Minggu, 09 Januari 2011

In Memoriam KH Ishomuddin Hadziq, Pemimpin NU Masa Depan

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Seperti terkena hallintar, pandangan mata ini berkaca-kaca, seakan tak percaya, tatkala mendengar wafatnya KH Ishomuddin Hadizq (Gus Ishom). Hari sabtu, 26 Juli 2003, tepat pukul 06.30 WIB, beliaudipanggil ke pangkuan Sang Ilahi. Sosok kiai mudayang begitu anggun mempesona. Seorang darah biruketurunan Kiai Moh Hasyim Asyari (pendiri dan RaisAkbar NU) dari putrinya Hj Khodijah.

Gus Ishom yang lahir pada 18 Juli 1965 (genap berusia 37) adalah salah satu dari cucu KH Hasyim yang mewarisi kewibawaaan, keilmuan, kedewasaan,kematangan, kesabaran, keanggunan, dan keajaibanSang Kakek. Gaya bicaranya yang khas, penuh humor, perilaku yang tawadlu, ikhlas, penuh senyum(mencerminkan kedalaman spritual dan kekuatanpribadinya), selalu dinantikan para santri,lebih-lebih saat Ramadlan tiba. Seluruh halaman Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dijubeli olehribuan santri, baik yang berada di Pondok Pesantren Tebuireng sendiri ataupun pondok sekitarnya, Seblak,Pacul Gowang, Khuffadz, Muallimat-Darul FalahCukir, dan lain-lain. Semuanya ingin mendengarkanwejangan-wejangan Gus Ishom,menyimak, merenungkan,menghayati dan mengamalkannya.

Tatkala mengaji ini, semua santri seperti merasakan aroma karamah dari Sang Kakek KH. HasyimAsyari, yang diyakini nuzul pada diri Gus Ishom.Mereka berharap mendapat ilmu manfaat, barakahdunia-akhirat.

Memang berat ditinggal sosok kiai Nyentrik ini, kiai yang banyak kelebihan dan keajaiban.Dialah yang sejak mondok di Lirboyo sudah seringdiekspos di media sebagai sosok pemimpin NU masadepan. Dialah yang diyakini mampu membawa kejayaanNU masa depan. Dialah yang diharapkan mampu membawaPondok Pesantren Tebuireng menjadi pondok yang majuyang mampu menelurkan kader-kader kiai yangsalafi-akademis, yakni kiai yang tidak hanya menguasai kitab kuning sebagai panji keislaman dan moralitas, tapi juga menguasai wacana kemodernan sebagai instrumen merespons globalisasi. Karena, kombinasi dua mainstream pemikiran itulah bekal utama santri berkiprah ditengah situasi dunia yang sangat kompetitif sekarang ini.

In Memoriam KH Ishomuddin Hadziq, Pemimpin NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
In Memoriam KH Ishomuddin Hadziq, Pemimpin NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)


In Memoriam KH Ishomuddin Hadziq, Pemimpin NU Masa Depan

Dan, Gus Ishom telah memberikan contoh untuk itu. Banyak pihak optimistis, Tebuireng mampu besar di bawah panji kebesaran Gus Ishom, Tebuireng akanmampu mengembalikan kebesaran pesantren Tebuireng sebagaimana era keemasan Sang Kakek tempo dulu yangmampu melahirkan sosok kiai-kiai handal, perintispondok hampir seluruh Nusantara, seperti KHSaifuddin Zuhri, KH Wahab Chasbullah, KH BisriSyansuri, Kiai Abdul Karim (pendiri Lirboyo), KHMuchith Muzadi, KH Tholhah Hasan, dan lain-lain.

Namun, takdir Tuhan berkata lain, sebelum semua impian itu terwujud, sebelum santri danmasyarakat kenyang mereguk untaian hikmah danmutiara ilmunya, ketika usianya masih begitu muda,usia yang penuh produktivitas, ajal mendahuluinya.Idza Jaa Ajaluhum Fala Yastakhiruna Saatan WalaYastaqdimun, Jika ajal telah tiba, tidak akan dapatdiundur dan tidak bisa dimajukan, semua berjalansesuai ketentuan Sang Khaliq, dzat pengatur alamsemesta, dzat pemilik nyawa setiap insan, yang akanmenariknya kembali sesuai kehendakNya. Seluruhsantri dan masyarakat menangis, terurai air mata,penuh keharuan dan kesedihan mendalam, menatap jauhkesana, ke alam lain dimana hanya amal yang bisamelindunginya, seakan ada sesuatu yang hilang yangberat rasanya, keadaan seperti menjadi hampa tanpakehadirannya. Lebih-lebih, sebelum wafatnya,terbilang tiga kali Gus Ishom nongol di acara dunialain di sebuah stasiun televisi swasta, komentarulama terhadap alam ghaib. Tidak tahunya, ternyatahal itu adalah sebuah isyarat langit akandipanggilnya ruh sucinya menghadap Ilahi Rabbi.

Asli Muhammadiyah

Rasa kehilangan mendalam terhadap sosok calon kiai besar dan pemimpin masa depan NU ini sangatberalasan, tidak semata-mata apologi seorang santriyang larut dalam kesedihan. Para aktivis,intelektual, kiai, merasakan hal yang sama. GusIshom sudah menjadi bagian tersendiri dalam jiwamasyarakat umum. Rasanya terlalu dini beliau harusmeninggalkan kita. Di saat beliau harus mengembantugas besar, di saat beliau mampu berkarya secaramaksimal. Kemampuan Gus Ishom dapat dilihat daribeberapa aspek :

Pertama, penguasaan terhadap kitab kuning. Tidak diragukan lagi, penguasaannya yang mendalamterhadap khazanah klasik sangat kelihatan ketikabeliau masih di Lirboyo. Selama puluhan tahun beliaungasuh ilmu disana. Saat usia masih dua puluhan,beliau sudah mengajar tingkat Tsanawi, bahkan Aliyahsebagai mustahiq. Menurut cerita dari kawan Lirboyo,Gus Ishom itu luar biasanya, karena tidak pernahmembawa kitab ketika ngajar. Kitab sebesar Uqudal-Juman (kitab dalam bidang balaghah [sastra] ),yang demikian sulit menurut standar santri, ditangan Gus Sihom seperti di luar kepala. Anehnya,ketika ngajar, yang dibawa bukan kitab, tapi koran,majalah, dan buku-buku umum (wacana). Kematangankitab kuningnya juga dapat dilihat dar

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/402/in-memoriam-kh-ishomuddin-hadziq-pemimpin-nu-masa-depan

Asli Muhammadiyah

Asli Muhammadiyah

Menarik

Asli Muhammadiyah disini maksudnya bukan membedakan mana yang asli atau bukan, tetapi kita saling menguatkan bahwa kita sama sama islam dan kita Bersaudara


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa admin situs Asli Muhammadiyah sangat membenci AdBlock karena dengan adanya iklan maka situs Asli Muhammadiyah bisa tetap berjalan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Tulisan
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Asli Muhammadiyah dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock