Nahdlatul


info Nahdlatul
Nahdlatul bahasa
Nahdlatul bahasa nasional
Nahdlatul bahasa indonesia
Nahdlatul belah bambu
Nahdlatul busuk
Nahdlatul berasal dari bahasa yunani yaitu
Nahdlatul belanda
Nahdlatul busuk sby
Nahdlatul berasal dari kata
Nahdlatul global
Nahdlatul gus dur
Nahdlatul golkar
Nahdlatul gender
Nahdlatul gorontalo
Nahdlatul global amerika serikat
habib Nahdlatul mp3
video Nahdlatul full
Nahdlatul gerakan non blok
rahasia Nahdlatul terbaru
Nahdlatul g 30 s pki
Nahdlatul konfrontasi
Nahdlatul kerajaan kutai
Nahdlatul kampus
Nahdlatul kerajaan majapahit
Nahdlatul kotor
Nahdlatul kerajaan tarumanegara
Nahdlatul kompasiana
Nahdlatul luar negeri indonesia
Nahdlatul luar negeri bebas aktif
Nahdlatul luar negeri indonesia adalah
Nahdlatul liberal
Nahdlatul yang membedakan warna kulit disebut
Nahdlatul yang dianut bangsa indonesia
Nahdlatul yang baik
Nahdlatul yahudi
Nahdlatul yang dianut bangsa indonesia adalah
Nahdlatul merupakan
Nahdlatul yaitu

Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Nahdlatul. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Nahdlatul. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juni 2014

Pesantren Nahdlatul Ulum Soreang Peringati Harlah ke-12

Maros, Asli Muhammadiyah. Berbarengan dengan Isra dan Miraj 1435 H, pesantren Nahdlatul Ulum Soreang memperingati harlahnya yang ke-12, Senin (23/6). Bertempat di aula Palaguna pesantren NU Soreang kabupaten Maros, para hadiri mendengarkan taushiyah pengasuh pesantren NU Soreang Anregurutta H Muh Sanusi Baco.

Dalam taushiyahnya di hadapan ratusan hadirin, Rais Syuriyah NU Sulawesi Selatan ini mengatakan, Idul Milad berarti ulangan hari di mana sebelumnya telah dilalui sebuah perjuangan besar.

Pesantren Nahdlatul Ulum Soreang Peringati Harlah ke-12 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nahdlatul Ulum Soreang Peringati Harlah ke-12 (Sumber Gambar : Nu Online)


Pesantren Nahdlatul Ulum Soreang Peringati Harlah ke-12

Gurutta Sanusi berharap kepada semua unsur untuk senantiasa mendoakan dan memberikan dukungan untuk kemajuan pendidikan pesantren NU Maros. Menurutnya, semangat pesantren sejalan dengan peristiwa Isra dan Miraj.

Dalam membangun peradaban, Nabi Muhammad Saw menjadikan keimanan sebagai sumber pendidikan dan perjuangan. Demikian Nahdlatul Ulum yang kini memasuki usianya ke-12. a telah ditempa dengan pengorbanan dan juga dituntut menyongsong tantangan di masa mendatang, tutup Gurutta Sanusi. (Andi M Idris/Alhafiz K)

Asli Muhammadiyah

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/52835/pesantren-nahdlatul-ulum-soreang-peringati-harlah-ke-12

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah

Rabu, 11 Januari 2012

Menimbang Sejarah dan Ajaran Tarekat

Judul buku : Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat dalam Tasawuf

Penulis : K.H. A. Aziz Masyhuri

Cet. I : Juli 2011

Menimbang Sejarah dan Ajaran Tarekat (Sumber Gambar : Nu Online)
Menimbang Sejarah dan Ajaran Tarekat (Sumber Gambar : Nu Online)


Menimbang Sejarah dan Ajaran Tarekat

Tebal : xx+ 338 halaman (termasuk daftar pustaka)

Penerbit : IMTIYAZ Surabaya

Peresensi : Yusuf Suharto

Asli Muhammadiyah

Buku berjudul Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat dalam Tasawuf ini adalah salah satu karya penting Kiai Abdul Aziz Masyhuri dalam kajian tentang tarekat setelah bukunya Permasalahan Thariqah Hasil Kesepakatan Muktamar dan Musyawarah Besar Jamiyyah Ahlith Thariqah Al-Mutabarah Nahdlatul Ulama 1957-2005 diterbitkan pada 2006 lalu. Kiai Aziz terhitung sebagai kiai pesantren yang sangat produktif. Dalam buku berbahasa Indonesia yang ditulisnya terhitung ada 95 judul dari berbagai bidang ilmu. Dalam bahasa Arab, ikhtisarnya terhitung ada 21 judul, buku yang diedit dan disuntingnya ada 15 judul, sedangkan buku terjemahannya terhitung ada 7 judul.

Asli Muhammadiyah

Mengawali buku tentang aliran-aliran tarekat ini dinyatakan oleh Kiai Aziz bahwa Tarekat secara etimologis bermakna antara lain jalan, cara, metode, haluan, tiang teduhan. Sedangkan menurut istilah tasawuf berarti perjalanan seorang salik (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara menyucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan. Dalam kitab Jami al-Ushul fi al-Awliya tarekat bermakna laku tertentu bagi orang-orang yang menempuh jalan kepada Allah, berupa memutus atau meninggalkan tempat-tempat hunian dan naik ke maqom atau tempat-tempat mulia. Menurut al-Jurjany dalam al-Tarifat tarekat adalah metode khusus yang dipakai oleh salik menuju Allah melalui tahapan-tahapan atau maqamat. (hal. 1-2).

Istilah tarekat terkadang kemudian digunakan untuk menyebut suatu pembimbingan pribadi dan perilaku yang dilakukan oleh seorang mursyid kepada muridnya. Pengertian terakhir inilah yang lebih banyak banyak difahami oleh banyak kalangan ketika mendengar kata tarekat (hal. 2).

Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian. Pertama, ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi yang ditandai dengan adanya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah (hal. 2).

Mengutip kitab Maraqi al-Ubudiyah dikatakan bahwa tarekat bermakna melaksanakan kewajiban dan kesunnahan, meninggalkan larangan, menghindari perbuatan mubah yang tidak bermanfaat, sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari syubhat, apalagi dari keharaman, sebagaimana orang yang waraI, dan menjalani riyadlah, misalnya beribadah sunat pada malam hari, berpuasa sunat, dan tidak mengucapkan kata-kata yang tanpa

guna. (dalam buku, Permasalahan Thariqah Hasil Kesepakatan Muktamar dan Musyawarah Besar Jamiyyah Ahlith Thariqah Al-Mutabarah Nahdlatul Ulama 1957-2005, suntingan KH. A. Aziz Masyhuri)

Buku yang ditulis K.H. Abdul Aziz Masyhuri, seorang ulama pesantren yang mantan Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) ini menggunakan pendekatan wacana atas sejarah dan pengalaman bertarekat dari 22 tarekat dunia yang sebagian berkembang di Indonesia.

Sebagai kiai pesantren dan orang yang banyak terlibat dalam kegiatan bahtsul masail Nahdlatul Ulama, tentu saja menjadi dapat dimaklum, bahwa tarekat yang dituliskannya ini hanya mengambarkan tarekat yang diakui kemuktabarannya oleh Nahdlatul Ulama. Kiai yang dijuluki Martin van Brunessen seorang ahli Belanda pengamat NU dan Tarekat, sebagai Kiai Ahli Dokumentasi ini menyebut ada 43 atau 44 tarekat yang diakui Nahdlatul Ulama sebagai tarekat yang muktabar.

Sayang sekali, Kiai Aziz tidak memberikan alasan kenapa memilih 22 aliran tarekat, yang kenyataannya tidak semua dari 22 itu berkembang luas di Indonesia. Ke 22 tarekat yang ditulis dalam bukunya tersebut yaitu Tarekat Alawiyah, Aidrusiyah, Badawiyah, Chistiyah, Dasuqiyah, Ghazaliyah, Haddadiyah, Idrisiyah, Khalwatiyah, Malamathiyah, Maulawiyah, Naqsyabandiyah, Naqsabandiyah Haqqaniyah, Qadiriyah, Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Rifaiyah, Samaniyah, Sanusiyah, Suhrawardiyah, Syadziliyah, Syathariyah, Dan Tijaniyah. Namun barangkali alasan yang mungkin melandasi penulisan 22 tarekat itu adalah karena kepopulerannya atau telah tersebar luas di dunia Islam. Atau juga mungkin, Kiai Aziz masih berkehendak menuliskan jilid satunya, sembari menyiapakan jilid atau edisi lanjutan.

Namun, jika merujuk pada kemuktabaran tarekat sebagaimana ditetapkan dalam Nahdlatul Ulama, semestinya dilihat dari daftar ke 22 tarekat tersebut, jumlah yang pas adalah 21, bukan 22 tarekat. Karena Naqsabandiyah Haqqaniyah termasuk dalam aliran tarekat Naqsabandiyah. Pelabelan Haqqaniyah dalam daftar tarekat muktabar tidak dihitung. Namun maksud dicantumkannya Haqqaniyah dapat kita ketahui setelah Kiai Aziz membahas aliran tarekat ini.

Sebagai orang luar yang sekedar mengamati penulis agak kaget, karena ternyata tarekat Naqsabandiyah Haqqaniyah yang dihitung tersendiri oleh pengasuh al-aziziyah Denanyar ini ternyata dalam buku ini setelah dipuji tentang sejarah hidup pendirinya, yaitu Syaikh Nadhim Haqqani dan muridnya, Syaikh Hisyam Qabbani, kemudian dikritik dengan mengutip pandangan mufti Lebanon sebagai tarekat yang terputus sanadnya dan dinyatakan sesat. Dikatakan oleh Kiai Aziz dalam fasal bukunya di bawah judul Catatan Penting tentang Syaikh Nadzim Haqqani dan Syaikh Hisyam Qabbani Syaikh Nadzim, yang menyebut dirinya dengan al-Haqqani, seorang berkebangsaan Cyprus yang pernah dideportasi dari Lebanon atas perintah Mufti Lebanon pada waktu itu, Syaikh Hasan Khalid, dan dikecam karena kesesatannya oleh mufti Tripoli Lebanon; Thaha ash-Shabunji sebagaimana dikutip oleh majalah al-Afkar, Beirut, edisi 898, November 1999..mata rantai tarekat yang dibawa keduanya berasal dari seseorang yang bernama Abdullah Faiz Ad-Daghistani yang tinggal di Damaskus, padahal mufti Negara Daghisthan Sayyid Ahmad ibn Sulayman Darwisy Hajiyu mengatakan dalam surat yang diterbitkan oleh al-Idarah Ad-Diniyah Li Muslimi Daghisthan, bahwa mata rantai tarekat yang dibawa oleh Abdullah Ad-daghisthani tidaklah bersambung alias maqthu dan tarekat yang ia bawa adalah sesat (172-173).

Dicontohkan oleh Kiai Aziz kesesatan-kesesatan yang dilakukan oleh guru Syaikh Nadzim Haqqani, yaitu Syaikh Abdullah Ad-Daghistani dalam Washiyyah Mursyid az-zaman wa Ghauts al-Anam pada halaman 12, Seandainya seorang kafir membaca surah al-Fatihah walaupun sekali seumur hidup, maka dia tidak akan keluar dari dunia ini kecuali memperoleh sebagian dari inayah (pertolongan) tersebut, karena Allah tidak membedakan orang kafir, fasiq, mumin, ataupun muslim, semuanya sama.

Di samping memaparkan sejarah lengkap, kontroversi-kontroversi beberapa tarekat dalam pandangan Nahdlatul Ulama, buku ini secara memadai juga memaparkan pendefinisian tarekat, kemunculan golongan zuhud, sejarah perkembangan tarekat, ajaran khusus dan umum tarekat, dan berbagai ajaran-ajaran dalam tarekat yang diletakkan dalam bab pertama. Kemudian memaparkan karakteristik tarekat sufi, komposisi tarekat sufi, dan tata cara bertarekat dalam bab kedua. Kemudian menjelaskan pada bab ketiga tentang berbagai aliran tarekat yang dua puluh dua.

Ke depan rasanya kita harus menunggu karya kiai ahli dokumentasi ini untuk melengkapi ke 44 tareat secara keseluruhan bahkan juga tarekat atau yang khas Indonesia, misalnya Shalawat Wahidiyyah yang berpusat di Kediri dan Ngoro Jombang dan Shiddiqiyyah yang berpusat di Ploso Jombang yang pula diikuti sebagian nahdliyyin.

Buku ini menjadi lebih berbobot di samping isinya yang padat dengan jumlah halaman 323, juga karena diberi pengantar oleh tiga orang otoritatif, yaitu Rais Am Jamiyah Ahlith Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyah, Habib Muhammad Luthfie bin Ali bin Yahya, Ketua Umum PBNU, Dr. KH. Said Aqiel Siradj, M.A., dan Guru Besar Studi Perbandingan Masyarakat Muslim Kontemporer, Universitas Utrecht Belanda, Martin Van Bruinessen.

Sekretaris Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Jombang.

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/33731/menimbang-sejarah-dan-ajaran-tarekat

Asli Muhammadiyah

Kamis, 21 Juli 2016

Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo: Pejuang NU Akan Dijadikan Satu dengan Mbah Hasyim

Sidoarjo, Asli Muhammadiyah. Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo, KH Rofiq Siroj, menegaskan bahwa berjihad di jalan Allah harus diniatkan dengan hati tulus, ikhlas dan benar-benar amanah. Terlebih lagi sebagai pengurus NU.

?

Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo: Pejuang NU Akan Dijadikan Satu dengan Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo: Pejuang NU Akan Dijadikan Satu dengan Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo: Pejuang NU Akan Dijadikan Satu dengan Mbah Hasyim

"Selain berjihad, berjuang dengan jiwanya hingga tuntas, uangnya juga diajak berjihad. Insyaallah akan ditolong Allah sama seperti Allah menolong KH Hasyim Asyari dan kita akan dijadikan satu dengan KH Hasyim Asyari, kelak. Yang berkhidmat di NU semoga diberikan panjang umur," katanya disela-sela prosesi pelantikan MWCNU Sidoarjo kota, di masjid Nurul Huda, Luwung, Sarirogo, Sidoarjo, Ahad (2/4).

Menjadi pengurus, lanjutnya, tidak boleh mempunyai perasaan buruk, sombong dan iri hati. Pengurus harus mematuhi AD/ART, kepentingan ulama, bangsa dan negara. Khittoh Nahdlatul Ulama harus dijadikan landasan berfikir.

Sementara itu, Rais Syuriah MWCNU Sidoarjo, Muhammad Nasikhin menyatakan, Nahdlatul Ulama harus mempunyai kader militan untuk meneruskan ajaran KH Hasyim Asyari melalui jamiyah Nahdlatul Ulama.

Asli Muhammadiyah

"Ke depan, dalam masa periode pertama, kami akan melakukan pendidikan kader Nahdlatul Ulama. Agar, kita mempunyai kader kompeten, militan untuk bisa meneruskan NU," kata Nasikhin.

Menurutnya, ada beberapa hal yang akan diperhatikan MWCNU Sidoarjo untuk melakukan hubungan langsung dengan masyarakat, yakni mengurusi administrasi masjid yang sesuai dengan syariat Islam. Meski selama ini, takmir masjid sudah bisa mengurusi administrasi.

Pihaknya akan mengajak Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), untuk mengajak masyarakat melaksanakan Islam secara khaffah. Yaitu berdakwah dan berjihad di jalan Allah.

Asli Muhammadiyah

"Kami juga akan menyelamatkan aset yang menjadi tradisi NU, aset maliyah karena mungkin kurang terurus, berusaha mendoktrin masyarakat bahwa Nahdlatul Ulama mempunyai guru dan sampai pada Rasulullah," tuturnya.

Tak hanya itu saja, sambung Nasikhin, MWCNU Sidoarjo akan memberikan materi aswaja serta menitik beratkan permasalahan fital di NU, kepada Lembaga Batshul Masail (LBM) agar menjadi kuat. Sehingga, masyarakat Sidoarjo tidak bingung dengan adanya permasalahan yang ada. Karena sudah mengikuti anjuran ulama. (Moh Kholidun/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ahlussunnah, Makam, Bahtsul Masail Asli Muhammadiyah

Kamis, 10 Februari 2011

LTMNU Sumedang Gelar Pelatihan Muharrik Mesjid Ketiga

Sumedang, Asli Muhammadiyah. Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kabupaten Sumedang menggelar Pelatihan Muharrik Masjid III di Aula Mesjid Agung Sumedang pada Ahad (27/12). Kegiatan tersebut dihadiri 55 orang pengurus ta’mir masjid dari dua kecamatan, yaitu Sumedang Utara dan Sumedang Selatan.

Pelatihan dibuka Ketua PCNU Sumedang KH Sa’dulloh. Pada pidato pembukaan, ia mengintruksikan kepada seluruh peserta agar semua masjid NU dipasang simbol-simbol ke-NU-an seperti plang, stiker, kalender, dan lain-lain.

LTMNU Sumedang Gelar Pelatihan Muharrik Mesjid Ketiga (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Sumedang Gelar Pelatihan Muharrik Mesjid Ketiga (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Sumedang Gelar Pelatihan Muharrik Mesjid Ketiga

Hal itu, kata dia, bertujuan untuk menginventarisasi mana mesjid NU, mana yang bukan. Serta untuk menjaga masjid agar amaliah warga NU seperti qunut subuh, baca Barzanji, adzan 2 kali ketika shalat Jum’at, tahililan, shalawatan tetap berjalan dengan baik.

Asli Muhammadiyah

Materi yang disajikan pada pelatihan ini, pertama Ke-Aswaja-an dan Ke-NU-an, disampaikan oleh Ketua PCNU Sumedang. Dalam pemaparan materinya Sa’dulloh menjelaskan manhaj Ahlissunnah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama.

Dalam bidang aqidah atau teologi, kata dia, Nahdlatul Ulama mengikuti manhaj dan pemikiran Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Dalam Bidang Fiqih/Hukum Islam, Nahdlatul Ulama bermazhab secara qauli dan manhaji kepada salah satu Al-Madzahib Al-‘Arba’ah (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali). Dalam bidang Tasawuf,? Nahdlatul Ulama mengikuti Imam al Junaid al Baghdadi (w.297H.) dan Abu Hamid al Ghazali (450-505 H./1058-1111 M.).

Asli Muhammadiyah

Materi Kedua, tentang Muharrik Mesjid, disampaikan oleh Ketua LTM NU Sumedang Eman Sulaeman. Eman menjelaskan bahwa Muharrik (penggerak) Mesjid harus senantiasa melakukan pengawasan terhadap mesjid-mesjid Nahdlatul Ulama. “Jangan sampai paham yang di luar ajaran Ahlu sunah wal jama’ah bisa masuk di mesjid-mesjid NU,” katanya.

Sebagai ikhtiar dari hal yag tidak diinginkan, maka pimpinan LTM NU Sumedang akan memfasilitasi untuk meng-SK-an semua masajid yang ada di kabupaten Sumedang dibawah Naungan PCNU Sumedang.

“Ada sekitar 1300 mesjid target untuk di beri SK. Kemudian jika masih ada mesjid yang belum berbadan hukum, nantinya akan diurus hingga jelas legitimasi kepemilikan tanahnya,” terangnya.

Dalam pelatihan ini, hadir Ketua DKM Mesjid Agung Sumedang H. Doni Ahmad Munir. dalam sambutannya Doni berpesan agar mesjid-mesjid NU itu menjamin keamanan dan kenyamanan jama’ahnya. (Ayi Abdul Qohar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Doa, Hadits Asli Muhammadiyah

Minggu, 11 Oktober 2015

Pergerakan GP Ansor Tidak Boleh Lepas dari 3 Hal Ini

Brebes, Asli Muhammadiyah. Untuk menjaga ukhuwah umat Islam, GP Ansor Brebes mengadakan Ansor Bersholawat yang dilaksanakan di Lapak Bawang, Desa Sengon, Tanjung, Brebes, Jawa Tengah pekan lalu. Ketua GP Ansor Brebes Ahmad Munsip menjelaskan bahwa ini merupakan wujud pelestarian Tradisi Amaliyah Warga Nahdlatul Ulama dan Syiar GP Ansor serta Jamiyah Nahdlatul Ulama.?

“Siapa lagi yang akan melestarikan Amaliyah Warga NU seperti Tahlilan, Sholawatan, Maulid dan Istighotsah kalau bukan Generasi Muda Nahdlatul Ulama yaitu GP Ansor,” terang Munsip

Pergerakan GP Ansor Tidak Boleh Lepas dari 3 Hal Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergerakan GP Ansor Tidak Boleh Lepas dari 3 Hal Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergerakan GP Ansor Tidak Boleh Lepas dari 3 Hal Ini

Dalam Rangkaian kegiatan Anshor Bersholawat juga dilaksanakan pelantikan PAC. GP Ansor Kecamatan Tanjung Masa Khidmah 2016-2018. Pelantikan dipandu Oleh Pengurus PW GP Ansor Jawa Tengah Syarifudin.?

Setelah melantik Syarifudin menyampaikan pesan bahwa GP Ansor dalam pergerakan atau Harokah tidak boleh lepas dari tiga hal, pertama harokah i’tiqodiyah/ideologi yang merupakan misi utama daripada GP Ansor sebagai kader NU ketika banyak kelompok Islam radikal, maka GP Ansor harus berada di garda terdepan untuk siap melindungi pancasila dan ketuhan NKRI serta Aqidah Ahlussunah Wal Jamaah Annahdliyah.?

Asli Muhammadiyah

Kedua, Harokah Siyasah atau pergerakan politik, sama halnya seperti NU, GP Ansor mengusung Politik Kebangsaan di mana kepentingan bangsa menjadi suatu hal yang paling utama oleh karena itu siapkan kader GP Ansor di setiap lini agar bisa berkiprah untuk kemajuan bangsa dan Negara. Dan yang ketiga yaitu Harokah I’tisodiyah atau pergerakan perekonomian ini akan diimplementasikan dalam program GP Ansor di bidang ekonomi dengan membentuk koperasi atau badan usaha demi mewujudkan kemandirian organisasi.?

“Kami berharap pengurus yang baru dilantik bisa langsung bekerja mewujudkan hal tersebut,” tutup Syarifudin

Sementara KH. Ahmad Muwafiq dari Jogjakarta dalam mauidzoh khasanah menjelaskan setelah Nabi Muhammad SAW wafat ada beberapa kelompok yang mengkafirkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Terbunuhnya sahabat Ali Bin Abi Thalib oleh Ibnu Mulzam dikarenakan adanya beberapa kelompok yang tidak menyeluruh dalam memahami Al-Qur’an dan Hadits.?

“Oleh karena itu kita sebagai generasi muda Nahdlatul Ulama ? tetap berpegang teguh kepada Ulama karena sanad keilmuan ulama Nahdlatul Ulama ? sampai kepada Nabi Muhammad SAW,” ujar Kiai Muwafiq

Pengurus GP Ansor Kecamatan Tanjung yang dilantik antara lain Ketua Iin Hanafi, Sekretaris Heri Arfianto dan Bendahara Yosi Nur Imanullah. Acara yang dihadiri ribuan pengunjung tersebut berlangsung meriah dengan iringan sholawat oleh Grup Hadroh Babul Musthofa dari pekalongan serta hadir dalam acara tersebut Ketua PCNU Brebes KH Athoilah Syatori, Kabag Kesra H Imron Hisyam, pengurus MWCNU Brebes Ustad Solikhin serta Pengurus GP Ansor Tegal, Kota Tegal dan Pemalang. (Ibnu/Fathoni)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah AlaSantri Asli Muhammadiyah

Selasa, 24 Mei 2011

Tugas CBP dan KPP Pelajar NU Bentengi Pelajar dari Ideologi Anti-Pancasila

Pekalongan, Asli Muhammadiyah



Dewan Koordinasi Nasional Corp Barisan Pelajar (DKN CBP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) mengingatkan peran dan tugas CBP bukan hanya sebagai pasukan keamanan internal, akan tetapi bertugas sebagai garda depan Nahdlatul Ulama dalam rangka membentengi dari masuknya paham radikalisme anti-Pancasila di tingkat pelajar serta mengawal ideologi Aswaja an-Nahdliyah dan menjaga keutuhan NKRI.

Tugas CBP dan KPP Pelajar NU Bentengi Pelajar dari Ideologi Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Tugas CBP dan KPP Pelajar NU Bentengi Pelajar dari Ideologi Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Tugas CBP dan KPP Pelajar NU Bentengi Pelajar dari Ideologi Anti-Pancasila

Demikian dikatakan DKN CBP IPNU Dede Rosyadi pada acara pengukuhan Pengurus Dewan Koordinasi Wilayah (DKW) CBP IPNU dan Korp Pelajar Putri (KKP) IPPNU Jawa Tengah Periode 2017 - 2019, Ahad (16/4) di Gedung Bakorwil 3 Kota Pekalongan.

Dikatakan, upaya yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk mengganti Pancasila serta upaya memecah belah keutuhan NKRI adalah menjadi tugas utama CBP dan KPP khususnya dalam lingkup pelajar di lingkungan Nahdlatul Ulama.

"Ada tugas penting bagi CBP dan KPP sebagai garda depan membantu NU membentengi pelajar dari gerakan ideologi anti-Pancasila, radikalisme dan intoleransi yang saat ini sudah masu di kalangan pelajar," ujar Rosyadi.

Asli Muhammadiyah

Sementara itu, Komandan DKW CBP IPNU Jawa Tengah Ferial Farhan kepada Asli Muhammadiyah mengatakan, dipilihnya Kota Pekalongan sebagai tempat pengukuhan, yakni sebagai upaya mengingatkan kembali sejarah terbentuknya CBP dan semangat akan lahirnya KPP yang dilakukan pada tahun 1964 oleh Asnawi Latif.?

Dikatakan, dengan semangat ini diharapkan akan muncul spirit baru dari kader-kader CBP dan KPP se-Jawa Tengah yang lebih besar dan lebih bangga menjadi kader CBP dan KPP yang loyal terhadap organisasi.?

Sebagaimana diketahui, kehadiran CBP yang semula bernama Corps Brigade Pembangunan (CBP) merupakan lembaga yang dibentuk pada tahun 1963 dalam hal itu di latar belakangi peristiwa persengketaan antara Indonesia dengan Malaysia atau istilah populernya dikenal dengan istilah “ Ganyang Malaysia “, peristiwa politik tersebut yang berkaitan dengan persengketaan antara Repuplik Indonesia dengan Malaysia memperebutkan daerah Kalimantan Utara (Serawak).

Kondisi riil yang terjadi pada saat itu untuk lebih jelas conteksnya yaitu politik luar negeri, terjadi pertentangan antara gagasan Presiden Soekarno yang anti Emperalisme dengan pihak barat yang berupaya menancapkan kukunya di wilayah Malaysia. Kemudian Presiden Soekarno mengintruksikan kepada elemen bangsa untuk segera membentuk sukarelawan perang dan siap menggayang Malaysia.

Asli Muhammadiyah

Intruksi Presiden tersebut secara lansung membuat seluruh elemen bangsa bersiap sedia untuk melawan Imperalisme yang akan kembali menancapkan kukunya di wilayah Asia Tenggara, Asnawi Latif pada waktu itu selaku Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama yang merupakan bagian dari elemen bangsa merasa terpanggil untuk berjuang bersama melawan iperalisme dari bangsa barat, yang terbentuk dari kalangan pelajar Nahdhiyin yang kemudian dinamakan Sukarelawan Pelajar.

Deklarasi dibentuknya sukarelawan Pelajar diadakan di Yogjakarta yang pada saat itu merupakan lokasi dari kantor pusat PP IPNU, dan di barengi dengan parade militer Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang merupakan wujud dari kesiapan RI untuk Menggayang Malaysia.

Sejak saat itulah kemudian Sukarelawan Pelajar yang dibentuk oleh Asnawi Latif tersebut berjuang demi memperjuangkan negara dan bangsa untuk keutuhan NKRI. Sukarelawan ini yang merupakan embrio atau cikal bakal bagi berdirinya Corps Brigade Pembangunan (CBP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama yang kemudian ditetapkan pada Konferensi Besar IPNU di Pekalongan pada tanggal 25 – 31 Oktober 1964 dengan nama Corps Brigade Pembangunan (CBP), yang kemudian dikenal dengan “Doktrin Pekalongan”. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pahlawan, Ahlussunnah Asli Muhammadiyah

Senin, 20 Mei 2013

Detik-detik Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama dan Pertempuran 10 November 1945

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama merupakan rangkaian panjang dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebelum Resolusi Jihad, telah muncul Fatwa Jihad, setelahnya, muncul pertempuran 10 November yang kemudian ditetapkan menjadi hari Pahlawan. Berikut rangkaian sejarah perjuangan kaum santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, yang kemudian menjadi dasar lahirnya Hari Santri Nasional 22 Oktober, seperti disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Effendy Yusuf dalam konferensi press di gedung PBNU, Senin (19/10).

17 Agustus 1945

Detik-detik Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama dan Pertempuran 10 November 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
Detik-detik Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama dan Pertempuran 10 November 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

Detik-detik Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama dan Pertempuran 10 November 1945

Siaran berita Proklamasi Kemerdekaan sampai ke Surabaya dan kota-kota lain di Jawa, membawa situasi revolusioner. Tanpa komando, rakyat berinisiatif mengambil-alih berbagai kantor dan instalasi dari penguasaan Jepang.

31 Agustus 1945

Asli Muhammadiyah

Belanda mengajukan permintaan kepada pimpinan Surabaya untuk mengibarkan bendera Tri-Warna untuk merayakan hari kelahiran Ratu Belanda, Wilhelmina Armgard.

Asli Muhammadiyah

17 September 1945

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan sebuah Fatwa Jihad yang berisikan ijtihad bahwa perjuangan membela tanah air sebagai suatu jihad fi sabilillah. Fatwa ini merupakan bentuk penjelasan atas pertanyaan Presiden Soekarno yang memohon fatwa hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam.

19 September 1945

Terjadi insiden tembak menembak di Hotel Oranje antara pasukan Belanda dan para pejuang Hizbullah Surabaya. Seorang kader Pemuda Ansor bernama Cak Asy’ari menaiki tiang bendera dan merobek warna biru, sehingga hanya tertinggal Merah Putih.

23-24 September 1945

Terjadi perebutan dan pengambilalihan senjata dari markas dan gudang-gudang senjata Jepang oleh laskar-laskar rakyat, termasuk Hizbullah.

25 September 1945

Bersamaan dengan situasi Surabaya yang makin mencekam, Laskar Hizbullah Surabaya dipimpin KH Abdunnafik melakukan konsolidasi dan menyusun struktur organisasi. Dibentuk cabang-cabang Hizbullah Surabaya dengan anggota antara lain dari unsur Pemuda Ansor dan Hizbul Wathan.Diputuskan pimpinan Hizbullah Surabaya Tengah (Hussaini Tiway dan Moh. Muhajir), Surabaya Barat (Damiri Ichsan dan A. Hamid Has), Surabaya Selatan (Mas Ahmad, Syafi’i, dan Abid Shaleh), Surabaya Timur (Mustakim Zain, Abdul Manan, dan Achyat).

5 Oktober 1945

Pemerintah pusat membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Para pejuang eks PETA, eks KNIL, Heiho, Kaigun, Hizbullah, Barisan Pelopor, dan para pemuda lainnya diminta mendaftar sebagai anggota TKR melalui kantor-kantor BKR setempat.

15-20 Oktober 1945

Meletus pertempuran lima hari di Semarang antara sisa pasukan Jepang yang belum menyerah dengan para pejuang.

21-22 Oktober 1945

PBNU menggelar rapat konsul NU se-Jawa dan Madura. Rapat digelar di Kantor Hofdsbestuur Nahdlatul Ulama di Jalan Bubutan VI No 2 Surabaya. Di tempat inilah setelah membahas situasi perjuangan dan membicarakan upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Di akhir pertemuan pada tanggal 22 Oktober 1945 PBNU akhirnya mengeluarkan sebuah Resolusi Jihad sekaligus menguatkan fatwa jihad Rais Akbar NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

25 Oktober 1945

Sekitar 6.000 pasukan Inggris yang tergabung dalam Brigade ke-49 Divisi ke-26 India mendarat di Surabaya. Pasukan ini dipimpin Brigjend AWS. Mallaby. Pasukan ini diboncengi NICA (Netherlands-Indies Civil Administration).

26 Oktober 1945

Terjadi perundingan lanjutan mengenai genjatan senjata antara pihak Surabaya dan pasukan Sekutu. Hadir dalam perundingan itu dari pihak Sekutu Brigjend Mallaby dan jajarannya, dari pihak Surabaya diwakili Sudirman, Dul Arnowo, Radjamin Nasution (Walikota Surabaya) dan Muhammad.

27 Oktober 1945

Mayjen DC.Hawtorn bertindak sebagai Panglima AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) untuk Jawa, Madura, Bali dan Lombok menyebarkan pamflet melalui udara menegaskan kekuasaan Inggris di Surabaya, dan pelarangan memegang senjata selain bagi mereka yang menjadi pasukan Inggris. Jika ada yang memegangnya, dalam pamflet tersebut disebutkan bahwa Inggris memiliki alasan untuk menembaknya. Laskar Hizbullah dan para pejuang Surabaya marah dan langsung bersatu menyerang Inggris. Pasukan Inggris pun balik menyerang, dan terjadi pertempuran di Penjara Kalisosok yang ketika itu berada dalam penjagaaan pejuang Surabaya.

28 Oktober 1945

Laskar Hizbullah dan Pejuang Surabaya lainnya berbekal senjata rampasan dari Jepang, bambu runcing, dan clurit, melakukan serangan frontal terhadap pos-pos dan markas Pasukan Inggris. Inggris kewalahan menghadapi gelombang kemarahan pasukan rakyat dan massa yang semakin menjadi-jadi.

29 Oktober 1945

Terjadi baku tembak terbuka dan peperangan massal di sudut-sudut Kota Surabaya. Pasukan Laskar Hizbullah Surabaya Selatan mengepung pasukan Inggris yang ada di gedung HBS, BPM, Stasiun Kereta Api SS, dan Kantor Kawedanan. Kesatuan Hizbullah dari Sepanjang bersama TKR dan Pemuda Rakyat Indonesia (PRI) menggempur pasukan Inggris yang ada di Stasiun Kereta Api Trem OJS Joyoboyo.

29 Oktober 1945

Perwira Inggris Kolonel Cruickshank menyatakan pihaknya telah terkepung. Mayjen Hawtorn dari Brigade ke-49 menelpon dan meminta Presiden Soekarno agar menggunakan pengaruhnya untuk menghentikan pertempuran. Hari itu juga, dengan sebuah perjanjian, Presiden Soekarno didampingi Wapres Mohammad Hatta terbang ke Surabaya dan langsung turun ke jalan-jalan meredakan situasi perang.

30 Oktober 1945

Genjatan senjata dicapai kedua pihak, Laskar arek-arek Surabaya dan pasukan Sekutu-Inggris. Disepakati diadakan pertukaran tawanan, pasukan Inggris mundur ke Pelabuhan Tanjung Perak dan Darmo (kamp Interniran), dan mengakui eksistensi Republik Indonesia.

30 Oktober 1945

Sore hari usai kesepakatan genjatan senjata, rombongan Biro Kontak Inggris menuju ke Gedung Internatio yang terletak disaping Jembatan Merah. Namun sekelompok pemuda Surabaya menolak penempatan pasukan Inggris di gedung tersebut. Mereka meminta pasukan Inggris kembali ke Tanjung Perak sesuai kesepakatan genjatan senjata. Hingga akhirnya terjadi ketegangan yang menyulut baku tembak. Di tempat ini secara mengejutkan Brigjen Mallaby tertembak dan mobilnya terbakar.

31 Oktober 1945

Panglima AFNEI Letjen Philip Christison mengeluarkan ancaman dan ultimatum jika para pelaku serangan yang menewaskan Brigjen Mallaby tidak menyerahkan diri maka pihaknya akan mengerahkan seluruh kekuatan militer darat, udara, dan laut untuk membumihanguskan Surabaya.

7-8 November 1945

Kongres Umat Islam di Yogyakarta mengukuhkan Resolusi Jihad Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sebagai kebulatan sikap merespon makin gentingnya keadaan pasca ultimatum AFNEI.

9 November 1945

Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sebagai komando tertinggi Laskar Hizbullah menginstruksikan Laskar Hizbullah dari berbagai penjuru memasuki Surabaya untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan dengan satu sikap akhir, menolak menyerah. KH Abbas Buntet Cirebon diperintahkan memimpin langsung komando pertempuran. Para komandan resimen yang turut membantu Kiai Abbas antara lain Kiai Wahab (KH. Abd. Wahab Hasbullah), Bung Tomo (Sutomo), Cak Roeslan (Roeslan Abdulgani), Cak Mansur (KH. Mas Mansur), dan Cak Arnowo (Doel Arnowo).Bung Tomo melalui pidatonya yang disiarkan radio membakar semangat para pejuang dengan pekik takbirnya untuk bersiap syahid di jalan Allah SWT.

10 November 1945

Pertempuran kembali meluas menyambut berakhirnya ultimatum AFNEI. Inggris mengerahkan 24.000 pasukan dari Divisi ke-5 dengan persenjataan meliputi 21 tank Sherman dan 24 pesawat tempur dari Jakarta untuk mendukung pasukan mereka di Surabaya. Perang besar pun pecah. Ribuan pejuang syahid. Pasukan Kiai Abbas berhasil memaksa pasukan Inggris kocar-kacir dan berhasil menembak jatuh tiga pesawat tempur RAF Inggris. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Syariah Asli Muhammadiyah

Sabtu, 20 November 2010

NU dan Edukasi Kelas Bawah

Oleh  Agus Wibowo

--Jika tidak ada aral melintang, Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) akan dihelat di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus 2015. Paling tidak, ada hal penting yang perlu dipertegas kembali dalam muktamar tersebut, yaitu komitmen edukasi pada masyarakat kelas bawah. Sejak didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari 89 lalu, NU telah menjadi bagian pencerah masyarakat khususnya melalui jalur pendidikan tradisional.

Menurut Zuhairini (1997), ketika kita membaca  kiprah NU di bidang pendidikan, seperti halnya membaca sejarah tumbuh dan tegaknya pendidikan bagi bangsa ini. Itu karena cikal bakal pendidikan rakyat dirintis oleh pesantren milik para kyai NU. Pesantren, lanjut Zuhairini, merupakan cikal-bakal model pendidikan yang memberi kesempatan rakyat miskin  membuka tabir kebodohan menuju pencerahan. Didikan pesantren mula-mula, melahirkan banyak pejuang kemerdekaan, serta  para pemimpin bangsa dengan ketinggian budi dan karakter. Singkatnya, pesantren milik NU mampu memberikan model pendidikan alternatif bagi masyarakat bawah, yang kala itu tidak bisa mengakses pendidikan di sekolah-sekolah milik pemerintah Kolonial Belanda.

Pemihakan Kelas Bawah

NU dan Edukasi Kelas Bawah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Edukasi Kelas Bawah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Edukasi Kelas Bawah

Banyak sejarawan mencatat betapa gerakan NU untuk pendidikan bangsa terutama masyarakat kelas bawah, telah dimulai sejak rintisan awal berdirinya ormas keagamaan ini. Dimulai dengan gerakan ekonomi kerakyatan melalui Nadlatut Tujjar (1918), disusul dengan Tashwirul Afkar (1922) sebagai gerakan keilmuan dan kebudayaan, hingga Nahdlatul Wathan (1924) yang merupakan gerakan politik di bidang pendidikan. Sementara menurut Didik Supriyanto (2010), kiprah NU di bidang pendidikan telah dimulai sejak Muktamar ke-2 NU tahun 1927. Dalam muktamar itu, sebagian besar pesertanya melakukan terobosan yang luar biasa, yaitu dengan mengadakan penggalangan dana secara nasional untuk mendirikan madrasah/sekolah.

Pada Muktamar NU berikutnya, muncul gerakan serupa yaitu gerakan peduli pendidikan dan membentuk sebuah organisasi khusus yang diharapkan konsen mengurusi bidang pendidikan. salah satu organisasi khusus di bidang pendidikan itu adalah Hoof Bestur Nahdlatul Oelama (HBNO). Pada perkembangan selanjutnya, terbentuklah Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (LPMNU), tepatnya tercetus pada Muktamar ke-20 NU (1959) di Jakarta.

Asli Muhammadiyah

Menurut data Kementrian Agama (Kemenag, 2013), sampai saat ini Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU sudah memiliki tidak kurang dari 6000 lembaga pendidikan yang tersebar di seluruh pelosok tanah air; mulai dari TK, SD, SLTP, SMU/SMK, MI, MTs, MA, dan 73 perguruan tinggi (PT). Sementara untuk pondok pensantren NU, sampai saat ini belum ada data yang akurat mengingat jumlahnya yang banyak dan terus bertambah.

Sepanjang sejarahnya, NU lebih banyak berpihak pada pendidikan masyarakat bawah, seperti petani desa, pedagang, buruh, nelayan dan sebagainya. Itu bisa dilihat pada lembaga pendidikan NU, baik berbentuk pesantren, madrasah, dan sekolah-sekolah, umumnya menampung kelas bawah ini. Lembaga pendidikan NU itu tidak memasang tarif yang mahal, bahkan sebagian memberikan pendidikan secara cuma-cuma alias gratis.

Sementara  untuk madrasah dan sekolah NU, memiliki karakter yang khas yaitu diakui sebagai milik masyarakat, selalu bersatu dengan masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat. Guru-guru madrasah adalah juga guru-guru masyarakat, yang tingkah lakunya dinilai, diawasi, dan ditiru oleh masyarakat. Pendek kata, sepanjang sejarahnya, madrasah/sekolah NU menjadi role of model bagi masyarakat di sekitarnya. Madrasah NU juga merupakan pusat kegiatan masyarakat pada beberapa bidang tertentu, khususnya pada bidang keagamaan.

Oleh karena besarnya peran serta masyarakat dalam membesarkan madrasah dan sekolah NU ini, konon pada zaman penjajahan, ormas keagamaan terbesar pertama ini tegas-tegas menolak bantuan pemerintah Belanda baik bagi madrasah, maupun segala bidang kegiatannya.

Dipertahankan?

Asli Muhammadiyah

Sebagaimana ditulis Zuhairini, pondok pesantren NU sejak lama dikenal sebagai pendidikan alternatif. Pendidikan pesantren yang dirintis, dikelola, dan dikembangkan secara individual oleh para ulama dan tokoh NU, telah memberikan sumbangsih besar pada masyaratat, pemerintah, dan bangsa Indonesia ini.

Pendidikan pesantren kental dengan pembentukan karakter mulia yang disebut sebagai akhlakhul karimah atau akhlak mulia. Pesantren misalnya, mengajarkan agar peserta didiknya yang disebut santri, memiliki dan melaksanakan karakter mulia seperti tawadhu, ta’at, ridho, barakah, hurmah, dan sebagainya dalam kehidupan sehari-hari. Jauh sebelum pendidikan nasional kita menganjurkan pendidikan karakter, pesantren sudah mendahului dengan tindakan nyata.

Pendidikan NU yang dilaksanakan oleh para kiai,  diarahkan untuk mencapai tingkatan ideal, yaitu santri dengan ketinggian akhlakhul karimah. Pendidikan bagi kyai, bukan sebatas menstransfer ilmu pengetahuan, tetapi  tetapi juga transfer kepribadian. Berbeda dengan sekolah umum, para santri di pesantren bertempat tinggal bersama kyai atau pengasuh sepanjang waktu.

Pendidikan di pesantren dikatakan berhasil, jika melahirkan orang yang penuh tawadhu’ tha’at, dan hurmah dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang mampu menjadi sosok ideal itu, akan mendapatkan ridha dan barakah dalam kehidupannya. Ketika seseorang mendapat ridha dan barakah, ia akan merasakan ketentraman dalam hidup. Pribadi bersangkutan tidak akan melakukan tindakan tercela, apalagi sampai melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme.

Kita berharap isu pendidikan kelas bawah tetap diangkat dalam muktamar NU. Apakah ke depan NU akan tetap berada pada jalur pendidikan tradisionalnya atau ada upaya memodernisasi lembaga-lembaga pendidikannnya. Modernisasi lembaga pendidikan di bawah NU menjadi penting, tetapi jangan sampai terjebak pada komersialisasi pendidikan. Jika sudah demikian, maka siapa lagi yang akan mengurus pendidikan rakyat miskin? 

Agus Wibowo, Pengurus Lajnah Ta’lif Wan Nasr Nahdlatul Ulama (LTNNU), Dosen Universitas Negeri Jakarta.

 

Ilustrasi: Suasana di pintu gerbang Pondok Pesantren Babussalam, Mojoagung, Jombang (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Halaqoh, Amalan, Ahlussunnah Asli Muhammadiyah

Rabu, 15 Mei 2013

IPNU–IPPNU Kecamatan Brebes Dilantik

Brebes,Asli Muhammadiyah. Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Brebes masa khidmah 2016–2018 dilantik Pimpinan Cabang IPNU–IPPNU Kabupaten Brebes, Jawa Tengah di gedung pertemuan PCNU Brebes Jumat (5/8).

Ketua Panitia Pelantikan Cahyono menjelaskan, kepengurusan PAC IPNU dan IPPNU Brebes masa khidmah 2016–2018 ini merupakan hasil dari Konferensi Anak Cabang yang dilaksanakan pada 5-6 Juni 2016 di Pondok Pesantren Annidzom Brebes.

IPNU–IPPNU Kecamatan Brebes Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU–IPPNU Kecamatan Brebes Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU–IPPNU Kecamatan Brebes Dilantik

”Ini merupakan langkah awal. Mohon doa restu dan dukungan semua pihak sehingga pelantikan tidak menjadi agenda seremonial belaka, namun juga diikuti beberapa program yang bisa dirasakan oleh pelajar dan masyarakat di Kecamatan Brebes,“ kata pelajar yang akrab disapa Yono.

Asli Muhammadiyah

Sementara Ketua PAC IPNU Kecamatan Brebes Imam Subekhi dalam sambutannya menjelaskan bahwa IPNU–IPPNU sebagai wadah Pelajar Nahdlatul Ulama harus bisa menempatakan ilmu pengetahuan sebagai hal yang paling utama dalam berorganisasi.

Asli Muhammadiyah

Sebagai akar perjuangan jam’iyah Nahdlatul Ulama, IPNU–IPPNU harus dipupuk sejak dini dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga keberadaan bisa menjawab tantangan zaman. “Dengan kaidah belajar, berjuang dan bertakwa, ilmu kucari amal kuberi untuk agama, bangsa negeri,“ tutup Imam.

Pembina PAC IPNU–IPPNU Brebes Ganis Faruqi Abkar saat memberi pembekalan pengurus mengatakan bahwa IPNU–IPPNU sudah berusia lebih dari 62 tahun. Keberadan kadernya pun sudah sangat banyak. oleh karena itu kami berpesan bahwa dalam menjalankan roda organisasi jangan sampai lupa untuk tetap bersilaturahim dengan para alim ulama serta pembina dan para alumni.

Ini bisa dijadikan pelajaran yang sangat bermanfaat bagi pengurus IPNU–IPPNU yang baru saja dilantik untuk mengambil wejangan dan juga arahannya. “Selamat berjuang bagi pengurus PAC IPNU–IPPNU Brebes. Dimulai dengan bismillah dan niatan ibadah, insyaallah berkah,“ imbuh Ganis

Pengurus PAC IPNU Brebes yang dilantik antara lain Ketua Imam Subekhi, Sekretaris Cahyono dan Bendahara Khafid Syifa Muzaki sementara untuk PAC IPPNU Brebes Ketua Rizqi Muthia Sa’adah, Sekretaris Yuliah Mutoharoh dan Bendahara Sri Ayu Wilantika.

Acara diisi juga dengan penampilan grup hadroh dari PR IPNU Tengki dan dihadiri PAC Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, pembina, alumni serta ratusan kader IPNU–IPPNU se-Kecamatan Brebes. (Bayu/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Quote Asli Muhammadiyah

Minggu, 18 Desember 2016

NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU

Bojonegoro, Asli Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bojonegoro mengumpulkan 350 kepala sekolah/madrasah di bawah naungan Lembaga Pendidikan Maarif NU, Sabtu (22/11), di Bojoengoro, Jawa Timur. Pertemuan dimaksudkan untuk menyosialisasikan perubahan administrasi dan perlunya peningkatan kaderisasi NU di tingkat pelajar.

PCNU Bojonengoro dalam kesempatan tersebut mendorong kepala madrasah/sekolah untuk menjadi fasilitator dalam pendirian komisariat Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) di masing-masing unit pendidikan.

NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)


NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU

Salah satu pengurus LP Maarif NU Bojonegoro, H. Agus Huda, mengatakan, sudah menjadi tugas lembaganya untuk menekankan kepada sekolah atau madrasah agar membentuk komisariat IPNU mengingat organisasi ini memang berada di tingkat pelajar.

Asli Muhammadiyah

Pada Acara tersebut dilaksanakan pula penandatanganan kemitraan untuk pendirian komisariat IPNU-IPPNU oleh H. Agus Huda (PC LP Maarif NU Bojonegoro), M. Masluhan (PC IPNU Bojoengoro), H. Yasmani, (Kasi Penma Kemenag Bjn ), dan H. Basuki (PC NU Bojonegoro).

Selain tentang pendirian komisariat IPNU-IPPNU, LP Maarif NU dalam pertemuan ini juga menyampaikan sejumlah informasi, di antaranya mengenai pedoman penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan Maarif NU dan tindak lanjut perubahan akte notaris.

Asli Muhammadiyah

Sekretaris PC LP Maarif NU Moh. Sholihul Hadi menjelaskan, sosialisasi administratif itu dilakukan seiring dengan telah diperbaruinya Anggaran Dasar Perkumpulan Jamiyah Nahdlatul Ulama Nomor: C.2-7028.HT.01.05.TH.89 dengan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No. AHU-119.AH.01.08 Tahun 2013, bahwa satuan pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama diwajibkan menggunakan Badan Hukum Perkumpulan Jamiyah Nahdlatul Ulama. (M Yazid/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55919/nu-bojonegoro-dorong-350-madrasah-dirikan-komisariat-ipnu-ippnu

Asli Muhammadiyah

Sabtu, 13 Juni 2015

Kriteria Pemimpin Masa Depan Menurut Gus Dur, Seperti Apa?

Bandung, Asli Muhammadiyah. Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) membincang seperti apa sosok pemimpin masa depan bangsa yang ideal. Gus Dur mengatakan, ada beberapa syarat yang harus dimiliki, yaitu pemimpin harus memiliki ketulusan pengabdian, dedikasi yang tinggi dan pengalaman yang luas.

"Hal terpenting yang harus diperhatikan dalam memilih seorang figur adalah tidak terlalu banyak kriteria, namun fokus pada figur yang tulus, berdedikasi tinggi dan punya pengalaman luas," kata Gus Dur kepada wartawan usai kunjungannya di Pesantren Al Falah II, Bandung, Selasa (5/2).

Kriteria Pemimpin Masa Depan Menurut Gus Dur, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kriteria Pemimpin Masa Depan Menurut Gus Dur, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kriteria Pemimpin Masa Depan Menurut Gus Dur, Seperti Apa?

Sehari sebelumnya, Ketua Umum Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu sangat yakin bahwa mayoritas warga Nahdlatul Ulama (NU) tetap mendukung partainya.

Asli Muhammadiyah

"Suara orang NU itu ke PKB," kata Gus Dur mantap usai mengukuhkan kepengurusan Lembaga Pemenangan Pemilu (LPP) PKB di Jakarta, Senin.

Gus Dur mengemukakan hal itu ketika diminta komentarnya tentang pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi agar partai-partai tak hanya bisa mengklaim sebagai "partai orang NU", namun benar-benar memperjuangkan aspirasi warga NU.

Asli Muhammadiyah

Sumber Antara melaporkan, dua partai yang sama-sama merasa dilahirkan NU adalah PKB dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang saat NU memperingati hari lahirnya ke-82 berlomba-lomba meraih simpati warga NU baik melalui pemasangan spanduk, baliho, maupun iklan di media massa.

PKB merasa sebagai "anak kandung" NU karena dilahirkan oleh ormas Islam itu semasa Gus Dur menjabat ketua umum pada 1998. Sedangkan PPP lahir dari fusi empat partai Islam, di antaranya Partai NU, pada tahun 70-an.

Gus Dur sama sekali tidak gusar dengan peringatan Hasyim agar partai yang mengatasnamakan "partai NU" benar-benar menunjukkan "dharma bhaktinya" sehingga bisa memperoleh dukungan warga NU.

Sebab, Gus Dur mengaku telah berkeliling ke banyak tempat, termasuk ke daerah yang menjadi kantong NU, dan ia tahu dukungan pada PKB masih besar.

Sebelumnya, seperti diberitakan Asli Muhammadiyah, pada puncak peringatan Hari Lahir ke-82 Nahdlatul Ulama (NU) di Gelora Bung Karno, Jakarta, Ahad (3/2) lalu, Ketua Umum PBNU KH Hasyim mengingatkan kepada sejumlah partai politik (parpol) yang mengklaim memiliki basis massa pendukung warga NU.

"Kepada parpol-parpol yang berebut klaim, warga NU butuh amal kongkretnya, apakah amal saleh atau tidak. Jangan hanya mengklaim," ujar Hasyim. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah News, Quote, Anti Hoax Asli Muhammadiyah

Sabtu, 09 September 2017

Prodi Unggulan di Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Utara (UNUSU)

Medan, Asli Muhammadiyah. Universitas Nahadlatul Ulama Sumatera Utara (UNUSU) telah diresmikan pada kegiatan Pra-Muktamar di Pesantren al-Kautsar al-Akbar, Medan oleh Ketum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Siroj. Pada kesempatan itu, Kiai Said juga melantik Prof Dr Ahmad Rafiki Tantawi sebagai Rektor UNUSU periode 2015-2020.

Prodi Unggulan di Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Utara (UNUSU) (Sumber Gambar : Nu Online)
Prodi Unggulan di Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Utara (UNUSU) (Sumber Gambar : Nu Online)

Prodi Unggulan di Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Utara (UNUSU)

“Walaupun baru berdiri dan diresmikan, kami bergerak cepat membuat program-program unggulan, tak terkecuali pada aspek program studinya,” ujar Wakil Rektor II UNUSU, Drs H Takbir Siregar, M HA saat diwawancarai Asli Muhammadiyah di sela-sela kegiatan Pra-Muktamar, Ahad (17/5).

Dia menerangkan, ada 5 Fakultas dengan berbagai program studi (Prodi) unggulan. Di antaranya, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dengan Prodi Pendidikan Agama Islam (S1). Lalu Fakultas Pertanian dengan Prodi Budidaya Pertanian (S1), Ilmu dan Teknologi Pangan (S1), dan Agribisnis (S1).

Asli Muhammadiyah

“Kemudian Fakultas Ilmu Kesehatan dengan Prodi Gizi (S1), dan Analis Kesehatan (D3). Lalu Fakultas Ekonomi dengan Prodi Manajemen (S1), dan Fakultas Ilmu Komputer dengan Prodi Ilmu Komputer (S1), Sistem Informasi (S1), dan Teknik Informatika (S1),” imbuhnya.

Lebih jauh, Siregar menjelaskan, bahwa sesungguhnya UNU Sumatera Utara sudah ada pada tahun 1965-1975. Ketika itu rektornya seorang kiai. Kemudian, lanjut dia, setelah kiai tersebut meninggal dunia, kepemimpinan UNUSU saat berganti dan memunculkan orientasi lain.

Asli Muhammadiyah

“Dengan tidak adanya kepemimpinan orang-orang pesantren di situ, akhirnya pemerintah mengambil alih dan UNUSU berubah menjadi IAIN yang kini sudah bertransformasi menjadi UIN Sumut,” paparnya.

Dari sejarah itulah, tambahnya, kader-kader NU Sumut tergerak mengembalikan UNUSU agar eksis kembali di tanah Sumut. “Dengan dukungan berbagai pihak terutama PBNU, alhamdulillah UNUSU telah berdiri kembali,” tandasnya.?

Kampus UNUSU berada di Jl Perjuangan No 215 Tj Selamat, Sunggal, Deli Serdang dan Kampus II Jl HA Manaf Lubis/Gaperta Ujung No 2 Helvetia, Medan. Adapun websitenya yaitu www.unusu.ac.id dan alamat emailnya, unu.su@yahoo.com. UNUSU mempunyai misi Membangun Insan Intelektual Berbasis Kompetensi dan Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah dengan slogan Aswaja, Recognized, University. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Santri, Budaya Asli Muhammadiyah

Rabu, 22 November 2017

Mewarisi Semangat Pahlawan Santri

Malang, Asli Muhammadiyah. Selama ini perjuangan para kiai-santri tidak mendapat ruang dalam narasi sejarah kebangsaan. Buku-buku sejarah yang ditulis oleh akademisi, tidak memihak pada sejarah pergerakan komunitas santri. Itulah yang mengilhami Munawir Aziz, Wakil Sekretaris Lembaga Talif wan Nasyr (LTN) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk menulis buku tentang kisah-kisah perjuangan para pahlawan dari pesantren.

Mewarisi Semangat Pahlawan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Mewarisi Semangat Pahlawan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Mewarisi Semangat Pahlawan Santri

Narasi ini tercermin dalam bedah buku Pahlawan Santri yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang, Rabu (5/10) di Perpustakaan Universitas Negeri Malang. Bedah buku ini menghadirkan Munawir Aziz (periset dan penulis buku) dan Joko Saryono (Guru Besar Universitas Negeri Malang).

Munawir Aziz mengungkapkan bahwa sudah saatnya sejarah pesantren mendapat ruang dalam narasi sejarah di negeri ini. "Momentum penetapan Hari Santri, pada 22 Oktober 2016 lalu menjadi refleksi yang tepat untuk menjelaskan posisi santri dalam perjuangan kebangsaan," ungkap Munawir. Penulis buku ini, menjelaskan bahwa menulis sejarah santri, berarti mengokohkan identitas, menguatkan mental dan konstruksi komunitas.

"22 Oktober 1945 merupakan titik sejarah Resolusi Jihad, yang digelorakan Kiai Hasyim Asyari. Resolusi Jihad inilah yang menggerakkan perjuangan arek-arek Jawa Timur, pada 10 November 1945, yang dikenal sebagai Hari Pahlawan," terang Munawir, yang telah beberapa buku bertema Islam Nusantara.

Asli Muhammadiyah

Pada sisi lain, Munawir mengungkapkan ? bahwa sosok-sosok kiai yang menjadi simpul perjuangan kemerdekaan, layak disebut sebagai pahlawan. "Banyak sekali kiai yang layak disebut sebagai pahlawan bangsa. Mereka menjadi simpul perjuangan kebangsaan dari Aceh, hingga kawasan Indonesia timur.

Prof Joko Saryono menambahkan bahwa status pahlawan yang dibutuhkan adalah legitimasi. "Memang secara formal administratif, ada beberapa hal yang menjadi syarat tokoh layak dianugrahi gelar pahlawan. Namun, bagi saya, yang paling penting adalah legitimasi bagi para tokoh sebagai pahlawan bagi masyarakatnya. Apa artinya gelar tanpa legitimasi," jelas Joko Saryono.

Asli Muhammadiyah

Lebih lanjut, Saryono mengungkapkan bahwa narasi dalam buku Pahlawan Santri, menjelaskan tentang suara-suara kaum santri, dalam konsep the others atau liyan. "Penting untuk menyuarakan aspirasi komunitas santri, dalam lingkup sebagai the Others/Liyan. Senada dengan gagasan pasca kolonial yang dikembangkan Spivak," ungkap Saryono.

Bedah buku Pahlawan Santri merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Nahdlatul Ulama dan komunitas pesantren dalam rangka Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2016. (Muiz/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Olahraga, Sholawat Asli Muhammadiyah

Kamis, 28 Desember 2017

IPNU-IPPNU Tasikmalaya Kerahkan Anggota Sambut Kirab Resolusi Jihad

Tasikmalaya, Asli Muhammadiyah. Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU)Kota Tasikmalaya, mengerahkan seluruh kader dan anggotanya untuk menyambut para peserta Kirab Resolusi Jihad Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rabu (19/10).

Acara penyambutan ini bertempat didepan Kantor PC NU Kota Tasikmalaya di jalan Dr. Soekardjo Nomor 47. Selaian para anggota dan kader IPNU IPPNU se-Kota Tasikmalaya, para pengurus pun diwajibkan hadir pada acara tersebut. Mulai dari Pengurus Cabang, Anak Cabang, Ranting dan Komisariat se-Kota Tasikmalaya.

IPNU-IPPNU Tasikmalaya Kerahkan Anggota Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Tasikmalaya Kerahkan Anggota Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Tasikmalaya Kerahkan Anggota Sambut Kirab Resolusi Jihad

Dengan mengerahkan semua anggota, kader dan pengurusnya untuk menyambut peserta kirab, IPNU IPPNU harus menjadi lapisan terdepan untuk semua kegiatan-kegiatan yang berbaur NU.

Menurut ? Ketua PC IPNU Kota Tasikmalaya, Saepul Malik, ia sangat bangga dan senang menyambut peserta Kirab Resolusi Jihad Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), disisi lain sebagai Anak dari NU, IPNU juga harus menjadi garda terdepan ketika ada acara-acara NU, karena biarkan IPNU yang terjun ke lapangan dengan basah-basahan demi keberlangsungan dan kebesaran NU.

Asli Muhammadiyah

“NU merupakan orang tua kita yang harus kita takdzimi dan kita hormati, biarkan IPNU cape terjun ke lapangan sehingga kecapean tersebut menjadikan spirit kita untuk tetap istiqomah mengabdi di organisasi tercinta ini yaitu NU,” tambah Saepul.

Ia juga mengingatkan semua anggota, kader dan pengurus IPNU baik di PAC, PR dan PK, harus kompak dalam mengawal dan menyukseskan serta ikut terjun dan berpasrtisipasi dalam semua acara-acara NU demi kemaslahatan dan kebesaran NU. (Agum Gumilar/Fathoni)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Warta, Amalan Asli Muhammadiyah

Sabtu, 30 Desember 2017

Prihatin Kekeringan, Ketua PWNU Jabar Serukan Shalat Istisqa’

Garut, Asli Muhammadiyah. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat H Eman Suryaman menyerukan agar masyarakat di Jawa Barat pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya untuk melaksanakan shalat Istisqa’.

Hal itu disampaikan saat acara Halal Bihalal Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Garut, Jawa Barat, Kamis (23/7).

Prihatin Kekeringan, Ketua PWNU Jabar Serukan Shalat Istisqa’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Prihatin Kekeringan, Ketua PWNU Jabar Serukan Shalat Istisqa’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Prihatin Kekeringan, Ketua PWNU Jabar Serukan Shalat Istisqa’

"Saya berkeliling di daerah-daerah Jawa Barat. Selama ini banyak mendengar dan melihat banyak tanah kering karena tidak adanya hujan yang cukup panjang. Para petani sulit memulai bercocok tanam, situasi panas membuat aktivitas kerja juga tidak optimal," jelasnya.

Asli Muhammadiyah

Atas dasar itu, Eman menyerukan kepada seluruh para pengurus Nahdlatul Ulama baik dari tingkat wilayah, cabang di kabupaten dan kota, hingga pengurus Ranting Nahdlatul Ulama untuk mengadakan shalat Istisqa’ di masing-masing tempat.

"Kita berdoa kepada Allah Swt agar berkenan menurunkan hujan dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, terutama para petani yang sangat membutuhkan kuncuran berkah dari air hujan," ujarnya berharap.

Asli Muhammadiyah

Sedikit menjelaskan pentingnya shalat Istisqa, Eman memaparkan bahwa benar urusan hujan merupakan hukum alam terkait dengan awan, air, angin dan seterusnya. Sebagai orang Islam yang meyakini dibalik hukum kausalitas/sebab-akibat, Eman berpendapat, ada peranan sang pencipta yang bisa mengubah, mempercepat atau memperlambat proses geraknya. Dari situlah makna shalat dengan substansi permohonan melalui doa, dilakukan sebagai ikhtiar bersama.

Mengutip ayat Al-Quran Surat Al-Nuur, Ayat 43, Eman menyampaikan, bahwa Allah memiliki peranan dalam pengaturan antara awan, air, gunung, laut dan seterusnya.

"....Tidaklah kamu melihat bahwa Allah (mengarak dengan perlahan-lahan) partikel awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan...."

Dengan penuh harap kepada Allah, Eman Suryaman mengajak kebersamaan umat Islam untuk menyampaikan hal tersebut. Seruan Ketua PWNU Jawa Barat ini pada hari yang sama juga sudah disampaikan oleh Eman Suryaman kepada Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan pada hari yang sama di Bandung di tengah pertemuan Halal Bihalal. (Yus Makmun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Tegal, Kyai, Ubudiyah Asli Muhammadiyah

Jumat, 30 Oktober 2015

Nahdlatul Ulama dan Institutional Building

Oleh M. Misbahus Salam

--Di dalam tubuh NU ada istilah "jam’iyah" dan "jama’ah". Keduanya merupakan kekuatan tersendiri bagi NU. Jam’iyah adalah orang yang bergambung dalam struktur NU, sedangkan Jama’ah adalah orang yang yang secara cultur mengikuti ajaran dan amaliah yang dilakukan oleh Ulama-Ulama NU.

Dalam sejarah NU, urusan pembinaan dan pengelolaannya sebagai Jam’iyah dan Jama’ah telah mengalami beberapa periode. Periode ini ditulis oleh saksi sejarah dan santri dari Hadaratus syekh KH. Hasyim Asy’ari yaitu KH. Abdul Muhith Muzadi dengan judul Pengelolaan NU sebagai Jam’iyah dan Jama’ah. 

Nahdlatul Ulama dan Institutional Building (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdlatul Ulama dan Institutional Building (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdlatul Ulama dan Institutional Building

Kiai Muhith menuturkan bahwa ada beberapa periode ;pertama ; Mulai berdirinya sampai awal dasawarsa 1930-an, NU dikelola secara sederhana sekali oleh para ulama dengan bantuan beberapa orang yang mengerti dan dapat mengerjakan urusan organisasi dan administrasi seperlunya. Para pembantu inilah yang kemudian berkembang menjadi “Tanfidziah”. Dapat dibayangkan bahwa pembinaan bidang organisasi dan administrasi masih lemah dan sederhana. Meskipun sederhana tapi tertib.  

Kedua ; pada pertengahan 1930-an dengan tampilnya beberapa tenaga baru didalam kepengurusan NU, maka pengelolaan NU sebagai jam’iyah terasa ada paningkatan seperti tergambar pada penjelasan tersebut di atas, yaitu pasa zaman kepemimpinan almarhum KH. Machfudz Shiddiq sebagai ketua PB NU dan almarhum H. Aziz Dijar sebagai sekertaris  jendral (dahulu namanya Voorzitter dan Algemeen secretaries).  

Ketiga; Pada zaman panjajahan Jepang, sama sekali tidak dapat dilakukan pembinaan organisatoris administratif (jam’iyah), hanya dapat dilakukan pembinaan NU secara jama’ah.

Asli Muhammadiyah

Keempat; Pada zaman refolusi fisik, NU juga tidak sempat melakukan pembinaan organisatoris administratif secara intensif, karena kesibukan perjuangan bersenjata.

Kelima ; Sesudah refolusi fisik selesai (dasawarsa 1950-an), NU berusaha membenahi diri, terutama menampilkan kembali eksistensinya setelah bertahun-tahun “tenggelam” ditelan Jepang, ditelan refolusi dan terakhir dalam Masyumi. NU berhasil menampilkan eksistensinya secara mengagumkan, menjadi partai ketiga dari empat besar. Tetapi NU kemudian terlihat didalam politik praktis yang berlebihan, sekaligus juga pertentangan terus menerus, sehingga pembinaan internal (organisatoris, administratif dan idiologis) terbengkalai lagi.

Keenam; Sesudah memfusikan fungsi politiknya didalam PPP, sekali lagi NU terlihat didalam politik praktis yang berlebihan, dan sekaligus pertentangan terus menerus, sehingga tetap saja pembinaan organisatoris administratif terbengkelai lagi.

Ketujuh ; Sesudah kembali kepada khittahnya, NU rupanya belum juga sempat secara serius dan intensif melakukan “pembinaan” dibidang perubahan wawasan. Itupun masih mengalami banyak hambatan, yang sebagian merupakan akibat dari lemahnya pembinaan administrasi organisasi, kelemahan pembinaan NU sebagai jam’iyah. Tapi dengan masuknya kalangan akademisi kepengurusan NU, secara bertahap dapat  melakukan juga penguatan organisasi melalui perbaikan administrasi dan manajemen organisasi.

Pengelolaan NU secara organisatoris sangat nampak pada era kepemimpinan Gus Dur, dan saat Gus Dur jadi Presiden. NU berkembang dengan pengelolaan dan penataan manajemen modern, kantor-kator NU berdiri hingga ke tingkat Cabang, MWC dan Ranting. Lembaga dan Lajnah serta badan otonom NU berjalan sesuai dengan perencanaan program masing-masing. PBNU pun memiliki kantor yang cukup megah dengan perangkat Informasi dan tehnologi berupa Asli Muhammadiyah.

Asli Muhammadiyah

Umat NU  saat ini sangat mendambakan peran-peran struktur di NU (Mustasyar, Syuriyah, Tanfdziyah, Lembaga dan lajnah) berjalan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Rekrutmen pengurus NU yang akan datang tentu tidak hanya yang ahli dalam ilmu fiqh dan tashawwuf, tapi perlu orang-orang yang memiliki keahlian dalam bidang-bidang tertentu sesuai dengan kebutuhan kondisi masyarakat. Program-program NU tidak hanya menggantungkan diri pada Rais Am dan Ketua Umum, pengurus yang lain harus bergerak sesuai dengan pembagian bidangnya masing-masing.  

Dalam kondisi NU sekarang yang sedang menghadapi berbagai tantangan antara lain; merebaknya ideologi yang bertentangan dengan ideologi NU, baik di bidang aqidah, syari’ah, maupun dalam konteks kenegaraan Republik Indonesia, adanya pasar bebas yang membutuhkan kemampuan ilmu ekonomi dan SDM, melemahnya peran-peran NU ditingkat nasional maupun internasional, dan krisis kepercayaan ummat pada para pemimpin, maka NU harus memperkuat institusional building, membangun NU secara organisatoris, bukan berfikir pada personal tokoh siapa yang akan menjadi Rais Am dan ketua Umum NU. Jika berfikirnya berangkat dari personal tokoh justru akan terjadi konflik kepentingan yang tidak menguntungkan NU. Era sekarang ini tentu sudah berbeda dengan dua puluh tahun yang lalu, Pengurus Cabang, MWC dan Ranting sudah banyak yang berpendidikan tinggi. Mereka sudah bisa menilai dengan mata hati mereka siapa yang sungguh-sungguh berjuang di NU dan siapa yang pantas memimpin NU.

Termasuk terjadinya tarik ulur perdebatan tentang konsep Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar yang akan datang,  para pengurus NU di bawah sangat paham apakah itu sebuah rekayasa atau bukan.  Wallahu a’lam bishawab.

 

HM. Misbahus Salam, alumni Pondok Pesatren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, Pengasuh Yayasan Raudlah Darus Salam Sukorejo Bangsalsari Jember dan Wakil Ketua PCNU Jember

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Tokoh, Sejarah, Doa Asli Muhammadiyah

Kamis, 21 Desember 2017

Umat Bertanya, NU Jatim Menjawab

Kebangkitan masyarakat terhadap kesadaran beragama di abad ini cenderung meningkat, baik dalam aspek hukum, sosial budaya, politik, ekonomi, maupun pendidikan. Namun di balik kebangkitan tersebut menyisakan keprihatinan tersendiri, sebab kebangkitan agama oleh sebagian umat mengarah kepada pemahaman syariat secara tekstual dan literal, yakni merujuk langsung kepada teks al-Qur’an dan al-Hadis tanpa merujuk kepada kitab-kitab karya ulama yang otoritatif di bidangnya, sehingga berpotensi memunculkan pemahaman yang keliru. Lebih memprihatinkan lagi, dengan semakin familiarnya umat Islam dengan internet, masyarakat banyak merujuk “fatwa-fatwa” yang tidak jelas sumbernya. Tentu saja fenomena ini dapat mereduksi hakikat syariat Islam dan berakibat sesatnya umat.

Melihat fenomena di atas, ulama, santri serta cendekiawan muslim baik perorangan maupun melalui lembaga dituntut untuk responsif dan senantiasa pro aktif menampung serta mencarikan solusi dari setiap permasalahan yang timbul di tengah-tengah masyarakat dengan metode dan strategi yang tepat, sehingga kebangkitan kesadaran ber-Islam berbanding lurus dengan pemahaman Islam yang sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah pengikut ajaran ulama salafus shalih.

Umat Bertanya, NU Jatim Menjawab (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Bertanya, NU Jatim Menjawab (Sumber Gambar : Nu Online)

Umat Bertanya, NU Jatim Menjawab

Adalah Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PWNU Jatim, sebagai lembaga yang berkutat dalam ranah pengambilan keputusan tentang hukum-hukum Islam, baik yang terkait dengan permasalahan bidang akidah, masa’il fiqhiyyah, maupun tasawuf, menerbitkan dua jilid buku kumpulan hasil Bahtsul Masa’il. Jilid kesatu hasil Bahtsul Masa’il tahun 1979- 2009, sedangkan jilid kedua mulai 2009-2014 M. Isi buku jilid kesatu memuat kategori keputusan Bahtsul Masail waqi’iyah (faktual) saja, sedangkan jilid kedua selain memuat keputusan hukum waqi’iyyah, juga berisi hasil keputusan hukum maudhu’iyyah (tematik) dan qanuniyyah (perundang-undangan).

Asli Muhammadiyah

Hadirnya buku hasil Bahtsul Masail ini menjadi obat kerinduan semua fihak terhadap dokumen rumusan hukum Islam aktual yang akurat dan mu’tamad ala Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyyah yang merujuk kepada kutubul mu’tabarah. Sehingga masyarakat selain mudah dalam mencari jawaban hukum atas setiap permasalahan yang dihadapi, begitu juga buku ini sebagai alternatif pilihan yang dapat menyelamatkan umat Islam dari bahaya mengikuti “fatwa-‘fatwa” liar di luar arus utama Ahlussunnah Waljamaah, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Terkait dengan tema pembahasan, hampir seluruh aspek permasalahan umat terekam dalam buku ini. Buku satu berisi 19 tema meliputi akidah dan fikih madzhab, fikih taharah, shalat, al-Qur’an, doa dan bacaan, fikih jenazah dan kuburan, fikih zakat, puasa, haji dan umrah, muamalah, wakaf dan fasilitas umum, munakahat, akhlaq dan pendidikan, fikih makanan, medis, warisan, sosial, seni dan budaya, yustisi (peradilan) serta fikih siyasah politik kenegaraan dan kebangsaan. Buku kedua berisi 18 tema, yakni akidah dan fikih madzhab, fikih thaharah, shalat, bacaan al-Qur’an, fikih jenazah, zakat, haji dan umrah, fikih muamalah, wakaf dan fasilitas umum, fikih munakahat, akhlaq dan fikih tarbiyah, fikih makanan, medis, wasiat, sosial, seni budaya, yustisi (peradilan), serta fikih siyasah.

Asli Muhammadiyah

Menjawab Polemik Konsep Khilafah

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang memberikan kontribusi besar terhadap terbentuknya negara Indonesia, sekaligus menjadi penyokong utama absahnya konsep kebangsaan menurut perpektif syari’at Islam, dewasa mendapatkan tantangan besar dengan masuknya ide-ide Islam transnasional yang menggembar-gemborkan konsep khilafah dan memperjuangkan berlakunya syari’at Islam di bumi Indonesia. Kelompok Islam transnasional ini secara vulgar menolak konsep nasionalisme Indonesia karena dianggap tidak sesuai dengan konsep yang diajarkan Nabi Muhammad Saw.

Dalam menjawab polemik konsep khilafah dan formalisasi syariat ini, LBM NU Jatim menguraikan dalam buku jilid I halaman 706. Menurut keputusan musyawirin bahwa konsep khilafah dalam ketatanegaraan Islam tidak terdapat pijakan dalil nash, karena keberadaan sistem khilafah adalah bentuk ijtihadiyah. Sehingga hukum mengubah bentuk negara Indonesia dengan bentuk yang lain sebagaimana khilafah hukumnya tidak boleh selama akan menimbulkan mafsadah yang lebih besar. Sedangkan upaya mengubah dasar hukum negara diperbolehkan dengan syarat dengan menggunakan cara yang konstitusional. Dalam upaya penerapan syariat di Indonesia tepat jika digunakan dengan strategi tadrij (gradual).

Menjawab Polemik Konsep Salaf

Nahdlatul Ulama sebagai pengamal dan pengawal ideologi Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia juga mendapatkan resistensi begitu kuat dari faham-faham keagamaan yang mengklaim pengikut ulama salaf dan kemudian mendefiniskan dirinya sebagai kelompok Salafi. Kelompok ini berslogan mengembalikan pemahaman umat Islam kepada Al-Qur’an dan Hadis, sehingga amaliyah Nahdlatul Ulama yang mengikuti pemikiran ulama madzhab dianggap jauh dari perilaku ulama salaf. Untuk menyikapi hal tersebut, LBM NU Jatim dalam buku ini memberikan panduan yang tepat dalam berakidah. Dalam jilid I halaman 594 dijelaskan bahwa Islam memiliki tiga aspek yang dalam hal ini didasarkan kepada hadis Nabi saw. dari jalur riwayat Umar bin Khattab ra., yakni konsep Iman yang kemudian dielaborasi dalam ilmu tauhid, yang kedua aspek Islam yang kemudian direpresentasikan dalam ilmu fikih, serta aspek Ihsan yang kemudian tererabolari dalam ilmu tasawuf.

Dari tiga konsep ini, Ahlussunnah Waljamaah menyandarkan pada rumusan delapan Imam, yakni dalam ilmu tauhid berpegangan kepada Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi, dalam ilmu fikih bersandar pada Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali, sedangkan dalam ilmu tasawuf berpijak kepada pemikiran Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali.

Diharapkan dengan hadirnya buku himpunan hasil Bahtsul Masa’il LBM PWNU Jatim ini bisa memberikan panduan kepada umat Islam. Tentu saja hasil Bahtsul Masa’il ini telah melalui proses diskusi yang panjang dan melibatkan para pakar fikih yang kapabel dan kredibel dalam lingkungan Nahdlatul Ulama Jawa Timur. Keputusan yang disepakati dalam buku ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, sehingga sangat sangat layak dijadikan solusi bersyari’at, apalagi di tengah-tengah bermunculannya fatwa-fatwa perorangan maupun lembaga keagamaan di luar Ahlussunnah wal Jamaah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Judul : NU Menjawab Problematika Umat; Keputusan Bahtsul Masa’il PWNU Jawa Timur. Jilid I: 1979-2009 M. Jilid II: 2009-20014 M.

Penyusun: TIM PW LBM NU Jatim

Penerbit: PW LBM NU Jatim

Hal: jilid I; xxix + 936. Jilid II; xxi +850.

ISBN: 978-602-97112-9-5

Peresensi: Fathul Qodir (Pegiat Aswaja NU Jatim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Budaya, Pemurnian Aqidah Asli Muhammadiyah

Sabtu, 07 Oktober 2017

IPNU dan IPNNU Sulsel Dilantik

Makassar,Asli Muhammadiyah. Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan PW Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) provinsi Sulawesi Selatan periode 2016-2018 dilantik pada Rabu, 7 Desember 2016 di Auditorium KH. Muhyiddin Zain Universitas Islam Makassar.

Pada kesempatan tersebut turut dilantik Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU kabupaten Takalar, Bulukumba dan Bantaeng. Pelantikan dilakukan Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Anre Gurutta KH Sanusi Baco.

IPNU dan IPNNU Sulsel Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU dan IPNNU Sulsel Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU dan IPNNU Sulsel Dilantik

Ketua PW IPNU Sulsel Andy Muhammad Idris dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada seluruh keluarga besar NU yang hadir, kegiatan ini menjadi ajang silaturrahim warga Nahdliyyin untuk pengembangan Badan Otonom (Banom) NU.

Asli Muhammadiyah

Sekretaris PWNU Sulsel Prof. Arfin berpesan agar kader IPNU-IPPNU dapat kembali ke mesjid dan pesantren sebagai basis NU.

Wakil Gubernur Sulsel Ir. H. Agus Arifin Nu’mang mengungkapkan bahwa IPNU-IPPNU merupakan wadah bagi kader-kader NU dan diharapkan ke depan dapat mempersiapkan sumber daya manusia yang berkulalitas khususnya di Sulawesi Selatan.

“Di era sekarang merupakan era persaingan, IPNU-IPPNU diharapkan mampu menyiapkan program-program peningkatan diri bagi kadernya serta bermanfaat bagi masyarakat,” ujar pembina IPNU Sulsel tersebut.

Asli Muhammadiyah

Anre Gurutta Sanusi Baco dalam tausiahnya berpesan bahwa pengurus IPNU-IPPNU mendapat amanah baru dan dapat menjaga dan memelihara amanah tersebut.

Wakil Ketua Umum IPNU Muh. Ramli mengatakan, setiap periode kepengurusan mempunyai tantangan yang berbeda. Oleh karena itu, IPNU-IPPNU yang baru dilantik tersebut diharapkan mampu mengatasi tantangan tersebut sesuai dengan tuntutan zaman.

Tampak hadir pada pelantikan tersbeut, Rektor Universitas Islam Makassar yang juga Ketua Muslimat NU Sulsel Dr. Ir. Hj. A. Majdah M Zain, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sulsel, Wakil Rektor II UIM Dr. Saripuddin Muddin, Dekan FKIP UIM Dr. H. M. Arfah Shiddiq, Dekan Fakultas Pertanian Dr. Lasumange, Ketua Pagar Nusa Sulsel Drs. H. M. Said, Wakil Dekan III Fak. MIPA H. Yasnidar Yasir, dan beberapa pengurus Badan Otonom (BANOM) NU serta pejabat struktural lingkup UIM. (Muh. Nur/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Aswaja, Meme Islam Asli Muhammadiyah

Senin, 12 September 2011

Raih Lailatul Qodar dengan Lailatul Ijtima

Sidoarjo,Asli Muhammadiyah ? . Sekitar 500 jamaah dan sejumlah pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur menunaikan ibadah shalat tahajud, shalat tasbih dan shalat hajat. Kegiatan ini mereka lakukan di masjid setempat untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT melalui malam Lailatul Qodar atau malam seribu bulan pada malam 21 Ramadhan.

Raih Lailatul Qodar dengan Lailatul Ijtima (Sumber Gambar : Nu Online)
Raih Lailatul Qodar dengan Lailatul Ijtima (Sumber Gambar : Nu Online)

Raih Lailatul Qodar dengan Lailatul Ijtima

"Para jamaah menunaikan shalat tasbih yang dilakukan dengan empat rakaat dua salaman, shalat Hajad dan Tahajud dilakukan dua rakaat satu salaman. Semoga para pengurus bangkit dan tetap semangat untuk ibadah kepada Allah. Kami juga mangajak taqorrub dengan membaca istighfar kepada Allah agar segala permasalahan kita diberikan jalan keluarnya," kata Ketua MWCNU Jabon, Ahmad Kuzaemi, Sabtu (25/6).

Kuzaemi menuturkan, keutamaan shalat tasbih sendiri sangat banyak manfaatnya. Salah satunya, barangsiapa yang mau melakukan dengan istiqomah akan diberikan jalan keluar dan akan diberikan kemudahan di dunia. Sedangkan keutamaan dari shalat hajat dan tahajud akan mendapatkan berkah dari Allah SWT.

Asli Muhammadiyah

Meski bukan bulan Ramadhan, sambung Kuzaemi, warga Nahdliyin di wilayahnya sudah terbiasa menunaikan ibadah shalat tersebut. Tak hanya itu saja, warga Nahdliyin pada setiap malam satu, tiga, lima dan tujuh juga mengadakan Khotmil Quran yang diadakan di masjid-masjid.

"Lailatul Ijtima ini sudah menjadi amaliyah pendiri NU. Bahkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama juga pernah berpesan untuk menggerakkan Lailatul Ijtima. Hanya Nahdlatul Ulama yang mempunyai kegiatan batin yang bisa mencarikan jalan keluar di berbagai problem lewat Lailatul Ijtima.? Kami juga memberikan dorongan dan motivasi kepada jajaran ranting untuk bangkit di dalam Lailatul Ijtima," tegasnya. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pendidikan Asli Muhammadiyah

Senin, 03 Januari 2011

NU dan Kebangkitan Nasional

Oleh Fathoni Ahmad

Dalam sejarah pergerakan nasional, tidak ada yang memungkiri bahwa kebangkitan bangsa Indonesia dari belenggu kolonialisme erat korelasinya dengan peran generasi muda. Sebab itu, kesadaran demikian harus tertanam kuat pada diri para anak bangsa untuk memajukan Indonesia setelah para orang tua dulu berhasil membangkitkan sendi-sendi nasionalisme melalui perjuangan dengan taruhan jiwa dan raga. Paradigma ini bila perlu diinternalisasikan ke alam bawah sadar sehingga setiap ancaman apapun yang berpotensi memecah belah persatuan dan sikap nasionalisme secara otomatis tertolak pada diri generasi muda sebagai tulang punggung eksistensi kemajuan bangsa dan negara.Kebangkitan Nasional perlu diarahkan pada tantangan-tantangan yang terkait nasionalisme. Semangat inilah yang terus dijaga oleh Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial kegamaan (jam’iyyah diniyyah ijtima’iyah) terbesar di Indonesia bahkan pada level dunia dengan terus memberdayakan generasi muda melalui wadah pelajar maupun pemuda. Di titik inilah perjuangan NU hingga kini tidak hanya bergerak sebagai organisasi keagamaan, melainkan memperkuat basis sosial kemasyarakatan sehingga tercipta bangsa dan negara yang kokoh seperti yang telah dilakukan oleh para ulama pendirinya.

NU yang direpresentasikan oleh kalangan pesantren mampu melahirkan sebuah pergerakan nasional di mana para santri atau golongan muda saat itu berkomitmen memperkuat diri demi melepaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan. Peran kalangan dan ulama pesantren begitu nyata dalam membangun pondasi kekuatan bangsa secara embrionik melalui perkumpulan para pemuda dengan komitmen cinta tanah air yang berhasil dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah beberapa tahun setelah dr Soetomo mendirikan organisasi pemuda bernama Budi Oetomo pada 20 Mei 1908 sebagai titik pijak kebangkitan nasional.

NU dan Kebangkitan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Kebangkitan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Kebangkitan Nasional

Semangat Abdul Wahab muda sekitar tahun 1914 setelah pulang dari menuntut ilmu di Mekkah merasa tidak bisa memaksimalkan seluruh kemampuan berpikir dan bergeraknya saat menjadi salah satu bagian dari Syarikat Islam (SI) dengan tokoh utamanya Haji Oemar Said Tjokroaminoto (1883-1934 M). Kiai Wahab merasa tidak puas jika belum mendirikan organisasi sendiri. Karena dalam pandangannya, SI terlalu mengutamakan kegiatan politik, sedangkan dirinya menginginkan tumbuhnya nasionalisme di kalangan pemuda melalui kegiatan pendidikan.

Singkatnya pada tahun 1916, KH Wahab Chasbullah berhasil mendirikan perguruan Nahdlatul Wathan dengan bantuan beberapa kiai lain dengan dirinya menjabat sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan). Sejak saat itulah Nahdlatul Wathan dijadikan markas penggemblengan para pemuda. Mereka dididik untuk menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air. Bahkan setiap hendak dimulai kegiatan belajar, para murid diharuskan terlebih dahulu menyayikan lagu perjuangan dalam bahasa Arab yang kini populer, yakni? Yalal Wathan yang juga dikenal dengan judul Syubbanul Wathan.

Semangat nasionalisme Kiai Wahab yang berusaha terus diwujudkan melalui wadah pendidikan juga turut serta melahirkan organisasi produktif seperti Tashwirul Afkar. Selain itu, terlibatnya Kiai Wahab di berbagai organisasi pemuda seperti Indonesische Studieclub, Syubbanul Wathan (pemuda cinta tanah air), dan kursus masail diniyyah bagi para ulama muda pembela madzhab tidak lepas dari kerangka tujuan utamanya, yakni membangun semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang sedang terjajah. Kiai Wahab telah membuktikan diri bahwa internalisasi semangat nasionalisme sangat efektif diwujudkan melalui ranah pendidikan. Hal ini dilakukan dengan masif di berbagai pesantren sehingga peran kalangan pesantren sendiri diakui oleh dr Soetomo (Bung Tomo) sebagai lembaga yang sangat berperan dalam membangun keilmuan yang kokoh bagi bangsa Indonesia sekaligus dalam pergerakan nasional untuk mewujudkan kemerdekaan.

Dalam salah satu sumber historis, Bung Tomo berkata: “Sebelum gopermen Hindia Belanda membuka sekolahnja, pada waktoe itoe, pesantrenlah jang mendjadi soember pengetahoean, mendjadi mata air ilmoe bagi bangsa kita boelat-boelatnja”. ? Selain itu dia juga memberikan pernyataan jelas terkait nasionalisme yang terus dibangun oleh kalangan pesantren. Bung Tomo berkata: “Pesantren adalah konservatorium nasionalisme dan patriotisme Indonesia. Andai tidak ada pesantren, andai kata tokoh-tokoh Indonesia hanya mendapatkan pendidikan Barat, kiranya sulit mengajak mereka untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.”?

Asli Muhammadiyah

Semacam testimoni dr Soetomo tersebut bukan isapan jempol belaka. Tokoh-tokoh ulama dan kiai tidak hanya menginspirasi kalangan pesantren, tetapi juga memberikan spirit (ruh) perjuangan kepada para tokoh nasional seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Jenderal Soedirman, Bung Tomo, dan lain sebagainya. Tokoh perjuangan dari kalangan nasionalis itu secara mantap menjadikan ulama sebagai pelabuhan berpikir dan bertindak dalam melakukan perjuangan kemerdekaan saat itu, terutama kepada KH Muhammada Hasyim Asy’ari yang kerap kali menjadi tempat meminta pendapat bagi para pemuda pergerakan nasional dalam melawan menjajah.?

Bahkan Kiai Hasyim Asy’ari merumuskan ‘dalil’ bahwa mencintai tanah air adalah sebagian dari iman, hubbul wathani minal iman yang berhasil membuat bangsa Indonesia tergerak untuk bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Artinya, memperjuangkan kemerdekaan rakyat dari belenggu penjajah sama dengan menegakkan agama. Karena di tanah air Indonesia yang merdeka inilah, nilai-nilai agama Islam bisa tumbuh dan berkembang.

Dari sekilas riwayat perjuangan para kiai dan kalangan pesantren di atas, telah membuktikan bahwa lahirnya NU pada tahun 1926 yang digagas para ulama Nusantara saat itu tidak hanya bertujuan membangun pondasi paham keagamaan yang kuat di tengah masyarakat dengan paham Islam yang moderat dan inklusif, tetapi juga didorong oleh semangat nasionalisme yang berusaha diterapkan kepada para pemuda melalui sistem pendidikan pesantren.

Asli Muhammadiyah

Tantangan generasi muda kini

Para bapak pendiri bangsa (founding fathers) telah berkorban jiwa dan raga demi memperjuangkan dan menegakkan kemerdekaan bagi bangsa dan negara Indonesia. Perjuangan yang bermula dengan memberdayakan para pemuda memberikan pelajaran bagi generasi muda sekarang bahwa kemajuan negeri yang telah 71 tahun merdeka ini ada di pundak para anak bangsa. Di titik inilah kebangkitan nasional yang telah lama direngkuh harus diwujudkan dengan berbagai macam kemajuan bangsa sehingga mewujudkan kesejahteraan dan keadilan.

Seorang dr Soetomo bersama perkumpulan dokter muda di STOVIA yang notabene sekolah Barat, justru tidak melunturkan rasa nasionalisme. Begitu juga dengan Soekarno, Hatta, dan beberapa tokoh nasionalis lain yang juga memperoleh pendidikan ala Barat. Mendapat pendidikan ala Barat justru membuat mereka berpikir bahwa kemajuan dan kebebasan yang serasa lezat didapat oleh Barat, juga berhak diperoleh bangsa Indonesia.?

Generasi muda bebas berkiprah dan memperoleh pendidikan di berbagai belahan dunia asal tidak alpa dengan kondisi bangsa dan tanah airnya. Berangkat dari pemikiran para founding fathers tersebut, anak bangsa baik di dalam maupun yang sedang mengenyam pendidikan di luar negeri hendaknya tidak membawa mental inlander dengan mengagung-agungkan kemajuan bangsa lain dengan mengolok-olok negerinya sendiri tanpa bergerak melakukan apapun. Justru kemajuan bangsa lain secara teknologi dan tatanan sosial-kemasyarakatan harus membuat mereka bergerak berupaya melakukan perubahan meskipun berawal dari lingkup masyarakat lokal.

Selain itu, potensi dan kekayaan Indonesia, baik dari sisi alam, budaya, tradisi, kearifan lokal, dan lain-lain harus mampu dimanfaatkan para generasi muda untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa di kancah dunia global. Apalagi dewasa ini banyak media yang dapat digunakan untuk mempromosikan pesona Indonesia kepada masyarakat internasional termasuk karakter Islam yang ramah, moderat, toleran, dan mau berbaur dengan berbagai bangsa yang kini sedang mengalami stigma negatif oleh sebagian masyarakat global karena aksi terorisme.

Di titik inilah penulis ingin menyampaikan secara gamblang tantangan nasionalisme yang banyak tereduksi pada diri para generasi muda Indonesia yang sebagian asyik dengan mental intoleransi dan paham radikal tanpa memahami harmoni persatuan bangsa Indonesia yang justru terbangun dari kemajemukan dengan tali ikat Pancasila. Tentu ironis dan miris ketika nasionalisme dibenturkan dengan keyakinan agama. Karena jelas para pendiri bangsa ini dapat menyatukan berbagai agama, suku, bangsa, dan lain-lain di tanah air dengan tali nasionalisme.?

Bangsa Indonesia patut prihatin ketika ada sebagian anak bangsa yang menolak hormat pada bendera Merah Putih dengan dalih syirik. Padahal para pahlawan bangsa ini bertaruh jiwa dan raga untuk dapat mengibarkan dwi tunggal tersebut. Tentu dengan logika sederhana saja ketika mereka juga menghormati orang tua, apakah hal itu berarti mereka juga menyembah orang tua? Tentu tidak, karena menghormati benda dan Tuhan ada caranya masing-masing. Jangan sampai dengan propaganda kelompok-kelompok tertentu dengan paham transnasional (bukan dari Indonesia) dibungkus agama yang jauh dari nilai-nilai Islam dan Pancasila membuat persatuan dan nasionalisme bangsa menjadi pudar. Jagalah agamamu, untuk Indonesiamu. Selamat Hari Kebangkitan Nasional!

Fathoni Ahmad, Pengajar di STAINU Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pendidikan, Warta, Halaqoh Asli Muhammadiyah