Bahtsul Masail


info Bahtsul Masail
Bahtsul Masail bahasa
Bahtsul Masail bahasa nasional
Bahtsul Masail bahasa indonesia
Bahtsul Masail belah bambu
Bahtsul Masail busuk
Bahtsul Masail berasal dari bahasa yunani yaitu
Bahtsul Masail belanda
Bahtsul Masail busuk sby
Bahtsul Masail berasal dari kata
Bahtsul Masail global
Bahtsul Masail gus dur
Bahtsul Masail golkar
Bahtsul Masail gender
Bahtsul Masail gorontalo
Bahtsul Masail global amerika serikat
habib Bahtsul Masail mp3
video Bahtsul Masail full
Bahtsul Masail gerakan non blok
rahasia Bahtsul Masail terbaru
Bahtsul Masail g 30 s pki
Bahtsul Masail konfrontasi
Bahtsul Masail kerajaan kutai
Bahtsul Masail kampus
Bahtsul Masail kerajaan majapahit
Bahtsul Masail kotor
Bahtsul Masail kerajaan tarumanegara
Bahtsul Masail kompasiana
Bahtsul Masail luar negeri indonesia
Bahtsul Masail luar negeri bebas aktif
Bahtsul Masail luar negeri indonesia adalah
Bahtsul Masail liberal
Bahtsul Masail yang membedakan warna kulit disebut
Bahtsul Masail yang dianut bangsa indonesia
Bahtsul Masail yang baik
Bahtsul Masail yahudi
Bahtsul Masail yang dianut bangsa indonesia adalah
Bahtsul Masail merupakan
Bahtsul Masail yaitu

Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Bahtsul Masail. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Bahtsul Masail. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Juni 2017

Komisi Bahtsul Masail Waqi’iyah Tentukan Kriteria Isu Muktamar

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Panitia sidang komisi bahtsul masail waqi’iyah menetapkan empat kriteria untuk isu yang akan dibahas pada Muktamar Ke-33 NU mendatang. Dengan empat kriteria ini, mereka ingin menyeleksi masukan-masukan dari daerah yang masuk ke PBNU.

Rais Syuriyah PBNU KH A Ishomuddin yang memimpin rapat mengatakan, masalah yang dibahas di Muktamar NU nanti harus mengarah pada aktualitas yang tengah terjadi di masyarakat.

Komisi Bahtsul Masail Waqi’iyah Tentukan Kriteria Isu Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Komisi Bahtsul Masail Waqi’iyah Tentukan Kriteria Isu Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)

Komisi Bahtsul Masail Waqi’iyah Tentukan Kriteria Isu Muktamar

“Dari banyak usulan daerah ini, kita perlu memilah kembali mana di antara semua itu yang masuk kriteria aktual,” kata Kiai Ishom di Jakarta, Kamis (12/3) sore.

Asli Muhammadiyah

Panitia sidang komisi bahtsul masail diniyah waqi’iyah Muktamar NU ini mempertimbangkan juga aspek cakupan nasional dan juga mengarah pada tema besar muktamar, “Meneguhkan Islam Nusantara Untuk Peradaban Indonesia dan Dunia.”

Asli Muhammadiyah

“Kalau bahasannya sektoral, biar dibahas oleh PWNU dan PCNU saja,” kata Katib Syuriyah PBNU Mujib Qaliyubi menegaskan.

Yang tidak kalah penting ialah persoalan yang mesti dibahas nanti mesti mengandung kepentingan yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat luas.

Panitia menyortir sedikitnya 50 usulan persoalan dari daerah. Sementara ini, mereka baru menginventarisasi 5 masalah yang akan dibahas pada Muktamar NU di Jombang, Agustus mendatang. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Tokoh Asli Muhammadiyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Utang Luar Negeri Tidak Boleh Kecuali Kondisi Darurat

Jombang, Asli Muhammadiyah. Rapat pleno Muktamar Ke-33 NU, Rabu (5/8), di alun-alun Jombang, dengan agenda pengesahan hasil sidang-sidang komisi salah satunya menyepakati tentang keputusan hasil sidang Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyyah tentang pandangan Islam terhadap utang luar negeri.

Utang Luar Negeri Tidak Boleh Kecuali Kondisi Darurat (Sumber Gambar : Nu Online)
Utang Luar Negeri Tidak Boleh Kecuali Kondisi Darurat (Sumber Gambar : Nu Online)

Utang Luar Negeri Tidak Boleh Kecuali Kondisi Darurat

Forum Muktamar menegaskan, Islam mengajurkan umatnya untuk bekerja dan mengelola hidupnya secara mandiri tanpa lilitan utang. Dalam konteks negara, Pemerintah harus mandiri dalam menghidupi kehidupan rakyatnya.

“Pemerintah tidak boleh mengambil utang, kecuali benar-benar dalam kondisi darurat agar tidak menghambat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang dan menjadi beban bagi generasi mendatang,” papar Abdul Moqsith saat membacakan keputusan Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudlu’iyyah di hadapan ribuan muktamirin.

Asli Muhammadiyah

Sesuai dengan maqamnya, katanya, utang hanya diperkenankan untuk membiayai hal-hal yang sifatnya mendesak (hajiyyat), dan diprioritaskan untuk pendanaan hal-hal yang berimplikasi pada hajat hidup rakyat, seperti pembangunan energi dan infrastruktur.

Hal ini karena tugas negara pada hakikatnya adalah menegakkan keadilan dan kesejahteraan bagi semua, terutama bagi kalangan rakyat lemah, tanpa membeda-bedakan latar belakang keyakinan agama dan kesukuan mereka. Rakyat kecil dan lemah itulah yang senantiasa harus menjadi prioritas kerja negara, baik dengan uang sendiri atau uang pinjaman. Dana utang sama sekali tidak diperkenankan untuk membiayai pos-pos yang menguntungkan sebagian kecil rakyat, apalagi dengan cara-cara yang tidak halal.

Asli Muhammadiyah

Jika terpaksa dilakukan, maka Islam telah menentukan rambu-rambunya. Pihak debitur harus berkomitmen untuk membayar sesuai dengan syarat yang diperjanjikan. Sementara ? bagi kreditur, ia tidak boleh menarik keuntungan dari pinjaman tersebut. Jika sudah jatuh tempo, tapi pihak debitur benar-benar dalam kondisi tidak mampu, dianjurkan untuk memberi tenggang waktu dengan rescheduling atau membebaskannya.

Forum bahtsul masail menyayangkan kondisi bangsa Indonesia yang hingga kini lekat dengan utang luar negeri. Menurut forum, jika dibandingkan dengan data kekayaan sumber daya alam, kondisi tersebut sangat ironis dan mengkhawatirkan, walau pemerintah dengan indikator ekonomi makro masih menyatakan aman.

“Akumulasi hutang yang menumpuk membuat pertumbuhan ekonomi tidak bergerak, rawan risiko, dan menimbulkan disinsentif bagi pengelola ekonomi untuk mencapai kinerja baik akibat terlalu besarnya transfer keluar untuk memenuhi kewajiban hutang luar negeri.”

Sebagai bangsa yang mendambakan kemandirian dan bermartabat di mata dunia, kita menginginkan negara yang bebas utang. Walau tidak mudah, sudah saatnya kita merenungkan kembali kebijakan defisit anggaran yang digunakan untuk mendukung ekspansi fiskal dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Kita tidak boleh selamanya terjebak pada skema pembiayaan utang untuk membiayai pembangunan. Oleh karena itu, dibutuhkan formulasi baru agar pembiayaan pembangunan tidak lagi mengandalkan dari utang," jelas Moqsith.

Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyah merupakan forum kajian keagamaan yang berusaha mencari jawaban atas persoalan keagamaan tentang topik-topik tertentu. Jawaban merujuk pada kutub mu’tabarah dan disajikan dalam bentuk deskripsi utuh, tak sekadar jawaban halal-haram. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ubudiyah, Pesantren, Warta Asli Muhammadiyah

Minggu, 02 Januari 2011

Sewa Tenaga Badal Thawaf Ifadlah Dibolehkan

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Hukum sewa tenaga untuk menggantikan jamaah haji dalam melaksanakan Thawaf Ifadlah mubah. Hukum mubah diambil dalam rangka memudahkan jamaah haji yang sudah uzur, lanjut usia, sakir keras, atau terhalang lain hal.

Sewa Tenaga Badal Thawaf Ifadlah Dibolehkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sewa Tenaga Badal Thawaf Ifadlah Dibolehkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sewa Tenaga Badal Thawaf Ifadlah Dibolehkan

Hukum ini diputuskan peserta musyawarah Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) dalam bahtsul masail di Pondok Pesantren Sunan Pandaran, Sleman Yogyakarta, Selasa (2/7) malam.

“Boleh menyewa orang lain untuk menggantikan Thawaf Ifadlah,” kata Ketua LBM PBNU KH Zulfa Musthofa membacakan hasil bahtsul masail dalam sidang pleno Bahtsul Masail Nasional PBNU, Rabu (3/7) siang.

Asli Muhammadiyah

Kebolehan sewa tenaga untuk Thawaf Ifadlah itu didasarkan pada pendapat Atha’ yang dikutip oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’, syarhul Muhadzdzab. “Jamaah haji dalam keadaan tertentu boleh mengupah seseorang untuk menggantikannya dalam berthawaf.”

Isu ini diangkat dalam rangka memberikan solusi atas masalah haji beberapa tahun terakhir. Pemerintah Saudi mengambil kebijakan yang melarang pelaksanaan thawaf dengan menggunakan tandu sebagai alat bantu.

Asli Muhammadiyah

Kebijakan ini cukup menyulitkan jamaah haji. Jamaah haji yang dalam keadaan uzur, lanjut usia, atau sakit keras, terancam tidak dapat melaksanakan thawaf. Ini berimbas pada tidak sahnya ibadah haji jamaah.

Karena, Thawaf Ifadlah merupakan salah satu rukun haji yang tidak boleh ditinggalkan.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Tegal, Olahraga Asli Muhammadiyah

Senin, 20 November 2017

Pesantren Al-Muayyad Windan Bedah Materi Muktamar NU

Sukoharjo, Asli Muhammadiyah. Puluhan santri Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan Makamhaji Sukoharjo mengikuti kegiatan kelas “Bedah Materi Muktamar NU ke-33”. Acara yang dipusatkan di aula pondok setempat ini dilaksanakan selama dua hari (16-17/8).

Pesantren Al-Muayyad Windan Bedah Materi Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Muayyad Windan Bedah Materi Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Muayyad Windan Bedah Materi Muktamar NU

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan, KH M Dian Nafi’, selama dua hari tersebut para peserta yang juga ada dari luar Windan, akan mengkaji berbagai hasil materi yang telah dibahas pada Muktamar NU di Jombang, belum lama ini.

“Secara umum, materi muktamar yang didiskusikan meliputi kajian dari empat komisi pada Muktamar NU,” terang Wakil Syuriyah PWNU Jateng itu.

Asli Muhammadiyah

Empat komisi tersebut antara lain Komisi Bahtsul Masail Waqiiyah (kajian masalah kontemporer), Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah (masalah tematik), Komisi Bahtsul Masail Qanuniyah (masalah perundang-undangan), dan Komisi Program.

Asli Muhammadiyah

“Pengkajian ini diharapkan menjadi bekal penting bagi para santri untuk terjun di masyarakat dan saat mereka menjadi pemimpin kelak,” imbuh Gus Dian.

Koordinator pelaksana acara ini, Ahmad Asrof Fitri menambahkan pihaknya mendatangkan beberapa narasumber yang kompeten.

“Selain Kiai Dian, juga ada narasumber lain untuk membahas pelbagai persoalan seperti Hukum BPJS, Ketenagakerjaan, hukum mati, pasar bebas dan lain sebagainya,” ujar dia. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ahlussunnah, AlaSantri Asli Muhammadiyah

Kamis, 21 Desember 2017

Umat Bertanya, NU Jatim Menjawab

Kebangkitan masyarakat terhadap kesadaran beragama di abad ini cenderung meningkat, baik dalam aspek hukum, sosial budaya, politik, ekonomi, maupun pendidikan. Namun di balik kebangkitan tersebut menyisakan keprihatinan tersendiri, sebab kebangkitan agama oleh sebagian umat mengarah kepada pemahaman syariat secara tekstual dan literal, yakni merujuk langsung kepada teks al-Qur’an dan al-Hadis tanpa merujuk kepada kitab-kitab karya ulama yang otoritatif di bidangnya, sehingga berpotensi memunculkan pemahaman yang keliru. Lebih memprihatinkan lagi, dengan semakin familiarnya umat Islam dengan internet, masyarakat banyak merujuk “fatwa-fatwa” yang tidak jelas sumbernya. Tentu saja fenomena ini dapat mereduksi hakikat syariat Islam dan berakibat sesatnya umat.

Melihat fenomena di atas, ulama, santri serta cendekiawan muslim baik perorangan maupun melalui lembaga dituntut untuk responsif dan senantiasa pro aktif menampung serta mencarikan solusi dari setiap permasalahan yang timbul di tengah-tengah masyarakat dengan metode dan strategi yang tepat, sehingga kebangkitan kesadaran ber-Islam berbanding lurus dengan pemahaman Islam yang sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah pengikut ajaran ulama salafus shalih.

Umat Bertanya, NU Jatim Menjawab (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Bertanya, NU Jatim Menjawab (Sumber Gambar : Nu Online)

Umat Bertanya, NU Jatim Menjawab

Adalah Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PWNU Jatim, sebagai lembaga yang berkutat dalam ranah pengambilan keputusan tentang hukum-hukum Islam, baik yang terkait dengan permasalahan bidang akidah, masa’il fiqhiyyah, maupun tasawuf, menerbitkan dua jilid buku kumpulan hasil Bahtsul Masa’il. Jilid kesatu hasil Bahtsul Masa’il tahun 1979- 2009, sedangkan jilid kedua mulai 2009-2014 M. Isi buku jilid kesatu memuat kategori keputusan Bahtsul Masail waqi’iyah (faktual) saja, sedangkan jilid kedua selain memuat keputusan hukum waqi’iyyah, juga berisi hasil keputusan hukum maudhu’iyyah (tematik) dan qanuniyyah (perundang-undangan).

Asli Muhammadiyah

Hadirnya buku hasil Bahtsul Masail ini menjadi obat kerinduan semua fihak terhadap dokumen rumusan hukum Islam aktual yang akurat dan mu’tamad ala Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyyah yang merujuk kepada kutubul mu’tabarah. Sehingga masyarakat selain mudah dalam mencari jawaban hukum atas setiap permasalahan yang dihadapi, begitu juga buku ini sebagai alternatif pilihan yang dapat menyelamatkan umat Islam dari bahaya mengikuti “fatwa-‘fatwa” liar di luar arus utama Ahlussunnah Waljamaah, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Terkait dengan tema pembahasan, hampir seluruh aspek permasalahan umat terekam dalam buku ini. Buku satu berisi 19 tema meliputi akidah dan fikih madzhab, fikih taharah, shalat, al-Qur’an, doa dan bacaan, fikih jenazah dan kuburan, fikih zakat, puasa, haji dan umrah, muamalah, wakaf dan fasilitas umum, munakahat, akhlaq dan pendidikan, fikih makanan, medis, warisan, sosial, seni dan budaya, yustisi (peradilan) serta fikih siyasah politik kenegaraan dan kebangsaan. Buku kedua berisi 18 tema, yakni akidah dan fikih madzhab, fikih thaharah, shalat, bacaan al-Qur’an, fikih jenazah, zakat, haji dan umrah, fikih muamalah, wakaf dan fasilitas umum, fikih munakahat, akhlaq dan fikih tarbiyah, fikih makanan, medis, wasiat, sosial, seni budaya, yustisi (peradilan), serta fikih siyasah.

Asli Muhammadiyah

Menjawab Polemik Konsep Khilafah

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang memberikan kontribusi besar terhadap terbentuknya negara Indonesia, sekaligus menjadi penyokong utama absahnya konsep kebangsaan menurut perpektif syari’at Islam, dewasa mendapatkan tantangan besar dengan masuknya ide-ide Islam transnasional yang menggembar-gemborkan konsep khilafah dan memperjuangkan berlakunya syari’at Islam di bumi Indonesia. Kelompok Islam transnasional ini secara vulgar menolak konsep nasionalisme Indonesia karena dianggap tidak sesuai dengan konsep yang diajarkan Nabi Muhammad Saw.

Dalam menjawab polemik konsep khilafah dan formalisasi syariat ini, LBM NU Jatim menguraikan dalam buku jilid I halaman 706. Menurut keputusan musyawirin bahwa konsep khilafah dalam ketatanegaraan Islam tidak terdapat pijakan dalil nash, karena keberadaan sistem khilafah adalah bentuk ijtihadiyah. Sehingga hukum mengubah bentuk negara Indonesia dengan bentuk yang lain sebagaimana khilafah hukumnya tidak boleh selama akan menimbulkan mafsadah yang lebih besar. Sedangkan upaya mengubah dasar hukum negara diperbolehkan dengan syarat dengan menggunakan cara yang konstitusional. Dalam upaya penerapan syariat di Indonesia tepat jika digunakan dengan strategi tadrij (gradual).

Menjawab Polemik Konsep Salaf

Nahdlatul Ulama sebagai pengamal dan pengawal ideologi Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia juga mendapatkan resistensi begitu kuat dari faham-faham keagamaan yang mengklaim pengikut ulama salaf dan kemudian mendefiniskan dirinya sebagai kelompok Salafi. Kelompok ini berslogan mengembalikan pemahaman umat Islam kepada Al-Qur’an dan Hadis, sehingga amaliyah Nahdlatul Ulama yang mengikuti pemikiran ulama madzhab dianggap jauh dari perilaku ulama salaf. Untuk menyikapi hal tersebut, LBM NU Jatim dalam buku ini memberikan panduan yang tepat dalam berakidah. Dalam jilid I halaman 594 dijelaskan bahwa Islam memiliki tiga aspek yang dalam hal ini didasarkan kepada hadis Nabi saw. dari jalur riwayat Umar bin Khattab ra., yakni konsep Iman yang kemudian dielaborasi dalam ilmu tauhid, yang kedua aspek Islam yang kemudian direpresentasikan dalam ilmu fikih, serta aspek Ihsan yang kemudian tererabolari dalam ilmu tasawuf.

Dari tiga konsep ini, Ahlussunnah Waljamaah menyandarkan pada rumusan delapan Imam, yakni dalam ilmu tauhid berpegangan kepada Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi, dalam ilmu fikih bersandar pada Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali, sedangkan dalam ilmu tasawuf berpijak kepada pemikiran Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali.

Diharapkan dengan hadirnya buku himpunan hasil Bahtsul Masa’il LBM PWNU Jatim ini bisa memberikan panduan kepada umat Islam. Tentu saja hasil Bahtsul Masa’il ini telah melalui proses diskusi yang panjang dan melibatkan para pakar fikih yang kapabel dan kredibel dalam lingkungan Nahdlatul Ulama Jawa Timur. Keputusan yang disepakati dalam buku ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, sehingga sangat sangat layak dijadikan solusi bersyari’at, apalagi di tengah-tengah bermunculannya fatwa-fatwa perorangan maupun lembaga keagamaan di luar Ahlussunnah wal Jamaah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Judul : NU Menjawab Problematika Umat; Keputusan Bahtsul Masa’il PWNU Jawa Timur. Jilid I: 1979-2009 M. Jilid II: 2009-20014 M.

Penyusun: TIM PW LBM NU Jatim

Penerbit: PW LBM NU Jatim

Hal: jilid I; xxix + 936. Jilid II; xxi +850.

ISBN: 978-602-97112-9-5

Peresensi: Fathul Qodir (Pegiat Aswaja NU Jatim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Budaya, Pemurnian Aqidah Asli Muhammadiyah

Selasa, 15 Juli 2014

Soroti Hukum Positif dengan Fikih

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia tidak akan menuntut penerapan hukum Islam secara legal-formal dalam kebidupan berbangsa dan bernegara. Beberapa aspek penting dalam hukum Islam (fikih) akan diresapkan dalam tata hukum positif Indonesia.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama (LBM-NU) di di Gedung Dewantoro, Taman Wiladatika Cibubur, Jakarta, hari ini hingga 7 September 2007 akan menyoroti tiga hal yakni rencana amendeman ke-5 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, undang undang anti korupsi dan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Soroti Hukum Positif dengan Fikih (Sumber Gambar : Nu Online)
Soroti Hukum Positif dengan Fikih (Sumber Gambar : Nu Online)

Soroti Hukum Positif dengan Fikih

Ketiga persoalan itu akan dibahas dalam komisi "Bahtsul Masail Diniyah Qonuniyah" sebagai sub dari LBM yang membidangi persoalan hukum posistif di Indonesia.

Ketua Tim Perumus KH Arwani Faishal mengatakan, UUD 1945 yang telah diamandemen selama empat kali masih jauh dari harapandan belum mampu memberikan jawaban dari berbagai persoalan yang muncul.

“UUD 1945 masih merupakan landasan yang rapuh bagi kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara. Dan sebagai akibat dari prosesnya yang dilakukan tidak partisipatif, hasil perubahan UUD 1945 belum mencerminkan kepentingan seluruh elemen bangsa,” katanya.

Perubahan (amandemen) UUD 1945 harus dilanjutkan kembali untuk memperbaiki dan melengkapi hasil perubahan sebelumnya, namun tidak bisa dilakukan secara parsial, menyangkut kepentingan tertentu saja.

Asli Muhammadiyah

Soal undang undang anti korupsi, bahtsul masail akan membahas maksimalisasi dan penegakaan hukum aturan tentang Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) serta aturan tentang gratifikasi dalam rangka menghalau tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh pejabat publik utamanya para penegak hukum. Juga soal eksistensi Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang terancam, karena batas waktu yang diberikan Mahkamah Konstitusi hanya sampai tiga tahun sejak diputuskan yaitu Desember 2009.

Sementara itu penuntutan kembali terhadap obligor BLBI juga menjadi agenda penting pembahasan. Perlu ditegaskan bahwa pengembalian kerugian negara tidak menghapuskan tuntutan pidana terhadap para pelaku koorupsi. Karenanya tindakan penuntutan kembali terhadap para penerima BLBI merupakan langkah hukum yang perlu dukungan semua pihak.

“Penuntutan hukum terhadap para koruptor khususnya para penerima BLBI dengan orientasi pengembalian aset negara merupakan tindakan yang tepat sekalipun aset itu berada di negara lain,” kata KH Arwani Faishal.(nam)

Asli Muhammadiyah



Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Warta Asli Muhammadiyah

Rabu, 20 Desember 2017

Dalam Sejarah, Fiqih dan Seni Tidak Terpisahkan

Surabaya, Asli Muhammadiyah. Pengurus Wilayah Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) Jawa Timur melangsungkan sarasehan sastra dan budaya bertema "Fikih, Seni dan Sastra" di kantor PWNU Jawa Timur, Surabaya, Jumat (25/9), dengan menghadirkan KH Abdurrahman Nafis dan Muhammad Al-Fayyadl sebagai narasumber dan Riadi Ngasiran sebagai moderator.

Dalam Sejarah, Fiqih dan Seni Tidak Terpisahkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalam Sejarah, Fiqih dan Seni Tidak Terpisahkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalam Sejarah, Fiqih dan Seni Tidak Terpisahkan

KH Abdurrahman Nafis, mengemukakan bahwa dalam sejarahnya, sastra sering menjadi bagian tidak terpisahkan bagi awal dikenalkannya Islam. "Dan Nabi Muhammad dengan mukjizat yang diterimanya berupa al-Quran, telah mampu mengalahkan karya sastra masyarakat Arab saat itu," katanya.

Para pemimpin Quraisy saat itu, yakni Umar bin Khattab serta Amr bin Hisyam dibuat tidak berdaya dengan kandungan ayat Al-Quran. "Bahkan, Umar bin Khattab bisa terenyuh saat putrinya, Siti Hafshah membaca ayat al-Quran, sehinggga berkenan menjadi muslim," kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini.

Asli Muhammadiyah

Kiai Nafis, sapaan akrabnya, kemudian menggambarkan bagaimana awal mula islamisasi di Indonesia yang lebih menggunakan cara damai, termasuk dengan menggunakan seni sebagai media dakwahnya.

Asli Muhammadiyah

"Para Wali Songo telah berhasil mengislamkan khususnya masyarakat Jawa lewat pendekatan seni," terangnya. Lahirnya seni wayang, tembang dan syair dengan tema agama sebagai bukti bahwa seni demikian menjadi media yang sangat efektif untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat, lanjutnya.

Sebelumnya, masih menurut Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini, para ulama pengarang kitab telah menemukan disiplin ilmu yang membahas tentang kaidah sastra lewat ilmu balaghah, arudh, dengan berbagai varian yang dimiliki.

Pertemuan antara fikih dan sastra akhirnya melahirkan definisi dan batasan yang menjelaskan tentang seni islami. "Ada 4 batasan yang telah digariskan para fuqaha terhadap seni," kata Kiai Nafis yang juga dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Pertama adalah, seni yang dilahirkan tidak memgandung kemusyrikan. "Yang kedua, seni islami adalah yang tidak mengandung maksiat," katanya. Sedangkan ketiga adalah jangan sampai menimbulkan fitnah, dan terakhir yakni seni harus mengandung amar makruf nahi munkar, imbuhnya.

Sering Terjadi Ketegangan

Muhammad Al-Fayyadl justru mencatat akhir-akhir ini sering terjadi ketegangan di akar rumput antara santrawan dan para fuqaha. "Bahkan pernah saya saksikan, pagelaran seni di salah satu kampung justru dihentikan lantaran dianggap tidak islami," kata alumnus Master "Philosophie et Critiques Contemporaines de la culture" Université Paris VIII, Prancis tersebut.

Padahal di awal Muktamar NU, para kiai sangat terbuka dengan masalah kesenian. "Ini mengisyaratkan bahwa hubungan antara kesenian dan agama menduduki porsi terpenting dalam perhatian ulama," kata Gus Fayyadl, sapaan akrabnya.

Dalam perjalanannya, kendati persoalan kesenian kontemporer kemudian kerap menjadi bahasan dalam forum bahtsul masail NU, tapi dalam pandangan dosen UGM ini, rumusannya secara konseptual masih jauh dari komprehensif dan meyakinkan.

Kedua narasumber sepakat bahwa harus selalu dilakukan dialog terbuka antara para pegiat seni dengan aktifis bahtsul masail agar ditemukan titik temu bagi sejumlah permasalahan seni mutaakhir yang tentunya sarat dengan dinamika dan inovasi. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Lomba, Pahlawan, Khutbah Asli Muhammadiyah

Senin, 02 Desember 2013

Ini Alasan NKRI Harga Mati bagi NU

Surabaya, Asli Muhammadiyah. Mengapa Nahdlatul Ulama kukuh menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia? atau NKRI dan tidak bisa ditawar? Bahkan siapa saja yang berkeinginan mengubahnya, akan berhadapan dengan NU.

Ini Alasan NKRI Harga Mati bagi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Alasan NKRI Harga Mati bagi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Alasan NKRI Harga Mati bagi NU

Hal inilah yang menjadi pembahasan dalam diskusi rutin PW Aswaja NU Center Jawa Timur, Sabtu (2/5). Narasumber yang dihadirkan adalah KH Ahmad Azhar Shofwan yang juga Ketua PW Lembaga Bahtsul Masail NU Jawa Timur.

Bagi Kiai Azhar, setidaknya ada tiga alasan mendasar yang akhirnya menjadikan NU tetap berkomitmen untuk menjadikan NKRI sebagai harga mati. Bagi NU, negara bukanlah sebagai tujuan. "Selama negara bisa menjamin bagi terlindunginya lima hal pokok atau ushulul khams, maka sudah seharusnya keberadaan negara didukung," katanya.

Asli Muhammadiyah

Kelima hal pokok tersebut adalah terjaganya akal, agama, harta, keturunan serta jiwa atau nyawa. Sehingga, tujuan hakiki dari sebuah negara adalah maslahah ammah atau kemaslahatan publik, tanpa harus mempersoalkan bentuk dari negara yang ada, lanjutnya.

Pertimbangan kedua adalah, secara substantif keberadaan NKRI sesuai dengan syariat. "Karena dalam praktiknya, masyarakat muslim atau warga negara bisa menjalankan syariat Islam secara penuh," katanya.

Asli Muhammadiyah

Kiai Azhar, memerinci bahwa selama ini banyak undang-undang atau peraturan di negara Indonesia yang bisa mengakomodir pelaksanaan syariat Islam. "Seperti berlakunya undang-undang perkawinan, waris, zakat, juga pengelolaan fakir dan miskin," katanya. Bahkan untuk yakng terakhir ini yakni penanganan fakir miskin di tanah air sesuai dengan tatanan yang disyariatkan dalam Islam, lanjutnya.

"Yang ketiga adalah NU menyadari akan kebhinekaan dari bangsa Indonesia, karenanya menghadapi keberagaman itu harus dihadapi dengan arif agar kemajemukan yang ada bisa terjaga dengan baik," terangnya. Karenanya, NKRI menjadi solusi terbaik bagi upaya menebarkan rasa aman dan damai, tanpa harus ada pihak yang diciderai.

Dalam pandangan pengasuh bahtsul masail di sejumlah media ini, bagi NU formalisasi syariah apalagi dalam bentuk negara tidaklah penting. "Yang lebih penting adalah bagaimana rasa aman dan nyaman dalam menjalankan syariat bisa terlindungi dengan baik oleh negara," tandasnya.

Di akhir pemaparannya, Gus Azhar mengemukakan bahwa titik tekan sebuah negara adalah bagaimana hukum Islam dapat teraplikasi secara penuh dalam kehidupan sehari-hari, tanpa mempersoalkan status negaranya.

Diskusi ini merupakan kegiatan mingguan yang diselenggarakan PW Aswaja NU Center Jawa Timur. Para peserta adalah utusan dari pengurus setempat dan juga dihadiri masyarakat umum yang ingin mendalami masalah keaswajaan dalam banyak sudut pandang.

"Untuk Sabtu depan, kami akan menghadirkan Ustadz Maruf Khozin dengan tema bahasan seputar ijtihad ulama NU dalam menerima Pancasila dan demokrasi," kata Ustadz Ahmad Muntaha, AM, koordinator Kajian Islam ala Ahlus Sunnah wal Jamaah atau Kiswah. Kegiatan dilangsungkan di perpustakaan PWNU Jatim dari jam 14.00 hingga 16.00 WIB. (Syaifullah/Abdullah)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Meme Islam Asli Muhammadiyah

Rabu, 11 Januari 2017

KH Hasyim Muzadi: Karakter Islam adalah Kelembutan

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Depok, Jawa Barat KH Hasyim Muzadi menegaskan bahwa karakter Islam ada pada kelembutannya. Hal ini sesuai dengan nilai-nilai Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

“Karakter Islam terletak pada kelembutannya,” ujar Kiai Hasyim ketika menjadi narasumber Forum Bahtsul Masail Kongres Ke-17 Muslimat NU, Jumat (25/11) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.

KH Hasyim Muzadi: Karakter Islam adalah Kelembutan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Muzadi: Karakter Islam adalah Kelembutan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Muzadi: Karakter Islam adalah Kelembutan

Forum Bahtsul Masail tersebut membahas tentang ujaran kebencian (hate speech) yang kian marak di dunia maya. Selain Kiai Hasyim, hadir juga sebagai narasumber Imam Besar Masjid Istiqlal, dan pakar IT Muhammad Bachir.

Sementara itu, KH Nasaruddin Umar menjelaskan beberapa ciri yang dapat dikategorikan dengan hate speech. "Ujaran kebencian itu adalah fitnah, menghasut dan penyebaran berita bohong," terangnya.?

Asli Muhammadiyah

Pertama, imbuhnya, adalah penghinaan. Kedua berbuat tidak menyenangkan itu bisa digugat baik itu tertulis di media ataupun secara langsung penyampaiannya.





Rekomendasi kongres

Sidang Komisi Rekomendasi Kongres Ke-17 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan rekomendasi terkait maraknya ujaran kebencian atau hate speech terutama di media sosial, media tradisional, media online, dan kehidupan nyata.?

Asli Muhammadiyah

Selain ujaran kebencian, sidang yang berlangsung Jumat (25/11) malam di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta ini juga menelorkan rekomendasi terkait kekerasan seksual pada anak, NAPZA, kesenjangan ekonomi, ketahanan keluarga, bonus demografi, terorisme, kebijakan publik, dan penguatan internal kelembagaan.

Hate speech yang terbukti memunculkan kerasahan di tengah masyarakat disikapi secara serius oleh Muslimat NU. Rekomendasi terkait hate speech itu ditujukan kepada Polri dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Kepada Polri, Muslimat NU merekomendasikan pertama, agar melakukan pengkajian yang lebih komprehensif terkait hate speech dalam rangka penyusunan kerangka regulasi yang mengatur secara khusus untuk menindak hate speech.?

“Di samping Surat Edaran Kapolri No SE/b/X/2015 Tentang Penanganan Ujaran Kebencian (hate speech),” ujar Pimpinan Sidang Komisi Rekomendasi Hj Machsanah A.

Kedua, mempromosikan pendidikan publik tentang anti-hate speech atas dasar apapun, serta bahaya dan konsekuensi yang ditimbulkannya bagi persatuan dan kesatuan bangsa.

“Ketiga, memberikan informasi yang cukup kepada masyarakat tentang dampak hate speech agar tidak saling menghujat, memfitnah, dan perilaku tidak baik lainnya,” lanjut Machsanah.

Kepada MUI, Muslimat NU juga merekomendasikan agar membuat pedoman atau acuan yang lebih komprehensif tentang paham dan aliran tertentu.

“Misalnya mengkafirkan dan menganggap sesat terhadap suatu aliran,” tandas Machsanah.

(Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Budaya, Aswaja, Tegal,Attijani Asli Muhammadiyah

Kamis, 12 Maret 2015

PBNU Canangkan Gerakan Ekonomi Berbasis Masjid dan Pesantren

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Pengurus harian Syuriyah PBNU menggelar pertemuan bersama pengurus baru Lembaga Takmir Masjid (LTM) dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) di Jakarta, Kamis (10/9) siang. Mereka sepakat mengambil pemberdayaan ekonomis sebagai fokus program kerja ke depan dua lembaga strategis di NU itu.

PBNU Canangkan Gerakan Ekonomi Berbasis Masjid dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Canangkan Gerakan Ekonomi Berbasis Masjid dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Canangkan Gerakan Ekonomi Berbasis Masjid dan Pesantren

Pada rapat yang diikuti para katib Syuriyah PBNU, Rais Aam mengarahkan pengurus inti dua lembaga ini untuk fokus pada penguatan ekonomi berbasis garapan masjid dan pesantren.

“Kita ingin ekonomi ini menggerakkan NU, masjid juga pesantren, dan juga untuk kesejahteraan nahdliyin itu sendiri,” kata Silahuddin, salah seorang staf Rais Aam usai rapat internal di Jakarta, Kamis (10/9) sore.

Asli Muhammadiyah

Menurut Silahuddin, program RMI dan LTM PBNU yang sudah berjalan pada periode kepengurusan sebelumnya tetap berlanjut. Syuriyah PBNU mengapresiasi gerakan deradikalisasi RMI dan program muharrik masjid LTM PBNU yang sudah berjalan.

Asli Muhammadiyah

“Kini kita masukkan pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren dan masjid seiring tantangan ekonomi dunia,” kata Silah.

Rais Aam dan pengurus harian Syuriyah PBNU pada pekan depan akan mengadakan rapat dengan lembaga lain di PBNU. “Minggu depan kemungkinan dengan Lazisnu dan lembaga bahtsul masail,” tandas Silah. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Olahraga, Bahtsul Masail Asli Muhammadiyah

Minggu, 08 Januari 2017

Mengapa Islam Menerapkan Hukuman Mati?

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Salah satu isu yang diangkat Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyah pada Muktamar Ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus lalu adalah soal hukuman mati yang dikaitkan dengan hak asasi manusia (HAM) dan pandangan Islam. Dalam Islam, hukuman mati masuk dalam kategori qishash.

Komisi yang diketuai KH Afifuddin Muhajir ini merumuskan bahwa selain menjadi sanksi atas tindak kejahatan pembunuhan,? hukuman mati juga diterapkan untuk berbagai tindak kejahatan berat tertentu. Mengapa Islam menerapkan hukuman mati?

Mengapa Islam Menerapkan Hukuman Mati? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa Islam Menerapkan Hukuman Mati? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa Islam Menerapkan Hukuman Mati?

Dalam keputusan yang disahkan pada sidang pleno Muktamar Ke-33 NU, 5 Agustus, itu dijelaskan, hukuman mati merupakan bukti dari upaya serius syariat Islam untuk memberantas kejahatan berat yang menjadi bencana kemanusiaan, seperti pembunuhan. Sanksi tersebut dinilai setimpal dan menjadi pelajaran paling efektif bagi orang lain supaya tidak berbuat hal yang sama.

Asli Muhammadiyah

Muktamirin berpandangan, pada hakikatnya dimaksudkan untuk beberapa hal, antara lain (1) memberantas tuntas kejahatan yang tidak dapat diberantas dengan hukuman yang lebih ringan, (2) orang lain akan terkendali untuk tidak melakukannya karena mereka tidak akan mau dihukum mati, (c) melindungi orang banyak dari tindak kejahatan itu.

Dengan berpijak pada dasar hakikat disyariatkannya hukuman mati ini, hukuman mati dinilai tak dapat dinyatakan melanggar HAM. Justru sebaliknya, hukuman tersebut untuk memberantas pelanggaran HAM dengan membela hak hidup banyak orang.

Asli Muhammadiyah

Pandangan tersebut didasarkan pada argumen al-Qur’an, as-Sunnah, dan pendapat para ulama yang tersebar dalam berbagai literatur. Jauh sebelum muktamar, PBNU juga telah mengeluarkan imbauan penerapan hukuman mati bagi koruptor kelas berat dan gembong pereadaran narkoba. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Lomba, Bahtsul Masail, Tegal Asli Muhammadiyah

Selasa, 25 Juli 2017

Masyarakat Cari Caleg Bertanggung Jawab

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Masyarakat Indonesia kini tengah mencari calon legislatif (caleg) yang amanah dan bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya sebagai wakil rakyat. Masyarakat sudah letih dengan kinerja wakil rakyat yang jauh dari harapan.

Demikian dikatakan oleh Katib Am PBNU KH Malik Madani ketika dihubungi Asli Muhammadiyah, Selasa (7/5) siang.

Masyarakat Cari Caleg Bertanggung Jawab (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Cari Caleg Bertanggung Jawab (Sumber Gambar : Nu Online)

Masyarakat Cari Caleg Bertanggung Jawab

“Kita mengharapkan warga negara yang ingin mencalonkan diri nanti memiliki komitmen dan kesadaran tanggung jawab yang tinggi dalam menjalankan tugas dan amanah yang dibebankan kepadanya,” tegas KH Malik Madani.

Asli Muhammadiyah

Tanggung jawab dan amanah itu, lanjut KH Malik Madani, merupakan satu masail yang dibahas dalam Sidang Komisi Bahtsul Masail Diniyyah Al-Waqi‘Iyyah pada Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama, Munas dan Konbes NU di Pesantren Kempek Cirebon, Jawa Barat, September 2012 lalu.

Komitmen caleg, sambung KH Malik, sering dipertanyakan warga. Lewat aneka media yang berkembang, warga Indonesia lebih mudah memantau calegnya setelah terpilih. Namun, mereka kerap kali dikecewakan wakilnya yang kerap mungkir dari janji yang diumbar saat masa kampanye.

Asli Muhammadiyah

Masalah ini dinilai penting sehingga NU memasukkannya dalam draf pembahasan dengan tajuk “Memilih Calon”. Pembahasan ini bagian dari kontribusi NU dalam mengawal aturan pemilihan wakil rakyat yang berlaku, kata KH Malik Madani. 

Putusan Munas dan Konbes NU itu hanya bersifat seruan moral. NU tidak punya hak untuk melarang warga negara yang memenuhi persyaratan teknis untuk mencalonkan diri. Karena, pencalonan itu menjadi hak warga negara, tambah Kiai Malik.

Selebihnya, NU menyerahkan kepada KPU dan partai yang bersangkutan untuk menyeleksi bakal calon legislatif baik secara prosedur maupun integritas. Masyarakat pun tentunya harus mencermati benar calon legislatif yang akan mewakili aspirasi mereka, tandas KH Malik.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Daerah, Amalan, Meme Islam Asli Muhammadiyah

Kamis, 21 Juli 2016

Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo: Pejuang NU Akan Dijadikan Satu dengan Mbah Hasyim

Sidoarjo, Asli Muhammadiyah. Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo, KH Rofiq Siroj, menegaskan bahwa berjihad di jalan Allah harus diniatkan dengan hati tulus, ikhlas dan benar-benar amanah. Terlebih lagi sebagai pengurus NU.

?

Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo: Pejuang NU Akan Dijadikan Satu dengan Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo: Pejuang NU Akan Dijadikan Satu dengan Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo: Pejuang NU Akan Dijadikan Satu dengan Mbah Hasyim

"Selain berjihad, berjuang dengan jiwanya hingga tuntas, uangnya juga diajak berjihad. Insyaallah akan ditolong Allah sama seperti Allah menolong KH Hasyim Asyari dan kita akan dijadikan satu dengan KH Hasyim Asyari, kelak. Yang berkhidmat di NU semoga diberikan panjang umur," katanya disela-sela prosesi pelantikan MWCNU Sidoarjo kota, di masjid Nurul Huda, Luwung, Sarirogo, Sidoarjo, Ahad (2/4).

Menjadi pengurus, lanjutnya, tidak boleh mempunyai perasaan buruk, sombong dan iri hati. Pengurus harus mematuhi AD/ART, kepentingan ulama, bangsa dan negara. Khittoh Nahdlatul Ulama harus dijadikan landasan berfikir.

Sementara itu, Rais Syuriah MWCNU Sidoarjo, Muhammad Nasikhin menyatakan, Nahdlatul Ulama harus mempunyai kader militan untuk meneruskan ajaran KH Hasyim Asyari melalui jamiyah Nahdlatul Ulama.

Asli Muhammadiyah

"Ke depan, dalam masa periode pertama, kami akan melakukan pendidikan kader Nahdlatul Ulama. Agar, kita mempunyai kader kompeten, militan untuk bisa meneruskan NU," kata Nasikhin.

Menurutnya, ada beberapa hal yang akan diperhatikan MWCNU Sidoarjo untuk melakukan hubungan langsung dengan masyarakat, yakni mengurusi administrasi masjid yang sesuai dengan syariat Islam. Meski selama ini, takmir masjid sudah bisa mengurusi administrasi.

Pihaknya akan mengajak Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), untuk mengajak masyarakat melaksanakan Islam secara khaffah. Yaitu berdakwah dan berjihad di jalan Allah.

Asli Muhammadiyah

"Kami juga akan menyelamatkan aset yang menjadi tradisi NU, aset maliyah karena mungkin kurang terurus, berusaha mendoktrin masyarakat bahwa Nahdlatul Ulama mempunyai guru dan sampai pada Rasulullah," tuturnya.

Tak hanya itu saja, sambung Nasikhin, MWCNU Sidoarjo akan memberikan materi aswaja serta menitik beratkan permasalahan fital di NU, kepada Lembaga Batshul Masail (LBM) agar menjadi kuat. Sehingga, masyarakat Sidoarjo tidak bingung dengan adanya permasalahan yang ada. Karena sudah mengikuti anjuran ulama. (Moh Kholidun/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Ahlussunnah, Makam, Bahtsul Masail Asli Muhammadiyah

Kamis, 20 April 2017

LBMNU Jateng Gali Dinamika Keberagaman Sosial Karimunjawa

Jepara, Asli Muhammadiyah. Melalui bahtsul masa’il ulya di Karimunjawa, Jepara, Sabtu-Senin (10-12/5), Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama Jawa Tengah mencoba mengetengahkan persoalan keragaman kehidupan beragama sekaligus alternatif persoalan yang terjadi di kecamatan Karimunjawa.

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama PWNU Jateng, dan Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kanwil Kemenag Jawa Tengah.

LBMNU Jateng Gali Dinamika Keberagaman Sosial Karimunjawa (Sumber Gambar : Nu Online)
LBMNU Jateng Gali Dinamika Keberagaman Sosial Karimunjawa (Sumber Gambar : Nu Online)

LBMNU Jateng Gali Dinamika Keberagaman Sosial Karimunjawa

Kepala Kanwil Kemenag Jateng Khaeruddin mengatakan, “Kegiatan ini diadakan untuk menggali permasalahan agama dan kehidupan keberagamaan yang ada di Karimunjawa.”

Asli Muhammadiyah

Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan beragama pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019. Forum ini bisa diarahkan untuk menyaring masukan masukan-masukan, perencanaan program 2015, dan pemerataan program ke daerah terpencil sebagai sasaran utama.

Asli Muhammadiyah

“Kita akan upayakan pemerataan program di daerah terpencil seperti Karimunjawa, baik di bidang pendidikan agama maupun penerangan masyarakat. Mudah-mudahan LBM tidak hanya selesai di halaqah namun sampai gerakan nyata di masyarakat,” imbuh Khaeruddin.

Selain masala keragaman, forum yang dimoderatori KH Hudallah Ridwan Naim juga mngangkat persoalan yang pernah diangkat LBMNU Jepara terkait normalisasi bantaran sungai. Dalam presentasi yang disampaikan Kiai Zainal Amin, permasalahan sosial di sekitar bantaran sungai berkembang di masyarakat Jepara saat ini.

Hadir dalam forum ini Ketua PCNU Jepara KH Asyhari Syamsuri, KH M Arja’ Imroni, H Mizammil, dan 40 peserta dari perwakilan cabang LBMNU se-Jawa Tengah, Kabid Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syari’ah Kanwil Kemenag Jawa Tengah H Ahmad Saifullah, Kepala Kemenag Jateng H Muhdi Zamru.

Tampak hadir sebagai mushahhih ? Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidullah Shadaqah, KH A’wani Sya’roni, dan Ketua LBMNU Jawa Tengah KH Imam Abi Jamroh.

Mereka juga membahas sejumlah persoalan mendesak seperti gugurnya kewajiban orang tua untuk mendidik anak pada cabang ilmu lain yang sudah belajar di pesantren Al-Qur’an, implikasi ketentuan diyat yang terlalu tinggi bagi Tenaga Kerja Indonesia, dan hukum dakwah karena banyaknya daerah di nusantara yang belum tersentuh.

“Kita berharap kegiatan ini menghasilkan rumusan keputusan dan rekomendasi yang bermanfaat bagi masyarakat sehingga keputusan hukum yang dihasilkan LBM bisa menjawab problematika masyarakat,” tutur Sekretaris LBMNU Jawa Tengah Nasrullah Huda. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Warta Asli Muhammadiyah

Selasa, 11 Desember 2012

PCNU Rembang dan Lasem Siapkan Peringatan Hari Santri 2017

Rembang, Asli Muhammadiyah. Memperingati Hari Santri Nasional 22 Oktober 2017, Komunitas Obrolan Santri (OS) Rembang bekerjasama dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Rembang dan PCNU Lasem akan menggelar berbagai kegiatan.

PCNU Rembang dan Lasem Siapkan Peringatan Hari Santri 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Rembang dan Lasem Siapkan Peringatan Hari Santri 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Rembang dan Lasem Siapkan Peringatan Hari Santri 2017

Ketua Panitia Hamzah Iklil menyebutkan perayaan HSN tersebut merupakan bentuk dukungan dalam menyatukan dan mengingat kembali bahwa santri mempunyai peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, tepat 22 Oktober 1945 dimana KH Hasyim Asy’ari menyerukan resolusi jihad yang berhasil mengusir penjajah.

“Perayaan ini rencananya akan berlangsung selama dua hari, mulai Sabtu-Ahad, 21-22 Oktober berpusat? di Alun-alun Kota Rembang. Kegiatan bertemakan Santri Rembang untuk Nusantara,” kata Hamzah, Ahad (15/10).

Adapun bentuk perayaan, Hamzah menyebut sebelum hari H akan diisi Dzikir Pesisir, Pembacaan Sholawat Nariyah, Parade 1001 Rebana, dan Diskusi Kebangsaan.?

Asli Muhammadiyah

“Tepat di hari puncak acara akan dimeriahkan Apel Hari Santri, dan Kirab Bendera merah,” ujarnya.

Pria yang juga pengurus Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Kabupaten Rembang menuturkan momentum tersebut juga merepukan bentuk syiar dan dakwah, serta tempat berkumpul para kiai.?

“Kami ingin sekali mendatangkan warga Rembang yang sudah berkiprah di tingkat nasional untuk memberikan motivasi kepada masyarakat Rembang, khususnya para santri,” tambah Hamzah.?

Beberapa tokoh akan dihadirkan diantaranya KH Ahmad Mustofa Bisri, KHYahya Cholil Staquf, KH Abdul Ghofur Maimoen, KH M Arwani Tomafi,? M Imdadun Rahmat, Puthut EA, Maryono. Selain itu juga diundang perwakilan banom NU, para kiai, santri, dan semua warga Rembang.? (Onji/Kendi Setiawan)

Asli Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Khutbah Asli Muhammadiyah

Rabu, 29 Desember 2010

Kader Ansor Way Kanan Turun Tangan Bersihkan Sampah Pasca-Harlah

Way Kanan, Asli Muhammadiyah - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Muslimat NU Way Kanan memperingati hari lahir (Harlah) Ke-91 serta pelantikan pengurus di lapangan Pemkab Way Kanan, Senin (30/1). Acara yang dihadiri kurang lebih 5.000 jamaah itu praktis menyisakan sampah.

Sebelum meninggalkan lapangan, Kasatkorcab Banser Way Kanan Bambang Setiyo mengajak kader untuk membersihkan lapangan dari sampah bertaburan.

Kader Ansor Way Kanan Turun Tangan Bersihkan Sampah Pasca-Harlah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Way Kanan Turun Tangan Bersihkan Sampah Pasca-Harlah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Way Kanan Turun Tangan Bersihkan Sampah Pasca-Harlah

"Kami tidak hanya memerintah, tapi juga turun tangan. Sahabat Ketua GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto juga akan ikut memungut sampah bersama kita. Kita bersama-sama bergerak untuk kebaikan, termasuk menangani sampah yang berhamburan di lapangan," ujar Bambang.

Asli Muhammadiyah

Sampah berupa koran bekas untuk alas duduk, pastik bungkus snack dan jajanan dihimpun kader Ansor Way Kanan agar tidak berserakan dan menganggu pemandangan di lokasi kegiatan.

"Terima kasih kepada sahabat semua. Kita telah menunjukkan, bahwa kita adalah kader yang benar-benar kader, bukan sekedar berbaju organisasi tanpa berbuat. Kita tetap bertanggung jawab, setelah membantu perlengkapan, pemasangan bendera, tempat yang semula bersih dari sampah telah kita bersihkan. Semoga apa yang kita berikan menjadi amal ibadah," ujar Bambang lagi.

Asli Muhammadiyah

Selain membersihkan sampah, hal lain dibahas pasca-kegiatan ialah kaderisasi. "Hari ini, kaderisasi dilakukan di setiap kecamatan. Dan untuk bisa mengenakan seragam Ansor dan Banser saat ini tidak lagi asal pakai. Harus ada ujian dulu agar rasa memiliki organisasi semakin bertambah," kata Kasatkorcab Banser Way Kanan itu lagi. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Lomba, Bahtsul Masail, Makam Asli Muhammadiyah

Rabu, 27 September 2017

Pembaretan Banser Boyolali Tempuh Jarak 50 Km

Boyolali, Asli Muhammadiyah. Peringatan Harlah Gerakan Pemuda (GP) Ansor ke-83, disambut para kader Ansor dan Banser Kabupaten Boyolali dengan melakukan kegiatan “pembaretan”, yakni berjalan kaki secara berkelompok menempuh rute jarak 50 Km, Sabtu-Ahad (15-16/4) lalu.

Para peserta mengawali perjalanan mereka dari Pesantren Dawar, Mojosongo, Sabtu (15/4) malam. Setelah mendapat gemblengan dari Rais Syuriyah PCNU Boyolali KH Abdul Hamid, mulailah mereka berjalan kaki menuju tujuan akhir di Pondok Pesantren Darussalam di Kecamatan Andong.

Pembaretan  Banser Boyolali Tempuh Jarak 50 Km (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembaretan Banser Boyolali Tempuh Jarak 50 Km (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembaretan Banser Boyolali Tempuh Jarak 50 Km

Kasatkorcab Banser Boyolali Abdullah menerangkan, kegiatan pembaretan ini diikuti sekitar 300 peserta. Mereka adalah para alumni Diklatsar yang telah diselenggarakan Banser di lingkup Satkorcab Boyolali.

“Untuk sekarang pembaretan diselenggarakan terpisah dengan kegiatan Diklatsar. Sekaligus menjadi rangkaian peringatan Harlah Ansor ke-83,” terang Abdullah saat ditemui di sela acara.

Pantauan Asli Muhammadiyah, meski menempuh jarak yang cukup jauh, para peserta tetap menampakkan semangat mereka. Sembari berlari-lari kecil, di sepanjang jalan mereka menyanyikan beberapa lagu penyemangat, seperti Ya Lal Wathon, Mars Banser dan sebagainya.

Asli Muhammadiyah

Salah satu peserta dari PAC GP Ansor Banyudono, Catur, mengungkapkan kesannya mengikuti kegiatan ini. “Ya, meskipun capek, tapi senang dan tetap semangat karena banyak temannya. Tadi juga ada peserta yang berusia 62 tahun, tapi juga tak kalah semangat,” ungkap Catur. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah Pahlawan, RMI NU, Bahtsul Masail Asli Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Cara NU Mayangan Lestarikan Tradisi dan Budaya NU

Jombang, Asli Muhammadiyah 

Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang , Jawa Timur terus berupaya melestarikan tradisi dan budaya NU dengan rutin menggelar kegiatan lailatul ijtima. Kegiatan ini digelar setiap tanggal 15 penanggalan hijriah.

Kegiatan yang biasa dihadiri oleh warga NU se-ranting Mayangan ini membahas sejumlah persoalan, diantaranya ajakan untuk melestarikan khazanah kebudayaan NU, pembacaan kitab Sulamut Taufiq, Bahtsul Masail, Tahlilan, Istighosah, dan pembacaan sholawat nariyah.

Cara NU Mayangan Lestarikan Tradisi dan Budaya NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara NU Mayangan Lestarikan Tradisi dan Budaya NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara NU Mayangan Lestarikan Tradisi dan Budaya NU

"Kegiatan ini bertujuan melestarikan nilai-nilai kebudayaan lama yang baik namun tidak menutup kemungkinan untuk mengambil hal-hal baru yang lebih konstruktif dan lebih baik." Kata Ketua Tanfidziah NU Ranting Mayangan, kiai Abdul Karim Elmuna, Rabu (9/8).

Dijelaskan, acara seperti ini sudah berlangsung sejak G30S PKI pada Orde Lama hingga kini. Kegiatan lailatul ijtima inj dirasakan betul dapat mebentengi masyarakat agar tidak terseret arus zaman ke arah yang negatif. Dengan berkumpulnya para ulama, tokoh masyarakat, perangkat desa, kaum muda maka kemajuan desa bisa diwujudkan.

"Saya berharap teman-teman generasi muda juga semakin semangat untuk turut andil dalam kegiatan ini. Karena nanti mereka lah yang akan meneruskan perjuangan kami," tambahnya.

Asli Muhammadiyah

Pria yang juga pengasuh Pondok Ribath Darul Mansyur ini menuturkan pentingnya acara seperti ini dalam merespon serangan radikalisme dan kaum takfiri. Para ulama dan tokoh masyarakat harus terus mensosialisasikan bahaya radikalisme pada masyarakat agar tidak terjerumus dengan aliran radikal yang ingin menghancurkan Indonesia yang sudah tentram dan damai

Asli Muhammadiyah

"Menjaga NU dan NKRI adalah tanggungjawab bersama karena mustahil dilakukan oleh seorang diri. Menjaga NU adalah menjaga Indonesia." Pungkasnya.

Selain itu, Kiai Karim juga mengharapkan dilain waktu Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, wilayah dan pusat bisa berkunjung ke daerahnya. Dengan harapan dapat memotivasi masyarakat untuk mengikuti kegiatan rutinan tersebut.

"Kalau Kiai Said yang kesini pasti ramai dan meriah," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Cerita, Kajian, Ulama Asli Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

Peran Kiai Kampung Jaga Kepribadian Bangsa

PBNU Cirebon, Asli Muhammadiyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan Islam Nusantara adalah Islam yang menjadi inspirasi budaya, menjadi semangat nasionalisme dan cinta tanah air, serta menghormati keragaman.

Peran Kiai Kampung Jaga Kepribadian Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Kiai Kampung Jaga Kepribadian Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Kiai Kampung Jaga Kepribadian Bangsa

“Tolong jangan dipahami mazhab baru, aliran baru, tapi tipologi Islam, Islam Nusantara adalah Islam pesantren, Islam para Wali Songo,” katanya pada pidato pembukaan Rapat Pleno PBNU di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (24/7).

Pleno yang diadakan di Kempek ini, katanya, sangat tepat momentumnya karena saat ini umat Islam dunia kehilangan kepribadian. Islam Timur Tengah tidak mampu menghadapi globalisasi.

Asli Muhammadiyah

Menurut kiai lulusan Pesantren Kempek, Lirboyo, dan Krapyak ini, bahwa Islam Indonesia sampai saat ini masih memiliki kepribadian. Hal ini tidak lepas dari peran penting dari kiai-kiai NU di desa.

Asli Muhammadiyah

Meskipun kadang kualitas ilmunya sederhana, kata dia, kiai NU yang ada di desa berfungsi dan berperan dalam kemasyarakatannya, risalahnya sangat berfungsi. Bangsa Indonesia aman, tenteram, disamping peran besar kepolisian, juga kiai-kiai seperti itu.

“Islam Nusantara ternyata telah teruji merawat, membimbing masyarakat berbudaya, dan berkepribadian. Mereka tidak mengajarkan perang saudara untuk mencapai tujuannya. Islam Nusantara mampu menjaga keutuhan NKRI. Tidak ada kiai NU di kampung begini caranya ngebom,” jelasnya pada rapat bertema “Meneguhkan Islam Nusantara Menuju Kemandirian Ekonomi Warga”.

Tapi justru kiai NU, mengajarkan jangan bertengkar dengan sesama, jangan konflik, harus sabar, dan besar hari. Kiai kecil di kampung tersebut membangun karakter bangsa dan kepribadian. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Nahdlatul, Bahtsul Masail Asli Muhammadiyah

Kamis, 16 Februari 2012

Panitia Lokal Luncurkan Website Muktamar

Surabaya, Asli Muhammadiyah. Panitia Daerah (Panda) Muktamar ke-33 NU, Jumat (5/6/2015) melaunching website resmi yang dimiliki. Website yang beralamat www.muktamarnu.com itu diresmikan langsung oleh H Saifullah Yusuf.

"Website ini secara resmi diluncurkan dalam rangka ikut mensukseskan muktamar yang akan digelar di Jombang awal Agustus mendatang," kata Gus Ipul, sapaan akrabnya di hadapan para wartawan. "Mohon bantuan kepada teman-teman media," pinta Gus Ipul.

Panitia Lokal Luncurkan Website Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Panitia Lokal Luncurkan Website Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)

Panitia Lokal Luncurkan Website Muktamar

Pada kesempatan yang sama, koordinator redaksi, Tomy C Gutomo menjelaskan rubrikasi dari website antara lain warta mukmatar, kilas muktamar, suara nahdliyin, opini, khazanah, humor, bahtsul masail. "Dan ada juga kuliner khas Jombang," jelas Tomy, sapaan akrabnya.

Asli Muhammadiyah

Acara yang dilangsungkan di salah satu rumah makan di Surabaya ini juga menjadi ajang pengenalan sejumlah pengelola website. Dari mulai pelindung yakni rais syuriah dan ketua tanfidziyah PWNU Jatim, pengarah yakni H Syaifullah Yusuf, H Abdul Halim Iskandar, H Hakim Jayli, dan H Fauzi Priambodo.?

Asli Muhammadiyah

"Koordinatornya saya sendiri," jelas Tomy saat mengenalkan dirinya kepada insan media yang hadir. Sekretaris redaksi dipercayakan kepada Shalahuddin.

Sedangkan yang bertugas sebagai redaktur adalah Nur Hidayat dengan anggota Saifullah An Nawawi dan Rijal Mumazziq Zionis.?

"Ada reporter yang namanya sama persis dengan pendiri NU yaitu M Hasyim Asyari," jelas Tomy disambut penasaran Gus Ipul. Di jajaran webmaster dan fotografer tercatat nama Choirul Anam yang juga pemilik AK Studio. Seluruh nama diperkenalkan satu-persatu yang dilanjutkan foto bersama dengan jajaran Panda. (rofii boenawi/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Kyai, Warta, Aswaja Asli Muhammadiyah