Kajian


info Kajian
Kajian bahasa
Kajian bahasa nasional
Kajian bahasa indonesia
Kajian belah bambu
Kajian busuk
Kajian berasal dari bahasa yunani yaitu
Kajian belanda
Kajian busuk sby
Kajian berasal dari kata
Kajian global
Kajian gus dur
Kajian golkar
Kajian gender
Kajian gorontalo
Kajian global amerika serikat
habib Kajian mp3
video Kajian full
Kajian gerakan non blok
rahasia Kajian terbaru
Kajian g 30 s pki
Kajian konfrontasi
Kajian kerajaan kutai
Kajian kampus
Kajian kerajaan majapahit
Kajian kotor
Kajian kerajaan tarumanegara
Kajian kompasiana
Kajian luar negeri indonesia
Kajian luar negeri bebas aktif
Kajian luar negeri indonesia adalah
Kajian liberal
Kajian yang membedakan warna kulit disebut
Kajian yang dianut bangsa indonesia
Kajian yang baik
Kajian yahudi
Kajian yang dianut bangsa indonesia adalah
Kajian merupakan
Kajian yaitu

Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Kajian. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Kajian. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 November 2009

LPBINU Gelar Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana di Parepare

Parepare, Asli Muhammadiyah



Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) dengan dukungan dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia menyelenggarakan Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana tahap kedua.?

LPBINU Gelar Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana di Parepare (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Gelar Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana di Parepare (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Gelar Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana di Parepare

Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana ini dipandu oleh Humanitarian Open Street Map Team (HOT). Pelatihan ini diikuti oleh 22 orang peserta yang merupakan perwakilan dari BPBD, OPD Terkait, LPBINU, Pramuka, PMI, Perguruan Tinggi yang berasal dari Kabupaten Barru dan Wajo, Sulawesi Selatan yang telah mengikuti pelatihan tahap 1 (JSOM dan Mapathon). Pelatihan akan berlangsung selama 5 (lima) hari pada 10-14 April 2017 di Hotel Parewisata Parepare, Sulawesi Selatan.?

?

Ketua LPBINU PBNU M Ali Yusuf menyatakan bahwa untuk menyusun rencana dan aksi penanggulangan bencana yang sistematis, terarah dan terpadu, diperlukan dasar yang kuat untuk pemaduan dan penyelarasan arah penyelenggaraan penanggulangan bencana pada suatu daerah/kawasan. Di sinilah letak penting adanya kajian risiko bencana sebagai perangkat untuk menilai kemungkinan dan besaran dampak (korban dan kerugian) dari ancaman bencana yang ada.?

Asli Muhammadiyah

Dengan mengetahui kemungkinan dan besaran korban dan kerugian, lanjutnya, fokus perencanaan dan keterpaduan penyelenggaraan penanggulangan bencana menjadi lebih efektif. “

Dapat dikatakan, kajian risiko bencana merupakan dasar untuk menjamin keselarasan arah dan efektivitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di suatu daerah atau kawasan,” jelasnya.

Pelatihan ini merupakan rangkaian kegiatan dalam Program Penguatan Kapasitas Pemerintah dan Masyarakat Lokal dalam Kesiapsiagaan untuk Respon Bencana yang Cepat dan Efektif. Setelah penyelenggaraan pelatihan tahap pertama memperkenalkan dan menerapkan aplikasi Java Open Street Map (JOSM). JOSM merupakan salah satu alat dalam penanggulangan bencana alam, pada tahap kedua yaitu terkait dengan Quantum Geography Information System (QGIS) ? dan Ina SAFE.

Hasil dari pelatihan kajian risiko bencana ini adalah tersusunnya peta risiko bencana (peta ancaman, peta kerentanan dan peta kapasitas) dan juga tersusunnya kajian risiko bencana di Kabupaten Barru dan Wajo (Sulawesi Selatan).

H. Abdul Kadir, Kepala BPBD Kabupaten Barru, menyampaikan pentingnya kajian kerentanan untuk dapat meningkatkan kapasitas sehingga risiko dapat dikurangi. “Harapan kami dokumen kajian risiko bencana dapat menjadi acuan dalam pembangunan yang ada di Kabupaten Barru, dan kajian risiko bencana dapat diimplementasikan secara baik,” katanya.?

Asli Muhammadiyah

Pelatihan dibuka oleh Syarifuddin Rahim, Sekretaris BPBD Provinsi Sulawesi Selatan. Ia mengapresiasi LPBINU yang bekerja sama dengan DFAT dalam melaksanakan program di Kabupaten Barru dan Wajo sebagai proyek percontohan. “Semoga kegiatan yang dilaksanakan di Sulawesi Selatan dapat di implementasikan dan di kembangkan di daerah lain,” katanya.

Menurutnya, bencana ? merupakan tanggung jawab bersama, dan pelatihan kajian risiko bencana dengan melibatkan multi stakeholders adalah sangat tepat, ? memang kegiatan kajian tidak mudah, namun hal yang sangat penting adalah kita mendapatkan kesepatan yang sangat berharga, dan semua peserta mampu mengamalkan ilmu yang telah didapat.

Salah satu tujuan pelatihan ini adalah untuk menerapkan aplikasi Java Open Street Map (JOSM) dalam melakukan pengkajian risiko bencana di suatu daerah termasuk di dalamnya memetakan risiko bencana dan mengembangkan skenario dalam melakukan penanggulangan bencana dengan menggunakan perangkat lunak InaSAFE. Hasil dari kajian risiko tersebut nantinya digunakan sebagai acuan dasar dalam menyusun perencanaan dalam kegiatan dan program penanggulangan bencana suatu daerah/kawasan. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Santri Asli Muhammadiyah

Kamis, 19 Mei 2011

UNU Indonesia Kini Miliki Pusat Kajian dan Pendidikan Antikorupsi

Jakarta, Asli Muhammadiyah

Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia kini memiliki Pusat Kajian dan Pendididikan Antikorupsi. Peresmian pusat kajian kampus yang beralamat di Jl. Taman Amir Hamzah No. 5

Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat tersebut, dilakukan di gedung PBNU, Jakarta Senin malam (20/2).

UNU Indonesia Kini Miliki Pusat Kajian dan Pendidikan Antikorupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Indonesia Kini Miliki Pusat Kajian dan Pendidikan Antikorupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Indonesia Kini Miliki Pusat Kajian dan Pendidikan Antikorupsi

Peresmian ditandai dengan penandatanganan plakat oleh Sekretaris Jenderal PBNU H. A. Helmy Faishal Zaini, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Raharjo, dan Rektor UNU Indonesia KH Maksum Mahfud.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Pusat Kajian dan Pendididikan Antikorupsi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia Fira Mubayyinah mengatakan, ide pembentukan pusat kajian tersebut muncul dari Fakultas Ilmu Hukum UNU.

Asli Muhammadiyah

“Kami dari beberapa dosen menyadari betul pemberantasan korupsi adalah tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Asli Muhammadiyah

Pusat kajian tersebut, lanjutnya, akan bergerak bersama seluruh civitas UNU Indonesia untuk melakukan pendidikan antikorupsi kepada siswa di sekolah umum dan para santri di pesantren-pesantren.

Tak hanya itu, kata dia, lembaga tersebut akan melakukan kajian-kajian terhadap kasus korupsi untuk mengetahui cara-cara pencegahannya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Anti Hoax Asli Muhammadiyah

Sabtu, 07 Mei 2016

Pelajar NU Ketanggungan Perkuat Gerakan Melalui Kajian Aswaja

Brebes, Asli Muhammadiyah. Kajian Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) Untuk memperkokoh pemahaman Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja) bagi kader muda dan pelajar Nahdlatul Ulama (NU). Kajian ini diprakarsai Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar NU dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPNU-IPPNU) Ketanggungan yang dikemas dalam agenda IPNU-IPPNU Bersholawat, Ahad (15/5) lalu.

Pelajar NU Ketanggungan Perkuat Gerakan Melalui Kajian Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Ketanggungan Perkuat Gerakan Melalui Kajian Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Ketanggungan Perkuat Gerakan Melalui Kajian Aswaja

Pembina IPNU PAC Ketanggungan Ahmad Fauzan El Azizi mengakui, tidak semua kader NU mengetahui secara gamblang tentang Aswaja. Sebab, kader muda NU tidak seluruhnya berlatar belakang pesanteren atau nyantri. Sehingga perlu diberi pemahaman yang lebih mendalam tentang Aswaja. Disamping itu, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahim para kader muda NU se-Kecamatan Ketanggungan.?

“Tidak hanya itu, kajian Aswaja juga untuk merangsang semangat kader NU dalam berbagai aktivitas kegiatan sehingga mampu menarik minat para pemuda dan pelajar untuk bergabung dengan IPNU-IPPNU,” ujar Fauzan.

Kajian Aswaja yang berlangsung di Masjid jami An-Nidzom, Desa Kubangsari Ketanggungan itu, diisi Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah Ketanggungan KH Agus Hadi. Dia membahas tentang pentingnya bermadzhab. Dengan bermadzhab, bukan berarti tidak berpedoman kepada Al-Quran dan Hadits seperti apa yang dituduhkan kaum Wahabi yang anti-madzhab. Justru, kaum Nahdliyin yang bermadzhab Imam Syafii dengan paham Aswaja berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Hadist dengan mengikuti pemahaman para ulama, bukan dengan akal sendiri.?

“Karena memahami al-Quran dan hadits hanya tekstual belaka dan dengan pemikirannya sendiri, justru bisa keliru dan sesat tatkala tidak sesuai dengan ijma para ulama,” tandas Kiai Agus Hadi.?

Asli Muhammadiyah

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan Pelantikan Pengurus Pimpinan Ranting IPNU Kubangsari oleh Ketua Pimpinan Cabang (PC) IPNU Brebes Ferial Farkhan Ibnu Ahmad. Sedangkan untuk PR IPPNU dilantik oleh Ketua PC IPPNU Brebes Ade Mely Seftiana dalam suasana yang hikmat.

Dalam sambutannya, Feri berpesan agar para pengurus yang telah dilantik mampu memikul tanggung jawab menjalankan roda organisasi. Menyukseskan Program kerja dan melakukan kegiatan yang bisa ? memajukan organisasi.bukan hanya ajang seremonial belaka.

Adapun pengurus ranting IPNU Kubangsari yang dilantik antara lain Ketua Fahrurrozi, Sekretaris Wahyu hidayat, Bendahara Khaerul Anwar. Sedangkan PR IPPNU Kubangsari antara lain Ketua Khofifah, Sekretaris Fauziah Aini, dan Bendahara Siti Nur Azizah, (Wasdiun/Fathoni)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Tokoh, Daerah, Nusantara Asli Muhammadiyah

Jumat, 10 Februari 2017

Pascasarjana STAINU Jakarta Luncurkan Buku Konsep Islam Nusantara

Jombang, Asli Muhammadiyah. Menegaskan tema besar Muktamar Ke-33 NU di Jombang, Pascasarjana STAINU Jakarta menggelar seminar bertajuk ‘Mengarusutamakan Konsep dan Gerakan Islam Nusantara’ di Aula Yayasan Tambakberas, Jombang, Ahad (2/8).

Seminar ini juga dimaksudkan untuk meluncurkan buku ‘Mengenal Konsep Islam Nusantara’ yang disusun dan diterbitkan oleh Tim Penulis Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta.

Pascasarjana STAINU Jakarta Luncurkan Buku Konsep Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pascasarjana STAINU Jakarta Luncurkan Buku Konsep Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pascasarjana STAINU Jakarta Luncurkan Buku Konsep Islam Nusantara

Seminar ini menghadirkan beberapa narasumber, yaitu Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin, Katib Syuriyah PBNU KH Afifuddin Muhajir, Direktur Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta, Prof Dr M Ishom Yusqi, dan Prof Dr Akh Muzakki, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya dengan dimoderatori oleh Dr Abdul Moqsith Ghazali, Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta.

Asli Muhammadiyah

Dalam sambutannya, Menteri Agama yang juga putra KH Saifuddin Zuhri ini mengapresiasi STAINU Jakarta yang secara serius menyelenggarakan program kajian Islam Nusantara (IN).

"Masyarakat tidak perlu khawatir IN akan memecah belah persatuan umat, karena IN tidak menegasikan kelompok lain," ujar Lukman.

Asli Muhammadiyah

Ia juga menegaskan bahwa Islam Nusantara tidak ingin melakukan de-arabisasi. IN tidak anti manapun, termasuk anti-Arab. IN ingin mengambil yang positif dan menanggalkan yang negatif.

Pembicara dalam seminar ini, Prof Isom Yusqi, menyampaikan bahwa sebagai sebuah kajian, Islam Nusantara sudah memenuhi syarat dan layak diteladani.

"Dalam kajian klasik, kita mengenal ada mabadi asyrah atau sepuluh prinsip dasar. IN sudah mencakup semuanya, mulai dari definisi, ruang lingkup, manfaat, hubungan dengan kajian lain, keistimewaan, perintis, sebutan resmi, sumber, hukum mempelajari, dan pokok masalah kajian," papar Isom.

KH Afifuddin Muhajir, dalam paparannya memberikan definisi praktis terhadap Islam Nusantara. "IN adalah paham dan praktik keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realita dan budaya setempat," kata Kiai dari Situbondo ini.

Wujud penyesuaian budaya

Sementara itu, Prof Akh Muzakki, mengilustrasikan Islam Nusantara seperti fried chicken (ayam goreng) sebagai komoditas beberapa perusahaan Amerika. "Di Amerika dan Eropa, ayam goreng itu dijual begitu saja, tanpa nasi. Beda dengan di Indonesia, nasi disertakan sebagai pendamping," ujar Sekretaris PWNU Jawa Timur ini.

Menurutnya, penyertaan nasi ini merupakan wujud penyesuaian terhadap budaya orang Indonesia. "Kalau belum makan nasi, kita belum merasa makan. Ya seperti itulah Islam menerima budaya kita sebagai pendamping," lanjutnya.

Menyinggung kesalahpahaman sebagian kalangan yang mengira Islam Nusantara hendak melakukan sinkretisasi, Prof Muzakki mengibaratkannya dengan ayam goreng dan nasi pecel atau rawon.

"Meski nasi pecel atau rawon sangat populer di negeri ini, jangan harap fried chicken Amerika menjualnya sebagai pendamping. Karena itu jelas keluar dari khittah atau trademarknya. Demikian juga budaya Nusantara yang dapat merusak esensi Islam tentunya tidak akan digunakan," pungkasnya. (Dawam Multazam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Jadwal Kajian, Daerah, Ulama Asli Muhammadiyah

Senin, 06 November 2017

Berangkat dari Kajian, Pemuda Nusa Tenggara Timur Tolak Radikalisme

Kupang, Asli Muhammadiyah - Diskusi kebangsaan yang digelar oleh GP Ansor Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Pemuda Lintas Agama berkomitmen menolak apapun tentang radikalisme. Komitmen ini disampaikan seluruh unsur pemuda dalam acara buka puasa bersama di Restaurant Celebes Kupang, Jalan Perintis Kemerdekaan, Jumat (9/6).

Ketua GP Ansor NTT Abdul Muis mengatakan, diskusi soal radikalisme untuk menolak arus radikalisasi yang terus berkembang dan merongrong negara komitmen untuk menolak dan bila perlu keluar dari NKRI.

Berangkat dari Kajian, Pemuda Nusa Tenggara Timur Tolak Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Berangkat dari Kajian, Pemuda Nusa Tenggara Timur Tolak Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Berangkat dari Kajian, Pemuda Nusa Tenggara Timur Tolak Radikalisme

"Komitmen ini gerakan akar rumput bersentuhan langsung dengan pemuda lintas agama, maka komitmen terus kami gelorakan," kata Muis dalam diskusi yang dihadiri Kabinda NTT.

Sekertaris GP Ansor NTT Ajhar Jowe menyampaikan, pihaknya sebagai penyelenggara kegiatan mengucapkan terima Kasih kepada semua pihak yang turut berpartisipasi.

Asli Muhammadiyah

Menurutnya, diskusi ini membuktikan bahwa gerakan pemuda NTT menolak radikalisme tidak saja datang dari ruang hampa belaka, tetapi datang dari hasil kajian panjang. “Dari hasil kajian panjang itu pemuda NTT menganggap pentingnya NKRI harga mati dan tidak ada tawar menawar bagi kami.”

Asli Muhammadiyah

Kepala Badan Intelejen Negara Daerah (Kabinda) Daeng Rosada menyampaikan, berdasarkan hasil identifikasi, ada beberapa daerah di NTT yang berpotensi adanya indikasi basis kelompok radikalisme yakni Kota Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kabupaten Alor, dan Kabupaten di Manggarai Barat. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Aswaja Asli Muhammadiyah

Minggu, 17 September 2017

Di Uniska, Pendalaman Aswaja Kian Intensif

Kediri, Asli Muhammadiyah. Dalam pandangan Kepala Lembaga Pendidikan Karakter dan Agama Universitas Islam Kadiri (Uniska), keberadaan buku Khazanah Aswaja adalah referensi yang memang ditunggu khalayak. ? "Inilah buku yang kami tunggu," ? kata Dr H Imam Baehaki, Selasa (28/2).

Pandangan tersebut disampaikan Imam Baehaki pada kegiatan kajian Aswaja yang diselenggarakan kampus setempat. Apalagi buku tersebut diberi pengantar Rais ‘Aam PBNU KH Maruf Amin, sehingga tidak perlu diragukan kandungan dan isinya.

Di Uniska, Pendalaman Aswaja Kian Intensif (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Uniska, Pendalaman Aswaja Kian Intensif (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Uniska, Pendalaman Aswaja Kian Intensif

Sedangkan Pembantu ? Rektor III, Mustain, menyatakan, para mahasiswa butuh buku pintar Aswaja. "Buku Khazanah Aswaja akan disederhanakan agar lebih mudah dipelajari. Ya, semacam buku pintar Aswaja," katanya.?

Selanjutnya para dosen agama Islam di kampus tersebut harus mengajarkan Aswaja an-Nahdliyyah. "Karena memang kampus ini landasan dan bunyi statutanya Aswaja an-Nahdliyyah," jelasnya. ? Karena itu pula, kajian keaswajaan merupakan hal penting untuk diikuti para dosen untuk disampaikan kepada para mahasiswa.

Asli Muhammadiyah

Dan gayung pun bersambut lantaran kampus akan membuat buku ajar Aswaja bagi mahasiswa. "Karenanya, kajian awal ini akan ditindaklanjuti," jelasnya. ? Dan untuk berikutnya, tim penulis buku Khazanah Aswaja dari Aswaja NU Center Jawa Timur akan diundang kembali.

Sedangkan Ustadz Yusuf Suharto yang didaulat menjadi narasumber tunggal pada paparan awal ? menyampaikan ? pengertian Aswaja dan kelompoknya dengan mengutip As-Safarini. Dari pandangan tersebut dijelaskan bahwa kelompok Aswaja ada tiga: al-Atsariyah atau para pengikut Imam Ahmad ibn Hanbal, Al-Asyairah serta Al-Maturidiyyah, jelas salah seorang penulis buku tersebut.

Asli Muhammadiyah

"Al-Atsariyah yang benar adalah yang konsisten dengan ajaran Imam Ahmad ibn Hanbal, yaitu pada ghalibnya memakai metode tafwidh atau menyerahkan makna ayat mutasyabihat kepada Allah sembari mensucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk," kata kandidat doktor UIN Maliki tersebut. Jika ada yang mengaku al-Atsariyah tapi melakukan tasybih atau tajsim, atau juga mudah mengafirkan, maka sesungguhnya itu bukan al-Atsariyah, yang berarti bukan Ahlussunnah wal Jamaah, lanjut Direktur PC Aswaja NU Center Jombang tersebut.

Penggagas kajian Aswaja, Kepala Bidang Agama Islam Uniska, yakni Dr H. Shalahuddin Fathurrahman menyatakan bahwa kajian sebagai bekal bagi sejumlah dosen agama Islam di kampus tersebut. "Agar menyelaraskan diri dalam Aswaja an-Nahdliyyah," harapnya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Habib Asli Muhammadiyah

Senin, 09 Juni 2014

Kiswah dan Ashabul Coffe di Kampus Ibrahimy

Banyuwangi, Asli Muhammadiyah. Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU dan IPPNU Institut Agama Islam Ibrahimiy (IAI) Genteng, Banyuwangi menggelar acara bertajuk Kajian Islam Sosial Ahlussunnah wal-Jamaah (Kiswah) tiap sebulan sekali.

Kiswah dan Ashabul Coffe di Kampus Ibrahimy (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiswah dan Ashabul Coffe di Kampus Ibrahimy (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiswah dan Ashabul Coffe di Kampus Ibrahimy

Pada Kiswah? berlangsung Ahad sore (20/11) Rektor IAI Ibrahimiy Kholilur Rahman, dosen pengajar, staff pegawai, mahasiswa dan pelajar se-kecamatan Genteng turut hadir pada acara tersebut.

Kholilur Rahman bercerita, dulu di kampus tersebut kering dengan kajian Aswaja, tapi sekarang ada dua kegiatan mingguan dan bulanan untuk berdiskusi.

Asli Muhammadiyah

"Inisiatif dari salah satu dosen untuk mengadakan program pendalaman keaswajaan yang dilakukan satu bulan sekali dengan tajuk "Kajian Islam Sosial Ahlussunnah Wal Jamaah" (Kiswah) yang tema dan narasumber berbeda-beda," jelasnya di hadapan ratusan mahasiswa dan pelajar yang hadir.

Asli Muhammadiyah

Ia menambahkan, selain kajian bulanan juga ada kegiatan diskusi mingguan bertajuk Ashabul Coffe. Yang berbeda dari kajian ini, diadakan rutin mingguan dan bertempat di kedai kopi berbeda setiap pekan.

"Itu semua kami lakukan perwujudan tindakan preventif kepada mahasiswa dari ancaman paham ideologi radikal dan terorisme. Juga sebagai kepedulian kami kepada mereka karena tugas mereka (mahasiswa) ke depan semakin sulit dalam menjaga dan meneruskan amaliyah Nahdlatul Ulama," pungkasnya.

Usai sambutan dari rektor, acara seremonial pembukaan di tutup dengan doa yang dipimpin oleh KH Muhaimin Asmuni. Kh. Marzuki Mustamar mengisi acara dialog usai pembacaan doa dan penutupan acara seremonial. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ulama Asli Muhammadiyah

Kamis, 15 Desember 2016

Sebar Materi Khotbah, GP Ansor-Lazisnu Kudus Ajak Warga Infaq-Zakat

Kudus, Asli Muhammadiyah - Dalam momentum Ramadhan ini, Pimpinan Cabang GP Ansor bersama Lembaga Amal zakat Infaq Shadaqah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Kudus menyebarkan ratusan materi khotbah Jumat kepada para khotib masjid-masjid di wilayah setempat. Materi khotbah ini berisi penjelasan pentingnya berinfak dan berzakat.

Ketua Lazisnu Kudus Syaroni Suyanto mengatakan, materi khotbah ini dimaksudkan memberikan kesadaran kepada warga akan pentingnya mengeluarkan zakat maupun infaq. Terlebih lagi, bulan Ramadhan ini menjadi momentum yang tepat untuk berbagi mengeluarkan zakat /infaq.

Sebar Materi Khotbah, GP Ansor-Lazisnu Kudus Ajak Warga Infaq-Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebar Materi Khotbah, GP Ansor-Lazisnu Kudus Ajak Warga Infaq-Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebar Materi Khotbah, GP Ansor-Lazisnu Kudus Ajak Warga Infaq-Zakat

"Saya berharap para khotib bisa membacakan materi khutbah ini sehingga warga semakin terketuk akan kewajiban berzakat dan berkenan berinfaq," ujarnya kepada Asli Muhammadiyah di Kantor Lazisnu Jalan Pramuka nomor 20, Kudus, Kamis (24/6).

Asli Muhammadiyah

Materi khotbah ini merupakan hasil kajian bersama Lazisnu dan Aswaja Center GP Ansor Kudus dalam rangka menumbuhkan semangat berinfak di kalangan warga masyarakat. "Naskah khotbah dibuat kiai muda Aswaja Center GP Ansor, sedangkan Lazisnu yang proses cetaknya," katanya.

Asli Muhammadiyah

Sementara Ketua GP Ansor Kudus H Sarmanto Hasyim mengatakan, Aswaja Center GP Ansor akan terus melakukan kajian-kajian yang berhubungan ubudiyah maupun amaliyah warga NU. Tujuannya memberikan pencerahan pencerahan keagamaan kepada umat NU agar tetap pada koridor Islam Aswaja An-Nahdliyah.

"Banyak Kiai muda di Aswaja Center yang siap melaksanan program kajian keislaman melalui akan forum-forum internal maupun mimbar-mimbar masjid seperti khotbah Jumat. Kiai muda Ansor akan berupaya menerbitkan naskah-naskah khotbah yang konstekstual untuk menyuarakan ajaran-ajaran Islam Aswaja An-Nahdliyah," tegasnya.

Dalam materi yang disebar itu, terdapat penjelasan-penjelasan dan dalil ajakan berzakat-berinfak. Di antaranya, hikmah melaksanakan zakat dan shadaqah adalah bisa untuk menolong orang lemah. Berzakat-shadaqah bisa menyucikan jiwa seseorang yang menunaikan dari dosa-dosa dan Allah akan memberi kenikmatan harta yang melimpah ruah kepada orang kaya tersebut. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Khutbah, Sunnah Asli Muhammadiyah

Selasa, 06 Januari 2015

Kemenag Gandeng Lakpesdam PBNU Susun Kerangka Kurikulum Ma’had Aly

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Setelah legalitas Ma’had Aly diresmikan di Tebuireng beberapa waktu yang lalu, pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama tancap gas untuk menyusun kerangka kurikulum. Untuk menghasilkan kerangka kurikulum yang sesuai dengan kondisi masing-masing Ma’had Aly, Kemenag menggandeng Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNUdalam kerangka kurikulum tersebut.

Kemenag Gandeng Lakpesdam PBNU Susun Kerangka Kurikulum Ma’had Aly (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Gandeng Lakpesdam PBNU Susun Kerangka Kurikulum Ma’had Aly (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Gandeng Lakpesdam PBNU Susun Kerangka Kurikulum Ma’had Aly

Kegiatan yang bertajuk Halaqoh Nasional Penyusunan Kerangkan Kurikulum Ma’had Aly ini berlangsung di The Media Hotel Jakarta, Kamis (2/6). Hadir beberapa tokoh penting dalam halaqoh ini diantaranya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Wakil Ketua Umum PBNU KH M Maksoem Mahfoedz, Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi, Ketua PP Lakpesdam PBNU H Rumadi, Sekretaris Lakpesdam PBNU H Marzuki Wahid, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag H Mohsen, A’wan PBNU Hj Sri Mulyati, dan beberapa pimpinan Ma’had Aly.

Ketua Lakpsedam PBNU H Rumadi mengatakan bahwa lembaga yang dipimpinnya dipercaya oleh Kemenag karena selama ini Lakpesdam juga concern dengan kajian-kajian kepesantrenan bagaimana ikut berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pesantren di mana Ma’had Aly berada.

“Lakpesdam tidak bermaksud menyediakan kurikulum, tetapi hanya menyediakan kerangka sesuai sumber daya yang ada, meliputi manusia, literatur, dan lain-lain,” ujar Rumadi kepada Asli Muhammadiyah.

Dijelaskannya, Lakpesdam juga tidak bermaksud mengintervensi kurikulum, tetapi berupaya merekomendasikan beberapa literatur kitab yang perlu dikaji dan serta beberapa kelimuan lain sehingga wawasan keilmuan agama menemukan konteksnya dalam kehidupan sosial.

Asli Muhammadiyah

Secara khusus, Rumadi menyampaikan bahwa posisi Ma’had Aly merupakan perguruan tinggi berbasis pesantren yang sangat dibutuhkan di era global sekarang ini. Sehingga para lulusannya diharapkan menjadi rujukan keilmuan agama bagi semua elemen masyarakat.?

Seperti yang telah diinformasikan, legalitas Ma’had Aly telah resmi diakui negara melalui Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 71 Tahun 2015. Untuk tahun pertama, pemerintah telah memberikan SK perizinan 13 Ma’had Aly dari seluruh Indonesia yang telah diteken di Jombang Jawa Timur, Ahad (29/5) lalu di Pesantren Tebuireng. Adapun lulusan Ma’had Aly bergelar Sarjana Agama (S.Ag) seperti yang telah dijelaskan dalam PMA tersebut. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah Sejarah, Kajian Sunnah, Daerah Asli Muhammadiyah

Jumat, 24 November 2017

Gus Dur Jadi Mata Kuliah Pascasarjana STAINU Jakarta

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta membuat sebuah terobosan kurikulum dengan memasukkan pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai mata kuliah di Pascasarjana Program Magister Konsentrasi Islam Nusantara.

Gus Dur Jadi Mata Kuliah Pascasarjana STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Jadi Mata Kuliah Pascasarjana STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Jadi Mata Kuliah Pascasarjana STAINU Jakarta

“Bukan mata kuliah penunjang atau mata kuliah pilihan, tetapi mata kuliah utama, mata kuliah wajib, di bidang kajian ‘NU, Islam, dan Indonesia’,” kata Wakil Sekretaris Pascasarjana Program Magister STAINU Jakarta Muhammad Idris Mas’udi di Jakarta, Rabu (27/11).

Idris menjelaskan, mata kuliah pemikiran Gus Dur diperlakukan selayaknya mata kuliah lain yang menerapkan sejumlah peraturan akademik, seperti tingkat kehadiran mahasiswa, penugasan, dan ujian. Pembelajaran materi tersebut sudah berlangsung enam kali pertemuan untuk mahasiswa semester awal sejak dibuka program pascasarjana tahun ini.

Asli Muhammadiyah

Untuk semester ini, sambung Idris, mata kuliah pemikiran Gus Dur diikuti 25 mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari Kementerian Agama. Gelombang kedua akan dimulai Januari untuk mahasiswa reguler dengan jumlah sekitar 60 orang.

“Kami bekerja sama dengan The Wahid Institute yang kebetulan sudah memiliki kelas pemikiran Gus Dur. Pihak The Wahid Institute meyediakan pengajar di setiap perkuliahan,” ujarnya.

Asli Muhammadiyah

Silabus mata kuliah, di antaranya, berisi penelitian atas Gus Dur soal pribumisasi Islam, etika sosial Islam, hubungan Islam dan negara, Islam dan modernisasi, fundamentalisme Islam, pemikiran demokrasi, pemikiran kebudayaan, pemikiran pesantren, dan pemikiran ke-NU-an.?

“Ini sebuah prestasi bagi STAINU Jakarta. Saya kira di Indonesia mata kuliah pemikiran Gus Dur belum ada dan ini satu-satunya,” tutur Syaiful Arif, dosen mata kuliah ini.

Menurut Arif, Gus Dur memiliki kekhasan pemikiran yang dapat dibedakan dengan intelektual lain, khususnya dalam kajian Islam Nusantara. “Beliau menawarkan mekanisme Islamisasi yang mengacu pada gagasan populernya, yakni pribumisasi Islam,” paparnya.

Gus Dur, kata Arif, tak hanya mengabarkan bahwa proses pribumisasi sebagai fakta historis yang dipraktikkan Wali Songo berabad-abad lalu, tapi juga menjadi jalan terbaik saat orang ingin mengonversi Islam kepada budaya-budaya mapan di Nusantara.

"Jadi jika ingin membaca Islam Nusantara maka metodologinya ya pribumisasi Islam," tuturnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Lomba, Halaqoh, Kajian Asli Muhammadiyah

Rabu, 30 Agustus 2017

Mengaji Kitab Kuning, Mempertahankan Eksistensi Pesantren

Kediri, Asli Muhammadiyah. Kitab kuning identik dengan pesantren. Di Indonesia, kitab kuning digunakan sebagai buku wajib di pondok yang juga disebut kitab salaf, yang artinya klasik atau kuno.

Mengaji kitab kuning sudah menjadi aktivitas sehari-hari yang dilakukan para santri. Bukan hanya di bulan-bulan biasa, juga di bulan Ramadhan seperti saat ini. Libur panjang yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam aktivitas, dimanfaatkan untuk "ngaji kilatan". Disebut ngaji kilatan, kerena kegiatan ini berlangsung hanya Ramadhan, dan pengkajian kitab pun dikebut.

Mengaji Kitab Kuning, Mempertahankan Eksistensi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengaji Kitab Kuning, Mempertahankan Eksistensi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengaji Kitab Kuning, Mempertahankan Eksistensi Pesantren

Sampai saat ini memang belum ada kajian khusus tentang asal kitab kuning. Kitab yang identik dengan kitab gundul (karena memang tidak ada harakatnya) ini sudah ada sejak dulu. Dan, di Indonesia, kitab ini menjadi acuan dalam kegiatan pengajian di pondok-pondok salaf.

Asli Muhammadiyah

Kitab kuning tidak dapat dipelajari dalam waktu instan. Karena kitab ini tidak ada harakatnya, membuat pendalaman kitab berlangsung dalam rentang yang cukup lama, sampai bertahun-tahun.

Para santri harus memahami isi kitab kuning, dengan belajar Tata Bahasa Arab, seperti Ilmu Nahwu, Ilmu Shorrof, sampai Ilmu Mantiq, dan sejumlah cabang ilmu lainnya. Ilmu itu masih dasar, dan harus didalami dengan mengikuti kajian kitab yang dipimpin oleh pengasuh ataupun santri senior lainnya.

Asli Muhammadiyah

Metode pengajian di pondok biasanya berlangsung dengan cara tatap muka. Pengasuh ataupun santri senior membacakan naskah bahasa arab lengkap dengan artinya sesuai dengan bahasa di pondok itu berada.

Para santri lalu memanfaatkan alat tulis dengan ujung pena kecil menuliskan makna yang telah diajarkan oleh pengasuh ataupun santri senior yang membacakan kitab saat itu. Dulu, para santri memanfaatkan alat tulis dengan mata pena yang dicelupkan pada tinta China yang diberi pelepah daun pisang agar meresap, tapi karena dianggap sudah tidak efisien, akhirnya para santri memilih memanfaatkan bolpoin dengan mata pena lebih kecil, yang biasanya banyak dimanfaatkan oleh para arsitektur.

Di Kediri, terdapat sebuah pondok pesantren yang pengasuhnya menggunakan metode baru untuk mempelajari kitab. Adalah di Pondok Pesantren dan Madrasah Spesial Fiqih "Hidayatut Thullab" di Dusun Petuk, Desa Pohrubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Pondok ini didirikan oleh KH Ahmad Yasin Asymuni. Beliau memberikan gagasan untuk memberikan makna bahasa Jawa dari kitab-kitab yang dipelajari para santri. Tujuannya, tak lain untuk memudahkan para santri memahami kitab dan mempercepat proses belajar.

KH Ahmad Yasin Asymuni merupakan salah satu pengasuh pondok pesantren yang cukup aktif menghasilkan karya. Selain sebagai salah seorang pencetus dan yang memprakarsai penerbitan kitab dengan makna Bahasa Jawa tersebut, beliau juga cukup produktif.

Sejumlah penghargaan diberikan kepadanya. Atas usahanya memprakarsai penerbitan kitab dengan makna Bahasa Jawa, pada 2004 beliau didatangi oleh para orientalis dari Chicago, AS dan memberinya gelar sebagai profesor. Ia juga mendapatkan penghargaan dari Kementerian Agama atas jasanya dalam bidang keilmuan/akademik sebagai penulis produktif dalam kajian kitab di pesantren pada 2 Januari 2011 lalu.

Kitab bermakna di pondok ini populer dengan sebutan "Kitab Bimana Pethuk". Seluruh penanganan kitab ini seperti pencetakan dan pendistribusian dikelola oleh koperasi pondok dan didistribusikan ke seluruh pesantren di Indonesia.

Bukan hanya itu, beberapa di antaranya juga didistribusikan ke luar negeri, seperti ke Malaysia, Mesir, dan sejumlah negara lainnnya. Sejak 1993 sampai sekarang, ada 188 kitab yang dipublikasikan. Mayoritas kitab-kitab ini dilengkapi dengan makna berbahasa Jawa.

Pengasuh memimpin sendiri pemaknaan kitab kuning itu. Ia dibantu oleh santri yang tulisannya bagus dan bertugas mencatat semua uraiannya di samping naskah utama. Catatan pinggir itu kemudian diselaraskan lagi dengan isi kitab, agar tidak terjadi kesalahan pemaknaan.

Pengasuh berharap dengan pemaknaan itu, akan memudahkan para santri untuk belajar. Dengan kitab yang sudah diberi makna, para santri bisa lebih cepat belajar dan bisa segera mempelajari kitab lainnya, sehingga ilmu yang didapat juga lebih banyak.

"Mayoritas pengasuh sendiri yang memberikan makna, tapi masih dibantu dengan santrinya," kata Fuad Hasyim, pengurus di pondok itu.

Sebenarnya, upaya pemaknaan kitab kuning di pondok tersebut telah dimulai sejak pertengahan 1990. Saat ini, sudah terdapat 188 kitab yang dihasilkan oleh pengasuh dan mayoritas dilengkapi dengan makna Bahasa Jawa. Seluruh kitab itu dicetak dan didistribusikan ke seluruh pesantren di Indonesia lewat koperasi pondok.

Satu kitab, rata-rata dicetak sampai 25 ribu eksemplar. Tiap tahun rata-rata pengasuh membuat 10 judul kitab baru. Khusus untuk Ramadhan, permintaan kitab yang terbanyak adalah "nukilan". Kitab ini dibuat oleh pengasuh sendiri, yang diambil dari berbagai macam kitab ditulis ulang oleh beliau.

Sementara itu, para santri di pondok ini bukan hanya berasal dari wilayah Kediri saja. Banyak para santri berasal dari luar Jawa Timur, seperti dari Sumatera, Kalimantan, dan sejumlah daerah lain di Indonesia.

Kurikulum di pondok ini juga berbeda dengan kurikulum di pesantren pada umumnya, yaitu lebih singkat dan padat. Khusus di tingkat aliyah yang lebih konsetrasi pada ilmu fikih atau "takhassush fiqh".

Di pondok ini, selain bisa mempelajari ilmu agama secara mendalam dan matang dengan kuriklum tinggi, para santri juga bisa mendapatkan ijazah formal (SMP/SMA) melalui wajar Dikdas sembilan tahun dan kejar paket. Ijazah di pondok ini juga bisa dimanfaatkan untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi agama di seluruh Indonesia.

Belajar Mandiri

Para santri di pondok ini selain belajar agama juga diberi keterampilan sebagai bekal mereka di masa depan. Beragam program diberikan sebagai upaya belajar mandiri, misalnya untuk santri putri diberi keterampilan menjahit, sedangkan santri putra diberi keterampilan belajar elektronik, otomotif, pertanian, maupun peternakan.

Pengurus pondok Fuad Hasyim mengatakan untuk program peternakan, ada sekitar tiga kolam yang sudah dimiliki. Satu di antara kolam itu ukurannya cukup besar mampu menampung ikan sampai 30 ribu ekor.

"Kolammnya diisi ikan manggasius dan sudah panen kemarin. Saat ini belum diisi kembali," tuturnya.

Ia mengatakan, para santri memang dilibatkan untuk mengurus beberapa unit usaha dari pondok, tapi tidak semua santri. Hal itu dilakukan, agar para santri konsentrasi belajar.

Selain mandiri dengan diberi bekal keterampilan, para santri juga dilatih mandiri menjadi seorang pendakwah. Pondok memberikan program istigasah dan dialog interaktif. Pengasuh pondok, KH Ahmad Yasin Asymuni menjadi tokoh sentral istighotsah dan dialog interaktif Hidayatut Thullah (IDI-HIT).

Abidin, pengurus pondok lainnya mengatakan terdapat kegiatan dakwah yang dilakukan di dalam pesantren dilakukan setiap dua pekan sekali, lalu kegiatan IDI-HIT setiap satu bulan sekali, merupakan kegiatan di luar pondok dilakukan berpindah-pindah, serta istigasah Hidayatut Thullab (IS-HIT) yang merupakan lokasi silaturahmi alumni pondok.

"Pengasuh merupakan tokoh sentral kegiatan itu, tapi biasanya santri yang diserahi tanggung jawab," tukasnya.

Ia merasa dengan program itu, ilmu yang selama ini dipelajari di pondok lebih mengena. Selama ini, mereka belajar, diskusi tentang ilmu mereka, tapi hanya di lingkungan pondok. Dengan terjun ke masyarakat langsung, ilmu mereka menjadi lebih bermanfaat.

Di pondok ini memang terkenal dengan salaf. Namun, saat ini pondok sudah mulai membuka pondok khusus anak untuk putra dan putri tepatnya pada 2010 lalu dengan program pendidikan SD-plus, yaitu sekolah dasar plus diniyah dengan kegiatan ekstra seperti belajar membaca kitab suci Al Quran dan mengaji.

Para santri di pondok anak juga berasal dari berbagai macam deerah di Jatim. Ada sekitar 50 santri anak yang sudah tinggal di tempat itu, dan mereka dibimbing oleh sekitar sembilan ustaz yang juga santri di pondok. 

Walaupun membuka untuk program pendidikan SD-plus, Abidin meyakinkan eksistensi pondok pesantren akan tetap terjaga. Bukan hanya mempertahankan kitab kuning sebagai buku wajib di pondok, juga mengajarkan ilmu agama, memperbaiki akhlak, serta mengajarkan tata cara beribadah yang sesuai tuntunan agama.

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber  : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pendidikan, Ulama Asli Muhammadiyah

Jumat, 29 Desember 2017

Capaian Diklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Tenaga Teknis Keagamaan 2016

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Pada tahun 2016, kegiatan Diklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Tenaga Teknis Keagaamaan berhasil melaksanakan kegiatan prioritas RKP dengan capaian 95,12%. 

Capaian Diklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Tenaga Teknis Keagamaan 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Capaian Diklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Tenaga Teknis Keagamaan 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Capaian Diklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Tenaga Teknis Keagamaan 2016

Diklat tersebut terdiri dari Diklat Pembentukan Calon Penghulu (2.099 orang), Diklat Teknis Substantif Penugasan Tambahan Kepala Madrasah (837 orang), Diklat Teknis Fungsional Pembentukan Jabatan Fungsional Calon Pengawas (1.069 orang) dan Diklat Prajabatan (15.310 orang).

Di samping capaian RKP-N tersebut, Kegiatan Diklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Diklat Tenaga Teknis Keagamaan tahun 2016 juga mempunyai capaian target yang dikategorisasi menjadi alumni diklat, pengembangan sistem, dan layanan kediklatan. 

Secara umum capaian Diklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Diklat Tenaga Teknis Keagamaan pada tahun 2016 ini sangat baik (98,85%). 

Asli Muhammadiyah

Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan ditargetkan jumlah alumni diklat tenaga teknis pendidikan dan keagamaan sebanyak 43.629 orang dalam tahun 2016 ini tercapai 97,46% (42.592 orang), yang terdistribusi  pada:

Diklat Tenaga Teknis Pendidikan dengan target sebanyak 38.559 orang tercapai 96,95%, yaitu: Pertama, Diklat Fungsional Pendidikan (3.506 orang) meliputi; Pembentukan Jabatan Fungsional sebanyak 1.080 orang dan tercapai 1.099 orang atau 101, 7%, dan Peningkatan Kompetensi Jabatan Fungsional Berjenjang sebanyak 2.440 orang dan tercapai 2. 407 orang atau 98, 60%. 

Kedua, Diklat Teknis Substantif Pendidikan (34.101 orang) meliputi; Teknis Substantif Tenaga Pendidik sebanyak 13. 230 orang dan tercapai 13. 085 atau 98, 90%, Teknis Substantif Tenaga Kependdidikan sebanyak 5. 575 orang dan tercapai 5. 471 orang atau 98, 13%, dan Diklat Prajabatan sebanyak 16. 234 orang tercapai 15. 545 orang atau 95, 76 %. 

Untuk Diklat Tenaga Teknis Keagamaan sebanyak 5.133 orang tercapai 97,32% (34.101 orang), yaitu Diklat Fungsional Keagamaan (2.836 orang), meliputi; Pembentukan Jabatan Fungsional Pengawas sebanyak 2. 309 orang tercapai 2. 193 orang atau 94, 98%, dan Peningkatan Kompetensi Jabatan Fungsional 654 orang dan tercapai 643 orang atau 98, 32% 

Asli Muhammadiyah

Pada Diklat Teknis Substantif Keagamaan (2.155 orang) atau 99, 31 orang, meliputi; Teknis Substantif Keagamaan Kepenghuluan sebanyak 170 orang tercapai 169 orang atau 99, 41%, Teknis Substantif Keagmaan Kepenyuluhan sebanyak 170 orang  tercapai 170 orang atau 100%, dan Teknis Substantif Keagamaan Lainnya sebanyak 1. 830 orang dan tercapai 1.816 orang atau 99, 23 %. 

Sedangkan jumlah dokumen pengembangan diklat tenaga teknis pendidikan dan keagamaan ditargetkan sebanyak 453 dokumen tercapai 451 dokumen atau 99,55% meliputi; Pengembangan Diklat Tenaga Teknis Pendidikan sebanyak 375 dokumen dan tercapai 375 dokumen atau 100%, Pengembangan Diklat Tenaga Teknis Keagamaan sebanyak 78 dokumen dan  tercapai 76 dokumen atau 97, 43%.

Sementara Layanan Kediklatan 49 dokumen tercapai 49 dokumen atau 100%, meliputi; Layanan Kediklatan Tenaga Teknis Pendidikan sebanyak 36 dokumen tercapai 36 dokumen atau 100%, dan Layanan Kediklatan Tenaga Teknis Keagamaan sebanyak 13 dokumen tercapai 13 dokumen atau 100%. 

Secara umum, target Program Penelitian Pengembangan dan Pendidikan Pelatihan Kementerian Agama Tahun 2016 dapat dicapai dengan baik, bahkan dalam kegiatan tertentu dapat melampaui target yang telah ditetapkan.

Namun, disadari masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan sehingga beberapa kegiatan belum sepenuhnya mencapai target yang telah ditetapkan. Hal ini menjadi catatan bagi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, untuk dapat menyiapkan langkah-langkah penyempurnaan sistem kerja dalam rangka peningkatan kualitas perencanaan dan pelaksanaan program dan anggaran di tahun anggaran 2017. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)





Baca Kajian Keagamaan lainnya DI SINI



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kajian Sunnah, Kajian Islam Asli Muhammadiyah

Senin, 19 Mei 2008

Bumikan Islam Ramah, NU Kepri Siarkan Aswaja di Batam TV

Batam, Asli Muhammadiyah . Selama Ramadhan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Kepulauan Riau (Kepri) melalui Lembaga Dakwah NU (LDNU) menyiarkan kajian Ahllussunah wal Jamaah (Aswaja) menjelang buka puasa di Batam TV.  Tayangan disajikan secara berkala dengan topik dan narasumber yang berbeda.

Bumikan Islam Ramah, NU Kepri Siarkan Aswaja di Batam TV (Sumber Gambar : Nu Online)
Bumikan Islam Ramah, NU Kepri Siarkan Aswaja di Batam TV (Sumber Gambar : Nu Online)

Bumikan Islam Ramah, NU Kepri Siarkan Aswaja di Batam TV

Kajian Aswaja ini merupakan salah satu program Ramadhan PWNU Kepri, kata sekretaris PWNU Kepri, HM Zainuddin kepada Asli Muhammadiyah, Jumat (26/6).

Zainuddin menjelaskan, kegiatan tersebut sebagai upaya untuk membentengi radikalisme dan lebih membumikan nilai Aswaja an-Nahdliyah. Tema kajian yang disampaikan tentang Islam, nasionalisme, budaya, hakikat bidah, konsep tawazun, ziarah kubur, konsep tawassul, Islam rahmatan lilalamin dengan nara sumber para kiai dan dai muda.

Asli Muhammadiyah

Para narasumber yang dimaksud antara lain KH Nabhan (Rais Syuriah PWNU Kepri), H Ghani Lasya (Ketua Tanfidziyah PWNU Kepri), H Luqman Rifa’i (LDNU Kepri), H Ridho Amir (PCNU Batam), dan Nur Haryanto (Ketua GP Ansor Kepri).

Salah satu nara sumber, Ridho Amir, menegaskan pentingnya membentengi Kepri khususnya Batam dari pemahaman radikal yang mengancam budaya Islam tanah Melayu yang secara kultural menganut pemahaman Aswaja an-Nahdliyah. Ia berharap program tersebut dapat memberikan pemahaman Islam yang ramah, moderat, dan toleran di tanah Kepulauan Riau. (Abd Majid/Mahbib)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Budaya Asli Muhammadiyah

Senin, 11 Desember 2006

Lakukan Penyegaran, Aswaja NU Center Jatim Kuatkan Kelembagaan

Surabaya, Asli Muhammadiyah. Kepengurusan Aswaja Center PWNU Jatim menyelenggarakan rapat bersama sekaligus melakukan evaluasi terhadap program yang selama ini dilaksanakan. Sejumlah nama dan program baru diluncurkan sebagai jawaban atas tantangan yang kian kompleks.

"Kita ingin melakukan penguatan Ahlus Sunnah wal Jamaah sesuai yang digariskan Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari," kata KH Abdurrahman Navis, Sabtu (3/9). Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Islam Aswaja adalah tidak melakukan tatharruf tasyaddudi yakni yang terlalu keras atau ekstrem seperti kalangan fundamentalis.

Lakukan Penyegaran, Aswaja NU Center Jatim Kuatkan Kelembagaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakukan Penyegaran, Aswaja NU Center Jatim Kuatkan Kelembagaan (Sumber Gambar : Nu Online)


Lakukan Penyegaran, Aswaja NU Center Jatim Kuatkan Kelembagaan

"Demikian juga Aswaja bukanlah kelompok yang tatharruf tasahhuli atau kalangan yang cenderung memudahkan syariat seperti kalangan liberal," ungkapnya. Dan tentu Aswaja juga bukan kelompok Syiah dan sejenisnya, lanjut dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Asli Muhammadiyah

Menurut Wakil Ketua PWNU Jatim tersebut, inilah yang kemudian dikenal sebagai fikrah nahdliyah yakni kerangka berpikir yang didasarkan pada ajaran Aswaja yang dijadikan landasan berpikir NU untuk menentukan arah perjuangan.

Secara lebih rinci, Pengasuh Pesantren Nurul Huda Surabaya ini mengemukakan bahwa dalam merespon persoalan, baik yang berkenaan dengan masalah keagamaan maupun kemasyarakatan, NU memiliki manhaj Aswaja dengan ciri khas. "Dalam bidang aqidah atau teologi, mengikuti manhaj dan pemikiran Abu Hasan Al-Asyari dan Abu Mansur Al-Maturidi," jelasnya.

Asli Muhammadiyah

Sedangkan dalam bidang fiqih bermazhab kepada salah satu Al-Madzahibil Arbaah yakni Imam Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali. "Dan untuk bidang tasawuf, mengikuti Imam Al-Junaid Al-Baghdadi dan Abu Hamid Al-Ghazali," katanya di aula PWNU Jatim.

Untuk dapat menjabarkan fikrah nahdliyah tersebut, PW Aswaja NU Center telah membentuk sejumlah divisi. Pertama adalah uswah atau usaha sosialisasi Aswaja yang merupakan usaha menyosialisasikan dan menyebarkan paham Aswaja NU lewat media cetak, elektronik, pengajian, lailatul ijtima, khatbah Jumat, dan sebagainya.

"Demikian juga ada biswah yakni bimbingan dan solusi Ahlussunnah wal Jamaah," katanya. Divisi ini menfasilitasi pengurus Syuriyah NU secara berkala untuk membimbing dan memberikan solusi kepada masyarakat tentang paham Aswaja, baik secara langsung, melalui telpon ataupun media lain, jelasnya.

Yang ketiga adalah divisi dakwah yakni daurah kader Ahlussunnah wal Jamaah yang mengadakan pelatihan kader Aswaja secara berkala untuk mencetak kader loyal.

"Selanjutnya adalah kiswah atau kajian Islam Ahlussunnah wal Jamaah," ungkapnya. Dalam praktiknya, divisi ini melakukan kajian Islam Aswaja ditinjau dari berbagai disiplin ilmu dalam bentuk halaqah, seminar atau forum ilmiah lain dengan menghadirkan nara sumber dari berbagai ahli, terangnya.

Dan yang terakhir adalah makwah, yakni maktabah Ahlussunnah wal Jamaah dengan membuka perpustakaan di kantor PWNU untuk menyediakan kitab dan buku bacaan tentang Aswaja.

Kelima divisi ini telah dilakukan penyegaran personil. "Ini demi kian meningkatkan khidmah kita dalam memasyaratkan Aswaja," tandas Kiai Navis.

Sejumlah darah baru hadir pada koordinasi ini. Ada perwakilan dari UIN Sunan Ampel, Unesa, Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Unair, ITS serta kampus lain. "Diharapkan kehadiran para aktivis kampus ini akan kian menyebarkan Aswaja An-Nahdliyah di seluruh lapisan masyarakat," pintanya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70957/lakukan-penyegaran-aswaja-nu-center-jatim-kuatkan-kelembagaan

Asli Muhammadiyah

Senin, 20 November 2017

Pesantren Al-Muayyad Windan Bedah Materi Muktamar NU

Sukoharjo, Asli Muhammadiyah. Puluhan santri Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan Makamhaji Sukoharjo mengikuti kegiatan kelas “Bedah Materi Muktamar NU ke-33”. Acara yang dipusatkan di aula pondok setempat ini dilaksanakan selama dua hari (16-17/8).

Pesantren Al-Muayyad Windan Bedah Materi Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Muayyad Windan Bedah Materi Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Muayyad Windan Bedah Materi Muktamar NU

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan, KH M Dian Nafi’, selama dua hari tersebut para peserta yang juga ada dari luar Windan, akan mengkaji berbagai hasil materi yang telah dibahas pada Muktamar NU di Jombang, belum lama ini.

“Secara umum, materi muktamar yang didiskusikan meliputi kajian dari empat komisi pada Muktamar NU,” terang Wakil Syuriyah PWNU Jateng itu.

Asli Muhammadiyah

Empat komisi tersebut antara lain Komisi Bahtsul Masail Waqiiyah (kajian masalah kontemporer), Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah (masalah tematik), Komisi Bahtsul Masail Qanuniyah (masalah perundang-undangan), dan Komisi Program.

Asli Muhammadiyah

“Pengkajian ini diharapkan menjadi bekal penting bagi para santri untuk terjun di masyarakat dan saat mereka menjadi pemimpin kelak,” imbuh Gus Dian.

Koordinator pelaksana acara ini, Ahmad Asrof Fitri menambahkan pihaknya mendatangkan beberapa narasumber yang kompeten.

“Selain Kiai Dian, juga ada narasumber lain untuk membahas pelbagai persoalan seperti Hukum BPJS, Ketenagakerjaan, hukum mati, pasar bebas dan lain sebagainya,” ujar dia. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ahlussunnah, AlaSantri Asli Muhammadiyah

Jumat, 07 September 2012

LPBI NU Distribusikan Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir di Kuningan

Jakarta, Asli Muhammadiyah - Relawan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) bersama Banser dan warga di Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan sepanjang hari membersihkan rumah dari endapan lumpur berbaur sampah sisa banjir, Rabu (25/1). LPBI NU juga memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak banjir berupa paket Cleaning Kits dan Family Kits untuk kurang lebih 500 warga.

Pemberian bantuan ini didasarkan pada assessment yang dilakukan oleh Tim Tanggap Darurat PP LPBI NU selama di lokasi bencana.

LPBI NU Distribusikan Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir di Kuningan (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU Distribusikan Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir di Kuningan (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU Distribusikan Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir di Kuningan

Menurut Tim Tanggap Darurat PP LPBI NU Asbit Panatagara, berdasarkan informasi dari masyarakat, kejadian banjir bandang di daerah Cibingbin disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi dan salah satu saluran air berupa transporter mengalami kerusakan. Untuk itu, pihaknya meminta masyarakat tetap waspada. Walaupun berdasarkan perkiraan cuaca, intensitas hujan hari ini ringan.

Asli Muhammadiyah

Ketua PP LPBI NU Muhamad Ali Yusuf mengajak semua pihak terutama pemerintah, masyarakat, dan lembaga usaha di Kuningan khususnya di daerah terdampak banjir untuk melakukan kajian risiko bencana agar didapatkan gambaran menyeluruh dan terukur tentang ancaman, dampak, risiko, dan juga kapasitas yang dimiliki oleh para pihak di daerah tersebut.

Hasil kajian risiko bencana itu nantinya dapat dijadikan acuan semua pihak dalam melakukan upaya pengurangan risiko bencana dan mengintegrasikannya dalam perencanaan pembangunan di daerah tersebut.

Asli Muhammadiyah

Dengan begitu, Ali Yusuf berharap ke depan rencana dan tindakan konkret untuk penanggulangan bencana banjir dapat segera dirumuskan agar kejadian yang sangat merugikan itu tidak terulang lagi di masa mendatang.

Sebanyak tujuh desa di Kecamatan Cibingbin Kabupaten Kuningan terendam banjir akibat luapan Sungai Jangkelok, Desa Cibingbin. Tujuh desa itu adalah Sindang Jawa, Cipondok, Sukaharja, Cibingbin, Citenjo, Ciangir, dan Dukuhbadag.

“Banjir ini disebabkan luapan air Sungai Jangkelok. Air sungai mulai meluap ke pemukiman warga sejak pukul 16.30 WIB," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan Agus Mauludin, Ahad (22/1).

Banjir arus sungai berbaur lumpur dan sampah juga sempat menggenangi sejumlah kantor desa, sekolah, masjid, mushalla, serta fasilitas umum dan sosial lainnya. Bahkan kantor kecamatan dan markas Koramil Cibingbin di Desa Sukaharja juga turut terkena banjir tersebut, dengan kedalaman bervariasi, mulai semata kaki hingga lebih dari satu meter. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kyai Asli Muhammadiyah

Selasa, 24 Oktober 2017

Kiai Umar Bawa Kewibawaan Al-Quran

Nama Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Solo tak dapat dipisahkan dari nama salah satu dari tiga pendirinya, Kiai Haji Abdul Mannan. Di bawah kepemimpinannya, Al-Muayyad menjadi tujuan masyarakat sekitar, khususnya bagi yang hendak memperdalam ilmu tasawuf. 

Setelah estafet kepemimpinan pesantren berganti kepada Kiai Ahmad Umar bin Kiai Abdul Mannan, Al-Muayyad juga mengembang kajian-kajian Islam yang lebih luas. Kiai Umar memimpin pesantren di usia yang sangat muda, yakni 21 tahun. Ia Kiai yang lahir pada 5 Agustus 1916, mengasuh pesantren peninggalan ayahnya setelah nyantrik di sejumlah pesantren: Krapyak Yogya, Termas Pacitan, dan Mojosari Nganjuk. 

Kiai Umar Bawa Kewibawaan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Umar Bawa Kewibawaan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Umar Bawa Kewibawaan Al-Quran

Pada tahun 1939, pengajian Al-Quran dan kitab kuning makin teratur, sehingga kemudian dipandang perlu untuk mendirikan Madrasah Diniyyah. Namun, sekalipun beberapa madrasah dan sekolah kemudian juga didirikan, Al-Muayyad lebih dikenal sebagai Pondok Al-Quran.

"Wibawa" kiai Umar tidak lepas dari silsilah keilmuannya, di bidang Al-Quran,  yang bersambung kepada Kiai Haji Raden Moehammad Moenawwir, pendiri Pesantren Krapyak Yogyakarta. Oleh sebab itulah, "merk" Al-Quran juga melekat kuat pada Pesantren Mangkuyudan, sebutan lain Al-Muayyad. Kiai Umar menjadi rujukan utama bagi santri-santri yang ingin mengaji Al-Quran, baik bin nazdor ataupun bil ghoib. Kepada Kiai Umar, santri-santri di pelbagai penjuru untuk menyambungkan sanad dan ngalap berkah Kiai Moenawwir Krapyak.

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah

Meski demikian, tidak semua santri mendapatkan ijazah atau sanad langsung dari Kiai Umar. Sebab, Kiai Umar terbilang sangat berhati-hati. Meski murid tahfizhul Quran-nya ribuan, namun tidak banyak santri diketahui telah mendapatkan ijazah sanad Al-Quran. Hal ini disebabkan persyaratan ketat yang ditetapkan sang kiai yang meliputi akhlak, ketekunan dalam beribadah serta kesungguhan dalam mengaji.

Sejalan dengan meluasnya agenda pendidikan, para kiai yang mendukung juga bertambah. Kiai Umar dibantu para kiai, antar lain KH Abdullah Thohari, Kiai Ahmad Muqri, Kiai Idris, Kiai Danuri, Kiai Sono Sunaro, KHRNg. M. Asfari Prodjopudjihardjo (Mbah Bei), KHM. Shodri, KH. Moh. Yasin, KHR. Moh Jundi, KHM. Suyuthi, KH Abdul Ghoni Ahmad Sadjadi, KH Mochtar Rosyidi, Kiai M. Rofi’i, dan KH Ahmad Musthofa yang kemudian mendirikan Pondok Pesantren Al Qur’any di sebelah utara Al-Muayyad.

Ciri khas kepemimpinan Kiai Umar, adalah kuatnya kaderisasi para kerabat, ustadz, dan santri dengan membagi tugas dan tanggung jawab kepesantrenan kepada mereka. Beliaulah yang memprakarsai pembentukan Lembaga Pendidikan Al-Muayyad (yang kemudian menjadi yayasan), penyelenggaraan Pelatihan Teknis Tenaga Kependidikan bagi sekolah dan madrasah Ahlussunnah wal Jama’ah dan Pekan Pembinaan Tugas Ahlussunnah wal jama’ah (PEPTA). 

Di masa beliau pula, Al-Muayyad menjadi anggota Rabithah al Ma’ahid al Islamiyyah (Ikatan Pondok Pesantren) dengan Nomor Anggota: 343/B Tanggal: 21 Dzul Qa’dah 1398 H/23 Oktober 1978 M di bawah pimpinan almarhum KH Achmad Syaikhu. RMI merupakan institusi kepesantrenan di bawah Nahdlatul Ulama.

Pada tahun 1980, dalam usia 63 tahun, Kiai Umar wafat. Tongkat kepemimpinan Al-Muayyad kemudian diserahkan kepada KH Abdul Rozaq Shofawi, keponakan Kiai Umar, yang merupakan putra dari salah satu pendiri Al-Muayyad KH Ahmad Shofawi. Kiai Rozak dibantu kedua adiknya, KH Abdul Mu’id Ahmad dan H. Muhammad Idris Shofawi. Sementara saudari beliau yang lain, Nyai H. Siti Maimunah Baidlowi, mendampingi suaminya mengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin di Brabo, Tanggungharjo, Grobogan. 

Kelak di bawah kepemimpinan Kiai Rozaq, Al-Muayyad tetap melestarikan sistem kepesantrenan yang dirintis para pendahulunya sekaligus membuat pembaharuan dengan menyerasikan pola pendidikan dengan sistem pendidikan nasional.

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Ajie Najmuddin/Al-Muayyad

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ulama Asli Muhammadiyah

Minggu, 25 Desember 2005

UIN Bandung Diskusi Imam Mahdi Menurut Sunni-Syiah

Bandung, Asli Muhammadiyah. Tepat pada hari Nisfu Syaban, Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung bekerja sama dengan Yayasan Muthahhari menyelenggarakan Seminar yang bertajuk Mahdawiyyah Sebagai Persiapan Perdamaian Dunia dalam Khazanah Pemikiran Islam.

Hadir sebagai narasumber, Ayatullah Ansary (Member of Islam Cultural Comitte), Dr. Mazaheri (Chief of Science and Research), Dr. Syafakhah (Directur of The Center for The Study of Islamic and Iran), KH. Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc. (Presiden Directur Yayasan Muthahhari), Dr. Munir, MA. (Ketua Program Studi Filsafat Agama Pascasarjana UIN SGD Bandung).

UIN Bandung Diskusi Imam Mahdi Menurut Sunni-Syiah (Sumber Gambar : Nu Online)
UIN Bandung Diskusi Imam Mahdi Menurut Sunni-Syiah (Sumber Gambar : Nu Online)


UIN Bandung Diskusi Imam Mahdi Menurut Sunni-Syiah

Mengawali diskusi, Ayatullah Ansary mengatakan, hari Nisfu Syaban merupakan hari kelahiran dari Imam Mahdi. Di kitab-kitab samawi menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa masa depan dan akhir zaman. Di akhir zaman nanti, kehidupan di dunia bakal diisi oleh orang-orang baik, saleh, dan senantiasa teguh di jalan Allah.

Mereka bukanlah musuh Allah, bukan pula musuh kemanusiaan, tetapi mengajak kita semua sehingga tidak pernah terputus kepada-Nya, katanya di aula Pascasarjana UIN SGD Bandung, Jumat (13/6) siang.

Asli Muhammadiyah

Pembicara selanjutnya, Dr. Muzaheri mengungkapkan tentang kajian-kajian di agama-agama tentang konsep yang mirip dengan Imam Mahdi, seperti agama Hindu, Budha, Yahudi, Konghucu mempunyai keyakinan tentang konsep kedatangan sang pencerah di akhir zaman.

Misalnya dalam konsep agama Budha, akan datang wujud Budha sebagai manifetasi Budha yang kelima, atau di Konghucu yang meyakini ada ajaran semangat pada masa-masa keemasaan masa lalu lahir saat akhir zaman nanti, tuturnya.

Asli Muhammadiyah

Menurutnya, dalam konsep Islam yang diterangkan oleh hadist menjelaskan bahwa setiap 100 tahun, akan datang sosok yang akan memperbaiki dunia dari kezaliman. Ia beranggapan bahwa keterangan hadist tersebut ada kaitannya dengan kedatangan Imam Mahdi.

Imam Mahdi tidaklah sistem, tapi merupakan sosok yang nanti akan merubah sistem kehidupan dunia, tegasnya dalam bahasa Persia yang sudah translet oleh penerjemah.

Berbeda dengan Dr. Shafakhah, ia memahami konsep Imam Mahdi diyakini oleh tradisi Sunni dan Syiah. Hanya saja Sunni lebih mengarah pada konsep tanda-tanda akhir zaman, sedangkan Syiah condong ke arah konsep Imamiah.

Sedangkan Al-Quran, lanjutnya, terdapat 207 ayat yang menerangkan tentang Imam Mahdi, di antara surat At-Taubah ayat 33 dan surat Al-Qashash ayat 5 tentang karunia Allah kepada orang-orang yang tertindas di bumi dan hendak menjadikan pemimpin yang mewarisi (bumi).

Oleh karena itu, Imam Mahdi tidak hanya milik Syiah, Sunni, Umat Islam, tetapi milik semua manusia di seluruh dunia, imbuhnya dihadapan ratusan peserta dikalangan dosen, mahasiswa hingga masyarakat umum.

Sebagai pembicara pembanding, Dr. Munir, MA., menjelaskan bahwa konsep keyakinan kedatangan Imam Mahdi dalam pandangan Sunni dan Syiah memiliki kesamaan. Hanya saja dalam tradisi Sunni, Imam Mahdi lebih bersifat konseptual.

Karena itu, ketika ada gerakan yang membangkitkan perubahan, maka banyak yang mengklaim dirinya sebagai Imam Mahdi. Karena ketidakjelaskan sosok, bisa jadi menurut saya konsep Mahdi dapat melekat pada sosok tertentu, ujarnya.

Ketua Program Studi Filsafat Agama ini menambahkan perbedaan pendapat dalam topik Imam Mahdi disebabkan di dalam Syiah terdapat konsep Imamiah, khususnya konsep Imam Al-Muntadhor. Maka tidak heran jika karya-karya ulama Syiah tentang Imam Mahdi lebih banyak daripada karya-karya ulama Sunni.

Meskipun nash yang digunakan sama, tetapi minat Syiah lebih tinggi dalam mengkaji Imam Mahdi, tandasnya. (Muhammad Zidni Nafi/Anam)

Gambar: Suasana diskusi (Foto Rijal, suakaonline.com)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/52662/uin-bandung-diskusi-imam-mahdi-menurut-sunni-syiah

Asli Muhammadiyah

Selasa, 16 Mei 2017

RMINU Jateng Isi Rubrik Happy Ramadhan di Harian Lokal

Semarang, Asli Muhammadiyah. Pengurus Wilayah Rabithah Maahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah bekerja sama dengan harian lokal? Tribun Jateng? membuka konsultasi syariah melalui rubrik “Halaqah”. Rubrik ini dikemas dalam format interaksi tanya jawab seputar ibadah Ramadhan yang hadir di halaman "Happy Ramadhan" tiap hari selama bulan puasa 1437 Hijriah.?

Kerja sama ini telah terbangun sejak tahun kemarin. Di bawah koordinasi Departemen Pendidikan, Kajian dan Pelatihan RMINU Jateng, rubrik ini diisi para kiai dari pesantren. KH Fadhlullah Turmudzi, penanggung jawab program ini menjelaskan bahwa upaya ini merupakan bagian perhatian pesantren untuk masyarakat.

RMINU Jateng Isi Rubrik Happy Ramadhan di Harian Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
RMINU Jateng Isi Rubrik Happy Ramadhan di Harian Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

RMINU Jateng Isi Rubrik Happy Ramadhan di Harian Lokal

?

"Walaupun sudah banyak sumber pengetahuan yang mudah kita dapatkan, kita masih butuh bimbingan dari kiai-kiai pesantren," papar Gus Fad sapaan akrab KH. Fadhlullah Turmudzi yang juga pengasuh Pondok Pesanten APIK Kaliwungu Kendal, Selasa (7/7).

Asli Muhammadiyah

?

Selain itu, lanjut Gus Fad, masih banyak peran dan fungsi pesantren terhadap masyarakat. Pesantren sebagai lembaga pendidikan khas Indonesia harus mampu memberikan warna tersendiri terhadap perjalaan bangsa ini. Berbagai fenomena kekerasan seksual, penyalahguanaan narkoba, pembunuhan, dan sebagainya perlu mendapat kajian dari pesantren bagaimana pesantren berperan dan bersikap.

?

Gus Fad juga mengingatkan kepada pesantren-pesantren untuk menguatkan perannya di masyarakat. "Nguri-nguri ngaji posonan harus selalu menjadi tulang punggung santri di berbagai daerah. Semangat untuk tetap mencari ilmu dengan niat tabarrukan harus menjadi nafas para santri" kata dia. (M. Zulfa/Zunus)

Asli Muhammadiyah

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pahlawan, Ulama, Anti Hoax Asli Muhammadiyah

Selasa, 10 Oktober 2017

Pemuda NU Kudu Nahdlah, Jangan Tidur Melulu!

Bogor, Asli Muhammadiyah - Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat menggelar pengajian rutin di Masjid Al Hikmah. Pada rutinan tersebut, pemuda NU mengikuti pengajian kitab Qami Thughyan, Syarah Kitab Syubul Iman dan Washiyyatul Musthofa yang diampu KH Zainil Achyar.

“Sebuah pisau tak akan tajam jika tak sering diasah. Begitu pula dengan ilmu yang tak akan matang jika tak selalu dikaji,” ujar Heru Hermawan Ketua PAC Klapanunggal di sela kegiatan pada (23/3) tersebut.

Pemuda NU Kudu Nahdlah, Jangan Tidur Melulu! (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda NU Kudu Nahdlah, Jangan Tidur Melulu! (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda NU Kudu Nahdlah, Jangan Tidur Melulu!

Menurut dia, dasar dari pergerakan dimulai dari kajian-kajian. Itulah mengapa Majlis Rijalul Ansor diadakan sebagai tempat refleksi untuk mengkaji ilmu-ilmu agama.

Asli Muhammadiyah

Dewan Penasehat GP Ansor Klapanunggal Yayat Ruhiyat memberikan arahan dan masukan agar pengajian tersebut senantiasa berjalan dengan istiqomah.

Sementara KH Zainil Achyar, selepas pengajian berpesan untuk bangga menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena tidak ada ibadah yang lebih indah dan aman selain Indonesia.

Asli Muhammadiyah

“Banggalah jadi NKRI. Tidak ada ibadah yang lebih indah dan aman selain Indonesia,” tegasnya.

Ajengan yang akrab disapa Kang Haji itu mengaku senang NU sekarang aktif di Klapanunggal. Namun, ia menekankan agar pemudanya sesuai dengan nama organisasi induknya, yakni nahdlah, harus bangkit.

"Alus NU kiwari tos berjalan di Klapanunggal, ulah he’es wae. Sesuai atuh jeung ngaran, kudu nahdlah, bangkit komo pemudana. Kudu nahdlah kiwari mah (bagus, NU sekarang sudah berjalan di Klapanunggal. Tapi harus sesuai dengan namanya, nahdlah, harus bangkit, jangan tidur melulu. Harus nahdlah sekarang mah, terutama bagi pemuda),” pesan pengasuh Pondok Pesantren Al-Mubarokah tersebut.

Kegiatan itu diinisiasi PAC GP Ansor dengan MWCNU Klapanunggal di setiap Kamis malam pada minggu ketiga dan keempat setiap bulan. (Ajis Ian/Dhamiry/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kyai, Ahlussunnah, Sholawat Asli Muhammadiyah