Kamis, 25 Agustus 2011

Tentang Globalisasi Penyakit

Tanpa menekankan pentingnya kedaulatan maka berbagai program pemerintah di bidang kesehatan bisa jadi hanyalah proyek dari luar yang dibebankan kepada negara. Segala penyakit, persebarannya, berikut obat-obatannya didefinisikan oleh dan untuk para pebisnis multinasional yang memboncengi lembaga kesehatan resmi di tingkat dunia.

Bahkan nyaris sejak dimulainya politik etis di awal abad 20-an, saat pelajar Indonesia (sebagian diantaranya tokoh pergerakan) mulai belajar ilmu kedokteran, tanpa persiapan mental berdaulat, aktifitas belajar ilmu kesehatan hanyalah agenda untuk menyingkirkan ilmu ketabiban dan berbagai bentuk pengobatan yang telah dikembangkan oleh masyarakat pribumi.

Kali ini terkait agenda pekan kondom nasional. Untungnya, setelah digugat oleh Nahdlatul Ulama (NU), berbagai ormas Islam, majelis ulama dan tokoh lintas agama, agenda riuh ramai itu akhirnya dihentikan. Kementerian Agama juga menyatakan bahwa agenda itu telah menyakiti hati umat Islam. Aneh memang, di lingkungan pemerintahan sendiri tidak satu suara, dan seperti biasa pemegang mandat tertinggi, presiden kelihatan tidak berdaya.

Melalui sosialisasi pemakaian kondom, pihak Kementerian Kesehatan dan para pekerjanya berdalih ingin menghentikan laju penyakit global yang diberinama AIDS. Jika pun dalih itu bisa dianggap sah dengan menunjukkan data mengenai perkembangan penyakit aneh itu di Indonesia, ada hal yang tidak mengenakkan dalam konteks persebaran isu dan propaganda: Bahwa ajakan untuk mewaspadai sesuatu itu berarti juga menyebarkan berita tentang sesuatu itu, dan pada gilirannya meningkatkan tensi kekhawatiran akan hadirnya sesuatu itu, dan selanjutnya mengarahkan orang untuk mengikuti anjuran sang penyebar isu.

Tentang Globalisasi Penyakit (Sumber Gambar : Nu Online)
Tentang Globalisasi Penyakit (Sumber Gambar : Nu Online)


Tentang Globalisasi Penyakit

Persis, beberapa waktu lalu ketika penyakit global sejenis diwartakan tersebar di Indonesia: flu burung. Waktu itu, unggas-unggas menjadi sasaran pembakaran. Bahkan masyarakat kuatir dengan burung yang berkicau di pohon-pohon sekitar rumahnya; sesuatu yang dulu identik dengan keindahan dan kenyamanan hidup. Pemerintah Indonesia bahkan mengerahkan APBN dari hasil hutang secara besar-besaran untuk memberantas flu burung; sampai ke tingkat Puskesmas, dan sampai menyisir peternakan warga. Padahal sampai sejauh itu satu-dua orang yang digegerkan sakit itu hanya dinyatakan suspect atau diduga terkena penyakit global itu.

Soal AIDS ini lebih komplek lagi. Tanpa memperhatikan teori konspirasi yang ndakik orang biasa akan mudah menyimpulkan bahwa menyebaran kondom, apalagi disertai poster iklan produk dengan tampilan artis seronok itu bukan cara untuk menghindari AIDS, namun untuk mengajak masyarakat menganggap lumrah hubungan seks bebas. Lihat bagaimana kampanye pemakaian kondom itu tidak hanya ditujukan bagi kawasan yang diduga menjadi basis laju penyakit AIDS namun juga di kawasan umum, seperti kampus yang dimungkinkan prilaku seks bebas itu akan terjadi.

Asli Muhammadiyah

Kali ini, bukan sekedar modus penyebaran penyakit global itu yang disoal, tapi cara mengatasi penyakit itu yang merembet hingga ke soal penyebaran gaya hidup bar-bar yang hendak diglobalkan juga: seks bebas, tanpa aturan agama dan norma. (A. Khoirul Anam)

Asli Muhammadiyah

Dari (Risalah Redaksi) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48588/tentang-globalisasi-penyakit

Asli Muhammadiyah

Menarik

Asli Muhammadiyah disini maksudnya bukan membedakan mana yang asli atau bukan, tetapi kita saling menguatkan bahwa kita sama sama islam dan kita Bersaudara


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa admin situs Asli Muhammadiyah sangat membenci AdBlock karena dengan adanya iklan maka situs Asli Muhammadiyah bisa tetap berjalan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Tulisan
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Asli Muhammadiyah dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock