu saja perilaku unsur Masyumi dalam PPP itu merugikan keutuhan Partai, sehingga partai pecah, kelompok NU akhirnya tersingkir. Ini tragedi Masyumi di tahun 1950-an terulang lagi. Masyumi tidak menjalankan organisasi kesepakatan dan sesuai aturan, maka retak dan bubarlah partai. Akhirnya pada tahun 1984 NU secara organisatoris kembali ke Khittah sebagai ormas keagamaan, maka NU secara otomatis keluar dari PPP.

Setelah itu, NU menjalankan peran sosial lebih efektif tanpa partai di bawah kepemimpinan KH Ahmad Shiddiq dan KH Abdurrahman Wahid. Kepemimpinan yang efektif NU menjadikan NU secara? nasional sangat solid. Solidnya NU sebagai organisasi besar ini dengan sendirinya memiliki resonansi politik yang besar, karena itulah dengan sikap tegas dari KH Abdurrahman wahid sejak pertengahan 1980-hingga akhir 1980-an itu dalam membela rakyat kecil dalam menghadapi represi Orde Baru, maka tiba-tiba NU tampil sebagai rival Orde Baru yang paling depan.

Ketika partai kelompok Nasionalis PDI pecah di awal 1990-an, Megawati sebagai keluarga Bung Karno tampil sebagai penyelamat partai nasionalis ini, tetapi kehadiran Megawati merisaukan Orde Baru, maka dibuatlah musuh tandingan dari dalam, antara lain Surjadi yang dipaksa memimpin PDI atas dukungan Orde Baru, sehingga Megawati tersingkir. Saat itulah Gus Dur mulai menjalin aliansi dengan Megawati, sebagai pendatang baru dalam kancah politik nasional. Megawati banyak mengikuti kegiatan Gus Dur sebagai mitra baru dan banyak belajar pada guru bangsa ini, bersama-sama, menggerakkan rakyat bawah dan berjuang menghadapi represi Orde Baru. Akhirnya PDI Megawati yang bernama PDI Perjuangan (PDIP) bisa menyingkirkan rivalnya, sehingga menjadi partai yang kuat dan disegani yang bisa kembali mengonsolidasi pendukung Bung Karno.

Asli Muhammadiyah

Aliansi ini begitu kuat, apalagi saat itu orde baru sedang membangun aliansi dengan kelompok Islam modernis dengan membuat ICMI. Aliansi ini dengan sendirinya semakin memperkuat posisi Orde Baru dalam menghadapi aliansi kelompok Islam-Nasionalis yang dipimpin Gus Dur. Aliansi kedua kelompok itu yang mampu menggetarkan fondasi kekuasaan Orde Baru, karena itu kedua kelompok ini dihancurkan dengan halus atau dengan kekerasan. Maka pada pertengahan 1990-an digelarlah aksi untuk menghancurkan NU dan nasionalis. Untuk menghancurkan NU digelar Operasi Naga Hijau yang membantai para kiai di Jawa yang menelan korban 140 orang Kiai NU. Sementara itu untuk menghancurkan PDI digelar Operasi Naga Merah yang membantai ratusan kader PDI saat mempertahankan kantor mereka di jalan Diponegoro pada 27 Juli 1996.

Aliansi itu NU-Nasionalis itu berpuncak saat Reformasi sehingga membentuk “Kelompok Ciganjur” kemudian membuat deklarasi yang melibatkan semua elemen bangsa termasuk ikut dalam aliansi nasional itu Sultan Hamengkubuwono, juga Amin Rais yang selama ini aktif di ICMI bersama Soeharto, setelah situasi berubah, maka kini mulai masuk dalam gerakan melawan Soeharto.

Aliansi NU PDI itu pada masa Reformasi berubah format, ketika NU telah membuat partai baru yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), maka secara alami kedua partai berbasis kebangsaan dan kerakyatan itu selalu bersatu padu menyusun agenda perubahan. Duet Gus Dur-Mega semakin erat, karena itu keduanya menjadi tokoh terkemuka di negeri ini. Ketika kehadiran Mega ditolak oleh kelompok Islamis yang menampakkan diri sebagai kelompok tengah yang ingin menggeser Megawati, akhirnya menampilkan Gus Dur sebagai penyelamat untuk tetap menyelamatkan dwitunggal Gus Dur-Mega, di saat kelompok lain bakal mencuri di tikungan.

Asli Muhammadiyah

Mega dicoba digeser dengan Gus Dur tetapi tidak berhasil, karena Mega dijadikan wapres oleh Gus Dur. Tetapi kelompok Islamis itu tidak puas akhirnya mencoba menggeser Gus Dur dengan menggunakan Megawati. Suasana ruwet sehingga menyebabkan Gus Dur jatuh dan secara otomatis Mega dinaikkan menjadi presiden. Namun demikian hubungan NU dan PKB dengan PDIP tidak cukup terganggu, bahkan setelah itu segera pulih, karena kedua belah pihak tahu bahwa pelaku di balik semua perhelatan itu selain sisa-sisa Orde Baru, adalah kelompok pimpinan Amin Rais.

Hingga saat ini, kelihatan NU dan PDIP telah rukun kembali. Kebencian Nahdliyin dan Marhaenis pada umumnya dialamatkan pada Amin Rais sebagai dalang kekacauan ini. Karena itu kedua kelompok ini masih selalu waspada terhadap manuver politik Amin Rais, yang cenderung mengusik aliansi Nahdliyin dan Nasionalis-Marhaenis, yang sama-sama gigih menjaga NKRI dan Pancasila serta kebhinnekaan Indonesia dengan sikap moderat dan toleran. (H Masyhuri Malik)

?

Foto: Rais Aam NU Kiai Wahab Chasbullah berbisik dengan Bung Karno saat menghadiri Muktamar ke-22 Nahdlatul Ulama di Jakarta, 1959. (Doc. PP Lakpesdam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Cerita, Meme Islam, Santri Asli Muhammadiyah