Jumat, 10 Februari 2017

Pascasarjana STAINU Jakarta Luncurkan Buku Konsep Islam Nusantara

Jombang, Asli Muhammadiyah. Menegaskan tema besar Muktamar Ke-33 NU di Jombang, Pascasarjana STAINU Jakarta menggelar seminar bertajuk ‘Mengarusutamakan Konsep dan Gerakan Islam Nusantara’ di Aula Yayasan Tambakberas, Jombang, Ahad (2/8).

Seminar ini juga dimaksudkan untuk meluncurkan buku ‘Mengenal Konsep Islam Nusantara’ yang disusun dan diterbitkan oleh Tim Penulis Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta.

Pascasarjana STAINU Jakarta Luncurkan Buku Konsep Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pascasarjana STAINU Jakarta Luncurkan Buku Konsep Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pascasarjana STAINU Jakarta Luncurkan Buku Konsep Islam Nusantara

Seminar ini menghadirkan beberapa narasumber, yaitu Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin, Katib Syuriyah PBNU KH Afifuddin Muhajir, Direktur Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta, Prof Dr M Ishom Yusqi, dan Prof Dr Akh Muzakki, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya dengan dimoderatori oleh Dr Abdul Moqsith Ghazali, Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta.

Asli Muhammadiyah

Dalam sambutannya, Menteri Agama yang juga putra KH Saifuddin Zuhri ini mengapresiasi STAINU Jakarta yang secara serius menyelenggarakan program kajian Islam Nusantara (IN).

"Masyarakat tidak perlu khawatir IN akan memecah belah persatuan umat, karena IN tidak menegasikan kelompok lain," ujar Lukman.

Asli Muhammadiyah

Ia juga menegaskan bahwa Islam Nusantara tidak ingin melakukan de-arabisasi. IN tidak anti manapun, termasuk anti-Arab. IN ingin mengambil yang positif dan menanggalkan yang negatif.

Pembicara dalam seminar ini, Prof Isom Yusqi, menyampaikan bahwa sebagai sebuah kajian, Islam Nusantara sudah memenuhi syarat dan layak diteladani.

"Dalam kajian klasik, kita mengenal ada mabadi asyrah atau sepuluh prinsip dasar. IN sudah mencakup semuanya, mulai dari definisi, ruang lingkup, manfaat, hubungan dengan kajian lain, keistimewaan, perintis, sebutan resmi, sumber, hukum mempelajari, dan pokok masalah kajian," papar Isom.

KH Afifuddin Muhajir, dalam paparannya memberikan definisi praktis terhadap Islam Nusantara. "IN adalah paham dan praktik keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realita dan budaya setempat," kata Kiai dari Situbondo ini.

Wujud penyesuaian budaya

Sementara itu, Prof Akh Muzakki, mengilustrasikan Islam Nusantara seperti fried chicken (ayam goreng) sebagai komoditas beberapa perusahaan Amerika. "Di Amerika dan Eropa, ayam goreng itu dijual begitu saja, tanpa nasi. Beda dengan di Indonesia, nasi disertakan sebagai pendamping," ujar Sekretaris PWNU Jawa Timur ini.

Menurutnya, penyertaan nasi ini merupakan wujud penyesuaian terhadap budaya orang Indonesia. "Kalau belum makan nasi, kita belum merasa makan. Ya seperti itulah Islam menerima budaya kita sebagai pendamping," lanjutnya.

Menyinggung kesalahpahaman sebagian kalangan yang mengira Islam Nusantara hendak melakukan sinkretisasi, Prof Muzakki mengibaratkannya dengan ayam goreng dan nasi pecel atau rawon.

"Meski nasi pecel atau rawon sangat populer di negeri ini, jangan harap fried chicken Amerika menjualnya sebagai pendamping. Karena itu jelas keluar dari khittah atau trademarknya. Demikian juga budaya Nusantara yang dapat merusak esensi Islam tentunya tidak akan digunakan," pungkasnya. (Dawam Multazam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Jadwal Kajian, Daerah, Ulama Asli Muhammadiyah

Menarik

Asli Muhammadiyah disini maksudnya bukan membedakan mana yang asli atau bukan, tetapi kita saling menguatkan bahwa kita sama sama islam dan kita Bersaudara


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa admin situs Asli Muhammadiyah sangat membenci AdBlock karena dengan adanya iklan maka situs Asli Muhammadiyah bisa tetap berjalan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Tulisan
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Asli Muhammadiyah dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock