Rabu, 06 Desember 2017

Tidak Ada Alasan Melupakan Wayang

Hashtag

Jakarta, Asli Muhammadiyah. Kendala bahasa tidak dapat dinyatakan sebagai kendala utama dalam memahami wayang. Meski wayang menggunakan bahasa Jawa yang sulit dipahami remaja, ungkapan-ungkapan wayang masih dapat dipahami melalui ekspresi lakon, alur cerita, dan teks pembanding seperti komik wayang.

Tidak Ada Alasan Melupakan Wayang (Sumber Gambar : Nu Online)
Tidak Ada Alasan Melupakan Wayang (Sumber Gambar : Nu Online)

Tidak Ada Alasan Melupakan Wayang

Demikian disampaikan Jadul Maula, salah satu pembicara dalam seminar “Wayang dan Krisis Manusia Nusantara”, Senin (17/11), di Ponpes Kaliopak, Piyungan, Bantul, Yogyakarta, sebagaimana rilis yang diterima Asli Muhammadiyah.

Menurut Jadul, selama ini remaja dan masyarakat yang enggan belajar memahami wayang justru terlena dengan tradisi di luar dirinya. Tradisi rohani diri sendiri mestinya menjadi alat memahami kerohanian diri sendiri karena tiap manusia memiliki seribu cara menuju Tuhan.

Asli Muhammadiyah

“Ini tidak adil lagi terhadap tradisi sendiri. Ingkar pada tradisi sendiri. Kita punya tradisi rohani dan tidak mau mengarah ke situ. Kita malah keluar. Krisisnya itu. Jatidiri,” papar wakil ketua PWNU itu.

Asli Muhammadiyah

Pembicara lainnya, Katib Syuriah PBNU KH Yahya Staquf menyatakan, wayang adalah cara berdialog antara Jawa dan Islam. Selama ini, ladang peradaban Jawa selalu mengolah seni wayang. Dengan demikian, menurut mantan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid ini,? wayang merupakan bagian dari Islam itu sendiri.

“Ada hadis, Rasul, menyeru, bahwa Islam menyempurnakan akhlaq. Menyempurnakan di sana, secara maknawi bahasa Arabnya, berarti sempurna secara kualitatif,” kata Yahya.

Sementara itu, pembicara yang berasal dari kalangan akademisi, Heddy Shri Ahimsa, menyatakan bahwa masyarakat Indonesia selayaknya bersyukur karena hidup di tengah tradisi wayang. Menurut dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM itu, dalang merupakan pelaku seni yang sangat menarik dibanding pertunjukan seni lainnya.

“Tidak ada pertunjukan yang seperti dalang pertunjukan di dunia ini. Berdasarkan pengalaman saya, dalang itu harus melatih banyak jenis vokal, harus memadukan gerak, dan mengharmonikan visual serta suara dengan para pemain gamelannya,” ungkap dia.

Seminar ini diadakan dari bagian “Pekan Peringatan Pusaka Dunia (UNESCO 2003-2014)” yang diadakan oleh Pondok Pesantren Kaliopak dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Gelaran ini akan diadakan hingga 6 Desember 2014. Keseluruhan acara diadakan di kawasan Ponpes Kaliopak. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Asli Muhammadiyah Nasional Asli Muhammadiyah

Menarik

Asli Muhammadiyah disini maksudnya bukan membedakan mana yang asli atau bukan, tetapi kita saling menguatkan bahwa kita sama sama islam dan kita Bersaudara


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa admin situs Asli Muhammadiyah sangat membenci AdBlock karena dengan adanya iklan maka situs Asli Muhammadiyah bisa tetap berjalan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Tulisan
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Asli Muhammadiyah dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock