Humor Islam


info Humor Islam
Humor Islam bahasa
Humor Islam bahasa nasional
Humor Islam bahasa indonesia
Humor Islam belah bambu
Humor Islam busuk
Humor Islam berasal dari bahasa yunani yaitu
Humor Islam belanda
Humor Islam busuk sby
Humor Islam berasal dari kata
Humor Islam global
Humor Islam gus dur
Humor Islam golkar
Humor Islam gender
Humor Islam gorontalo
Humor Islam global amerika serikat
habib Humor Islam mp3
video Humor Islam full
Humor Islam gerakan non blok
rahasia Humor Islam terbaru
Humor Islam g 30 s pki
Humor Islam konfrontasi
Humor Islam kerajaan kutai
Humor Islam kampus
Humor Islam kerajaan majapahit
Humor Islam kotor
Humor Islam kerajaan tarumanegara
Humor Islam kompasiana
Humor Islam luar negeri indonesia
Humor Islam luar negeri bebas aktif
Humor Islam luar negeri indonesia adalah
Humor Islam liberal
Humor Islam yang membedakan warna kulit disebut
Humor Islam yang dianut bangsa indonesia
Humor Islam yang baik
Humor Islam yahudi
Humor Islam yang dianut bangsa indonesia adalah
Humor Islam merupakan
Humor Islam yaitu

Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Humor Islam. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Humor Islam. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Januari 2018

Peristiwa Akhir Sya’ban 1393 H

Pada 27 September 1973 bertepatan dengan 29 Sya’ban 1393 H, terjadi keributan di gedung DPR RI Jakarta. Saat itu sedang diadakan Pembicaraan Tingkat II mengenai RUU Perkawinan. Aksi-aksi solidaritas terjadi di berbagai daerah yang berbuntut penahanan beberapa aktivis muslim. Antusias umat Islam mengikuti proses pembahasan RUU ini luas biasa, mungkin persis seperti suasana pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 ini. NU melaui PPP berhasil memegang kemudi dan memainkan peran yang sangat taktis berhadapan dengan PDI, Golkar dan ABRI.

RUU Perkawinan yang kemudian disahkan menjadi UU No 1 Tahun 1974 merupakan ketentuan Undang-Undang yang sangat penting terkait eksistensi umat Islam di Indonesia. Hukum perkawinan yang diterapkan di suatu negara menunjukkan sejauh mana negara ini mendasarkan hukum positifnya pada ajaran agama. Hukum perkawinan atau lebih luas hukum keluarga terkait erat dengan ketentuan agama di satu sisi, dan urusan negara di di sisi lainnya. Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim yang taat beragama ketika itu berhadapan dengan kelompok nasionalis sekuler. Saat itu bahkan terdengar pernyataan miring yang membuat geram umat Islam, bahwa “kita tidak bisa membuat kemajuan-kemajuan bila selalu memegang ajaran agama”.

Peristiwa Akhir Sya’ban 1393 H (Sumber Gambar : Nu Online)
Peristiwa Akhir Sya’ban 1393 H (Sumber Gambar : Nu Online)

Peristiwa Akhir Sya’ban 1393 H

Proses pembahasan RUU Perkawinan itu sebenarnya merupakan titik puncak dari perdebatan mengenai hukum perkawinan yang terjadi sejak zaman kolonial.? Perdebatan tidak hanya terjadi antara kelompok Islam(is) dengan kelompok sekuler di satu sisi tetapi juga dengan para aktivis gender. Beberapa point dalam ketentuan hukum keluarga Islam dinilai memberikan perlakukan tidk adil terhdap kaum perempuan, terutama terkait poligami, talak, perwalian dan pembagian harta warisan.

Masalah UU perkawinan menjadi perhatian penting ketika Kementerian Agama didirikan pascakemerdekaan. Pada Oktober 1950, Menteri Agama KH Wahid Hasyim membentuk Panitia Penyelidik Hukum Nikah, Talak dan Rujuk yang diketuai oleh Mr. Teuku Muhammad Hasan. Hasilnya disusun tiga RUU perwinan: 1)RUU perkawinan yang berifat khusus, 2)RUU perkawinan untuk umat islam, dan 3)RUU Perkawinan untuk umat Kristen.

Asli Muhammadiyah

Berikutnya, pada 1954, Menteri Agama KH Muhammad Ilyas mengajukan RUU Perkawinan khusus untuk umat Islam. Menteri Agama dari perwakilan NU ini memilih “mendahulukan pemenuhan kebutuhan umat Islam yang merupakan bagian terbesar dari rakyat Indonesia”. Namun RUU ini kandas karena DPR telah menandatangani RUU yang lebih bersifat umum di atas. RUU inisiatif ini ditandatangani oleh Ny. Sumantri dari Fraksi PNI.

Asli Muhammadiyah

Adanya dua RUU ini menyebabkan pembahasan RUU perkawian menemui jalan buntu. Pihak NU menegaskan bahwa bahwa dalam negara yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, seharusnya perkawinan diatur menurut ajaran agama, bukan semata-mata segi keperdataannya seperti ikatan perjanjian pada umumnya. Sementara pengusul RUU inisiatif mempertimbangkan aspirasi dari kelompok nonmuslim di parlemen serta para aktivis gender.

Pada masa Orde Baru, 31 Juli 1973, pemerintah mengajukan RUU Perkawinan yang baru. Bersamaan dengan itu, dua RUU yang pernah diajukan ke DPR dinyatakan dicabut kembali. Namun peristiwa ini memicu reaksi yang luar biasa di kalangan umat Islam. Ada sebelas point dalam RUU dari pemerintah itu yang dinilai bertentangan dengan ajaran Islam. RUU itu juga mirip sekali dengan RUU perkawinan yang diajukan oleh Ny. Sumantri. Apalagi ditemukan bahwa ada bagian dalam RUU dari pemerintah itu yang merupakan terjemahan saja dari Burgerlijk Wetboek dan Huwelijksordonantie Christen Indonesier pada zaman Belanda dulu.

Gelombang penolakan RUU Perkawinan terus mengemuka. Buya Hamka di harian KAMI, antara lain menulis bahwa RUU perkawinan yang diajukan oleh pemerintah itu telah memaksa Kaum Muslimin sebagai golongan mayoritas di negeri ini untuk meninggalkan syariat agamanya sendiri. Para pelajar Islam yang menggabunga diri dalam Badan Kontak Generasi Pelajar Islam membuat pernyataan tertulis dengan judul “Jangan Ganggu Aqidah Kami”. Pernyataan senada juga disampaikan secara perseorangan maupun kelompok kepada Presiden Soeharto dan kepada DPR. Institut Agama Islam? Yogyakarta juga memberikan catatan akademis terkait RUU itu.

Kemudian atas prakarsa Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Bisri Syansuri, pada 22 Agustus 1973, diadakan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama di Jombang yang menolak secara tegas RUU Perkawinan ini disertai dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits. Namun tidak hanya menolak, Munas Alim Ulama ini juga mengajukan beberapa usulan yang rinci terkait perubahan pasal demi pasal yang menjadi pegangan bagi Fraksi PPP di DPR RI.

Reaksi penolakan umat Islam itu pun membuat Presiden Soeharto gamang. Dalam peringatan Isra’Mi’rj di Masjid Istiqlal Jakarta ia menyampaikan pernyataan khusus bahwa, “tidak mungkin dan tidak masuk akal kalau pemerintah mengajukan RUU yang bertentangan dengan aspirasi dan pandangan masyarakat yang ada di Indonesia”.

Tibalah saat-saat yang ditunggu, yakni pemberian pemandangan umum oleh fraksi-fraksi di DPR dan tanggapan pemerintah, pada sesi Pembicaraan Tingkat II RUU Perkawinan, 17-18 Septembr 1973. Para aktivis Islam menyimak sidang dari balkon di sisi-sisi ruang sidang dalam suasana tegang. Tiga fraksi di DPR, yakni ABRI, Fraksi Golkar dan PDI cenderung “main aman” terhadap pembahasan RUU ini. Fraksi PDI yang paling disorot dalam pembahasan ini hanya menyampaikan pandangan normatif disertai imbauan agar masyarkat tenang dan menunggu proses sidang berlangsung.

Sementara itu fraksi PPP bersifat aktif menyampaikan catatan-catatan dan usulan perubahan beberapa pasal dalam RUU perkawinan. Salah satu bagian yang disoroti adalah bab dan pasal mengenai pertunangan yang antara lain menyebutkan bahwa ketika terjadi kehamilan dalam pertunangan itu, maka pria diharuskan kawin dengan wanita jika disetujui oleh pihak wanita. Kepada para aktivis gender, Fraksi PPP menegaskan bahwa peraturan tentang pertunangan itu justru merendahkan derajat wanita sebab merupakan perlindungan hukum terhadap pergaulan bebas yang hampir selalu merugikan kaum wanita.

Ketika memasuki pembacaan tanggapan pemerintah yang diwakaili oleh Menteri Agama, sidang tidak kondusif lagi. Pada saat pembicaraan mengenai pasal pertunangan, para aktivis Islam meneriakkan yel-yel menolak RUU perkawinan dari balkon-balkon sidang. Sidang dihentikan. Para anggota DPR dikawal keluar dari ruang sidang. Beberapa aktivis yang dianggap sebagai penggerak keributan itu ditahan.

Tidak untungnya, keributan di ruang sidang DPR yang berbuntut penahanan beberapa aktivis Islam itu memicu reaksi umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia sehingga dianggap menggangu “stabilitas politik dan pembangunan”. Penahanan para aktivis Islam itu sangat disesalkan dan memicu aksi solidaritas dari luar kota Jakarta. Umat Islam juga diserukan membacakan qunut nazilah untuk mereka yang ditahan oleh aarat keamanan. Peristiwa dalam Sidang DPR RI yang disebut sebagai “Peristiwa Akhir Sya’ban” itu menjadi titik balik bagi pemerintah dan Fraksi Golkar yan cukup dominan dengan 261 kursi ditambah 75 kursi ABRI. Sementara Fraksi PPP mempunyai 94 kursi dan PDI 30 kursi.

Namun kondisi itu dimanfaatkan dengan baik oleh PPP untuk mengadakan lobbying tingkat tinggi di luar gedung DPR. PPP terus mengadakan serangkaian pertemuan dengan pimpinan politik, meskipun manuver di luar sidang itu dinilai oleh para politisi PDI tidak sesuai dengan asas-asas demokrasi. PPP merasa bertanggungjawab terhadap kondisi itu dan ingin memperjuangkan agar UU Perkawinan dapat disahkan tetapi sesuai dengan ajaran Islam. Rais Aam Majelis Syuro PPP KH Bisri Syansuri dan Ketua Fraksi PPP KH Masjkur juga secara khusus menemui Presiden Soeharto dengan membawa hasil Munas Alim Ulama NU di Jombang.

Serangkaian lobbying yang telah dilakukan oleh PPP telah menghasilkan perumusan-perumusan baru di dalam RUU perkawinan yang “mau tidak mau” harus disetujui oleh para anggota DPR, terutama dari kalangan mayoritas Fraksi Golkar.

Menjelang penyelesaian RUU Perkawinan, ratusan pemuda pemudi yang menamakan diri Kesatuan Ummat Islam Indonesia melakukan aksi demonstrasi di depan gedung DPR RI dengan pengawalan ketat para petugas keamanan. Sementara para anggot fraksi lain terlihat tegang, para anggota Fraksi PPP terlihat tenang. KH Masjkur sendiri sebelumnya telah bertemu dengan beberapa pemimpin demonstran dan menyampaikan perkembangan terakhir dari hasil-hasil lobbying tingkat tinggi itu.

Pada 22 Desember 1973 dalam sidang paripurna yang dihadiri oleh 369 dari 460 anggota DPR yang ada, RUU perkawinan ditetapkan secara aklamasi. Kemudian pada 2 Januri 1974 RUU ini disahkan oleh presiden RI sebagai Undang-Undang Perkawinan yang diundangkan pada tanggal yang sama. UU ini terdiri dari 14 bab dengan 67 pasal. Sistematika bab tidak berbeda dengan RUU yang diajukan oleh? pemerintah, namun bab tentang pertunangan dan pengangkatan anak telah dihapus. Sementara rumusan pasal-pasalnya merupakan “refisi yang berat” dari RUU versi pemerintah.

Meskipun UU Perkawinan No 1 tahun 1974 diperuntukkan bagi seluruh warga negara Indonesia, tidak hanya diperuntukkan bagi umat Islam, namun rumusan-rumusannya dianggap telah memberikan “hak istimewa” terhadap hukum perkawinan Islam. Apalagi UU itu telah memberikan mandat yang jelas terhadap Pengadilan Agama yang “dimandulkan” sejak era kolonial. Sementara Pengadilan Agama sendiri adalah lembaga peradilan perdata yang khusus untuk umat Islam, terutama berkaitan dengan persoalan hukum keluarga. (A. Khoirul Anam)



*Disarikan dari Daniel S. Lev dalam Islamic Court in Indonesia: A Study in the Pollitical Bases of Legal Institution.


Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kajian Islam, Humor Islam Asli Muhammadiyah

Kamis, 16 Juni 2005

Rais Syuriyah PWNU Jatim: Islam Nusantara Tidak Anti-Arab

Malang, Asli Muhammadiyah

Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KH Muhib Aman Aly menyatakan bahwa Islam Nusantara sama sekali tidak antiarab. Hal demikian ini diungkapkannya di hadapan para utusan cabang NU se-Jawa Timur pada acara Bahsul Masail Islam Nusantara di Universitas Negeri Malang, Sabtu, (14/2/2016).

Rais Syuriyah PWNU Jatim: Islam Nusantara Tidak Anti-Arab (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PWNU Jatim: Islam Nusantara Tidak Anti-Arab (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PWNU Jatim: Islam Nusantara Tidak Anti-Arab

“Dengan Islam Nusantara bukanlah berarti bahwa kita anti-Arab,” tegasnya.

Ia mengungkapkan bahwa jika saja kita memahami Islam Nusantara sebagai sebuah metode dakwah, maka tidak akan ada kesalahpahaman. Karena sejatinya Islam Nusantara adalah metode dakwah semata. Karena kondisi Nusantara dengan Timur Tengah tidak sama.

“Jika saja kita memahami Islam Nusantara, maka tidak akan ada NU garis-garisan. Karena Islam Nusantara adalah cara para wali songo untuk memasukkan Islam ke Nusantara,” paparnya.

Selanjutnya, ia menjelaskan tentang pentingnya memasukkan nilai-nilai Islami kepada budaya-budaya lokal sepanjang budaya itu bisa diislamisasi. Hal ini penting bagi dakwah Islam. Karena dakwah dengan model apapun, harus bisa beradaptasi dengan tradisi lokal sehingga Islam dapat di terima dengan baik. Strategi ini juga dilakukan Nabi Muhammad SAW dalam merangkul kelompok-kelompok lain saat di Madinah.

Asli Muhammadiyah

“Tidak mungkin untuk membangun peradaban Islam tanpa adanya budaya dari luar yang kita Islamisasikan,” lanjutnya. (Ahmad Nur Kholis/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Lomba, Humor Islam, Hadits Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah

Jumat, 14 April 2017

IAIN Surabaya jadi UIN Cetak "Islam Indonesia"

Surabaya, Asli Muhammadiyah. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya beralih menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya atau UINSa Surabaya pada 4 Desember 2013 untuk mencetak mahasiswa yang berkarakter Islam Indonesia.

IAIN Surabaya jadi UIN Cetak Islam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
IAIN Surabaya jadi UIN Cetak Islam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

IAIN Surabaya jadi UIN Cetak "Islam Indonesia"

"Selain kompetensi dasar yang dimiliki mahasiswa IAIN, maka UIN akan mencetak mahasiswa dengan kompetensi tambahan yakni karakter Islam Indonesia, jiwa kemandirian, dan kepekaan lingkungan hidup," kata Rektor UINSa Surabaya Prof H Abd Ala MAg di Surabaya, Rabu.

Didampingi Kasubag Humas UIN Sunan Ampel (UINSa) Surabaya Dr Hasbullah Hilmy, ia menjelaskan mahasiswa berkarakter Islam Indonesia adalah toleran, moderat, santun, memiliki kepekaan sosial, menjalankan Islam kontekstual, dan mengawal NKRI.

Asli Muhammadiyah

"Misalnya, saya terlibat dalam Tim Rekonsiliasi Syiah-Sunni Sampang bukan karena UIN ingin terlibat dalam konflik itu, melainkan justru ingin memberi kontribusi kepada bangsa dengan kepekaan sosial yang menyosialisasikan toleransi sesama Muslim," katanya.?

Asli Muhammadiyah

Menurut dia, alasan mendasar dari alih status melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 65 Tahun 2013 tertanggal 1 Oktober 2013 dan diundangkan pada 2 Oktober 2013 itu antara lain Islam tidak melakukan dikotomi antara ilmu agama dan umum.

"Bahkan, integrasi keduanya justru membuat ilmu yang ada bernilai plus. Alasan lain, akses masuk ke PTN itu semakin ketat, sehingga kami memperluas akses itu dengan membuka fakultas umum untuk mahasiswa dari kalangan menengah ke bawah," katanya.

Dengan alih status IAIN Surabaya menjadi UIN Surabaya itu, maka pihaknya membuka fakultas umum seperti Fakultas Kesehatan (FKes), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Fakultas Sains dan Teknologi (F-Saintek), dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip).

"Meski begitu, kami tetap berafiliasi ke Kementerian Agama, karena 60 persen program studi masih bernuansa keagamaan. Jadi, perbandingan agama-umum berkisar 60:40," katanya.

Oleh karena itu, fakultas-fakultas umum itu tetap mengajarkan ilmu-ilmu agama yang wajib, di antaranya Program Studi Ilmu Al Quran, Program Studi Ilmu Hadits, dan Pancasila dan Kewarganegaraan.

"Jadi, jika ada mahasiswa non-Muslim yang studi di UINSa Surabaya, maka dia harus tetap belajar beberapa ilmu ke-Islaman yang wajib, sehingga akan lahir ilmuwan dengan nilai-nilai ke-Islaman," katanya.

Selain mahasiswa, kompetensi sumberdaya manusia UINSa Surabaya juga akan ditingkatkan, misalnya kemampuan dosen dalam berbahasa Inggris dan layanan administrasi yang serba ICT.

Untuk menyongsong peluncuran UINSa Surabaya oleh Menag Suryadharma Ali pada 4 Desember 2013 itu, pihaknya menyelenggarakan serangkaian acara di antaranya lomba desain logo (13/10-1/11), orasi ilmiah mahasiswa (14/11), dan lomba kreatif website/laman (15/11-1/12).

Selain itu, jalan sehat (24/11), studium generale on Islamic Studies (25/11), peluncuran domain www.uinsby.ac.id (3/12), dan seminar pendidikan untuk menandai peluncuran IAIN Sunan Ampel Surabaya menjadi UIN Sunan Ampel Surabaya (4/12). (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Humor Islam, Pendidikan, Amalan Asli Muhammadiyah

Minggu, 26 November 2017

Gus Yahya tentang Empat Hal Pokok yang Mesti Ditinjau Umat Islam

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Katib ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya C Staquf (Gus Yahya) menyerukan kepada umat Islam untuk peka terhadap perkembangan realitas kekinian ketika dihubungkan dengan turats atau sumber teks tradisional.

Menurutnya, terminologi dalam turats terikat oleh fenomena pada saat terminlogi itu ditulis. Istilah imamah (kepemimpinan), misalnya. Realitas politik sekarang tentu berbeda dari kenyataan politik zaman dulu yang tak mengenal sistem negara-bangsa.

Gus Yahya tentang Empat Hal Pokok yang Mesti Ditinjau Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yahya tentang Empat Hal Pokok yang Mesti Ditinjau Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yahya tentang Empat Hal Pokok yang Mesti Ditinjau Umat Islam

Gus Yahya menyampaikan hal itu saat memberikan arahan pada peserta Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) Dawrah II yang diselenggarakan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Besar (Lakpesdam) NU, Jumat (13/10). 

“Ada banyak hal bila kita mau meninjau, tapi sekurang-kurangnya ada ada tiga atau empat pusat concern, yang bila tidak ada jalan keluarnya akan terjadi perang dunia,” ujarnya sebelum menutup PPWK itu.

Pertama, soal konsep hubungan antara Muslim dan non-Muslim. Islam harus mampu menjelaskan tentang kedudukan non-Muslim, apakah sebagai pihak kelas nomor dua setelah Muslim ataukah setara.

Asli Muhammadiyah

Kedua, tentang konsep dawlah atau negara. Dalam turats, ideal politik Islam adalah hadirnya imamah udhma atau kepemimpinan universal bagi seluruh umat Islam di dunia. Tentu ini berbeda dari kenyataan sekarang yang memasuki era struktur sosial politik negara bangsa.

Ketiga, soal batasan-batasan konflik agama. Yaitu mengurai sejauh mana suatu fenomena dikatakan konflik agama dan bukan. Keempat, kedudukan hukum positif di hadapan syariah. 

Asli Muhammadiyah

“Apakah kewajiban mematuhi lalu lintas termasuk kewajiban muamalah atau kewajiban syar’i? tanya Gus Yahya memancing berpikir forum.

“Kalau bukan syar’i, berarti kalau tidak polisi, terus kita melanggar, ya tidak dosa. Apa begitu?” tambahnya.

Ia bersyukur para kiai Nahdlatul Ulama sudah memberikan jalan keluar untuk sejumlah isu krusial itu. Tentang hubungan dengan non-Muslim, kata Gus Yahya, NU memiliki trilogi ukhuwah, yakni ukhuwah islamiyah (persadaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persadaraan kebangsaan), dan ukhuwah basyariyah (persadaraan kemanusiaan).

Begitu juga dengan konsep kenegaraan menurut Islam. Bagi NU, NKRI sudah bukan masalah dalam ajaran Islam. “Kalau NKRI sah secara syariah berarti seluruh derivasinya, juga sah secarasyariah,” ujarnya. 

Menurut juru bicara presiden era KH Abdurrahman Wahid ini, keruntuhan peradaban sejumlah negara di Timur Tengah saat ini adalah lantaran belum tuntasnya empat persoalan itu untuk selaras dengan semangat membangun peradaban. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Humor Islam Asli Muhammadiyah

Selasa, 07 November 2017

Dibimbing Kiai Said Jadi Mualaf, Ini Kesan Sudjono Teguh Widjaja

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj kembali membimbing seorang Nasrani memeluk Islam pada Kamis (19/1) di Kantor PBNU Jakarta. Dia adalah Ahmad Sudjono Teguh Widjaja (47) asal Kediri, Jawa Timur.

Dibimbing Kiai Said Jadi Mualaf, Ini Kesan Sudjono Teguh Widjaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Dibimbing Kiai Said Jadi Mualaf, Ini Kesan Sudjono Teguh Widjaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Dibimbing Kiai Said Jadi Mualaf, Ini Kesan Sudjono Teguh Widjaja

Pria yang lahir di Kediri keturunan Tionghoa bermarga Te ini mantap mengucapkan dua kalimat syahadat dibawah tuntunan Kiai Said dan disaksikan beberapa pengurus PBNU.?

Hati Sudjono khidmat, perasaannya khusyu, dan kepalanya menunduk ketika mendapat bimbingan Kiai Said sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat. Dia sadar betul lembaga dan seseorang yang ditujunya untuk membimbing dirinya masuk Islam.

“Pak Kiai Said adalah tokoh besar dan NU sendiri merupakan organisasi Islam yang konsisten mengajarkan bahwa Islam bukanlah agama kekerasan, Islam adalah agama yang ramah,” ujarnya kepada Asli Muhammadiyah usai proses mengucapkan syahadat.

Asli Muhammadiyah

Sudjono yang sebelumnya beragama Katolik ini mengungkapkan inspirasi Islam sehingga ia mantap memutuskan menjadi seorang Muslim. Dia sering berinteraksi dengan beberapa kiai pesantren di Kediri lewat pengajian dan forum-forum sejenis.

“Kiai-kiai kampung itu kalau ceramah sampai ke hati. Saya beberapa kali mengikuti ceramah mereka seolah ada pancaran sinar yang masuk ke lubuk hati yang paling dalam sehingga saya mantap memutuskan masuk Islam,” tutur Sudjono.

Asli Muhammadiyah

Dia tidak menampik, posisinya sebagai politisi memunculkan banyak pertanyaan masyarakat ketika dirinya masuk Islam. Karena tidak sedikit dari mereka yang beranggapan bahwa keputusannya itu tidak lepas dari kepentingan politik semata.

Selain menjadi pengusaha, Sudjono memang salah satu Anggota DPRD Kota Kediri di Komisi C yang membidangi pembangunan umum (PU) dan pendidikan. Dia wakil rakyat dari Partai Golkar, bahkan dirinya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar Kota Kediri.

“Tidak ada unsur paksaan maupun kepentingan apa pun. Hal ini murni keputusan saya untuk lebih mendalami agama Islam dan keluarga pun mendukung,” ujar pria 3 anak ini.

Menurutnya, tidak ada yang perlu dibuktikan secara jelas bahwa keputusannya tidak terkait kepentingan politik. Karena aktivitasnya dalam membantu masyarakat dalam kehidupan sosial sering dia lakukan.

“Dalam waktu dekat saya akan menjalankan ibadah umroh. Bahkan saya berpikir untuk melepaskan aktivitas saya sebagai politisi,” tegas Sudjono yang mempunyai beberapa bidang usaha yang tersebar di Kediri, Malang, Sidoarjo, dan Makassar.

Sebagai seorang Muslim, Sudjono mempunyai komitmen untuk membantu sesama, terutama membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan. Dia sadar sebagai Muslim harus mengeluarkan zakat selain terus mempelajari Islam lebih mendalam.

Karena baginya, mewujudkan kehidupan sosial dan masyarakat yang sejahtera membutuhkan komitmen satu sama lain untuk saling membantu. Dia optimis dengan usaha yang digelutinya sejak 1992 itu dapat menjadi jembatan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.

Hadir beberapa saksi dalam proses mengucapkan syahadat diantaranya Wasekjen PBNU Andi Najmi Fuaidi, Ulil Abshar, Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra, pengurus LBM PBNU Mahbub Maafi, dan Pemred Asli Muhammadiyah Achmad Mukafi Niam. Sudjono juga didampingi oleh KH Oing Abdul Muid, salah satu saksi yang membawanya kepada Kiai Said. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Santri, Ubudiyah, Humor Islam Asli Muhammadiyah

Selasa, 26 Desember 2017

Indonesia Segara Bentuk Forum Perdamaian Timur Tengah

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Pemerintah Indonesia akan membentuk forum perdamaian yang bertujuan untuk melerai berbagi konflik yang terjadi di Palestina, Lebanon, maupun Irak. Rencananya forum tidak hanya melibatkan para pejabat negara-negara Islam namun juga para ulama yang berpengaruh di masing-masing negara yang sedang berkonflik.

Hal tersebut dikatakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Hasyim Muzadi yang juga Sekretaris Jenderal Konferensi Ulama dan Cendekiawan Dunia Islam (ICIS) usai bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia yang juga Sekretaris Jenderal Organisasi Koferensi Islam (OKI) Abdullah Ahmad Badawi di Hotel Sangril La Jakarta, Kamis (22/2).

Forum perdamain itu sebelumnya diusulkan Hasyim Muzadi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sebagai negara muslim terbesar di dunia Indonesia diharap melakukan upaya-upaya menyelesaikan konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Indonesia Segara Bentuk Forum Perdamaian Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Segara Bentuk Forum Perdamaian Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Segara Bentuk Forum Perdamaian Timur Tengah

”Saya bertemu Presiden 27 Januari lalu. Saya katakan, Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia kog ada konflik seperti itu diam saja. Lalu diambil inisiatif Pak Menteri Luar Negeri yang bertemu para pejabat negara Islam, lalu saya yang bertemu para ulamanya,” kata Hasyim.

Menurutnya, konflik antara Hamas dengan Fattah di Palestina tidak bisa diselesaikan oleh negara tetapi oleh para ulama yang berpengaruh di sana. Dikatakan konflik yang terjadi di Irak, misalnya, sebenarnya bukan antara sunni-syiah.

”Konflik itu itu sebenarnya bukan urusan kedua aliran itu, tapi mereka dikonflikkan oleh para agresor yang masuk di Irak itu supaya mereka dapat menang secarta gratis ga pakai pluru, cuma saya sedang berkeliling supaya tokoh-tokoh berat (ulama berpengaruh, red) bisa hadir. Kalau diwakilkan ya ga jadi apa-apa, jadi seminar tentang perdamaian saja,” katanya.

Asli Muhammadiyah

Pada 27 Februari ini hasyim akan meluncur ke Makkkah untuk menemui dengan pimpinan Rabithah Alam Islami, forum Internasional di Saudi Arabia, lalu ke Iran menemui Ali At-Tazkiri dan Rafsanjani, salah seorang pemimpin Syiah yang paling berpengaruh di Irak.

”Konflik-konflik yang terjadi di Timur Tengah terbukti tidak dapat dihadapi oleh negara saja tapi harus dengan ulama yang menggerakkan rakyat di situ. Seperti Nasrollah pemimpin Hisbullah di yang di lebanon itu kan pasukannya 10 kali lipat dibanding yang dipunyai pemerintah,” kata Hasyim.

Sementara itu kepada Badawi, Hasyim menyatakan, hubungan antara OKI dengan ICIS akan memperkuat hubungan negara-negara Islam dengan ulama setempat. Dikatakan Hasyim, hubungan itu penting karena tidak selalu keputusan negara Islam itu selaras dengan Ulama.

Asli Muhammadiyah

”Konflik-konflik yang ada di Timur Tengah tidak dapat dihadapi oleh negara saja tapi harus dengan ulama yang menggerakkan rakyat di situ. Lagi pula Hamas dan Fatah yang bertengkar itu kan organisasi-organisasi yang ada ulamanya," katanya. (nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Humor Islam Asli Muhammadiyah

Jumat, 18 Juli 2014

Ribuan Jamaah Banjiri ‘Jatim Bershalawat’ di Surabaya

Surabaya, Asli Muhammadiyah

Ribuan umat Islam di Jawa Timur mengikuti acara “Jawa Timur Bershalawat” yang diselenggarakan oleh Majlis Maulid Wattalim Riyadlul Jannah, Jawa Timur. Acara berlangsung di Lapangan Makodam V Brawijaya, Sabtu (17/7) tadi malam di Surabaya.

Ribuan Jamaah Banjiri ‘Jatim Bershalawat’ di Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Banjiri ‘Jatim Bershalawat’ di Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Banjiri ‘Jatim Bershalawat’ di Surabaya

Ketua PBNU KH Said Aqil, Gubernur Jatim Soekarwo, Wakil Gubernur Saifullah Yusuf, Pangdam Brawijaya Mayjen (TNI) I Made Sukadana dan Pangarmatim Kawasan Intim Laksamana Muda (TNI) Darwanto, juga hadir pada kesempatan tersebut.

Gus Rofiqul Hamid sebegai ketua pelaksana acara mengatakan, tujuan dari acara ini salah satunya adalah silaturahim dan halal bihalal dengan para kiai sepuh dan ulama se-Indonesia, termasuk Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Asli Muhammadiyah

Acara shalawat bersama ini sepenuhnya inisiatif jamaah sendiri. Mereka yang semua berbakaian warna putih berduyun-duyun datang dari seluruh wilayah Jatim dengan swadaya.

Asli Muhammadiyah

Mereka sudah berdatangan sejak siang,? langsung ke lapangan untuk duduk dengan tertib. Ada yang datang perorangan, bersama keluarga, ada pula yang datang berombongan menggunakan 40 unit bus dari luar kota.

Meskipun shalawat sudah dimulai sejak Maghrib, tapi acara puncak dimulai pukul 21.00 setelah Gubernur dan pejabat teras yang lain naik ke panggung. Rombongan disambut dengan Shalawat

Dalam sambutannya Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengucap syukur karena Provinsi Jatim menjadi aman dan nyaman, ekonomi bagus, tidak ada bencana. "Hal ini bisa terjadi karena semua jamaah majelis shalawat selalu berdoa untuk aman dan suksesnya wilayah ini, " kata pria yang akrab disapa Pak De Karwo ini.

Sementara Pangdam Brawijaya Mayjen I Made Sukadana percaya bahwa pertempuran di Surabaya tanggal 10 November 1945 yang berhasil mengusir tentara Inggris bisa berhasil selain karena rakyat melawan dengan senjata juga karena para kiai dan ulama mengiringi perlawanan rakyat dengan doa.

"Karena itu sebagai Pangdam saya berharap agar umat Islam di Jawa Timur akan tetap bersama-sama dengan pemerintah daerah dan aparat untuk menjaga keamanan," kata I Made Sukadana yang baru tanggal 12 Juli lalu dilantik jadi Pangdam Brawijaya

KH Said Aqil Siroj yang terakhir menyampailan sambutan mengatakan, umat Islam baru saja menyelesaikan Ramadan disusul merayakan Idul Fitri dan sekarang berkumpul untuk bershalawat dengan aman.

"Keamanan dan kenyamanan ini wajib kita syukuri. Lihat saja di Arab Saudi, di Irak tempat lahirnya para ulama besar, di Afgjanistan dan Yaman. Di negara-negara Islam itu tidak ada keamanan karena bom bisa meledak sewaktu-waktu. Karena itu kita wajib bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada pemerintah dan aparat keamanan," kata Said Aqil Siroj.

Sebelumnya, Saifullah Yusuf selaku penanggung jawab Jawa Timur Bershalawat menyampaikan terima kasih kepada para kordinator Majelis Shalawat yang datang dari seluruh wilayah Jawa Timur. Gus Ipul juga menyampaikan terima kasih kepada Pangdam Brawijaya dan staf yang mendukung penuh kegiatan ini, termasuk meminjamkan Lapangan Makodam sekaligus juga keamannya.

"Saya tahu para jamaah ini datang dengan ongkos sendiri dan bawa makanan sendiri. Mengapa? Karena kita semua cinta kepada Rasulullah dan cinta NKRI. Mudah-mudahan kecintaan kita kepada Kanjeng Nabi dan cinta kita pada negara akan terus kita pelihara," kata Gus Ipul.

Gerimis sempat turun sejak pukul 22.00 saat Said Aqil Siroj menyampaikan sambutan. Tetapi gerimis yang turun dalam waktu sekitar 15 menit itu tidak membuat jamaah meninggalkan tempatnya. Mereka tetap duduk lesehan di lapangan, hingga acara berakhir pukul 22.30. (Imam Kusnin Ahmad/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ahlussunnah, Humor Islam Asli Muhammadiyah

Jumat, 14 April 2006

Ini Dua Golongan Pendusta Agama

Kudus, Asli Muhammadiyah. KH Abdul Qodir mengingatkan kepada umat Islam untuk kembali menanamkan akhlak mulia. Juga jangan terlalu menitikberatkan pada harta benda dan kemegahan duniawi karena akibatnya tidak akan begitu mengurusi agama.

Ini Dua Golongan Pendusta Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Dua Golongan Pendusta Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Dua Golongan Pendusta Agama

"Maka, di Ramadhan ini kita ketuk pintu hati ini untuk kembali menanamkan akhlak mulia. Sebab, orang yang berakhlak mulia adalah orang yang mengimbangkan kepentingan dunia dan kepentingan agama," tuturnya saat mengisi tausiyah dalam peringatan Nuzulul Quran yang diadakan oleh Pemerintah Daerah kabupaten Kudus, di Alun-Alun Simpang Tujuh, Rabu (1/07) sore.

Penceramah yang dikenal dengan sebutan kiai Gali itu menjelaskan untuk mengetuk hati, dapat dengan mengingat ayat-ayat Allah, baik yang tersirat maupun tersurat. Setiap malam Ramadhan misalnya, dikumandangkan ayat-ayat Allah di setiap masjid, musholla.

Asli Muhammadiyah

"Saat ini di tengah Alun-Alun Simpang Tujuh, kita mulai membaca ayat Allah yang tersirat. Siapa? Anak-anak yatim dan fakir miskin. Allah mengetuk kita; araital ladzi yukadzdzibu bid din. Siapakah pendusta Agama itu?" terangnya dalam kegiatan yang dihadiri oleh Bupati Kudus itu.

Kiai Gali memaparkan, yang dimaksud pendusta agama bukanlah orang nonmuslim, bukan orang kafir, bukan ateis, tetapi yang dituding pendusta agama adalah orang yang sekarang mengaku iman, mengaku Islam, namun tidak peduli terhadap anak-anak yatim.

Asli Muhammadiyah

"Jangan mengaku Islam kalau kita tidak peduli terhadap anak yatim," tegas dia mengingatkan pentingnya umat Islam menyantuni anak yatim.

Lalu yang kedua, lanjut KH Abdul Qodir, orang yang tidak menafkahkan hartanya kepada orang miskin. Sekarang sebaliknya, banyak di antara masyarakat makan harta yang seharusnya untuk orang miskin.

"Sehingga Allah telah mengingatkan bahwa jangan ribut masalah dunia. Harta benda yang kita kumpulkan itu tipuan belaka.

Dalam acara tersebut Pemda kabupaten Kudus memberikan santunan kepada puluhan anak yatim. Sebelumnya, acara yang bekerjasama dengan Baznas kabupaten Kudus dan PT Wingsfood itu juga digelar lomba Rebana Al-Banjari, musik tongtek dan Hijab (M. Zidni Nafi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Humor Islam Asli Muhammadiyah

Sabtu, 15 Agustus 2015

Seribu Rebana Ramaikan Shalawat Tahun Baru NU Mojoagung

Jombang, Asli Muhammadiyah 

Menyambut tahun baru 1439 Hijirah, MWCNU Kecamatan Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, menggelar shalawat, Kamis (21/9) malam. Acara dimeriahkan penampilan Jam’iyyah Sholawat Seribu Rebana, berlangsung di Masjid Besar Ar Ridlo, Kauman, Mojoagung.

Seribu Rebana Ramaikan Shalawat Tahun Baru NU Mojoagung (Sumber Gambar : Nu Online)
Seribu Rebana Ramaikan Shalawat Tahun Baru NU Mojoagung (Sumber Gambar : Nu Online)

Seribu Rebana Ramaikan Shalawat Tahun Baru NU Mojoagung

Acara tersebut dihadiri ratusan warga, baik dari maupun luar wilayah Mojoagung. Hadir pula seluruh ketua badan otonom NU Mojoagung, sepeti IPNU-IPPNU, GP Ansor, Fatayat, Muslimat. Semuanya menyatu dan larut bersama syair dan irama shalawat.

“Bershalawat bersama-sama kepada Nabi Muhammad SAW agar senantiasa mendapatkan barokah dan syafaatnya ila yaumil kiyamah,” kata Ketua MWCNU Mojoagung H Sunardi.

Sunardi mengatakan sangat penting bagi umat Islam terutama Nahdliyyin menjaga ukuwah islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam). 

“Dengan bershalawat di malam tahun baru Islam ini diharapkan seluruh lapisan masyarakat terutama banom-banom NU di Kecamatan Mojoagung semakin menjaga dan mempererat ukuwah islamiyah,” paparnya.

Asli Muhammadiyah

Sunardi yakin ukhuwah islamiyah menjadi modal terwujudnya kedamaian di tengah-tengah masyarakat. (Red. Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Humor Islam, Hadits, Warta Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah

Rabu, 05 Agustus 2015

Nusantara Mengaji untuk Jawab Kerinduan Pada Quran

Jakarta, Asli Muhammadiyah



Kegiatan Nusantara Mengaji yang mengkhatamkan Al-Quran lebih dari 300 ribu kali, semakin menjawab kerinduan umat Islam akan hadirnya Al-Quran.

Nusantara Mengaji untuk Jawab Kerinduan Pada Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusantara Mengaji untuk Jawab Kerinduan Pada Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusantara Mengaji untuk Jawab Kerinduan Pada Quran

Hal tersebut disampaikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Marwan Jafar saat menutup kegiatan Nusantara Mengaji di Kota Banda Aceh, Ahad (8/5).

"Kita semua sesungguhnya sangat rindu akan Al-Quran. Demi Al-Quran kita dipersatukan dari berbagai macam golongan, etnis, jabatan, struktur sosial tanpa pandang bulu. Al-Quran telah menyatukan kita semua hari ini," ujarnya dalam keterangan resminya.

Menurutnya, gerakan nusantara mengaji yang diinisiasi oleh Muhaimin Iskandar tersebut, bertujuan demi kelancaran proses berjalannya berbangsa dan bernegara. Ia berharap, gerakan tersebut akan melahirkan gerakan-gerakan mengaji di masjid dan mushala demi kembali membumikan Al-Quran.

Asli Muhammadiyah

"Kita harus membumikann Al-Quran. Agar masalah yang mendera bangsa ini dapat terselesaikan. Bacaan Al-Quran ini, adalah demi keluhuran, kemakmuran, dan kesejahteran bagi Indonesia. Ini tentu relevan, bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman," ujarnya.

Ia menegaskan, gerakan nusantara mengaji digelar tanpa mengandung unsur-unsur politik. Gerakan tersebut murni digelar, hanya untuk bermunajat kepada Allah SWT.

"Kita lepaskan semua baju politik kita. Ini adalah murni gerakan untuk meraih ridho Allah SWT," ujarnya.

Menteri Marwan berpesan pada pemuda Islam di Indonesia, agar turut membudayakan bacaan Al-Quran setiap harinya. "Jangan waktunya habis untuk main game dan nonton tv. Tapi waktu habis untuk membaca Al-Quran," ujarnya.

Pada penutupan nusantara mengaji ini menurutnya, sengaja ditempatkan di Masjid Baiturrahim Ulee Lheue Kecamatan Meuraxa Banda Aceh. Hal tersebut sekaligus mengenang bencana tsunami yang pernah melanda Aceh, di mana masjid tersebut tetap berdiri kokoh meski diterpa bencana tsunami pada 2004.

Asli Muhammadiyah

"Saya yakin, masjid ini digunakan untuk mengaji, dan shalat berjamaah setiap harinya. Saya juga yakin, masjid ini didirikan oleh orang-orang ikhlas yang berjihad di jalan Allah SWT," ujarnya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kyai, Cerita, Humor Islam Asli Muhammadiyah

Senin, 23 Mei 2011

KMNU Se-Indonesia Helat Musyawarah Nasional

Yogyakarta, Asli Muhammadiyah. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) se-Indonesia menghelat Musyawarah Nasional (Munas) yang bertempat di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta. Munas dengan tema ‘Sinergi Mahasiswa Nahdlatul Ulama Melalui Nilai Spiritual dan Intelektual Mewujudkan Islam Yang Rahmatan Lil Alamin’ ini dilaksanakan selama tiga hari, Jum’at-Ahad, (23-25/1). Kegiatan ini adalah Munas yang pertama sejak KMNU dibentuk di masing-masing kampus. ?

KMNU Se-Indonesia Helat Musyawarah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU Se-Indonesia Helat Musyawarah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU Se-Indonesia Helat Musyawarah Nasional

Menurut Mujib, ketua panitia pelaksana, Munas KMNU bertujuan sebagai ajang silaturrahim antar KMNU se-Indonesia. “Selama ini kan masih sebatas pertemuan di internal masing-masing dan kali ini kita mencoba untuk silaturrahim dan konsolidasi bersama,” tutur Mujib.?

Selain silaturahim dan konsolidasi, dalam Munas tersebut juga dibahas mengenai kesamaan visi-misi serta program-program KMNU yang selama ini belum ada sinergi. “Program-program KMNU selama ini hanya untuk internal kampus saja, belum ada program bersama secara nasional,” ujar Mujib.

Asli Muhammadiyah

Target peserta Munas adalah seratus orang yang berasal dari perwakilan kampus yang sudah memiliki KMNU seperti Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Indonesia (UI), dan kampus lainnya.?

Asli Muhammadiyah

Slamet Mujamil, anggota KMNU UNY mengatakan, Munas kali ini diharapkan bisa menguatkan jaringan antar KMNU di kampus-kampus. Harapannya, lanjut Slamet, KMNU juga bisa segera terbentuk di kampus-kampus luar Jawa agar jaringannya kian luas.

“Dengan KMNU ini, kita bisa menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, bukan menebarkan kebencian dan radikalisme di kampus,” tandas Slamet. (Anas/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Sholawat, Budaya, Humor Islam Asli Muhammadiyah

Kamis, 21 Desember 2017

Suluk Maleman; Peradaban Mabuk

Pati, Asli Muhammadiyah. Gundul-gundul pacul-cul gembelengan, nyunggi-nyunggi wakul-kul gembelengan wakul glempang segone dadi sak latar. Tembang Gundul-gundul Pacul ditembangkan oleh Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa CakNun saat datang ke Suluk Maleman yang bertemakan Mampir Mabuk, Sabtu (15/4) hingga Ahad (16/4) pagi .?

Suluk Maleman; Peradaban Mabuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Suluk Maleman; Peradaban Mabuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Suluk Maleman; Peradaban Mabuk

Bukan tanpa alasan, Cak Nun menilai ada kesamaan hal yang terjadi antara tembang Gundul-gundul Pacul itu dengan tema yang dibawakan Suluk Maleman edisi ke-64 itu. Baginya para penguasa ibarat bocah gundul yang tengah nyunggi (membawa di kepala, Red) wakul itu.

Jika sang penguasa gembelengan atau diartikan mabuk baik secara tekstual maupun kontekstual maka yang terjadi juga akan sama. Wakulnya glempang. Padahal wakul yang berisi nasi itu bisa diartikan kesejahteraan maupun amanah dari rakyat.

“Padahal sekarang yang terjadi ini wakulnya glempang. Kedaulatannya glempang, akal pikiran bangsa ini glempang, termasuk budaya politik juga telah glempang,” ujar lelaki pimpinan Kiai Kanjeng itu.

Cak Nun pun menegaskan agar setiap individu dapat segera mencarikan solusi dan bukannya menambah masalah. Bahkan dalam mengambil penyelesaian masalah itupun juga harus hati-hati agar tidak menimbulkan permasalahan baru.

Asli Muhammadiyah

“Kita bisa belajar dari tembang e dayohe teko. Di situ diceritakan cara menangani masalah dengan cara yang kurang tepat dan justru menimbulkan masalah demi masalah baru. Seperti saat menambal tikar dengan jadah yang sudah busuk. Tentu itu akan membuat dayoh atau tamu menjadi tidak nyaman bahkan bisa saja marah,” ujar Cak Nun.

Meski begitu Cak Nun tetap mengisyaratkan agar umat Muslim tak perlu khawatir. Karena Allah telah menjamin dalam surat Alam Nasyrah bahwa dalam setiap kesulitan selalu disertakan kemudahan.

Asli Muhammadiyah

“Bahkan bukan sesudahnya namun berbarengan dengan kesulitan itu sendiri. Itu sudah jelas disebutkan,” ujarnya yang kemudian dilanjutkan dengan mengajak para hadirin membaca surat tersebut.

Sementara Anis Sholeh Ba’asyin menambahkan, dalam menghadapi zaman seperti saat ini agar masyarakat jangan mau dijadikan jangkrik aduan. Karena dalam fenomena jangkrik aduan itu jelas bahwa jangkriknya harus berkelahi mempertaruhkan hidup dan matinya sedangkan pengadunya tertawa cengingisan saat menggelitik jangkrik aduannya itu.

“Begitulah kalau mau menghancurkan Indonesia tinggal mengadu domba orang Islam dengan orang Islam dan sekarang itu tengah dilakukan,” tambahnya.

Penggagas Suluk Maleman tersebut juga menambahkan bahwa dalam era peradaban mabuk ini yang justru perlu diwaspadai adalah orang-orang yang sengaja yang memabukkan diri. Seperti halnya kecenderungan manusia untuk menjadi Tuhan.

“Banyak yang justru mudah melihat ketidak sempurnaan orang lain sedangkan ketidaksempurnaan diri sendiri tidak terlihat. Padahal tidak ada orang yang benar-benar sempurna,” ujarnya.

Kedatangan Cak Nun sebagai salah satu ulama sepuh di Indonesia ini rupanya mampu menarik perhatian ribuan warga masyarakat Pati dan sekitarnya. Bahkan mereka tetap khusyuk menikmati diskusi dan ngaji budaya yang digelar di rumah Adab Indonesia Mulia hingga Ahad sekitar pukul 03.30.

Apalagi dalam diskusi kali ini tak hanya menghadirkan Cak Nun namun juga Presiden Jancukers Sujiwo Tedjo dan Dr Ilyas sebagai narasumbernya. Presiden Jancukers itu juga sempat membawakan sejumlah lagu bersama Sampak GusUran yang tentu kian menghangatkan suasana. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah PonPes, Humor Islam Asli Muhammadiyah

Minggu, 23 Juli 2017

Sekelumit Profil, Sejarah dan Prestasi Muslimat NU

Pada 29 Maret 2015, Muslimat NU merayakan hari lahirnya yang ke-69 dengan segudang prestasi dan peran penting bagi perjalanan kaum perempuan dan bangsa Indonesia. Perjalanan panjang telah membuat Muslimat NU menjadi organisasi yang semakin matang dan terus meningkat kiprahnya bagi bangsa. Tetapi, perjuangan ini masih akan panjang dengan begitu banyak persoalan yang harus diatasi secara bersama-sama.

Pada awal berdirinya, NU hanya untuk kaum laki-laki, tetapi seiring dengan tumbuhnya pergerakan Indonesia, yang juga melibatkan kaum perempuan, para muslimah di lingkungan NU juga berkeinginan aktif berorganisasi untuk memperjuangkan berbagai persoalan yang menghinggapi perempuan. Aspirasi ini diterima oleh para ulama NU dan untuk pertamakalinya, keterlibatan perempuan dalam Muktamar NU ke-13 di Menes Banten (1938). Disitu, Muslimat mulai diterima sebagai anggota, tetapi belum diizinkan menjadi pengurus. Disitu, sudah terdapat perwakilan perempuan yang menyampaikan pandangannya, yaitu Ny R Djuaesih dan Ny Siti Sarah.?

Sekelumit Profil, Sejarah dan Prestasi Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekelumit Profil, Sejarah dan Prestasi Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekelumit Profil, Sejarah dan Prestasi Muslimat NU

Kemajuan mulai mulai terjadi dalam Muktamar ke-14 di Magelang (1939), Muslimat NU mendengar dari balik tabir, dan terdapat beberapa orang yang berbicara, malahan pimpinan sidang dipegang oleh Perempuan.?

Asli Muhammadiyah

Persidangan untuk Muslimat ini untuk pertama kali dipimpin oleh Siti Juaesih dari Bandung. Beberapa perwakilan yang mengirimkan utusannya adalah NU Muslimat Muntilan, NU Muslimat Sukaraja, NU Muslimat Kroya, NU Muslimat Wonosobo, NU Muslimat Surakarta (Solo), NU Muslimat Magelang, Banatul Arabiyah Magelang, Zahratul Imam Magelang, Islamiyah Purworejo dan Aisiyah Purworejo. Mereka mendiskusikan tentang pentingnya peranan perempuan dalam organisasi NU, masyarakat, pendidikan dan dakwah.

Pada Muktamar NU selanjutnya di Surabaya (1940) yang ke-15, telah diusahakan pembentukan badan tersendiri bagi para perempuan NU, yang telah lengkap aturan organisasi dan para pengurusnya, tetapi belum terdapat pengakuan resmi.

Kedatangan Jepang dan suasana perang membuat aktifitas organisasi NU lumpuh, termasuk badan-badan yang berada dibawah NU. Baru pada muktamar ke16 di Purwokerto tahun 1946, Muslimat menjadi bagian resmi NU dengan nama Nahdlatul Ulama Muslimat (NUM) yang memiliki struktur kepengurusan sendiri, yang menangani berbagai masalah perempuan yang mereka hadapi. Karena itu, hari lahir Muslimat NU dicatat pada 29 Maret 1946 atau 26 Rabiul Akhir 1465.

Asli Muhammadiyah

Pengurus Muslimat pertama

Penasehat : Ny Fatmah Surabaya

Ketua : Ny Chadijah Pasuruan

Penulis : Ny Mudrikah

Penulis II : Ny Muhajja

Bendahara : Ny Kasminten Pasuruan

Pembantu : Ny Fatehah

Pembantu : Ny Musyarrafah Surabaya

Pembantu : Ny Alfijah

Dalam Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga Muslimat yang pertama, pasal 2, disebutkan Badan ini bertujuan: Menyadarkan para wanita Islam Indonesia akan kewajibannya, supaya menjadi ibu yang sejati, sehingga dapatlah mereka itu turut memperkuat dan membantu pekerjaan NU dalam menegakkan agama Islam.

Peranan Muslimat semakin maju, pada Muktamar NU tahun 1950, sudah terdapat sidang kombinasi yang melibatkan syuriyah, tanfidziyah dan Muslimat selain menyelenggarakan sidang-sidang sendiri. Pada Muktamar di Palembang tahun 1952, Muslimat secara resmi menjadi badan otonom NU sendiri dengan nama Muslimat NU yang dapat mengatur rumah tangganya sendiri.

Pengabdian Muslimat NU

Salah satu kegiatan Muslimat NU adalah bidang pendidikan. Ini merupakan lahan yang sejak pertama kali Muslimat didirikan mendapat perhatian penting karena pembangunan material tidak akan sukses jika tidak diiringi pembangunan spiritual. Muslimat NU mengintensifkan pendidikan bagi kaum perempuan sehingga dapat memperkuat dan membantu pekerjaan NU dalam menegakkan dan melestarikan ajaran Islam.

Dalam kongres ke-3, Mei 1950, secara lugas disebutkan tugas spesifik Muslimat diantaranya adalah “…memperhebat pemberantasan buta huruf dikalangan wanita Indonesia”.

Mengingat sudah ada lembaga tersendiri yang menangani pendidikan di lingkungan NU, yaitu LP Maarif NU, maka dilakukan pembagian peran, Muslimat NU dikhususkan menangani sekolah TK yang sejak awal dirintis dan dikembangkan Muslimat NU. selain itu, Muslimat NU juga menangani majelis taklim para ibu dan memberikan pelatihan ketrampilan bagi kaum perempuan.

Untuk menangani masalah pendidikan ini, Muslimat NU mendirikan Yayasan Bina Bakti Wanita. Yayasan ini awalnya hanya menangani kegiatan pendidikan dan latihan ketrampilan hasil kerjasama Muslimat NU dengan Departemen Tenaga Kerja RI, tetapi sejak Oktober 1990, yayasan ini diminta mengelola seluruh lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Muslimat NU. Untuk itu pada 1 April 1992, yayasan tersebut berganti nama menjadi Yayasan Pendidikan Muslimat NU Bina Bakti Wanita yang lebih dikenal dengan YPM. Dalam laporan pada Kongres Muslimat di Lampung Juli 2011, jumlah TPQ 13.568, TPA/RA 9.800, playgroup 4.567.

Untuk menangani bidang sosial dan kesejahteraan, dibentuk Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU, disingkat YPM NU yang didirikan pada 11 Juni 1963. Yayasan ini menangani panti asuhan yang menangani tidak hanya yatim piatu, tapi juga anak-anak miskin yang membutuhkan bantuan, rumah sakit, BKIA, dan klinik, tempat penitipan anak, panti lanjut usia serta asrama putri milik Muslimat NU dengan program meliputi bina balita, imunisasi, peningkatan ketrampilan, peningkatan kesejahteraan keluarga, penyuluhan KB dan sejenisnya. Dalam laporan pada Kongres Muslimat di Lampung Juli 2011 terdapat panti asuhan 103 dan 74 BKIA (rumah bersalin/rumah sakit)

Muslimat NU juga memiliki Yayasan Haji Muslimat NU yang membantu perjalanan ibadah haji dan umroh. Dibeberapa daerah, yayasan ini mampu menjadi sumber pendanaan bagi organisasi. Upaya pendanaan lain dilakukan melalui koperasi An Nisa

Bidang dakwah juga mendapat perhatian penting. Untuk menggalang potensi dakwah dan mengefektifkan gerakan dakwah, para daiyah Muslimat NU dan Fatayat NU membentuk Hidmat (Himpunan Daiyah Muslimat dan Fatayat NU) yang dibentuk dalam kongres XI di Paiton Jawa Timur (1984). Kegiatan yang diselenggarakan Hidmat meliputi penerangan dan dakwah di tengah-tengah masyarakat, pengajian rutin, lailatul ijtima’ tahlil kubro, tabligh akbar dan lainnya. Dalam laporan pada Kongres Muslimat di Lampung Juli 2011 terdapat 38.000 majelis taklim.

Untuk bidang penerbitan, media yang pernah diterbitkan adalah Risalah Muslimat NU, Gema Muslimat, Gema Harlah Muslimat serta buletin Yasmin. Website resmi miliki Muslimat NU adalah www.muslimat-nu.or.id

Muslimat NU dan Politik

Sebagai organ dari Partai NU, pada tahun 1950-an, Muslimat NU terlibat aktif dalam politik. Dalam kongres di Surabaya (1954) direkomendasikan “Kongres memajukan pernyataan kepada PBNU (Lapunu- Lajnah Pemilihan Umum Nahdlatu Ulama) agar Muslimat dapat dicalonkan menjadi anggota DPR-DPRD dan konstituante dengan calon prioritas.

Dalam pemilu tahun 1955, NU mendapat 45 kursi. Dari situ, Muslimat NU mendapat 5 wakil (10) persen, yang merupakan porsi yang besar dibandingkan dengan partai lain. ? Lima tokoh Muslimat yang duduk di DPR ini adalah Ny Machmudah Mawardi (Jateng), Ny Maryam Kantasumpena (jateng), Ny maryama Djunaidi (Jatim) Hadiniyah Hadi (Jatim) dan Ny Asmah Syahruni (Kalsel).

Sementara itu untuk konstituante, Muslimat menempatkan enam orang wakilnya sedangkan di MPR terdapat dua orang. Tahun 1960, ketika DPR hasil pemilu dibubarkan dan dibentuk DPR GR, wakil Muslimat bertambah dua orang, sedangkan lima orang wakil sebelumnya tetap.

Sebelum itu, peran politik Muslimat telah dirintis oleh Ny Machmudah Mawardi pada tahun 1946 dengan diangkatnya sebagai anggota BP KNPI mewakili Masyumi, yang NU masih didalamnya. Pada masa RIS, ia duduk sebagai anggota DPR RIS.

Konfrontasi dan agitasi yang dilakukan oleh PKI terhadap NU awal 1960-an direspon oleh Muslimat dengan menyelenggarakan pelatihan-pelatihan untuk menggembleng fisik, diantaranya bongkar pasang senjata, menanggulangi bahaya kebakaran, dapur umum, keperawatan dan ketrampilan lain yang diperlukan dalam keadaan darurat. Kegiatan ini dilakukan di gedung pusat Hansip jl Salemba Raya, November 1964.

Saat meletusnya pemberontakan PKI, Muslimat NU termasuk yang paling awal meminta pembubaran PKI. Demonstrasi dilakukan bersama dengan organisasi perempuan lainnya yang anti PKI. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan juga diminta untuk membubarkan dan mengambilalih TK Melati yang dikelola oleh Gerwani, yang disetujui pada tahun itu juga.

Masa Orde Baru menjadi tantangan berat bagi Muslimat, dengan fusinya NU dalam PPP. Larangan bagi pegawai negeri atau istrinya, guru dan karyawan BUMN untuk menjadi anggota non fungsional sempat menimbulkan sikap takut masyarakat untuk terlibat dalam Muslimat NU. Peran ini kembali terbuka setelah NU menyatakan diri khittah dalam muktamar 1984 dalam muktamar ke-27 di Situbondo. Program dan kegiatan yang dilakukan terus berkembang sampai saat ini.

Para ketua umum PP Muslimat NU dari masa ke masa

1. Ny Chodijah Dahlan (1946-1947)

2. Ny Yasin (1947-1950)

3. Ny Hj Mahmudah Mawardi (1950-1979)

4. Hj Asmah Syahruni (1979-1995)

5. Hj Aisyah Hamid Baidlawi (1995-2000)

6. Hj Khofifah Indar Parawansa (2000- sekarang)

? Arti Lambang :

1. Bola dunia terletak ditengah-tengah berarti tempat kediaman untuk mengabdi dan beramal guna mencapai kebahagian dunia dan akhirat.

2. Tali yang mengikat berarti agama Islam sebagai pengikat kehidupan manusia, untuk mengingatkan agar selalu tolong menolong terhadap sesama dan meningkatkan taqwa kepada Allah SWT.

3. Lima buah bintang terletak diatas, yang ? terbesar dipuncak berarti : Sunnah Rasulullah SAW yang diikuti dengan setia oleh empat sahabat besar : Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Radhiyallah’anhum.

Arti seluruh bintang yang berjumlah sembilan buah yaitu : Walisongo atau Wali Sembilan yang berarti dalam berdakwah meneladani tata cara Wali Songo, yakni dengan cara damai dan bijaksana tanpa kekerasan.

Arti Warna:

? ? * Putih melambangkan ketulusan dan keihlasan.

? ? * Hijau melambangkan kesejukan dan kedamaian.

? ? * Tulisan Nahdlatul Ulama berarti : Muslimat NU bagian yang senantiasa meneruskan dan mencerminkan perjuangan ulama.

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Humor Islam Asli Muhammadiyah

Selasa, 29 November 2016

Terorisme Harus Dibuang Jauh-jauh dari Pesantren

Jombang, Asli Muhammadiyah. Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur bersama Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) melakukan antisipasi gerakan dan organisasi radikalisme berkedok Islam di Jawa Timur, terutama di basis pondok pesantren.

Kamis (2/5) kemarin, GP Ansor menggelar sarasehan bahasa terorisme” yang digelar di Aula pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Terorisme Harus Dibuang Jauh-jauh dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Terorisme Harus Dibuang Jauh-jauh dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Terorisme Harus Dibuang Jauh-jauh dari Pesantren

Ketua Pengurus Wilayah GP Ansor Jatim Alfa Isnaeni mengatakan, paradigma teroris berkembang di pesantren harus dibuang jauh-jauh. Pesantren adalah tempat mencari ilmu, terutama ilmu agama. Bukan sebaliknya, pesantren sebagai lahan subur untuk menyemai bibit radikalisme.

Asli Muhammadiyah

Bagi kami NKRI adalah harga mati. Sedangkan pesantren adalah tempat untuk menuntut ilmu agama dan digunakan untuk kemaslahatan umat. Paradigma pesantren sebagai akar teroris harus dibuang," ujar Alfa didampingi Komandan densus 99 PP GP Ansor,  Habib Zaman disela sela kegiatan yang diiukuti Banser Ansor se Jatim.

Asli Muhammadiyah

Sementara itu, Kombespol, Thoriq dari BNPT mengatakan radikalisme dan teror masih terus berkembang dan melakukan perekrutan. Dan sekarang jaringan yang digunakan salah satunya adalah melalui dunia maya dengan memakai web dan blog. Karenanya dibutuhkan kerjasama semua pihak baik Ansor Banser serta pesantren.

Dikatakannya, pada saat ini ada pergeseran gerakan yang dilakukan dalam perekrutan anggota dan pendanaan. “Diantaranya pendanaan itu dengan melakukan aksi pencurian dan perampokan,” ujarnya menyampaikan.

Pergeseran target terrorisme, lanjutnya yang dulu adalah warga asing serta aset-aset asing kini juga bergeser kepada aparat dan asset pemerintah dan polisi. “Kasus Brimob yang diberondong 4 orang meninggal itu salah satunya,” ungkapnya seraya mengatakan asset milik pemerintah juga menjadi target seperti kantor yang dibangun pemerintah dan kendaraan plat merah.

Dikatakan Thoriq, meski Jawa Timur bukan menjadi prioritas pemantauan BNPT,  namun pihaknya tetap melakukan pemantauan gerakan. Karena dimungkinkan pelakuknya juga dari jatim.

”Fokus kita memang Solo dan Papua namun tidak menutup kemungkinan, pelakuknya juga dari sini,” ujarnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kajian, Humor Islam Asli Muhammadiyah

Minggu, 30 April 2017

Madrasah Diharapakan Mampu Netralisir Pengaruh Buruk Globalisasi

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Globalisasi yang menyentuh seluruh aspek kehidupan umat manusia merupakan sesuatu yang tak dapat dihindari. Namun demikian, aspek negatif yang dibawanya dapat dinetralisir dengan nilai-nilai keagamaan.

“Madrasah berada diantara kompetisi peradaban, ia sangat diharapkan untuk menetralisir pengaruh globalisasi melalui pendidikan Islam yang didasarkan rahmatan lil alamiin,” kata Prof Dr Muhammad Firdaus dalam acara seminar Pendidikan Madrasah dan Tantangan Global di Jakarta, Rabu (23/7).

Madrasah Diharapakan Mampu Netralisir Pengaruh Buruk Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Diharapakan Mampu Netralisir Pengaruh Buruk Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Diharapakan Mampu Netralisir Pengaruh Buruk Globalisasi

Pendidikan madrasah diharapkan mampu mengkombinasikan antara kemampuan akademik dan profesionalitas dengan nilai-nilai spiritual sehingga menjadi pribadi yang utuh dan tangguh.

Asli Muhammadiyah

“Bagaimana mengisi spiritualitas yang memberi keseimbangan baru sebagai SDM yang professional, kreatif, inovatif, tetapi religius dan memiliki akhlakul karimah,” tandasnya.

Asli Muhammadiyah

Hal tersebut bisa dicapai dengan desain kurikulum akademik dan non akademik yang baik dan fasilitas proses belajar yang mendukung. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Humor Islam Asli Muhammadiyah

Minggu, 29 Oktober 2017

Qurban dan Kisah Qabil-Habil

Ajaran qurban yang disyariatkan dalam Islam sesungguhnya telah jauh mengakar dalam sejarah umat manusia. Tercatat dalam sejarah, bahwa ibadah qurban telah dimulai sejak nenek moyang manusia pertama sebagaimana dikisahkan Al-Quran (Al-Maidah: 27).

"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang mereka berdua (Habil) dan tidak diterima yang lain (Qabil)."

Qurban dan Kisah Qabil-Habil (Sumber Gambar : Nu Online)
Qurban dan Kisah Qabil-Habil (Sumber Gambar : Nu Online)

Qurban dan Kisah Qabil-Habil

Dari kisah yang dapat dijumpai, para ahli tafsir menyatakan bahwa peristiwa qurban yang dilakukan dua bersaudara dari putra Adam As adalah merupakan solusi dari polemik perang dingin yang terjadi antara keduanya dalam mempersunting wanita cantik rupawan bernama Iklimah sebagai pasangan hidup.

Ucapan Nabi Adam As. yang bersumber dari wahyu yang disampaikan kepada kedua putranya, seperti dikutip tafsir Ibnu Katsir: "Wahai anakku (Qabil dan Habil) hendaknya masing-masing diantara kalian menyerahkan qurban, maka siapa diantara kalian berdua yang qurbannya diterima Allah SWT dialah yang berhak menikahinva (Iklimah)."

Asli Muhammadiyah

Pada akhir kisah disebutkan, ternyata qurban yang diterima Allah SWT adalah yang didasarkan atas keihlasan dan ketaqwaan kepada-Nya, yaitu qurban Habil yang berupa seekor domba yang besar dan bagus. Sementara qurban Qabil ditolak karena dilakukan alas dasar hasud (kedengkian). Karena kebakhilannya, ia juga memilihkan domba peliharaannya yang kurus untuk untuk diqurbankan.

Asli Muhammadiyah

Qabil yang kalah dalam sayembara qurban akhirnya ia memutuskan untuk membunuh saudaranva sendiri. Peristiwa ini adalah awal kali terjadinya pembunuhan dalam sejarah umat manusia.

Patut kita renungkan, mengapa Al-Quran melukiskan Habil sebagai orang yang lemah? Mengapa ia tidak mau membela diri ketika hendak dibunuh saudaranya ? Mengapa pula qurban Habil menyebabkan ia menjadi korban?

Sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa Habil tidak membela diri karena ia sengaja memilih kematian di tangan saudaranya. Ia ingin memberikan pelajaran kepada umat manusia bahwa pelaku kezaliman dan kedengkian tidak akan pernah menang untuk selama-lamanya. Bahwa kedengkian dan ketamakan adalah akar perseteruan dan permusuhan umat manusia di muka bumi. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Humor Islam, Lomba Asli Muhammadiyah

Jumat, 21 Agustus 2015

Kisah Kesederhanaan Anak Khalifah Umar bin Abdul Aziz RA di Hari Raya Id

Hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha merupakan hari kebahagiaan umat Islam. Kebahagiaan ini ditandai dengan penampilan necis, yaitu pakaian baru, sepatu yang modis, dan kendaraan trendi. Begini sebagian orang memaknai Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Paling tidak, pakaian baru satu stel di hari raya.

Dalam rangka memperingati hari raya itu Khalifah Umar bin Abdul Aziz RA–seorang khalifah yang paling zuhud–keluar dari istana. Ia pergi ke tengah masyarakat. Tanpa pengawalan ia berjalan masuk-keluar kampung dan gang. Sementara rakyatnya yang larut dalam kebahagiaan hari raya hanya melempar senyum dan menyalaminya dari kejauhan.

Kisah Kesederhanaan Anak Khalifah Umar bin Abdul Aziz RA di Hari Raya Id (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kesederhanaan Anak Khalifah Umar bin Abdul Aziz RA di Hari Raya Id (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kesederhanaan Anak Khalifah Umar bin Abdul Aziz RA di Hari Raya Id

Di tengah kunjungannya itu mata Khalifah Umar bin Abdul Aziz RA tertuju pada sesosok kecil yang mengenakan pakaian dengan warna usang dan lusuh. Tidak salah, anak itu tidak lain adalah anak khalifah itu sendiri. Menyaksikan kondisi anaknya di hari raya, persendian lutut dan siku Khalifah Umar lemas. Ia tidak tega menyaksikan anak seorang khalifah tampak terlantar.

Sambil mendekati anaknya yang belum lagi berusia sepuluh tahun, air mata khalifah semakin deras menetes pada jubahnya.

Asli Muhammadiyah

“Mengapa ayah menangis?” tanya anaknya dengan polos.

“Anakku, bapak khawatir kamu akan patah hati dan langit-langit di hatimu runtuh ketika anak-anak kecil lain menyaksikanmu dengan pakaian lusuh dan kumal di hari Id ini,” jawab Khalifah Umar terisak.

Asli Muhammadiyah

“Wahai amirul mukminin, tuan tidak perlu khawatir. Orang yang patah hati adalah mereka yang diluputkan Allah dari ridha-Nya atau mereka yang mendurhakai ibu dan bapaknya. Dan aku berharap Allah meridhaiku berkat ridhamu wahai ayahku,” jawab anaknya dengan penuh percaya diri.

Jawaban ini di luar dugaan Umar bin Abdul Aziz RA. Air mata haru Khalifah Umar mengucur deras. Orang nomor satu di satu masa pada Dinasti Bani Umayah ini segera mendekap anak kecil yang mengenakan pakaian lusuh dan kumal itu.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz RA mengecup kening bawah yang terletak di antara kedua mata anaknya. Saat itu Khalifah Umar mendoakannya. Anak ini kelak menjadi orang paling zuhud sepeninggal ayahnya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz RA.

***

Mereka yang zuhud di dunia kelak akan memperingati hari raya Id di akhirat. Mereka akan “berkumpul” bersama Allah di hadliratul qudus sementara Allah memandang mereka penuh ridha. Bagi mereka tiada satupun kenikmatan akhirat melebihi kenikmatan hari raya Id itu.

Kisah ini disarikan dari Hasyiyatus Syarqawi karya Syekh Abdullah bin Hijazi As-Syarqawi, Beirut, Darul Fikr, tahun 2006 M/1426-1427 H, juz I, halaman 274.

Sebagaimana kita tahu bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah pejabat tinggi negara yang layak menjadi model sepanjang zaman. Ia dikenal sebagai pejabat yang zuhud plus ulama. Ia memberikan batas yang tegas antara kepentingan pribadi dan kepentingan negara. Dari situ ia kemudian membatasi diri untuk menggunakan anggaran dan aset negara untuk kepentingan dinas. Ia mengharamkan anggaran dan aset negara untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, (Lihat As-Suyuthi, Tarikhul Khulafa). Wallahu a ‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Humor Islam, Aswaja Asli Muhammadiyah

Minggu, 17 Desember 2017

Tak Hanya Kaderisasi, PMII Bojonegoro Akan Fokus pada Tiga Hak Dasar Rakyat

Bojonegoro, Asli Muhammadiyah

Usai Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bojonegoro masa khidmah 2016 dikukuhkan beberapa waktu lalu, organisasi kemahasiswaan ini melaksanakan rapat kerja cabang (rakercab).

Dalam pembahasan program kerja di sekretariat PC PMII Graha Ulul Albab, Jalan Pondok Pinang Bojonegoro, Ahad (14/2), yang selesai hingga larut malam, para pengurus sepakat dan berkomitmen akan menyoroti tiga hak dasar di Kota Ledre, sebutan lain Bojonegoro.

Tak Hanya Kaderisasi, PMII Bojonegoro Akan Fokus pada Tiga Hak Dasar Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Hanya Kaderisasi, PMII Bojonegoro Akan Fokus pada Tiga Hak Dasar Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Hanya Kaderisasi, PMII Bojonegoro Akan Fokus pada Tiga Hak Dasar Rakyat

Ketua PC PMII Bojonegoro Ahmad Syahid mengungkapkan akan memaksimalkan amanah satu periode ini. Ia bersama pengurus yang lain akan menguatkan ujung tombak kaderisasi dan pisau analisa para kader PMII setempat. Ia berharap ini menjadi langkah taktis dan strategi untuk memajukan organisasi.

Asli Muhammadiyah

"Selain konsen kaderisasi dan penguatan ideologi, kepengurusan hari ini akan lebih fokus dengan isu-isu kebijakan pemerintah terkait tiga hak dasar kebutuhan rakyat," ungkapnya kepada Asli Muhammadiyah.

Asli Muhammadiyah

Tiga hak dasar yang dimaksud di antaranya pendidikan, kesehatan, dan pembangunan fisik. Bahkan pengurus telah berencana membuat kajian mendalam terkait migas di Bojonegoro dan tentunya aksi turun jalan. "Sehingga rakercab ini untuk mempertegas gagasan PMII dalam mempertajam intelektual dan gerakan jalanan satu tahun ke depan," terangnya.

Lulusan IKIP PGRI Bojonegoro itu juga merinci, pengurus saat ini akan berorientasi pada penajaman intelektual dan gerakan jalanan PMII di Bojonegoro. Diharapkan, PMII akan bersinergi dengan pihak kampus dalam menanamkan jiwa nasionalisme dan keagamaan mahasiswa, tanpa meninggalkan semangat untuk selalu mengontrol kebijakan pemerintah.

"Sudah saatnya kita kembali ke khittah. Khittah PMII adalah kaderisasi. Rakercab didesain dengan serius, berdasarkan hasil pra-rakercab sebelum pelantikan kemarin," jelas Syahid sapaan akrabnya.

Aktivis asal Tuban ini menambahkan, para pengurus benar-benar serius dalam mengemban amanah setahun ke depan. Hal itu terlihat dengan desain pelaksanaan rakercab yang berjarak sepekan dari pelantikan pengurus. Sebelum melaksanakan rakercab ini, PC PMII Bojonegoro menggelar pra-rakercab terlebih dahulu.

"Sehingga saat rakercab sudah ada bekal matang yang akan dibahas untuk mempertajam arah gerakan PMII satu tahun ke depan. Baik dalam konteks kaderisasi, analisa wacana dan distribusi kader PMII ke depanya," pungkasnya. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Pendidikan, Humor Islam, News Asli Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Pemkab Brebes Gelontorkan Rp 4 Miliar untuk Guru Ngaji

Brebes, Asli Muhammadiyah. Pemerintah Kabupaten Brebes menggelontorkan dana bantuan untuk guru ngaji sebesar Rp 4 Milyar. Bantuan tersebut diberikan sebagai tanda terima kasih kepada para guru ngaji yang telah mengabdi selama 1 tahun.  Pemkab memandang guru ngaji telah berjasa membangun rohani sehingga melahirkan generasi qurani.

Pemkab Brebes Gelontorkan Rp 4 Miliar untuk Guru Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Brebes Gelontorkan Rp 4 Miliar untuk Guru Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Brebes Gelontorkan Rp 4 Miliar untuk Guru Ngaji

Bantuan secara simbolis diberikan Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE dan Wakil Bupati Narjo pada saat pembinaan guru ngaji di Aula Kantor Kecamatan Brebes, Rabu (8/10).

Bupati beralasan, menjadi guru mengaji di masjid dan mushola yang kerap dilakoni para ustadz dan kiai NU didasari atas niat ikhlas, tanpa berharap imbalan atau lillahi taala. Namun atas keikhlasan tersebut justru menjadi perhatian Pemkab Brebes sehingga digulirkanlah dana stimulan bagi guru ngaji.

Asli Muhammadiyah

Dalam kata sambutannya, Bupati mengucapkan terima kasih kepada para guru ngaji yang dengan ikhlas telah meluangkan waktunya mencurahkan ilmu kepada umat Islam yang belajar membaca Al Quran. Dengan telaten para guru ngaji setiap hari mentransfer ilmunya di masjid, mushola maupun rumah masing-masing. “Bantuan yang tidak seberapa ini, mudah-mudahan menambah barokah,” kata Bupati.

Idza menjelaskan, pemberian bantuan sebagai realisasi dari program enam pilar pemerintah kabupaten Brebes. Sekaligus sebagai penghargaan kepada para ngaji sebagai bukti penyeimbang antara pembangunan jasmani dan pembangunan rohani.

Asli Muhammadiyah

Bantuan diberikan kepada 8000 guru ngaji se-Kabupaten Brebes. Kalau tahun lalu hanya 5000 orang, tahun 2014 bertambah menjadi  8000 orang. “Ini berarti ada penambahan 3000 orang atau Rp 1,5 Milyar,” paparnya.

Tiap orang, lanjutnya, mendapatkan bantuan Rp 500 ribu per tahun. Para guru yang mendapatkan stimulan berdasarkan usulan dari lebe (kaur kesra) di masing-masing desa atas persetujuan kepala desa. Mekanismenya, yang bersangkutan, dipilih secara selektif. Selanjutnya diserahkan kepada Kecamatan masing-masing untuk diusulkan kepada Bupati. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Humor Islam, Warta Asli Muhammadiyah

Senin, 27 Januari 2014

KH Lukmanul Hakim: Jangan Berhenti Berdzikir Kepada Allah

Way Kanan, Asli Muhammadiyah. Di hadapan kurang lebih lima ribu jamaah, Dr KH Lukmanul Hakim mengajak umat Islam Way Kanan, Lampung untuk senantiasa berdzikir kepada Allah.

KH Lukmanul Hakim: Jangan Berhenti Berdzikir Kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Lukmanul Hakim: Jangan Berhenti Berdzikir Kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Lukmanul Hakim: Jangan Berhenti Berdzikir Kepada Allah

"Kita harus punya waktu berdzikir dan berdzikir. Jadilah orang yang selalu berdizikir kepada Allah. Di mana-mana bisa berdzikir, dalam diam, duduk, istrirahat, merenung senantiasa berdzikir," ujar ahli fikih yang mengajarkan sufisme itu di Baradatu, Way Kanan, Ahad (7/6).

Pengajian ini dihelat dalam rangka peringatan hari Bakti Gotong Royong Masyarakat, Pengajian Haflah Akhirusanah dan Khotmil Quran Binnador IV" di Pesantren Darul Hikmah.

Asli Muhammadiyah

Doktor di University of Malaya Kuala Lumpur jurusan Siyasah Syariyyah tersebut juga menyatakan tidur juga bisa berdizikir.

"Sudah mengalami tidur yang berdizikir belum?" tanya Kiai Lukman pada kegiatan dihadiri Bupati H Bustami Zainudin dan Ketua DPRD Kabupaten Waykanan H Raden Adipati Surya itu.

Asli Muhammadiyah

Penulis buku "Psikologi Sufi" dan "Mutiara Agung Pangeran Sufi Al-Junaid Al-Baghdady" itu menjelaskan, berdzikir dalam tidur bisa dilatih. "Sebelum tidur membaca Qulhu, ayat kursi hingga lep (tidur). Itu radar dzikir tetap bergerak," ujar dia lagi.

Penulis buku "Jack and Sufi, Sufisme di Reman-Remang Jakarta" dan "Tuhan diantara Inul dan Gang Dolly" itu menambahkan, orang yang senantiasa berdizikir akan dicatat sebagai  dzakiri atau dzakiroh. 

"Siapa tahu sampeyan tidak bangun setelah tidur. Dengan meninggal berdizikir, maka akan dicatat malaikat sebagai amal baik dan dimintakan ampunan dan juga supaya dihindarkan dari siksa," kata dia lagi.

Hadir pada kegiatan itu anggota DPRD Nikman Karim, Ketua PC GP Ansor Waykanan Gatot Arifianto didampingi Kasatkorcab Banser Alex Almukmin beserta jajaran, anggota Dewan Pembina GP Ansor Ridwan LLB (Kasatkorcab Banser Waykanan masa khidmat 2010-2014), alumni Kader Penggerak NU Waykanan. Red: mukafi niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Hikmah, Humor Islam Asli Muhammadiyah