Kamis, 07 Desember 2017

KH Abdul Hayyie Na’im, Santri Pengelana di Jazirah Arab

Jakarta, Asli Muhammadiyah



KH Abdul Hayyie Nai’m lahir di Cipete, Jakarta Selatan pada tahun 1940. Ia adalah putra ulama Betawi, KH Muhammad Na’im yang berasal dari Cipete, dan Hj Mardhiyah yang asal Mampang.?

Selepas menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah, ia meneruskan ke Raudlatul Muta’alimin Mampang. Saat berusia 14 tahun, ia dikirim untuk menimba ilmu di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur atas anjuran Kiai Razzaq, pengasuh Raudlatul Muta’alimin Mampang.

KH Abdul Hayyie Na’im, Santri Pengelana di Jazirah Arab (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Abdul Hayyie Na’im, Santri Pengelana di Jazirah Arab (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Abdul Hayyie Na’im, Santri Pengelana di Jazirah Arab

Di Tebuireng, Abdul Hayyie muda menjadi santri istimewa dan merupakan santri kesayangan Kiai Idris, gurunya. Dianggap sebagai anak, Abdul Hayyie muda pun dilarang terlalu sering pulang ke Jakarta.

Pada tahun 1960, Abdul Hayyie diizinkan pulang dari Tebuireng. Ayahnya beralasan akan memberangkatkan Kiai Abdul Hayyie menunaikan ibadah haji. Kiai Muhammad Na’im sangat menginginkan anaknya belajar di Makkah.?

Asli Muhammadiyah

Di Makkah, Abdul Hayyie belajar di Pesantren Darul Ulum, asuhan Syekh Yasin Al-Padangi, ulama besar Makkah kelahiran Minangkabau. Ia satu kelas dengan Kholil Bisri putra KH Bisri Musthofa Rembang.

Tahun 1965, bersama Hambali Maksum dan Mahfudzh Ridwan, ia hijrah ke Baghdad, Irak berbekal tiket yang dibeli dengan uang terakhir yang mereka miliki. Mereka mendaftar di Fakultas Sastra Baghdad University. Di Baghdad pula, Abdul Hayyie bertemu dan kemudian bersahabat dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

KH Abdul Hayyie meraih gelar Lc pada tahun 1970. Tetapi ia tidak segera pulang ke Indonesia. Ia lebih dulu berkelana ke beberapa negara Timur Tengah, seperti Yordania, Turki, dan Beirut sebelum akhirnya pulang ke Indonesia tiga tahun kemudian.

Di Cipete, ia segera terjun dalam aktivitas dakwah dan taklimnya. Ia mengasuh pengajian dan Madrasah An-Nur, peninggalan ayahnya, dan berbagai madrasah dan majelis taklim lain di Jakarta Selatan dan Depok.

Kiai Abdul Hayyie mengaku miris menyaksikan kekejian dan kesadisan yang dilakukan oleh sesama manusia. Menurutnya, Jakarta sekarang ini ibarat hutan belantara yang dihuni binatang buas.

Asli Muhammadiyah

Ia sangat mengkhawatirkan perkembangan masyarakat mendatang. Kepeduliannya terhadap remaja itu menggerakkan hatinya mendampingi Habib Hasan bin Ja’far Assegaf mengasuh Majelis Taklim Nurul Mustafa, yang sebagian besar jamaahnya adalah para remaja. Diolah dari berbagai sumber. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Berita, Anti Hoax, Lomba Asli Muhammadiyah

Menarik

Asli Muhammadiyah disini maksudnya bukan membedakan mana yang asli atau bukan, tetapi kita saling menguatkan bahwa kita sama sama islam dan kita Bersaudara


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa admin situs Asli Muhammadiyah sangat membenci AdBlock karena dengan adanya iklan maka situs Asli Muhammadiyah bisa tetap berjalan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Tulisan
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Asli Muhammadiyah dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock