Tokoh


info Tokoh
Tokoh bahasa
Tokoh bahasa nasional
Tokoh bahasa indonesia
Tokoh belah bambu
Tokoh busuk
Tokoh berasal dari bahasa yunani yaitu
Tokoh belanda
Tokoh busuk sby
Tokoh berasal dari kata
Tokoh global
Tokoh gus dur
Tokoh golkar
Tokoh gender
Tokoh gorontalo
Tokoh global amerika serikat
habib Tokoh mp3
video Tokoh full
Tokoh gerakan non blok
rahasia Tokoh terbaru
Tokoh g 30 s pki
Tokoh konfrontasi
Tokoh kerajaan kutai
Tokoh kampus
Tokoh kerajaan majapahit
Tokoh kotor
Tokoh kerajaan tarumanegara
Tokoh kompasiana
Tokoh luar negeri indonesia
Tokoh luar negeri bebas aktif
Tokoh luar negeri indonesia adalah
Tokoh liberal
Tokoh yang membedakan warna kulit disebut
Tokoh yang dianut bangsa indonesia
Tokoh yang baik
Tokoh yahudi
Tokoh yang dianut bangsa indonesia adalah
Tokoh merupakan
Tokoh yaitu

Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri Tokoh. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri Tokoh. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Januari 2018

Gus Dur Siapkan Kuasa Hukum untuk Bela Republik Mimpi

Jakarta, Asli Muhammadiyah

Rencana pemerintah melalui Menteri Negara Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Sofjan Djalil yang melakukan somasi terhadap tayangan Republik Mimpi di Metro TV mendapat perlawanan dari mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bahkan Gus Dur sudah menyiapkan kuasa hukum dari DPP Partai Kebangkitan Bangsa untuk membela tayangan tersebut jika Sofjan Jalil serius melakukan somasi.

Demikian diungkapkan Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia Effendi Ghazali Effendi Ghazali kepada wartawan, usai mengunjungi Gus Dur yang sedang menjalani perawatan di Ruang Cenderawasih Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Jumat (2/3) lalu.

Gus Dur Siapkan Kuasa Hukum untuk Bela Republik Mimpi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Siapkan Kuasa Hukum untuk Bela Republik Mimpi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Siapkan Kuasa Hukum untuk Bela Republik Mimpi

Dikatakan Efendi, Gus Dur yang juga mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu mengaku terkejut dengan rencana Menkominfo yang melakukan somasi terhadap tayangan parodi tersebut. Pasalnya, para mantan presiden yang ditirukan dalam acara itu justru sama sekali tidak merasa terganggu.

Gus Dur, seperti dituturkan Effendi sangat mendukung acara parodi politik. “Parodi politik yang merupakan humor politik itu relatif tidak ada batasnya,” ujar Effendi menirukan Gus Dur. Masih mengutip Gus Dur, Effendi mengatakan, pemimpin dan bangsa yang kuat adalah mereka yang mampu menertawakan dirinya sendiri.

Menyoal dukungan yang diberikan Gus Dur, Effendi sendiri merasa terkejut. Karena, kata Effendi, ketika bertemu di rumah sakit Gus Dur tidak membicarakan soal bantuan kuasa hukum tersebut. “Setelah pulang dari rumah sakit, tiba-tiba Pak Ikhsan Abdullah SH (kuasa hukum Gus Dur dan PKB, red) menelepon saya dan menyatakan siap membantu jika pemerintah serius melakukan somasi,” ungkap Effendi.

Munculnya dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari mantan presiden tersebut membuat Effendi dan kawan-kawan tetap bersemangat menelorkan kreatifitas yang memberikan proses pendidikan dalam melakukan komunikasi politik pada era demokrasi.

Asli Muhammadiyah

“Ini hadiah dari Gus Dur untuk kreatifitas dan dukungan keluarga news.com di seluruh Indonesia. Ini betul-betul surprise. Terima kasih patut kami sampaikan kepada Gus Dur, Ibu Mega dan keluarga Pak Harto yang bisa memahami dan menerima tayangan parodi politik itu,” imbuh Effendi.

Pemerintah Telinga Tipis

Sebelumnya, pendapat senada juga keluar dari mantan Presiden Megwati Soekarnoputri. Megawati, seperti dituturkan Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Pramono Anung, tak mempermasalahkan penampilan tokoh Megakarti yang menirukan sosok Megawati. Menurutnya, hal itu masih dalam batas yang wajar.

“Ibu tidak pernah komentar dan senyum-senyum saja melihat tontonan yang menampilkan sosok Megakarti,” ungkap Pramono Anung kepada wartawan di Gedung DPR RI, Jumat (2/3) lalu.

Asli Muhammadiyah

Rencana somasi itu, lanjut Pramono, menunjukkan betapa pemerintah memiliki telinga tipis dan tidak siap menerima kritik. “Ini konsekuensi pemimpin dan pemerintah yang lahir dalam era reformasi yang menjunjung tinggi demokrasi dan kebebasan berekspresi. Para pemimpin itu harus siap menghadapi parodi politik seperti yang ditampilkan dalam tayangan Republik Mimpi,” papar Pramono.

Apalagi, lanjutnya, parodi yang ditampilkan itu mengungkapkan realitas yang selama ini dirasakan dalam masyarakat. Sebab itu, jika alasan somasi yang bakal diajukan pemerintah itu berkaitan dengan soal etis atau tidak etis, sebaiknya masyarakatlah yang memberikan penilaian. “Silakan tanya masyarakat dong, apa betul acara itu tidak etis. Masyarakat itu sudah pintar dan punya swa-sensor dalam dirinya untuk menentukan etis tidaknya sebuah tayangan televisi,” tandas Pramono. (gpa/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah IMNU, Bahtsul Masail Asli Muhammadiyah

Senin, 29 Januari 2018

Ashfa, Siswa Kelas 3 Madrasah NU Mahir Mendalang

Kudus, Asli Muhammadiyah. Nabila Ashfa Ibrohim sudah mahir mendalang wayang kulit. Siswa kelas tiga Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) At-Tarbiyah Jurang, Gebog, Kudus ini tercatat sebagai anggota Persatuan? Pedalangan Indonesia (Pepadi) dengan nomor keanggotaan 1301.

Siswa 8 tahun yang biasa dipanggil Ashfa ini, memperkenalkan nama-nama wayang purwo yang dijajar di ruang tamu rumahnya, Jumat (5/12). Ia menunjukkan rekaman video pada waktu mendalang di sebuah acara sedekah bumi di Balai desa Cendono Dawe.

Ashfa, Siswa Kelas 3 Madrasah NU Mahir Mendalang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ashfa, Siswa Kelas 3 Madrasah NU Mahir Mendalang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ashfa, Siswa Kelas 3 Madrasah NU Mahir Mendalang

Sabetannya sudah begitu lincah dan bisa membuat wayang salto langsung menancap kembali di gedebog pisang (tempat menancapkan wayang). "Sabetan salto ini sangat langka bagi dalang cilik. Biasanya hanya orang dewasa yang bisa seperti ini," kata Ahmad Fais mengomentari kemampuan anaknya yang begitu cepat mahir.

Asli Muhammadiyah

Awal mulanya ia meyukai dunia wayang sejak usia lima tahun; saat masih belajar di bangku sekolah Taman kanak-kanak (TK) At-Tarbiyah, Jurang. Waktu itu, imbuhnya, ada pertunjukan wayang kulit dengan dalang Ki Mastur di sebelah rumah simbahnya di desa Kawakan Dawe Kudus.

"Saya jadi senang dan suka wayang. Lalu saya minta ayah membelikan wayang buat mainan. setiap ada pertunjukan wayang saya ajak ayah nonton," kata Ashfa bercerita.

Asli Muhammadiyah

Pada awal 2013 ia mengkuti latihan setiap Ahad di markas Pepadi Kudus di SD Barongan bersama dalang Ki Heri Purnomo, tambah Fais yang juga Kepala MINU At-Tarbiyah, Jurang.

Ashfa sudah beberapa kali pentas satu paket dengan gurunya Ki Heri Purnomo (Getas Pejaten Kudus) di berbagai tempat di Kudus maupun di luar daerah. Ia juga sudah banyak memainkan cerita lakon wayang seperti Sesaji Raja Soya, Pandowo Mbangun Pasar, Karto Marmo-Setiyaki Rebutan Wahyu.

Bagi dalang cilik durasi waktunya hanya satu jam. Ia sudah hafal semua lakon itu tanpa baca teks. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Tokoh, Hadits Asli Muhammadiyah

Rabu, 24 Januari 2018

Dai LDNU Mulai Bertugas di Berbagai Negara

Jakarta, Asli Muhammadiyah - Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) tahun ini membentuk Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM). Sebanyak 20 dai muda dari berbagai daerah terpilih melalui rangkaian seleksi dan pelatihan yang diadakan oleh Divisi Diklat dan Pengkaderan LDNU. Mereka akan bergerak ke seluruh penjuru dunia membawa Islam yang rahmatan lil alamin.

Menurut Ketua Umum NU KH Said Aqil Siroj, Islam yang berkembang di Nusantara terbukti mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. "Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya."

Dai LDNU Mulai Bertugas di Berbagai Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Dai LDNU Mulai Bertugas di Berbagai Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Dai LDNU Mulai Bertugas di Berbagai Negara

Ia mengingatkan agar dai harus bersungguh-sungguh dalam berdakwah. "Sebagai pemegang amanah, kita tidak boleh ragu untuk mendakwahkan Islam Nusantara dalam kondisi apapun," kata Kang Said saat memberikan pembekalan di Gedung PBNU (19/05) untuk dai yang akan bertugas ke luar negeri.

Asli Muhammadiyah

Penanggung jawab program TIDIM, KH. Wahfiudin Sakam menyampaikan jika Ramadhan tahun ini, LDNU mengirimkan delapan anggota TIDIM untuk dakwah ke Amsterdam, Hongkong, Macau, dan Malaysia.

"Kami masih terus mematangkan program dan menjalin komunikasi dengan berbagai pihak di luar negeri. Insya Allah selepas Ramadhan program ini akan terus berjalan," ujarnya.

Asli Muhammadiyah

Ketua Pelaksana TIDIM Nugraha Romadhan menjelaskan, para dai telah sampai dan bertugas di negara penempatan.

"Ustadz Khumaini Rosadi telah tiba di Amsterdan pada 3 Juni. Ustadz Budy Budiman tiba di Macau pada 2 Juni. Ustadz Taufik Munir, Ismail Hasan, Qodarsyah, Saepuloh, dan Choirul Hady telah tiba di Malaysia 9 Juni. Insya Allah malam ini, Jumat (10/6) Ustadz Sihabudin akan bertolak ke Hongkong," ungkapnya kepada redaksi via telpon.

Ia menambahkan, dai yang bertugas di Malaysia ditempatkan di Kuala Lumpur, Kedah, Negeri Sembilan, Kinabalu, dan Serawak. "Insya Allah akan banyak hal yang dapat kita kembangkan dari program ini," tutupnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Santri, Pemurnian Aqidah, Tokoh Asli Muhammadiyah

Selasa, 23 Januari 2018

Pelajar NU Cimarias Gelar Cimarias Bershalawat

Sumedang, Asli Muhammadiyah. Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Desa Cimarias, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, sukses menggelar Cimarias Bershalawat di halaman Desa Cimarias. Kegiatan tersebut dilaksanakan berkat kerja bareng PR IPNU-IPPNU Cimarias dan Pemerintah Desa Cimarias.

Kegiatan yang dihadiri oleh ratusan warga cimarias ini diawali dengan gebyar shalawat dari beberapa utusan pesantren dan madrasah yang ada di Cimarias. Dilanjutkan dengan pembacaan istigotsah dan kasidah Barzanji yang dipimpin oleh KH. Dadang Abdullah Pimpinan Pondok Pesantren Miftahussa’adah, dan di akhir acara ditutup dengan Tabligh Akbar yang disampaikan oleh Ust. Fu’ad Ginan Burhanuddin.

Pelajar NU Cimarias Gelar Cimarias Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Cimarias Gelar Cimarias Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Cimarias Gelar Cimarias Bershalawat

Acara yang berlangsung akhir pekan lalu itu (25/10) tersebut dihadiri pula Ketua PC IPNU Sumedang Saepul Hamdan, Ketua PC IPPNU Sumedang Esti Siti Nurrobi’ah, Kepala Desa Cimarias Mamat Rohmat, keluarga besar NU Pamulihan, dan seluruh jama’ah majlis ta’lim yang berada di Desa Cimarias.

Asli Muhammadiyah

“Kami ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut serta menyukseskan acara Cimarias Bershalawat ini. Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi,” terang Mulyana, ketua panitia sekaligus Ketua IPNU Desa Cimarias.

Ketua PC IPNU Sumedang Saepul Hamdan dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada para pengurus IPNU-IPPNU Cimarias. “Saya sangat apresiatif terhadap para pengurus IPNU-IPPNU cimarias yang telah menggelar acara cimarias bershalawat ini dengan sukses,” papar Saepul.

Asli Muhammadiyah

Saepul juga mengharapkan dorongan semangat dari berbagai pihak terhadap program-program para pelajar NU. Ia meminta kepada Pemerintah Desa Cimarias, tokoh masyarakat, dan ulama setempat untuk senantiasa membantu segala bentuk kegiatan yang dilaksanakan oleh para pelajar IPNU-IPPNU Desa Cimarias.

Sementara itu Kepala Desa Cimarias Mamat Rohmat berjanji akan mengagendakan kegiatan ini setiap tahunnya. “Insyaallah kegiatan ini akan dilaksanakan setiap tahun, dan mudah-mudahan ke depannya bisa lebih meriah dan sukses lagi,” ungkap Mamat. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pondok Pesantren, Warta, Ubudiyah Asli Muhammadiyah

Sastrawan: Kita Tunggu Islam Cerdas dan Pembela

Di mata sastrawan yang dikenal kritikus film dan fotografer, Seno Gumira Ajidarma, NU saat ini harus berperan dengan menggunakan media baru, didukung dengan teknologi, agar hasilnya maksimal. NU harus bergerak secara anggun dan pendekatan intelektual. Peran NU semacam itu ditunggu banyak orang. ?

Jika NU tidak melakukan hal semacam itu, menurut dia, dikhawatirkan Islam yang oleh sebagian kalangan diimagekan sebagai “keras” akan menjadi kebenaran umum. NU harus membersihkan image tersebut.?

Seno Gumira Ajidarma mengungkap usulan-usulan untuk NU saat ini selepas menjadi narasumber ngaji film dan sejarah dalam rangka peringatan harlah ke-91 NU yang berlangsung di gedung PBNU, Jakarta, Senin (30/1).?

Sastrawan: Kita Tunggu Islam Cerdas dan Pembela (Sumber Gambar : Nu Online)
Sastrawan: Kita Tunggu Islam Cerdas dan Pembela (Sumber Gambar : Nu Online)

Sastrawan: Kita Tunggu Islam Cerdas dan Pembela

Ia mennyampaikan usulan tersebut kepada Abdullah Alawi dari Asli Muhammadiyah sembari menuruni tangga dari lantai delapan sampai lantai dasar. Berikut petikannya:?

Bisa cerita, tahu dan mengenal NU sejak kapan?

Sejak lama.?

Asli Muhammadiyah

Dalam konteks apa Anda mengenal NU?

Dalam konteks pembaca koran.

Melihatnya bagaimana?

Eksotik.

Asli Muhammadiyah

Maksudnya bagaimana?

Eksotik itu ya sesuatu yang tidak terlalu saya kenal, menarik, tampak indah; sampai sekarang saya juga tidak terlalu kenal. Artinya, saya hanya kenal mitosnya. Mitosnya apa ya, menarik, berwibawa, lama, lawasan gitu ya. Tapi itu omongan orang yang enggak kenal ya.?

Ada pengelaman bersentuhan dengan orang NU atau tokoh NU?

Kebetulan saya kenal Mbak Nur (Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, red.). Itu kan teman saya wartawan, di sebelah meja saya. Tidak seperti bayangan saya. Modern, pinter. Kemudian kenal Gus Dur. Kemudian kenal anak-anaknya, Yenny segala. Ya beda, memang, tapi jangan-jangan mereka tidak bisa mewakili NU. Begitu lho.?

Lalu bagaimana mitos itu ketika dikaitkan dengan kenyataan?

Kadang-kadang mitos itu pudar, tapi bukankah realitas lebih baik dari mitosnya?





Bisa usul tentang peran-peran yang harus dijalankan NU saat ini?

Dia mesti mencegah, melawan, dan menjelaskan segala sesuatu yang sekarang ini membingungkan. Image Islam yang keras, saya kira bisa dibersihkan oleh NU.?





NU potensial untuk itu?

NU potensial, punya, asal menjadi policy (kebijakan). Jadi, dia harus bergerak dengan anggun.?





Maksudnya anggun bagaimana?

Bergerak dengan intelektual, wawasan, konstruktif, menjelaskan keislaman yang benar itu kayak apa. Begitu. Membuat orang tidak pesimis terhadap Islam. Tidak sinis. Kalau yang ngomong orang NU kan menjadi sah. Kenapa? Karena dia orang yang mengerti agama gitu lho. Dia harus bicara. Semua orang menunggu-nunggu, kenapa intelektual Islam diam saja. Kenapa organisasi Islam diam saja. Menunggu-menunggu. Konferensi pers juga bisa. Media baru kan bisa bicara. Dan saya enggak percaya orang tidak mengerti media baru. Itu hal yang mudah sekali.?

(Image Islam keras) Itu harus dilawan karena kalau tidak lawan. Berita bohong akan menjadi kebenaran. Itu saja. Kenapa kebohongan menjadi kebenaran karena tidak ada alternatif lain. Mau tanya siapa, mau membaca apa. Orang NU harus masuk kepada media baru. Makanya saya bilang tadi, NU didirikan kan untuk syiar Islam. Sekarang medianya sudah ada untuk menggandakan itu tidak tergantung satu juru bicara, tidak tergantung satu da’i-da’i berbakat. Capek kan kalau orang ngomong terus, klik, klik, klik werrr…kita tunggu, dan kita-kita menunggu-menunggu bahwa Islam sebagai wacana kecerdasan dan pembelaan terhadap yang lemah termasuk yang lemah pikirannya itu menjadi nyata. Kapan disuplai? Begitu saya kira.?





NU sudah melakukan hal yang dimaksud. Namun belum maksimal.

Makanya itu kalau bersekutu dengan para ahli media baru, pasti itu gampang. Diajak saja. Dan NU belajar sendiri saja bisa, asal ada policynya. Nah, policynya saya kilik-kilik nih, sudah waktunya, sebelum semua orang bertambah bodoh.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Berita Asli Muhammadiyah

Minggu, 21 Januari 2018

Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1)

Di tengah pembicaraan kami mengenai riwayat hidup dan pengabdiannya bersama NU, Syaibani (79 tahun) sedikit mengenang masa mudanya, kala ia pernah terlibat bersama kawan-kawannya dalam sebuah kegiatan yang dikenal dengan nama “Missi Islam”.

“Missi Islam ini didirikan oleh Pak Idham (KH Idham Chalid, Ketua Umum PBNU tahun 1952-1984, red) sekitar tahun 1961,” kenang Syaibani, saat ditemui di rumahnya, di daerah Pucangan Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, belum lama ini.

Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1)

KH Idham Chalid, sebagai pendiri lembaga Missi Islam menjadi ketua, didampingi H Anshary Syams (Sekretaris I) dan Danial Tandjung (Sekretaris II).

Missi Islam ini, lanjut Syaibani merupakan sebuah lembaga yang pendiriannya bertujuan untuk mempersiapkan kader-kader muda NU untuk dikirimkan berdakwah ke daerah-daerah transmigrasi atau daerah-daerah minus Islam.

“Ketika itu saya sebagai staf pribadi KH Fattah Yasin, ditunjuk untuk menjadi salah satu koordinator. Gemblengan banyak dilakukan di pusat (Jakarta),” kata dia.

Tambahan data yang penulis peroleh dari sumber lain, angkatan pertama Missi Islam dikirim ke Irian Jaya, menjelang Pepera (1961), sebanyak 8 orang. Angkatan selanjutnya menyebar ke Sorong, Merauke, Kalsel, Kalteng, Kalbar, Gorontalo, NTT, Nias, dan sebagainya, dengan jumlah yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan.

Asli Muhammadiyah

“Beberapa dari para kader bahkan ada yang sukses mendirikan pesantren dan menetap di tempat ia dikirimkan,” ungkap Syaibani.

Banyak jasa yang berhasil ditorehkan lembaga ini. Di antara tokoh-tokoh NU yang pernah aktif di Lembaga Missi Islam adalah KH Idham Chalid, KH Saifuddin Zuhri, Anshary Syams, H. Danial Tanjung, Mr Suparman, Djawahir, Hisyam Zaini, dr Fahmi D Saifuddin, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Nuril Huda, Slamet Effendy Yusuf, Abdullah Syarwani, dan lain sebagainya. (Ajie Najmuddin)

Asli Muhammadiyah

Sumber: Wawancara H Ahmad Syaibani Ilham (2015)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Makam Asli Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Cara NU Mayangan Lestarikan Tradisi dan Budaya NU

Jombang, Asli Muhammadiyah 

Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang , Jawa Timur terus berupaya melestarikan tradisi dan budaya NU dengan rutin menggelar kegiatan lailatul ijtima. Kegiatan ini digelar setiap tanggal 15 penanggalan hijriah.

Kegiatan yang biasa dihadiri oleh warga NU se-ranting Mayangan ini membahas sejumlah persoalan, diantaranya ajakan untuk melestarikan khazanah kebudayaan NU, pembacaan kitab Sulamut Taufiq, Bahtsul Masail, Tahlilan, Istighosah, dan pembacaan sholawat nariyah.

Cara NU Mayangan Lestarikan Tradisi dan Budaya NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara NU Mayangan Lestarikan Tradisi dan Budaya NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara NU Mayangan Lestarikan Tradisi dan Budaya NU

"Kegiatan ini bertujuan melestarikan nilai-nilai kebudayaan lama yang baik namun tidak menutup kemungkinan untuk mengambil hal-hal baru yang lebih konstruktif dan lebih baik." Kata Ketua Tanfidziah NU Ranting Mayangan, kiai Abdul Karim Elmuna, Rabu (9/8).

Dijelaskan, acara seperti ini sudah berlangsung sejak G30S PKI pada Orde Lama hingga kini. Kegiatan lailatul ijtima inj dirasakan betul dapat mebentengi masyarakat agar tidak terseret arus zaman ke arah yang negatif. Dengan berkumpulnya para ulama, tokoh masyarakat, perangkat desa, kaum muda maka kemajuan desa bisa diwujudkan.

"Saya berharap teman-teman generasi muda juga semakin semangat untuk turut andil dalam kegiatan ini. Karena nanti mereka lah yang akan meneruskan perjuangan kami," tambahnya.

Asli Muhammadiyah

Pria yang juga pengasuh Pondok Ribath Darul Mansyur ini menuturkan pentingnya acara seperti ini dalam merespon serangan radikalisme dan kaum takfiri. Para ulama dan tokoh masyarakat harus terus mensosialisasikan bahaya radikalisme pada masyarakat agar tidak terjerumus dengan aliran radikal yang ingin menghancurkan Indonesia yang sudah tentram dan damai

Asli Muhammadiyah

"Menjaga NU dan NKRI adalah tanggungjawab bersama karena mustahil dilakukan oleh seorang diri. Menjaga NU adalah menjaga Indonesia." Pungkasnya.

Selain itu, Kiai Karim juga mengharapkan dilain waktu Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, wilayah dan pusat bisa berkunjung ke daerahnya. Dengan harapan dapat memotivasi masyarakat untuk mengikuti kegiatan rutinan tersebut.

"Kalau Kiai Said yang kesini pasti ramai dan meriah," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Cerita, Kajian, Ulama Asli Muhammadiyah

Jumat, 19 Januari 2018

Diskusi Haul Gus Dur Ungkap Sembilan Nilai Pemikiran

Sumenep, Asli Muhammadiyah. Memperingati delapan tahun wafatnya KH Abdurrahman Wahid, Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda (PAC GP) Ansor Pragaan Sumenep Jawa Timur mengadakan diskusi pemikiran tokoh yang dikenal dengan Gus Dur tersebut. 

Diskusi Haul Gus Dur Ungkap Sembilan Nilai Pemikiran (Sumber Gambar : Nu Online)
Diskusi Haul Gus Dur Ungkap Sembilan Nilai Pemikiran (Sumber Gambar : Nu Online)

Diskusi Haul Gus Dur Ungkap Sembilan Nilai Pemikiran

Kegiatan dilaksanakan di kantor Majlis Wakil Cabang atau MWC NU Pragaan, Kamis (4/1). Hadir pada kegiatan tersebut rais syuriyah dan ketua tanfidziyah NU setempat, Pimpinan Cabang Ansor Sumenep, Polsek Prenduan, pengurus ranting NU dan anggota Ansor Pragaan.

Dalam sambutannya, Mohammad Muhri mengatakan bahwa pemuda Ansor harus bangga dengan ideologi Ahlussunnnah wal Jama’ah atau Aswaja. Ideologi ini tidak hanya dianut warga Nusantara, bahkan dipelajari di belahan dunia.

"Sebagai pemuda, kita harus bangga karena NU telah go internasional,” kata Ketua PC GP Ansor Sumenep tersebut. Islam moderat tidak hanya milik NU, tetapi banyak negara merindukan damai, persaudaraan, dan itu bisa dijawab lewat ajaran ini. Bahkan Aswaja NU dapat memadukan konsep negara dan agama menjadi Islam yang ramah serta santun, lanjutnya.

Sementara Rais Syuriyah MWC NU Pragaan KH Zarkasyi Rokhim dalam pengakuannya tentang Gus Dur mengingatkan pemuda Ansor mewaspadai banyak gerakan trans nasional. Keberadaannya bergerak begitu cepat untuk memutus generasi muda dari akar kesejarahan bangsa. 

Asli Muhammadiyah

"Idiom kebudayaan kita yang diperas dengan darah dan air mata akan dihapus oleh bentuk penjajahan modern," katanya. Bahkan, empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI lahir dari akar budaya bangsa yang harus dijaga dan dipelihara.

Dalam paparannya, empat pilar itu oleh Gus Dur dijaga dengan sembilan nilai pemikiran. Yaitu nilai ketauhidan dalam kebangsaan, penghargaan nilai kemanusiaan, keseimbangan dengan tidak ekstrim kanan dan kiri. Juga nilai pembebasan, kesederhanaan yang ditempatkan secara wajar dan patut, tiga persaudaraan yakni islamiyah, wathaniyah dan basyariyah, kesatriaan,  kesetaraan, serta kearifan lokal, urainya.

"Kalau budaya kita sudah tercerabut dari akarnya, maka putuslah  ketersambungan dengan para pendiri bangsa, dan pada saatnya hancurlah bangsa ini," kata Kiai Zarkasyi yang juga putra pejuang NU Pragaan KH Abdurrahiem di akhir penjelasannya.

Haul juga diisi deklarasi dimulainya kajian kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadratussyekh KH. Hasyim Asyari yang kajiannya dipandu Drs. KH. Warits Anwar selaku Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Pakamban Laok.

Asli Muhammadiyah

Kegiatan diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin Kiai Luqman Hamdi. (Zubaery Kareem/Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah IMNU, Bahtsul Masail Asli Muhammadiyah

Sabtu, 13 Januari 2018

Abu Musa al-Asy’ari dan Kisah Empat Kekasih Rasulullah

Imam Bukhari dalam Kitab Shahih-nya menulis satu bab sabda Nabi SAW sekiranya aku diperkenankan mengambil kekasih (Law kuntu muttakhidzan khalilan). Bab tersebut diambil dari potongan Hadits Nabi yang ditujukan kepada Abu Bakar. Dalam bab tersebut juga tercantum satu riwayat panjang dari Abu Musa al-Asyari mengenai tiga tokoh yang kemudian menjadi Khalifah: Abu Bakar, Umar dan Utsman. Mari kita sedikit kaji hadits tersebut dengan sekali lagi melihat konteks sosio-politik perawi dan kandungan Hadits yang diriwayatkannya.

Dalam Hadits Nomor 3398 diceritakan Abu Musa al-Asyari menghampiri Nabi SAW yang ternyata beliau sedang duduk dekat sumur dan berada di tengah-tengah tepi sumur tersebut. Beliau menyingkap (pakaiannya) hingga kedua betisnya dan mengulurkan kedua kakinya ke dalam sumur. "Aku memberi salam kepada beliau lalu berpaling dan kembali duduk di samping pintu. Aku berkata; "Sungguh aku menjadi penjaga Rasulullah pada hari ini". Kemudian Abu Bakr datang dan mengetuk pintu. Aku tanya; "Siapakah ini?. Dia berkata; "Abu Bakr". Aku katakan; "Tunggu sebentar". Kemudian aku menemui Nabi lalu aku katakan; "Wahai Rasulullah, ada Abu Bakr minta izin masuk".

Abu Musa al-Asy’ari dan Kisah Empat Kekasih Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Abu Musa al-Asy’ari dan Kisah Empat Kekasih Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Abu Musa al-Asy’ari dan Kisah Empat Kekasih Rasulullah

Beliau berkata; "izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga". Aku kembali lalu aku katakan kepada Abu Bakr; "Masuklah, dan Rasulullah telah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan surga". Maka Abu Bakr masuk lalu duduk di samping kanan pada tepi sumur kemudian menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur sebagaimana yang dilakukan Nabi dan mengangkat pakaiannya setinggi kedua betisnya. Kemudian aku kembali dan duduk."

Abu Musa melanjutkan ceritanya: "Tiba-tiba ada orang yang menggerak-gerakkan pintu, aku bertanya; "Siapakah ini?". Orang itu menjawab; "Aku Umar bin Al Khaththab". Aku katakan; "Tunggu sebentar". Kemudian aku menemui Rasulullah dan memberi salam kepada beliau lalu aku katakan; "Wahai Rasulullah, ada Umar bin Al Khaththab minta izin masuk". Beliau berkata; "izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga". Maka aku temui lalu aku katakan; "Masuklah, dan Rasulullah SAW telah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan surga". Maka Umar masuk lalu duduk di samping kiri Rasulullah pada tepi sumur kemudian menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur."

Asli Muhammadiyah

Abu Musa bercerita bahwa ada orang ketiga yang datang, "Orang itu menjawab; "Utsman bin Affan". Aku katakan; "Tunggu sebentar". Kemudian aku menemui Rasulullah lalu aku kabarkan kepada beliau, maka beliau berkata; "izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga, dengan berbagai cobaan yang menimpa" (bassyirhu bil jannah ala balwaa tushibuhu). Maka Utsman masuk namun dia dapatkan tepi sumur telah penuh. Akhirnya dia duduk di hadapan beliau dari sisi yang lain".

Asli Muhammadiyah

Saya terpana membaca riwayat panjang di atas. Saya tidak meragukan keadilan Abu Musa al-Asyari salah seorang sahabat Nabi SAW, namun saya bertanya-tanya, kapan Abu Musa al-Asyari mengisahkan kisah di atas? Dari jalur periwayatan, beliau menceritakan riwayat ini kepada seorang ulama besar tabiin bernama Said bin Musayyab yang kemudian oleh Said bin Musayyab hadits ini diartikan sebagai isyarat Khalifah Utsman tidak dikubur bersama Rasul, Abu Bakar dan Umar, karena posisi duduk Utsman yang berbeda di tepi sumur.

Saya fokos bukan pada posisi duduk, tapi pada ucapan yang berbeda dari Rasul kepada Abu Bakar, Umar dan kepada Utsman, dimana khusus untuk Utsman ada tambahan "dengan berbagai cobaan yang menimpa Utsman". Dalam masa kekhilafahan Abu Bakar dan Umar juga banyak persoalan, seperti kaum yang tidak mau bayar zakat sehingga diperangi Abu Bakar, atau Umar yang dibunuh saat mau jadi Imam shalat, tapi kenapa Rasul khusus mengatakan "berbagai cobaan untuk Utsman"? Ibn Hajar dalam Fathul Bari berusaha menjelaskan kekhususan penyebutan ini.

Boleh jadi Abu Musa al-Asyari menceritakan ulang kisah ini setelah huru-hara pada akhir masa kekhalifahan Utsman yang berujung masuknya gerombolan ke rumah Utsman dan membunuh khalifah ketiga. Kalau benar, maka ini riwayat post-factum. Jenazah Utsman sempat dilarang beberapa saat untuk dikubur oleh gerombolan pengepung. Mungkin ini yang menjelaskan kenapa Utsman dikubur di Baqi, bukan bersama Rasul dan kedua khalifah Abu Bakar dan Umar. Periode kelam ini disebut sebagai fitnatul kubra. Hadits-hadits setelah peristiwa ini harus kita baca dengan cermat.

Dalam kisah di atas, nama Sayyidina Ali tidak disebut oleh Abu Musa al-Asyari. Ini menguatkan dugaan bahwa kisah ini diceritakan Abu Musa pada masa akhir Khalifah Utsman, bukan pada masa akhir Khalifah Ali. Sedikit background akan hubungan Abu Musa dengan Utsman dan Ali akan memperjelas kemusykilan kita memahami konteks riwayat di atas.

Abu Musa diangkat menjadi Gubernur Kufah pada masa Umar. Lantas pada masa Utsman, ia kena reshuffle. Tapi ia tetap loyal pada Khalifah Utsman meski orang pada heboh dan mengendus nepotisme sang khalifah karena yang menggantikan Abu Musa adalah keluarganya Utsman. Sewaktu pada masa kekhalifahan Ali terjadi perang unta dengan istri Nabi, Aisyah radhiyallahu anha, Abu Musa al-Asyari alih-alih mendukung Ali, Abu Musa malah menasihati Ali untuk meletakkan senjata. Ali tidak menghiraukan saran tersebut. Namun sewaktu perang antara Ali dan Muawiyah berlangsung, secara mengejutkan Abu Musa berdiri di pihak Ali.

Ketika terjadi tahkim untuk menyelesaikan perang, Imam Ali menghendaki Ibn Abbas yang mewakilinya berhadapan dengan Amru bin Ash dari pihak Muawiyah. Namun kaum khawarij berseru agar Abu Musa yang pergi. Ali mengalah dan membiarkan Abu Musa yang mewakili pasukannya. Hasilnya kita tahu Abu Musa dikerjai Amru bin Ash dalam peristiwa tahkim sehingga berujung pada kekalahan Ali dan kemenangan Muawiyah. Pendukung Imam Ali banyak yang menyalahkan Abu Musa al-Asyari. Bahkan ada yang menuduhnya disisipkan oleh Muawiyah. Mungkin yang terjadi sebenarnya adalah Abu Musa terlalu polos sebagai juru runding. Perang Siffin berakhir pada 28 Juli 657 (1359 tahun yang lalu).

Sejarah selalu menyisakan sisi kelam yang harus disikapi secara bijak. Tentu bukan tanpa maksud apa-apa ketika kisah di atas diletakkan Imam Bukhari dalam bab sekiranya aku diperkenankan mengambil kekasih. Fakta sejarah mengatakan Abu Bakar, Umar dan Utsman adalah 3 khalifah awal yang bukan saja sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW, tapi juga jasa ketiganya (plus Khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib) dalam perkembangan umat tidak mungkin dihapus begitu saja. Merekalah para kekasih Nabi di surga kelak. Amin Ya Rabbal Alamin.



. Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Daerah Asli Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

Tiga Poin Penting Adanya Peringatan Hari Santri

Sragen, Asli Muhammadiyah - Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sragen KH Agus Budiharto mengungkapkan, ada tiga poin penting, pada momentum Peringatan Hari Santri Nasional (HSN).

“Pertama, bahwa santri merupakan bagian tak terpisahkan dari para pejuang kemerdekaan bangsa,” kata dia, pada peringatan HSN 2016, di Lapangan Alun-alun Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Sabtu (22/10).

Tiga Poin Penting Adanya Peringatan Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Poin Penting Adanya Peringatan Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Poin Penting Adanya Peringatan Hari Santri

Sejarah mencatat, proses berdirinya bangsa Indonesia, mulai dari sebelum mencapai kemerdekaan, hingga sesudahnya, tidak lepas dari jasa dan kontribusi kaum santri.

Asli Muhammadiyah

Kedua, lanjutnya, kaum santri dianggap sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa dalam menumpas kemungkaran di negara ini. Sedangkan yang ketiga, keberadaan pondok pesantren dan santri dianggap sebagai lembaga dan komunitas yang memiliki komitmen tinggi terhadap bangsa dan negara.

“Komitmen ini terwujud, baik dalam perjuangan mengisi kemerdekaan melalui pendidikan maupun melalui kiprah nyatanya di masyarakat,” ujar dokter yang juga mubaligh asal Gemolong, Sragen, itu.

Asli Muhammadiyah

Agus menambahkan, seorang santri selain harus bisa mengaji, semestinya juga tidak meninggalkan kewajiban mereka mengenyam pendidikan bangku sekolah. “Santri itu harus lengkap, sekolah dan mengaji,” kata dia.

Puncak peringatan HSN 2016, dipusatkan di Alun-alun Kabupaten Sragen. Acara tersebut diikuti ribuan peserta dari berbagai elemen masyarakat, tak terkecuali para pengasuh pesantren dan tokoh NU di Sragen. Turut hadir dalam kesempatan itu, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pendidikan, Khutbah Asli Muhammadiyah

Muludan, Budayawan D Zawawi Imron Jelaskan Hubungan Tradisi dan Agama

Sumenep, Asli Muhammadiyah - Budayawan Celurit Emas Kiai D Zawawi Imron hadir sebagai penceramah dalam acara muludan yang digelar PAC. GP Ansor dan PWC ISNU Kecamatan Dungkek Sumenep, Jumat (30/12) malam. Kiai Zawawi yang hadir sebagai pengisi taushiyah mengulas hubungan ilmu dan keberkahan.

Kiai Zawawie memulainya dengan mengungkap pribahasa Madura “Cong, mon penter bede guruna, keng mon pojhur tadek guruna.” Artinya “Pandai itu ada gurunya, namun keberkahan tidak ada gurunya”.

Muludan, Budayawan D Zawawi Imron Jelaskan Hubungan Tradisi dan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Muludan, Budayawan D Zawawi Imron Jelaskan Hubungan Tradisi dan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Muludan, Budayawan D Zawawi Imron Jelaskan Hubungan Tradisi dan Agama

"Salah satu contoh sarjana hukum yang banyak menulis buku tentang hukum, namun sekarang sedang dipenjara. Mau masuk penjara saja harus sekolah dulu," candanya.

Asli Muhammadiyah

Keberkahan ilmu, ujarnya, sejauh mana memberi keselamatam pada diri dan lingkungannya.

Kiai Zawawi mengetengahkan, signifikansi dialog tradisi dan agama secara historis merupakan sebuah ibadah. Bahkan, beberapa tokoh Islam, penyebar agama daerah Kecamatan Dungkek, semasa Syaikhona Kholil Bangkalan, juga getol merawat tradisi bernilai agama.

"Sebut saja Kiai Qasdu (KH Moh Anwar), Buyut KH Fathullah Zaini Dusun Tarogen, Desa Bunpenang, Dungkek merupakan ulama yang nenek moyang kita. Beliau sangat besar jasanya dalam meleburkan tradisi ke dalam nilai agama," terangnya.

Asli Muhammadiyah

Dalam aspek kebudayaan, Kraton Joko Tole ada di Kecamatan Dungkek, yakni ada di Lapa Taman.

"’Tore mon entara ben kaule, kaule tekkak pang tippang cara neka depak (Mari kalau mau ke sana, walaupun saya kurang sehat bisa mampu ke sana)," kata Kiai Zawawi.

Dari beberapa persoalan keagamaan dan kebudayaan di atas, menunjukkan bahwa menurutnya, kita lahir dari ragam suku dengan struktur yang jelas; memilki sanad yang bersambung kepada para ulama dan para wali. Karenanya, Islam kita adalah Islam yang jelas statusnya; Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja)," tukasnya.

Acara muludan yang bertempat dj rumah Ketua PWC ISNU Dungkek Hosnan Nasirini ini dihadiri oleh Ketua GP Ansor Sumenep, ISNU Sumenep, Ketua MUI Dungkek, Ketua MWC NU Dungkek, Ketua Ansor, ISNU, tokoh masyarakat, dan ulama se-Kecamatan Dungkek. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Doa, Berita Asli Muhammadiyah

Rabu, 10 Januari 2018

Kader PMII Harus Teladani Kepemimpinan Nabi Muhammad

Pariaman, Asli Muhammadiyah. Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pariaman sebagai bagian dari generasi muda Indonesia diharapkan terus meneladani kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang berhasil mengubah kondisi masyarakat yang jahiliyah kepada yang beradab.

Kader PMII Harus Teladani Kepemimpinan Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Harus Teladani Kepemimpinan Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Harus Teladani Kepemimpinan Nabi Muhammad

Melalui peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, PMII Pariaman berupaya memuliakan dan memahami perjuangan Nabi.

Ketua PC PMII Kota Pariaman Idris mengungkapkan hal itu, Kamis (24/1), pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Surau Pinago, Manggung, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman.

Asli Muhammadiyah

Tampil sebagai penceramah Deri Effendi Tuanku Sutan Bagindo. Ikut memberikan sambutan Katib PCNU Kota Pariaman Mardison, S.Ag, M.Si, Tuanku  Simarajo dan tokoh masyarakat H. Burhanuddin Zein, SH, sejumlah Mabincab PMII Kota Pariaman,  Ory Satifa Sakban, S.Pdi dan Hendri.

Asli Muhammadiyah

Menurut  Idris, sebagai organisasi berpahamkan Ahlussunnah Waljamaah, peringatan maulid Nabi merupakan kegiatan penting dilaksanakan. Peringatan Maulid Nabi merupakan tradisi dalam rangka mensyiarkan Islam.

“Jadi kalau ada pihak yang membid’ahkan maulud Nabi Muhammad Saw, itu karena mereka tidak paham perbedaan tersebut,” kata Idris yang baru saja menyelesaikan pendidikan di STIT Syekh Burhanuddin ini.

Katib PCNU Kota Pariaman Mardison memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang digelar PMII Kota Pariaman ini. Kegiatan ini tentu menjadi sumbangan berharga terhadap pembinaan generasi muda. Sebagai anak muda NU yang selalu kreatif dan inovatif, PMII Pariaman sudah menunjukkan jati dirinya. 

“Maulid Nabi Muhammad SAW penting disemangati oleh anak-anak muda kita. Sehingga mereka tidak salah memahami agama. Jangan sampai mereka terpengaruh oleh tindakan-tindakan radikal yang belakangan ini marah terjadi di Indonesia,” kata Mardison yang juga guru di SMA 4 Pariaman.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Armaidi Tanjung

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Hadits, IMNU, Nahdlatul Ulama Asli Muhammadiyah

Minggu, 07 Januari 2018

Ibadah Haji untuk Memanusiakan Manusia

Subang, Asli Muhammadiyah. Salah satu hikmah adanya kewajiban melaksanakan ibadah haji bagi Muslim yang sudah mampu secara materi adalah untuk memanusiakan manusia.

Ibadah Haji untuk Memanusiakan Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ibadah Haji untuk Memanusiakan Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ibadah Haji untuk Memanusiakan Manusia

Demikian salah satu poin yang disampaikan KH. Asep Zarkasih dalam taushiyahnya pada acara walimatussafar salah seorang tokoh masyarakat Desa Caracas, Kalijati, Subang, Jawa Barat. Ahad (24/8)

"Perhatikan postur tubuh manusia: kepala di atas, perut di bawah. Coba lihat binatang domba, kepala dan perutnya sejajar, sama, bahkan kalau lagi makan kepala domba ada di bawah perut," ujar Pengurus MWCNU Kecamatan Cipeundeuy, Subang itu.

Asli Muhammadiyah

Asep melanjutkan, dalam bersikap dan bertindak seharusnya manusia itu mempertimbangkan segala sesuatu berdasarkan kepala, dalam hal ini adalah akal pikiran, jangan sampai melakukan sesuatu berdasarkan perut dan nafsu belaka.

"Dalam bersikap dan bertindak jangan sampai seperti domba, akal ada di bawah perut. Mau nyari rezeki, lihat dulu, itu halal apa haram? Mau melangkah, pikir dulu, mau mengerjakan pekerjaan halal apa haram? Kalau tidak seperti itu, akan sembarang dan nanti urusannya sama polisi, KPK," tegasnya dengan bahasa Sunda

Asli Muhammadiyah

Dalam kesempatan itu Asep menegaskan, adanya ibadah haji adalah agar manusia menjadi manusia, karena ketika melaksanakan ibadah haji, orang akan melupakan kesenangan duniawi, yang ada adalah sedih dan terharu mengingat kebesaran dan keagungan Allah Swt. sehingga akan memberikan kekhusuan dalam beribadah.

"Pakaian haji itu untuk mengingatkan kita pada kematian dan kehidupan yang akan datang, putih semua, nanti kita kalau sudah mati tidak akan bawa apa-apa, hanya kain putih yang kita bawa," ujarnya

"Biasanya shalat di rumah itu di depannya tembok, sementara di Mekkah, shalatnya langsung menghadap ke kiblat, ke Kabah, bagaimana tidak sedih dan terharu. Di sana baca shalawat, makam Nabi yang dibacakan shalawatnya ada di depan mata," tambahnya

Ketua PGRI Kecamatan Cipeundeuy tersebut mengingatkan kepada ratusan orang yang menghadiri acara itu untuk selalu terus berdoa kepada Allah SWT sekaligus menabung supaya diberi kesempatan untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, yaitu ibadah haji. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pondok Pesantren, Nahdlatul Asli Muhammadiyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Santri: Generasi Millennial-Vertikal

Oleh Aswab Mahasin

“Berpikirlah maka engkau akan laik”

Saya tertarik mengangkat tema ini diawali dari beberapa pemberitaan Asli Muhammadiyah mengenai “generasi millennial”. Kurang lebih ada dua pemberitaan, Pertama, cletukan dari Haidar Bagir, kalau Rasulullah menghormati generasi millennial, dan Kedua, adu guyon antara Gus Yaqut dan Tsamara Amany.

Santri: Generasi Millennial-Vertikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri: Generasi Millennial-Vertikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri: Generasi Millennial-Vertikal

Rasa penasaran muncul, apa sih generasi millennial? Maklum, saya tidak begitu kekinian. Saya hanya sering mendengar dan membaca konten-konten berita mengenai generasi millennial (tapi belum begitu memahami arti dari millennial itu sendiri), setelah saya telusuri lebih dalam—ternyata, generasi millennial adalah kajian dan wacana ilmiah cukup menarik dipergunjingkan.

Mari kita bedah dulu apa dan siapa generasi millennial? Generasi Millennial sebagai pengganti istilah “generasi Y”—lazim disebut millennials. Istilah millennial generation peletak batu pertamanya adalah dua pakar sejarah dan penulis Amerika William Strauss dan Neil Howe. Millennials juga dalam beberapa sumber ialah kelompok demografi setelah generasi X (Gen X). Tidak ada batasan waktu awal dan akhir dari generasi ini. Peneliti biasanya menggunakan ukuran dari kelahiran awal 1980-an sampai tahun 2000-an sebagai akhir dari kelahiran kaum millennial ini. Artinya, generasi millennial rata-rata berusia 13 – 35 tahun. Apakah Anda termasuk?

Asli Muhammadiyah

William Strauss dan Neil Howe adalah peneliti sejarah Amerika Serikat, menurutnya, sejarah Amerika merupakan rangkaian dari biografi generasi 1584, bisa dilihat dari karyanya bertajuk Generations dan dikembangkan pada karya selanjutnya The Fourth Turning. Dalam hal ini, kita tidak akan membahas masalah tersebut panjang lebar. Tidak sedikit juga peneliti mengkritisi Strauss dan Howe, corak teorinya terlalu mengedepankan pandangan umum (makro), tapi kecolongan pada peristiwa khusus (mikro). seperti; faktor keluarga, faktor pendidikan non-formal, dan sejenisnya. Dua sejarawan itu sempat sukses dalam memprediksi perilaku generasi millennial. Selain itu, Strauss dan Howe pun mempunyai keberhasilan dalam meramalkan peta politik dan ekonomi di Amerika yang membuat teorinya menjadi “tenar”.

Sekarang kita tinggalkan Strauss dan Howe. Di Indonesia istilah millennials sedang ngetrend. Stempel generasi millennial biasanya disematkan kepada mereka yang terlalu sibuk dengan “alam maya”, sekaligus dianggap sebagai generasi instan. Generasi yang ingin maju tapi tidak mau bersusah payah. Tidak ada yang salah dengan tudingan itu. Internet, smartphone, dan barang semacam gadget tidak bisa dipungkiri dewasa ini telah menjadi kebutuhan dasar. Lumrah mereka gandrung dengan perkembangan teknologi. Hanya saja, meminjam istilahnya Gus Nadirsyah Hosen, “Smartphone tidak lantas membuat kita menjadi pintar”. Kita kadang terjebak. Kalau boleh saya tambahkan, kecerdasan atau kepintaran kita dikalahkan oleh smartphone.

Asli Muhammadiyah

Sebagai buktinya, muncul istilah “yang dekat berasa jauh, dan yang jauh berasa dekat”. Inilah, pergaulan sosial kita terbatasi oleh kepintaran gadget sehingga kita terlihat bodoh di sekitar teman, saudara, bahkan keluarga kita sendiri.

Bagaimana kabar santri di tengah arus gelombang ini? Apa kabar? Kita sama-sama tahu, di pesantren, santri tidak diperbolehkan membawa gadget (hp, tablet, dan sejenisnya), terkecuali laptop (mungkin). Gerak aktivitas santri berselancar di dunia maya dibatasi oleh aturan-aturan yang mengikat. Bagi santri kedapatan membawa handphone, handphone-nya akan disita keamanan—baru akan dikembalikan ketika orang tuanya datang atau santri mau pulang (mudik). Ada lagi pesantren yang memberikan aturan, boleh membawa seperangkat gadget tapi hanya difungsikan pada saat hari libur, selebihnya dititipkan pengurus.

Aturan tersebut, bukan berarti pesantren dan santri menutup diri dari dunia luar, tidak! Santri masih punya kesempatan berselancar, ketika sekolah, ketika di ruang komputer, ketika hari libur menonton tv di kantin, atau ketika dia pulang ke rumah. Tujuannya untuk apa aturan tersebut? Agar para santri fokus dalam belajar, mengaji, menghapal, dan mengikuti aktivitas pondok.

Kita tahu sendiri, efek dari gadget cukup mengkhawatirkan walaupun di sisi lain mempunyai manfaat tinggi. Namun, berbeda cerita ketika berada di lingkungan pesantren. Oleh kiai—kita ditekankan untuk belajar istiqamah dan terlepas dari hal-hal yang membuat kita malas dan tidak fokus. Kiai selalu berpesan, “belajar dulu saja yang rajin, nanti dunia akan ikut dengan sendirinya.” Telah jelas, santri oleh kiai tidak disuruh untuk instan, melainkan harus ada usaha yang sungguh-sungguh, berbeda dengan karakter generasi millennial yang didefinisikan pada umumnya.

Dalam hal ini, santri termasuk generasi millennial (jika ditilik dari usianya), rata-rata usia santri 13-20 tahun, darahnya masih darah muda. Di sinilah peran pesantren, mendidik santrinya untuk menjadi “generasi millennial-vertikal”. Maksudnya, generasi yang selalu berhubungan dengan Tuhannya (Hablum Minallah), menjauhi larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya. Rasulullah berpesan, “Tiada sesuatu yang lebih disukai Allah daripada seorang pemuda yang beratobat,” (HR Ad-Dailami).

Tidak hanya itu, santri juga di didik menjadi “generasi millennial-horizontal”, di mana dalam pesantren kita diajarkan kebersamaan, persaudaraan, dan menghomati orang lain (Hablum Minannas). Di pesantren kita selalu diingatkan, saudara yang bukan seiman adalah saudara dalam kemanusiaan. Tidak pandang bulu, apapun madzhab, golongan, agama, budaya, dan negaranya. Menghormati manusia jelas merupakan sebuah anjuran agama.

Sudah jelas sekarang, di sinilah letak kesalahan dari dua sejarawan di atas tadi, pergolakan zaman tidak melulu berimbas pada seluruh generasi millennial. Faktor-faktor seperti pesantren harus diperhatikan juga dalam menimbang sebuah wacana. Mungkin secara umum, kita kena imbas dari zaman, namun secara prinsip terdasar, santri tetap sama tingkah dan perilakunya. Kenapa? Perkembangan zaman hanya ngiming-ngimingi kita dalam hal teknologi (itu yang paling dominan).

Sedangkan teknologi sendiri, dalam kajian budaya merupakan lapisan terluar dan paling sedikit nilai budayanya. Teknologi hanya mengandung nilai kegunaan. Dengan itu, walaupun teknologi masuk secara besar-besaran, tidak akan mengubah hakikat dari karakter tradisi kita. Kita pasti bisa menilai mana nilai terluar dan mana nilai terdalam. Jadi, teknologi hanya mengubah pola perilaku, kebiasaan hidup, dan cara berkomunikasi. Buktinya apa?

Buktinya, kita bisa lihat di pesantren, bagaimana santri beraktivitas. Sama sekali tidak mencirikan generasi millennial (yang didefinisikan di pergaulan kita). Itulah bedanya, generasi millennial tok dengan generasi millennial-vertikal (horizontal akan ikut dengan sendirinya). Kenapa? “millennials-vertikal” berbanding lurus dengan “millennials-horizontal”.

Oleh sebab itu, menghadirkan generasi millennial-vertikal harus terus digiatkan, tugas ini tidak hanya dibebankan pada pesantren, melainkan seluruh elemen masyarakat, khususnya orang tua, guru, dan tokoh masyarakat untuk terus mengingatkan kepada pemuda (anak/anak didiknya), fungsikan segala sesuatunya dengan baik, gunakan pikiran sehat maka akan laik (sehat spiritual, sehat sosial, sehat intelektual, dan sehat emosional). Yang penting jangan terlibat “isu-isu murahan yang berharga mahal itu” (hoaks).

Rasulullah SAW bersabda, “Pergunakanlah yang lima sebelum datang masa yang lima; Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa kosongmu sebelum datang masa sibukmu dan masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu,” (HR Hakim).

*) Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Olahraga Asli Muhammadiyah

Rabu, 03 Januari 2018

LP Maarif NU Tegal Susun Satuan Komunitas Pramuka

Tegal, Asli Muhammadiyah. Ketua Ketua Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU Kabupaten Tegal, Drs H Alfatah mengatakan, pihaknya tengah menyusun Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Maarif NU. Hal itu sebagai upaya mengaktifkan Sako ? Pramuka Maarif NU di Kabupaten Tegal.

“Grand desainnya antara lain dengan melakukan pergantian antar waktu pengurus dan merumuskan sejumlah program kegiatan,” turut Alfatah di Gedung PC NU Kabupaten Tegal, Jalan Jendral Ahmad Yani, Jumat (7/4).

LP Maarif NU Tegal Susun Satuan Komunitas Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Maarif NU Tegal Susun Satuan Komunitas Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Maarif NU Tegal Susun Satuan Komunitas Pramuka

Selanjutnya, kata Fatah, rumusan program kerja Sako Maarif akan dimantapkan dalam Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Sako Maarif NU Kabupaten Tegal yang diagendakan pada pertengahan Mei 2017 mendatang.?

“Selain membahas Program Kerja, insyaallah dalam Rakercab nanti, sekaligus akan dilakukan pelantikan Pengurus Cabang Sako Maarif NU Kabupaten Tegal masa bakti antar wakti 2016-2021 oleh Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Tegal,” ungkapnya

Asli Muhammadiyah

Fatah menambahkan, salah satu program prioritas dan mendesak yang akan dibahas dalam Rakercab Sako yakni penjaringan atau seleksi peserta Perkemahan Wirakarya Maarif Nasional (Perwimanas II) dan Kursus Mahir Dasar Pembina bagi pembina Sako Maarif NU.

“Konsep seleksi perwimanas dan waktu KMD juga akan dimusyawarahkan bersama dengan peserta Rakercab Sako, sehingga akan menghasilkan output yang diharapkan yakni peserta Perwimanas berkualitas dan pembina Sako yang kompeten,” imbuhnya. (Hasan/Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah Tokoh, Hadits Asli Muhammadiyah

Rabu, 27 Desember 2017

Hari Ini Awal Rangkaian Peringatan Harlah Ke-70 Muslimat NU

Jakarta, Asli Muhammadiyah - Pengurus Muslimat NU hari ini Rabu (23/3) pagi memberikan memberikan layanan kesehatan dan pengobatan gratis bagi 250 peserta di Jalan KH Agus Salim, Kota Malang. Bakti sosial ini mengawali rangkaian peringatan Harlah Ke-70 Muslimat NU yang puncaknya diadakan di Stadion Gajayana, Malang, pada Sabtu 26 Maret 2016.

Sementara pada Kamis pagi 24 Maret 2016, Muslimat NU menyerahkan bantuan berupa alat untuk penyandang disabilitas dan santunan kepada 100 orang di Kota Malang.

Hari Ini Awal Rangkaian Peringatan Harlah Ke-70 Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ini Awal Rangkaian Peringatan Harlah Ke-70 Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ini Awal Rangkaian Peringatan Harlah Ke-70 Muslimat NU

Rangkaian peringatan harlah ini terus bergulir. Pada Jumat siang 25 Maret 2016, Muslimat NU menggelar khataman Al-Quran dengan 30 hafidzah (penghafal Al-Quran) yang berasal dari tiga cabang Muslimat NU terdekat.

Asli Muhammadiyah

Sepuluh dari mereka berasal dari Kabupaten Malang. Sepuluh hafidzah lagi berasal dari Kota Malang. Sedangkan sepuluh lainnya berasal dari Kabupaten Batu.

Khataman Al-Quran ini akan disimak oleh 70 pengurus harian PP Muslimat NU, PW Muslimat NU, PC Muslimat NU, dan tokoh setempat. Kegiatan ini rencananya akan dilangsungkan di rumah dinas Walikota Malang.

Asli Muhammadiyah

Sedangkan puncak rangkaian peringatan Harlah Ke-70 Muslimat NU dilangsungkan di Stadion Gajayana, Malang, pada Sabtu siang 26 Maret 2016. Stadion ini akan dipadati 70 ribu jamaah yang terdiri atas anggota Muslimat NU dari pelbagai daerah.

Selama ini Muslimat NU menyelenggarakan berbagai program dan kegiatan di bidang- sosial, kemasyarakatan, kesehatan, pendidikan, advokasi dan penguatan civil society, peningkatan kapasitas umat, hingga berkontribusi dalam MDGs dan SDG’s dalam upaya memajukan masyarakat khususnya perempuan Indonesia.

Unit layanan masyarakat yang dijalankan Muslimat NU meliputi Yayasan Kesejahteraan Muslimat (YKM) NU dengan 108 RB/RS/Klinik, 10 asrama putri/pesantren putri, 104 panti asuhan, 10 panti jompo; Yayasan Pendidikan Muslimat (YPM) NU dengan 9.986 TK/RA, 1571 PKBM, 14.350 TPQ, 10 balai latihan ketrampilan (BLK), serta 4.622 PAUD.

Selain itu Muslimat NU memiliki Yayasan Haji Muslimat (YHM) NU dengan 146 Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH); Yayasan Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim Muslimat (Hidmat) NU dengan 59.650 majelis taklim; dan satu Induk Koperasi An-Nisa (Inkopan), sembilan koperasi sekunder, 144 koperasi primer, dan 355 Tempat Pelayanan Koperasi (TPK). (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Nasional Asli Muhammadiyah

Malam Jumat itu, Kiai Sahal Berpamitan Lewat Mimpi

Salatiga, Asli Muhammadiyah. Salah satu kiai sepuh NU, KH Mahfud Ridwan pengasuh pondok pesantren Edi Mancoro Salatiga, sedang terbaring sakit. Ada cerita yang menarik, malam Jumat lalu, ia sempat bertemu Kiai Sahal dalam mimpi. Kiai Sahal berpamitan dengannya.

Kiai Mahfud adalah adalah juga seorang karib KH Abdurrahman Wahid. Kiai yang ramah dan bersahaja ini sudah di rawat di Rumah Sakit Puri Asih Salatiga sejak Rabu, 22 Januari 2014 lalu.



Malam Jumat itu, Kiai Sahal Berpamitan Lewat Mimpi (Sumber Gambar : Nu Online)
Malam Jumat itu, Kiai Sahal Berpamitan Lewat Mimpi (Sumber Gambar : Nu Online)

Malam Jumat itu, Kiai Sahal Berpamitan Lewat Mimpi

Menurut penuturan putranya, Muhammad Hanif Mahfud, pada mulanya Kiai Mahfud mengalami muntaber dan demam beberapa hari. Dokter menyarankan kiai untuk di rawat di Rumah Sakit. "Bapak demam selama beberapa hari, tapi setelah diperiksa dokter ada gejala stroke ringan, selaian juga paru-paru yang kembali kambuh," tuturnya.

Asli Muhammadiyah

Saat dijenguk oleh beberapa santri, Kiai Mahfud memaksakan diri untuk duduk sekalipun masih nampak lemah. Kiai didampingi ibu nyai, ini bertutur dengan suara yang sangat lirih namun jelas. Jarum infus masih menempel di lengan kanannya.

Bertemu Kiai Sahal

Asli Muhammadiyah

Sambil menahan nafas yang tersengal, dan mata menerawang, ia menuturkan pada saat malam Jumat yang lalu berjumpa dengan KH Sahal Mahfudh.

"Saya malam Jumat kemarin dijumpai Kiai Sahal, beliau bilang, aku thak dhisik yo, terusno anggonmu ngrumati arek-arek (Aku duluan yah, lanjutkan perjuanganmu membimbing santri-santri)," demikian ceritanya.

Sesaat setelah itu, ia terbangun. Sekitar jam dua dini hari, Jumat (24/1) ia mendengar kabar bahwa Kiai Sahal telah meninggal kesedihan mendalam dirasakannya kehilangan tokoh panuta warga nahdhiyin tersebut.

Semoga lekas sembuh, Kiai! Amien. (Fahsin M. Faal/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Cerita, News, Bahtsul Masail Asli Muhammadiyah

Muslimat NU DKI Jakarta Tumpah di Halaman PWNU

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Pengurus Wilayah Muslimat NU DKI Jakarta memperingati hari kelahiran Nabi Muhamad SAW di halaman kantor PWNU DKI Jakarta, jalan Talang nomor 3, Jakarta Pusat Sabtu (9/2) pagi.

Sedikitnya 5000 kader muslimat NU DKI Jakarta memenuhi pekarangan kantor PWNU DKI Jakarta. Sementara puluhan mobil pribadi dan angkutan umum yang mengantar mereka, berjajar panjang di sepanjang jalan Talang.

Muslimat NU DKI Jakarta Tumpah di Halaman PWNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU DKI Jakarta Tumpah di Halaman PWNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU DKI Jakarta Tumpah di Halaman PWNU

Peringatan hari kelahiran Nabi Muhamad SAW. menghadirkan DR. Nasarudin Umar dan KH. Nur Iskandar SQ sebagai penceramah. Keduanya menjelaskan sosok Rasulullah SAW sebagai model kepemimpinan ideal.

Sejumlah tokoh DKI Jakarta juga memberikan kata sambutan acara yang melibatkan kaum ibu se-Jabodetabek. Mereka adalah Ketua PW Muslimat NU DKI Jakarta Hj. Hizbiyah Rochim, Ketua PWNU DKI Jakarta H. Djan Faridz, dan Gubernur DKI Jakarta Ir. Joko Widodo.

Dalam peringatan itu, PW Muslimat NU DKI Jakarta menyebutkan 25 nama kadernya yang mendapat hadiah umroh dari Ketua PWNU DKI Jakarta. Mereka dipilih berdasarkan atas enam kali kehadiran pengajian Muslimat NU DKI Jakarta berturut-turut di jalan Talang 3, Jakarta Pusat.

Asli Muhammadiyah

Seorang kader Muslimat NU Murtinah bin Usman asal Kemayoran Jakarta Pusat, meninggal dunia di tempat saat mengikuti peringatan maulid itu. Atas peristiwa itu, jajaran pengurus Muslimat NU DKI Jakarta turut berduka cita.

“Semoga meninggalnya Ibu Murtinah sebagai meninggal syahid oleh Allah. Kami semua berdoa agar ia mendapat syafaat Rasulullah SAW,” kata Maghfiroh, Sekretaris PW MUslimat NU DKI Jakarta kepada Asli Muhammadiyah, Sabtu (9/2) siang.

Asli Muhammadiyah

Usai peringatan maulid Nabi Muhamad SAW., jajaran pengurus Muslimat NU DKI Jakarta bertakziah ke tempat kediaman duka di Kemayoran.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Amalan Asli Muhammadiyah

Selasa, 26 Desember 2017

Indonesia Segara Bentuk Forum Perdamaian Timur Tengah

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Pemerintah Indonesia akan membentuk forum perdamaian yang bertujuan untuk melerai berbagi konflik yang terjadi di Palestina, Lebanon, maupun Irak. Rencananya forum tidak hanya melibatkan para pejabat negara-negara Islam namun juga para ulama yang berpengaruh di masing-masing negara yang sedang berkonflik.

Hal tersebut dikatakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Hasyim Muzadi yang juga Sekretaris Jenderal Konferensi Ulama dan Cendekiawan Dunia Islam (ICIS) usai bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia yang juga Sekretaris Jenderal Organisasi Koferensi Islam (OKI) Abdullah Ahmad Badawi di Hotel Sangril La Jakarta, Kamis (22/2).

Forum perdamain itu sebelumnya diusulkan Hasyim Muzadi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sebagai negara muslim terbesar di dunia Indonesia diharap melakukan upaya-upaya menyelesaikan konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Indonesia Segara Bentuk Forum Perdamaian Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Segara Bentuk Forum Perdamaian Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Segara Bentuk Forum Perdamaian Timur Tengah

”Saya bertemu Presiden 27 Januari lalu. Saya katakan, Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia kog ada konflik seperti itu diam saja. Lalu diambil inisiatif Pak Menteri Luar Negeri yang bertemu para pejabat negara Islam, lalu saya yang bertemu para ulamanya,” kata Hasyim.

Menurutnya, konflik antara Hamas dengan Fattah di Palestina tidak bisa diselesaikan oleh negara tetapi oleh para ulama yang berpengaruh di sana. Dikatakan konflik yang terjadi di Irak, misalnya, sebenarnya bukan antara sunni-syiah.

”Konflik itu itu sebenarnya bukan urusan kedua aliran itu, tapi mereka dikonflikkan oleh para agresor yang masuk di Irak itu supaya mereka dapat menang secarta gratis ga pakai pluru, cuma saya sedang berkeliling supaya tokoh-tokoh berat (ulama berpengaruh, red) bisa hadir. Kalau diwakilkan ya ga jadi apa-apa, jadi seminar tentang perdamaian saja,” katanya.

Asli Muhammadiyah

Pada 27 Februari ini hasyim akan meluncur ke Makkkah untuk menemui dengan pimpinan Rabithah Alam Islami, forum Internasional di Saudi Arabia, lalu ke Iran menemui Ali At-Tazkiri dan Rafsanjani, salah seorang pemimpin Syiah yang paling berpengaruh di Irak.

”Konflik-konflik yang terjadi di Timur Tengah terbukti tidak dapat dihadapi oleh negara saja tapi harus dengan ulama yang menggerakkan rakyat di situ. Seperti Nasrollah pemimpin Hisbullah di yang di lebanon itu kan pasukannya 10 kali lipat dibanding yang dipunyai pemerintah,” kata Hasyim.

Sementara itu kepada Badawi, Hasyim menyatakan, hubungan antara OKI dengan ICIS akan memperkuat hubungan negara-negara Islam dengan ulama setempat. Dikatakan Hasyim, hubungan itu penting karena tidak selalu keputusan negara Islam itu selaras dengan Ulama.

Asli Muhammadiyah

”Konflik-konflik yang ada di Timur Tengah tidak dapat dihadapi oleh negara saja tapi harus dengan ulama yang menggerakkan rakyat di situ. Lagi pula Hamas dan Fatah yang bertengkar itu kan organisasi-organisasi yang ada ulamanya," katanya. (nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Humor Islam Asli Muhammadiyah

Senin, 25 Desember 2017

Akhirnya, Pemimpin ISIS Asia Tenggara Tewas di Marawi

Manila, Asli Muhammadiyah. Menteri Pertahanan Filipina, Senin (16/10), melaporkan Isnilon Hapilon, seorang gerilyawan ISIS, tewas dalam pertempuran merebut sebuah kota di Filipina yang dikuasai pemberontak.

Hapilon masuk dalam daftar "teroris yang paling dicari" Amerika Serikat. Para analis keamanan meyakini Hapilon sebagai pemimpin ISIS di Asia Tenggara. Ia ingin membangun kekhalifahan di sini karena ISIS menghadapi kekalahan di Irak dan Suriah.

Akhirnya, Pemimpin ISIS Asia Tenggara Tewas di Marawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhirnya, Pemimpin ISIS Asia Tenggara Tewas di Marawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhirnya, Pemimpin ISIS Asia Tenggara Tewas di Marawi

"Pasukan kami mampu menemukan Isnilon Hapilon dan Omar Maute. Mereka berdua terbunuh," kata Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana seperti dilansir kantor berita AFP. Omar adalah tokoh ISIS lain yang bersama Hapilon memimpin serangan di kota Marawi, Filipina selatan, Mei lalu.

Sebelumnya, pemerintah AS menawarkan hadiah 5 juta dollar AS untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Hapilon, pria 51 tahun yang menjadi pemimpin senior kelompok Abu Sayyaf yang berbasis di Filipina selatan. AS menyebut kelompok ini sebagai "organisasi teroris asing".

Asli Muhammadiyah

Lorenzana mengatakan, pasukan darat Filipina yang melakukan serangan terakhir terhadap militan di Marawi berhasil menewaskan Hapilon dan Omarkhayam Maute, Senin pagi.

Mayat kedua pria tersebut akan menjalani tes DNA menyusul tawaran hadiah dari pemerintah AS dan Filipina, tambahnya.

Asli Muhammadiyah

"Implikasi dari perkembangan ini adalah bahwa insiden Marawi sudah hampir berakhir dan kami mungkin akan mengumumkan penghentian pertempuran dalam beberapa hari," kata Lorenzana.

Militer Filipina mengatakan Hapilon bergabung dengan kelompok Maute pada 23 Mei untuk membuat kekacauan di Marawi. 

Pasukan bersenjata pro-ISIS menduduki sebagian daerah Marawi, kota Muslim Filipina yang mayoritas Katolik, juga pada 23 Mei. Sejak itu lebih dari 1.000 orang terbunuh dan 400.000 orang mengungsi.

Lorenzana menambahkan, tentara Filipina masih mengejar pemimpin militan Malaysia Mahmud Ahmad di zona pertempuran Marawi. Menurut pihak berwenang setempat, Ahmad dianggap membantu merencanakan serangan Marawi. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kiai Asli Muhammadiyah