Jakarta, Asli Muhammadiyah. KH Idham Chalid hidup di suasana politik yang begitu kontras. Partai-partai politik ideologis saling berebut pengaruh. Ulama dan tokoh politik asal Kalimantan Selatan ini sangat cerdik dalam berpolitik, namun tetap teguh memegang prinsip.
![]() |
| Slamet Effendy Yusuf: Kiai Idham Chalid “Mendayung dalam Dua Karang” (Sumber Gambar : Nu Online) |
Slamet Effendy Yusuf: Kiai Idham Chalid “Mendayung dalam Dua Karang”
Bersama Kiai Idham, misalnya, Partai NU bisa menghadapi politik “Nasakom”; Nasionalisme, Agama, Komunis dengan sangat cerdik. Beliau menerima itu di level elit. Namun di level gerakan beliau menggerakkan anak buahnya seperti yang ada di Ansor atau Pertanu.Demikian disampaikan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Salamet Effendy Yusuf saat bertakziyah ke rumah duka Komplek Yayasan Darul Ma’arif, Cipete, Jakarta Selatan, Ahad (11/7) siang.
Asli Muhammadiyah
“Waktu itu terkenal pidato beliau ‘Mendayung dalam dua karang’, di dalam kesulitan yang serba keras baik di sisi kanan dan sisi kiri beliau menjalankan bahtera Partai NU,” katanya.Asli Muhammadiyah
KH Idham Chalid bukan saja tokoh NU tetapi juga tokoh nasional. Ia pernah dua kali menjabat wakil perdana menteri, ketua DPR RI, Ketua MPR RI, serta beberapa kali menjadi menteri. Beberapa penghargaan diperolehnya baik pada masa Orde Lama maupun Oerde baru.Ia pernah mendapatkan Lencana Penggerak Revolusi 1945, Bintang Gerilya (1950), dan Satya Lencana Peringatan (1958). Maka KH Idham sesungguhnya pantas menerima gelar Pahlawan Nasional.
“Tapi untuk Pahlawan Nasional itu biar urusan negara saja. Beliau memang berjasa dan pada saatnya harus diberi penghargaan semacam itu,” katanya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id
Asli Muhammadiyah Warta Asli Muhammadiyah


EmoticonEmoticon